Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 100

Wanamerta ingin mencoba menghindarkan orang-orang Banyubiru dari bentrokan bentrokan yang lebih besar. Dengan demikian ia menyusup diantara orang banyak yang seperti anak anak bermain api mendekati Sendang Papat.Ketika ia sudah berada dibelakang anak muda itu ia menggapitnya Sendang Papat menoleh kearahnya. Matanya masih merah diwarnai kemarahan yang meluap luap. Wanamerta beragu sejenak, tetapi akhirnya ia berkata;" Sendang, hentikan permainan ini." Sendang Papat memandang wajah Wanamerta dengan kecewa, bantahnya :" Aku harus membunuh semua orang yang telah bersetuju untuk membunuh adikku."

"Baiklah Sendang, aku akan membantumu. Tetapi tidak sekarang dan tidak dalam kesempatan ini." jawab Wanamerta lunak. "Kenapa aku dapat melakukannya? mereka sudah mulai sekarang." bantah Sendang Papat. "Bukan sekarang Sendang, bahkan telah lama. Dan selama ini kami masih mencari cari jalan untuk menyelesaikan masalah kita dengan orang orang yang telah keblinger itu,"Wanamerta mencoba memberikan penjelasan.

"Aku tidak sabar lagi. Adikku telah terbunuh, dan masih adakah orang yang akan berusaha menyalahkan aku?" sahut Sendang Papat.

"Tidak Sendang, tidak. Kau tidak bersalah. Kau berusaha membela adikmu, yang hanya merupakan salah seorang dari mereka yang menjadi korban peristiwa peristiwa semacam ini. Tetapi ketahuilah bagaimana sekiranya Lembu Sora datang ke tanah lapang ini?," bertanya Wanamerta.

"Bagaimanakah kalau terjadi bentrokan antara orang banyu Biru dengan pasukan Lembu Sora?."

"Aku akan berdiri paling depan. Akan aku bunuh mereka semua, atau aku yang terbunuh," jawab Sendang Papat lantang.

Wanamerta menjadi kebingungan. Meskipun apabila Lembu Sora itu benar benar datang, ia tidak akan mengingkari tanggung jawab. Sebab ialah orang tertua dari rombongannya. Sebelum Wanamerta dapat menguasai perasaan Sendang Papat yang meluap luap itu. Tiba-tiba terdengar dari kejauhan derap kaki kuda. Dada Wanamertapun berdesir. Itulah pertanda bencana akan datang. "Sendang jangan biarkan korban menjadi semakin banyak," berbisik Wanamerta. Tetapi wajah Sendang menjadi terang. Tampaknya ia menjadi gembira sekali, seperti kanak kanak yang mendapat mainan. Sesekali ia meloncat dengan lincahnya. Untuk kemudian menghambur menyongsong derap kuda yang semakin lama semakin dekat.

Beberapa orang yang yang melihatnya ikut berlari-lari dibelakangnya. Merekapun tiba tiba menjadi gembira pula. Dari dalam gelap, dibalik tikungan jalan, muncullah beberapa orang berkuda. Mereka adalah orang Lembu Sora dari Pamingit. Wajah wajah mereka tampak betapa garangnya. Cahaya api yang kemerahan itu membuat kesan yang seram pada rombongan berkuda itu. Pemimpin rombongan itu segera melihat api yang menyala-nyala. Merekapun kemudian melihat orang orang yang seolah olah mengamuk. Segera kemarahan menjalar didada mereka. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang menyongsong kedatangan mereka dengan senjata pemukul, bambu dan kayu dan apasaja yang mereka ketemukan.

Pemimpin laskar itu segera memberikan perintah, dan bertebaranlah orang orang berkuda itu ke segenap penjuru. Mereka memacu kuda mereka tanpa memperhitungkan banyak orang dilapangan itu.

Beberapa orang terdorong jatuh dan bahkan ada diantaranya yang terlanggar dan terbanting di tanah.
Beberapa orang berteriak teriak mengancam dan mengumpat umpat. Sendang Papat menjadi kecewa ketika rombongan itu terpencar pencar seperti orang kesurupan dan menginjak injak yang ada di jalannya.

Melihat sikap itu Sendang Papat menjadi semakin marah. Bahkan Wanamertapun menjadi marah pula.

Ia tidak pernah membayangkan, demikian orang Pamingit memperlakukan orang Banyubiru itu dianggapnya sapi gembalaan, yang dapat digiringnya dengan pecut dan tongkat pemukul. Tetapi bagaimanapun kepalanya msdih tetap dingin. Berbeda dengan Sendang Papat yang diikuti segenap orang yang berada di tanah lapang itu. Merekapun segera memberikan perlawanan. Orang banyak itupun mengamuk sejadi-jadinya. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan tidak banyak. Mereka adalah orang yang tidak begitu banyak mendapat didikan keprajuritan. Dengan demikian perlawanan merekapun tidak banyak berarti.

Hanya Sendang Papatlah yang mampu menghadapi bahaya yang mengancam dirinya. Ketika seekor kuda dengan kencangnya berlari menerjangnya, dengan segala kekuatan ia mendesak orang disekitarnya untuk menghindar. Namun demikian kuda itu lewat disampingnya demikian ia meloncat keatas punggungnya. Sekali gerak, tangannya telah membenamkan kerisnya kepunggung orang itu yang kemudian terbanting jatuh. Dengan kuda itulah Sendang Papat melawan orang Pamingit. Tetapi Sendang Papat seorang diri itupun tak banyak yang dapat dilakukan.

Wanamerta kemudian tidak mengingkari tanggung jawabnya. ia berusaha untuk mengurangi tekanan orang Pamingit itu. Namun akhirnya satu demi satu jatuhlah korban. Sedang keributan di tanah lapang itupun semakin menjadi jadi pula. Akhirnya Wanamerta menganggap bahwa bentrokan itu harus segera diakhiri.

Ia tidak mau melihat orang kecil menjadi korban. Karena itu segera Wanamerta berteriak, "Hindarkan diri, hei orang Banyubiru. Hindarkan diri kalian." Sekali dua kali suara Wanamerta itu tenggelam saja dalam gemuruhnya teriakan rakyat yang marah serta teriakan orang Pamingit yang memaki maki. Tetapi ia tidak putus asa. Diulanginya lagi kata katanya sekali dua kali. Kemudian terdengar ia berteriak keras; "Hei orang Banyu Biru yang setia. Jangan terlalu bodoh melawan orang berkuda itu. Tinggalkan mereka. Hindarkan diri kalian dari injakan kuda-kuda itu."

Beberapa orang mendengar teriakan Wanamerta, mereka mulai berfikir. Apakah mereka akan dapat melawan orang berkuda itu. Sedangkan dihadapan mereka korban jatuh bertambah lagi. Apalgi orang Pamingit yang juga menjadi gila itu menghunus pedang mereka. Meskipun demikian Sendang Papat bertempur seperti burung Sikatan. Ia menyambar dengan lincahnya diatas kudanya. Ketika Wanamerta berteriak sekali lagi, suaranya mulai dapat perhatian. meskipun beberapa orang yang meluap luap perasaannya, seolah olah tidak akan meninggalkan tanah lapang itu meskipun seandainya mereka harus terbunuh, tetapi terdengar Wanamerta berkata: "He, hindarkan diri kalian. Jangan mati tanpa arti. Tenaga kalian masih sangat diperlukan oleh tanah kelahiran ini. Tetapi nanti dalam kesempatan yang lebih baik, dimana kalian membawa senjata di tangan kalian."

Demikianlah, kemudian orang Banyubiru itu sadar akan keadaan yang tidak berimbang. Karena itulah mereka mengikuti nasehat Wanamerta yang selalu diulang ulang. Beberapa orang meloncat dan berlari meninggalkan lapangan itu. Kuda orang Pamingit itupun mejadi liar pula. Mereka berlari lari mengelilingi lapangan seperti serigala lapar. Diatas punggung mereka itupun duduk orang gila yang liar seperti beruang alasan.

Orang berada dilapangan semakin berkurang jua. Satu satu mereka mencoba menghindarekan diri mereka dengan janji didalam dada apabila datang saatnya maka akan mereka serahkan jiwa raga mereka sebagai tebusan atas kekhilafan mereka selama ini. Tetapi kali ini, mereka tidak akan mati tanpa arti.

Beberapa orangberkuda mencoba mengejar mereka namun mereka itupun segera meloncati pagar batu dan menyusup pagar bambu, tenggelam dalam gerumbul yang gelap. Sendang Papat masih saja bertempur terus. Ia sama sekali tidak memperhitungkan lagi keadaan yang dihadapinya. ia tidak mau melihat kenyataan bahwa akhirnya ia harus bertempur seorang diri. Demikianlah kemudian tiga orang berkuda bersama-sama menyerangnya. Sendang Papat memang tangkas. Tetapi ia tidak dapat melawan ketiga-tiganya sekaligus. Ia mencoba untuk memutar kudanya, menghindar kesamping. tetapi kuda lawannya itu akan melanggarnya. Disusul dengan yang seekor lagi dari arah lain. Sendang Papat segera menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu terhenti. Seekor kuda lawannya, berlari terus kedepan, tetapi seekor lagi benar benar membenturnya.

Tekanan itu ternyata terlalu berat bagi Sendang Papat sehingga iapun kemudian terlempar dari punggung kudanya bersama sama dengan penunggang kuda yang membenturnya. Keduanya jatuh bergulingan dan berusaha bangkit kembali. Demikian mereka berdiri, demikian mereka bertempur kembali. Tetapi dalam pada itu, kawan kawannyapun telah siap pula untuk membantu. Wanamerta yang masih berdiri di tanah lapang melihat kesulitan yang bakal terjadi atas Sendang Papat. Ia tidak mau mengorbankannya. Adiknya telah terluka berat sehingga ia harus berusaha supaya kakaknya dapat diselamatkan. tetapi lawan terlalu banyak.

Untuk sesaat Wanamerta berbimbang hati. Ia menyesal bahwa Sendang Papat telah kehilangan kejernihan pikirnya sehingga seolah olah ia akan membunuh diri. Tetapi ia tidak mempunyai banyak waktu. Bagaimanapun yang terjadi ia harus membantu anak itu. Karena itulah dengan secepat ia dapat, meloncatlah orang tua itu kearah Sendang Papat, untuk membantunya. Ketika seekor kuda menyambarnya, Sendang Papat masih sempat mengelakkan dirinya bahkan ia masih dapat menyerang lawannya, yang berdiri diatas tanah. Dengan demikian, Wanamerta masih dapat menyapanya sebelum ia digilas oleh kaki kuda orang Pamingit. Yang mula mula diucapkan Wanamerta adalah "Sendang," suaranya perlahan sekali.

"Adikmu mencarimu"

"He," Sendang Papat terkejut "Prapat?"

"Ya," jawab Wanamerta. Sementara itu ia harus turut melawan lawan Sendang Papat. Sementara itu seekor kuda sekali lagi menyambar mereka. Dengan ikat kepala yang diuraikan, Wanamerta berhasil menakuti kuda itu, sehingga kuda itu meronta dan melonjak tinggi. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh sendang Papat. Dengan sigapnya ia meloncat, dan sekali lagi kerisnya membenam di tubuh orang itu.

"Naiklah kiyai," teriaknya. Tetapi Wanamerta tidak sempat naik. Orang yang semula berkelahi melawan Sendang papat menyerangnya. Ketika sebuah pedang menyambar lehernya, Wanamerta berjongkok merendahkan dirinya. Kemudian dengan kakinyha ia menghantam lambung orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu terlempar. Malanglah baginya, ketika saat itu dua ekor kuda bersama sama berlari mendekati titik perkelahian. Kedua orang itu sudah siap untuk menusuk tubuh Wanamerta dari dua arah.

TIBA-TIBA seseorang terlempar ke depan mereka. Terdengarlah jerit ngeri. Tubuh itupun dengan dahsyatnya terinjak oleh kaki-kaki kuda yang sedang berlari kencang. Wanamerta hanya melihat peristiwa itu sebentar saja. Iapun segera berlari, meloncat ke atas punggung kuda, yang semula dipakai oleh Sendang Papat. Kuda itu, yang masih berdiri di tengah lapangan, menjadi terkejut dan berlari melingkar-lingkar. Untunglah Wanamerta segera dapat menguasainya.

Dalam pada itu Sendang Papat sudah bimbang. Kalau semula ia sudah berketetapan hati untuk mati dengan membawa bela sebanyak-banyaknya, kini ia terpaksa berpikir kembali. "Adakah Parapat masih hidup?" pikirnya.

Tiba-tiba Sendang Papat ingin mendapat penjelasan tentang adiknya. Karena itu Sendang Papat segera mendekatkan diri kepada Wanamerta sambil bertanya, "Adakah Kiai tadi berkata tentang Parapat?"

Mata Wanamerta tidak terpelas dari para penunggang kuda yang telah siap menerjang mereka.

Meskipun demikian ia menjawab, "Ya."

"Bagaimana dengan anak itu?" Sendang Papat minta penjelasan.

"Ia mengharap kedatanganmu. Mudah-mudahan ia masih tertolong," Wanamerta mencoba untuk memancing anak itu meninggalkan tanah lapang yang terkutuk ini.

Sementara itu, ia melihat beberapa orang lain, yang semula mengejar-ngejar orang Banyubiru telah memasuki tanah lapang kembali. Bahkan merekapun segera bersiap pula untuk menyerang. Wanamerta melihat bahaya yang bertambah-tambah, sementara itu harapannya mulai timbul kembali. Mudah-mudahan Sendang Papat bersedia meninggalkan tanah lapang ini untuk melihat adiknya.

"Tak cukup banyak waktu Sendang," kata Wanamerta pula, "Adikmu cepat-cepat harus mendapat bantuan."

"Di mana dia sekarang?" tanya Sendang Papat.
"Ia disembunyikan di rumah Ki Prana," jawab Wanamerta.

Sendang Papat merenung sejenak. Di hadapannya orang-orang Pamingit memacu kudanya ke arah mereka berdua.

"Mereka datang, Kiai," kata Sendang Papat.

Wanamerta telah melihat mereka pula. Segera ia menarik kekang kudanya memutar sekali, lalu berlari ke samping.

"Pikirkan adikmu itu," katanya sebelum kudanya berlari. Sendang Papat tidak sempat menjawab. Seekor kuda lawan menyerangnya dengan cepatnya. Ketika sebuah pedang menyambarnya, dengan cepatnya ia melekatkan tubuhnya pada punggung kudanya. Hatinya berdesir ketika Sendang Papat merasakan angin sambaran pedang menghembus tengkuknya.

"Hampir saja," desisnya. Karena itu Sendang Papat merasa bahwa lebih baik melawan orang-orang Pamingit itu, dengan pedang pula. Karena itu cepat-cepat ia meloncat turun memungut pedang dari seseorang yang telah tak berdaya untuk bangkit kembali. Dengan pedang itulah kemudian ia melawan setiap penyerangnya dengan kekuatan yang berimbang. Tetapi orang-orang Pamingit itu pun bertambah-tambah pula.
Sendang Papat melihat Wanamerta yang tua itu pun dapat bergerak mengagumkan. Di tangannya tiba-tiba saja telah tergenggam sebuah telempak, tombak bertangkai pendek. Agaknya ia pun merasa perlu untuk memegang sebuah senjata yang tidak terlalu pendek dalam pertempuran berkuda. Namun, meskipun demikian di dalam hati Sendang Papat mulailah timbul keraguan. Ia terpengaruh benar oleh kata-kata Wanamerta tentang adiknya. Karena itu selagi ia sempat, ia mendorong kudanya ke arah Wanamerta, dan dengan suara yang parau dan perlahan-lahan ia berkata, "Apakah kita lebih baik meninggalkan lapangan ini, Kiai?"

"Demikianlah, untuk keselamatan adikmu. Ia membutuhkan perawatan," jawab Wanamerta. "Baiklah," jawab Sendang Papat.

Tetapi sementara itu, Wanamerta memandang sekelilingnya dengan alis yang berkerut-kerut. Ia melihat perubahan pada tata perkelahian lawannya. Wanamerta tidak lagi melihat mereka bersiap untuk menyerang satu demi satu atau berdua atau bertiga sekalipun.

Yang dilihatnya adalah orang-orang Pamingit itu mulai membuat sebuah gelang, mengelilingi mereka berdua.

"Setan," desis Sendang Papat.

"Mereka mengepung kita," sahut Wanamerta.

Sendang Papat memutar kudanya untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Ia melihat sepuluh, bahkan lebih dari itu, orang-orang berkuda di sekelilingnya. Sedang di tengah lapang itu, ia melihat beberapa ekor kuda tak berpenumpang. Dua tiga orang Pamingit terbaring diantara beberapa orang Banyubiru yang terluka dan bahkan ada yang terbunuh di tanah lapang itu.

Suatu kekacauan yang mengerikan.

Tetapi sementara itu, Wanamerta dan Sendang Papat harus berpikir tentang diri mereka. Ketika mereka melayangkan kembali pandangan mereka, mereka melihat perlahan-lahan kuda-kuda yang mengepung itupun mulai bergerak maju. Wanamerta adalah seorang tua yang berpengalaman cukup. Karena itu segera ia mengetahui maksud orang-orang Pamingit itu. Maka desisnya, "Sendang, jangan beri kesempatan mereka bersama-sama menyerang. Kau lihat kelemahan mereka?"

Sendang menggeleng lemah. "Kita menyerang dari arah api. Aku harap mereka terganggu oleh cahaya yang silau itu. Kita tembus dinding yang bertentangan dengan arah cahaya. Secepat-cepatnya, sebelum datang yang lain, mereka sempat membantu," kata Wanamerta setengah perintah.

SENDANG PAPAT telah menangkap maksud orang tua itu. Ia memuji didalam hatinya. Tetapi ia tidak sempat untuk berkata apapun, sebab demikian Wanamerta selesai berkata, demikian ia menarik kekang kudanya dan memacu ke arah barat. Sendang Papat pun segera menyusul. Pedangnya berkilau-kilau kemerah-merahan oleh cahaya api yang sudah mulai berkurang. Namun cahayanya masih cukup besar untuk menerangi seluruh tanah lapang itu. Orang-orang Pamingit itu terkejut melihat kesigapan Wanamerta dan Sendang Papat. Meskipun mereka sudah mengira, bahwa kedua orang itu tidak akan mau menyerah begitu saja, namun serangan mereka berdua yang tiba-tiba, telah menyebabkan mereka kehilangan waktu beberapa saat untuk menilai gerakan itu.

Demikianlah, Wanamerta telah mencapai dinding kepungan itu, dengan membelakangi api yang menyala-nyala. Setiap garis-garis yang tergores pada tubuh orang Pamingit itu. Setiap gerakannyapun dapat diketahuinya. Sebaliknya orang-orang itu hanya melihat bayangan hitam seperti terbang menerkamnya. Mereka tidak dapat melihat dengan jelas, gerakan-gerakan apakah yang sudah dilakukan oleh dua hantu yang seakan-akan meloncat dari tengah-tengah itu. Karena itu mereka menjadi gugup. Tetapi sesaat kemudian, kawan-kawan merekapun menjadi sadar. Mereka akhirnya mengetahui juga, bahwa Wanamerta telah mengambil keuntungan dari cahaya api yang silau itu. Dengan demikian segera merekapun bergerak maju mengejarnya.

Ternyata perhitungan Wanamerta adalah tepat. Ia dapat mencapai dinding kepungan sebelum lawan-lawan mereka yang lain sempat membantu. Dengan telapaknya Wanamerta menyerang orang yang menghadang di hadapannya. Meskipun kemudian orang dikanan kirinya merapat, namun cahaya yang silau telah membuat untung Wanamerta dan Sendang Papat. Perkelahian yang terjadi kemudian tidak berlangsung lama. Mereka tidak dapat menahan kedua orang itu untuk menerobos kepungan mereka.

Dengan demikian akhirnya Wanamerta berhasil keluar dari lingkaran maut itu bersama-sama dengan Sendang Papat. Tetapi Wanamerta kemudian tidak mau disilaukan oleh api yang memberinya keuntungan, apabila ia harus melawan pengejarnya. Karena itu segera ia membelokkan arah kudanya ke kanan.

Tetapi orang-orang Pamingit itu telah mendapatkan kesadaran mereka. Sebagian dari mereka segera menyusul, dan sebagian lagi memotong jalan. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat telah melepaskan diri dari kepungan. Mereka dapat menghadapi lawan mereka dari satu arah. Meskipun demikian lawan mereka terlalu banyak. Sehingga kemudian ternyata bahwa Wanamerta dan Sendang Papat pun terdesak.

Menghadapi keadaan yang demikian, kedua orang Banyubiru yang gemblengan itu malahan telah membulatkan tekad untuk melawan sampai kesempatan terakhir. Dalam pada itu, ketika mereka sedang berkelahi mati-matian, tiba-tiba terdengarlah suara-suara anak muda tertawa.

Disusul oleh sebuah aba dari antara mereka, "Ayolah, kita mulai." Yang berada di tanah lapang itu kemudian dikejutkan oleh munculnya empat ekor kuda dari sudut tanah lapang itu. Kemudian seekor lagi ditunggangi oleh seorang anak muda yang tampan, bertubuh tegap dan berdada bidang.

Agaknya anak muda yang terakhir itulah yang telah mengucapkan aba-aba. Sedang keempat anak muda yang lain itupun langsung menerjunkan diri ke kancah pertempuran.

"Ayolah Kiai," teriak salah seeorang diantaranya, "Aku berada di pihak Kiai dan Paman Sendang Papat."

Wanamerta heran melihat kedatangan mereka. Demikian juga Sendang Papat. Wanamerta adalah orang Banyubiru sejak Pangrantunan. Tetapi terhadap anak-anak muda itu ia belum begitu mengenal. Sedang mula-mula Sendang Papat pun agak ragu, siapakah yang telah datang tepat pada saatnya membantu mereka berdua. Tetapi Wanamerta dan Sendang Papat belum sempat bertanya tentang mereka.

Pertempuran itu menjadi kian sengit. Keempat anak muda itupun berkelahi dengan tekad yang menyala-nyala. Dengan demikian pekerjaan Sendang Papat dan Wanamerta menjadi berkurang.

Lawan-lawan mereka setidak-tidaknya telah berkurang dengan empat orang, yang harus melayani keempat anak muda yang bertempur dengan tenaga yang penuh. Namun agaknya keempat anak muda itu masih kurang pengalaman, sehingga meskipun mereka bertempur mati-matian, tetapi ternyata bahwa mereka tidak lebih dari setiap orang dari laskar Pamingit itu. Sehingga dengan demikian, pertempuran itupun hampir tak terpengaruh oleh kehadiran keempat orang itu. Meskipun demikian, kesempatan untuk menjaga diri bagi Wanamerta dan Sendang Papat adalah jauh lebih besar dari semula. Maka semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin keras. Orang-orang Pamingit yang tidak segera dapat menyelesaikan pekerjaan mereka itupun menjadi marah dan bertempur semakin liar. Karena jumlah mereka lebih banyak maka kemudian mereka pun berhasil sedikit demi sedikit menguasai keadaan, sehingga pertempuran itupun menjadi berat sebelah.

Ternyata yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Wanamerta dan Sendang Papat. Sedang terhadap keempat anak muda itu mereka hanya sekedar memberikan perlawanan untuk menjaga mereka supaya mereka tidak dapat langsung membantu Wanamerta dan Sendang Papat.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka tiba-tiba pemuda yang seorang lagi yang masih duduk diam di ats punggung kudanya di tepi lapangan itu tertawa terbahak-bahak. Suaranya itu sangatlah menarik perhatian.

Baik orang Pamingit maupun Wanamerta dan Sendang Papat. Bahkan kawan kawannyapun menoleh kepadanya.

"Permainan yang jelek," katanya. "Tidakkah kalian dapat berkelahi lebih baik?"

"Apakah yang jelek?," jawab salah seorang temannya.

"Kalian hanya mampu berputar putar seorang penari jathilan diatas kuda kepang," jawab anak muda itu....

KAWAN-KAWAN anak muda itu tak ada yang menjawab.

Tetapi pertempuran masih berlangsung terus. Sehingga kemudian terdengar ia berkata pula, "Kiai Wanamerta dan Paman Sendang Papat pun agaknya sudah terlalu payah. Tetapi cara-cara yang dipergunakan, serta gerak-gerak yang bersumber pada Paman Mahesa Jenar agaknya cukup menarik."

Wanamerta dan Sendang Papat sekali lagi terkejut bukan main. Kenapa anak muda itu mengetahui beberapa unsur gerak yang dipelajarinya dari Mahesa Jenar? Kemudian terdengarlah anak muda yang gagah tampan itu meneruskan, "Tetapi sayang, bahwa Paman Sendang Papat kurang berhasil mengambil keuntungan dari gabungan ilmu Ki Ageng Supit Wanakerta dengan ilmu dari perguruan Pengging."

Sendang Papat menjadi semakin heran. Ia belum pernah mengenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta. Sedang yang dikenalnya hanya Wanamerta. Tiba-tiba ia tidak dapat menunda keinginannya untuk mengetahui serba sedikit tentang anak muda itu, sehingga sambil bertempur ia berteriak, "Aku belum kenal Ki Ageng Supit dari Wanakerta."

"Kalau begitu..." jawab anak muda itu, "Kakang Sendang pasti kenal salah seorang muridnya." "Siapakah dia?" tanya Sendang Papat.

"Wiraraga atau Dalang Mantingan," jawab anak muda itu. Kembali Sendang Papat keheranan. Ternyata anak muda itu kenal pula kepada Ki Dalang Mantingan. Sementara itu orang-orang Pamingit menjadi semakin mendesak pula. Sehingga akhirnya Wanamerta dan Sendang Papat benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam keadaan yang demikian itulah tiba-tiba anak muda yang masih berdiam diri di pinggir tanah lapang itu berkata lantang, "Maafkan aku Kiai Wanamerta dan Kakang Paman Papat kalau aku ikut campur pula dalam pertempuran ini."

Setelah selesai dengan kata-katanya, segera ia mendorong kudanya untuk terjun ke dalam pertempuran. Mula-mula orang Pamingit itu tidak banyak memperhatikannya. Mereka mengira bahwa anak muda itu tidak terlalu jauh terpaut dari keempat kawannya. Tetapi ketika anak muda itu telah benar-benar bertempur, ternyata ia benar-benar mengejutkan. Dalam saat yang sangat pendek, ternyata ia telah berhasil melemparkan dua orang Pamingit dari kudanya.

"Gila...!" teriak salah seorang yang terlempar itu dengan penuh kemarahan. Punggungnya terasa betapa sakit, sedang bajunya tersobek lebih sekilan. Dengan mengumpat-umpat ia berusaha untuk mengejar kudanya kembali dan dengan susah payah ia meloncat ke punggungnya. Demikian pula kawannya yang seorang lagi.

Sambil memungut pedangnya ia berteriak, "Anak gila, agaknya kaupun ingin menjadi bangkai seperti Wanamerta dan Sendang Papat."

Anak muda itu tertawa. Sedang tandangnya menjadi semakin mengherankan. Ia menyerang seperti elang untuk kemudian melingkar dan menyerang kembali. Ia tidak pernah menghindari setiap serangan, dan bahkan dengan tertawa nyaring ia melawan dua tiga orang sekaligus.

"Aneh," pikir Wanamerta dan Sendang Papat seperti berjanji. Perhatian orang-orang Pamingit kemudian lebih banyak tertuju kepadanya daripada Wanamerta dan Sendang Papat. Apalagi mereka berduapun menjadi seolah-olah penonton yang keheranan. Demikian juga keempat kawan-kawannya. Anak muda itu, yang bertubuh tegap dan kekar dan tampan, bertempur seperti anak bermain kejar-kejaran.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesungguhan. Sayang bahwa cahaya api yang semakin pudar, tidak memberi kesempatan kepada Wanamerta dan Sendang Papat untuk mengenalnya dengan baik.

Dengan nada yang segar, anak muda itu berkata, "He, kawan-kawan dari Pamingit. Kenapa kalian bersusah payah mengejar-ngejar Kiai Wanamerta dan Kakang Sendang Papat, sedang orang-orang yang bersalah tidak kau tangkapi?"

"Siapa yang bersalah itu?" teriak orang-orang Pamingit dengan marah.

"Sontani dan orang-orangnya," jawab anak muda itu. "Omong kosong," bentak orang Pamingit yang lain sambil memutar pedangnya menyambar punggung anak itu. Dengan enaknya anak muda itu mengelak tanpa berkisar. Tetapi kemudian dengan satu gerakan yang sederhana ia telah berhasil memukul dengan tangannya.

Ya, dengan tangannya, pergelangan tangan orang yang menyerangnya, sehingga terdengar ia mengaduh perlahan, dan pedangnya terpelanting jatuh di tanah.

Orang itu menggeram marah, tetapi ia memacu kudanya menjauhi anak muda itu, sebelum ia berhasil mendapatkan sebilah pedang yang lain yang dipungutnya dari seorang kawannya yang telah terbaring di tanah. Anak muda itu masih bertempur dengan lincahnya.

Wanamerta dan Sendang Papat, seolah-olah terbebas sama sekali dari perkelahian itu. Mereka kini tinggal menghadapi seorang-seorang. Sedang yang lain lebih banyak mencari perhatian untuk menjatuhkan pemuda itu lebih dahulu.

Dengan tertawa anak muda itu kemudian terdengar berkata, "He, kawan-kawan Pamingit. Demikianlah kira-kira yang akan kalian alami, kalau kalian pada suatu saat terpaksa bertempur melawan Arya Salaka."

SEORANG dari anak muda itu mengulangi kata-katanya, ”Arya Salaka...?” Sedangkan dalam hati Wanamerta dan Sendang Papat tertarik pula pada kata-kata itu. ”Ya, Arya Salaka dapat bertempur jauh lebih baik lagi. Aku hanya menirukan beberapa bagian dari ilmunya,” lanjut anak muda itu. Tak ada yang terdengar menjawab perkataannya. Tetapi orang-orang Pamingit itu agaknya menjadi semakin marah. Namun mereka harus melihat kenyataan bahwa mereka tidak akan mampu melawan anak muda itu bersama-sama dengan Wanamerta, Sendang Papat dan keempat anak-anak muda yang lain, yang menganggap perkelahian itu seperti permainan saja. ”Arya Salaka dapat memukul hancur kepala kuda yang kalian naiki hanya dengan tangannya.” Anak muda itu meneruskan.

Dan tiba-tiba ia menyambar salah seorang lawannya, dan dengan gerak yang mengejutkan ia menghantam kepala kuda itu. Terdengarlah suara ledakan disusul dengan teriakan-teriakan anak-anak muda yang lain, seperti mereka melihat kawannya menang bertaruh. Kuda itu menggeliat dan memekik tinggi. Sesaat kemudiah jatuh berguling untuk selama-lamanya. Dari kepalanya mengalir darah bercampur otak yang menghambur-hambur.

Orang yang semula melekat di punggung kuda itu, juga terbanting. Seperti orang lumpuh ia menyaksikan kepala kudanya pecah. Tubuhnya terasa gemetar dan seolah-olah segala persendian tubuhnya terlepas satu sama lain.

”Hebat..., hebat....” teriak kawan-kawannya.

Tetapi orang-orang Pamingit menjadi pucat karenanya. ”Hebat....” desis Wanamerta dan Sendang Papat perlahan-lahan.

Anak muda itu memutar kudanya sekali. Dan orang-orang Pamingit mulai menjauhinya. ”Lihatlah kepala kuda itu,” katanya. Wajahnya yang cerah itu beredar berkeliling. ”Nah, siapa yang ingin kepalanya sendiri aku pecahkan seperti kepala kuda itu?” katanya pula.

Tak seorangpun terdengar menjawab. Orang-orang Pamingit itupun telah berhenti menyerang dengan kuda-kuda mereka, tegak beberapa langkah berkeliling, seperti hendak mengepung anak muda itu.

Namun tak seorangpun berani mendekati. ”Nah, ketahuilah bahwa Arya Salaka pun mampu berbuat demikian,” katanya.

”Tetapi itu tidak mengherankan.” Tiba-tiba salah seorang dari orang-orang Pamingit itu berkata. Mata anak muda itupun menjadi redup. Dengan sudut matanya ia memandang orang Pamingit itu. ”Kau tidak heran...?” Ia tanya.

Ternyata orang Pamingit itu menjadi gemetar. Tetapi ia malu untuk menunjukkan perasaan takutnya. Meskipun terbata-bata ia menjawab, ”Sawung Sariti pun mampu melakukan. Ia memiliki aji Lebur Sekethi.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Lalu berkata, ”Hebat. Memang, Lebur Sekethi pun hebat pula. Sehebat Sasra Birawa dan Cundha Manik dari Gunungkidul. Tetapi ilmu semacam itupun mengenal tingkatan pula. Sawung Sariti menekuni ilmunya sambil makan dan minum seenak-enaknya. Kalau ia lelah, ia dapat berbaring di tempat pembarian yang empuk dan baik. Tetapi tidak dengan Arya Salaka.”

Anak muda itu berhenti sambil menarik nafas. Ia menunggu kalau-kalau ada yang mencoba menjawabnya. Namun orang-orang Pamingit itu menjadi seperti orang-orang terinjak. Diam.

”Dengarlah...” katanya kemudian, ”Sawung Sariti berlatih di dalam pendapa yang terlindung dari terik matahari. Beberapa orang mengipasinya kalau keringatnya mulai mengalir. Dengan tergesa-gesa gadis-gadis menyediakan air hangat bila ia haus.”

Anak muda itu kemudian meneruskan, ”Tetapi apa yang terjadi dengan Arya Salaka? Ia mesu diri sejadi-jadinya dalam masa pembajaan. Apabila siang, ia berlatih di terik panas matahari. Apabila malam ia berlatih dalam buaian angin malam. Kalau ia lelah, ia membaringkan dirinya, beralas rumput,berselimut langit. Kalau ia haus, minumlah ia air hangat yang baru memancar dari sumbernya. Sedangkan kalau ia lapar, dengan sabarnya ia menunggui perapian dimana ia merebus jagung atau ketela pohon.”

”Disamping itu, ia memperkuat tubuhnya dengan bekerja keras. Ia mencangkul diantara para petani. Berjuang melawan ombak dan taupan diantara para nelayan. Nah, katakan sekarang hai orang-orang Pamingit. Siapakah yang kira-kira akan lebih kuat dan masak menguasai ilmunya. Arya Salaka atau Sawung Sariti?” lanjut anak muda itu.

Tak ada jawaban.

Orang-orang Pamingit itu masih diam. Beberapa orang menjadi semakin pucat. ”Tidakkah ada yang dapat menjawab?” tanya anak muda itu pula. Lalu tiba-tiba sambil menunjuk kepada orang yang semula memperbandingkan Arya Salaka dan Sawung Sariti, anak muda itu bertanya, ”Hai, kau yang membanggakan anak Lembu Sora itu, jawablah, manakah yang lebih masak. Lebur Sekethi yang dibumbui dengan pemanjaan diri ataukah Sasra Birawa yang dialasi oleh penderitaan lahir dan batin, namun dijiwai oleh ketawakalan dan pasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa...?”

Orang yang ditunjuk itupun menjadi semakin ketakutan. Terasa lututnya bergetar. Dan mulutnya tiba-tiba seperti terkunci.

”Tidakkah kau bisa menjawab?” tanya anak muda itu pula. Namun orang itupun benar-benar tak mampu menjawab. Karena itu terdengarlah anak muda itu tertawa. ”Jangan takut,” katanya. ”Aku tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian, apabila tidak berbuat hal-hal yang tak aku kehendaki.”

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya