Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 99
DARI arah lain terdengar suara, ”Dan inilah adiknya, Sendang Parapat.”
”Bagus, bagus,” teriak yang lain, ”Bukankah kau datang untuk membunuhnya?”
”Lepaskan dia,” kata Sendang Papat keras-keras.
Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Tetapi Sendang Papat mendesakkan kata-katanya pula, ”Lepaskan dia. Berhentilah berkelahi. He, yang di sana, berhentilah berkelahi.”
Suara itu disahut oleh Sendang Parapat dan oleh beberapa kawan-kawan yang datang bersamanya. Karena suara-suara itulah maka perkelahian itu terpengaruh pula.
Peperangan itu semakin lama menjadi mereda, dan akhirnya berhenti, meskipun masing-masing wajah masih diliputi oleh ketegangan dan kemarahan.
”Serahkan orang itu kepadaku,” kata Sendang Papat dengan kewibawaan yang mengagumkan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Namun meskipun demikian tampak mereka ragu, seperti Sendang Papat mula-mula juga ragu. Di sebelah lain berdiri dengan kaki renggang, adiknya Sendang Parapat.
”Apakah kalian keberatan?” desak Sendang Papat. Matanya beredar berkeliling. Memandang wajah-wajah yang penuh mengandung pertanyaan. Sedang Sontani sendiri, yang berdiri di hadapan Sendang Papat, tidak pula kalah herannya. Ia tahu benar bahwa Sendang Papat adalah salah seorang yang dikejar-kejarnya selama ini seperti juga Bantaran, Penjawi, Jaladri dan yang lain-lainnya lagi.
Tiba-tiba dari antara mereka, yang berdiri berkeliling itu terdengar sebuah pertanyaan, ”Akan kau apakan dia, Sendang Papat?”
Sendang Papat sendiri untuk sesaat bingung mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menjawab, ”Serahkanlah kepada kebijaksanaan Kiai Wanamerta.”
”Apa yang akan dilakukan?” bertanya yang lain.
”Ia tahu apa yang akan dilakukan,” jawab Sendang Papat.
Keadaan menjadi sepi. Sepi namun penuh keraguan. Masing-masing mencoba mengangan-angankan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wanamerta.
Tetapi sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh suatu peristiwa yang tak terduga-duga, yang merusak suasana yang hampir baik kembali itu.
Tiba-tiba dari sela-sela orang yang mengerumuni yang pucat lesu itu meloncatlah seseorang yang dengan serta merta menyerang Sendang Parapat. Sebuah tusukan yang kuat mengenai lambung kirinya, sehingga terdengar ia mengaduh.
Tetapi Sendang Parapat adalah seorang yang terlatih. Karena itu sedemikian ia merasakan sebuah tusukan mengenai dirinya, selain tanpa sesadarnya ia mengaduh perlahan, namun dengan cepatnya ia bergerak dengan tenaganya yang terakhir, menangkap tubuh orang yang menusuknya itu, sehingga ketika orang itu akan melarikan diri, tubuh Sendang Parapat yang lemah terseret beberapa langkah.
Tetapi dengan demikian orang itu tidak dapat segera melenyapkan dirinya ke dalam gerombolan orang-orang yang masih berdiri di sana sini. Ia terpaksa berhenti mendorong Sendang Parapat untuk melepaskan pegangannya yang seolah-oleh terkunci.
Dalam saat itulah Sendang Papat, memandangi kejadian itu dengan mata terbelalak. Tusukan yang mengenai adiknya, pada saat ia sedang melindungi Sontani, yang dibencinya, adalah serasa tusukan pada dadanya, yang ditutupinya rapat-rapat, kini seolah-olah tersiram minyak. Seperti kawah gunung berapi yang tak menemukan jalan, tiba-tiba meledaklah kemarahan Sendang Papat.
Ia sempat melihat adiknya berputar cepat sekali, dan menangkap pergelangan tangan orang yang menusuknya. Ia melihat tubuh adiknya yang telah lemah itu terseret beberapa langkah. Maka ia sendiri kemudian seperti thathit meloncat beberapa langkah ke arah orang yang mendorong adiknya, untuk melepaskan pegangannya. Demikian Sendang Parapat terlepas, dan tubuhnya terbanting di tanah, demikian Sendang Papat sampai kepada orang itu.
Wajah Sendang Papat tiba-tiba berubah. Seolah-olah di dalamnya tersembunyi malaikat pencabut nyawa. Dengan tidak berkata sepatah katapun, ia menyerang orang yang menusuk adiknya itu. Orang itupun agaknya sadar pula. Karena itu iapun segera melawan serangan itu.
Sendang Papat benar-benar marah. Tenaganya menjadi seakan-akan belipat-lipat. Seperti badai yang tak tertahan lagi ia menerkam orang yang menusuk lambung adiknya. Betapa orang itu mencoba melawannya, tetapi ternyata Sendang Papat bukanlah lawannya. Karena itu ia terdorong surut beberapa langkah, yang kemudian disusul sebuah pukulan dengan tenaga tergenggam pada dagunya. Pukulan itu demikian kerasnya sehingga orang itu seolah-olah terangkat beberapa jengkal dan terlempar ke belakang, untuk kemudian dengan kerasnya pula terbanting ke tanah.
Sendang Papat sendiri mata gelap. Ia tidak ingat lagi kata Wanamerta, ia tidak ingat lagi pesan Mahesa Jenar dan pemimpin-pemimpin yang lain. Yang teringat hanyalah, seorang dengan licik dan curang telah menusuk adiknya. Seperti seekor harimau ia meloncat ke atas tubuh orang itu, dan dengan sekuat tenaga seperti hujan yang tercurah dari langit, ia menghantam bertubi-tubi wajah orang itu. Terdengarlah orang itu berteriak ngeri. Tetapi juga teriakan itu seolah-olah tak terdengar oleh Sendang Papat yang sedang marah.
Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, justru menjadi terdiam seperti patung. Dengan mata terbelalak pula mereka menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang berlangsung sedemikian cepatnya. Sehingga apa yang mereka ketahui kemudian adalah Sendang Papat yang marah itu duduk di atas tubuh lawannya yang terlentang di tanah sambil memukulnya habis-habisan untuk mencurahkan kemarahannya yang meluap-luap.
Tetapi kawan-kawan orang itu ternyata tidak tinggal diam. Ketika mereka melihat kawannya tak mampu lagi untuk bergerak, mereka pun kemudian mencoba untuk melepaskannya. Ternyata mereka adalah pengikut-pengikut Sontani.
BEBERAPA orang bersama-sama dengan mempergunakan senjata-senjata tajam yang kecil, semacam pisau-pisau runcing, menyerang Sendang Papat. Sendang Papat betapapun marahnya, namun naluri keprajuritannya segera memperingatkannya akan bahaya yang mengancam itu. Namun justru karena itulah dengan tangkasnya ia berdiri, menarik bagian dada baju orang yang menusuk adiknya itu sehingga berdiri dan dengan segenap tenaga yang ada, Sendang Papat memukul orang itu dengan tangan kanannya ke arah perutnya.
Terdengarlah suaranya seperti tersumbat di kerongkongan. Tubuhnya terbungkuk dan terhuyung-huyung akan jatuh menelungkup. Pada saat itu Sendang Papat melepaskan pegangannya, dengan tangan kirinya, ia mengangkat muka orang itu menengadah, dan sekali lagi dengan tangan kanannya ia menghantam wajah itu. Ternyata orang itu sudah tidak mampu untuk mengaduh lagi. Tubuhnya demikian saja terlempar ke belakang, dan sekali lagi ia terbanting di tanah.
Pada saat itu beberapa orang telah berada di sekeliling Sendang Papat dengan pisau-pisau di tangan.
Tetapi Sendang Papat adalah seorang yang terlatih menghadapi bahaya. Meskipun ia sendiri tidak mempergunakan senjata, namun ia sama sekali tidak takut melawan orang-orang itu. Karena itulah maka segera berkobar kembali perkelahian. Sendang Papat melawan lebih dari empat lima orang yang menyerangnya dari segenap penjuru. Meskipun demikian belum terlintas di dalam otak Sendang Papat itu untuk mempergunakan keris yang terselip di lambung kirinya. Demikian ia melompat kesana-kemari, seperti seekor kijang yang keriangan di padang rumput yang hijau. Tangannya menyambar-nyambar seperti berpuluh-puluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan yang ditekuninya selama ini, ternyata menempatkannya pada kedudukan yang menguntungkan.
Apalagi kali ini orang yang bernama Sendang Papat itu benar-benar mengamuk tanpa terkendali.
Perkelahian itu ternyata telah memancing berkobarnya kembali pertempuran kecil di tanah lapangan itu.
Ketika para pengikut Sontani mulai menyerang Sendang Papat, orang-orang yang memihak Wanamerta pun mulai bergerak pula. Tetapi orang-orang Sontani itu telah merasa bahwa mereka tidak akan mempu melawan kemarahan orang-orang yang jauh lebih banyak dari jumlah mereka. Karena itu sebagian besar dari mereka segera melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Yang tinggal kemudian hanyalah kelima orang yang bersama-sama bertempur melawan Sendang Papat itulah.
Karena mereka bersenjata, mereka merasa bahwa mereka akan mampu mempertahankan diri mereka. Wanamerta, yang tak jauh dari mereka, melihat keributan timbul kembali. Cepat ia berlari untuk mengetahui apakah yang terjadi.
Alangkah terkejutnya ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring di tanah dengan darah yang mengalir dari lukanya. Ia melihat dua orang yang datang bersama dari Gedong Sanga berusaha untuk menahan darah yang mengalir itu. Sedang seorang lagi agaknya ikut serta berkelahi melawan orang Sontani.
Wanamerta kemudian menekan dadanya, ketika ia melihat Sendang Papat mengamuk tanpa dapat mengendalikan dirinya sama sekali. Beberapa saat Wanamerta berdiam diri dengan cemas.
Perkembangan keadaan itu agaknya sama sekali tidak seperti yang dikehendaki Wanamerta, meskipun darinya ia dapat mengambil keuntungan-keuntungan. Dengan demikian ia telah dapat menempatkan beberapa bagian orang-orang Banyubiru itu kepada kesadarannya kembali. Tetapi peristiwa yang terjadi ini dapat membawa akibat yang buruk. Meskipun hanya sementara. Pada saat itu Wanamerta sudah tidak melihat Sontani lagi. Orang itu lari terbirit-birit ketika terbuka kesempatan, tanpa mempedulikan lagi apakah orang-orangnya masih berkelahi terus, dan apakah ada diantara mereka yang menjadi korban. Yang penting baginya adalah menyelamatkan diri sendiri.
Yang mula-mula dilakukan oleh Wanamerta adalah menyuruh kedua orang yang berusaha untuk membendung darah yang keluar dari lambung kiri Sendang Parapat itu untuk membawanya ke tepi.
Kemudian kepada kedua orang itu, Wanamerta bertanya, ”Bagaimana luka itu?”
”Berat Kiai,” jawab salah seorang diantaranya.
”Adakah kau kenal seorang yang dapat kau percaya di sekitar tempat ini?” tanya Wanamerta pula. Kedua orang itu berpikir.
Kemudian salah seorang menjawab, ”Bagaimana dengan Kakang Prana?”
Wanamerta mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian ia mengangguk-angguk.
”Aku kira ia baik. Bawalah Sendang Parapat kepadanya. Kami akan menyelesaikan beberapa persoalan di sini. Kami akan menyusul kau nanti ke sana. Aku sendiri masih harus mengawasi Sendang Papat yang kehilangan keseimbangan.”
Tak dapat disalahkan,” gumam orang itu seperti kepada diri sendiri.
”Ya,” jawab Wanamerta singkat. Kemudian ia berkata, ”Nah pergilah kepada Prana. Usahakan obat-obatan apapun buat luka itu. Barangkali daun metir, atau sarang labah-labah.”
”Baik Kiai,” sahut orang itu sambil berdiri dan mengangkat tubuh Sendang Parapat ke rumah Ki Prana yang tak jauh dari lapangan itu.
Mereka mengharap akan dapat beristirahat dan menyembunyikan Sendang Parapat yang terluka itu.
Sepeninggal kedua orang itu, kembali Wanamerta mendekati Sendang Papat yang sedang ngamuk.
Beberapa orang telah berdiri di sekitar tempat itu dan beberapa orang lagi berbondong-bondong berlari-lari ke titik perkelahian itu pula. Mereka itu datang kembali setelah mengejar-ngejar orang-orang Sontani.
Tiba-tiba salah seorang yang baru datang itu dengan nafas tersengal-sengal berteriak, ”Bunuh saja mereka semua, bunuh saja.”
”Bunuh... bunuh....” sahut yang lain.
WANAMERTA menjadi semakin cemas. Dengan demikian permusuhan antara orang-orang Banyubiru itu akan bertambah menjadi-jadi. Karena itu Wanamerta segera bertindak. Ia mengharapkan pertanggunganjawab sepenuhnya terletak di bahunya, setidak-tidaknya pada Sendang Papat. Maka segera ia meloncat maju sambil berteriak, ”Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bertempur dengan jujur.”
Beberapa orang menjadi heran mendengar kata-kata Wanamerta itu. Mereka benar-benar tidak tahu maksudnya. Mereka mengira bahwa Wanamerta pun akan sependapat dengan mereka. Bahkan seorang yang berdiri di deretan paling depan bertanya, ”Bagaimanakah perkelahian itu dapat disebut jujur? Adi Sendang Papat hanya seorang diri tanpa senjata, harus melawan lima orang bersenjata.”
Wanamerta melangkah maju semakin dekat. Ia tidak melihat kesulitan pada Sendang Papat, karena itu ia menjawab, ”Jangan takut. Malah kalian harus bangga bahwa Sendang Papat bertempur melawan lima orang sekaligus. Lihatlah apa yang akan terjadi.”
Tetapi Sendang Papat sendiri sama sekali tidak mendengar mereka merasa cemas, bahwa Sendang Papat akan mengalami bencana seperti adiknya. Kemudian tak seorangpun berbicara lagi. Mereka dengan seksama memperhatikan perkelahian itu. Tetapi bagaimanapun juga pembicaraan itu. Ia sama sekali tidak melihat Wanamerta dan tidak tahu bahwa sekian banyak orang, perhatiannya tercurah kepadanya. Yang ia ketahui adalah gelora dadanya sendiri. Gelora kemarahan yang meluap-luap. Sendang Parapat adalah satu-satunya saudaranya. Sejak kecil keduanya tidak pernah berpisah. Seolah-olah mereka mampunyai ikatan batin yang sedemikian eratnya. Sakit bagi yang seorang adalah sakit pula bagi yang lain.
Tiba-tiba sekarang di hadapan hidungnya ia melihat adiknya jatuh berlumurah darah. Karena itu otaknya menjadi terguncang dan karena itu ia kehilangan kesadaran. Sedang lima lawannya tiba-tiba menjadi cemas. Mereka melihat rakyat yang marah itu mengitarinya. Tetapi mereka merasa bahwa seolah-olah mereka telah terjebak di dalam kepungan. Karena itu mereka tidak mungkin lagi untuk melarikan diri.
Dengan demikian maka merekapun mengamuk pula. Mereka harus bertempur mati-matian, sambil menunggu perkembangan keadaan. Mereka mengharap Sontani datang membantu, atau Sontani akan datang dengan kawan-kawan yang lebih banyak lagi, sukar kalau Sontani dapat menghubungi pasukan Pamingit. Apalagi ketika mereka mendengar kata-kata Wanamerta, mereka merasa bahwa orang-orang Banyubiru tidak akan berani bertindak terhadap mereka. Sebab dengan demikian pasti akan terjadi bencana bagi mereka itu.
Tetapi meskipun orang-orang Banyubiru itu tidak bertindak apa-apa terhadap mereka, namun akan sama sajalah akibatnya. Sebab Sendang Papat yang mata gelap itu, tendangannya jauh lebih menakutkan daripada seandainya orang-orang Banyubiru itu menyerang mereka beramai-ramai.
Sekali-sekali mereka mencoba juga untuk mencari jalan melarikan diri, tetapi orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu sudah sedemikian tepatnya. Karena itu tidak ada pilihan lain, bertempur mati-matian.
Demikianlah perkelahian itu berlangsung beberapa lama. Sendang Papat yang mata gelap terpengaruh oleh kemarahannya, melawan lima orang yang mata gelap karena putus asa. Sebab setelah sedemikian lama belum juga Sontani datang membantu, mereka tidak dapat menghadapinya lagi. Orang-orang yang ada di sekitar perkelahian itu, semakin lama menjadi semakin terpaku oleh perasaan kagum atas tandang Sendang Papat yang hanya seorang diri melawan lima orang yang bersenjata. Bahkan Wanamerta sendiri pun heran melihat Sendang Papat bertempur. Seolah-olah kekuatan serta kelincahannya bertambah-tambah.
Bahkan seolah-olah ia bergerak tidak atas kehendak dirinya. Demikianlah seorang yang sedang meluap-luap. Tanpa sesadarnya sendiri segala ilmu yang tersimpan tercurah seperti hujan yang melimpah. Apa yang terjadi kemudian adalah sangat mengejutkan. Tiba-tiba Sendang Papat berhasil merampas sebuah belati dari salah seorang lawannya, dan sebelum seorang sempat melihatnya, terdengarlah sebuah teriakan nyaring, dan salah seorang dari lawan-lawannya itu rubuh di tanah. Darah yang merah menyembur dari dadanya.
”Sendang Papat...!” teriak Wanamerta cemas. Tetapi Sendang Papat sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan sesaat kemudian seorang lagi mengaduh keras dan menggelepar tak berdaya. Tiga orang yang lain, betapapun mereka tak mengenal takut pada mulanya, namun setelah mereka melihat kenyataan itu, hati mereka pun berdesir. Sekali lagi mereka mencoba melihat keadaan sekeliling mereka, dan tiba-tiba mereka berteriak sambil meloncat ke arah orang-orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu.
Beberapa orang terkejut dan bergerak mundur. Dengan serta-merta, mereka mendesak menyusup ke dalam kepepatan orang-orang yang merubungnya. Tetapi agaknya salah seorang dari mereka mengalami nasib yang malang. Sendang Papat sempat menangkap lehernya dan tanpa ampun lagi, belati kecilnya menyusup diantara tulang-tulang iganya. Terdengar sekali ia memekik tinggi, kemudian terdiam untuk selama-lamanya. Tiga orang telah menggeletak berlumuran darah yang mengalir dari mulutnya. Namun agaknya Sendang Papat sama sekali belum puas.
Dengan marahnya ia berteriak nyaring, ”Tangkap iblis-iblis itu.”
Orang-orang yang mengaguminya, tiba-tiba menjadi cemas pula melihat wajah anak muda yang menjadi liar itu. Mereka hanya dapat menyibak ketika Sendang Papat meloncat mengejar dua orang lagi yang mencoba menyelamatkan diri. Mereka, yang berdiri memagar lingkaran pertempuran itu, malahan terpaku diam, dan membiarkan kedua orang lawan Sendang Papat itu menyusup diantara mereka, dan membuat keributan bagian belakang lingkaran itu. Untunglah bahwa malam itu cukup gelap.
SINAR obor yang menyala agak jauh dari tempat itu, sama sekali tertutup oleh bayangan-bayangan orang-orang yang bergerak-gerak di sekitar tempat itu. Dengan demikian maka Sendang Papat mendapat banyak kesulitan untuk menemukan kedua orang yang melarikan diri menyusup diantara sekian banyak orang yang kemudian dari ujung lapangan mereka meloncat ke dalam gerumbul-gerumbul di tepi tanah lapang itu.
Ketika Sendang Papat tidak berhasil menemukan kedua orang lawannya, menjadi semakin marah. Seperti orang yang hilang ingatan ia berteriak, ”Hai, orang-orang Banyubiru... di mana kedua orang gila itu? Kenapa kalian hanya diam menonton seperti menonton tayub. He, di mana...? di mana...?”
Tak seorangpun menjawab. Sendang Papat dengan liar memandang ke segenap arah. Namun kedua orang itu tak dapat diketemukan.
Tiba-tiba mata Sendang Papat menyangkut pada seperangkat gamelan, obor-obor yang menyala-nyala, beberapa dingklik dasaran tuak dan minum-minuman semacamnya, air tape yang dikentalkan, badhek dan sebagainya.
Hatinya yang marah itupun menjadi semakin menyala seperti obor-obor itu dibongkok bersama-sama. Gamelan yang seperangkat itupun merupakan salah satu sumber kemunduran akhlak di Banyubiru, merupakan salah satu sebab rakyat Banyubiru kehilangan gairah pada perjuangannya.
Sendang Papat adalah seorang penari yang mencintai gamelan seperti ia menyayangi pakaian-pakaiannya.
Tetapi gamelan yang seperangkat ini, yang berada di tanah lapang untuk mengiring tayub dan mabuk-mabukan, adalah gamelan yang mengkhianati kemurnian seni, serta menerapkan seni dalam perjuangan yang tak terkendali.
Tiba-tiba Sendang Papat meloncat sambil berteriak, ”He, orang-orang Banyubiru, adakah kalian masih akan menyelenggarakan tari-tarian gila seperti malam-malam yang pernah kau lalui dengan gila-gilaan?”
Tak seorangpun yang menjawab.
”Dengar...!” teriak Sendang Papat, ”Aku akan membakar gamelan yang telah menghantarkan kalian pada keadaan yang cemar ini. Kalau kalian keberatan, lawanlah aku. Tetapi kalau kalian sependapat, ikutlah aku.”
Juga tak seorangpun menjawabnya. Karena itu tiba-tiba dengan sigapnya Sendang Papat berlari ke arah gamelan yang dibencinya itu. Dengan tangkasnya pula tangannya menyambar sebuah obor di tangan kiri dan satu obor lagi di tangan kanan. Dilemparkannya kedua obor itu ke tengah-tengah jajaran gamelan itu. Tidak hanya dua obor, tetapi tiga, empat dan lampu-lampu minyak di dingklik-dingklik itu disepak-sepaknya.
Bahkan kemudian orang-orang yang melihat perbuatannya itu menjadi terpengaruh pula. Dengan serta merekapun tiba-tiba sambil berteriak-teriak mencabut segala obor yang berada di tanah lapang itu dan dilemparkan bersama-sama ke arah seperangkat gamelan itu.
”Bakar saja, bakar saja...!” teriak mereka bersama-sama.
Obor-obor itupun kemudian menyala berkobar-kobar. Minyak yang berada di dalam bumbung pun kemudian tumpah ruah dan membasahi gamelan-gamelan itu. Karena itulah maka sesaat kemudian, apipun menyala-nyala dengan garangnya, seolah-olah hendak menyentuh langit. Lidah api yang dihembus angin perlahan-lahan, bergoyang-goyang seperti penari-penari yang menari-nari dengan riangnya di atas gamelan yang sedikit demi sedikit hangus dimakannya. Tanah lapang itu kemudian menjadi terang benderang. Beberapa orang berusaha menyelamatkan dagangan-dagangan mereka. Tuak, minuman-minuman biasa, makanan dan apa saja diatas dasaran mereka. Tetapi api mengamuk demikian hebatnya. Dingklik-dingklik, warung-warung kacang itupun dalam sekejap telah lenyap dalam pelukan penari maut yang menari-nari dengan iringan lagu derak-berderaknya gamelan dan bambu-bambu yang terbakar.
Orang-orang Banyubiru itu seperti kelompok orang-orang yang kehilangan akal dan kesadaran. Mereka menghancurkan apa saja yang dapat mereka pegang di tanah lapang itu. Kembali Wanamerta menekan dadanya. Keadaan berkembang sedemikian cepatnya. Tetapi ia tidak menyalahkan Sendang Papat. Sebab telah jatuh korban di pihaknya, karena kelicikan lawannya. Yang dipikirkan kemudian, bagaimanakah tanggapan Mahesa Jenar atas kejadian ini. Kejadian yang terang tidak dikehendakinya.
Tetapi kalau Mahesa Jenar mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ini, maka iapun akan dapat mengerti.
Api semakin lama semakin tinggi menggapai-gapai di udara. Asap yang hitam membubung tinggi ke langit. Melihat api serta asap itu, Wanamerta dapat memperhitungkan keadaan. Mau tidak mau, cahaya merah yang mewarnai kehitaman malam itu pasti akan dapat dilihat oleh orang-orang Lembu Sora.
Karena itulah maka mereka pasti akan datang. Dan dengan demikian keadaan akan bertambah buruk.
Karena itu selagi,masih ada kesempatan.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya