Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 155

PRABASEMI diam sejenak. Direka-rekanya sebuah nama yang pantas. Baru kemudian ia berkata, “Namanya Dadungawuk.”

Santapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Prabasemi berkata.,”Namun sayang. Karebet telah bertindak sendiri. Dadungawuk yang sombong itu dibunuhnya.”

“Hem,” Santapati mengangguk-angguk pula. “Sayang,” desisnya. “Tetapi kesalahan itu bukan kesalahan yang terlalu besar. Bukankah Karebet membunuhnya setelah mereka bertengkar?”

“Itu dapat terjadi dalam hubungan perseorangan. Mungkin Karebet tidak bersalah. Tetapi peristiwa ini telah menyeret nama Wira Tamtama ke dalam suatu tempat yang terlalu buruk. Apakah kita, Wira Tamtama tidak ikut menjadi jelek kalau seorang dari kita berbuat sewenang-wenang hanya karena ia seorang Wira Tamtama?”

Santapati mengangguk-angguk kembali. Namun ia bertanya, “Tetapi apakah hukuman itu sampai sedemikian jauhnya, sehingga setiap orang boleh membunuhnya?”

“Bukankah dengan demikian, berarti bahwa kita, Baginda sendiri, dan semua pemimpin Demak tidak sependapat dengan perbuatannya? Karena itu, jadikanlah peristiwa ini sebagai contoh bagimu.”

Sekali lagi Santapati mengangguk-angguk, namun keheranannya tidak juga berkurang. Belum pernah ia mendengar peristiwa itu kapan terjadi. Dan kalau yang mengatakan kepadanya bukan Tumenggung Prabasemi sendiri, maka ia pasti tidak akan percaya. Tetapi kali ini yang mengatakan adalah atasannya dan atasan Karebet itu pula. Apalagi sebelum peristiwa ini, maka agaknya Tumenggung Prabasemi terlalu dekat dengan anak muda itu.

Tiba-tiba Santapati terkejut ketika Tumenggung Prabasemi itu membentaknya, “He, mengapa kau berdiri seperti patung. Pergi. Sekarang kalian boleh pergi.”

“Oh” Santapati tergagap, seperti orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak. “Pergi sekarang, dan panggil kakang Sembada untuk datang kemari malam ini. “

Langkah Santapati terhenti. Kemudian ia memutar tubuhnya kembali menghadap Kiai Tumenggung. Sambil mengangguk dalam ia bertanya, “Kakang Sembada yang manakah yang Kiai maksud?”

“Gila. Hanya ada satu Sembada yang aku kenal?”

“Tidak Kiai. Yang sudah aku ketahui ada tiga. Lurah Pasar Paing. Yang kedua Jagal di Kedung Wuni dan yang satu lagi Sembada jajar juru taman di Kasatrian.”

“Bodoh kau. Ada lebih seribu Sembada di seluruh Demak. Tetapi kau harus tahu, manakah yang aku panggil kakang di antara mereka.”

Santapati menjadi bingung. Untung-untungan ia berkata. “Apakah kakang Sembada Lurah Pasar Paing yang kaya raya itu.”

“Oh, alangkah bodohnya kau. Buat apa aku memanggil Lurah Pasar? Panggil Kakang Sembada, jagal dari Kedung Wuni.”

Santapati mengerutkan keningnya. Aneh. Prabasemi memerlukan memanggil seorang jagal dari Kedung Wuni. Apakah Tumenggung ini akan mengadakan selamatan dengan menyembelih beberapa ekor lembu setelah ia mendapatkan sesuatu dari hutan Santi? Tetapi Santapati tidak berani bertanya. Sekali lagi ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian mohon diri meninggalkan rumah Tumenggungnya itu. Walaupun di sepanjang jalan tak habis-habisnya ia berpikir. “Buat apakah Kiai Tumenggung memanggil jagal Kedung Wuni?”

Tetapi Santapati tidak mau menjadi pusing karenanya. Ia cukup menyampaikan perintah itu, lalu pulang dan tidur nyenyak.

Sembada malam itu benar-benar menghadap Tumenggung Prabasemi. Jagal Kedung Wuni itu adalah saudara seperguruan Tumenggung yang garang itu. Namun nasib mereka ternyata jauh berbeda. Meskipun Sembada lebih dahulu berguru, namun kecerdasan otak Tumenggung Prabasemi memungkinkan Tumenggung itu melampaui kakak seperguruannya. Apalagi dalam beberapa hal Prabasemi berhasil menunjukkan kekhususannya, sehingga karena itulah maka keadaannya Prabasemi jauh lebih baik dari keadaan kakak seperguruannya itu, juga dalam tataran olah keprajuritan dan tata perkelahian Prabasemi sudah berada diatasnya.

KETIKA Prabasemi telah menguraikan maksudnya, maka bertanyalah Sembada, “Kenapa tidak Adi Tumenggung saja yang melakukannya?”

“Tidak mungkin, Kakang. Aku tidak dapat meninggalkan pekerjaanku. Dan apabila kelak Sultan mengetahui maka keadaanku akan menjadi lebih buruk.”

“Tetapi kemungkinan untuk mengetahui bahwa Kakang yang melakukannya adalah sangat kecil. Sedang kalau aku yang melakukannya, maka dengan mudahnya orang dapat menghubungkan setiap peristiwa. Prabasemi tidak ada di rumahnya pada saat orang menemukan mayat Karebet. Tetapi orang tak akan menghiraukannnya, apakah Kakang Sembada berada dirumah atau tidak pada suatu saat.”

Sembada mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika ia meilihat Prabasemi melepaskan kamus dan timang emasnya. Cahaya berlian yang berkilat-kilat pada timang itu telah menyilaukan mata Sembada. Ketika Prabasemi mempermainkan timang itu, maka bertanyalah Sembada, “Adi Tumenggung, sebenarnya pekerjaan itu sangat mudah aku lakukan. Tetapi di mana aku harus mencari Karebet?”

Prabasemi tersenyum. “Tidak terlalu mudah, Kakang. Kakang harus membawa lima atau enam kawan.”

“Lima atau enam?” mata Sembada tiba-tiba terbeliak, “Apakah anak itu anak setan?”

“Bukan, sama sekali bukan. Tetapi aku ingin kali ini tidak akan gagal. Lebih baik Kakang kelebihan tenaga daripada Kakang harus mengulanginya lain kali.”

“Baik. Baik,” sahut Sembada, “Tetapi ke mana aku harus mencari?”

“Kakang, aku sangka anak itu akan pergi jauh-jauh. Ia adalah murid seorang perantau. Namun aku sangka ia akan singgah ke rumahnya di Tingkir. Bukankah anak itu terkenal pula bernama Jaka Tingkir? Nah, Kakang dapat mencoba mendahuluinya. Kakang harus melakukan pekerjaan Kakang itu kalau mungkin, sebelum anak itu sempat sampai ke rumahnya dan berceritera tentang dirinya, supaya tak seorang pun yang akan meributkannya. Ibu angkatnya pasti menyangka bahwa anak itu masih berada di istana sampai beberapa lama. Sedang apabila seseorang menemukan mayatnya, maka biarlah orang menyangka bahwa keluarga Dadaungawuk yang telah membunuhnya.”

“Siapa Dadungawuk itu?”

“Dadungawuk adalah nama anak muda yang dibunuh oleh Karebet itu.”

Sembada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan melakukannya Adi Tumenggung. Tetapi kalau aku tidak dapat menemukannya, maka Adi Tumenggung jangan menyalahkan aku.”

“Semuanya harus dicoba. Malam ini sebaiknya Kakang berangkat dengan orang-orang yang barangkali dapat kakang kumpulkan. Ingat, lima, enam atau tujuh orang. Syukur lebih dari itu. Sebab, selama ini ia ada di dalam kesatuanku, maka aku telah dapat menilai betapa anak itu menyimpan ajian di dalam tubuhnya yang dapat melindunginya, Lembu Sekilan.”

“Lembu Sekilan?” Sekali lagi mata Sembada terbelalak. “Apakah aku mampu melawan Lembu Sekilan?”

“Jangan terlalu merendahkan dirimu. Bukankah Kakang memiliki Aji Sapu Angin seperti aku?”

Sembada termenung sesaat. Aji Sapu Angin memang dapat dibanggakannya, namun ia tidak tahu apakah Sapu Angin-nya yang tidak sempurna mampu menembus Lembu Sekilan. Ketika Sembada baru mencoba menilai diri, maka terdengarlah Prabasemi berkata, “Lembu Sekilan anak itu masih belum sempurna. Karena itu Kakang jangan cemas karenanya. Meskipun demikian kawan-kawan kakang pun harus mampu menyesuaikan diri dengan ilmu anak itu. Mungkin dengan senjata masih mungkin menembus pertahanan ajian anak itu.”

Dicobanya oleh Sembada berpikir tentang segala kemungkinan. Dicobanya juga untuk menginat-ingat beberapa nama yang pantas untuk melakukan pekerjaan itu. Tiba-tia ia tersenyum, katanya, “Kenapa kita tidak minta tolong kepada perguruan Sembirata? Hem, guru itu adalah kawanku. Ia memiliki beberapa kelebihan daripadaku. Sedang beberapa muridnya yang terpercaya dapat aku bawa serta.”

“Terserah kepada Kakang,” kata Prabasemi sambil melemparkan ikat pinggangnya yang bertimang emas dan bertretes berlian. “Inilah, barangkali Kakang perlu menyangkutkan pedang di pinggang Kakang.”

Sembada menggigit bibirnya untuk menahan senyumnya. Ia menjadi sangat gembira atas pemberian itu. Meskipun demikian dengan tamaknya ia berkata, “Hem. Aku mengucapkan terima kasih atas pemberianmu Adi. Tetapi aku sangka Kiai Sembirata memerlukan juga timang, meskipun tidak sebaik ini.”

"GILA." Prabasemi mengumpat di dalam hati. Tetapi sebenarnya dirinya pun telah hampir gila pula. Dengan bersungut-sungut ia berjalan masuk ke dalam biliknya. "Hem, alangkah mahalnya putri itu."

Namun ia bersungut pula, "Aku telah banyak kehilangan, belum tentu aku berhasil."

Tetapi kata-kata itu dijawabnya sendiri, "Tetapi aku harus berusaha. Yang pertama, melenyapkan Karebet, supaya Putri itu tidak selalu mengharapkannya kembali." Karena itu betapapun ia mengumpat-umpat di dalam hati, namun diambilnya juga satu ikat pinggang yang lain, bertimang emas pula, namun tidak tidak bertretes berlian.

Setelah menerima ikat pinggang itu beserta timangnya, maka Sembada pun minta diri untuk pergi ke Sambirata.

"Kakang, " kata Prabasemi kemudian, "Ikat pinggang itu hanyalah Kakang pinjam untuk menyangkutkan pedang. Tetapi kalau pedang itu kemudian sama sekali tak berguna, maka ikat pinggang itupun tak akan berguna pula bagi Kakang, dan biarlah orang lain yang lebih memerlukan memakainya."

Sembada mengerutkan keningnya. Ia kenal betul sifat-sifat adik seperguruannya. Ia dapat menjadi seorang pemurah yang tidak kepalang tanggung, namun ia dapat menjadi pelit sekeras batu akik. Karena itu ia tidak dapat menjawab, selain menganggukkan kepalanya. Ketika ia telah keluar dari pagar halaman, masih didengarkannya suara Tumenggung Prabasemi, "Ingat pesanku itu. Yang memakainya ada yang memerlukannya."

"Setan," gumam Sembada. Namun ia bertekad untuk memiliki timang berteretes berlian itu. Sudah beberapa tahun ia menginginkan benda serupa itu. Namun pekerjaannnya sebagai jagal tidak memberinya kemungkinan.

Sampai di rumahnya, diajaknya seorang pembantunya yang juga menjadi satu-satunya muridnya yang sangat disayanginya. Dengan perbekalan yang cukup, mereka meninggalkan rumah itu. Sebuah pedang pendek terselip di ikat pinggang masing-masing. "Kita pergi ke perguruan Sambirata," kata Sembada.

Muridnya mencoba untuk menanyakan, apakah yang akan mereka lakukan. Tetapi Sembada tidak memberitahukannya. "Nanti akan kau dengar pula."

Kiai Sambirata mendengar permintaan sahabatnya dengan ragu-ragu. Sebenarnya Kiai Sambirata memiliki beberapa kelebihan dari Sembada. Apalagi, sudah menjadi kebiasaan Sambirata untuk menerima beberapa permintaan orang-orang lain, mengantarkan mereka ke tempat-tempat yang dianggap berbahaya. Bahkan sekali-kali pernah juga dilakukannya untuk memaksakan beberapa kehendak seseorang atas orang lain. Melamar anak orang dengan sedikit tekanan, dan bermacam-macam lagi. Karena itu nama Sambirata agak tidak disukai oleh beberapa orang. Namun belum dapat dibuktikan, bahwa ia pernah melakukan kejahatan.

Kali ini permintaan Sembada adalah terlalu langsung. Pembunuhan. Meskipun demikian, ketika Sembada menjanjikan timang emas itu kepada Sambirata apabila pekerjaan mereka berhasil, terpercik pula keinginannya untuk menerima barang berharga itu. Karena itu, maka kali ini, permintaan itu betapapun beratnya, namun diterimanya pula. Apalagi Kiai Sambirata itu merasa bahwa ia memiliki beberapa kemampuan yang dapat dibanggakannya. Melampaui Sembada itu sendiri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Sambirata masih belum melampaui Prabasemi.

Namun otaknya yang tidak begitu cerdik menjadikannya tidak lebih dari seorang pesuruh yang garang. Tetapi mereka kini tidak bekerja seorang demi seorang. Mereka bersama-sama telah bergabung dalam satu kekuatan untuk melenyapkan anak muda yang bernama Karebet.

Sambirata pun kemudian membawa beberapa orang muridnya yang dipercaya, sehingga mereka menjadi berjumlah tujuh orang. Rombongan itu sebenarnya menjadi sebuah rombongan yang cukup besar. Namun mereka tidak berjalan bersama-sama. Mereka telah mengadakan persepakatan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun akhirnya mereka akan bertemu di tempat yang telah ditentukan, di sekitar Tingkir. Mereka akan mengawasi jalan dari Demak yang masuk ke pedukuhan itu.

Sementara itu Jaka Tingkir pun masih dalam keragu-raguan. Ia belum tahu pasti, ke mana ia akan pergi. Namun akhirnya sampailah ia kepada keputusan yang sama sekali tidak diketahuinya, bahwa bahaya telah menunggunya di setiap saat. Yang mula-mula akan dilakukan oleh Tingkir itu sebenarnyalah kembali ke Tingkir untuk sementara. Ia ingin tinggal di rumah ibu angkatnya untuk sesaat menenangkan pikirannya.

Baru dari sana ia akan menentukan apakah yang akan dilakukannya untuk seterusnya.

DENGAN penuh penyesalan, Jaka Tingkir yang juga bernama Mas Karebet itu berjalan menyusur hutan-hutan kecil, kembali ke kampung halamannya, Tingkir. Betapa pun penyesalan itu menghentak-hentak dadanya, namun semuanya itu telah berlalu. Keputusan Baginda telah dijatuhkan atasnya. Dan ia tidak akan dapat mengubahnya. Namun betapapun juga, masih tersimpan harapan di dalam hatinya, bahwa suatu ketika Baginda akan mengampuninya. Bukankah Baginda berkata bahwa ia dibuang dari Demak sampai keputusan itu dicabut? Bukankah dengan demikian, ia masih dapat mengharap Baginda mencabut keputusannya? Tetapi seandainya tidak pun, maka ia tidak akan bersakit hati kepada Baginda. Baginda telah cukup melimpahkan kasih sayangnya kepadanya.

Tetapi apabila dikenangnya Tumenggung Prabasemi, maka dadanya seakan-akan meledak karenanya. Kadang-kadang timbul juga penyesalannya, kenapa Tumenggung yang gila itu tidak dibunuhnya?

Bagaimanakah kelak, apabila maksud Tumenggung itu, karena kelicikannya dapat tercapai?

Terdengar Karebet menggeretakkan giginya. Ia tidak akan dapat melihat putri itu dipersandingkan dengan Tumenggung yang gila itu.

"Akan aku bunuh ia di persandingan," geramnya. Karebet berjalan terus siang dan malam. Hanya kadang-kadang saja ia berhenti. Menikmati sejuknya udara di hutan-hutan yang rindang. Mendengarkan burung bernyanyi. Namun kalau didengarnya suara angin berdesir lembut, maka hatinya pun berdesir pula. Sekali-kali dikenangnya suara putri Baginda yang lembut di telinganya.

"Hem!" Karebet menarik nafas dalam-dalam. "Kenapa aku sekarang berpenyakit gila? Bukankah penyakit ini telah hampir sembuh ketika aku berada di Karang Tumaritis?"

Namun betapa pedih hati anak muda itu. Pedih sebagaimana anak muda yang dipisahkan dari seorang gadis yang telah menambat hatinya, pedih sebagai seorang prajurit yang diusir dari keprajuritannya.

"Salahku, salahku sendiri," gumamnya. Karebet pun kemudian berjalan terus. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Tingkir untuk mencium tangan ibu angkatnya. Akan diciumnya tangan itu sebagai pelepas pedih hatinya yang selama ini seakan-akan menjadi semakin parah.

Namun ketika Karebet itu sudah semakin dekat dengan Tingkir, terasa ada sesuatu yang menyentuh-nyentuh hatinya. Firasatnya sebagai seorang yang selalu berkeliaran di tempat-tempat yang berbahaya telah memperingatkannya untuk berhati-hati. Dan sebenarnyalah, sesaat kemudian terasa bahwa jalan di hadapannya yang melintas hutan yang tidak begitu lebat itu, tampak tidak sewajarnya.

Jalan itu terlalu sepi. Ia tidak melihat seekor burungpun yang terbang melintas, atau seekor bintang kecil lainnya yang berlari-lari menyeberangi jalan. Karena itu, Karebet menghentikan langkahnya. Kemudian terdengar ia bergumam, "Kalau kesepian itu disebabkan karena binatang buas, maka biasanya harimau atau ular besarlah sebabnya. Tetapi kalau ada sebab lain, maka tak tahulah."

Maka Karebet pun kemudian bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan. Harimau, ular atau apa saja. Tetapi untuk beberapa lama tak ada apapun yang dilihatnya. Meskipun demikian, kesepian itu masih meragukannya. Dengan demikian, maka Karebet tidak mau berjalan maju lebih jauh lagi.

Bahkan kemudian dengan tenangnya ia duduk bersandar pada sebuah pohon. Namun segenap panca indranya telah dipasangnya baik-baik. Setiap desir angin yang betapa pun lirihnya, pasti akan didengarnya, dan setiap gerak yang betapa pun lembutnya, pasti dilihatnya.

Tetapi alangkah terkejutnya anak muda itu. Ia mendengar suara berdesir di belakangnya. Didengarnya pula dengus nafas perlahan-lahan. Namun sama sekali bukan nafas harimau atau pun dengus ular.

Nafas itu adalah nafas seseorang. "Aneh," kata Karebet di dalam hatinya. "Kalau sebab daripada kesenyapan itu adalah manusia. Bukankah jalan ini sering dilewati orang dari dan ke Tingkir? Dan bukankah manusia tidak akan menakut-nakuti binatang-binatang kecil itu?"

Namun akhirnya Karebet sampai pada kesimpulannya bahwa, "Manusia pun mungkin pula. Mereka pasti berada di dalam semak-semak. Pasti lebih dari satu sehingga binatang-binatang menjadi ketakutan."

Karena kesimpulannya itulah maka kemudian Karebet menjadi lebih berhati-hati. Manusia, apalagi lebih dari satu, baginya akan lebih berbahaya daripada harimau atau binatang-binatang lain. Dan apa yang diduganya itu segera terjadi. Ketika Karebet mendengar langkah seseorang meloncat di belakangnya, maka segera ia pun melenting tegak pada kedua kakinya yang kokoh kuat. Kini di hadapannya berdiri seseorang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Dari sela-sela bajunya tampak rambut yang lebat tumbuh di dadanya.

ALANGKAH terkejutnya Karebet melihat orang itu, sehingga dengan serta merta ia menyapanya, "Kakang Sembada?" Sembada tersenyum. "Ya akulah," jawabnya.

Karebet mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah Sembada yang garang, karena itu segera ia dapat menyangka, bahwa kedatangannya bukanlah dengan maksud yang baik. Tetapi Karebet tidak mau segera berprasangka jelek. Dicobanya kemudian untuk menghilangkan setiap kesan yang gelap dari wajahnya. Dengan senyum kecil Karebet kemudian berkata, "Kedatangan Kakang sangat mengejutkan aku."

Wajah Sembada masih tetap garang. Bahkan kemudian dengan tajamnya ia memandangi tubuh Jaka Tingkir.

"Hem. Tidak seberapa besar," katanya di dalam hati. "Apakah dalam tubuh itu benar-benar tersimpan Aji Lembu Sekilan?"

Karena Sembada tidak segera menjawab, maka Karebet bertanya pula, "Apakah keperluan Kakang, sehingga Kakang sampai kemari?"

Sembada menggeram. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu ia tidak berbicara melingkar-lingkar. Langsung saja dikatakannya apa yang dikehendaki. Dengan nada datar ia berkata, "Karebet, aku adalah sraya Adi Tumenggung Prabasemi."

Dada Karebet segera berdesir. Cepat ia dapat menebak. Apakah sebenarnya maksud Sembada itu. Namun ia masih juga bertanya, "Apakah yang harus Kakang lakukan?"

Sembada menarik nafas. Kemudian setelah menenangkan getar dadanya ia berkata, "Aku harus membunuh kau."

Meskipun Karebet telah menyangka, namun pengakuan yang tiba-tiba itu mengejutkannya juga. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya wajah Sembada yang garang itu. "Jangan mempersulit pekerjaanku, Karebet. Aku dan kau tidak pernah mempunyai persoalan apapun. Aku tidak pernah menyakiti hatimu, dan kau tidak pernah menyakiti hatiku pula. Karena itu, marilah kita saling berbaik hati. Tolonglah pekerjaanku kali ini supaya segera selesai. Nanti aku akan mendapat sebuah kamus bertimang emas tretes berlian," kata Sembada.

Karebet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya dalam nadanya yang khusuk, "Baik Kakang. Baiklah aku menolongmu. Tetapi aku harus mendapat separo dari kamus dan timang itu."

Sembada mengerutkan keningnya. "Hem..", geramnya dan kemudian katanya di dalam hati, "Anak ini benar-benar anak yang luar biasa. Tanggapannya atas bahaya yang dihadapi masih saja seperti menyongsong datangnya kekasih."

Namun Sembada tidak mau terpengaruh oleh wibawa Joko Tingkir. Karena itu ia membentak, "Aku tidak sedang berkelakar, Karebet." Justru Karebet yang aneh itu kini tertawa. Katanya, "Kita tidak pernah saling menyakiti hati masing-masing. Jangan membentak-bentak, Kakang. Lebih baik kita bergurau setelah kita lama tidak bertemu."

"Diam!" bentak Sembada yang sama sekali tidak berhasil menakut-nakuti Karebet. Meskipun demikian sekali lagi ia menggertak, "Hem.. mati dan mati ada seribu jalan. Apalagi di hutan ini. Di pembaringan pun orang dapat sekarat. Ayo, tundukkan kepalamu supaya kau tidak mengalami derita di saat-saat terakhir."

Sembada menjadi marah bukan buatan ketika Karebet malahan tertawa bergelak-gelak. Dengan memegang perutnya, anak muda itu berkata, "Ah, Kakang. Masih saja Kakang teringat akan pekerjaan Kakang. Kita sekarang tidak sedang berada di pembantaian, Kakang."

Wajah Sembada menjadi merah padam. Namun sebelum ia membentak-bentak lagi, Karebet pun terkejut. Ia mendengar desir di semak-semak. Karena itu maka katanya di dalam hati. "Benar dugaanku. Tidak hanya seorang."

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya