Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 156
SESAAT kemudian Karebet menggeser kakinya. Dari sisinya melontarlah seorang yang akan lebih tua dari Sembada. Namun tampaklah betapa orang itu jauh lebih tenang dan meyakinkan. Orang itulah Kiai Sambirata.
Dengan lemahnya Kiai Sambirata menganggukan kepalanya. Dengan sareh ia berkata, "Apakah Angger yang bernama Karebet?"
Karebet mengangguk. Namun terasa bahwa ia harus lebih waspada karenanya.
Meskipun ia tidak bergerak dari tempatnya, namun ia benar-benar tidak mau menjadi lembu bantaian.
Karena itu segera dengan diam-diam diterapkannya Ajinya yang dahsyat, Lembu Sekilan.
Sambirata melihat wajah Karebet yang tegang. Tetapi ia tidak segera menyadari, bahwa dengan sikap yang sederhana itu, Karebet telah matek Ajinya Lembu Sekilan. Karena itu, masih saja Kiai Sambirata yang terlalu percaya kepada dirinya itu berkata, "Benarkah aku berhadapan dengan Angger Jaka Tingkir?"
Karebet mengangguk, "Ya. Akulah Karebet, yang juga disebut orang, Jaka Tingkir."
Kiai Sambirata mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akulah yang bernama Sambirata."
Karebet memandang orang itu dengan seksama. Di Demak, nama itu memang pernah didengarnya. Tetapi ia tidak pernah menaruh perhatian. Kini tiba-tiba orang itu datang kepadanya dengan maksud yang tidak sewajarnya.
Dengan demikian, maka Karebet itu benar-benar harus berhati-hati. Ia tahu benar benar bahwa Sembada adalah kakak seperguruan Prabasemi dan Sambirata adalah orang yang kurang disenangi oleh masyarakat Demak karena pekerjaannya. Ternyata kini mereka berdua bergabung untuk melenyapkannya. Meskipun demikian sebenarnya Karebet sama sekali tidak gentar. "Kalau perlu, aku terpaksa membunuh untuk mempertahankan hidupku," katanya.
Yang berbicara kemudian adalah Sambirata. "Angger. Baiklah aku berterus terang. Kami berdua dengan beberapa murid-muridku datang untuk membunuh Angger. Kalau Angger ingin mencoba, lawanlah kami. Kami tidak mampunyai banyak waktu."
Sekali lagi Karebet terkejut. Ternyata mereka tidak hanya berdua. Tetapi justru karena itu timbullah marahnya. Wajahnya yang riang menjadi kemerah-merahan karena nyala api kemarahan yang membakar dadanya.
Dengan lantang anak dari Tingkir itu menjawab, "Paman dan Kakang Sembada. Kita adalah manusia yang mempunyai sifat mempertahankan hidup yang dikaruniakan kepada kita. Aku harus mencoba mempertahankan hidup itu sekuat-kuat tenagaku. Kalau Yang Maha Esa berkenan, maka jangan menyesal kalau kalian berdualah yang akan mendahului aku."
"Jangan membual. Meskipun kau kekasih Jim, Setan, Peri, Prayangan, namun kalau tidak mampu menangkap angin, jangan mencoba menengadahkan kepalamu," bentak Sembada dengan kasarnya.
"Langit dan bumi menjadi saksi. Kalau terjadi pertumpahan darah di sini, bukan akulah yang bersalah," sahut Karebet.
Sembada sudah tidak dapat menahan diri lagi. Timang emas bertretes berlian benar-benar menarik hati, apalagi anak muda itu benar-benar telah membakar telinganya. Karena itu, cepat-cepat ia meloncat dan memukul dada Karebet sekuat-kuatnya.
Karebet melihat gerak Sembada itu, namun ia sama sekali tidak menghindarinya. Namun wajahnya menjadi tegang dalam penerapan ajian yang setinggi-tingginya, daya pertahanan dalam Aji Lembu Sekilan.
Tenaga Sembada adalah tenaga yang luar biasa kuatnya. Namun ia masih mempergunakan kekuatan jasmaniah melulu. Karena itu, ketika tangannya membentur dada Karebet alangkah terkejutnya. Karebet itu masih saja tegak seperti tonggak. Sedang kedua kakinya yang kokoh kuat seakan-akan berakar jauh menghujam ke pusat bumi. Bahkan terasa, seakan-akan tangan Sembada itu menghantam sesuatu yang tak dapat dilihatnya. Tetapi tangannya itu seakan-akan sama sekali tidak menyentuh dada Karebet.
Ketika ia menyadari serangannya itu gagal, maka segera ia meloncat surut. Dengan marahnya ia menggeram, sambil menunjuk wajah Karebet itu dengan ujung jarinya. "Setan, gendruwo. He Karebet. Apa kau sangka Aji Lembu Sekilan itu tak akan berlawan?"
Karebet tidak menjawab. Namun sekilas ia melihat Sambirata bergeser.
Orang itu menghentakkan kedua tangannya dan dengan satu gerakan yang cepat, tangan itu ditariknya ke samping.
"Hem," geram Karebet. "Aji apalagi yang akan kau pamerkan?"
SAMBIRATA benar-benar tersinggung. Ia memang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang-orang kebanyakan. Dengan pemusatan pikiran dan kehendak, maka Sambirata dapat menyalurkan kekuatan itu. Namun ia sama sekali tak peduli, apakah nama dari kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Dan Sambirata memang tidak berpikir tentang nama itu meskipun dahulu gurunya menyebutnya, Aji Wilet, namun yang dimilikinya telah banyak mengalami perubahan, sehingga ia tidak menyebutnya demikian. Tetapi betapa pun juga, ia mampu menerapkan ilmunya yang dahsyat itu. Ketika ia menyadari, bahwa lawannya sejak permulaan itu telah mempergunakan Aji Lembu Sekilan, maka Sambirata pun segera mempergunakan ilmunya itu. Dengan serta merta, Sambirata meloncat pula dan langsung memukul wajah Karebet.
Karebet melihat serangan itu, dan ia pun menyadari, bahwa Sambirata tidak sekadar menyerangnya dengan tenaganya, namun pasti sudah dilambari dengan suatu ilmu yang berbahaya. Karena itu, Karebet pun segera menarik diri satu langkah ke samping, sehingga serangan Sambirata dapat dihindari. Namun Sambirata benar-benar lincah. Sekali lagi ia melenting seperti sikat, dan Karebet tidak sempat untuk menghindari, ketika kaki Sambirata itu langsung menghantam lambungnya. Terjadilah suatu benturan yang tajam, antara kekuatan ilmu Sambirata melawan Lembu Sekilan. Akibatnya pun dahsyat pula. Dan sekali ia berguling. Sedang Sambirata pun terdorong oleh kekuatannya sendiri yang seakan-akan membentur dinding baja. Terasa pula dadanya menjadi pedih. Karena itu segera ia memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk melawan tekanan yang seakan-akan menghentak-hentak di dalam dadanya itu.
Karebet yang baru saja berhasil menguasai dirinya, setelah Aji Lembu Sekilan berhasil ditembus, meskipun tidak terlalu berbahaya oleh Sambirata, terkejut sekali melihat serangan Sembada. Sekilas ia masih sempat melihat Sembada itu menjulurkan kedua tangannya ke belakang, sedang kedua tangannya kemudian mengepal ke lambungnya. "Seperti yang dilakukan Prabasemi," geramnya. Namun serangan itu telah tiba, sedemikian cepatnya, sehingga kali inipun Karebet tidak dapat menghindar. Karena itu, maka sekali lagi Aji Lembu Sekilan yang baru saja digoncangkan oleh Sambirata itu kembali berguncang.
Aji Sembada menembus Aji Lembu Sekilan yang belum mapan kembali. Sekali lagi Karebet berguncang dan terbanting di tanah. Kali ini ia harus berguling beberapa kali untuk mendapatkan jarak dari lawan-lawannya. Namun sekali lagi Karebet terkejut. Tiba-tiba saja ia melihat beberapa orang bersama-sama muncul dari dalam belukar di sekitarnya. Mereka berebutan menyerangnya dengan pedang pendek, seperti ingin mencincangnya. Namun Karebet adalah seorang yang aneh, yang memiliki ketangkasan dan keperkasaan yang mengagumkan. Ketika ia melihat serangan itu datang, maka secepatnya ia melanting berdiri, dan dengan sekali loncat, ia telah berhasil menjauhkan dirinya dari orang-orang itu.
Tetapi kemudian datanglah serangan Sambirata memotong gerakannya. Karebet menggeram. Betapa ia menjadi marah bukan main. Kini ia tidak boleh ragu-ragu lagi. Kalau ia terpaksa membunuh, maka sekali lagi ia meyakinkan dirinya, bukan salahnya. Dengan demikian, maka kembali Karebet menerapkan Aji Lembu Sekilan dalam puncak kemampuannya. Ia sadar bahwa Sambirata masih akan berhasil menembus ajiannya itu. Namun pasti tidak akan berbahaya. Juga Sembada tidak akan membahayakan jiwanya. Tetapi senjata-senjata tajam itu pun perlu mendapat perhatiannya. Dengan kekuatan yang baik, maka senjata tajam itu pun akan mampu menembus benteng pertahanannya, meskipun tidak akan dapat membunuhnya dengan sekali tusuk. Namun kalau luka itu menjadi bertambah-tambah dan darahnya mengalir terlalu banyak, maka keadaan itu pun pasti akan menimbulkan bahaya.
Kini Karebet pun sudah siap dengan puncak keterampilannya. Seperti sikatan berloncatan di rerumputan hijau. Karebet menghindari setiap serangan lawannya, dan bahkan beberapa orang telah terpelanting dan terbanting jatuh. Namun sentuhan-sentuhan Karebet yang harus mempertahankan diri dari setiap serangan itu, maka tekanan-tekanan lawan-lawannya masih saja terasa menjadi semakin berat. Meskipun demikian Karebet sama sekali tidak gentar. Ia melihat, bahwa hanya dua orang di antara mereka yang harus mendapat perhatiannya yang khusus. Sambirata dan Sembada dari Kedung Wuni.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Beberapa orang murid Sambirata itu sama sekali tak berdaya menghadapi kelincahan Karebet.
MEREKA menjadi benar-benar tidak dapat mengerti, bahwa setiap kali mereka menusukkan pedang-pedang mereka, maka seakan-akan mereka sama sekali tak menyentuh tubuh lawannya, meskipun lawannya tidak berusaha untuk menghindar.
Hanya dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik, selagi mereka sempat mengerahkan segenap kekuatannya, maka pedangnya dapat menggores kulit Karebet. Dan beberapa tetes darah mengalir dari luka itu.
Namun setiap tetes darah yang tumpah, seakan-akan merupakan tetesan minyak yang menyirami api kemarahan di dalam dada anak muda dari Tingkir itu. Betapa kemudian ia tidak lagi mengendalikan dirinya.
Dengan kecepatannya bergerak, maka ia pun segera berhasil menjatuhkan beberapa lawannya.
Murid-murid Sambirata itu, jatuh bangun tak henti-hentinya. Sekali-kali mereka merasa bahwa lawannya yang hanya seorang itu akan segera binasa. Namun lain kali, seakan-akan terasa gunung runtuh menimpa dadanya. Seperti beribu-ribu kunang terbang di sekitar rongga mata mereka. Dalam kesesakan nafas itu, mereka sekali-kali mendengar kawan-kawannya yang mengaduh, dan jatuh menimpanya.
Apabila seorang di antara mereka mampu merangkak bangun, maka seorang yang lain terbanting jatuh.
Sehingga mereka seakan-akan sama sekali tak berarti. Tetapi mereka sedang bertempur di hadapan guru mereka. Betapa pun pungggung mereka serasa telah patah, tetapi dengan kekuatan-kekuatan mereka yang terakhir, mereka masih juga mencoba bangun. Berdiri dan bergeser setapak demi setapak di sekitar perkelahian itu, untuk sesaat kemudian dada mereka serasa meledak karena sentuhan-sentuhan tangan atau kaki Karebet.
Dalam saat-saat berikutnya, meskipun tampaknya beberapa orang masih juga berdiri mengitari tempat perkelahian itu, namun sebenarnya tidak lebih dari Sembada dan Sambirata berdualah yang berkelahi mati-matian.
Dengan kekuatan ajian masing-masing, mereka mencoba untuk membunuh anak yang aneh itu. Dalam pada itu, Karebet pun merasakan tekanan-tekanan yang berat dari kedua orang itu. Mereka masing-masing ternyata tidak lebih dari Tumenggung Prabasemi. Namun karena kekuatan mereka bergabung, maka Karebet benar-benar menghadapi pekerjaan yang sangat berat.
Aji Lembu Sekilannya terasa sesekali terguncang. Dan sekali-kali terasa bahwa dalam kesempatan-kesempatan itu, kekuatan-kekuatan ajian lawannya berganti-ganti dapat menembusnya meskipun tidak terlalu dalam. Namun apabila hal itu berlangsung lama, maka ada kemungkinan pertahanannya menjadi semakin lemah. Meskipun orang-orang lain, kecuali kedua orang itu hampir tak berarti bagi Karebet, namun mereka telah memecahkan beberapa pemusatan perhatiannya.
Sehingga sesaat kemudian dengan penuh kemarahan, maka orang-orang itu satu demi satu dilumpuhkannya.
Dan kini yang terakhir adalah Sembada dan Sambirata.
Keduanya tampaknya masih cukup segar utuk melawannya. Meskipun kedua orang itu pun sebenarnya menjadi gelisah pula menghadapi Aji Lembu Sekilan.
Kini Karebet benar-benar dapat memusatkan segenap perhatiannya. Sekali-kali ia berpaling kepada orang-orang yang bergelimpangan disana-sini. Ada di antara mereka yang masih mencoba bangkit, namun ternyata tenaga mereka seakan-akan telah terhisap habis, sehingga kembali mereka tak berdaya jatuh di tanah.
Sambirata yang melihat muridnya tak berdaya itu mengumpat tak habis-habisnya, katanya, "Tikus-tikus malang. Ternyata kalian sama sekali tak dapat dibanggakan sebagai seorang murid Sambirata."
Murid-murid itu pun mengeluh di dalam hati. Tetapi mereka bergumam pula didalam hati. "Jangankan aku, sedang guru sendiri pun tidak juga segera dapat menguasai lawan yang hanya seorang itu."
Karebet kemudian sama sekali tak memperhatikan lagi mereka yang telah terkapar di tanah.
Yang dihadapinya kini adalah Sembada dan Sambirata. Kedua orang ini benar-benar berhasrat akan membunuhnya.
Sesaat kemudian pertempuran pun berkobar pula dengan sengitnya. Sembada dan Sambirata berjuang dengan sepenuh tenaga. Meskipun mereka bukan datang dari perguruan yang sama, namun mereka segera dapat menyesuaikan diri mereka. Berganti-ganti mereka menyerang dengan kedahsyatan ajian masing-masing. Seperti sepasang burung alap-alap yang menyambar-nyambar mangsanya.
Tetapi Karebet benar-benar memiliki kelincahan yang tak mereka sangka-sangka, disamping perisainya yang luar biasa Aji Lembu Sekilan. Betapa dahsyatnya serangan-serangan Sembada dan Sambirata, namun Mas Karebet itu masih saja mampu mempertahankan dirinya.
Meskipun demikian, sekali-kali pertahanannya terguncang pula oleh kekuatan-kekuatan Aji lawannya. Sehingga sekali-kali Mas Karebet mampu pula didorongnya jatuh. Namun demikian ia jatuh segera ia melanting berdiri, siap melawan dengan lambaran ilmunya, Lembu Sekilan.
TETAPI betapapun Karebet berjuang dalam keadaannya itu, namun ternyata bahwa lawannya bukan seorang Prabasemi. Tetapi kini lawannnya yang berjumlah dua orang itu, ternyata berhasil menggabungkan kekuatan mereka dengan baiknya.
Sehingga sekali-kali mereka berdua berhasil bersama-sama menghantamkan kekuatan ajinya atas tubuh Mas Karebet yang masih muda itu. Dengan demikian, maka Mas Karebet itu semakin lama menjadi semakin terdesak karenanya.
Dan tekanan ini telah membakar jantungnya. Kemarahan semakin lama menjadi kian memuncak, seakan-akan telah mendidihkan seluruh darahnya. Ia tidak mau mati karena pokal Prabasemi. Meskipun pusat kemarahannya berkisar kepada Tumenggung Prabasemi, dan meskipun disadarinya bahwa kedua orang yang datang bersama murid-muridnya itu tidak lebih dari orang-orang suruhan yang ingin mendapatkan upah karena perbuatannya itu, namun apabila tak dimilikinya cara lain, maka cara satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya adalah membunuh lawan-lawannya.
Karena itu, Karebet yang marah itu, masih mencoba untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukannya. Kalau ia terpaksa membunuh, dan perbuatannya itu didengar oleh Sultan, maka apakah Sultan tidak menjadi semakin murka kepadanya.
Karena itu, maka untuk terakhir kalinya Karebet itu mencoba mencegah bencana yang semakin berlarut-larut. Katanya, "Kakang Sembada. Aku minta kakang berpikir sekali lagi, apakah yang kakang lakukan itu sudah kakang anggap benar?"
Sembada masih menyerang Karebet dengan dahsyatnya. Meskipun demikian ia sempat juga menjawab, "Jangan banyak bicara. Aku bukan anak-anak."
Dengan tangkasnya Karebet menghindari serangan yang ganas itu. Namun tiba-tiba Sambirata memotong geraknya sambil berputar setengah lingkaran. Tangan Sambirata yang terjulur itu tidak mengenai sasarannya, tetapi cepat ia meloncat sekali lagi. Ajinya yang dahsyat terayun tepat mengarah tengkuk Karebet.
Karebet masih berusaha untuk menghindar, namun kesempatannya terlalu sempit. Yang dapat dilakukan adalah meloncat surut selagi ia masih berjongkok. Gerakan-gerakan khusus yang sulit dilakukan oleh orang lain.
Karena itu Sambirata terkejut bukan buatan. Sekali lagi serangannya tak mengenai lawannya. Tetapi dalam pada itu Sembada telah siap dengan serangannya pula.
Demikian Karebet menyentuh tanah, Sembada meloncat dengan cepatnya melontarkan Aji Sapu Anginnya kearah punggung lawannya.
Kali ini kesempatan Karebet benar-benar sangat sempit. Karena itu ia hanya dapat berputar dan dengan puncak kekuatan Aji Lembu Sekilan yang dimiliki ia melawan pukulan Aji Sapu Angin. Ternyata dengan gerakan yang pendek itu, pukulan Sembada tidak tepat mengenai sasarannya.
Tangannya itu hanya mampu menyentuh pundak Karebet. Sedang pundak Karebet telah dilindungi pula oleh Lembu Sekilan, sehingga pukulan yang melesat itu sama sekali tak mampu menerobos perisai Karebet yang dahsyat itu.
Sembada menggeram. Namun kali ini serangan Karebetlah yang menyambar perutnya. Dengan berputar pada satu kakinya, Karebet membuat serangan dengan kakinya menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Sedangan yang tidak disangka-sangka. Karena itu, maka Sembada dengan tergesa-gesa meloncat surut. Namun Karebet tidak membiarkannya, sekali ia meloncat maju, dan sekali lagi kakinya menjulur lurus kedada lawannya. Serangan itu sedemikian cepatnya, sehingga Sembada tak mampu lagi untuk mengelak. Karena itu, maka dengan sepenuh tenaga, dilawannya serangan Karebet itu dengan Aji Sapu Angin, sehingga terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji Lembu Sekilan yang melindungi serangan Karebet, melawan Aji Sapu Angin.
Sembada itu pun tergetar surut beberapa langkah, namun Karebet pun terlontar pula mundur. Aji Lembu Sekilan dalam patrap penyerangan memang tidak sekuat dalam patrap pertahanan. Karena itu terasa pula, nyeri-nyeri menjalari tubuh anak muda dari Tingkir itu. Apalagi sesaat kemudian Sambirata telah melontarkan serangannya pula, sehingga Karebet yang belum memiliki keseimbangan yang mantap itu terpaksa menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali menghindari kekuatan Aji Sambirata.
Keadaan Karebet semakin lama benar-benar menjadi semakin sulit.
Aji Lembu Sekilannya beberapa kali telah berhasil digoncangkan oleh kekuatan Aji kedua lawannya bersama-sama. Meskipun demikian ia masih berteriak. "Kakang Sembada dan paman Sambirata. Aku kini memperingatkan kalian untuk yang terakhir kalinya. Pergilah dan katakan kepada Prabasemi bahwa Karebet telah mati. Aku tidak akan datang ke Demak sebelum Sultan mengampunkan kesalahanku. Dalam waktu yang tidak tertentu itu, mudah-mudahan Prabasemi telah melupakan dendamnya kepadaku."
Yang terdengar kemudian adalah suara Sembada dan Sambirata tertawa hampir berbarengan. Tetapi tawa Sembada ternyata jauh lebih keras. "Hai anak yang bernasib jelek. Sesaat sebelum kau mati, kau masih punya waktu untuk menyombongkan dirimu."
Dan terdengar Sambirata berkata pula, "Angger ternyata menyadari kesulitan yang angger alami. Menyerahlah supaya angger tidak menjadi lelah. Perjalanan ke akhirat masih panjang, dengan demikian angger masih menyimpan sisa tenaga untuk perjalanan itu."
Karebet menjadi marah bukan alang kepalang. Matanya kini memancar hijau kebiru-biruan sebagaimana sinar mata harimau dikegelapan. Dengan parau terdengar suaranya gemetar karena marah, "kalau begitu terserahlah. Aku tidak mau mati. Bagiku lebih baik membunuh daripada dibunuh."
Sekali lagi Sembada dan Sambirata tertawa. Tetapi tiba-tiba suaranya terputus karena melihat Karebet meloncat mundur. Dengan pancaran mata yang aneh, biru kehijauan Karebet memandang kedua lawannya berganti-ganti. Kemudian dengan wajah tegang anak muda itu menggosokkan kedua telapak tangannya, meloncat dengan garangnya dan tegak diatas kedua kakinya yang renggang. Sesaat kemudian ditekuknya kedua lututnya, siap melontarkan serangan yang dahsyat, aji Rog-rog Asem.
Sebenarnyalah Karebet pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Karena goncangan pada Aji Lembu Sekilan, maka hatinyapun serasa diguncang-guncang. Karena itu, maka pada saat terakhir ia tidak mampu menahan kemarahannya. Sehingga bulatlah tekadnya untuk membunuh saja kedua lawannya dengan aji Rog-rog Asem.
Sembada dan Sambirata yang melihat sikap Karebet segera menyadari keadaan mereka. Selagi Karebet belum menggunakan Aji lain daripada Lembu Sekilan, mereka telah menemui banyak kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Apalagi kalau anak muda itu kemudian mempergunakan kekuatan terakhirnya. Karena itu tanpa saling berjanji mereka menyiapkan kekuatan Aji untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Tidak oleh Karebet, maupun Sembada dan Sambirata. Ketika mereka telah hampir sampai pada puncak pengerahan Aji masing-masing, maka demikian derasnya, namun benar-benar langsung mempengaruhi isi dada mereka.
Belum lagi mereka menyadari keadaan mereka masing-masing, tiba-tiba dari balik gerumbulan yang lebat sebuah bayangan meloncat dekat diantara mereka dan dengan sengaja seakan-akan melerai pertempuran.
Yang menjadi sangat terkejut diantara mereka adalah Karebet. Sesaat ia terpaku ditempatnya. Namun kemudian bahkan ia memperkuat getaran yang bergerak didalam tubuhnya. Kembali ia memusatkan segenap kekuatan lahir batin untuk mengetrapkan aji Rog-rog Asem.
Bahkan kemudian terdengar ia menggeram pandangan matanya erat melekat pada orang yang baru datang itu.
Orang itu masih berdiri diam. Tertawanya menjadi lirih. Dan sesaat kemudian terdengar terdengar ia berkata, "Sudahlah Karebet. Lepaskan dulu pemusatan tenaga itu."
Tetapi Karebet masih tetap dalam sikapnya. Setiap saat ia dapat meloncat sambil melepaskan Aji Rog-Rog Asem. Ia tidak mau menjadi korban dari persoalan yang berbelit-belit itu. Karena itu kembali ia menggeram dan berkata.
"Pasingsingan, apakah kau menjadi sraya Tumenggung?"
Orang yang datang itu terkejut. Namun kembali ia tertawa lirih, sambil memandangi jubahnya ia berkata, "Yah aku memang mirip dengan Pasingsingan. Aku juga memppunyai ciri yang serupa."
Mendengar jawaban itu Karebet menjadi bimbang sesaat. Namun ia tidak mau terpengaruh karenanya. Dengan demikian ia masih tetap dalam sikapnya.
Sedang dua orang yang lain, terkejut pula mendengar Karebet menyebut orang itu Pasingsingan. Nama itu juga pernah mereka dengar, namun seperti sebuah dongengan yang tak mereka pahami. Tetapi yang mereka dengarpun mengatakan bahwa Pasingsingan memang mengenakan jubah berwarna abu-abu dan menggunakan topeng. Kini orang yang berdiri dihadapan mereka mengenakan jubah serta topeng untuk menutupi wajahnya.
Sesaat kemudian kembali terdengar orang itu berkata, "Karebet, jangan segera berprasangka. Aku datang untuk melerai perkelahian yang tak ada gunanya ini."
Karebet memandang orang ini dengan seksama. Dengan penuh kewaspadaan ia bertanya, "Apa sebabnya kau melerai perkelahian ini?"
Kembali orang itu tertawa, kemudian kepada Sembada ia berkata, "Ki Sanak lepaskan maksudmu untuk membunuh anak muda ini. Sebab dengan demikian, kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Sesaat Sembada dan sambirata saling berpandangan. Namun kemudian terdengar Sembada berkata, "Siapakah kau sebenarnya?"
"Namaku dan diriku sama sekali tidak penting bagimu. Namun kau minta, pikirkan sekali lagi. Apakah keuntunganmu dengan membunuh Karebet?"
Kembali Sembada dan Sambirata terdiam. Namun seperti Karebet merekapun memandang orang yang tegak dihadapan mereka, dengan jubah abu-abu dengan tidak berkedip. Sesaat kemudian, terdengar orang itu berkata "Sekarang pulanglah kalian kerumah masing-masing. Karebet ke Tingkir, dan kalian berdua serta kawan-kawan kalian kembali ke Demak."
Sembada mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang sebuah timang emas bertretes berlian. Kalau ia pulang sebelum berhasil membunuh Karebet, maka timang itu akan lepas dari tangannya. Dan yang dilakukannya bersusah payah ini, tak akan ada artinya sama sekali. Berlari menerobos hutan dan ladang untuk segera dapat mendahului perjalanan Karebet.
Tiba-tiba ketika mereka sudah hampir pada saat yang menentukan seseorang minta kepada mereka untuk pulang saja dengan tangan hampa. Tetapi betapapun juga kehadiran orang itu benar-benar mempengaruhi perasaannya.
Meskipun demikian Sembada berkata pula, "Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini sesaat sebelum pekerjaanku selesai kau datang mengganggu kami."
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya