Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 98

MUKA Sontani menjadi merah padam. Ia merasa terdesak. Tetapi ia tidak akan membiarkan keributan itu terjadi. Kalau rakyat Banyubiru itu menerima Arya Salaka, belum pasti ia akan tetap menjabat pangkatnya yang sekarang. Ia tidak peduli apakah dengan demikian ia berkhianat atau tidak. Yang penting ia menjadi kepala pedukuhan Lemah Abang.

Karena itu Sontani harus berusaha keras untuk melawan Wanamerta. ”Upeti adalah kewajiban setiap tanah perdikan untuk membiayai tanahnya. Kalau upeti tanah ini terpaksa berlipat dua, itu adalah karena kebutuhan-kebutuhan kamipun meningkat pula,” katanya.

Wanamerta tersenyum, jawabnya, ”Apakah yang pernah dihasilkan oleh upeti itu? Adakah kau dapat membangun rumah-rumah pendidikan? Banjar-banjar desa...? Bukankah selama ini tak satu pun rumah baru berdiri di Banyubiru? Yang sudah adapun tak terpelihara lagi. Bahkan tempat-tempat ibadahpun tidak ada. Dan bukankah upeti itu mengalir ke Pamingit?”

”Benar, benar....!” Teriakan itu semakin mengumandang.

Sontani tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ia melompat menembus lingkaran manusia yang berdiri di sekeliling Wanamerta, sambil berteriak, ”Persetan dengan sesorahmu. Kau hanya akan mengacau saja di sini. Pergi atau aku tangkap kau.”

Wanamerta masih tegak di tempatnya seperti tugu. Dengan masih setenang tadi ia menjawab, ”Jangan marah Sontani. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa? Bukankah semula akupun telah mengatakan semuanya itu? Bahkan semula akupun telah mengatakan bahwa aku berada di pihak kalian, apapun yang kalian kehendaki. Dan sekarang kalian menghendaki meletakkan segala sesuatunya pada tempat-tempat yang sewajarnya, yang seharusnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan judi, tuak, nafsu dan kekuasaan. Inilah suatu usaha untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya.”

”Jangan berkicau, menco tua. Aku perintahkan kau meninggalkan tempat ini sebelum aku sumbat mulutmu dengan tanganku.”

Sontani sudah tidak dapat menyabarkan diri lagi.

”Jangan Sontani,” jawab Wanamerta masih setenang tadi, ”Akibatnya tidak akan menjadi lebih baik.”

Tetapi Sontani telah kehilangan akalnya. Ia melangkah semakin dekat. Wajahnya yang keras dan matanya yang hitam kelam, menunjukkan betapa kerasnya hatinya. Sementara itu Sendang Papat dan Sendang Parapat telah meninggalkan tempat mereka. Dengan tanpa menarik perhatian, mereka telah berada diantara rakyat Banyubiru yang berdesak-desakan itu. Mereka melihat betapa Sontani dengan marah menghampiri Wanamerta. Tetapi karena Sontani agaknya seorang diri, maka Sendang Papat dan Sendang Parapat pun menyabarkan diri mereka dan melihat saja apa yang akan terjadi.

”Wanamerta...” kata Sontani dengan suara yang bergetar oleh kemarahannya.

”Jangan menjawab pertanyaanku. Tetapi kau hanya bisa melaksanakan. Tinggalkan tempat ini.”

Wanamerta masih belum bergerak. Tetapi orang-orang yang berdiri melingkar itu menjadi cemas. Sontani adalah seorang yang benar-benar keras hati. Ia benar-benar dapat melakukan apa saja yang ia katakan. Tetapi Wanamerta belum juga beranjak dari tempatnya. Maka ketika ia melihat Sontani semakin dekat di hadapannya, ia mencoba untuk sekali lagi menjawab.

Tetapi demikian Wanamerta menggerakkan mulutnya, Sontani sudah membentaknya, ”Jangan menjawab dengan kata-kata, pergi!” Wanamerta memandanginya dengan seksama. Dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya.

Maka ketika ia sudah mendapat ketetapan hati, sengaja ia berkata, ”Kenapa tidak boleh?” Sontani telah benar-benar marah. Ketika ia mendengar Wanamerta masih berkata lagi, ia tidak dapat mengendalikan dirinya.

Dengan satu loncatan ia telah berhasil menangkap baju Wanamerta dan mengguncangnya sambil membentak, ”Jangan menjawab. Kau hanya bisa pergi dari sini.”

Gerakan Sontani itu tiba-tiba telah menggerakkan semua orang yang berdiri di sekeliling mereka berdua. Tiba-tiba mereka menjadi sedemikian benci terhadapnya. Terhadap orang yang gila pangkat dan gila hormat itu. Ketika Sontani sekali lagi mengguncang baju Wanamerta, terdengarlah sebuah teriakan, ”Lepaskan dia Sontani, lepaskan.”

Sontani melirik ke arah suara itu. Namun ia tidak mau mendengarkan. Sehingga tiba-tiba dari arah lain terdengar pula suara, ”Sontani, jangan main kekerasan.”

”Diam kalian!” bentak Sontani, ”Aku dapat berbuat apa yang aku kehandaki. Jangan turut campur.”

”Jangan keras kepala Sontani.” Terdengar suara yang lain, ”Supaya kami tidak berkeras kepala pula.” Sontani menjadi gemetar.

Tetapi suara-suara itu terus saling menyusul. ”Lepaskan dia..... Lepaskan dia.... Atau kami harus melepaskannya?”

Disusul pula dengan suara-suara yang mulai bernada kemarahan. ”Pergi kau Sontani. Pergi kau. Atau kami harus memaksa?”

Tetapi diantara teriakan-teriakan itu terdengar pula jerit pengikut-pengikut Sontani, ”Hantam dia. Hantam kambing tua itu.”

Sontani melihat pengikut-pengikutnya. Dengan demikian ia menjadi semakin sombong. Sekali lagi ia menggoncang-goncangkan baju Wanamerta itu sambil menggeram, ”Babi tua, jangan banyak tingkah.”

Pada saat itulah maka keadaan hampir tak dapat dikuasai lagi. Kedua belah pihak hampir saja bertindak, dan apabila demikian, di tanah lapang itu akan terjadi medan pertempuran kecil-kecilan.

TIBA-TIBA Wanamerta berteriak tanpa memperdulikan Sontani, ”He, orang-orang Banyubiru. Sadarlah pada diri kalian masing-masing. Jangan dibiarkan perasaan kalian menjerat kalian ke dalam suatu perbuatan yang tolol.”

Teriakan Wanamerta itu ternyata berpengaruh juga. Beberapa orang mengurungkan niatnya dan memandangnya dengan heran. Sementara itu, orang tua yang telah dipenuhi oleh pengalaman dalam pemerintahan dan pengendalian terhadap orang-orang Banyubiru itu memandang Sontani langsung ke dalam matanya. Mata yang memancarkan kemarahan, ketamakan dan nafsu yang tak habis-habisnya.

Ketika Sontani melihat mata orang tua itu, ia terkejut. Seolah-olah dari dalam mata itu memancarkan pengaruh yang aneh. Sehingga tiba-tiba Sontani membuang matanya ke arah orang-orang Banyubiru yang berdiri, dengan tenang, namun masing-masing telah bersiap untuk memukul dan berkelahi. ”Lepaskan Sontani,” kata Wanamerta lirih. Lirih saja. Tetapi bagi Sontani terdengar seperti guruh yang meledak di atas kepalanya. Ia mencoba untuk melawan pengaruh kata-kata itu dengan menggenggam baju itu lebih erat dan mencoba menarik Wanamerta ke dadanya, namun Wanamerta itu menjadi seperti tugu yang tegak dan tak tergerakkan.

Bahkan sekali lagi ia berkata lirih, ”Lepaskan Sontani, lepaskan.”

Tangan Sontani bergetar. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia melepaskan tangannya perlahan-lahan. Ia tidak dapat melawan pengaruh perbawa orang tua yang dahulu sangat dihormatinya itu. Tetapi demikian tangannya terlepas, demikian ia sadar, bahwa Bahu Lemah Abang akan lepas dari tangannya apabila Arya Salaka benar-benar akan datang. Karena itu, didorong pula oleh kesombongannya, serta untuk menutupi kelemahannya, ia berteriak, ”Aku lepaskan kau kelinci tua, tetapi pergilah dari sini.”

Wanamerta tidak mendengarkan lagi kata-kata itu, tetapi ia berkata kepada orang-orang Banyubiru, ”Apa yang kalian lakukan? Aku lihat kalian akan berkelahi satu sama lain".

Mereka yang membenarkan kata-kata sebagian besar dari kalian, melawan mereka yang berpihak kepada Sontani. Kenapa kalian...? Bukankah kalian sama-sama orang Banyubiru? Aku berterima kasih kepada kalian yang berusaha untuk menyelamatkan aku. Aku tahu itu. Dan aku berbangga pula melihat pengikut-pengikut Sontani yang berani, meskipun jumlah mereka tidak sebanyak yang lain. Tetapi aku sedih melihat pertentangan kalian. Aku sedih melihat kalian akan bertempur satu sama lain, sesama orang Banyubiru.”

Keadaan menjadi hening. Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata itu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Bagaimanakah seharusnya mereka berbuat? Bukankah mereka harus merebut hak atas tanah ini? Tetapi mereka tidak boleh berbuat apa-apa.

Wanamerta melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan, ”Anak-anakku, jangan berbuat sendiri-sendiri. Hal itu sama sekali tidak akan menguntungkan. Tidak bagiku dan tidak bagi Sontani. Yang harus kalian lakukan hanyalah menempa tekad untuk melebarluaskan berita itu. Kalian hanya akan menyambut kedatangannya dua tiga hari lagi di tanah ini dengan tombak Kyai Bancak di tangannya. Pembicaraan seterusnya biarlah dilakukan oleh yang berhak membicarakannya. Yaitu Arya Salaka dan yang mengembaninya, yaitu Mahesa Jenar. Selebihnya tunggu perintahnya.”

Wanamerta masih melihat keheranan terbayang di wajah mereka. Keheranan seperti yang terbayang di wajah-wajah laskar Banyubiru di Gedong Sanga ketika mendengar keputusan Mahesa Jenar bahwa mereka masih harus menunggu. Tetapi disamping itu Wanamerta merasa berbangga bahwa ia dapat langsung berbicara dengan mereka dan memberikan kepada mereka jalan lurus yang harus mereka tempuh. Meskipun ia yakin bahwa apa yang sudah dicapainya itu tidak boleh terlepas lagi.

Tetapi sementara itu Sontani menjadi bermata gelap. Ia tidak dapat mendengar, otaknya tak dapat menahannya. Karena itu dengan suara yang mengguruh ia berkata, ”Wanamerta, baiklah kalau kau tidak mau pergi. Dan baiklah kalau kau masih akan berteriak-teriak terus. Karena aku sudah cukup memberi kau kesempatan, aku sekarang terpaksa bertindak terhadapmu. Menyumbat mulutmu.”

Wanamerta melihat mata Sontani telah menyala-nyala. Ia tidak mungkin lagi menghindari bentrokan dengannya. Tetapi ia tidak mau orang-orang Banyubiru terlibat ke dalam bentrokan itu. Orang-orang yang sebenarnya tidak banyak menentukan penyelesaian masalah hanya karena berkelahi sesamanya.

Karena itu ia menjawab, ”Baiklah Sontani. Kau ingin aku diam, tetapi aku ingin berbicara terus. Kita berlawanan kehendak. Karena itu terserah apa yang akan kau lakukan dan biarlah aku mencoba untuk berbuat atas kehendakku pula. Tetapi satu hal yang akan aku katakan kepada orang-orang Banyubiru dan termasuk pengikut-pengikutmu. Tenaga mereka masih sangat diperlukan buat masa depan. Buat ketentraman terakhir. Karena itu kalau ada perbedaan pendapat diantara kau dan aku, janganlah menyangkut mereka.”

Sontani mendengar kata-kata itu. Ia sadar bahwa kata-kata itu berarti suatu tantangan tanding seorang lawan seorang. Ia menjadi bergembira, sebab iapun tahu bahwa pengikutnya tidak sedemikian banyak berada di tanah lapang itu.

Maka ia menjawab lantang, ”Suatu kehormatan bagiku orang tua yang sombong. Dahulu aku mengagumimu. Tetapi waktu itu aku adalah seekor anak ayam yang kagum melihat ayam jantan berkokok di atas pagar. Tetapi sekarang tidak. Akulah ayam jantan itu.”

Wanamerta menarik nafas. Ia adalah seorang yang mempunyai cukup pengalaman. Ia adalah emban kepala daerah perdikan ini. Sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana, ia telah menjabatnya.

Karena itu iapun cukup tajam untuk menilai seseorang. Terhadap Sontani, iapun dapat menilai pula dengan tepat. Ia tidak lebih dari seorang yang besar kepala, sombong dan keras hati.

”Kau benar,” jawab Wanamerta, ”Kau adalah ayam jantan itu. Hanya saja kau adalah ayam jantan yang berkokok setelah matahari hampir terbenam.”

SONTANI menggeram. Sekali dua kali ia melihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat Sendang Papat dan Sendang Parapat yang tersenyum melihat kesombongannya. Sontani dengan sombongnya seolah-olah berkata kepada rakyat Banyubiru, ”Inilah aku, Sontani Bahu dari Pedukuhan Tanah Abang.”

Kemudian kepada Wanamerta ia berkata, ”Wanamerta, bukan salahku kalau kemudian tanganmu patah, atau lehermu terpuntir. Sebab kau adalah orang tua yang tak tahu diri.”

Wanamerta tersenyum. Senyum yang sangat menjemukan bagi Sontani. Karena itu ia menggeram sekali lagi dan berkata, ”Bersedialah. Lihatlah bintang-bintang di langit dengan seksama, barangkali ini untuk yang terakhir.”

”Yang terakhir?” tanya Wanamerta heran. ”Ya, sebab ada suatu kemungkinan, bahwa dengan tersentuh tanganku kau akan mati,” jawab Sontani dengan sombongnya. Wanamerta mengangguk-angguk. Sontani benar-benar sombong. Dan kesombongan itu menjengkelkan sekali.

Maka jawab Wanamerta, ”Gemintang yang bercahaya-cahaya itu. Jadi aku tidak akan memandangnya untuk yang terakhir kalinya. Tetapi kalau kau yang mati, mungkin karena pokalmu sendiri, kau akan berdiam menjadi ampas Rawa Pening.”

Hati Sontani menjadi semakin menyala. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, ”Jagalah mulutmu baik-baik Wanamerta, sebab aku ingin sekali meremasmu.” Wanamerta segera bersiaga, dan dengan suatu loncatan yang cepat, Sontani mulai menerjang. Beberapa orang yang berdiri disekitarnya berdesakan mundur.

Dada mereka tergoncang. Sontani adalah seorang yang kasar dan keras hati. Karena itu serangannya pun kasar pula. Beberapa orang menjadi cemas apakah Wanamerta dapat menjaga dirinya menghadapi Bahu Pedukuhan Lemah Abang yang sedang gila untuk mempertahankan kedudukannya itu. Wanamerta heran melihat serangan Sontani yang dapat demikian cepat. Ia mengenal Sontani lima tahun yang lalu, sebagai seorang yang selalu merasa tidak puas. Dan sekarang orang itu berjuang untuk mempertahankan kepuasan-kepuasan yang pernah dicapainya. Kepuasan-kepuasan lahiriah yang tak berharga sama sekali.

Wanamerta segera menghindarkan diri dengan satu gerakan yang sederhana. Dan itu menambah kemarahan Sontani. Meskipun beberapa tahun yang lampau ia benar-benar mengagumi orang tua itu, tetapi sementara ini ia merasa bahwa ia telah bertambah dewasa dalam ilmu tata perkelahian. Dengan gerakan-gerakan yang keras, ia bertempur dengan penuh nafsu. Tangannya bergerak berputar-putar, seolah-olah roda yang berputar-putar hendak menggilas lumat orang tua yang memuakkan itu.

Mengalami serangan yang datang bertubi-tubi itu, Wanamerta menarik dirinya beberapa langkah surut. Ia baru dalam taraf mempelajari gerakan-gerakan lawannya yang cukup cepat dan berbahaya itu.

Tetapi Sontani yang sedang marah itu tidak memberinya kesempatan. Sebagai seekor harimau yang gila, ia meloncat menerkam, menghantam, bertubi-tubi.

Tetapi Wanamerta cukup berpengalaman. Karena ia merasa lebih tua, maka ia menjaga agar ia tidak kehabisan nafas di tengah jalan. Karena itu ia bertempur dengan sangat menghemat tenaga. Meskipun demikian, setiap gerakan Wanamerta cukup memberi perlawanan yang gigih. Sehingga setelah beberapa saat mereka bertempur, Sontani sama sekali tak berhasil menyentuhnya. Karena itulah maka hatinya menjadi semakin membara. Dengan demikian ia menjadi semakin buas dan liar. Sontani mengerahkan segenap tenaganya untuk secepatnya menghancurkan orang tua yang akan menjadikan sebab hilangnya kekuasaan yang sudah berada di tangannya atas pedukuhan Lemah Abang yang subur di pinggiran kota Banyubiru itu.

Menghadapi serigala yang marah itu, Wanamerta harus berhati-hati pula. Sebab segala gerakan Sontani selalu dilambari oleh segenap kekuatannya. Dan ia adalah orang yang cukup mempunyai tenaga. Hanya sayang bahwa tenaganya tidak disalurkannya dengan tepat. Bahkan seperti terhambat tak berarti. Tetapi meskipun demikian, apabila serangannya itu dapat mengenai sasarannya, agaknya akan berbahaya juga. Karena Wanamerta masih selalu menghindari serangan-serangan Sontani, maka seolah-olah Wanamerta menjadi terdesak. Rakyat yang berdiri di sekitar perkelahian itu menjadi cemas, sebab mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Sontani pun berpendapat demikian pula, meskipun ia hampir tidak sabar karena serangan-serangannya tak pernah mengenai sasarannya. Diantara para penonton itu tampak Sendang Papat dan Sendang Parapat tersenyum-senyum.

Lima tahun yang lampau, memang agaknya Sendang Papat dan Sendang Parapat itu tidak lebih dari Sontani. Tetapi setelah mereka menggembleng diri di bawah asuhan Ki Dalang Mantingan, Wirasaba, bahkan kemudian mereka itupun mendapat petunjuk-petunjuk dari Mahesa Jenar sendiri. Maka ia melihat betapa lemahnya serangan-serangan Sontani. Mereka dengan tersenyum melihat betapa Wanamerta dengan sabarnya melayani permainan Sontani yang menjemukan dan sama sekali tidak bermutu.

WANAMERTA tidak ingin melihat keadaan semakin keruh. Agaknya Wanamerta berusaha untuk mengalahkan Sontani tanpa melukainya. Tetapi Sontani agaknya benar-benar orang yang tidak berotak. Ia sama sekali tidak menyadari keadaan. Karena itu ia malahan menjadi semakin berbesar hati dan sombong. Bahkan kemudian ia berteriak-teriak, ”Jangan berlari-lari seperti kelinci menghadapi serigala, Wanamerta yang malang. Agaknya kau telah terjerumus karena kesombonganmu ke dalam sudut yang celaka. Tetapi janganlah kau ingkar pada kejantananmu. Kepada sesumbarmu yang seolah-olah membelah langit.”

Wanamerta menggeleng lemah. Sambil menghindari serangan Wanamerta, Sontani berkata, ”Ha, kau sudah semakin ketakutan. Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Berjongkoklah dan minta maaf kepada Bahu Pedukuhan Lemah Abang agar kau kuampuni karena kesalahanmu. Setelah itu kau harus meninggalkan lapangan ini dengan merangkak sampai ke batas tanah lapang.”

”Sejak umur setahun aku sudah tidak biasa lagi merangkak, Sontani. Maafkan kalau aku tidak dapat memenuhi permintaanmu,” jawab Wanamerta. Sontani membelalakkan matanya. Ia mengharap Wanamerta benar-benar minta maaf kepadanya, meskipun seandainya ia tidak dapat memenuhi perintahnya itu seluruhnya. Tetapi tiba-tiba Wanamerta menjawab sedemikian menyakitkan hati. Karena itu sekali lagi Sontani berkata untuk menghina orang tua itu, ”Aku beri kesempatan dalam hitungan lima kali. Setelah itu tak ada kesempatan lagi bagimu. Kalau akan aku tangkap, aku cukur gundul dan aku arak berkeliling kota besok pagi.”

Wanamerta tidak menjawab. Ia membiarkan saja Sontani menghitung untuk memuaskan hatinya. Tetapi ketika Sontani sampai ke hitungan yang ketiga, tiba-tiba Wanamerta mulai dengan melontarkan beberapa serangan balasan. Sontani terkejut. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wanamerta yang tua itu masih mampu bergerak sedemikian cepat dan berturut-turut. Karena itu ia sama sekali kurang bersiaga, sehingga beberapa serangan Wanamerta itu berturut-turut mengenai tubuhnya. Tidak hanya sekali, tetapi dua-tiga kali, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut.

Mengalami perisitwa itu tiba-tiba mata Sontani yang hitam kelam itu menjadi memerah darah, seolah-olah dari sana menyembur api yang menyala-nyala. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit oleh serangan lawannya, tetapi karena perasaan yang bercampur baur. Marah, malu, muak dan segala macam. Tetapi dalam pada itu, ia menjadi semakin bernafsu untuk menghancurkan musuhnya itu. Dalam tanggapannya, serangan Wanamerta itu adalah karena kelengahannya. Meskipun demikian ia sama sekali tidak menjadi jera, sebab pukulan Wanamerta, meskipun mengenainya tetapi tidak menyakitkan.

Namun dengan perasaan itu ia telah membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya. Ia tidak menyadari bahwa Wanamerta sebenarnya tidak menggunakan seluruh tenaganya. Ia hanya mempergunakan kecepatan dan mendorong dada Sontani, menyentuh pundaknya dan dengan kaki ia menyinggung lambungnya.

Tetapi kemarahan Sontani telah benar-benar menggelapkan pikirannya. Ia benar-benar sudah tidak dapat menimbang untuk rugi dari perbuatannya itu. Dengan demikian ia menjadi semakin membabi buta. Menerjang, menghantam, memukul dengan penuh nafsu. Ia berkelahi seperti serigala gila sedang kelaparan. Dari mulutnya terdengarlah nafasnya memburu dan geramnya yang seram.

Wanamerta membiarkan Sontani bertempur dengan cara yang demikian. Ia mengharap Sontani akan kehabisan tenaga dan berhenti dengan sendirinya. Dengan demikian ia tidak mengalahkannya dengan menyinggung kehormatannya beserta pengikut-pengikutnya. Tetapi Sontani berpendirian lain. Karena pikirannya yang gelap itulah ia tidak dapat menimbang apa yang akan dilakukan. Apakah akibat yang bakal timbul, dan apakah itu akan menimbulkan korban ataukah tidak. Ketika ia merasa bahwa tenaganya sudah mulai berkurang karena peluh yang sudah membasahi tubuhnya seperti orang mandi, ia menjadi tidak bersabar lagi. Ia ingin dengan segera menangkap dan menghinakan lawannya di hadapan umum.

Sedangkan Wanamerta benar-benar licin seperti belut. Sebenarnya heranlah Sontani, bahwa orang setua itu masih mampu menghindarkan diri dari serangan-serangannya yang mengalir seperti banjir.

Tetapi bagi Wanamerta, Sendang Papat dan Parapat, gerakan-gerakan itu sama sekali tidak seperti banjir sungai yang paling kecil sekalipun. Gerakan-gerakan itu tidak lebih dari gerakan-gerakan yang hanya dikendalikan oleh nafsu dan kesombongan. Kepercayaan yang berlebih-lebihan terhadap diri sendiri, sehingga tidak mampu lagi untuk melihat kenyataan. Perasaan yang demikian itulah yang mendorong seseorang ke dalam sudut kekalahan. Sebab kesombongan dan sikap menghina lawan adalah unsur utama dari kekalahan itu sendiri. Demikian juga Sontani. Ia merasa dirinya berlebihan.

Tetapi sekali waktu ia mengalami peristiwa yang ia takut mengakuinya. Ia takut berpikir bahwa sebenarnya Wanamerta adalah lawan yang tak dapat dikalahkan. Oleh karena itu, oleh perasaan yang bercampur baur itulah kemudian ia menjadi bermata gelap. Dengan penuh kemarahan ia berteriak nyaring, ”He Wanamerta, bertempurlah dengan laku seorang jantan. Jangan hanya mampu berlari dan menghindar. Bertahanlah, dan marilah kita sama-sama mengangkat dada.”

”Hem...” gumam Wanamerta. Di dalam hati ia mulai menyesali sikap Sontani yang keras kepala itu. Tetapi ia menyabarkan diri. Ketika beberapa saat kemudian Wanamerta masih belum menjawab, sekali lagi Sontani berteriak, ”Hai, kelinci betina. Bertempurlah dengan dada tengadah. Jangan lari berputar-putar seperti ayam disembelih. Kalau kau takut mati dalam pertempuran ini, bertobatlah dan mintalah ampun.”

WANAMERTA menggeleng lemah. Tetapi ia tetap menunggu sampai Sontani kehabisan tenaga. Karena itu perlahan-lahan ia menjawab, ”Kau belum sampai ke hitungan yang kelima, Sontani.”

Alangkah sakitnya hati Sontani. Ia sendiri sudah lupa pada hitungan itu karena serangan Wanamerta yang tiba-tiba. Sekarang dari lawannya itu ia mendapat peringatan akan kelalaiannya. Karena itu ia menjadi bertambah marah dan tiba-tiba terjadilah apa yang dicemaskan oleh Wanamerta. Apa yang sejak semula dihindari, sehigga ia lebih senang menghindari serangan Sontani itu terus menerus tanpa menjatuhkannya.

Dengan penuh kemarahan, Sontani berteriak, ”Hei orang-orang Lemah Abang yang setia. Tangkap kelinci tua ini.”

Perintah itu benar-benar menggetarkan hati Wanamerta. Bukan karena ia takut seandainya ia terpaksa melawan seluruh pengikut Sontani, bahkan seandainya ia terpaksa mati karenanya. Tetapi dengan menggerakkan pengikutnya, Sontani harus menghadapi akibat yang barangkali tak pernah dipikirkan.
Karena itu Wanamerta mencoba mencegahnya. Dengan nyaring ia berteriak, ”Tunggulah Sontani.”

Sontani benar-benar telah kesurupan setan. Ia tidak mendengar seruan itu, bahkan beberapa orang pengikutnya yang mendengarnya menganggap bahwa Wanamerta telah menjadi ketakutan. Dengan demikian mereka semakin bernafsu dan berloncatan maju, mendesak orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Bahkan beberapa orang mereka dorong jatuh tanpa peringatan apapun. Gelang raksasa yang terdiri dari manusia yang berjejal-jejal itu tampak bergerak-gerak. Beberapa orang masih belum sadar apa yang akan terjadi. Baru ketika beberapa orang berloncatan memasuki arena, tahulah mereka bahwa Sontani bersama-sama dengan pengikutnya akan menangkap Wanamerta itu beramai-ramai.

Itulah permulaan dari bencana yang menimpa diri Sontani. Sebab orang-orang yang telah terbuka hatinya, melihat kebenaran keadilan, tidak rela Wanamerta menjadi makanan pesta dari orang-orang yang hanya dapat menghitung kebenaran dari kepentingan mereka sendiri. Karena itulah maka merekapun serentak, tanpa perintah dari siapapun, bergerak melawan orang-orang Sontani. Sehingga di lapangan terbuka itu terjadilah semacam perang kecil-kecilan antara para pengikut Sontani melawan orang-orang Banyubiru yang lain. Sendang Papat, Sendang Parapat dan beberapa orang kawannya telah berdiri di sekitar Wanamerta. Mereka harus menjaga keselamatan orang tua itu. Orang tua yang telah menjadi emban kepala daerah perdikan Banyubiru sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipayana.

”Apa yang akan kita lakukan, Kiai?” tanya Sendang Papat. Wanamerta tegak seperti patung, mulutnya komat-kumit, namun belum terdengar ia berkata. Tetapi dari matanya telah terlontar betapa ia menyesal melihat hal ini terjadi. Tawuran antara rakyat dan rakyat yang sebenarnya sama-sama menanti masa depan yang lebih menyenangkan. Sontani sendiri tiba-tiba didorong oleh hiruk-pikuk menjauhi Wanamerta.

Dengan penuh kemarahan ia berkelahi. Namun lawannya terlalu banyak. Karena itu ia terpaksa mundur dan mundur. Demikian pula agaknya para pengikutnya. Mereka ternyata korban lawan. Lawan yang dengan penuh kemarahan melawan mereka. Bagaimanapun kuatnya Sontani, dan bagaimanapun para pengikutnya berkelahi membabi buta, namun akhirnya mereka terpaksa mengalami perlakuan yang sama sekali tak mereka harapkan. Demikian pula Sontani. Meski ia telah berkelahi mati-matian namun akhirnya ia tidak berhasil melepaskan diri dari tangan orang-orang yang semula dianggapnya tak akan menghalangi tindakannya. Beberapa orang menangkapnya dan memegangi tangan serta kakinya.

Beberapa orang mencoba memukulnya pada bagian-bagian tubuhnya sekenanya. Sontani meronta-ronta sejadi-jadinya. Tetapi tangan orang-orang itu terlalu keras, dan ia tak mampu melepaskan diri dari mereka yang tak terkendali lagi itu.

Wanamerta melihat bahaya itu. Bagaimanapun juga ia tak menghendaki adanya korban. Karena itu hampir tak terdengar dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata, ”Sendang, selamatkanlah Sontani itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah orang muda yang selama ini ikut merasakan betapa tekanan-tekanan yang telah dialami oleh orang-orang Banyubiru dari orang-orang semacam Sontani itu.

Di hadapan hidungnya ia melihat Sontani telah berusaha untuk menghina Wanamerta, sesepuh tanah perdikan ini. Karena itu, ketika ia mendengar perintah Wanamerta, mereka menjadi heran dan ragu, sehingga Wanamerta terpaksa mengulangi, ”Sendang...” suaranya perlahan-lahan, ”Selamatkan Sontani.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat sadar dari keragu-raguannya. Bagaimanapun perasaannya bergolak di dalam dadanya, namun mereka adalah orang-orang yang patuh. Karena itu mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sigapnya mereka meloncat diantara orang yang bergolak seperti gabah diinteri itu, menyusup langsung ke arah Sontani. Dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman serta kelebihan-kelebihan mereka, merekapun segera berhasil berdiri di samping Sontani yang sedang meronta-ronta itu.

Dengan penuh tenaga, Sendang Papat berteriak mengatasi keriuhan suara orang-orang Banyubiru yang marah itu, ”Hai, kawan-kawan yang baik. Aku harap kerelaan kalian. Serahkanlah orang ini kepadaku.”

Beberapa orang yang dekat berdiri dengan Sendang Papat itu terkejut, ketika mereka memandanginya, dalam samar-samar sinar obor yang jauh. Bukankah yang berteriak itu Sendang Papat...?

Tiba-tiba seorang diantara mereka berkata, ”He, adakah kau Adi Sendang Papat?”

”Ya,” jawabnya singkat.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya