Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 159

Sebenarnyalah Karebet, sejak dari Tingkir segera ia pergi ke Banyubiru. Semula ia mengharap bahwa Arya Salaka Telah berhasil kembali ke tanah perdikannya. Namun ternyata ditemuinya tanah itu sedang dicengkram oleh ketegangan. Karena itu, maka untuk sementara ia mencari tempat yang dapat dipakainya untuk menyembunyikan dirinya. Sehingga akhirnya ditemukannya tempat itu. Rumah Ki Buyut Banyubiru, yang baik hati. Ia tinggal di rumah itu bersama-sama dengan beberapa orang murid Ki Lemah Telasih yang lain. Mereka termasuk orang-orang yang lebih mementingkan persoalan-persoalan pengobatan dan ketekunan dalam mencari dan menemukan jenis dedaunan untuk pengobatan daripada olah kanuragan. Disamping itu, Ki Lemah Telasih adalah seorang yang tekun beribadah. Itulah sebabnya Karebet betah tinggal dirumahnya. Ditemuinya persoalan-persoalan dalam hidupnya. Cara-cara pengobatan itu sangat menarik hati anak muda yang aneh itu.

Diperjalanan kembali ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, Kebo Kanigarapun selalu diganggu oleh berbagai pesoalan. Apakah ia akan membiarkan Karebet terbuang dari pergaulan yang telah pernah dicapainya? Kebo Kanigara itupun dapat ikut merasakan kepahitan yang dialami oleh Karebet itu. Kepahitan yang dialami oleh setiap prajurit yang terpaksa disingkirkan dari kedudukannya. Tetapi Kebo Kanigara pun tahu pula, bahwa Baginda masih memiliki kesayangan yang besar kepada anak yang aneh itu.

Meskipun demikian Kebo Kanigara itu pun berkata didalam hatinya, “Biarlah orang-orang tua mencoba membantu menyelesaikan masalah ini.”

Malam itu Kebo Kanigara hampir tak dapat tidur nyenyak. Ia bangun pagi-pagi benar dan tampaklah bahwa perasaannya sedang dibebani oleh persoalan-persoalan yang berat.

Mahesa Jenar yang mengetahui serba sedikit tentang Karebet, segera dapat menduga, bahwa Kebo Kanigara benar-benar sedang dirisaukan oleh kemenakannya yang nakal. Karena itu sebagai seorang sahabat yang dekat, maka Mahesa Jenar menyatakan dirinya untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi oleh Kebo Kanigara itu.

Kebo Kanigara yang masih belum tahu apa yang akan dilakukan itu berkata, “Bukan main. Anak itu telah jauh tenggelam kedalam gelora darah mudanya.”

“Apakah kesalahan yang telah dilakukannya itu terlampau besar, sehingga tidak akan mungkin mendapat pengampunan kakang,” bertanya Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara merenung sejenak. Kemudian desahnya, “Mudah-mudahan. Tetapi waktu yang diperlukan cukup panjang.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Serba sedikit Kebo Kanigara mengatakan juga apa yang pernah didengarnya dari Karebet. Namun tidak seluruhnya. Ada persoalan-persoalan yang tidak dapat di ketahui oleh orang lain. Meskipun orang lain itu adalah Mahesa Jenar sendiri, yang selama ini selalu berbuat bersama-sama, berjuang bersama-sama dan bahkan hidup mati mereka berdua seakan-akan telah dipertaruhkan bersama. Tetapi masalah yang dihadapi oleh Kebo Kanigara sebagian adalah masalah yang berhubungan dengan keluarganya. Berhubungan dengan saluran darah Majapahit yang mengalir ditubuhnya dan ditubuh Karebet, namun juga ditubuh Sultan Tranggana.

Karena ada beberapa persoalan yang tidak dapat dikatakannya kepada Mahesa Jenar, maka Mahesa Jenar pun tidak segera dapat melihat, apa yang dapat dilakukannya untuk membantu memecahkan persoalan itu.

“Mahesa Jenar” berkata Kebo Kanigara kemudian, “Jangan kau ikut serta dirisaukan oleh persoalan-persoalan yang dibuat oleh Karebet. Lupakanlah persoalan itu. Selesaikan persoalanmu yang telah lama kau tunda-tunda. Bukankah waktu itu kini telah datang?”

Mahesa Jenar tersenyum. Segera ia tahu maksud Kebo Kanigara. Karena itu Mahesa Jenar menjawab, “Baiklah kakang. Meskipun demikian apabila pada suatu saat kakang memerlukan aku, maka aku selalu menyiapkan diri untuk itu.”

“Terima kasih, Mahesa Jenar. Pada saatnya aku akan memberitahukannya kepadamu. “Namun dalam pada itu, sesuatu tersimpan didalam hati Kebo Kanigara. Sesuatu yang tidak dapat segera dikatakan kepada Mahesa Jenar, meskipun pada suatu saat pasti akan menyangkut perasaannya. “Hem” gumam Kebo Kanigara didalam hatinya, “Biarlah Mahesa Jenar menikmati masa-masa yang paling baik dalam hidupnya.”

Sejak itu Kebo Kanigara berusaha untuk menghilangkan kesan-kesannya yang menggelisahkan karena pokal kemenakannya. Meskipun beberapa kali ia masih menemui Karebet, tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi kepada Mahesa Jenar.

Dibiarkannya Mahesa Jenar sibuk dengan persoalan sendiri.

Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mendengar dari Kebo Kanigara bahwa Karebet telah pergi ke Karang Tumaritis dan telah kembali ke Banyubiru.

Dalam pada itu, maka Ki Ageng Pandan Alas merasa bahwa ia telah cukup lama berada di Banyubiru. Karena itu maka ia pun minta diri kepada Ki Ageng Gajah Sora, kepada Kebo Kanigara, kepada Mahesa Jenar dan kepada cucunya Rara Wilis.

“Kenapa Ki Ageng tergesa-gesa meninggalkan Banyubiru?” bertanya Gajah Sora.

“Aku sudah cukup lama tinggal di sini angger. Karena itu aku ingin sekali-kali melihat tanah kelahiranku. Aku ingin pulang ke Gunungkidul, menyampaikan kabar yang sebaik-baiknya bagi sanak kadang dan handai taulan di sana. Sudah tentu kami akan mengharap Wilis sekali-kali juga mengunjungi kampung halaman. Dan sudah tentu kami akan mengharap bahwa kami dapat menyaksikan hari yang paling baik bagi hidupnya di kampung halaman sendiri. Apapun yang kemudian akan dilakukan, dan kemana pun kemudian Wilis akan pergi, bukanlah soal bagi kami.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sebenarnya Banyubiru akan sangat berterima kasih kalau kesempatan itu tidak kami terima di sini, sebagai tanah yang telah menerima limpahan pengabdiannya yang tanpa pamrih itu.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Terima kasih. Terima kasih.” sahutnya, “Tetapi biarlah kami pada suatu ketika membawanya dahulu kembali. Kami ingin memperkenalkan angger Mahesa Jenar kepada sanak kadang serta sahabat-sahabat kami.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Ageng, kami akan datang setiap saat. Aku akan bergembira untuk melihat tanah tempat kelahiran Wilis. Dan aku akan bergembira untuk dapat mengenal sanak kadang di tanah itu.”
“Bagus. Biarlah kelak seseorang datang menjemput kalian di sini. Begitu aku sampai di Gunung Kidul, begitu aku minta seseorang menjemput kalian supaya kalian tidak usah mencari-cari jalan. Meskipun seandainya kalian tidak melewati hutan Mentaok, kalian sudah tidak akan bertemu lagi dengan Lawa Ijo, ataupun Pasingsingan yang satu itu. Seandainya demikian pun maka angger Mahesa Jenar sudah pasti tidak akan takut. Dan aku tidak perlu menebang pohon di hutan itu dan kemudian berdendang Dandang Gula.”

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya. Suatu kenangan yang mengesankan. Dihutan itu pula ia pertama-tama bertemu dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Di hutan itu pula ia hampir binasa karena Pasingsingan. Namun didesa itu pula ia diselamatkan oleh Ki Ageng Pandan Alas dengan suara kapaknya dan kemudian disusul dengan tembang Dandang Gula yang melontarkan ciri kehadirannya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Ageng Pandan Alas itu pula. “Sungguh tidak sedap berlagu di tengah-tengah hutan yang lebat. Setiap kali aku membuka mulut, setiap kali beberapa ekor nyamuk masuk bersama-sama. Tetapi aku tidak dapat berhenti sebab dengan demikian aku tidak akan berhasil mencegah Pasingsingan berbuat menurut caranya.”

Kembali Mahesa Jenar mengenangkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Betapa ia hampir menjadi gila karena tiba-tiba Rara Wilis hilang. “Hem” desahnya di dalam hati. Sebuah tarikan nafas yang panjang telah menggerakkan dadanya.

Ki Ageng Pandan Alas melihat perasaan yang melintas di hati Mahesa Jenar. Karena itu ia tersenyum. Namun ketika ia menatap wajah Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas itu mengerutkan keningnya. Tampaklah mata gadis itu berkilat-kilat. Selapis air telah membasahi pelupuk matanya. Karena itu maka orang tua yang jenaka itu tidak lagi berkata tentang masa-masa lampau. Katanya kemudian, “Kalau aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian, maka aku hanya ingin supaya kalian tidak usah mencari jalan. Aku tidak yakin apakah Rara Wilis masih dapat mengingat jalan itu dengan baik, atau apakah kalian akan dapat mencari jalan dalam waktu singkat. Perjalanan kalian kali ini adalah perjalanan yang jauh berbeda dengan setiap perjalanan yang pernah kalian tempuh. Kalian dapat berjalan menyusup hutan belantara mencari sesuatu yang belum pasti tempat dan keadaannya. Sedang Gunungkidul adalah suatu daerah yang tidak akan dapat berpindah-pindah. Namun akan lebih baik bagi kalian, apabila kalian tidak usah bersusah payah untuk mencari jalan itu sendiri.”

“Terima kasih, Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar, “Kami akan menunggu dengan senang hati.”

Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Tersenyum karena ia melihat masa depan satu-satunya cucunya menjadi cerah, secerah matahari pagi.

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang pejalan. Ia dapat berjalan ke mana saja ia kehendaki. Namun perjalanannya ini terasa sangat lambatnya. Ia ingin segera ke Gunungkidul dan menyuruh beberapa orang untuk menjemput cucunya. Sengaja ia tidak membawa cucunya itu berjalan bersama-sama, karena ia ingin menghormati cucunya serta bakal suaminya dengan suatu jemputan yang cukup baik. Ia sendiri tidak memiliki apapun di Gunungkidul. Namun muridnya yang sekarang sudah menjadi Demang, pasti akan mau membantunya. (Bersambung)-k

SEPENINGGALAN Ki Ageng Pandan Alas, maka timbullah beberapa keragu-raguan dihati Mahesa Jenar. Kalau ia harus menetap di Gunungkidul, maka persoalannya menjadi agak sulit baginya. Selama ini Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten belum kembali ke Demak. Meskipun ia percaya sepenuhnya kepada Panembahan Ismaya, namun tanpa diketahui sebabnya ia selalu ingin tinggal didekatnya untuk sementara sebelum keris-keris itu kembali. Tetapi ia sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan Ki Ageng Pandan Alas. Ia tahu bahwa Rara Wilis menjadi bergembira karenanya. Gembira bahwa ia akan segera melihat kampung halaman, dan bergembira bahwa ia akan dapat berada didalam lingkungannya semasa kanak-kanak.

Tetapi Rara Wilis pun pernah berkata kepadanya, bahwa ia mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan ialah yang menentukan.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mau mengecewakan Rara Wilis. Nanti apabila sampai saatnya persoalan itu dapat dibicarakannya dengan baik. Dan ia yakin bahwa Wilispun pasti akan dapat mengertinya.

Demikianlah maka mereka menunggu di Banyubiru.

Selama itu banyaklah yang sudah mereka kerjakan diantara rakyat Banyubiru, membangun tanah perdikan itu. Memperbaiki tanggul yang telah dijebol oleh Arya Salaka dan memperbaiki jalur-jalur saluran air dan menanami kembali lereng bukit yang gundul karena api yang dinyalakan oleh Jaka Soka.

Tak ada seorang pun yang sempat duduk bertopang dagu. Arya Salaka telah bekerja mati-matian untuk tanah yang dibelanja selama ini. Bahkan Endang Widuri pun dengan gembiranya ikut membantunya. Ia telah hampir lupa kepada padepokan Karang Tumaritis, dan ia kerasan tinggal di Banyubiru.

Kebo Kanigara yang semula sudah siap kembali ke Karang Tumaritis, tiba-tiba terhambat juga oleh kemenakannya. Ada sesuatu yang masih harus diselesaikan di Banyubiru karena kehadiran Karebet. Sehingga karena itu, maka ia pun menunda keberangkatannya. Tentu saja Widuri menjadi sangat bergembira karenanya. Ia lebih senang tinggal di Banyubiru. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa ayahnya selama ini telah disibukkan oleh saudara sepupunya, Karebet. Bahkan ia tidak menyadari pula, bahwa keadaan itu bukan sekedar kesibukan-kesibukan pikiran dan perasaan. Namun karena Kebo Kanigara sudah bertekad untuk membantu kemenakannya itu kembali ke Istana, maka akan banyaklah persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Tetapi Kebo Kanigara tidak mau menyulitkan orang lain. Karena itu semuanya disimpan didalam dadanya. Hanya sekali-kali ia menyuruh Karebet pergi ke Karang Tumaritis, minta nasehat dan pertimbangan Panembahan Ismaya dan memberitahukan kepada Panembahan itu bahwa Kebo Kanigara menjadi agak lambat lagi.

Dengan demikian, meskipun mereka bersama-sama masih tetap tinggal di Banyubiru, dan meskipun mereka tampaknya dalam kesibukan yang sama sehari-harinya, namun didalam hati mereka, mereka mempunyai alasan yang berbeda-beda.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis sekedar menunggu jemputan dari Gunungkidul, Endang Widuri karena sesuatu telah mengikatnya di Banyubiru, sesuatu yang tidak dapat dikatakan, sedang Kebo Kanigara terikat oleh kemenakannya dengan segenap persoalannya.

Demikianlah pada suatu hari, Banyubiru diributkan oleh kedatangan sebuah rombongan orang-orang berkuda. Rombongan itu berpacu dari arah Barat. Bukan hanya sekedar sepuluh orang, namun lebih banyak lagi. Suara derap kakinya menggeletar, memecah kesepian tanah yang damai itu.

Seseorang yang sedang bekerja disawah melihat rombongan itu merayap-rayap menyelusur jalan-jalan dilembah, mendaki Bukit Telamaya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Rombongan itu sama sekali bukan rombongan dari Pamingit. Dipaling depan tampaklah seorang dalam pakaian yang mewah, beludru berkilat-kilat. Sebuah pedang panjang tersangkut dilambungnya. Pedang dengan sebuah wrangka yang putih berkilau. Pedang yang jarang-jarang dimiliki oleh orang biasa.

Orang itu sama sekali bukan Ki Ageng Lembu Sora. Dan para pengiringnya sama sekali bukan orang Pamingit.

Petani itu berpikir didalam hatinya. Masih terbayang apa saja yang telah terjadi beberapa waktu yang lampau. Terbayangllah laskar-laskar dari golongan hitam yang bersama-sama menyerang Banyubiru, kemudian terbayang pula kekacauan yang timbul didaerah perdikan itu setelah laskar Pamingit mendudukinya.

Tetapi petani itu tidak tahu, apa yang akan dilakukan untuk mengetahui siapakah para pendatang itu. Karena itu maka segera ia berlari pulang, dan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada anaknya.

“Bapak melihat rombongan itu sebenarnya?”

“Ya, aku melihat dan mataku masih cukup baik.”

Anaknya yang sudah cukup dewasa berpikir sejenak. Kemudian katanya kepada ayahnya, “Biarlah aku sampaikan kepada kakang Bantaran.”

Anaknya tidak menunggu jawaban ayahnya. Cepat-cepat ia berlari kekandang, melepaskan kudanya dan dipacunya kerumah Bantaran.
Mendengar laporan itu, Bantaran mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah tidak ada tanda-tanda pada mereka itu?”

“Aku tidak tahu”, jawab anak muda itu.

“Marilah ikut aku”, sahut Bantaran.

Keduanya kemudian memacu kuda mereka, mendaki tebing yang menghadap ke Barat. Sebenarnyalah, mereka melihat serombongan orang-orang berkuda sudah semakin dekat. Serombongan orang-orang berkuda yang lengkap dengan senjata-senjata mereka. (Bersambung)-b

“Dua puluh orang kira-kira”, gumam Bantaran.

“Apakah maksud mereka?” bertanya anak petani itu.

Bantaran menggelang. Jawabnya, “Apapun maksud mereka, tetapi mereka aku kira tidak akan berbuat kerusuhan disini. Mereka datang disiang hari, lewat jalan yang sewajarnya dan hanya dua puluh orang. Meskipun demikian, datanglah ke gardu penjagaan pertama. Beritahukan bahwa ada serombongan orang berkuda akan lewat. Sebentar lagi aku akan datang ke gardu itu.”

Anak petani itu tidak menjawab. Segera ia melarikan kudanya ke gardu pertama memberitahukan apa yang telah dilihatnya.
Pemimpin gardu itu menghela nafasnya. Kemudian kata-katanya, “Kedatangan kakang Bantaran kami tunggu.”

Anak petani itupun kemudian kembali ke tempat Bantaran mengawasi orang-orang berkuda itu. Mereka sudah tampak lebih jelas lagi. Tetapi karena jalan melingkar-lingkar, maka jarak yang harus dilaluinya masih cukup panjang.

Kemudian Bantaran itupun berkata kepada anak petani itu. “Kembalilah, sampaikan pesan ini kepada kakang Penjawi, bahwa berita tentang kedatangan orang-orang berkuda itu supaya dilaporkan kepada paman Wanamerta.”

Sepeninggalan anak petani itu, segera Bantaran pergi ke gardu pertama. Gardu yang masih ditempati oleh beberapa orang penjaga. Meskipun Banyubiru seakan-akan sudah tenang, namun peperangan yang baru saja terjadi masih mengharuskan mereka berhati-hati.

Di gardu penjagaan itu, Bantaran melihat beberapa orang telah bersiaga. Namun kemudian Bantaran berkata “Jangan terlalu berprasangka. Orang-orang itu pasti tidak akan berbuat jahat.”

Meskipun demikian, beberapa orang di gardu itu telah menggantungkan pedang-pedang mereka dilambung, dan yang lain menyandarkan tombak-tombak mereka disamping mereka berdiri.

Sesaat kemudian gemeretak kaki kuda itu telah terdengar. “Ha, itulah mereka” gumam Bantaran.

Tetapi mereka masih menunggu cukup lama. Jalan yang melingkar dan berbelit-belit itu agaknya telah memperpanjang jarak perjalanan orang-orang berkuda itu.
Meskipun demikian, akhirnya muncullah dari tikungan beberapa orang berkuda. Sebenarnyalah bahwa yang paling depan dari mereka adalah seorang yang berpakaian sangat bagus. Baju beludru, kain lurik yang berwarna kemerah-merahan. Sebuah pedang yang bagus berjuntai disisi kudanya.

Orang itu terkejut ketika dilihatnya beberapa orang yang berdiri dipinggir jalan berseberangan. Segera orang itu menyadari, bahwa kedatangannya telah mengejutkan beberapa orang penjaga. Karena itu maka segera orang-orang berkuda itu memperlambat kuda-kuda mereka, dan berhenti beberapa langkah dari Bantaran.

Wanamerta yang telah mendengar laporan Penjawi, menjadi gelisah juga. Segera ia pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, dan memberitahukan tentang apa yang didengarnya dari Penjawi. Namun seperti apa yang didengarnya, maka katanya, “Tetapi menurut Bantaran, orang-orang itu pasti tidak akan berbuat huru-hara disini, sebab mereka hanya kira-kira duapuluh orang.”

Meskipun demikian berita itu telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati mereka yang sedang duduk dipendapa itu. Ki Ageng dan Nyai Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka dan Endang Widuri. Mereka mencoba menerka, siapakah kira-kira yang datang dalam rombongan itu. Namun mereka tidak dapat menemukan jawaban.

Kemudian terdengar Ki Ageng Gajah Sora bertanya, “Dimanakah Penjawi sekarang?”

“Penjawi sedang pergi menyusul Bantaran. Anak itu tidak dapat membiarkan seandainya orang-orang itu berbuat sesuatu. Namun mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.”

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dan sebelum mereka dapat berbuat apapun, maka terdengarlah seseorang penjaga berkata “Sebuah rombongan berkuda.”

Salah seorang dari mereka segera memberitahukannya kepada Ki Ageng Gajah Sora, dan sambil mengangguk-angguk Ki Ageng berkata, “Baik. Kembalilah ketempatmu.”
Orang itu pun segera berjalan ke gardunya, sedang beberapa orang yang lain, segera berdiri pula sambil berjaga-jaga.

Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wilis,Arya Salaka dan Endang Widuri segera turun ke halaman. Mereka berusaha menjemput orang-orang berkuda itu sebelum mereka memasuki regol halaman.

Tetapi langkah mereka segera tertegun. Yang mula-mula masuk ke halaman justru adalah Bantaran dan Penjawi. Karena itu maka Ki Ageng Gajah Sora itu segera bertanya. “Siapakah mereka?”

Sebelum Bantaran menjawab, maka muncullah orang yang pertama. Seorang yang gagah tampan dengan baju beludru dan sebuah pedang yang indah di lambungnya. Demikian orang itu melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera ia berseru. “Mahesa Jenar, aku datang menjemputmu.”

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Endang Widuri terkejut melihat orang itu. Lebih-lebih adalah Rara Wilis. Karena itu sesaat mereka diam mematung. Sehingga terdengar kembali orang itu berkata. “Apakah kau lupa kepadaku?”

Mahesa Jenar seakan-akan tersadar dari mimpinya yang aneh. Karena cepat-cepat ia menjawab. “Tidak. Aku tidak melupakan kau, Sarayuda.”

Sarayuda, orang yang baru datang itu tertawa, wajahnya cerah secerah warna pakaiannya. Sambil meloncat turun dari kudanya ia berkata. “Aku datang atas perintah Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput kalian berdua.”

Wajah Rara Wilis segera menjadi kemerah-merahan. Ia tidak dapat melupakan, apakah yang telah terjadi antara mereka bertiga, Mahesa Jenar, Sarayuda dan dirinya. Karena itu, maka segera ditundukkannya wajahnya dalam-dalam.

Yang menjawab kemudian adalah Mahesa Jenar, “Terima kasih Sarayuda. Tetapi marilah, perkenalkanlah dahulu dengan Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, Ki Ageng Gajah Sora.”

Sarayuda tersadar akan kehadirannya di Banyubiru. Karena itu maka segera ia berkata. “O, maafkan. Aku terlalu bernafsu untuk menyampaikan maksud kedatanganku, sehingga aku lupa suba-sita.”

“Marilah Ki Sanak”, Ki Ageng Gajah Sora mempersilakan, “Marilah, aku mempersilakan kalian untuk naik kependapa.”

Maka seluruh rombongan itu pun kemudian memperkenalkan diri. Sarayuda adalah Demang yang kaya raya, yang menguasai suatu daerah yang luas di daerah Pegunungan Kidul. Sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang Kepala Daerah Tanah Perdikan yang kuat dan subur dilereng bukit Telamaya. Keduanya adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas wilayahnya dan akan rakyatnya. Karena itu, maka segera mereka dapat menyesuaikan dirinya dalam perkenalan yang akrab, meskipun ada beberapa perbedaan sifat diantara mereka. Sarayuda adalah seorang yang menyadari kekayaannya, meskipun tidak berlebih-lebihan, sehingga caranya berpakaian pun telah menunjukkan keadaannya, sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang yang sederhana.

Segera pembicaraan mereka berkisar kepada maksud kedatangan Sarayuda. Berkata Demang itu kemudian, “Kakang Gajah Sora, kedatanganku kemari adalah karena perintah guruku, Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Setiap orang di Gunungkidul telah mendengar berita itu. Berita tentang akan kehadiran Rangga Tohjaya didaerah mereka. Karena itu, maka Gunungkidul sedang dihinggapi oleh perasaan yang melonjak-lonjak, mengharap agar orang yang ditunggu-tunggu itu segera datang. Rara Wilis adalah seorang gadis yang cukup mereka kenal, karena daerah itu adalah daerah masa kanak-kanaknya. Banyak kawan-kawannya bermain ingin melihat mereka, seorang anak gadis dari daerah mereka yang pernah memakai nama Pudak Wangi dan telah berhasil membinasakan seorang perempuan yang dahulu pernah menggemparkan daerah itu, yang kemudian bernama Nyai Sima Rodra.

Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu, sedang Rara Wilis semakin menundukkan wajahnya. Pipinya menjadi kemerah-merahan dan karena itulah maka sepatah kata pun dapat diucapkan. Widuri yang mendengar kata-kata itu dengan seksama, tersenyum-senyum kecil. Dengan nakalnya ia berkata. “Ah. Apakah paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu paman Demang Sarayuda?”

“Ya tentu” jawab Sarayuda, “Aku dan rakyatku akan menyambutnya.”

“Bukan main. Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu Agung.” sahut Widuri. “Apakah aku boleh ikut serta?”

“Tentu” jawab Sarayuda. “Aku dan setiap orang yang hadir di dalam pendapa ini untuk pergi ke Gunungkidul. Menyaksikan bukit-bukit gundul dan bukit-bukit kapur diantara lembah-lembah hijau. Sangat berbeda dengan pemandangan di Bukit Telamaya ini.”

Wajah Endang Widuri itu pun kemudian menjadi cerah. Dengan serta merta ia berkata, “Bagus sekali. Aku akan ikut dengan Bibi Wilis. Boleh bukan bibi?”

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya