Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 158
Meskipun demikian muridnya itu tidak bertanya apapun kepada gurunya. Mereka hanya menyeringai menahan sakit dan berkata jujur. “Aku belum dapat berjalan Kiai”
Sambirata menarik nafas. Agaknya keadaan muridnya itu benar-benar sulit. Karena itu maka katanya, “Aku tidak tergesa-gesa. Biarlah kalian menjadi baik dahulu. Aku akan menunggu kalian disini.”
Orang bertopeng itu mengawasi hampir setiap orang ditempat itu. Sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Baiklah kalau kalian masih akan menunggu kawan-kawan kalian sehingga mungkin untuk berjalan kembali. Kini biarlah anak muda ini pergi bersama aku.”
Sambirata mengangguk sambil menjawab, “Silakan Kiai. Aku mengucapkan terima kasih kepada Kiai.”
Orang bertopeng itu mengangguk, kemudian katanya kepada Mas Karebet, “Ikuti aku.”
Karebet ragu-ragu sejenak. Ia belum mengenal orang itu. Ia pernah mendengar bahwa orang yang berjubah abu-abu adalah Pasingsingan. Kini ia berhadapan dengan orang yang berjubah abu-abu itu. Apakah orang itu bukan Pasingsingan? Sesaat timbullah beberapa prasangka didalam hatinya. Mula-mula ia menyangka bahwa orang itu hanya sekedar merebut korbannya dari Sambirata dan Sembada, supaya Pasingsinganlah yang berhasil membunuhnya untuk mendapat hadiah dari Prabasemi. Tetapi menilik suara dan tingkah lakunya, maka orang bertopeng itu bukanlah seorang yang bernama Pasingsingan.
Akhirnya Karebet tidak mempunyai pilihan lain. Kalau orang itu Pasingsingan, maka dimanapun, orang itu pasti akan dapat membunuhnya. Diketahui atau tidak diketahui oleh orang lain. Karena itu maka ia tidak menolak, dan diikutinya orang berjubah abu-abu itu. Namun selama itu, anak muda yang masih mengetrapkan ilmunya, Aji Lembu Sekilan dan sekaligus ditangannya masih menjing Aji Rog-rog Asem.
Beberapa langkah kemudian, ketika orang-orang yang terbaring dipinggir jalan hutan itu telah tidak nampak lagi, maka orang berjubah abu-abu itu berhenti. Ditatapnya mata Karebet dengan tajamnya. Kemudian dengan sebuah anggukan kepada ia berkata, “Duduklah Karebet.”
Orang itu tidak menunggu jawaban Karebet. Namun segera ia berjalan kebalik gerumbul dan duduk diatas rumput-rumput kering. Karebet kembali menjadi ragu- ragu. Tetapi seolah-olah sebuah pesona telah menariknya untuk kemudian duduk dihadapan orang berjubah abu-abu itu, dibalik gerumbul pula.
“Karebet” berkata orang itu. “Hampir kau melakukan sebuah kesalahan lagi. Bukankah kau kini sedang menjalani hukuman?”
Kelunakan dan kesungguhan kata-kata orang itu memberi keyakinan kepada Karebet, bahwa orang itu sebenarnya bukan Pasingsingan. Karena itu maka jawabnya “Ya, Kiai. Aku sedang menjalani sebuah hukuman.”
“Apakah sebabnya?” bertanya orang itu.
Karebet sesaat menjadi ragu-ragu. Namun kemudian terluncur pula dari mulutnya, persoalan-persoalan yang menyebabkannya diusir dari istana. “Tetapi Kiai”, berkata kemudian. “Janganlah hal ini didengar orang lain, supaya Sultan tidak semakin marah kepadaku.”
Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Karebet. Aku mengikutimu sejak kau meninggalkan istana, berrjalan bersama-sama dengan Tumenggung Prabasemi. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar pada kalian berdua. Karena itu aku mencoba melihat apa saja yang akan terjadi. Ternyata dihutan Santi kalian berdua terlibat dalam suatu perkelahian. Ketika aku melihat Prabasemi jatuh, aku hampir saja mencegahmu. Namun ternyata kau pada waktu itu masih dapat menguasai dirimu. Tetapi yang baru saja terjadi disini, agaknya kau telah benar-benar menjadi mata gelap.”
Karebet mengangguk, “Ya Kiai” jawabnya. “Aku tidak ingin mati ditangan kedua orang itu.”
“Aku tidak menyalahkanmu” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya ingin mencegah kesalahan yang mungkin kau lakukan, yang akan dapat mendorongmu semakin jauh dari istana.”
KAREBET menundukkan kepalanya. Kini ia pasti, bahwa orang itu sama sekali bukan Pasingsingan. Tetapi siapa?.
Dan tiba-tiba saja ia bertanya. "Tetapi apakah aku boleh mengetahui, siapakah Kiai ini?"
Orang itu menggeleng. "Tidak ada gunanya," jawabnya.
Karebet menarik nafas. Ia tidak bertanya lagi kepada orang itu Sebab sekali ia merahasiakan dirinya, maka betapapun ia mencoba bertanya, namun pasti ia tidak akan mendapat jawaban.
Karebet itu kemudian mengangkat wajahnya ketika orang itu bertanya. "Sekarang, ke manakah kau akan pergi?"
Karebet menarik nafas dalam-dalam. Ya, kemana ia akan pergi? Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian jawabnya, "Aku tidak yakin bahwa Prabasemi akan melepaskan maksudnya membunuhku. Mungkin ia akan meminta orang lain lagi untuk melakukan pembunuhan itu. Dalam keadaan yang demikian, mungkin sekali aku kehilangan kesabaran, dan membunuh orang itu sehingga dengan demikian Sultan Trenggana akan semakin murka kepadaku."
"Kau benar" berkata orang bertopeng itu. "Tetapi kemana?"
Karebet menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu."
"Apakah kau tidak mempunyai sahabat, kawan atau saudara ditempat lain?" bertanya orang bertopeng itu.
Karebet diam sejenak. Tiba-tiba terbayanglah dirongga matanya, sebuah lembah yang luas dengan padi yang hijau subur dikaki pegunungan Telamaya. Suatu daerah yang sangat menarik yang pernah dikunjunginya. Tetapi daerah itu belum menemukan ketentraman karena persoalan antar keluarga sendiri.
"Bagaimana?" bertanya orang itu pula.
Karebet menggeleng. Jawabnya, "Aku mempunyai sahabat, saudara dan kawan-kawan. Tetapi mereka sedang sibuk dengan persoalan mereka sendiri. Apakah aku tidak akan menambah keributan mereka, apabila aku datang kepada mereka itu?"
Terdengar orang bertopeng itu tertawa pendek. Katanya seolah-olah bergumam saja didalam mulutnya. "Hem. Kau memandang dari sudut yang buram. Cobalah, katakan kepadaku bahwa kau akan datang untuk membantu memecahkan persoalan mereka itu."
Karebet menengadahkan wajahnya. Sesaat terpancarlah sesuatu dari wajahnya. Katanya didalam hati, "Ya, aku adalah seorang laki-laki. Kenapa aku tidak dapat memperingan pekerjaan mereka itu?"
Tiba-tiba Karebet itu berkata, "Pendapat Kiai baik sekali. Aku dapat datang kepada mereka untuk membantu mereka. Mungkin tenagaku akan berguna."
"Bagus", orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Topengnya bergerak-gerak seperti kepala hantu-hantuan di sawah untuk menakut-nakuti burung.
"Baiklah Kiai", berkata Karebet pula, "Aku akan pergi kesana."
"Kemana?" Karebet berdiam diri sejenak. Namun sesaat kemudian ia berkata lantang. "Banyubiru."
"Banyubiru", orang bertopeng itu mengulang. Kemudian katanya, "Pergilah ke Tingkir. Kemudian pergilah ke Banyubiru."
"Baik Kiai" sahut Karebet.
Orang bertopeng itupun kemudian berdiri. Dipandanginya Karebet dengan seksama. Kemudian katanya, "Kita berpisah disini setelah aku mengikutimu sejak dari Demak. Mudah-mudahan aku terhindar dari segala malapetaka. Dan mudah-mudahan kau selalu dapat mengekang dirimu sendiri. Pergilah. Aku akan pergi ke Bergota."
Karebet mengerutkan keningnya, dan dengan serta merta ia bertanya.
"Kenapa ke Bergota?"
"Tidak ada hubungannya dengan kau. Aku akan menemui Arya Palindih," jawab orang itu.
Kembali Karebet menjadi sangat tertarik kepada jawaban itu. Tetapi orang itu berkata, bahwa kepergiannya itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun demikian, ia bertanya-tanya juga didalam hatinya. Bukankah Sultan Trenggana pernah mengatakan kepadanya bahwa ia akan dikirim ke Bergota seandainya Prabasemi tidak mencegahnya? Meskipun demikian Karebet itu tidak bertanya lagi.
Orang bertopeng itupun kemudian minta diri dan perlahan-lahan ia berjalan menyusup lewat gerumbul-gerumbul dihutan itu. Sebelum orang itu hilang dari pandangan mata Karebet, terdengar ia berkata, "Karebet, aku tadi berkata kepada Sambirata, bahwa ia menempuh jalan yang tidak wajar karena tuduhan yang tidak wajar. Namun percayalah bahwa aku mempunyai itikad yang baik bagimu dan bagi Demak."
Karebet mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan bahwa didalam hatinya. "Kenapa bagiku dan bagi Demak? Apakah ada hubungan yang erat antara aku dan Demak? Ah" desahnya. "Aku hanya seorang lurah Wira Tamtama."
Tetapi tiba-tiba ia berdesis. "Bukan, Lurah Wira Tamtama pun bukan. Aku adalah orang buangan."
Ketika orang bertopeng itu lenyap dibalik rimbunnya daun-daun rimba yang hijau, maka Karebet itu menjadi bersedih. Dikenangnya dirinya dan disesalinya segenap perbuatannya. Namun semuanya telah berlalu. Dan kini ia tinggal menjalani akibat dari perbuatan-perbuatannya yang salah itu.
Sesaat Karebet itu masih tegak ditempatnya. Sekali-kali diawasinya daun-daun yang hijau tempat orang bertopeng itu melenyapkan dirinya.
“ORANG ANEH,” gumam Karebet. “Memang di dunia ini selalu ada keanehan-keanehan yang kadang-kadang lucu. Apakah gunanya orang itu menutupi wajahnya dan berjubah. Apakah wajahnya itu terlalu jelek dan kasar, atau seorang buruan yang sedang menyembunyikan diri? Tetapi tidak pantas kalau orang itu menyembunyikan dirinya karena persoalan-persoalan lahiriah. Ia adalah seorang yang sakti, ternyata Aji Sembada sama sekali tidak mampu mendorongnya selangkah pun.”
Karebet itupun kemudian dengan segan melangkah pergi. Kini ia berjalan dengan tujuan yang pasti. Ke Tingkir kemudian ke Banyubiru.
Ketika ia muncul dari balik-balik gerumbul, tiba-tiba timbullah keinginannya untuk menengok kembali Sembada dan Sambirata. Karena itu ia berjalan menuju ke arah mereka. Dari kejauhan dibalik tikungan Karebet telah melihat mereka masih berada ditempatnya.
Ketika mereka melihat Karebet datang kepada mereka, maka Sembada dan Sambirata itupun berdesir hatinya. Apakah maksud kedatangan Karebet itu kembali kepada mereka? Apakah setelah orang bertopeng itu pergi, Karebet akan meneruskan maksudnya, bertempur sampai saat-saat terakhir? Tetapi kini Sambirata telah tidak bernafsu lagi untuk bertempur. Di dalam dadanya telah terdengar suara-suara yang belum pernah didengarnya. Dan suara-suara itu telah mendorongnya untuk menghindari bentrokan langsung dengan Karebet itu.
Tetapi wajah Karebet sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Bahkan ketika ia melihat Sembada yang masih saja menyuapi mulutnya itu, ia tersenyum sambil berkata, “Alangkah nikmatnya, makan setelah bekerja keras.”
“Makanlah kalau kau mau” berkata Sembada itu tanpa berpaling. Meskipun demikian denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Ia masih belum yakin kalau dalam waktu yang sesingkat itu Karebet telah dapat melupakan apa-apa yang baru saja terjadi.
Tetapi Karebet benar-benar anak yang aneh, yang berbuat apa saja menurut keinginannya sesaat.Tiba-tiba saja ia duduk di samping Sembada dan berkata, “Aku juga lapar, kakang Sembada.”
Sambirata menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kejujuran yang memancar dalam diri Karebet. Kejujuran yang tidak dibuat-buat. Karena itu ia menjadi semakin kecewa atas perbuatannya. Untunglah semuanya belum terlanjur terjadi. Kalau ia berhasil membunuh Karebet, maka dosanya akan selalu mengejarnya apabila ia kelak mengetahui sifat-sifat anak itu. Sedang apabila Karebet yang membunuhnya, maka kasihanlah anak itu. Sebab dengan demikian ia akan mendapat hukuman yang lebih berat dari Baginda.
Dengan penuh penyesalan ia melihat Karebet itu meraih sepotong makanan bekal yang mereka bawa dari Demak. Dan tanpa ragu-ragu disuapkannya makanan itu kedalam mulutnya. “Enak” gumam Karebet itu.
“Sifat itu sangat menyenangkan”” berkata Sambirata di dalam hatinya. Dan dibiarkannya Karebet itu kemudian makan sepuas-puasnya.
Sembada yang sedang makan itupun menjadi heran pula melihat Karebet benar-benar mau makan bersamanya. Karena itu ia menjadi tenang sedikit. Mungkin Karebet itu benar-benar tidak akan meneruskan perkelahian yang pasti tidak akan menguntungkannya.
Hanya beberapa murid Sambirata yang mengumpat-umpat di dalam hatinya. Punggung-punggung mereka masih terasa sakit karena anak muda yang bernama Karebet itu. Dan kini Karebet itu makan bekalnya seenaknya. Bahkan tidak henti-hentinya.
“Makanlah angger” Sambirata itu mempersilakan dengan ramahnya.
“Aku akan kenyang, paman” sahut Karebet. Dan tiba-tiba pula Karebet itu berdiri.
Sembada adalah yang paling terkejut. Ia masih belum dapat menghilangkah kecemasannya apabila Karebet itu tiba-tiba membunuhnya. Tetapi Sembada itu menarik nafas dalam-dalam, ketika dilihatnya Karebet itu menekan punggungnya sambil menggeliat. “Aku sudah terlalu kenyang paman”, katanya kepada Sambirata. “Sekarang biarlah aku meneruskan perjalananku ke Tingkir. Apakah paman masih akan mencegah aku?”
“Tidak, tidak ngger. Silakan berjalan terus. Aku tidak akan mengganggu angger lagi.” sahut Sambirata.
Tetapi Sembada yang kasar itu menjawab, “Pergilah. Tapi jangan mencoba mengganggu kami.”
Karebet itu berpaling. Tetapi kemudian ia tersenyum, jawabnya “Baiklah. Aku tidak sengaja mengganggumu, kakang. Aku lapar, dan dihadapanmu ada makanan.”
“Bukan soal makanan” bentak Sembada. “Tetapi jangan halangi kami kembali ke Demak, kalau kau ingin selamat.”
Sekali lagi Karebet tersenyum. Katanya, “Apakah kakang sudah dapat berjalan dengan baik.”
Sembada tidak menjawab. Namun ia mengumpat perlahan-lahan, "Persetan."
Karebet itupun kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ditelusurinya jalan sempit ditengah-tengah hutan yang semakin lama semakin tipis. Sehingga sesaat kemudian ia akan sampai ke mulut lorong itu dan meninggalkan daerah hutan yang memberinya kesan tersendiri. Di hutan inilah Prabasemi berusaha merampas nyawanya untuk yang kesekian kalinya.
"Hem," gumamnya, "Orang itu benar-benar berusaha menghilangkan aku karena otaknya yang gila seperti aku. Tetapi aku tidak mengganggu orang lain. Aku mendapatkan kesempatan tanpa aku sangka-sangka. Sedangkan Prabasemi mencari kesempatan dengan segala cara. Bahkan mengorbankan orang lain sekalipun.
Sekali lagi Karebet menarik napas. Kemudian ditatapnya jalan yang terbentang dihadapannya. Kini ia meninggalkan hutanitu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dilihatnya langit yang cerah. Awan yang tipis selembar demi selembar mengalir ke Utara, dan burung berterbangan di angkasa seakan menari dengan riangnya.
Ketika Karebet mengangkat wajahnya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dihadapannya terbaring seonggok warna hijau ke hitam-hitaman. Padukuhan Tingkir, tempat ia dibesarkan oleh ibu angkatnya Nyi Tingkir.
Langkah Karebetpun tertegun sesaat. Kembali ia berbimbang hati. Tetapi kemudian ia melangkah kembali dengan langkah yang tetap. Pulang ke Tingkir dan kelak terus ke Banyu Biru.
Angin yang lembut sekali lagi mengusap wajah Karebet yang basah oleh keringat. Dan kembali persoalan itu hanyut satu persatu di kepalanya, berlari berurutan seperti kuda yang sedang berpacu. Dan akhirnya sampailah ia ke ujung kenangannya.
Malam itu langit cerah yang ditandai oleh sepotong bulan muda. Ketika Karebet mengangkat wajahnya, yang tampak dihadapannya bukan pedukuhan Tingkir yang hijau kehitam-hitaman, tetapi sebuah dataran yang luas dengan daun-daun padi yang menghijau melapisinya. Warna-warna semburat kuning yang dilemparkan oleh bulan sepotong di langit tampak berkilat-kilat memantul dipermukaan air Rawa Pening.
Karebet kembali kepada keadaanya kini. Dihadapannya duduk pamannya yang disegani. Kebo Kanigara yang mendengarkan ceritanya dengan asyik.
Ketika Karebet itu berhenti berbicara, maka Kebo Kanigara itu menarik napas panjang. Panjang sekali. Dan terdengarlah ia bergumam, "Bukan main. Itulah sebabnya maka sepeninggalmu, timbulah berbagai cerita mengenai dirimu."
Karebet tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan malam semakin dingin, karena angin pegunungan.
Darimana kau tahu sedemikian banyak cerita tentang dirimu, yang kau alami dan tidak kau alami?"
Dengan kepala masih tertunduk Karebet menjawab, "Sebagian aku alami langsung, sedangkan sebagian aku dengar dari seorang sahabat yang dapat dipercaya."
"Siapakah orang itu?"
"Sambirata!"
"He, Sambirata yang kau katakan mencegatmu di hutan dekat Tingkir itu?"
"Ya, ternyata ia telah menyesali perbuatannya. Karena itu ia berusaha mencari kebenaran tentang diriku. Aku tidak tahu, apa saja yang sudah dilakukannya, namun ia berhasil mengetahui sebagian besar keadaanku, dan iapun berhasil mencari aku, ketika aku masih berada di Tingkir."
"Hanya orang itu?"
"Ya, tetapi paman Sambirata aku minta menghubungi sahabatku yang lain di dalam lingkungan Wira Tamtama. Daripadanya paman Sambirata dapat melengkapi ceritanya."
"Siapakah orang itu?"
"Santapati. Kakang Santapati, seorang lurah Wira Tamtama juga."
Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia berdiam diri, dan Karebet tidak berkata apapun. Karena itu maka keadaan di lereng menjadis epi kembali. Di kejauhan terdengar suara cengkerik sahut menyahut dengan derik belalang. Sesekali terdengar aum harimau di kejauhan, di hutan Gunung Telamaya.
Sesekali Kebo Kanigara memandang wajah kemenakannya yang suram. Dilihatnya penyesalan yang dalam menggores didadanya. Karena itu maka perasaan Kebo Kanigara itupun menjadi iba juga kepadanya. Kepada satu-satunya kemenakannya. Karebet adalah penyambung keturunan Pengging disamping Widura. Karena itulah maka adalah menjadi keinginanya bahwa Karebet kelak mendapat tempat yang baik, sebagai seorang cucu Handayaningrat, maka adalah wajar apabila Karebet apabila Karebet itu tidak saja menjadi seorang buangan dan sekedar Lurah Wira Tamtama.
“Hem” geram Kebo Kanigara didalam hatinya.” Trenggana ternyata dapat dipengaruhi oleh orang-orang seperti Prabasemi.”
Tiba-tiba terbersitlah sesuatu dikepala Kebo Kanigara. Karebet adalah kemanakannya. Nasib Karebet dihari kemudian akan menentukan darah keturunan Pengging. Kalau Karebet itu akan hancur menjadi debu dipembuangan, maka darah Pengging akan kering seperti lautan yang kering. Betapapun agungnya lautan itu dihari-hari lampau, namun apabila kemudian telah kering dibakar terik matahari, maka keagungan airnya pasti akan dilupakan orang. Demikianlah kalau Karebet itu benar-benar akan lenyap dari percaturan pemerintah Demak, maka darah Pangeran Handayaningrat untuk selamanya tidak akan dapat mengharapkan Widuri untuk merebut tempat itu, sebab mau tidak mau ia melihat hubungan yang akrab antara putrinya itu dengan Arya Salaka.
Meskipun Arya Salaka bukan darah yang tetes dari istana, namun ia bangga atas anak muda itu. Anak muda yang menyadari keadaannya, menyadari tanggung jawabnya. Dan ia puas dengan keadaan putrinya, asalkan kelak ia merasa bahagia. Apalagi putrinya itu sejak kecilnya sama sekali tidak pernah mengenyam kehidupan istana. Karena itu, maka apa yang dicapainya itu benar-benar telah memberinya kebahagiaan.
Baru beberapa waktu kemudian Kebo Kanigara itu berkata, “Karebet. Jangan tinggalkan Banyubiru tanpa ijinku. Mungkin ada beberapa cara yang dapat ditempuh, supaya Sultan Trenggana itu memaafkan kesalahanmu.”
Karebet menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik paman. Aku akan tinggal di Banyubiru sampai paman memerintahkan aku berbuat lain.”
Kembali mereka terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali suara jengkerik bersahut-sahutan dengan desir angin didaunan. Awan yang putih segumpal hanyut diwajah bulan kuning pucat.
Sesaat kemudian barulah Kebo Kanigara berkata,”Karebet. Alangkah bodohnya kau. Kenapa kau sampai terpancing dalam pertempuran melawan Sultan Trenggana?”
“Aku tidak mengenal paman. Sultan menggunakan tutup wajah dari ikat kepalanya. Dan Sultan sama sekali tidak mempergunakan tanda-tanda kebesarannya.”
“Apakah kau tidak mampu melihat ciri-ciri gerak Baginda?”
“Tidak paman. Aku lebih baik tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda, karena Baginda mempergunakan Aji Welut Putih.”
“Kenapa dengan Aji Welut Putih.”
“Bukankah Aji itu biasa dipergunakan oleh orang-orang jahat yang berusaha melepaskan diri dari kejaran?”
Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Baginda mengenal seribu macam ilmu. Dari yang paling jahat sampai yang paling baik.”
“Aku kurang menyadari itu paman. Mungkin Baginda sengaja mempergunakan Aji Welut Putih untuk lebih mengaburkan anggapanku terhadap orang yang tertutup wajah itu.”
Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jangan kambuh lagi Karebet. Kalau kau meninggalkan Banyubiru tanpa setahuku, aku tidak akan mencampuri lagi segenap persoalanmu.”
“Baik paman” jawab Karebet.
Kebo Kanigara itupun kemudian bangkit sambil berkata. “Kembalilah kerumah Ki Lemah Telasih. Mudah-mudahan Buyut Banyubiru itu akan memberimu banyak tuntunan yang akan bermanfaat bagi hidupmu.”
Karebet itupun kemudian berdiri pula. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik paman.”
Ketika pamannya itu kemudian berjalan meninggalkannya, maka Karebet itu pun segera kembali kerumah Ki Buyut Banyubiru.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya