Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 95
SEBAGAI manusia, Mahesa Jenar merasa bahwa ia kini memiliki senjata yang dahsyat tiada taranya. Bukankah dengan demikian ia menjadi seorang yang dapat membebaskan diri dari perasaan sakit yang disebabkan oleh rangsang dari luar tubuhnya apabila ia menghendaki dengan matek aji Sasra Birawa?
Meskipun ia tidak menjadi kebal karenanya, namun ia memiliki ketahanan yang mirip dengan ilmu kekebalan.
Tetapi sebenarnya pada saat-saat yang demikian itulah saat-saat yang paling berbahaya bagi manusia. Pada saat ia menyadari kelebihan diri dari orang lain. Pada saat ia dengan penuh kesadaran merasa tak akan mudah orang mengalahkannya.
Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki bekal yang cukup untuk menerima kurnia dari Tuhan Yang Maha Esa atas usahanya yang tak kenal lelah dalam pembajaan diri. Itulah sebabnya, pada saat ia sadar akan dirinya, meskipun mengembang pula perasaan bangga sebagaimana perasaan manusia biasa, namun di dalam relung hatinya, Mahesa Jenar dengan penuh kerendahan diri, mengucapkan syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Pengasih atas karunia itu. Bahkan diam-diam ia berjanji untuk mempergunakan ilmunya dalam kebaktian dan pengabdian pada titahnya, sesama manusia, dengan penuh rasa cinta kasih.
Kebo Kanigara menyaksikan wajah Mahesa Jenar dengan seksama, seolah-olah ia sedang membaca apakah yang tersirat dari wajah itu.
Sebagai seorang yang penuh dengan bermacam-macam pengalaman, tahulah Kebo Kanigara bahwa pada saat-saat yang paling berbahaya itu, Mahesa Jenar tidak tergelincir ke dalam sikap yang tercela. Ia tahu bahwa Mahesa Jenar tidak menjadi sombong karenanya sehingga kehilangan pengamatan atas tingkah laku dan perbuatan-perbuatannya pada masa-masa yang akan datang. Sebagai seorang yang berpandangan luas, Kebo Kanigara mengerti bahwa Mahesa Jenar itu sampai tergelincir karena kesombongannya atas keperkasaan diri, atas ilmu yang dimilikinya, maka akibatnya akan sangat berbahaya.
Ia akan mampu menggoncangkan kerajaan Demak. Tidak menggoncangkan keamanan dan ketertiban, namun seandainya ia mau, ia akan dapat menghimpun kekuatannya untuk menghancurkan Demak.
Tetapi ia yakini kemudian, bahwa Mahesa Jenar akan tetap dapat memelihara kemurnian dari tujuannya. Mengabdikan diri setulus-tulusnya pada keyakinannya, pada kebenaran dan keadilan.
Beberapa saat setelah pondok itu dicekam oleh keheningan, terdengarlah Mahesa Jenar berkata perlahan-lahan, ”Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, serta berterima kasih kepada Kakang Kebo Kanigara yang telah memberi aku kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas dalam pengabdian diri. Mudah-mudahan aku dapat mrantasi, dapat memanfaatkan ilmuku ini sebaik-baiknya.”
Kebo Kanigara mengangguk-angguk puas. Ia tidak menjawab, tetapi hatinya berkata, ”Berbahagialah kau Mahesa Jenar. Berbahagialah atas kurnia yang kau terima, dan berbahagia atas keluhuran hatimu.”
Namun yang terucapkan adalah, ”Meskipun demikian Mahesa Jenar, aku atas nama gurumu, ayah Penging Sepuh almarhum ingin memperingatkan bahwa ilmu perguruan Pengging janganlah kau pergunakan pada setiap saat, pada setiap kesempatan sebagai pameran kekuatan yang tak berarti. Ilmu itu hanya akan kau pergunakan pada saat-saat dimana kau harus dapat mempertanggungjawabkan akibatnya. Tidak kepada sesama manusia, tidak kepada para pemimpin di Demak, bahkan tidak kepada Sultan Demak saja. Tetapi lebih daripada itu, kau akan mempertanggungjawabkan kepada Yang Maha Ada di atas segala pertanggunjawaban yang lain. Sebab kau menjadi lantaran, tidak dari para pemimpin dan tidak siapapun. Tetapi ilmumu kau terima dari Yang Maha Tinggi.”
Meskipun apa yang didengarnya dari Kebo Kanigara itu seperti apa yang didengarnya dari suara hati nuraninya, namun Mahesa Jenar dengan penuh minat mendengarkan nasihat dari orang yang dianggapnya pengganti gurunya. Sebab ia tahu benar bahwa Kebo Kanigara tidak hanya mampu berkata, tetapi apa yang dilakukannyapun sesuai benar dengan kata-katanya itu. Mempergunakan-ilmunya pada kesempatan yang tepat, untuk keperluan yang tepat pula.
Kecuali Mahesa Jenar, di salah satu sudut ruangan itu berbaring Arya Salaka. Ia mendengar semua pembicaraan gurunya dengan Kebo Kanigara itu. Ia mengetahui pula, betapa gurunya kini benar-benar menjadi manusia yang luar biasa, yang tidak akan dapat dikalahkan oleh Pasingsingan. Dengan demikian gurunya sudah tidak akan lagi silau seandainya ia duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana, kakeknya, dan orang-orang lainyang setingkat dengan mereka itu. Namun disamping itu, ia mendengar pula nasihat-nasihat Kebo Kanigara kepada gurunya.
Dengan demikian, di dalam hati Arya Salaka timbul pula harapan, bahwa apabila ia bekerja dengan tekun, iapun akan mampu pula menerima kekuatan seperti gurunya itu. Meskipun demikian, di dalam hatinya tumbuh pula janji kepada dirinya sendiri bahwa iapun akan berbuat seperti gurunya, seperti apa yang dinasihatkan oleh Kebo Kanigara.
Karena angan-angannya itu, maka tiba-tiba merasa badan Arya Salaka bergetar. Bergetar karena harapan pada masa yang akan datang, pada kesulitan-kesulitan yang masih harus diatasi.
Ketika kemudian Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar itu bangkit dari tempat duduknya masing-masing untuk beristirahat, dan membaringkan diri mereka masing-masing, Arya Salaka masih tetap berangan-angan.
Tiba-tiba meloncatlah perasaan rindunya kepada masa depan itu. Kepada masa dimana ia dapat menikmati cerahnya sinar matahari, tanpa perasaan was-was dan gelisah, tanpa perasaan cemas pada hari kemudian. Dan tiba-tiba saja ia merasa rindu pula kepada keluarganya, kepada ibunya yang mengasuhnya pada masa kanak-kanaknya dengan penuh kasih sayang, kepada ayahnya, yang meskipun terkadang-kadang marah kepadanya, namun dengan penuh keikhlasan seorang ayah telah mendidiknya menghadapi masa kemudian.
ARYA SALAKA ingat benar betapa ayahnya berkata kepadanya, bahwa kelak ia akan menjadi seorang pahlawan. Semula ia mengira bahwa seorang pahlawan adalah seorang yang hebat berkelahi, yang tak terkalahkan oleh siapapun juga. Tetapi sekarang ia berpendapat lain. Karena pergaulannya dengan gurunya, dan karena umurnya yang semakin dewasa tahulah ia apa yang dimaksud dengan kata pahlawan.
Arya Salaka menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, malah hilir-mudiklah bayangan-bayangan masa lampaunya, masa kini dan harapan-harapan bagi masa mendatang. Meskipun ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mencoba melenyapkan bayang bayang itu, namun semakin ia berusaha, semakin jelaslah bayangan-bayangan itu mengganggu. Ketika ia membuka matanya kembali, dilihatnya sinar matahari yang masih sangat condong menembus dinding-dinding pondoknya, membuat lingkaran-lingkaran cahaya di lantai. Di kejauhan terdengar riuh burung-burung liar berkicau bersahutan. Suaranya terdengar betapa merdunya, semerdu lagu puji-pujian terhadap Tuhan, yang memperkenankan mereka masih menikmati indahnya pagi ini.
Sekali-kali di tengah-tengah rimba, melengkinglah kokok ayam hutan bersambutan, di sela-sela angin pagi yang berdesir lemah. Di luar pondok itu, Arya Salaka mendengar orang berjalan hilir-mudik dalam kewajiban masing-masing, diantar oleh suara gerit timba serta debur air orang mandi. Tetapi bayangan di dalam rongga matanya masih saja mengganggu otak Arya Salaka. Bahkan kemudian ia ikut pula dalam barisan-barisan angan-angan itu seorang gadis yang nakal, namun cukup memiliki daya hidup yang menyala-nyala di dalam dadanya. Mula-mula ia mencoba mengenal gadis itu baik-baik di dalam angan-angannya. Bentuk tubuhnya, senyum serta tawanya yang renyah, seolah tingkahnya yang penuh kejujuran.
”Ah...” desah Arya Salaka. Sekali lagi ia mencoba melenyapkan bayang-bayang yang aneh-aneh itu sambil menarik nafas panjang. Tetapi bayang-bayang itu tetap tegak di dalam angan-angannya. Arya Salaka kemudian bangkit dari tempat pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah ke arah pintu. Ketika ia berdiri di atas tlundhak pintu itu, ia melihat kakak-beradik Sendang Papat dan Sendang Parapat lewat di mukanya. Kedua kakak-beradik itu dengan hormat membukuk kepadanya. Arya Salaka pun membungkuk sambil tersenyum bangga. Ia bangga kepada anak-anak Banyubiru yang gigih itu. Mereka ternyata tidak sekadar berbuat untuk mendapat pujian atau gelar-gelar yang menyenangkan, atau hadiah yang berharga. Tetapi mereka melakukan semua itu dengan penuh kesadaran. Sadar akan kewajibannya terhadap kampung halaman, sadar akan kesetiaannya kepada tumpah darah.
Dari ruang di sebelah, Arya mendengar nafas gurunya mengalir dengan irama teratur. Agaknya Mahesa Jenar itu telah tertidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba Arya Salaka pun menguap. Perlahan-lahan ia menutup pintu pondok itu dan perlahan-lahan ia berjalan ke tempat pembaringannya, untuk kemudian merebahkan diri. Karena lelah dan kantuk, akhirnya iapun tertidur pula. Apa yang terjadi di perkemahan itu, ternyata telah memberikan keyakinan yang lebih tebal lagi bagi Mahesa Jenar maupun Arya Salaka, bahwa golongan hitam benar-benar telah meningkatkan kegiatannya. Mereka untuk sementara memang dapat bekerja bersama, diantara mereka menghanyutkan Banyubiru dengan harapan untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, dan mempergunakan Banyubiru sebagai sasaran pertama dalam usaha mereka membentuk pemerintahan yang akan dapat menjadi tandingan dari pemerintah di Demak. Bahkan dengan tujuan terakhirnya, melenyapkan kekuasaan Demak.
Dengan demikian, jelaslah kemudian, siapakah yang mula-mula membuat rencana itu. Dengan desas desus serta berbagai macam dalih dan alasan, akhirnya tergeraklah golongan hitam seluruhnya untuk berusaha mendapatkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, mereka mengadakan semacam perjanjian, siapa yang memiliki keris sipat kandel Kraton Demak itu akan diangkat menjadi pemimpin dari segenap gerombolan hitam yang terserak-serak hampir di segenap sudut Demak. Dalam himpunan itu, mereka mengharap dapat menguasai sebagian wilayah Demak dan mempergunakan wilayah itu sebagai daerah pancatan untuk menandingi kekuasaan Demak.
Dalam penelahan Mahesa Jenar, rencana itu pasti timbul dari Pasingsingan. Apalagi ia telah menyuruh Lawa Ijo untuk mengambil pusaka-pusaka dari perbendaharaan Istana, yang sebenarnya perbuatan itu hanya sekedar usaha darinya untuk membuktikan apakah kedua pusaka yang diperebutkan itu bukan sekadar turunannya saja. Meskipun dalam ilmu mereka, Pasingsingan merasa tidak lebih tinggi dari Sima Rodra, Bugel Kaliki, dan sebagainya, namun ia merasa bahwa ia memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir lebih daripada mereka itu. Sehingga bagi Pasingsingan, apabila keris-keris itu sudah berada di dalam salah seorang anggota gerombolan hitam, baginya akan lebih mudah untuk mendapatkannya daripada apabila pusaka-pusaka itu berada di istana atau di tangan golongan lain. Karena itu, demikian Pasingsingan mendengar Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jengkar dari Istana, demikian ia menyusun rencananya.
Tetapi rencana yang disusunnya itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik. Sebab tiba-tiba muncullah Lembu Sora yang meskipun tidak termasuk di dalam golongan hitam, bahkan yang sebenarnya mempunyai pertentangan kepentingan, namun dalam beberapa hal mereka menunjukkan adanya persamaan perbuatan dan tingkah laku. Mereka sama-sama menaruh minat yang besar terhadap Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak untuk diserahkan kembali kepada yang berhak, tetapi mereka ingin kedua pusaka itu untuk diri mereka sendiri.
DENGAN demikian jelaslah bagi Mahesa Jenar, bahwa meskipun dalam gerak mereka dapat mewujudkan irama yang senada, namun di dalam tubuh mereka itu, seperti api di dalam sekam, setiap kali berkobarlah api pertentangan yang maha dahsyat untuk memuaskan nafsu kekuasaan mereka masing-masing. Meskipun demikian Mahesa Jenar yakin, bahwa mereka tak akan mampu untuk menyusun pemerintahan tandingan, namun apabila mereka mulai melaksanakan rencana mereka, berarti akan terjadi kekacauan dan keributan. Pembunuhan, perkosaan terhadap sendi perikemanusiaan dan banyak lagi hal-hal yang akan terjadi.
Rencana Pasingsingan menjadi semakin terpecah belah, ketika kemudian Gajah Sora telah bertindak jauh mendahului perhitungannya disusul dengan munculnya orang yang bernama Mahesa Jenar. Yang ternyata adalah orang itulah yang menentukan kegagalannya. Karena itu, tak ada jalan lain bagi Pasingsingan, kecuali membunuh Mahesa Jenar. Dalam keadaan yang terakhir, muncullah rencana Pasingsingan yang mahahebat menurut perasaannya. Mengarahkan segenap kekuatan golongan hitam untuk menghancurkan Banyubiru, memusnahkan orang-orang seperti Mahesa Jenar, Lembu Sora, Sora Dipayana, laskar Banyubiru kedua belah pihak, serta tunas-tunas masa depan, yaitu Arya Salaka dan Sawung Sariti sekaligus.
Mahesa Jenar dapat merasakan betapa dendam yang tersimpan di dalam tubuh golongan hitam itu kepadanya. Tetapi adalah menjadi tanggungjawabnya untuk menanggulanginya.
Rombongan dari Nusakambangan yang datang ke Banyubiru, serta rombongan Alas Mentaok yang datang di perkemahan ini, memperjelas keadaan. Ternyata ketajaman otak Mahesa Jenar cukup mampu untuk mengurai segala sesuatu yang mungkin bakal terjadi, serta yang telah direncanakan oleh golongan hitam itu.
Demikian lelahnya Arya Salaka pada saat itu sehingga ia tertidur demikian nyenyaknya. Ketika matahari telah lewat puncak langit, ia terkejut karena gurunya membangunkannya. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya Kebo Kanigara duduk menghadap hidangan makan siang. Nasi jagung dengan lauk daging binatang buruan dan sayur-sayuran.
”Tidakkah kau lapar?” tanya Mahesa Jenar.
Arya Salaka menggeliat. Kemudian iapun segera bangkit dan pergi mencuci mukanya, untuk kemudian bersama-sama dengan Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar, menikmati makan siang dengan lahapnya.
Ketika mereka telah selesai makan, serta sisa-sisa makannya telah disingkirkan oleh Endang Widuri, tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata seperti kepada diri sendiri, ”Itulah yang aku cemaskan, Kakang.”
Arya Salaka tidak tahu maksud kata-kata itu. Agaknya gurunya telah lama membicarakan sesuatu masalah dengan Kebo Kanigara. Kebo Kanigara mengangguk kecil. Tampaknya iapun sedang berpikir. Sesaat kemudian iapun menjawab, ”Kita dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan.”
Arya memandang kedua laki-laki itu tanpa berkedip. Sebenarnya ingin juga ia mengetahui persoalannya, namun ia tidak berani bertanya. Ia menjadi semakin tertarik pada persoalan itu, ketika dilihatnya wajah gurunya menjadi bersungguh-sungguh. Beberapa saat mereka kemudian berdiam diri. Seakan-akan masing-masing terbenam dalam persoalan yang kurang menyenangkan. Di luar terik matahari seperti membakar daun-daun rerumputan yang menjadi kering karenanya. Tidak seberapa jauh dari pondok itu terdengar orang menumbuk padi dan jagung. Suaranya beruntun seperti suara orang berlagu dengan irama yang tetap. Di arah lain terdengar suara tempaan besi gemerinting bersahut-sahutan. Beberapa orang pandai besi sudah bekerja keras untuk membuat atau memperbaiki alat-alat pertanian dan bahkan ada diantara mereka yang membuat senjata.
Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Kakang, aku kira, aku perlu memberikan keterangan keterangan mengenai tugas kita kepada Arya Salaka.”
Kebo Kanigara mengangguk mengiyakan, jawabnya, ”Berilah ia gambaran apa yang sudah terjadi dan apa yang kira-kira akan terjadi.”
Arya Salaka mengingsar duduknya. Ia menjadi bergembira. Dengan demikian ia mengharap akan dapat mengetahui kesulitan-kesulitan apakah yang sedang membebani perasaan gurunya serta Kebo Kanigara.
”Arya...” kata Mahesa Jenar, ”Aku akan menceritakan perjalanan kami sebagai utusanmu ke Banyubiru. Aku akan mengatakan apa adanya, supaya kau mendapat gambaran yang benar terhadap daerahmu, serta orang-orang yang sedang berada di sana.”
Arya Salaka mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar dengan penuh minat. Ketika kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang telah dialami selama ini, maka kata demi kata diperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan seolah-olah ia sendiri ikut serta mengalami perjalanan yang kurang menyenangkan itu.
MAHESA JENAR menceriterakan apa yang telah terjadi, namun ia mencoba untuk tidak menimbulkan kecemasan, apalagi ketakutan pada Arya Salaka. Ia mencoba untuk menyingkirkan sentuhan-sentuhan pada perasaan anak itu. Sebab ia tahu benar, betapa halusnya perasaan Arya Salaka sebagai seorang anak yang sejak belasan tahun harus sudah berpisah dari ikatan kasih sayang ayah bundanya.
Meskipun demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut mendengar pertanyaan Arya Salaka yang pertama. Ia tidak bertanya tentang kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya sendiri. Ia tidak bertanya, apakah dirinya masih mempunyai kemungkinan untuk kembali ke tanah pusakanya yang telah lama terlepas dari tangannya. Ia tidak bertanya apakah masih ada kemungkinan baginya untuk kembali ke Banyu Biru sebagaimana ayahnya. Tetapi pertanyaan yang pertama-tama diucapkan oleh anak muda itu adalah, ”Paman, tidakkah Paman bertemu dengan Bunda?”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Beberapa saat ia berpandangan saja dengan Kebo Kanigara. Bagaimana ia akan menjawab pertanyaan itu. Memang dalam saat yang gawat, seperti yang dihadapinya pada saat itu, terlupakanlah kepentingan-kepentingan lain, sehingga pada saat itu ia tidak bertanya dan berusaha menemui Nyai Ageng Gajah Sora.
Karena itulah maka ia tidak berceritera tentang orang itu. Arya Salaka yang mendengarkan setiap kata demi kata, menjadi kecewa ketika ceritera Mahesa Jenar itu berakhir tanpa menyebut ibunya, justru ibunya itu bagi Arya Salaka adalah suatu kepentingan yang tak kalah artinya dari segenap kepentingan-kepentingan yang lain.
Akhirnya Mahesa Jenar menjawab, ”Arya, aku minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk berbuat lebih banyak dari yang sudah aku lakukan. Sehingga dengan demikian aku tidak dapat menemui Nyai Ageng Gajah Sora. Tetapi karena kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana tidak mengatakan sesuatu, aku kira ibumu itupun tidak mengalami sesuatu.”
Mendengar jawaban itu Arya Salaka menundukkan wajahnya. Ia benar-benar kecewa. Demikian rindunya ia kepada ibunya, sehingga rasa-rasanya ia meloncat langsung ke Banyu Biru saat itu juga.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menyelami perasaan anak itu sedalam-dalamnya. Mereka merasa juga bahwa Arya telah menyalahkan mereka, kenapa mereka sama sekali tidak ingat kepada orang yang telah melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang.
Maka berkatalah Mahesa Jenar perlahan-lahan dan hati-hati untuk menentramkan hati anak itu, ”Arya, tenangkanlah hatimu. Berbanggalah kau, karena kau telah menjauhkan kepentingan pribadimu, terpisah dari ayah bunda, tetapi dengan menjunjung tinggi pengabdian diri terhadap sesama, terhadap rakyatmu dan terhadap Tuhanmu, sebagai sumber dari pengabdianmu menegakkan kebenaran dan keadilan.”
Arya Salaka masih saja menundukkan wajahnya. Namun kata gurunya itu meresap pula di dalam kalbunya. Akhirnya ia mencoba untuk menghadapi kenyataan itu sebagai seorang laki-laki. Bagaimanapun kerinduan itu bergolak di dalam dadanya, namun ia mencoba untuk menekannya kuat-kuat. Bukankah kepentingan rakyatnya jauh lebih berharga dari kepentingan diri? Seandainya ia kemudian tenggelam dalam duka karena perasaan rindunya kepada bunda, apakah yang akan dapat disumbangkan kepada tanah perdikan Banyu Biru, tanah pusakanya? Karena itu maka kemudian ia mengangkat wajahnya.
Dengan penuh tekad ia berkata, ”Paman, biarlah aku lupakan perasaan rinduku kepada bunda. Lalu apakah yang harus aku kerjakan?”
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bangga.
Katanya, ”Demikianlah putra Ki Ageng Gajah Sora....Tengadahkanlah dadamu, besarkanlah hatimu. Sebab di depanmu ternganga jurang kewajiban yang maha besar. Nah anakku, bersiaplah untuk dapat beberapa hari ini bersama-sama dengan segenap laskarmu, datang ke Banyu Biru.”
Tiba-tiba wajah Arya Salaka jadi berseri. Dengan demikian ia akan bertemu kembali dengan tanah tercinta, dengan sawah ladang kampung halaman, meskipun mungkin harus ditebusnya dengan darah.
Beberapa saat kemudian, berjalanlah Arya Salaka meninggalkan pertemuan itu. Ia tidak tahu, kenapa yang mula-mula dilakukan adalah pergi kepada Endang Widuri dan mengabarkan rencana pamannya itu kepadanya.
”Kita akan bersama-sama ke Banyu Biru?” tanya Endang Widuri yang tiba-tiba menjadi bergembira pula.
”Ya,” jawab Arya Salaka.
”Aku akan dapat melihat rumahmu yang pernah kau ceriterakan kepadaku dahulu di lereng pegunungan Telamaya,” sahut Widuri dengan mata yang berkiliat-kiliat.
”Bukankah begitu?”
”Ya,” jawab Arya Salaka singkat.
”Dari halaman rumahmu dapat kita lihat wajah Rawa Pening yang berkilau...?” Widuri meluruskan.
”Bukan dari halaman rumahku, tetapi dari alun-alun di muka rumahku.”
Arya Salaka membetulkan. ”Ya. Dari alun-alun di muka rumahmu. Jadi rumahmu itu mempunyai alun-alun?” tanya Endang Widuri.
”Hem...” Widuri meneruskan, ”Kalau begitu kau adalah anak seorang yang kaya dan terhormat. Menurut ayahku, di muka istana Demak pun ada alun-alun.”
”Tidak selalu,” potong Arya, ”Ayahku bukanlah orang yang kaya. Tetapi adalah lazim bahwa di muka rumah kepala daerah perdikan terdapat alun-alun. Di Pamingit juga ada alun-alun. Di Pangrantunan, bekas rumah kakek dahulu juga terdapat alun-alun. Bahkan di muka rumah kademangan Paman Sarayuda di Gunungkidul, katanya ada alun-alun juga.”
”Kapan kita berangkat?” Tiba-tiba Endang Widuri bertanya seolah-olah tidak sabar lagi menunggu sampai esok.
ARYA SALAKA menggelengkan kepalanya.
”Entahlah,” jawabnya.
”Sebulan... dua bulan... atau setahun lagi...?” tanya Endang pula.
”Seharusnya Arya Salaka-lah yang paling tidak bersabar.” Tiba-tiba terdengar suara Rara Wilis dari belakang mereka.
Segera mereka itu pun menoleh. Dan tiba-tiba terbersitlah perasaan malu di dalam dada Endang Widuri. Perasan yang selama ini belum pernah dirasakannya. Karena itu pipinya pun kemudian menjadi merah. Tetapi perasaan itu hanya sebentar menjalar di dalam dirinya, kemudian kembali terdengar suaranya renyah, ”Kakang Arya Salaka pun sebenarnya tidak bersabar pula. Tetapi ia tidak mau mengatakannya. Sedang aku menjadi sangat ingin melihat kehidupan bukit Telamaya dan kecerahan wajah Rawa Pening di pagi yang bening.”
Rara Wilis tersenyum. Sebenarnya di dalam hatinya sendiripun tersimpan pula harapan, agar segala sesuatunya menjadi lekas terselesaikan. Sebagai seorang gadis ia lebih mudah tersentuh oleh perasaan rindu kepada keluarga. Kepada hidup kekeluargaan yang lumrah. Meskipun di dalam tubuhnya mengalir juga darah pengembara dari kakeknya, Pandan Alas, namun baginya lebih baik hidup tentram damai dalam pelukan keluarga yang bahagia. Bermain-main dengan anak dan suami serta bergurau dengan tetangga.
Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun ikut duduk bersama dengan Arya dan Endang Widuri. Ikut bercakap-cakap dengan mereka itu, untuk melupakan kerinduannya pada masa yang diimpikan. Namun ia pun sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia harus mengutamakan membantu orang yang dicintainya dalam mengemban kewajiban. Ia harus dapat menekan diri, dalam pergolakan masa kini.
Tetapi agaknya Mahesa Jenar tidak menunda-nunda waktu lebih lama. Ketika matahari pada sore hari itu terbenam, mulailah ia mengumpulkan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru, di gardu pimpinan. Kebo Kanigara, Rara Wilis bahkan Endang Widuri pun hadir pula. Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Jaladri, Sedang Papat, Sendang Parapat, dan beberapa orang lagi.
Dalam kesempatan itu Mahesa Jenar membeberkan segala sesuatu mengenai persoalan yang rumit yang menyangkut diri Arya Salaka. Karena itu ia ingin membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Tetapi tidak dalam rombongan kecil, tetapi mereka bersama-sama akan berangkat, sebagai suatu pernyataan bahwa apabila terpaksa, laskar Banyubiru yang setia itupun memiliki kekuatan yang tak dapat diabaikan.
Dalam keriuhan sambutan yang bergelora, disertai dengan keikhlasan berkorban dari para pemimpin laskar, terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Laskar Banyubiru yang setia, kalian harus ingat akan tujuan kalian. Sekali lagi aku katakan, kita kembali ke Banyubiru tidak akan membalas dendam. Kita datang ke Banyubiru untuk kepentingan kebenaran dan keadilan, untuk kepentingan kemanusiaan. Karena itu jangan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan. Bertentangan dengan perasaan keadilan dan bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan.”
Pertemuan itu menjadi hening. Suatu pertanda bahwa kata-kata Mahesa Jenar itu benar-benar meresap ke dalam dada setiap orang yang mendengarkan.
Kemudian terdengarlah ia melanjutkan, ”Ingatlah bahwa kalian berada dalam satu pimpinan. Jangan berbuat sendiri-sendiri yang dapat merugikan nama baik kalian sebagai pejuang. Nah, sejak besok pagi, bersiagalah untuk setiap saat berangkat ke Banyubiru.”
Laskar Banyubiru yang setia itu menyambut pernyataan Mahesa Jenar dengan penuh tekad. Mereka menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga karena mereka sama sekali tidak mau menerima keadaan yang menyedihkan di tanah mereka. Karena itu ketika mereka mendapat kesempatan untuk kembali ke Banyubiru, mongkoklah hati mereka. Mereka tidak mengharap hal yang berlebih-lebihan. Mereka tidak mengharap untuk kemudian menjadi Demang, Lurah atau Bahu. Tetapi mereka sekedar mengharap pemerintahan yang adil dan jujur, berlandaskan pada sendi-sendi yang telah diletakkan sejak masa pemerintahan Ki Ageng Sora Dipajana.
Sebagai seorang yang patuh kepada agamanya, Ki Ageng Sora Dipajana mendasarkan pemerintahannya kepada ketaatannya, pengagungan dan kebaktiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber tindak tanduk dan tingkah lakunya di dalam menjalankan pemerintahan, cinta kasih kepada sesama, kepada manusia sebagaimana Tuhan menjadikan manusia dengan penuh Cinta kasih, kepada tumpah darah, kampung halaman serta lingkungan yang dikurniakan Tuhan kepada manusia. Mendasarkan pemerintahan pada kepentingan rakyatnya serta mendengarkan dan melaksanakan pendapat mereka untuk kesejahteraan mereka lahir dan batin. Tidak hanya dalam ucapan penghias bibir, tetapi benar-benar dalam pengamalan dan perbuatan.
Sendi-sendi itu pulalah yang kemudian diterapkan dalam pemerintahan Ki Ageng Gajah Sora di Banyubiru. Tetapi sejak masih berada di Pamingit, adiknya Ki Ageng Lembu Sora agaknya sedikit demi sedikit tersesat dari jalan itu. Sedikit demi sedikit ia tenggelam dalam kepentingan diri sendiri, nafsu lahiriah yang kadang-kadang sama sekali bertentangan dengan sendi-sendi dasar yang menurut pengakuannya juga dianutya.
Tetapi apakah artinya pernyataan, pengakuan dan kesediaan yang diteriakkan sampai menyentuh langit, namun dalam tindak tanduk dan tingkah lakunya bertentangan dengan kata-katanya...? Apakah artinya janji yang tidak pernah ditepati...? Apakah artinya pengabdian diri yang hanya berupa pameran lahiriah tanpa satunya kata dan perbuatan...?
Beberapa orang yang pernah mengalami penderitaan lahir batin dapat menjadi saksi. Lapangan-lapangan yang pernah dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan tayub, mabuk-mabukan dan adu jago merupakan saksi-saksi bisu pula. Sedang tempat ibadah yang semakin hari semakin susut dikunjungi orang dapat merupakan saksi-saksi yang tak dapat dibantah. Penganiayaan dan tindak sewenang-wenang betapapun alasannya. Sebab sebenarnya bahwa pelanggaran atas azas-azas kemanusiaan adalah pelanggaran pula dari azas-azas ke-Tuhan-an.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya