Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 157

Meskipun demikian Sembada itu berkata pula, “Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini, sesaat sebelum pekerjaanku itu selesai, kau datang mengganggu kami.”

“Jangan marah Ki Sanak” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya mencegah, janganlah terjadi permusuhan diantara sesama.”

Sambirata mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata “Apakah hubungamu dengan Karebet itu?”

Orang itu menggeleng, “Tidak ada” katanya.

Oleh jawaban itu, maka Sambirata berkata pula, “Katamu demikian, biarlah kami menyelesaikan urusan kami masing-masing. Sebaiknya kau jangan mencampuri urusan orang lain yang tak kau ketahui ujung pangkalnya.”

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian terdengarlah suaranya parau dari belakang topengnya. “Kenapa kalian berdua berusaha membunuh Karebet?”

Sambirata diam sejenak, kemudian jawabnya, “Itu adalah urusan kami.”

Kembali orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian gumamnya, “Aku yakin bahwa kalian mempunyai cukup alasan untuk melakukannya. Kalau tidak, maka perbuatan itu pasti tidak akan kalian lakukan. Tetapi apakah alasan itu dapat dimengerti oleh orang lain, itulah yang kadang-kadang menjadi persoalan.”

“Hem” Sembada yang keras hati itu menggeram. Katanya, “Kalau kau sudah tahu alasan kami, apakah kau tidak akan menggangu kami?”

“Tergantung pada alasan itu” sahut orang berjubah itu. “Kalau aku cukup mengerti, maka aku tidak akan mengganggu kalian.”

“Jangan terlalu sombong” bentak Sembada yang kasar itu. “Apakah dengan demikian kami akan terpengaruh karenanya? Apakah apabila kau mencoba mengganggu sekalipun, maka kami tidak akan menyelesaikan pekerjaan kami?”

ORANG berjubah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, "Ki Sanak benar. Meskipun aku mencoba mengganggu sekalipun, namun aku tidak akan dapat berbuat banyak. Tetapi bukankah setidak-tidaknya dengan demikian aku akan memperlambat pekerjaan kalian."

"Bagus. Bagus" teriak Sembada yang tidak sabar. "Kami adalah keluarga Dadungawuk. Anak muda yang terbunuh oleh Karebet itu?"

"He?" Bukan main terkejut hati Karebet. Ia sama sekali tidak mengenal nama Dadungawuk. Dan ia sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Karena itu maka segera ia memotong. "Bohong. Aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Dadungawuk."

"Aku sudah menyangka bahwa kau akan ingkar" sahut Sembada. "Watakmu yang licik dan sifat-sifatmu yang sombong itu adalah gabungan dari ujud seorang pengecut yang sebenarnya."

"Jangan membual" teriak Karebet yang menjadi semakin marah. "Katakan yang sebenarnya. Bukankah kau seraya Tumenggung Prabasemi?"

Sambirata tertawa. Katanya, "Sudah aku katakan. Tak ada gunanya untuk mempersoalkan, apakah sebabnya kami akan membunuh anak muda yang malang itu. Mau tidak mau, salah atau benar. Keputusan kami, akan kami lakukan."

Kata-kata itu benar-benar membakar hati Karebet. Dengan serta merta ia berteriak. "Minggirlah. Kalau kau bukan Pasingsingan, aku tidak tahu, bagaimana aku akan menyebutmu. Tetapi jangan mengganggu perkelahian ini. Aku pun sudah memutuskan pula untuk mengakhiri perkelahian yang memuakkan ini."

Kata-kata itu benar-benar berkesan dihati Sembada dan Sambirata. Mau tidak mau mereka pun harus berpikir tentang kata-kata itu. Meskipun demikian, mereka telah terlanjur terlibat dalam persoalan itu. Dengan demikian maka mereka tidak akan dapat berhenti ditengah jalan, meskipun lawan mereka benar-benar mempunyai kekuatan yang tak mereka sangka-sangka.

Tetapi orang berjubah itu masih berdiri saja ditempatnya. Bahkan ia masih berkata, "Jangan berusaha saling membunuh. Apakah tidak ada cara-cara lain yang lebih baik daripada saling membunuh?"

"Tidak ada" sahut Sembada. "Kecuali kalau Karebet mau membunuh dirinya."

Ucapan itu seolah-olah sebuah bara api yang menyentuh telinga mas Karebet. Karena itu, hampir saja ia meloncat, menyerang Sembada, namun tiba-tiba dengan penuh perbawa orang berjubah itu berkata "Karebet, jangan lakukan. Seharusnya kau mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang masak sebelum kau berbuat sesuatu."

Karebet tertegun mendengar peringatan itu. Namun kemarahannya yang telah membakar seluruh isi dadanya itu, alangkah sukarnya untuk dikendalikan. Tetapi dalam pada itu orang berjubah itu berkata seterusnya. "Karebet, kau sekarang adalah orang buangan. Aku mendengar hal itu sebelum kau bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi. Karena itu keadaanmu sama sekali tidak menguntungkan setiap perbuatanmu. Kalau sampai terjadi kau membunuh seseorang, dan berita itu terdengar oleh Sultan, maka hukumanmu akan menjadi berlipat ganda, sebab Sultan akan menjadi semakin murka kepadamu. Pada saat kau bertempur melawan Prabasemi pun, hampir-hampir aku mencegahmu. Namun ketika aku tahu bahwa kau sadari keadaanmu, maka niatku itu pun aku urungkan."

Karebet terkejut mendengar kata-kata itu. Kalau demikian, maka orang berjubah itu telah mengikutinya sejak ia meninggalkan Demak. Orang itu ternyata melihat, bahwa ia telah bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi, sehingga daripadanya ia mengetahui bahwa kini ia adalah orang buangan.

Namun dalam pada itu, peringatan yang diberikan kepadanya benar-benar telah menyentuh hatinya. Peringatan yang sebenarnya sejak semula telah dipikirkannya. Tetapi ketika kemarahannya telah memuncak, serta hidupnya sendiri telah terancam, maka pertimbangan-pertimbangan itu lenyap dari kepalanya.

Dan kini, ia mendengarkan dari orang lain. Orang lain yang tidak dikenalnya. Tetapi peringatan yang diucapkan oleh orang berjubah itu telah menyalakan kemarahan Sembada dan Sambirata. Orang berjubah itu seakan-akan mengatakan, bahwa Karebet itu pasti akan berhasil membunuh mereka berdua. Meskipun mereka datang hanya sekedar untuk mendapatkan timang emas, dan meskipun harga nyawanya jauh lebih mahal dari harga timang emas itu, namun mereka tidak mau pula bahwa harga diri terlalu direndahkan.

Karena itu, maka terdengar Sembada menjawab. "He, orang bertopeng. Pergilah. Jangan ribut tentang nyawa kami. Apakah kau sangka bahwa Karebet itu dapat membunuh kami berdua? Kalau kau sudah melihat sejak permulaan dari perkelahian ini, maka kau akan tahu, bahwa umur Karebet sudah melekat diujung rambutnya. Namun sesaat sebelum ia mati, maka kau datang mengganggu kami."

"OMONG KOSONG," potong Karebet yang hatinya telah menjadi panas kembali.

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Karebet ia berkata, "Ingat-ingatlah pesanku. Jangan terpancing kedalam keadaan yang akan menyulitkan kedudukanmu. Kau sekarang masih dapat mengharapkan ampunan dari Baginda, namun kalau kau telah melakukan kesalahan lagi, maka ampunan itu jangan kau harapkan sama sekali. Sebab pembunuhan ini akan dapat disebut dalam berbagai macam keadaan. Prabasemi dapat mengatakan apa saja yang dapat menambah kemarahan Baginda. Diantaranya, orang yang terbunuh itu adalah keluarga Dadungawuk seperti yang baru saja dikatakannya."

"Aku tidak mengenal Dadungawuk" potong Karebet.

"Itu adalah suatu contoh yang baik dari bentuk-bentuk fitnah yang dapat dilakukan oleh Tumenggung Prabasemi."

Karebet itu pun terdiam, namun segera ia teringat kata-kata Prabasemi dihadapan Baginda Sultan Trenggana, tentang seorang calon Wira Tamtama. Tetapi Sembadalah yang berteriak, "He orang bertopeng. Apakah sebenarnya maksudmu, dan siapakah sebenarnya kau ini?"

Orang bertopeng itu menggeleng. Katanya, "Sudah aku katakan bahwa tak ada gunanya kau mengerti siapa aku."

"Bagus" sahut Sembada. "Tetapi jangan ganggu kami."

Orang bertopeng itu seakan-akan tidak memperhatikan kata-kata itu, bahkan kepada Karebet ia berkata, "Karebet, pikirkan baik-baik."

"Tetapi apakah aku harus berdiam diri saja, seandainya mereka akan membunuhku."

"Pergilah" jawab orang bertopeng itu.

"Pergi?" Karebet itu menjadi heran. Kemudian jawabnya, "Apakah kalau aku pergi orang-orang itu tidak akan menyusulku?"

"Biarlah mereka. Menyingkirlah supaya kau terhindar dari bencana yang lebih besar lagi."

Karebet menjadi bingung. Ia telah mengenal orang itu. Semula ia menyangka bahwa orang bertopeng itu Pasingsingan. Bahkan ia menyangka bahwa Pasingsingan itu pun telah mendapat tugas pula dari Tumenggung Prabasemi. Namun ternyata orang itu memberinya beberapa petunjuk yang dapat dimengertinya. Namun bagaimana ia harus melaksanakannya? Apakah ia harus pergi dan membiarkan orang itu mengejar dan membunuhnya? Atau bagaimana?

Dalam pada itu Sambirata berkata, "Hem. Ki Sanak yang bertopeng. Agaknya kau telah terlalu jauh mencampuri urusan kami. Karebet kau suruh menyingkir dari arena ini. Kalau demikian, maka kau telah bertekad untuk menggantikannya. Begitu?"

Orang bertopeng itu berhenti sesaat. Kemudian jawabnya. "Aku tidak mempunyai cara lain. Aku hanya sekedar bermaksud menyelamatkan kalian dari perbuatan terkutuk. Karebet dan kalian berdua."

"Jangan banyak bicara" teriak Sembada. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa orang itu bukan Pasingsingan yang menakutkan yang pernah didengarnya dari dongeng-dongeng.

"Sekarang kau pergi dan membiarkan kami membunuh Karebet. Atau kami harus membunuhmu dulu, baru membunuh Karebet."

Orang bertopeng itu seakan-akan sama sekali tidak mendengar teriakan itu. Katanya, "Menyingkirlah Karebet. Kalau mungkin, pertumpahan darah harus dihindari."

Sembada itu kini sudah tidak sabar lagi. dengan marahnya ia menggeram. Selangkah maju sambil berkata, "Kalau kau mati disini pula, jangan menyalahkan aku. Kau terlalu tamak dan sombong."

Melihat Sembada melangkah maju, Karebet hampir melangkah maju pula. Namun terdengar orang itu berkata, "Ingat, Sultan sedang murka kepadamu. Jangan kau tambah kesalahanmu dengan perbuatan-perbuatan yang tak berarti. Serahkan orang-orang ini kepadaku."

Kata-kata itu benar-benar berpengaruh dihati Karebet. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Dan terasa bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan itu.

Tetapi Sembada dan Sambirata telah benar-benar sampai kepuncak kemarahan mereka. Karena itu, maka Sembada berteriak, "Bagus. Ternyata aku harus membunuhmu dahulu. Baru anak yang bernama Karebet itu."

Orang berjubah itu tidak sampai menjawab. Ketika ia hampir mengucapkan beberapa patah kata, maka Sembada yang kasar itu telah menyerangnya langsung dalam kekuatan Ajinya Sapu Angin.

Orang bertopeng itupun melihat betapa kekuatan ajinya itu meluncur lewat tangan-tangan Sembara kearahnya. Namun ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Karebet yang melihat serangan itu terkejut. Tetapi ia berdiri berseberangan dengan Sembada, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berteriak, "Hei, Ki Sanak. Menghindarlah."

Tetapi orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak.

Dibiarkannya Sembada menghantamnya dengan Aji Sapu Angin. Namun sesaat sebelum tangan sembada menyentuh jubahnya, tampak orang itu menjadi tegang. Dan pada saat itulah Aji Sapu Angin membentur tubuhnya.

Namun yang terjadi benar-benar mengejutkan. Orang yang berjubah itu masih tegak ditempatnya. Ia hanya bergetar sedikit. Namun kemudian ia berdiri tegak kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Tetapi Sembada yang menghantam orang itu dengan kekuatannya, tiba-tiba terpelanting beberapa langkah dan jatuh terguling karena benturan kekuatannya sendiri. Tangannya yang melontarkan Aji Sapu Angin itu terasa membentur benteng baja. Karena itulah maka ia sendirilah yang terlempar mundur.

Sambirata heran melihat peristiwa itu. Tidak saja Sambirata, namun Karebetpun berdiri dengan mulut ternganga. Seakan-akan ia melihat suatu peristiwa dahsyat didalam mimpi. Aji Sapu Angin mampu menggetarkan Aji Lembu Sekilan, meskipun tidak sampai keintinya. Kini ia melihat orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak, namun Sembada sendirilah yang terdorong surut, bahkan jatuh bergulingan beberapa kali.

Tetapi lebih dari itu. Ketika Sembada tidak terguling lagi, maka terdengar ia mengeluh pendek. Dengan susah payah ia berusaha bangkit. Namun tiba-tiba ia terduduk kembali dengan lemahnya. Nafasnya serasa sesak, dan seakan-akan bagian dalam dadanya pecah berkeping-keping.

Sambirata menjadi ragu sesaat. Ia melihat kawannya telah jatuh karena pukulannya sendiri. Karena itu apakah ia akan mengulangi kesalahan Sembada. Kini Sambirata memperhitungkan setiap kemungkinan. Seandainya ia mampu mengalahkan orang berjubah dan bertopeng itu, namun dibelakangnya masih berdiri anak yang bernama Karebet. Anak yang belum dapat dikalahkannya meskipun ia berdua dengan Sembada. Apalagi kini Sembada sudah tidak mampu untuk berdiri.

Sesaat Sambirata tegak saja seperti tonggak. Pikirannya berjalan hilir mudik tak menentu. Ketika sekali lagi ia memandang kawannya yang terduduk lemah itu, maka iapun mengeluh didalam hatinya. "Apakah yang datang ini sebangsa demit atau Hantu Alasan?."

Sambirata kemudian terperanjat ketika ia mendengar suara orang bertopeng menggeram dari balik topengnya, "hem, apakah kau juga akan coba memukul aku?"

Kembali Sambirata menjadi bimbang. Namun kahirnya ia menggeleng. Kini telah ditemukannya jawaban. Ia tidak memperdulikan lagi kawannya yang terluka itu. Juga timang emas yang dijanjikan. Nyawanya lebih berharga dari segala-galanya. Bahkan sampai pada harga dirinya sekalipun. Karena itu, maka tanpa malu-malu Sambirata menjawab, "Tidak Kiai. Aku tidak akan melawan kehendak Kiai."

Karebet mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban itu. Bahkan ia mengumpat-umpat didalam hatinya. Alangkah liciknya hati orang itu. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak berkata apapun.

Yang menjawab adalah orang bertopeng, "apakah kau benar-benar tidak akan berbuat sesuatu?"

"Tentu Kiai," sambut Sambirata. "Akupun tidak mempunyai persoalan dengan angger Karebet. Tetapi terbawa oleh kesetiakawanan aku terpaksa membantu orang itu."

Sambirata berdesah mendengar kata Sambirata. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun. Kalau ia membantah, maka Sambirata akan dapat berbuat apa saja atasnya. Selagi keadaan wajar, ia tidak akan mampu melawan Sambirata, apalagi kini, tulang-tulangnya seakan remuk.

Orang bertopeng itu memandangi Sambirata dan Sembada berganti-ganti lewat lubang topengnya. Sesaat kemudian ia menarik nafas panjang. Dan kemudian ia berkata, "Kembalilah kalian ke Demak. Katakan bahwa Karebet telah mati. Ia tidak akan kembali ke Demak dalam waktu yang singkat, sebelum Baginda mengampuni kesalahannya."
Sambirata mengangguk. Kemudian katanya," Tentu Kiai kami akan kembali ke Demak."

Tetapi Sembada yang menyeringai kesakitan itu berkata, "Alangkah mudahnya. Tetapi kalau kelak anak itu kembali ke Demak, maka kepalaku akan dipenggal oleh Prabasemi."

Sambirata tiba-tiba tertawa. Katanya, "Sudahlah adi Sembada. Kalau kau tidak berani menanggung akibat dari perbuatan ini, biarlah timang-timang ini dikembalikan saja."

"Timang?," tiba-tiba Karebet memotong.

"Ya," jawab Sambirata.

"Kami harus membunuh angger. Dan kami akan mendapat timang emas."

TANGAN Karebet menjadi gemetar mendengar pengakuan itu. Tetapi sebelum ia menjawab, orang berjubah itu berkata, “Lupakan semuanya. Beruntunglah kalian, bahwa kalian belum menjual diri kalian dengan harga yang sangat murah itu. Apakah artinya timang emas itu? Seandainya kalian mampu membunuh Karebet sekalipun, namun apakah yang dapat kau miliki itu cukup bernilai untuk menebus tanggung jawab yang harus kau berikan pada masa-masa langgeng? Pada masa kau berhadapan dengan Kekuasaan tertinggi. Jauh lebih tinggi dari kekuasaan Prabasemi, bahkan kekuasaan Sultan Trenggana sekalipun?”

Orang berjubah itu diam sesaat. Sembada yang masih menahan sakit itupun terdiam, dan Sambirata menundukkan wajahnya. Semula ia mengurungkan niatnya hanya sekedar untuk menyelamatkan hidupnya.

Tiba-tiba tersentuhlah perasaan Sambirata oleh kata-kata orang bertopeng itu. “Ya,” katanya di dalam hati, “Alangkah murahnya harga diriku. Sebuah timang emas. Hem.” Tetapi Sambirata itu tidak berkata sepatah katapun.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata orang berjubah itu. “Seandainya kau berhasil membunuh Karebet, dan mendapatkan timang-timang emas itu, maka apakah kalian dapat memakainya dengan tenang? Setiap kali timang itu melekat di lambung kalian, maka setiap kali kalian akan teringat, bahwa timang itu sebenarnya berlumuran dengan darah seseorang yang tidak bersalah kepada kalian.”

Sambirata semakin menundukkan wajahnya. Sentuhan-sentuhan pada parasaannya semakin terasa. Dan karena itulah tiba-tiba ia merasa menyesal atas perbuatannya itu. Namun justru karena itulah maka ia berdiam diri.

“Nah. Pikirkanlah kata-kataku” berkata orang berjubah itu pula. Tiba-tiba Sambirata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hormat ia menjawab, “Baik Kiai. Akan aku pikirkan baik-baik kata Kiai.

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, Sekarang kembalilah ke Demak. Kau dapat menempuh jalan yang wajar. Bukankah kau menempuh jalan yang sulit, jalan yang bukan sewajarnya dilalui orang pada saat kau berangkat kemari? Lewat gerumbul-gerumbul dan memotong diantara hutan-hutan belukar. Itu adalah gambaran dari pengakuanmu atas perbuatan-perbuatan yang tidak wajar pula yang akan kau lakukan. Sebab kalau kau berlaku wajar, maka kau tidak perlu melalui jalan-jalan yang tersembunyi.”

Sekali lagi Sambirata mengangguk. Dan kemudian jawabnya, “Ya Kiai. Aku menyadarinya”

Tetapi ketika Sambirata itu berpaling kearah Sembada, maka katanya “Apakah kau sudah mampu berjalan Adi?”

Sembada mengerang perlahan-lahan. Sekali lagi ia berusaha bangkit. Namun punggungnya masih terasa sakit. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya. Maka katanya “Bertanyalah kepada murid-muridmu. Apakah mereka sudah mampu berjalan?”

Sambirata itupun kemudian menebarkan pandangan matanya kearah murid-muridnya yang masih berserakan disekitarnya. Ada yang sudah mampu duduk dan mencoba berdiri, namun ada juga yang masih terbaring sambil menyeringai. Melihat mereka itu, tergetarlah hati Sambirata. Hampir saja ia mengorbankan orang-orang itu hanya untuk sebuah timang. Dan karena itu, maka timbullah iba didalam hatinya. Iba kepada murid-muridnya yang tidak tahu menahu ujung pangkal dari perbuatannya.

Perlahan-lahan Sambirata itu menghampiri muridnya yang paling parah diantara mereka. Perlahan-lahan ia berbisik. “Maafkan aku.”

Muridnya itu menjadi heran. Apakah yang harus dimaafkannya?

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya