Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 97

TIBA-TIBA Wanamerta merasa seperti seorang bekel Bayangkari pada masa pemerintahan Baginda Jayanegara yang bernama Gajah Mada. Setelah ia berhasil menyingkirkan Baginda Jayanegara dari pemberontakan yang dipimpin oleh Kuti, kemudian ia kembali ke Majapahit mengabarkan kepada rakyatnya bahwa Baginda telah wafat. Ketika ia mengetahui bahwa rakyat Majapahit dan para pembesar berduka cita atas berita itu, tahulah ia bahwa rakyat masih cinta kepada Baginda Jayanegara.

Demikianlah kali ini, ia harus berhadapan dengan rakyat Banyubiru, membawa kabar tentang laskar mereka. Mula-mula tak seorangpun memperhatikan kehadirannya. Tetapi beberapa saat kemudian seorang demi seorang memandangnya dengan penuh perhatian. Mula-mula mereka ragu, apakah benar yang berdiri di antara mereka dengan sikap acuh tak acuh itu Kiai Wanamerta.

Ki Wanamerta pura-pura sama sekali tak merasakan perhatian orang kepadanya. Dengan berdiam diri, ia semakin maju, melihat pertunjukan di arena. Pertunjukan yang telah menjadi semakin gila dan panas.

Dalam pada itu terdengarlah bisik-bisik di antara para penonton. Seorang perlahan-lahan berkata kepada kawan yang berdiri di sebelahnya, ”He Kakang, bukankah itu Kiai Wanamerta?”

Dengan mengedipkan matanya, kawannya itu menjawab, ”Kalau aku tidak salah lihat, beliaulah Kiai Wanamerta". - Mereka jadi berdiam diri. Tetapi karena keinginan mereka untuk mendapatkan kebenaran atas sangkaan itu, mereka berjalan perlahan-lahan mengikutinya. Ternyata bukan hanya kedua orang itu sajalah yang ingin melihat, apakah orang itu benar-benar Kiai Wanamerta. Dengan demikian para penonton di tanah lapang itupun berdesakan maju. Kali ini bukan karena tledeknya yang semakin membuat tingkah yang aneh-aneh, tetapi karena mereka ingin memandang wajah orang yang mereka sangka Kiai Wanamerta itu dengan lebih seksama lagi.

Diam-diam Kiai Wanamerta merasa, bahwa sedikit demi sedikit ia telah dapat menarik perhatian.

Tinggal kemudian apakah ia dapat melakukannya dengan baik. Sekali dua kali ia menarik nafas untuk mengatur perasaannya, dan menenangkan debar jantungnya. Ketika ia telah merasa yakin, bahwa hatinya tidak akan bergetar lagi, maka perlahan-lahan ia berjalan ke samping pertunjukan itu, untuk kemudian menjauhinya. Orang-orang yang mengikutinya, masih saja berjalan beriring-iring di belakangnya. Bahkan semakin lama semakin banyak. Orang-orang yang semula tenggelam dalam lagu dan tarian yang sudah semakin bubrah itu, kemudian satu demi satu meninggalkan gelanggang. Sebab dalam pandangan mereka, kehadiran Kiai Wanamerta adalah sesuatu yang aneh dalam suasana yang demikian itu.

Para tledek, merasakan suatu keadaan yang berbeda dengan hari-hari yang telah mereka lewati. Mereka kali ini merasa seolah-oleh tidak mendapat perhatian dari para pengunjungnya. Malahan satu demi satu mereka meninggalkan arena. Karena itu, para tledek itu berusaha habis-habisan untuk mengikat penggemarnya. Mula-mula mereka memperpanas suasana dengan gerak-gerak yang semakin gairah. Tetapi ketika para penonton masih saja satu demi satu melangkah pergi, tledek-tledek itu benar-benar kehilangan akal. Mereka bernyanyi dan menari semakin liar, dan bahkan kemudian mereka lupa diri, bahwa mereka adalah manusia yang memiliki ikatan-ikatan susila, meskipun telah sejak lama dilanggarnya, namun tidaklah sehebat kali ini, dimana mereka menjerit-jerit dengan lagunya yang merangsang. Tertawa-tawa tak menentu, meskipun hatinya menangis, sebab apabila para penggemarnya sudah meninggalkannya, berarti tak ada makan di esok hari.

Kiai Wanamerta pun kemudian berhenti di tengah-tengah lapangan itu. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya menghadap kepada orang-orang yang mengikutinya. Ketika mata orang tua yang sejuk itu memandang mereka yang berderet-deret di hadapannya, maka tiba-tiba terasalah suatu tusukan yang tajam ke dalam setiap dada orang-orang Banyubiru itu. Meskipun Wanamerta belum mengucapkan sepatah katapun, namun cahaya matanya telah berkata banyak sekali. Bahkan setiap hati di dalam dada penduduk Banyubiru itupun ikut serta berkata-kata. Ikut serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, ”Kenapa hal-hal semacam ini bisa terjadi...?” Teringatlah mereka peristiwa beberapa bulan berselang. Ketika di tanah lapang ini pula, mereka menyaksikan perkelahian yang sengit antara Suraban dan Bantaran. Pada saat itu, mereka seolah-oleh telah berjanji untuk tidak akan mengulangi kelakuan-kelakuan mereka yang gila ini. Namun karena pengaruh keadaan, sedikit demi sedikit, tanah lapang yang penuh dengan kemaksiatan ini menariknya kembali.

Dan sekarang yang berdiri di hadapannya bukan sekedar Bantaran, tetapi orang yang pernah menjadi kepercayaan Ki Ageng Sora Dipayana sejak Pangrantunan lama. Tetua tanah perdikan Banyubiru, Kiai Wanamerta. Karena itulah maka beberapa orang diantara mereka menundukkan wajahnya, bahkan ada yang berusaha bersembunyi di punggung kawan-kawannya, supaya mukanya tidak terlihat oleh Kiai Wanamerta yang mereka hormati itu. Tetapi disamping perasaan yang demikian, disamping perasaan sesal dan malu, ada pula yang merasa betapa akibat yang akan ditimbulkan oleh kehadiran Wanamerta itu. Seperti pada saat Bantaran mengacau di tanah lapang itu, maka Wanamerta pun akan melakukan hal yang sama. Karena itu wajah orang-orang yang berpendirian demikian segera menjadi gelap dan tegang.

Mereka memandang Wanamerta dengan perasaan benci. Meskipun tanggapan mereka atas kehadiran Wanamerta itu berbeda-beda, namun tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata. Sementara itu para niyaga dan penarinyapun akhirnya mengetahui pula, apa sebabnya para penontonnya meninggalkan arena. Bahkan beberapa orang diantaranya segera meninggalkan pekerjaan mereka, dan ikut pula berderet-deret melihat tetua tanah perdikan mereka, yang dengan tiba-tiba ada diantara mereka.

BEBERAPA lama tanah lapang itu tenggelam dalam kesepian. Suara riuh gamelan dengan irama yang gila, suara perempuan tertawa, seperti iblis betina, segera lenyap dalam keheningan yang tegang.

Sesaat kemudian terdengarlah suara Wanamerta perlahan-lahan, namun merata ke segenap telinga, ”Kenapa kalian berhenti bersuka ria?”

Bergetarlah setiap jantung mereka yang mendengarnya. Namun tak seorangpun dapat menjawab. ”Kalian benar-benar telah menjadikan tanah kalian makmur. Ternyata dengan perbuatan kalian, siang-malam bersuka ria, bergembira atas kemakmuran kalian, seperti apa yang sering kalian lakukan dahulu hanya setahun sekali, sesudah kalian menuai padi musin basah. Itu saja kalian lakukan dalam batas-batas yang jauh lebih sempit daripada batas-batas yang kalian buat sekarang ini. Dalam batas-batas yang dibenarkan oleh kepribadian kita, dan lebih dari itu dalam batas-batas yang diperkenankan oleh agama kita.”

Tanah lapang itu menjadi bertambah hening. Dengan demikian gemersik daun yang disibakkan oleh angin, terdengarlah betapa kerasnya. Ketika tak ada akibat apapun dari kata-katanya, Wanamerta meneruskan, ”Aku datang untuk melihat kalian bersuka ria. Nah, teruskanlah.”

Tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Tetapi bagi mereka yang sejak semula merasa terganggu oleh kehadiran Wanamerta, menjadi semakin tersinggung oleh kata-kata ejekan itu. Ketika untuk beberapa lama masih saja orang-orang Banyubiru itu berdiri seperti patung, Wanamerta meneruskan, ”Kenapa kalian memandang aku seperti memandang hantu? Adakah kalian tidak mengenal aku lagi?”

Masih belum terdengar suara dari antara mereka. ”He Berdapa, Uda, Saripan, berbicaralah,” sambung Wanamerta. Yang disebut namanya menjadi semakin bingung. Mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Tiba-tiba dalam ketegangan terdengarlah sebuah suara yang berat dan parau, "Kiai, apakah yang sebenarnya akan Kiai lakukan di sini?”

Pandang Wanamerta segera beredar ke arah suara itu. Suara yang keluar dari mulut seorang yang bertubuh jangkung, berkumis pendek seperti lalat yang hinggap di bawah hidungnya, dengan bibir yang tebal dan hidung yang melengkung seperti paruh burung.

”Ha, kau itu agaknya Sontani?” tanya Wanamerta.

”Ya, akulah,” sahut orang jangkung itu. Matanya memancarkan perasaan yang kurang senang atas kehadiran Wanamerta. Sebagai seorang yang pernah mendapat hadiah pangkat dari Lembu Sora, ia merasa berkewajiban untuk mengamankan daerahnya.

”Ah, hampir aku tak mengenalmu lagi,” sambung Wanamerta, ”Kau sekarang nampak begitu gagah.”

Sontani adalah seorang yang sombong. Yang merasa dirinya mempunyai banyak kelebihan daripada orang-orang lain. Karena itulah maka sudah sewajarnya kalau ia diangkat menjadi bahu dan mengepalai pedukuhan Lemah Abang. Juga terhadap Wanamerta, ia ingin menunjukkan jabatannya, sebagai suatu kewajiban.

”Kiai, aku berbicara sebagai kepala pedukuhan Lemah Abang. Karena itu jangan Kiai merajuk seperti anak-anak.”

Wanamerta terkejut. Lemah Abang, daerah pinggiran kota Banyubiru, semula berada di bawah pimpinan sorang tua yang saleh, Kiai Bakung. Tetapi ia sama sekali tidak mengesankan keheranannya, bahkan dengan tersenyum Kiai Wanamerta menjawab, ”Aku mengucapkan selamat kepadamu Sontani. Tetapi lalu bagaimana dengan Kiai Bakung?”

”Huh,” jawab Sontani sambil mencibirkan bibirnya, ”Orang tua yang tak tahu diri. Seharusnya ia lebih baik mengeram saja di rumahnya. Tak ada yang dapat dilakukan.”

Wanamerta mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Maka terdengarlah kembali suara Sontani, ”Nah Kiai... aku ulangi pertanyaanku. Apakah yang akan kau lakukan di sini?”

Sekali lagi Wanamerta tertawa, jawabnya, ”Sudah aku katakan, aku ingin melihat kalian bersuka ria.”

”Bohong!” bentak Sontani. Selangkah ia maju. Katanya kemudian, ”Telah sekian lamanya kau menghilang. Sekarang tiba-tiba muncul seperti hantu bangkit dari kuburnya.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ia kurang senang mendengar kata-kata itu. Tetapi ia ingin bahwa suasana tidak rusak karenanya. Maka iapun menjawab, ”Sontani, pertama, memang kedatanganku ini tertarik oleh suara gamelan yang demikian hangatnya. Kedua, aku memang sudah rindu kepada kampung halaman. Aku telah memutuskan untuk pulang dan hidup diantara kalian seperti sediakala.”

”Kiai, kau sudah tidak punya hak untuk kembali ke Banyubiru,” bantah Sontani.

”Kenapa?” sahut Wanamerta.

”Kau telah meninggalkan kampung halamanmu terlalu lama. Kau telah meninggalkan nama yang kotor. Bahkan sepantasnya kau sekarang ditangkap dan diserahkan kepada Ki Ageng Lembu Sora,” ancam Sontani.

”O....” jawab Wanamerta sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

”Ketahuilah Sontani, dan ketahuilah anak-anakku rakyat Banyubiru. Bukan saja aku yang berhasrat untuk kembali pulang kampung halaman, tetapi juga orang-orang lain seperti Bantaran, Penjawi, Sendang Papat dan Sendang Parapat, Wiraga dan yang lain-lain. Bahkan, dengarlah sebaik-baiknya, Cucunda Arya Salaka pun akan kembali ke Banyubiru.”

TIBA-TIBA terdengarlah gumam yang merata di seluruh tanah lapang itu seperti beribu-ribu lebah sedang terbang berputaran. Mereka menjadi terkejut untuk sesaat, namun yang kemudian menjadikan mereka bertanya-tanya, kepada diri sendiri, kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, ”Apakah berita itu benar...?”

Gumam itu terhenti ketika Wanamerta melanjutkan kata-katanya, ”Nah, apakah salahnya kalau kami pulang ke tanah kelahiran, setelah beberapa lama kami merantau menambah pengalaman?”

Sebagian besar dari mereka yang berdiri di tanah lapang itu, tiba-tiba dengan penuh kegembiraan mengharap kebenaran dari berita itu. Maka kembali terdengar mereka bergumam, ”Mudah-mudahan berita itu benar.”

Tetapi tiba-tiba disela-sela gumam yang bergetar dilapangan itu, terdengarlah suara Sontani lantang, ”Bohong...!”

Kembali suara yang merata itu mendadak berhenti. Disusul dengan suara Sontani melanjutkan, ”Apakah keuntungan kita dengan kedatangan anak itu?”

”Bukankah ia putra Ki Ageng Gajah Sora?” jawab Wanamerta.

”Tidak peduli anak siapa dia. Anak setan, hantu, thethekan. Anak itu melarikan diri pada saat Banyubiru mengalami bencana. Pada saat golongan hitam menyerang daerah ini. Untunglah bahwa pada saat itu seluruh rakyat Banyubiru bangkit melawannya bersama-sama dengan rakyat Pamingit. Kalau tidak, musnahlah tanah perdikan ini. Sekarang anak itu akan kembali dan masih menyebut-nyebut sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora.”

Wanamerta mengerutkan keningnya. Ketika ia akan menjawab, Sontani sudah berteriak pula, ”Ia masih merasa berhak pula atas kedudukan ayahnya. Omong kosong. Aku yakin bahwa kedatangannya hanya akan menambah bencana saja. Setiap masa peralihan sama sekali tidak akan menguntungkan. Kiai, katakan kepada anak itu, supaya ia mengurungkan niatnya sebelum ia menyesal!”

Kata-kata Sontani itu agaknya mempengaruhi beberapa orang, lebih-lebih yang sejak semula memandang kehadiran Wanamerta itu sebagai bencana. Maka terdengarlah seseorang berteriak, ”Jangan tambah kesulitan kami dan hal-hal yang tetek bengek. Biarlah kami hidup seperti apa yang kami alami sekarang ini.”

Mendengar teriakan-teriakan itu, Wanamerta tidak jadi menjawab kata-kata Sontani, bahkan ia berdiam diri untuk memberi kesempatan kepada mereka berteriak-teriak sepuas-puasnya. Sebab apabila keinginan mereka berteriak itu terhalang, maka semakin bernafsulah mereka. Sehingga suaranya sendiri tidak akan dapat didengar orang. Agaknya kesempatan itupun dipergunakan sebaik-baiknya oleh orang-orang yang tidak menghendaki kehadirannya.

Maka terdengarlah, ”He, Wanamerta. Jangan bikin ribut di tanah yang kau anggap tanah kelahiranmu ini.”

Kata-kata itu disusul oleh yang lain, ”Kami tidak perlukan anak itu. Juga tidak kami perlukan kau, Wanamerta.”

Orang-orang yang semula mengharap kebenaran berita tentang kehadiran Arya Salaka, lambat laun menjadi ragu pula. Apakah untungnya? Pergeseran-pergeseran kekuasaan hanya akan menambah keributan.

Satu demi satu merekapun terpengaruh oleh teriakan-teriakan yang semakin ribut. Bahkan akhirnya seorang berteriak, ”Pergilah kau Wanamerta, keledai tua yang tak tahu diri. Pergi.... Pergi....”

Disaut oleh suara gemuruh, ”Pergi.... Pergi.... Biarlah kami menikmati malam-malam yang indah ini tanpa gangguan. He, Nyi Gadung Sari, menarilah, biar Kiai Wanamerta tergila-gila kepadamu.”

Terdengarlah kemudian suara tertawa seperti meledak di tengah-tengah tanah lapang itu. Sendang Papat dan Sendang Parapat yang berdiri di bawah bayang-bayang yang gelap, hampir-hampir tak dapat menguasai diri mereka. Peluh dingin mengalir di segenap bagian tubuhnya. Tangan mereka sudah bergetar di hulu keris mereka. Namun ketika mereka masih melihat Kiai Wanamerta berdiri dengan tenangnya, merekapun menahan diri mereka sekuat-kuatnya. Memang pada saat itu Wanamerta masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak. Ia memandang setiap wajah orang-orang Banyubiru yang seakan-akan telah kehilangan akal itu. Dibiarkannya mereka berteriak-teriak seperti orang kemasukan setan.

Teriakan-teriakan itupun semakin lama menjadi semakin keras dan ribut. Tetapi mereka tak berbuat lain daripada berteriak-teriak. Ketika mereka masih melihat Wanamerta berdiri saja seperti patung, mereka menjadi heran. Dengan demikian teriakan-teriakan itupun menjadi semakin berkurang. Apalagi ketika mereka melihat ketenangan yang membayang di wajah orang tua itu, seolah-oleh teriakan-teriakan mereka itu seperti suara angin yang berdesir, menyegarkan tubuhnya. Wanamerta mengamati keadaan secermat-cermatnya. Ia berusaha untuk memperhitungkan waktu sebaik-baiknya. Ketika suara teriakan-teriakan itu sudah susut, berkatalah ia dengan lantangnya, ”He, Nyi Gadung Sari kenapa kau belum juga menari? Marilah kita menari bersama-sama. Bukankah Wanamerta juga seorang penari yang baik? Lebih baik dari kalian yang berada di tanah lapang ini?”

Suara Wanamerta itu benar-benar mengejutkan. Apalagi Nyi Gadung Sari sendiri. Tetapi yang lebih terkejut adalah mereka yang mengharapkan Wanamerta menjadi marah. Dengan demikian mereka punya alasan untuk mengusirnya. Tetapi ternyata orang tua itu sama sekali tidak marah.

”Saudara-saudaraku serta anak-anakku, bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan kembali ke kampung halaman? Bukankah dengan demikian aku harus menyesuaikan diri dengan cara hidup kalian?”

Teriakan-teriakan dari orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu telah benar-benar berhenti. Ada diantaranya yang sudah puas, ada yang karena suaranya telah menjadi serak parau. Tetapi ada juga yang karena terkejut mendengar kata-kata Wanamerta yang sama sekali tak mereka duga sebelumnya. ”Bukankah kalian menghendaki agar aku tidak mengganggu kalian?” tanya Wanamerta..

SUASANA menjadi hening.

Namun sesaat kemudian terdengar beberapa orang menjawab, ”Ia benar, jangan ganggu kami.”

”Aku berjanji untuk tidak mengganggu kalian.”

Wanamerta meneruskan, ”Bahkan aku ingin menyesuaikan diri dengan kalian. Bukankah apa yang kalian lakukan itu sangat menarik? Menari-nari menyanyi dan bergembira sepanjang hari. Bukankah dengan demikian kalian akan awet muda?”

Wanamerta diam sesaat.

Maka kembali tanah lapang itu ditelan kesepian. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas yang saling memburu. Ketika tak seorangpun yang memotong kata-kata itu, Wanamerta meneruskan, ”Inilah kelebihan kalian dari masa-masa lampau. Dari jaman nenek moyang nenek moyang kita. Apa yang kalian lakukan sekarang belum pernah terjadi di tanah perdikan ini sejak masa tanah ini masih bernama Pangrantunan. Kita sekarang tidak perlu bekerja keras, tidak perlu membanting tulang untuk tanah kita yang sudah melimpah ruah ini. Sawah ladang, parit-parit dan jalan-jalan. Begitu?”

Tanah lapang itu menjadi semakin sunyi. Namun dada orang-orang Banyubiru menjadi semakin riuh. Benarkah mereka sekarang tidak perlu lagi bekerja keras? Benarkah sawah ladang mereka telah melimpah ruah? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelora disetiap dada.

Dan perlahan-lahan mereka menggelengkan kepala mereka.

”Nah...” sambung Wanamerta, ”Sekarang kita tidak usah bersusah payah, berpikir tentang tetek bengek. Kita sekarang tidak usah bersusah payah berpikir tentang kesejahteraan kampung halaman lahir maupun batin. Begitu?”

Tak satu suara pun yang terdengar, sehingga Wanamerta berkata terus, ”Jadi bagaimana? Atau kita memang menghendaki hal-hal seperti ini berlangsung terus? Kita biarkan masjid-masjid, banjar-banjar desa dan balai-balai kita menjadi sarang labah-labah dan runtuh sedikit demi sedikit seperti keruntuhan akal kita...? Bagus-bagus. Demikian agaknya yang kalian kehendaki. Mari, mari anak-anakku. Marilah kita berpikir tentang diri kita sendiri. Tidak perlu tentang tanah pusaka kita yang tercinta. Karena itulah maka aku sependapat dengan kalian. Menyabung ayam di siang hari, judi, tuak dan tayub di malam hari seperti sekarang ini. Hem....”

Wanamerta berhenti untuk menelan ludahnya. Wajahnya telah basah oleh peluh yang mengalir dari keningnya. Kata-katanya seakan-akan menghujam ke dalam dada orang-orang Banyu Biru yang berdiri tegak berhimpit-himpitan di sekitarnya. Ketika tak seorangpun menjawab ia meneruskan lagi, ”Dan sekarang semua itu ada pada kita. Menyabung ayam, judi, perempuan, dan apalagi...?”

Kata-kata itu tajamnya seperti sembilu. Mereka yang semula terseret oleh arus kebencian kepada orang tua itu, sekali lagi menundukkan wajah mereka. Mereka menjadi sangat malu kepada diri sendiri. Seterusnya Wanamerta berkata, ”Nah, sekarang kalian boleh memilih. Tenggelam dalam lumpur kemaksiatan atau tegak kembali lewat jalan kebenaran. Atau kita menunggu masanya kita menjadi hancur dengan sendirinya, kemudian orang-orang dari kalangan hitam akan menari-nari di atas bangkai kita bersama. Sadar atau tidak sadar apa yang kalian lakukan adalah sangat menguntungkan dan mempercepat keruntuhan kita. Lahir dan batin. Sekarang kita dapat tertawa, menari dan menyanyi. Tetapi besok kita akan mati dengan bau tuak menghambur dari mulut kita. Dan kita telah kehilangan jalan untuk menghadap kembali kepada Tuhan kita.”

Tanah lapang itu benar-benar seperti padang luas yang kosong. Sepi hening. Yang terdengar kemudian adalah Wanamerta kembali, ”Sekarang kalian tinggal memilih. Aku berada di pihak kalian. Dan apakah kalian pernah melihat wayang? Apakah kalian pernah mendengar ceritera Baratayuda? Pada saat Pendawa menuntut haknya kembali dari para Kurawa...?”

Juga tidak seorangpun yang memotong kata-kata Wanamerta, sehingga ia dapat meneruskan, ”Dalam ceritera pewayangan, wayang beber atau wayang kulit, diceriterakan bahwa akhir dari Baratayuda itu, yang sayang tidak memuaskan kita semua. Kenapa akhir dari Baratayuda itu menunjukkan kemenangan pihak Pendawa? Tidak Kurawa?”

Wanamerta melihat kegelisahan rakyat Banyubiru yang berdiri mengelilinginya. Pada wajah-wajah mereka tampak ketegangan yang mencekam. Tetapi masih belum seorang yang berkata sepatah katapun. Yang terdengar kemudian adalah suara Wanamerta kembali, ”Nah, baiklah lain kali kita mengadakan pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam. Sejak Kresna Duta sampai Karna Tanding, lalu seterusnya kita ubah, Arjuna lah yang mati oleh Adipati Karna dari Awangga. Dan seterusnya berturut-turut habislah Pandawa setelah para putra gugur lebih dahulu. Juga Parikesit kita bunuh.”

Meskipun Wanamerta bercakap terus, namun perhatiannya tidak terlepas dari setiap wajah yang dengan tenang dan gelisah mendengar kata-katanya. Ceritera wayang, apalagi Baratayuda dianggap keramat oleh penduduk Banyubiru. Tiba-tiba secara tepat Wanamerta mengungkapkan sindirannya dengan mempergunakan ceritera itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah seseorang berkata, meskipun perlahan-lahan, ”Tidak bisa Kiai, Baratayuda tidak bisa diubah demikian.”

WANAMERTA pura-pura terkejut mendengar perkataan itu.

Dengan mengerutkan keningnya ia menjawab, ”Kenapa tidak bisa? Bukankah Prabu Astina, Prabu Kurapati dapat memberi kepada rakyatnya keleluasaan seperti yang kita kehendaki. Sabung ayam, judi, tayub, tuak dan sebagainya, sedang orang-orang Pendawa sepanjang hidupnya hanya prihatin saja?”

”Tidak, Kiai,” terdengar suara yang lain, ”Kita tidak menghendaki demikian. Kita tidak menghendaki seperti orang-orang Astina di Banyubiru.”

”He...?” kembali Wanamerta pura-pura terkejut.

”Apakah yang kau katakan?”
”Kami tidak menghendaki hal itu terjadi di Banyubiru,” ulang suara itu.

”Yang mana tidak kau kehendaki? Bukankah raja Astina Ratu Gung Binatara, Raja yang kaya? Bukankah adinda baginda yang berjumlah 99 orang itu semuanya pandai berjudi, tayub dan tuak? Bukankah di Astina ada seorang pendeta yang putus saliring ilmu, agal alus, yang kasat mata, yang tidak kasatmata? Yang bernama Dorna?”

”Tidak... tidak...” terdengar beberapa orang memotong kata-kata Wanamerta, ”Kami tidak menghendaki itu.”

”Itu yang mana...?” Wanamerta memancing ketegasan mereka.

”Judi. Kami tidak mau judi,” jawab yang lain.

”O, hanya itu saja?” desak Wanamerta.

”Tidak. Tidak hanya itu. Kami tidak mau tuak,” jawab beberapa suara berbareng.

”Judi dan tuak itu saja?” Wanamerta merasa bahwa ia hampir mencapai maksudnya.

Dan ada yang didengarnya kemudian sangat menyenangkannya. Orang-orang Banyubiru itu kemudian berteriak, ”Tidak. Kami tidak mau judi, tuak, tayub dan sabung ayam. Kami bukan orang-orang Astina. Kami adalah orang-orang Banyubiru.”

”Tunggu dulu,” potong Wanamerta, ”Bukankah putra-putra Astina berada dalam asuhan Maha Pendeta Dorna yang bijaksana, yang dapat memberikan kepada mereka kenikmatan jasmaniah, rohaniah dalam kekuasaan mereka atas Astina?”

”Kami tidak mau pendeta itu. Kami tidak mau orang semacam Dorna.” Terdengar mereka berteriak-teriak, ”Pendeta degleng, pendeta bermulut ular.”

”Jadi bagaimana seterusnya? Bagaimana dengan akhir dari Baratayuda itu?” tanya Wanamerta. ”Prabu Kurupati terbunuh. Semua adik-adik terbunuh. Pendeta Dorna mati di tangan Drestajumena yang berhasil memancung lehernya,” sahut mereka bersama.

”Tetapi dengan demikian masyarakat yang kita cita-citakan. Jadi, kemenangan Pendawa berarti kemenangan keprihatinan dari kemenangan lahiriah, tetapi juga berarti kemenangan dari jiwa rohaniah yang tawakal, percaya kepada keadilan Yang Maha Pencipta. Dengan demikian kita tidak akan dapat membayangkan masyarakat seperti masarakat kita malam ini. Tetapi masyarakat yang bekerja keras menuju tata kehidupan yang tenteram damai tata tentrem karta raharja, gemah ripah lohjinawi".

Semua terdiam. Hening. Sepi. Seandainya sepotong lidi jatuh di tengah lapang itu, suaranya pasti akan sangat mengejutkan. Angin malam yang lembut mengusap wajah-wajah yang terbanting-banting. Dalam keheningan itu tiba-tiba terdengar suara Wanamerta gemuruh seperti guruh yang membelah langit-langit lapis, ”Hei rakyat Banyubiru, katakan kepadaku sekarang, adakah kalian masih tetap pada pendirian kalian? Supaya aku membiarkan kalian hanyut dalam arus kesenangan lahiriah, yang berpangkal melulu pada nafsu yang tak terkendali seperti sekarang ini?”

Tak ada suara yang terdengar.

Karena itu Wanamerta meneruskan, ”Jawablah pertanyaanku. Adakah kalian masih akan meneruskan cara hidup kalian sekarang ini? Judi, tuak, tayub dan berkelahi sesama kita karena kita sudah mabuk...?”

Mula-mula yang terdengar hanyalah suara-suara bergumam. Namun kemudian terdengarlah suara mereka saur manuk, ”Tidak...tidak... tidak....”

Wanamerta kemudian meneruskan, ”Nah, dengarlah baik-baik. Aku ingin bertanya sekali lagi, apakah cara hirup kita ini akan kita akhiri?”

”Ya, Kiai, ya, ya, kita akhiri sampai di sini,” sahut mereka berebut keras.

”Bagus. Itulah yang aku harapkan. Rakyat Banyubiru yang sejati. Kalian harus melupakan racun yang dengan perlahan-lahan membunuh kalian, membunuh semangat kalian, sehingga kalian lupa pada masyarakat yang kalian cita-citakan, lupa kepada kampung halaman, lupa kepada pribadi kalian. Nah, dengarlah baik-baik. Arya Salaka itu akan datang. Benar-benar akan datang.”

Tiba-tiba meledaklah suara mereka gemuruh. ”Kita sambut anak muda itu diantara kita. Kita sudah sampai pada ceritera Lahirnya Parikesit. Dan Parikesit itu akan datang membebaskan kita.”

Teriakan-teriakan yang gemuruh itu mengumandang sampai beberapa saat. Tiba-tiba diantara suara gemuruh itu terdengar sebuah teriakan, ”Belum. Kita belum sampai ke sana. Kita masih harus menyelesaikan Baratayuda dahulu.”

”Marilah kita tuntut hak kita, hak atas tanah dan kampung halaman sendiri,” teriak yang lain.

Dalam keriuhan itu terdengarlah suara Sontani menggelegak menggetarkan tanah lapang itu, ”Omong kosong! Omong kosong semuanya. Apakah yang akan kalian tuntut? Tak seorangpun merasa kehilangan hak atas tanah ini sekarang.”

Tiba-tiba suara riuh itu mereda.

Karena itu Sontani meneruskan, ”Apakah yang hilang dari milik kalian. Tanah, sawah, halaman dan rumah kalian. Bukankah barang-barang itu masih tetap di tanganmu. Dan bukankah tak ada seorangpun yang merampasnya?”

Suara riuh itu kini menjadi diam. Memang mereka yang berdiri di tanah lapang itu masih memiliki tanah mereka, sawah mereka dan rumah mereka. Tetapi kemudian terdengarlah suara Wanamerta tenang, ”Kau benar Sontani, tetapi aku dan kalian harus membayar upeti lebih dari dua kali lipat dari upeti yang harus kalian bayar dulu.”

”Benar, benar....” Kembali mereka berteriak-teriak.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya