Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 96

ITULAH yang tidak dikehendaki oleh orang-orang Banyubiru yang setia. Setia kepada sendi-sendi dasar pemerintahan itu. Dengan demikian, ketika matahari mulai menjengukkan wajahnya di keesokan harinya, sibuklah laskar Banyubiru mempersiapkan diri. Mereka mempertinggi irama latihan mereka, mempertajam pedang serta tombak mereka. Meskipun senjata-senjata itu bukan mutlak harus dipergunakan, namun terhadap orang yang bernama Lembu Sora dan Sawung Sariti, hal yang demikian itu tak dapat dikesampingkan.

Hari itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sendiri memerlukan menyaksikan latihan-latihan yang diselenggarakan tanpa mengenal lelah. Beberapa kali kedua orang sakti itu langsung memberikan nasehat-nasehat serta petunjuk-petunjuk. Bahkan beberapa orang yang cukup kuat, langsung mendapat latihan-latihan khusus dari Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara disamping usaha-usaha yang terus-menerus yang dilakukan oleh Mantingan, Wirasaba dan pimpinan laskar mereka sendiri.

Pada hari ketiga, ketika Mahesa Jenar menganggap bahwa waktunya telah masak, dipersiapkannya laskar Banyubiru itu. Dan pada suatu pagi yang cerah, didahului oleh pengantar kata dari setiap pimpinan kelompok, untuk memperteguh jiwa anak-anakBanyubiru itu, menjalarlah sebuah iringan yang seperti ular menelusuri jalan-jalan perbukitan.

Di ujung barisan itu berjalanlah Mahesa Jenar di samping Arya Salaka. Kemudian di belakangnya berjalan seenaknya Endang Widuri di samping ayahnya. Perhatiannya sama sekali tidak tersangkut pada perjalanan yang penting ini, tetapi ia lebih senang memberhatikan lembah yang berwarna hijau kekuning-kuningan, diantara batu-batu padas yang merah tembaga menjorok seakan-akan menghadang perjalanan itu.

Sinar matahari pagi yang dilemparkan ke lembah-lembah itu menari dengan lincahnya mempermainkan titik-titik embun yang masih tersangkut di ujung-ujung daun. Ketika Arya Salaka muncul dari balik sebuah bukit kecil, tiba-tiba dadanya berdesir. Tanpa sesadarnya ia berhenti. Mahesa Jenar cepat dapat mengetahui perasaan apakah yang bergolak di dalam dada anak itu. Cepat Mahesa Jenar menariknya ke tepi dan memberi isyarat kepada pasukannya untuk berjalan terus.

Ketika Endang Widuri lewat beberapa langkah di depan Arya Salaka, ia menoleh kepadanya dengan heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sebab kemudian kembali ia tertarik pada dataran yang berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang sudah cukup tinggi.
”Ai...” teriak gadis kecil itu, ”Apakah itu?”

Ayahnya tertawa, dijawabnya, ”Seharusnya aku mengajak kau merantau supaya kau tidak menjadi anak yang heran melihat matahari terbit.”

Endang Widuri sama sekali tidak memperhatikan kata-kata ayahnya, bahkan kemudian ia berteriak gembira sekali, ”Rawa Pening? Bukankah itu Rawa Pening?”

”Ada apa dengan Rawa Pening?” tanya ayahnya.

”Sejak lama aku ingin melihatnya. Kalau demikian, bukankah kita sudah tidak jauh lagi dari rumah Kakang Arya Salaka?” tanya Widuri pula.

Pertanyaan itu terdengar aneh bagi Kebo Kanigara. Tetapi sebagai seorang ayah dari seorang gadis yang sedang menjelang mekar, ia hanya menarik nafas. Tetapi kemudian terdengar jawabannya, ”Widuri, Banyubiru masih jauh. Jalan lembah itu akan berkelok-kelok seperti ular yang sedang berenang. Meskipun demikian kau sudah dapat melihat arahnya dari tempat ini. Itulah Bukit Telamaya.”

Telamaya dalam pendengaran Endang Widuri, merupakan daerah yang sejuk, tenteram dan damai.

Tiba-tiba angan-angannya memanjat tinggi ke alam cita. Meskipun ia belum pernah melihat daerah Bukit Telamaya, namun ia tiba-tiba menjadi sedemikian besar keinginan untuk pergi ke daerah itu, sebagai daerah yang menyenangkan. Tanpa sesadarnya pula kemudian ia menoleh ke arah Arya Salaka. Anak muda itu ternyata masih berdiri tegak di samping Mahesa Jenar, memandang jauh ke arah lambung Bukit Telamaya yang membujur di hadapannya seperti raksasa yang tidur dengan nyenyaknya.

Di balik bukit itu membayanglah warna biru kehijauan disaput oleh awan yang tipis, Gunung Merbabu. Kemudian Endang Widuri meneruskan perjalanannya dengan penuh angan-angan di kepalanya. Sebagai seorang gadis ia senang pada keindahan. Juga keindahan alam yang terbentang di hadapannya. Lembah, ngarai, jurang-jurang terjal dan dinding-dinding padas yang menjulang tinggi, ditelusuri oleh jalur-jalur putih, jalan setapak yang selalu dipergunakan oleh orang-orang yang mencari kayu di hutan-hutan. Di sana-sini jalur-jalur itu hilang terputus ditelah oleh hutan-hutan yang berserakan di lembah itu. Agak jauh di sebelah Rawa Pening, terbentanglah sawah yang luas. Setingkat demi setingkat pematang-pematang sawah itu seperti memanjat tebing pada sisinya. Tetapi daerah itu masih jauh.

Arya Salaka yang berdiri di samping Mahesa Jenar merasa betapa hatinya berdebar-debar menyaksikan semuanya itu. Seperti seorang akan menjelang kekasih yang telah bertahun-tahun tak bertemu. Sawah, ladang, kampung halaman rumahnya dengan pohon jambu yang lebat berbuah.

Semuanya itu seperti hilir mudik di depan matanya. Dan dibalik kehijauan lambung Bukit Telamaya itulah tinggal seorang yang paling dicintai, serta dirindukannya, yaitu ibunya. Mahesa Jenar ikut merasakan betapa perasaan rindu itu mengusik hati muridnya. Tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebab ia tahu pula bahwa kata-katanya akan dapat menambah gelora perasaan rindu itu. Untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri. Di samping mereka berjalanlah iringan laskar Banyubiru. Di pundak merekalah terletak masa depan Bukit Telamaya itu, dan kepada merekalah bukit itu menggantungkan nasibnya.

TIBA-TIBA Arya Salaka menjadi semakin terharu ketika ia melihat keserasian yang mengetuk dadanya. Di hadapannya terbentang lembah yang hijau dibatasi oleh lereng bukit Telamaya, sedang di sampingnya menjalarlah laskar yang setia. Betapa kemudian tergambar di dalam otaknya itu seolah-olah merupakan seekor naga raksasa yang sedang berjuang untuk merebut kembali sebutir telur raksasanya yang teronggok di hadapannya. Arya menarik nafas. Bukit Telamaya itu seolah-olah sebuah permata yang berkilauan ditimpa cahaya matahari. Sinarnya memancarkan ke segenap penjuru, memerangi seluruh langit dan bumi.

Kemudian teringatlah anak muda itu akan sebuah kisah terjadinya Rawa Pening. Seekor naga yang rindu kepada ayahnya. Sedang ayah itu bersedia untuk menerimanya apabila ular itu sanggup melingkari gunung Merbabu. Tetapi sayang, bahwa panjang tubuhnya tidak memungkinkan, meskipun hanya kurang sejengkal. Karena itu ular raksasa itu tidak menyenangkan ayahnya. Dengan serta merta, lidah ular raksasa itu segera dipotongnya. Maka matilah ular itu. Tetapi jiwa ular itu kemudian berubah menjadi seorang kerdil yang menancapkan lidi di lembah bukit sebelah utara Gunung Merbabu. Tak seorang pun dapat menarik lidi itu. Karena itu kemudian orang kerdil itu sendirilah yang menariknya.
Dari lubang bekas lidi itu memancarlah mata air yang semakin lama semakin besar dan besar. Akhirnya terjadilah di lembah itu sebuah Rawa. Rawa Pening.- Sekarang, Arya Salaka pun sedang melakukan tugas yang seolah-olah dibebankan oleh ayahnya. Melingkari bukit Telamaya. Pasukannya itulah ibarat tubuh ular yang harus mampu melilit bukit itu. Tetapi kalau kemudian panjang tubuh itu tidak memungkinkan, ia tidak akan menyambung hanya dengan lidahnya. Tidak dengan janji dan prasetya. Tetapi ia akan menyambung kekurangan itu dengan darahnya. Dengan nyawanya.

Arya Salaka terkejut ketika terasa setetes air menyentuh tangannya. Cepat ia mengusap matanya yang sedang mengaca. Untunglah bahwa pada saat itu Mahesa Jenar pun agak terpaku juga pada kebesaran alam yang tergelar di hadapannya. Memang demikianlah tabiatnya. Setiap kali ia berhadapan dengan kebesaran alam, setiap kali ia menyebut nama Yang Maha Besar. Kalau ciptaan-Nya saja sedemikian agungnya, betapa Agung Yang Menciptakannya. Ketika Mahesa Jenar menoleh kepadanya, Arya Salaka mencoba untuk tersenyum. Senyum yang diwarnai oleh gelora hatinya. Meskipun demikian, Mahesa Jenar melihat juga warna merah yang menyaput mata muridnya. Tetapi ia pura-pura tidak melihatnya dan malah ia bertanya kepada anak muda itu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan Banyubiru, sambil menengadahkan mukanya. ”Arya, udara cerah. Sebentar lagi matahari akan sampai di atas kepala kita. Mudah-mudahan kita dapat beristirahat sebentar di hutan di depan kita.”

Arya Salaka mengangguk. Dengan terbata-bata ia menjawab, ”Ya, Paman. Hutan itu sudah tidak begitu jauh.”

”Kita perlu istirahat sebentar, Arya. Kemudian kita meneruskan perjalanan. Kita akan bermalam satu malam sebelum esok paginya kita sampai ke hadapan Bukit Telamaya itu.”

”Tidakkah hari ini kita lanjutkan perjalanan, Paman?” tanya Arya Salaka sekenanya.

”Tidak perlu,” jawab Mahesa Jenar, ”Sebab menurut pertimbanganku, sebelum kita memasuki daerah itu, biarlah dua tiga orang mendahului menyaksikan keadaan. Sebab apabila terpaksa terjadi perselisihan, maka kita dapat mengetahui siapakah yang berada di pihak kita, dan siapakah yang berbeda pendapat dengan kita. Dengan demikian kita akan mendapat gambaran yang tegas, apakah yang perlu kita lakukan.”

Arya Salaka yang telah dapat menguasai perasaanya, sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata pertimbangan gurunya itu adalah benar-benar merupakan suatu tindakan yang berhati-hati dan penuh kewaspadaan. Karena itu ia menjawab, ”Agaknya demikianlah yang seharusnya, Paman.”

Sekali lagi Mahesa Jenar melemparkan pandangannya ke Bukit Telamaya yang melintang di hadapannya, lembah, ngarai serta jurang-jurang yang terjal. Sekali lagi ia memandang cahaya matahari yang terpantul dari wajah Rawa Pening. Maka kemudian katanya, ”Marilah Arya, ujung pasukanmu telah berjalan agak jauh mendahului kita.”

Arya tersadar dari perasaan rindu, haru serta gambaran-gambaran masa datang. Ketika ia menoleh ke belakang, dilihatnya laskarnya yang berjalan berjajar dua di jalan sempit itu telah hampir sampai ke pangkalnya. Di belakang pasukan itu dilihatnya Mantingan dan Wirasaba berjalan beriringan dengan Bantaran dan Penjawi.

Melihat Arya Salaka dan Mahesa Jenar yang seolah-olah sengaja menyaksikan seluruh isi laskarnya, Mantingan tersenyum. Kemudian setelah sampai di hadapan anak muda itu ia berkata, ”Adakah yang kurang dalam barisan ini?”

Sambil berjalan di samping mereka itu Arya menjawab, ”Tidak, Paman. Namun demikian aku mengharap bahwa barisan kita menjadi semakin lengkap. Apabila kita besok mulai memasuki Banyubiru, aku harap bahwa di samping Sang Saka Gula Kelapa, berkibar pula Panji-panji Dirada Sakti, sebagai lambang kebesaran tanah Perdikan Banyubiru, di dalam pelukan persatuan dan kesatuan Demak."

Mantingan dan Wirasaba mengangguk-anggukkan kepalanya, apalagi Bantaran dan Penjawi. Sehingga terdengarlah Penjawi menjawab, ”Hebat. Kita pasang pula umbul-umbul dan tanda-tanda kebesaran lainnya. Bukankah dengan demikian pasukan kita akan bertambah megah?”

”Demikianlah hendaknya,” jawab Arya Salaka, ”Asal hati kita bertambah megah dan besar.”

MAHESA JENAR kagum akan kecepatan berpikir Arya. Dengan demikian ia benar-benar seperti menanti laskarnya berjalan dahulu untuk berbicara dengan Mantingan. Hilanglah kesan keharuan dari wajahnya. Hilanglah sikap kekanak-kanakannya yang rindu pada orang tua. Yang kemudian menjadi sikap seorang putra kepala daerah perdikan yang rindu pada kebesaran tanah perdikannya. Kemudian untuk beberapa lama pasukan itu berjalan dalam keheningan. Tak seorangpun yang mengucapkan kata-kata, namun di dalam dada masing-masing bergeloralah berbagai macam persoalan yang hilir-mudik, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi silih berganti. Wajah-wajah mereka kadang-kadang tampak cerah seperti cerahnya matahari, kadang-kadang menjadi suram oleh kenyataan yang mereka hadapi. Bahwa mereka harus melampaui banyak persoalan, untuk kembali kekampung halaman sendiri. Bahwa mereka merasa, seolah-olah mereka adalah orang buruan yang dikejar-kejar dan terasing karena mereka adalah perampok-perampok dan penjahat-penjahat. Bahwa mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang tak tahu diri dan membuat kadang-kadang diluar perikemanusiaan, hanya karena ia berkata, ”Aku tetap setia kepada Banyubiru.” Apakah salah mereka dengan kesetiaannya itu? Kesetiaan yang dilandasi oleh kesadaran, bahwa dalam keadaan yang sedemikian ini, hanya pemerintahan yang berlandaskan kebenaran dan keadilanlah yang akan dapat menjamin ketentraman Banyubiru. Bahkan pulihnya hubungan yang wajar antara Banyubiru dan Pamingit, diantara segala sesuatu dapat dikembalikan kepada tempatnya yang sebenarnya. Sebab menurut keyakinan mereka, hanya dengan cara-cara yang demikian, Banyubiru akan dapat berkembang atas perkenaan Yang Maha Kuasa, serta sejahtera lahir dan batin. Akan bergemalah kembali kesibukan serta keriuhan para penjual dan pembali di pasar-pasar. Serta akan berkembanglah kembali usaha-usaha pendidikan, sebagai taburan benih buat masa depan. Hanya dari benih-benih yang baik serta pemeliharaan yang baiklah akan dapat tumbuh bibit-bibit serta pohon-pohon yang baik pula. Tetapi apabila pada bibit-bibit yang baik itu tidak pernah mendapat rabuk yang baik, bahkan kemudian disiram dengan racun, akan kerdillah pohon-pohon yang akan menjadi tempat bernaung di masa depan, serta akan muncul pulalah buah yang dihasilkan.

Demikianlah tanpa dirasa, oleh karena tekad yang memang sudah membaja, matahari telah berada di atas kepala. Sesaat kemudian pasukan itu memasuki sebuah hutan perdu yang tak begitu lebat. Ketika seluruh barisan itu telah ditelan oleh kesejukan rimba, terdengarlah suara sangkalala. Suatu pertanda bahwa pasukan itu harus berhenti beristirahat.

Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar, Arya Salaka, Kebo Kanigara, Mantingan serta beberapa orang penting lainnya mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mereka memilih beberapa orang untuk mendahului laskar Banyubiru, melihat-lihat suasana. Di pundak merekalah diletakkan kepercayaan untuk mengabarkan kedatangan laskar mereka kepada rakyat Banyubiru. Laskar yang akan menempatkan mereka ke dalam wadah yang sewajarnya. Serta kepada mereka diletakkan tanggungjawab untuk memberikan warna kepada rakyat Banyubiru dalam menghadapi kehadiran laskar mereka. Mereka harus sadar, bahwa kedatangan laskar itu bukan berarti bencana seperti yang mereka sangka, yang ditimbulkan oleh berita-berita yang sengaja ditiup-tiupkan oleh berbagai pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Golongan hitam yang takut berhadapan dengan rakyat Banyubiru dan Pamingit yang bersatu bulat selalu berusaha untuk memperbesar perselisihan antara rakyat Banyubiru dan Pamingit, antara rakyat Banyubiru dan rakyat Banyubiru sendiri. Bahkan kadang-kadang mereka dapat menjadikan diri mereka seolah-olah laskar Banyubiru yang menyingkir ke Gedong Sanga untuk mengadakan pengacauan dan bahkan kadang-kadang perampokan atas rakyat Banyubiru sendiri.

Namun kadang-kadang mereka dapat merubah dirinya untuk menjadi orang-orang Pamingit atau laskar Banyubiru yang menerima pemerintahan Lembu Sora untuk mengadakan penganiayaan atas orang Banyubiru yang dianggapnya setia kepada kampung halaman. Dengan demikian mereka telah menggali jugang yang semakin dalam antara dua keluarga sedarah itu. Disamping itu, mereka yang telah disilaukan oleh kedudukan serta harta benda pun menjadi mata gelap. Mereka pun melakukan perbuatan yang serupa, yang tidak mereka sengaja telah membantu memperdalam jurang antara keluarga sendiri. Dari mulut mereka selalu timbul berbagai celaan dan hinaan terhadap laskar Banyubiru. Seolah-olah mereka tidak lebih dari gerombolan penjahat yang sama sekali tidak berbeda dengan penjahat-penjahat yang lain.

Tugas itu bukanlah tugas yang ringan. Karena itu dipilihlah diantara laskar Banyubiru itu beberapa orang yang dianggap akan dapat menunaikan tugas dengan baik. Pilihan itu jatuh kepada kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat dibantu oleh beberapa orang.

MESKIPUN demikian Mahesa Jenar masih agak kurang tenang dengan anak-anak muda itu. Karena itu akhirnya ia minta kepada tetua tanah perdikan Banyubiru, Wanamerta, untuk mengawasi pelaksanaan tugas itu.

Dengan senang hati mereka menerima kehormatan itu. Dengan penuh tekad mereka berjanji akan melaksanakan sebaik-baiknya, apapun yang akan terjadi dengan mereka.

”Sendang Papat dan Sendang Parapat...” pesan Mahesa Jenar, ”Kalian datang ke Banyubiru bukan untuk menambah keributan, bukan untuk menakut-nakuti dan bukan untuk mengancam. Kalian datang ke Banyubiru untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang sewajarnya. Karena itu jangan menuruti darah muda kalian. Kita memilih kalian, karena kalian dalam wawasan kami dapat mempergunakan otak kalian dengan baik. Nah, seterusnya Paman Wanamerta ada diantara kalian. Jagalah keselamatannya. Turutilah nasehatnya. Kemudian datanglah kembali kepada kami dengan kawan yang lebih banyak, bukan lawan.”

Maka setelah beristirahat beberapa saat, rombongan kecil itu pun berangkat mendahului. Mereka mengharap bahwa menjelang malam, mereka sudah akan memasuki kota. Sepeninggal rombongan itu, Mahesa Jenar menyusun rombongan yang kedua, untuk memenuhi anjuran Ki Ageng Sora Dipayana, membawa Arya Salaka menghadap. Tugas ini tak dapat dibebankan kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri bersama Kebo Kanigara. Bantaran, Penjawi dan bahkan hampir segenap pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengerti, kenapa Mahesa Jenar masih saja melakukan hal-hal yang menurut pertimbangan mereka tidak akan berguna. Mereka menjadi tidak bersabar, bahwa mereka masih harus menunggu dan menunggu.

Perjalanan dari Candi Gedong Sang ke Banyubiru itu terasa betapa panjangnya. Mereka menjadi gelisah karena dengan rombongan-rombongan itu mereka masih harus bersabar. Mereka harus menanti rombongan pertama itu kembali, seterusnya merekapun harus menunggu Mahesa Jenar membawa Arya Salaka kepada kakeknya. Bukankah hal itu tidak akan banyak berarti? Mahesa Jenar melihat kegelisahan itu. Karena itu ia berkata dengan sareh, ”Para pemimpin laskar Banyubiru... aku masih mengharap kalian bersabar. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang penting bagi kita bukanlah menghantam Banyubiru dengan kekerasan, tetapi yang penting adalah penempatan kembali segala sesuatunya pada tempat yang seharusnya. Kita ingin melihat Ki Ageng Lembu Sora sudi meninggalkan Banyubiru. Nah, dengan mempergunakan pengaruh yang masih ada, dari hubungan darah yang rapat antara Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Arya Salaka, mudah-mudahan usaha kita tercapai tanpa setetes darahpun yang mengalir dari tubuh kita. Kita mengharap bahwa apabila Arya Salaka telah benar-benar berada di hadapan Lembu Sora, akan berubahlah pendirian pamannya itu. Sebab bagaimanapun juga anak ini adalah kemanakannya.”

Tiba-tiba dari antara para pimpinan laskar Banyubiru itu terdengar sebuah pertanyaan yang menggambarkan betapa kesal hati mereka ”Tuan, kalau begitu apakah artinya kita berarak-arak kemari, kalau kita tidak menggilas Lembu Sora sampai ke anak cucunya? Sebab selama orang itu masih hidup beserta segenap pengikutnya, maka keadaan Banyubiru masih akan selalu ribut dibuatnya.”

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Ia dapat mengerti sepenuhnya perasaan itu. Sejak semula mereka sudah bersiap untuk bertempur, seperti mereka siap pula bertempur melawan golongan hitam. Karena itu Mahesa Jenar menjawab dengan sareh, ”Kedatangan kalian kemari adalah bukti dari kesetiaan kalian terhadap Banyubiru. Sebagai suatu kenyataan yang harus diperhitungkan oleh Ki Ageng Lembu Sora dalam keputusannya. Nah, para pimpinan laskar Banyubiru, aku berjanji untuk yang terakhir kalinya mengecewakan kalian. Kalau usahaku kali ini gagal, maka akulah yang akan memerintahkan kalian untuk menggempur Banyubiru, dan akulah yang akan berdiri di barisan yang paling depan bersama-sama dengan Arya Salaka. Sebab Arya Salaka-lah yang berwewenang atas tanah Perdikan Banyubiru, mengemban kewajiban memegang pimpinan. Kecuali ia adalah putra Ki Ageng Gajah Sora, suatu kenyataan yang tak dapat disangkal, bahwa Arya Salaka-lah yang menerima Tombak Kyai Banyak sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.”

Meskipun keterangan Mahesa Jenar itu belum memuaskan mereka, namun para pimpinan laskar Banyubiru itu mencoba untuk mengertinya. Tetapi mereka sadar bahwa untuk beberapa saat mereka akan melampaui masa-masa yang menjemukan. Menunggu dan menunggu. Sedangkan menunggu bagi seorang prajurit yang sudah bersiap untuk bertempur, adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Namun mereka adalah laskar yang mempunyai ikatan yang kuat, sehingga setiap perintah akan dilaksanakan dengan baik. Demikian juga perintah untuk menunggu itupun akan mereka laksanakan pula.

Ketika mereka sudah cukup beristirahat, kembali laskar Banyubiru itu melanjutkan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai ke perbatasan perjalanannya. Mereka mengharap untuk sampai perbatasan menjelang senja. Di sanalah mereka akan berkemah, dan menghabiskan waktu-waktu mereka dengan sebal dan gelisah.

Di langit, matahari yang menyala-nyala berputar demikian cepatnya. Maka ketika sorotnya yang kemerahan di langit sebelah barat tenggelam di balik bukit-bukit, laskar Banyubiru itu telah sampai ke tujuannya. Mereka segera menempatkan diri sebaik-baiknya. Meskipun mereka tidak dalam gelar perang, namun mereka harus selalu bersiaga, kalau-kalau laskar Lembu Sora mendahului menyerang mereka. Sebagian dari para laskar itupun segera beristirahat, sebab besok mereka harus membangun perkemahan untuk beberapa hari lamanya.
Dalam pada itu Wanamerta, Sendang Papat dan Sendang Parapat telah pula memasuki kota Banyubiru. Untuk menjaga keamanan diri, mereka sengaja memilih jalan-jalan yang sepi. Satu-dua mereka bertemu juga dengan penduduk yang memandang mereka dengan curiga. Namun karena malam telah gelap, tak seorangpun yang dapat mengenalinya. Karena itu, Wanamerta bersama kawan-kawannya dapat mencapai pusat kota dengan selamat.

DI sepanjang jalan mereka sempat membicarakan apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka pasti tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menemui orang-seorang, memasuki rumah yang satu ke rumah yang lain. Karena itu mereka mencoba untuk bertemu dengan penduduk Banyubiru dalam jumlah yang besar sekaligus. Dari Bantaran mereka pernah mendengar bahwa orang-orang Banyubiru sekarang mempunyai kebiasaan yang menyedihkan. Menyabung ayam, judi dan tayub di lapangan di ujung kota. Maka ketika Wanamerta teringat pada ceritera Bantaran itu, ia berkata, ”Sendang berdua, bukankah sebaiknya kita pergi ke tanah lapang itu?”

Kakak-beradik itu ragu sejenak. Jawab Sendang Papat, ”Paman, tidakkah perbuatan itu terlalu berbahaya?”

Wanamerta tersenyum.

Jawabnya, ”Aku kira tidak, Sendang Papat, aku kira lebih mudah berbicara dengan orang banyak daripada berbicara dengan mereka satu demi satu, apabila kita dapat menempatkan diri kita. Tetapi kalau kita gagal, bahayanya menjadi lebih besar. Nah, biarlah kita mencoba mengail ikan yang besar sekaligus, meskipun umpannya pun harus besar.”

”Baiklah Paman,” jawab Sendang Papat. Meskipun dengan demikian mereka harus bersiap menghadapi bahaya. Tiga orang yang pergi bersama mereka, berjalan agak jauh di belakang. Ketika Wanamerta sudah mengambil keputusan, maka segera Sendang Parapat menemui mereka, dan memberi mereka pesan-pesan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka ketika mereka mendengar suara gamelan tidak demikian jauh di hadapan mereka mulai dibunyikan, berkatalah Wanamerta, ”Nah, itulah, mereka segera akan mulai dengan acara gila-gilaan itu.”

Sendang Papat dan Sendang Parapat tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.

”Marilah kita mulai dengan permainan kita,” sambung Wanamerta, ”Kita ambil jalan yang berbeda-beda, supaya kedatangan kita tidak menarik perhatian.”

Maka Wanamerta pun kemudian berjalan sendiri, Sendang Papat dan Sendang Parapat beserta ketiga orang yang lainpun kemudian berpisah-pisah untuk seterusnya pergi ke tanah lapang yang memancarkan kemaksiatan yang memuakkan itu. Ketika mereka sampai ke tempat itu lewat jalan-jalan berbeda dan berdiri ditempat yang berserak-serak dan gelap, segera mereka melihat kebenaran ceritera Bantaran itu.

Mereka melihat beberapa orang tledek menari-nari di tengah arena dengan gerak-gerak yang menggairahkan. Sendang Papat dan Sendang Parapat adalah penari yang baik pula. Tetapi mereka belum pernah mempelajari bentuk-bentuk tarian seperti yang ditarikan oleh tledek-tledek itu. Apalagi ketika mereka kemudian mengenal siapakah yang kemudian bersedia merendahkan diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan itu, tanpa sengaja. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta, tanpa berjanji, di tempat masing-masing menggeleng-gelengkan kepala mereka.
Gadis-gadis itu ternyata beberapa tahun yang lalu adalah gadis-gadis yang baik, bahkan mereka adalah penari-penari yang baik pula. Tetapi tiba-tiba mereka sekarang menari dengan gaya yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Bahkan menurut penilaian mereka, gadis-gadis itu sama sekali tidak menari, tetapi mereka benar-benar mencoba untuk memancing-mancing nafsu jasmaniah yang rendah, dalam irama gelap yang gila-gilaan pula. Diantara nada-nada yang berirama panas itu terdengar suara pesinden yang tidak kalah gilanya dari tari-tarian itu sendiri. Pesinden yang telah kehilangan patokan-patokan seni.

Maka di lapangan itu terdapatlah suatu perpaduan antara tari-tarian, lagu dan irama yang benar-benar dapat membakar hangus dada yang berisi hati yang lemah. Namun sayang, terlalu sayang, bahwa justru tari-tarian, lagu dan irama yang demikian itulah yang kini mendapat penggemar-penggemar yang cukup banyak. Sendang Papat, Sendang Parapat dan Wanamerta melihat, betapa pemuda-pemuda sebaya dengan kakak-beradik Sendang itu, bahkan diantaranya masih sangat muda. Mereka telah benar-benar tenggelam dalam lagu-lagu yang sama sekali telah kehilangan bentuknya sebagai lagu, tari-tarian yang hanya memantulkan gairah tanpa keindahan dan watak. Apalagi harus dipanaskan dengan suasana yang benar-benar telah berubah seperti panasnya api neraka, telah menelan seluruh tanah lapang itu ke dalam suasana yang mengerikan.

Ketika Wanamerta dengan beberapa orangnya masih saja berdiri di dalam bayang-bayang yang gelap, mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama telah menyaksikan dua kali perkelahian diantara para penonton. Perkelahian orang-orang yang mabuk tuak, dibelai oleh suara tertawa beberapa orang perempuan dengan gembira sekali menyaksikan perkelahian itu. Namun di samping itu, Wanamerta dan kawan-kawannya, masih juga melhat beberapa orang laki-laki yang hanya berjongkok-jongkok saja menonton suasana itu dari kejauhan. Dari wajah-wajah mereka, Wanamerta menangkap beberapa kesan yang berbeda-beda. Ada diantara mereka yang kecewa karena kehabisan uang. Ada yang kecewa karena mereka menyaksikan tingkah laku yang seolah-olah kehilangan kesadaran. Ada yang kecewa karena sejak akhir-akhir ini mereka tidak dapat menyaksikan lagi bentuk-bentuk kesenian seperti yang pernah mereka nikmati dahulu. Wanamerta tidak menunggu suasana menjadi bertambah ribut dan gila. Ia ingin menjumpai sesuatu pada orang-orang Banyubiru itu. Karena itu, ia tidak berlindung di bawah bayang-bayang yang gelap lagi. Dengan sengaja ia berjalan maju diantara orang-orang yang berserak-serak di tanah lapang itu. Di dalam hatinya bergolaklah berbagai macam perasaan sehingga terasa jantungnya berdebar-debar.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya