Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 160

Rara Wilis tidak segera dapat menjawab. Sekali dipandangnya wajah Kebo Kanigara. Ia tidak dapat berkata apapun tentang gadis itu sebelum ayahnya memberikan persetujuan.

Widuri melihat keragu-raguan Rara Wilis. Karena itu segera ia berkata kepada ayahnya. “Ayah, bukankah kita akan ikut ke Gunungkidul.
Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan. “Sayang Widuri kita tidak dapat ikut serta.”

Kecerahan wajah Widuri segera larut, seperti bulan disaput awan yang sedemikian kelam. “Kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus kita kerjakan disini.”

“Apakah yang harus dikerjakan?”

Aku Widuri. Aku mempunyai banyak pekerjaan di sini. Dan agaknya kita telah terlalu lama tidak kembali ke Karang Tumaritis.
“Aku tidak mau. Aku tidak mau.” berkata Widuri itu.

Kebo Kanigara tersenyum. Kemudian kepada Sarayuda itu berkata. “Sayang adi. Sungguh sayang. Sebenarnya aku juga ingin mengantarkan Widuri ikut serta mengunjungi daerah adi. Namun ternyata ada persoalan-persoalan yang harus aku selesaikan. Dan aku harus segera kembali ke Karang Tumaritis.”

Sarayuda menarik nafas. “Ya sayang.”

Yang menyahut kemudian adalah Endang Widuri, “Kalau ayah mempunyai pekerjaan di sini atau di Karang Tumaritis, biarlah aku ikut bersama Bibi Wilis. Nanti kalau ayah sudah selesai, biarlah ayah menjemput aku.”

Kebo Kanigara itu tersenyum pula. Namun senyumnya membayangkan sesuatu yang tak dapat diraba. Katanya, “Tidak Widuri. Jangan pergi sekarang. Besok apabila sampai waktunya, biarlah kau aku antarkan kesana. Kalau sampai saatnya Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan mengarungi hidup baru mereka.”
“Emoh” seru gadis itu. “Aku akan pergi bersama bibi Wilis.”

“Bukankah sama saja bagimu Widuri”, berkata ayahnya. “Besok atau sekarang.”

“Tidak” sahut Widuri. “Aku ingin melihat, bagaimana rakyat Gunungkidul menyambut paman Mahesa Jenar.”

“Tetapi kau tidak akan melihat, bagaimana pamanmu dan bibi Wilis dipersandingan.”

“Biar. Aku akan ikut bersama bibi Wilis.”



Rara Wilis menjadi iba melihat Endang Widuri. Tetapi ia tidak berani berkata apapun. Itu sepenuhnya adalah wewenang ayahnya. Karena itu, Rara Wilis hanya dapat memandangnya dengan senyum yang hambar.

Sarayuda agaknya dapat menempatkan dirinya. Ia tidak mau mengecewakan Kebo Kanigara. Maka katanya, “Begitulah angger Wilis. Seperti kata ayah angger itu. Biarlah besok aku menyuruh beberapa orang menjemput ke mari apabila sudah tiba waktunya. Kalau angger sudah kembali ke Karang Tumaritis, biarlah kelak di jemput pula ke sana. Bukankah begitu? Kelak angger bisa pergi bersama ayah.”

Widuri kemudian menjadi bersungut-sungut. Bahkan tampaklah matanya menjadi basah. Ia menjadi sangat kecewa. Katanya kemudian, “Aku tidak mau dijemput oleh sembarang orang.”

Demang Sarayuda tersenyum. Jawabnya, “Baiklah, besok aku sendiri akan menjemput angger. Begitu?”

Widuri tidak menjawab. Namun tiba-tiba ia berdiri dan berlari masuk ke dalam biliknya. Alangkah kecewa hatinya, bahwa ia tidak dapat turut serta dengan Rara Wilis. Meskipun mereka berdua bukan sanak bukan kadang, namun perpisahan di antara mereka benar-benar tidak menyenangkan. Pergaulan mereka yang ditandai dengan berbagai kesulitan, benar-benar telah mengikat mereka dalam suatu ikatan yang sangat erat. Tidak saja Widuri yang menjadi sedih akan perpisahan itu, tetapi Rara Wilis pun merasakan, bahwa ia akan menjadi kesepian tanpa gadis yang nakal itu.

Tetapi Kebo Kanigara benar-benar berhalangan untuk turut serta pergi ke Gunungkidul. Masih ada suatu pekerjaan yang mengikatnya di Banyubiru. Pekerjaan yang ditimbulkan oleh kemenakannya yang nakal.

MAHESA Jenar pun menjadi kecewa. Tetapi ia dapat mengerti keberatan Kebo Kanigara. Meskipun demikian Mahesa Jenar itu berkata, “Kakang. Sebenarnya aku sangat mengharap kakang untuk ikut serta bersama kami.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya katanya. “Aku juga menyesal sekali Mahesa Jenar. Tetapi barangkali kau dapat mengerti apa yang akan aku lakukan. Karena itu biarlah lain kali aku menyusul ke Gunungkidul bersama Widuri.”

Sesaat mereka pun berdiam diri. Arya Salaka menundukkan kepalanya. Semula ia ingin juga turut pergi ke Gunungkidul mengantarkan gurunya. Tetapi ketika ia mengetahui, bahwa Endang Widuri tidak diperbolehkan oleh ayahnya ikut dalam rombongan itu, maka ia menjadi bimbang. Keinginannya untuk turut pun terlalu besar, namun terasa sesuatu yang menahannya untuk tinggal di rumah. Karena itu, anak muda itu bahkan menjadi bingung. Sehingga akhirnya Arya pun hanya berdiam diri saja.

“Ah, terserah apa yang akan aku lakukan nanti,” desisnya di dalam hati. “Kalau tiba-tiba aku ingin berangkat biarlah aku berangkat. Kalau aku ingin tinggal, biarlah aku tinggal.”

“Tetapi”, berkata pula hatinya. “Bagaimana kalau guru mengajakku?”

“Entahlah”, jawabnya sendiri di dalam hati.

Malam itu Sarayuda dan para pengiringnya bermalam di rumah itu pula. Karena tempatnya yang terbatas, maka para tamu itu dipersilakan tidur di pendapa, di atas tikar pandan yang dirangkap supaya tidak terlalu dingin.

Dalam pada itu Mahesa Jenar dan Rara Wilis pun segera mempersiapkan dirinya. Tetapi tidak banyaklah yang mereka punyai. Mereka tidak sempat berbuat untuk diri mereka sendiri selama ini. Karena itu, apa yang dimilikinya pun hampir tidak ada. Hanya beberapa lembar pakaian yang sudah lungset tanpa perhiasan apapun bagi Mahesa Jenar hal itu hampir tak berpengaruh pada perasaannya.

Tetapi bagi Rara Wilis, terasa sekali alangkah miskinnya. Ia sama sekali tidak memiliki perhiasan apapun sebagai seorang gadis. Bahkan yang dimilikinya adalah sebilah pedang. Pedang tipis yang telah dikotori dengan darah.

Mahesa Jenar terkejut ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Rara Wilis menjadi suram. Karena itu dengan dada yang berdebar-debar mencoba bertanya. “Wilis. Adakah sesuatu yang mengganggu perasaanmu?”

Rara Wilis terkejut mendengar pertanyaan itu. Segera dicobanya untuk menguasai perasaannya. Dengan sebuah senyuman yang dipaksakan ia menjawab, “Kenapa? Aku tidak apa-apa kakang. Aku sedang berpikir tentang hari-hari yang akan datang.”

“Oh” Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah. Namun ketika dilihatnya sekali lagi Rara Wilis merenungi kainnya yang hampir-hampir sudah kehilangan warnanya, maka hatinya pun berdesir.

“Hem “ desahnya di dalam hati. “Ternyata aku tidak menyadari, bahwa tekanan perasaan Wilis sudah terlampau padat. Agaknya dalam ketegangan kewajiban yang aku hadari, gadis itu tidak sempat memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Namun dalam kesempatan seperti ini, barulah disadarinya perasaan itu. Perasaan seorang gadis.”

Tetapi Mahesa Jenar tidak berkata apapun. Ia masih belum tahu, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan yang wajar bagi sebuah keluarga. Apapun yang dilakukannya, maka apabila sampai saatnya, maka hal itu tidak akan mungkin dapat diabaikan.Ia tidak dapat membutakan matanya, seandainya pada suatu saat ia dikejar-kejar oleh keperluan-keperluan tetek bengek itu. “Itu merupakan suatu kewajiban”, desahnya.

Mahesa Jenar itu pun kemudian berjalan keluar bilik Rara Wilis, dan ke halaman. Dilihatnya beberapa orang sudah berbaring-baring di pendapa, sedang beberapa orang lagi masih duduk-duduk di antara mereka. Bahkan ada juga yang masih berjalan-jalan di luar regol halaman.

Ketika Mahesa Jenar pergi keluar regol pula, maka orang-orang dari Gunungkidul itu bertanya-tanya tentang beberapa hal kepadanya.

“Tanah ini cukup subur” berkata salah seorang dari mereka, “Tanah yang akan memberikan apa saja yang diharapkan oleh penggarapnya.

“Demikianlah” sahut Mahesa Jenar, “Tanah yang telah dipertahankan dengan banyak pengorbanan.”

Tamu dari Gunungkidul itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Tanah kami adalah tanah yang bercampur-baur. Ada yang subur sesubur tanah ini. Ada yang menggantungkan airnya dari air hujan melulu. Bahkan ada yang hanya dapat dijadikan padang-padang rumput untuk peternakan. Bahkan ada yang batu melulu.”

Mahesa Jenar mengangguk lemah. Tanah ini adalah tanah yang subur, yang telah dipertahankan dengan darah dan air mata. Dirinya sendiri pun telah ikut serta memeras keringat untuk kepentingan tanah ini. Tanah yang subur, yang akan dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan penduduknya. Bahkan siapa yang bekerja keras, pasti akan dapat segera menikmati hasil dari jerih payahnya itu. (Bersambung)-k

“Tetapi aku tidak dapat ikut serta” desis Mahesa Jenar didalam hati.

Timbullah didalam hatinya sesuatu yang tak pernah dipikirkannya. Kalau ia nanti akan membangun rumah tangga yang kuat, maka ia harus membuat tiang-tiangnya kuat pula. Diantaranya, bagaimana ia harus hidup sekeluarganya. Karena itu, maka sampailah Mahesa Jenar pada suatu kesimpulan. “Bekerja”.

“Ah” kembali ia berdesah di dalam hati, “Akhirnya aku sampai pada persoalan itu. Persoalan yang sangat pribadi. Persoalan yang hampir tak ada sangkut pautnya dengan pengabdian yang selama ini dilakukannya. Tetapi apakah dengan demikian maka segenap pengabdian harus terhenti?”

"Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Aku akan dapat dan harus dapat melakukan kedua-duanya sekaligus. Mudah-mudahan Wilis akan dapat mengerti pula.”

Tiba-tiba teringatlah Mahesa Jenar itu kepada masa-masa lampaunya, masa-masa ia tinggal di istana Demak sebagai seorang prajurit. Dikenangnya pula beberapa orang kawan-kawannya yang pada saat itu telah berkeluarga pula. Katanya didalam hati, “Mereka dapat melakukan kedua-duanya. Pengabdian dan keluarga.”

“Tetapi tidak hanya didalam istana, atau didalam bidang-bidang itu kedua-duanya dapat dilakukannya sekaligus”, katanya pula.

“Disini, aku lihat rakyat Banyubiru melakukannya pula. Bekerja untuk keluarganya, namun mereka melakukan pengabdiannya untuk tanahnya. Membangun tanah ini. Tempat-tempat ibadah, banjar-banjar desa dan surau-surau tempat pendidikan lahir dan batin. Bekerja keras untuk kesejahteraan keluarganya dan kesejahteraan bersama.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu teringat pada ceritera Wanamerta tentang seorang bahu yang pernah mencoba menyuapnya dengan timang emas bertretes berlian. “Bukan itu”, desah Mahesa Jenar di dalam hatinya, “Bukan seperti bahu itu. Ia bekerja untuk diri sendiri, tetapi bukan untuk sebuah pengabdian . Justru ia menghisap hidup disekitarnya untuk kepentingannya. Dibiarkannya orang-orang disekitarnya kering, namun dirinya sendiri menimbun kekayaan tanpa batas.”

Namun bagaimana pun juga, Mahesa Jenar dihadapkan pada suatu kewajiban yang baru. Kuwajiban atas sebuah keluarga yang bakal disusunnya. Kuwajiban yang tidak kalah sucinya dari kuwajiban yang telah dilakukannya selama ini. Sebab dengan keluarga yang baik Yang Maha Esa telah mempergunakan untuk menangkar-lipatkan jumlah manusia di dunia untuk memelihara dan memanfaatkan ciptaan-Nya dengan baik.

Demikianlah, rombongan Sarayuda itu tinggal di Banyubiru untuk dua hari lamanya. Selama itu mereka telah melihat-lihat Banyubiru dengan baik. Apa yang dapat dilakukan di daerah Demang yang kaya raya itu, telah mereka pelajari, sedang apa yang baik bagi Banyubiru telah disarankannya pula.

Sehingga sampailah pada saatnya mereka meninggalkan Banyubiru. Dua hari kemudian, maka bersiaplah rombongan itu meninggalkan Banyubiru beserta Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Ki Ageng Gajah Sora dengan menyesal tak dapat ikut serta bersama mereka pergi ke Gunungkidul karena keadaan daerahnya yang masih harus mendapat pengawasannya. Kebo Kanigara terikat pada suatu kuwajiban yang tak dapat ditinggalkannya pula. Sedang Endang Widuri dengan penuh penyesalan terpaksa tidak dapat mengikuti Rara Wilis ke Gunungkidul. Pada saat-saat terakhir itu pun kemudian Arya Salaka memutuskan untuk tidak turut bersama gurunya, meskipun ada juga keinginan yang melonjak-lonjak.

Dalam kesempatan itu Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Lembu Sora pun telah memerlukan datang ke Banyubiru untuk menyampaikan ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar. Orang yang aneh didalam tanggapannya. Orang yang hampir tak dapat dimengertinya, apakah yang telah menjadikannya seorang yang memiliki jiwa pengabdian yang sedemikian besarnya.

Sebelum matahari sepenggalah, maka rombongan itu telah bersiap untuk berangkat. Ternyata Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak hanya memerlukan dua ekor kuda untuk mereka. Seekor kuda yang lain, tanpa sepengetahuan mereka telah dipisahkan oleh Ki Ageng Gajah Sora. Dipunggung kuda itu terdapat sebuah beban yang tak diketahui isinya. Beban yang telah diatur oleh Nyi Ageng Gajah Sora bersama Nyi Ageng Lembu Sora.

Terharu juga Mahesa Jenar melihat kuda yang seekor itu tentu saja ia tidak dapat menolak untuk tidak menyakiti hati Ki Ageng Gajah Sora kakak beradik. Perpisahan itu merupakan perpisahan yang mengharukan. Meskipun mereka tahu, bahwa suatu ketika Mahesa Jenar akan kembali pula, namun seakan-akan mereka bertemu pada saat itu untuk terakhir kalinya. Apalagi Endang Widuri. Ketika kemudian Sarayuda minta diri dengan serta merta gadis itu berlari menghambur memeluk Rara Wilis.

Sambil menangis Widuri berkata, “Bibi, jangan pergi terlalu lama.”

Rara Wilis pun seorang gadis pula. Karena itu maka ia pun tidak dapat menahan air matanya. Apalagi ketika dilihatnya Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora pun menjadi berlinang-linang. Teringat pula oleh mereka berdua, pada saat-saat mereka berhadapan dengan Galunggung yang sedang dihinggapi oleh kegilaannya tentang pangkat dan kekayaan, sehingga hampir saja mereka berdua dibunuhnya. Untunglah pada saat itu Rara Wilis hadir diantara mereka, sehingga sebenarnyalah gadis itulah yang telah menyambung umurnya.

“Widuri” berkata Rara Wilis itu kemudian. “Perpisahan ini tidak akan terlalu lama. Bukankah kau segera akan menyusul kami ke Gunungkidul?”

Endang Widuri mengangguk perlahan. Dipalingkannya wajahnya kepada ayahnya seakan-akan ia minta ketegasan daripadanya.

Sebenarnya Kebo Kanigara merasa kasihan juga kepada putrinya itu. Tetapi terpaksa ia tidak dapat mengijinkannya, karena ia sendiri tidak dapat pergi.

Anak itu adalah anak yang sangat nakal, sehingga betapapun juga, maka Kebo Kanigara itu tidak sampai hati melepaskannya tanpa pengawasannya. Apalagi nanti Mahesa Jenar dan Rara Wilis sedang disibukkan oleh persoalan mereka sendiri, maka Widuri akan sangat mengganggu mereka, dan kadang-kadang pasti akan lepas dari pengawasan. Karena itu, betapa pun juga, maka Kebo Kanigara berusaha untuk tetap melarang anaknya ikut serta.

Ketika anaknya itu berpaling kepadanya, maka katanya, "Ya Widuri. Segera kita akan menyusul ke Gunungkidul. Kemarin aku sudah mendapat ancar-ancar, kemana kita nanti harus pergi. Jalan mana yang harus kita tempuh, dari pamanmu Sarayuda. Kalau kau bersabar sedikit bukankah pamanmu Sarayuda bersedia untuk menjemputmu?"

Akhirnya Rara Wilis itupun dilepaskannya juga, meskipun tangisnya mash saja menyesakkan dadanya, sementara Mahesa Jenar menepuk punggung muridnya. "Kau sudah menjelang dewasa penuh Arya. Sudah seharusnya kau menyadari keadaanmu itu. Bekerja keras membantu ayahmu. Tak ada orang lain yang diharapkannya selain daripadamu."

Arya mengangguk sambil menjawab, "Ya paman".

Maka kemudian sampailah saatnya rombongan itu berangkat. Perpisahan yang mengesankan.

Rara Wilis masih melihat Endang Widuri berlari masuk ke gandok kulon, sedang kemudian Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menyusulnya. Sebuah salam yang erat sebagai tanda terima kasih yang tak ada batasnya, telah diberikan oleh Mahesa Jenar langsung, namun lebih daripada itu, Mahesa Jenar telah membentuk Arya Salaka menjadi harapan bagi masa datang.

Satu demi satu, maka kemudian keluarlah mereka dari halaman di atas punggung kuda masing-masing. Bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis perjalanan yang akan ditempuh itu terasa aneh. Perjalanan yang jauh berbeda dengan semua perjalanan yang pernah mereka lakukan. Kalau pada masa lampau mereka berjalan dengan penuh keprihatinan, maka perjalanan kali ini adalah perjalanan menunju ke hari-hari yang cerah. Namun karena itulah maka dada mereka menjadi berdebar-debar.

Setelah mereka meninggalkan halaman itu maka mulailah kuda mereka berjalan agak cepat. Beberapa orang melihat rombongan itu menganggukkan kepala mereka. Mereka memberikan hormat setulus-tulusnya kepada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Bahkan Ki Wanamerta, Jaladri, Bantaran dan Penjawi telah ikut serta dengan rombongan itu, mengantarkan sampai ke perbatasan kota. Bukan hanya mereka. Beberapa orang lain pun telah ikut pula, sehingga rombongan itu menjadi semakin panjang.

Di perbatasan kota mereka berhenti sesaat. Wanamerta yang tua itu memerlukan mengucapkan selamat jalan, mengucapkan terima kasih atas nama segenap rakyat Banyubiru dan ternyata orang tua yang telah menjadi hampir bulat kembali itu meneteskan air mata.

"Selamat tinggal paman" berkata Mahesa Jenar kemudian.

Wanamerta mengangguk. Ingin ia menjawab, namun suaranya tersangkut dikerongkongan.

Yang terdengar kemudian hanyalah sebuah jawaban pendek, "Ya, ya angger."

Mahesa Jenar itu pun kemudian meneruskan perjalanannya. Dimuka sendiri Demang Sarayuda mulai mempercepat jalan kudanya. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang panjang. Namun mereka tidak usah takut terhadap siapa pun sehingga mereka tidak perlu memilih jalan-jalan yang tersembunyi. Atau mereka pun sama sekali tidak berkepentingan dengan apapun selama perjalanan mereka. Karena itulah maka perjalanan itu akan tidak terganggu.
Disepanjang jalan itu Rara Wilis telah mulai menganyam angan-angannya menjelang masa-masa yang akan datang. Hal yang lumrah bagi gadis-gadis yang akan menginjak masa-masa yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Rara Wilis pun adalah seorang gadis biasa. Meskipun kadang-kadang dilambungnya tersangkut sebilah pedang, dan bahkan pedang yang telah berbekas darah, namun dalam saat-saat yang demikian ia adalah seorang gadis. Tidak lebih daripada itu. Karena itulah maka ia mendambakan masa yang berbahagia, masa yang bagi Rara Wilis sebenarnya telah terlalu lambat.

Sepeninggal Mahesa Jenar dan Rara Wilis terasa rumah Ki Ageng Gajah Sora menjadi sepi. Apalagi ketika Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Pamingit.

Namun meskipun demikian, kehadiran Endang Widuri di Banyubiru, masih dapat menyejukkan suasana rumah Ki Ageng Gajah Sora itu. Untuk menghilangkan kejemuannya Endang Widuri bekerja apa saja yang dapat dilakukannya. Menanami halaman, yang seakan-akan halamannya sendiri. Ikut menanam padi disawah. Menyiangi dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sebagai seorang gadis Widuri senang juga membantu Nyai Ageng Gajah Sora didapur. Menyiapkan makan dan minuman.

Ki Ageng Gajah Sora pun masih mempunyai kawan bercakap-cakap. Kebo Kanigara, meskipun pada saat-saat terakhir Kebo Kanigara sering meninggalkan rumah, dan tak pernah ia berkata tentang apapun juga kepada putrinya. Widuri pun menyadari keadaanya. Ia merasa masih terlalu kecil untuk berbicara tentang masalah-masalah yang berat dengan ayahnya. Karena itu, maka jarang sekali Widuri bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya. Gadis itu lebih senang bercakap-cakap dengan Arya Salaka di pendapa atau dengan Nyai Ageng Lembu Sora dibelakang. (Bersambung)-c

Meskipun demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat-saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.

Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.

Namun sekali-kali gadis itu teringat pula kepada Rara Wilis. Karena itu, maka sekali-kali ia bertanya pula kepada ayahnya. “Ayah, apakah pekerjaan ayah masih belum selesai?”

Kebo Kanigara menggeleng, “Belum Widuri.”

“Kapan kita menyusul bibi Wilis?”

“Sebentar lagi”, sahut ayahnya. “Sebentar lagi aku akan pergi ke Karang Tumaritis. Pamanmu Mahesa Jenar berpesan kepadaku, untuk atas namanya, mohon diri kepada Panembahan. Bukankah Panembahan telah berjanji untuk pergi ke Gunungkidul? Kau dengar juga bukan? Nah. Kalau demikian, sebaiknya kita pergi bersama dengan Panembahan kelak.”

Dengan kesanggupan itu hati Widuri terhibur pula sedikit. Tetapi dalam pada itu, ia heran juga, apa sajakah yang dilakukan oleh ayahnya di Banyubiru? Namun Kebo Kanigara tak pernah menyebut-nyebutnya. Dan Widuripun tidak bertanya-tanya pula.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan Banyubiru yang belum beberapa lama mengalami ketenangan kini telah diguncangkan kembali dengan suatu peristiwa yang tak disangka-sangka sama sekali.

Pada hari itu, segenap kentongan tanda bahaya menggema di lerang bukit Telamaya. Tanda bahaya yang benar-benar mengejutkan setiap orang. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun yang terjadi, namun tiba-tiba mereka mendengar tanda bahaya itu. Sesaat kemudian mereka melihat, beberapa orang penunggang kuda berlari-lari memacu kudanya kesegenap penjuru. Bahkan Arya Salaka sendiri seperti orang yang menjadi gila.

Gajah Sora, Kebo Kani gara, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan semua laskar di Banyubiru memencar di atas kuda masing-masing.

“Apakah yang terjadi?” bertanya seseorang.

Orang yang ditanyanya menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian wajahnya menjadi pucat pula. “Entahlah.” Baru sesaat kemudian, ketika mereka melihat seorang berkuda berlari dihadapan mereka, maka berteriaklah mereka itu, “Ada apa?”

“Endang Widuri hilang.”

“He”, tetapi orang berkuda itu telah jauh. Dua orang yang lain menyusul pula dibelakang orang berkuda yang pertama. Tetapi kepada orang itu pun mereka tidak sempat bertanya apa-apa.

Nyai Ageng Gajah Sora pada saat itu menangis di dalam biliknya. Gadis itu bukan anaknya, tetapi benar-benar seperti anak gadis yang telah dilahirkannya sendiri. Gadis itu memang nakal, tetapi menyenangkan.

Banyak hal-hal yang menarik dilakukan oleh gadis itu. Apabila tak seorang pun yang ada, pada saat Nyai Ageng membutuhkan beberapa butir kelapa, maka dengan tangkasnya gadis itu memanjatnya. Bahkan sampai batang yang paling tinggi sekalipun.

Namun gadis itu pandai juga memasak dan bercerita. Pandai menjahit dan pandai juga berdendang. Namun tiba-tiba gadis itu hilang.

Di hadapan Nyai Ageng Gajah Sora itu duduk bersimpuh seorang gadis pula. Gadis itu juga menangis seperti Nyai Ageng. Dan dari gadis itulah Banyubiru mendengar berita tentang hilangnya Widuri. Nyai Ageng Gajah Sora, sambil mengusap air matanya berkata, "Apakah tak ada orang lain di belumbang itu?"

Gadis itu menggeleng, "Tidak Nyai Ageng. Waktu aku datang, aku sempat mendengar ceritanya. Ketika aku berlari-lari menengoknya, aku hanya melihat bayangan seorang anak muda memapahnya berlari masuk ke dalam semak-semak."

Nyai Ageng Gajah Sora termenung sejenak. Adalah aneh sekali, bahwa hal itu dapat terjadi. Widuri bukanlah gadis biasa seperti gadis yang bersimpuh di hadapannya itu. Widuri adalah seorang gadis yang memiliki beberapa macam keanehan. Gadis itu mampu berkelahi seperti laki-laki. Bahkan melampaui kemampuan seorang laskar Pamingit yang dapat dianggap kuat, Galunggung. Kenapa ia tidak memukul saja anak muda yang menculiknya itu?

Berbagai persoalan melingkar-lingkar didalam dadanya. Heran, kecewa menyesal dan berpuluh-puluh persoalan yang lain.

"Apakah kau dapat mengira-irakan, kemana Endang Widuri itu dibawa?" bertanya Nyai Ageng itu pula. Gadis itu menggeleng, "Aku tidak tahu Nyai. Namun aku melihat mereka menyusup ke arah Timur. Tetapi untuk seterusnya aku tidak tahu, sebab aku langsung berlari memberitahukannya kemari."
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya