Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 166
Tetapi Arya Salaka tidak mendengarnya. Ia berlari terus ke kandang kudanya. Dengan tergesa-gesa dipasangnya pelana kudanya dan ditariknya kuda itu keluar kandang.
Sesaat kemudian terdengarlah derap kuda itu perpacu keluar halaman rumah Ki Ageng Gajah Sora.
Tetapi sesaat kemudian menyusul dua ekor kuda berlari seperti angin ke arah yang bersamaan.
Mereka adalah Mahesa Jenar dan Ki Ageng Gajah Sora sendiri yang tidak sampai hati melepas Arya Salaka yang sedang kebingungan itu. Apalagi Mahesa Jenar yang menyadari, bahwa tingkat ilmu Arya Salaka masih belum dapat disejajarkan dengan ilmu Mas Karebet yang aneh itu. Sehingga dengan demikian, seandainya mereka benar-benar bertemu, maka nasib Arya Salaka terlalu mencemaskan.
Mereka yang tinggal di pendapa rumah itu duduk membeku dalam kesuraman sinar pelita. Nyala api yang kemerah-merahan bergerak-gerak ditiup angin yang lemah. Daun-daun sawo di halaman bergoyang-goyang seperti sedang menarikan sebuah tarian yang pedih.
Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergelora di dalam dadanya. Tampaklah membayang di matanya kegelisahan dan kecemasan. Kadang-kadang ia menarik nafas dalam-dalam, dan kadang-kadang ia memejamkan matanya. Sesuatu yang maha berat sedang menghimpit hatinya, namun hatinya itu berdoa kepada Yang Maha Agung, semoga semuanya dapat selesai dengan sebaik-baiknya.
Arya Salaka yang berpacu di dalam gelap itu, benar-benar seperti orang yang mabuk. ia tidak ingat lagi bahaya yang dapat menerkamnya. Jurang-jurang yang terjal dipinggir jalan atau apapun yang dapat membahayakan perjalanannya. Yang ada dikepalanya hanyalah seorang anak muda yang bernama Karebet, seorang yang pernah dikagumi dan bahkan mereka pernah bergaul dengan rapatnya sebagai dua orang sahabat yang akrab.
“Kenapa kakang Karebet itu sampai hati berbuat demikian” desah Arya Salaka didalam hatinya.
“Tetapi, apapun yang pernah terjadi, sikap yang baik dan persahabatan yang akrab, namun bukan salahku kalau persahabatan itu kini pecah. Kenapa kakang Karang Tunggal tidak saja berkata terus terang dan membicarakannya dengan orang tua-tua.”
Semakin diangan-angankannya, maka darah Arya semakin meluap-luap. Arya Salaka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai di perbatasan arah Sendang Muncul. Tetapi akhirnya ia sampai juga ke tempat itu. Tempat yang sepi senyap.
Dilihatnya beberapa onggok batu karang berserak-serakan di antara gerumbul-gerumbul yang bertebaran disana-sini. Arya Salaka yang marah itu menghentikan kudanya. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Diamatinya relung-relung hitam diantara batu-batu karang dan di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul yang ada disekitarnya. Tetapi Arya Salaka tidak mendengar suara apapun juga, seakan-akan daerah itu daerah pekuburan yang mengerikan. Tetapi Arya Salaka tidak puas dengan tajam matanya. Segera ia meloncat turun, dan dengan hati yang melonjak-lonjak ia berlari-lari mengelilingi daerah itu. Disasaknya gerumbul-gerumbul yang rimbun dan ditembusnya kegelapan malam di sela-sela batu karang. Tetapi yang dicarinya tidak diketemukannya.
Arya Salaka itu seakan-akan telah benar-benar kehilangan kesadaran diri .Tiba-tiba ia meloncat naik ke atas batu karang sambil berteriak keras-keras. “He Karebet. Jangan menunggu Purnama naik. Inilah Arya Salaka dari Banyubiru. Kita selesaikan persoalan kita tanpa menunda-nunda. Buat apa kau lakukan perbuatan terkutuk itu. He. Karebet. Karebet.........”
Suara Arya Salaka menggeletar memukul tebing-tebing pegunungan. Suara gemanya bersahut-sahutan mengumandang di lereng bukit Telamaya. Namun suara itu menggeletar tanpa arti. Tak seorang pun yang menyahut.
Arya Salaka menjadi semakin marah. Sekali lagi ia berteriak. “Karebet. Dengan mengumpankan gadis itu, apakah kau akan diangkat menjadi Adipati. He. Marilah kita berhadapan sebagai jantan sejati. Tidak perlu dengan pasukan segelar sapapan. Karebet......”
Suara itu pun menggelepar di kesunyian malam. Gemerisik angin pegunungan membawa udara yang dingin sejuk. Helai-helai daun yang kuning berguguran satu-satu di tanah yang lembab oleh embun. Namun suara Arya Salaka itu hilang saja disapu hembusan angin.
Arya Salaka mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara telapak kuda mendekat. Ia tahu betul, bahwa mereka itu adalah orang-orang Banyubiru. Mungkin ayahnya, mungkin orang lain. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Ia masih saja tegak di atas batu karang. Bulan yang hampir bulat telah melekat di ujung pepohonan. Sinarnya telah memerah dan hampir tenggelam. Namun cahayanya yang dipantulkan oleh wajah Rawa Pening, masih tampak kuning kemerahan, berkilat-kilat.
“Arya” terdengar suara lembut dari bawah batu karang itu.
Arya yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu, masih juga mendengar suara itu. Suara yang telah dikenalnya baik-baik, melampaui ayahnya sendiri. Suara itu adalah suara gurunya. Meskipun demikian untuk sesaat ia masih berdiam diri di atas batu karang itu. Gelora kemarahannya yang menghentak dadanya belum juga dapat ditenangkannya.
“Arya” suara itu didengarnya kembali. Betapa ia dihanyutkan oleh kemarahannya, namun suara itu benar-benar berpengaruh padanya. Karena itu maka Arya itu pun berpaling. Dilihatnya di dalam keremangan malam, dua orang yang masih duduk di atas punggung kuda. Gurunya, Mahesa, dan ayahnya Gajah Sora.
“Arya” kali ini ia mendengar suara ayahnya. “Turunlah.”
Arya masih berdiri di atas batu karang itu. Sekali tatapan matanya menyangkut pada bulan yang telah hampir lenyap di balik pepohonan yang tumbuh di lereng bukit. Tiba-tiba ia berkata nyaring. “Lihatlah ayah.
Bulan hampir purnama. Aku harus segera bersiap untuk menyambut Karebet di hutan Prawata.”
“Sabarlah Arya” desis Mahesa Jenar. “Turunlah, marilah kita bicarakan soalmu ini.”
Arya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa di atas batu karang itu. Di atas batu karang itu tidak ditemuinya Karebet dan juga akan ditemuinya gadis yang hilang. Karena itu maka segera ia pun meloncat turun.
“Sebaiknya kau tenangkan hatimu Arya,” berkata Mahesa Jenar.
Arya Salaka tidak menjawab. Dipandang wajah ayahnya yang duduk diam di atas punggung kudanya. Tetapi di dalam malam yang remang ia tidak mendapat sesuatu kesan dalam wajah itu. Selain, tegang.
“Marilah kita pulang dahulu,” ajak Mahesa Jenar.
Arya Salaka tidak menjawab. Ia masih mencoba memandang tempat-tempat yang gelap disekelilingnya.
“Anak itu sudah pergi,” desis ayahnya.
Arya menggeretakkan giginya. Namun perlahan-lahan ia menuju kekudanya. “Naiklah. Biarlah kita bicarakan semuanya ini di rumah,” berkata ayahnya mendesak.
Arya Salaka itu kemudian menjadi seakan-akan kehilangan segala-galanya. Ia menjadi bingung, cemas, marah dan tanggapan yang simpang siur atas perbuatan Karebet itu. Dengan hati yang kosong ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan dengan lesunya ia mendorong kudanya berjalan kembali ke rumahnya. Rumah yang seakan-akan menjadi terlalu sunyi. Lebih sunyi dari tempat ini.
Perlahan-lahan mereka berjalan menuju ke rumah Gajah Sora. Arya Salaka tidak mampu lagi melecut kudanya dan melarikannya. Ia lebih tenang berjalan perlahan-lahan dalam malam yang semakin gelap karena bulan kini telah benar-benar tenggelam. Tetapi dikejauhan telah terdengar kokok ayam jantan untuk ketiga kalinya.
Arya Salaka menengadahkan wajahnya. Betapa pun juga ia tidak dapat melupakan kewajibannya. Karena itu ia mempercepat langkah kudanya, sebelum ia terlambat untuk melakukan sembahyang subuh. Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang berkuda dibelakangnya, tak sepatah kata pun terloncat dari bibir mereka. Mereka seakan-akan onggokan benda-benda mati yang terikat erat-erat di atas punggung kuda.
Ketika matahari mulai melemparkan cahayanya yang pertama, menyentuh ujung-ujung pepohonan, Mahesa Jenar telah dikejutkan oleh ringkik-ringkik kuda di halaman.
Dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar menghampirinya dan bertanya kepadanya. “Akan kemanakah Ki Ageng sepagi ini?”
“Aku akan kembali ke Pamingit,” jawab Ki Ageng Lembu Sora.
“Oh” Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Namun betapa pun juga timbul pula prasangkanya. Dalam kesibukan yang semakin memuncak ini justru Ki Ageng Lembu Sora akan kembali ke Pamingit. Karena itu maka ia bertanya pula. “Apakah ada sesuatu keperluan yang mendesak?”
KI Ageng Lembu Soralah yang kini memandang Mahesa Jenar dengan heran.
Apakah Mahesa Jenar belum tahu apa yang akan dilakukan oleh Arya Salaka? Meskipun demikian ia menjawab juga. "Saat purnama naik hanya tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak akan dapat tinggal diam. Pasukan Pamingit akan membantu Arya Salaka menghadapi Karebet di hutan Prawata."
"He" Mahesa Jenar benar-benar terkejut seperti disambar petir melesat.
Jadi Arya Salaka telah mengambil keputusan yang berbahaya itu?
Tubuh Mahesa Jenar itu pun menjadi gemetar karenanya, sehingga sesaat ia tidak dapat berkata apa-apa. Ditatapnya saja wajah Ki Ageng Lembu Sora yang bersungguh-sungguh itu. Baru kemudian ia berhasil menenangkan hatinya, dan berkata, "Ki Ageng apakah itu merupakan keputusan Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana pula?"
"Kakang Gajah Sora dan ayah Sora Dipayana tak berhasil mencegah Arya Salaka. Dan bukankah ini soal kehormatan pula? Kehormatan Banyubiru dan seluruh tanah perdikan Pangrantunan lama termasuk Pamingit? Arya telah membantu dan membebaskan Pamingit dari genggaman orang-orang golongan hitam beberapa waktu lampau. Apakah sekarang, aku harus membiarkan kehormatan Arya Salaka diinjak-injak orang lain?"
"Hem" Mahesa Jenar menarik nafas. Ki Ageng Lembu Sora masih juga kejangkitan penyakitnya yang lama, meskipun dalam persoalan yang lain. Harga diri yang berlebih-lebihan dan nafsu untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Tetapi kali ini Ki Ageng Lembu Sora tidak mutlak bersalah seperti apa yang dahulu pernah dilakukan. Bahkan kini ia merasa berkuwajiban untuk membalas kebaikan hati Arya Salaka. Karena itu maka Mahesa Jenar itu pun berkata, "Baiklah aku mencoba menemui kakang Gajah Sora".
Ki Ageng Lembu Sora memandangi Mahesa Jenar dengan pandangan yang aneh.
Apakah guru Arya Salaka itu tidak sependapat seandainya Arya Salaka memenuhi tantangan Karebet? Tetapi Lembu Sora itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Kembali ia mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat ke Pamingit, memilih orang-orang yang paling dipercaya untuk ikut berangkat ke hutan Prawata nanti pada saat purnama naik beberapa hari lagi. Dengan demikian, maka sebelumnya pasukannya harus siap pula di Banyubiru.
Dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mencari Ki Ageng Gajah Sora yang duduk diserambi belakang rumahnya bersama-sama dengan Arya Salaka. Wajah anak muda itu tampak merah membara sedang tangannya menggenggam tangkai sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning berkilat-kilat, Kiai Suluh.
Ketika mereka melihat Mahesa Jenar mendatangi mereka, maka Ki Ageng Gajah Sora itu pun mempersilakannya duduk bersama mereka. Ketika terpandang oleh Arya Salaka wajah gurunya yang tenang dalam, terasa hatinya bergetar dahsyat. Tanpa disengaja ia menundukkan wajahnya. "Kakang" berkata Mahesa Jenar kepada Ki Ageng Gajah Sora. "Agaknya Ki Ageng Lembu Sora segera akan kembali ke Pamingit."
Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya" sahutnya pendek.
"Dari Ki Ageng Lembu Sora aku mendengar segala-galanya tentang keputusan Arya Salaka."
Kembali Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apakah Ki Ageng Gajah Sora berpendapat demikian?" bertanya Mahesa Jenar kemudian.
Ki Ageng Gajah Sora itu diam mematung. Ditatapnya pohon-pohon nyiur yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Sekali-kali daunnya bergerak ditiup angin pagi dan cahaya matahari yang bermain-main di halaman menjadi bergerak-gerak pula.Sesaat Ki Ageng tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab. Namun kemudian terdengar suaranya serak. "Ya. Apa boleh buat."
Mahesa Jenar menarik keningnya. Tampak beberapa kerut-kerut tumbuh didahinya. Perlahan-lahan ia berkata, "Sudahkah kakang mempertimbangkannya masak-masak."
Mendengar pertanyaan itu Arya Salaka mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah gurunya dengan penuh pertanyaan. Apakah gurunya tidak sependapat dengan keputusan itu?"
Arya kemudian melihat ayahnya menundukkan wajahnya. Pertanyaan Mahesa Jenar benar-benar telah menggoncangkan jantungnya.
"Ya, apakah keputusan itu sudah sebaik-baiknya?"
Pertanyaan itu timbul pula didalam hatinya. Tetapi ketika dipandanginya wajah anaknya yang merah padam, timbul pula kasihan di dalam dirinya. Anak satu-satunya yang dengan gigih telah berjuang untuk kepentingan tanah perdikan ini. Bahkan, ia dibawah asuhan Mahesa Jenar itu sendiri?
Ketika Gajah Sora tidak segera menjawab, maka Mahesa Jenar itu pun kemudian langsung bertanya kepada Arya Salaka, katanya, "Arya. Apakah kau telah membayangkan apa saja yang kira-kira dapat terjadi dengan keputusan itu?"
Arya Salaka ragu-ragu sejenak. Tetapi dorongan yang kuat di dalam hatinya memaksakan menjawab. "Tak ada pilihan lain paman."
Mahesa Jenar menarik nafas. Katanya, "Apakah kau telah mencobanya?"
Arya mengerutkan alisnya. Desisnya, "Apa yang dapat dicoba?"
“Arya” berkata Mahesa Jenar. “Dalam persoalan ini masih harus dicari sumber yang menyebabkannya. Kalau ternyata Karebet berbuat demikian atas perintah Baginda, maka soalnya menjadi jelas. Namun kalau perbuatan itu dilakukannya atas kehendak sendiri untuk mendapatkan hadiah atau pangkat atau apapun, maka akan ternyata bahwa kau terlalu tergesa-gesa. Mungkin Baginda sendiri akan menolak persembahan itu. Dan masih ada seribu satu macam kemungkinan yang lain.”
“Tidak paman”, jawab Arya tegas.
Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Belum pernah Arya bersikap demikian kerasnya kepadanya. Dan ternyata Arya itu berkata terus. “Sudah jelas dikatakannya, bahwa Karebet mengambil Widuri untuk Pangeran Timur. Kalau perintah itu tidak turun dari istana, apakah Karebet berani mempersembahkan seorang yang hanya diambilnya dari pegunungan? Apakah itu bukan merupakan penghinaan bagi Pangeran Timur dan Baginda sendiri? Tetapi hal itu pasti sudah menjadi pilihan Pangeran Timur. Paman, seandainya hal itu dilakukan baik-baik, maka hatiku tidak akan merasa dihinakan.”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat ketidakwajaran dalam persoalan ini. Hampir-hampir ia berkata, bahwa apakah hak Arya Salaka untuk marah? Hanya karena penghinaan yang dilontarkan oleh Karebet itu? Dan kenapa Karebet itu sengaja memancing kemarahan Arya Salaka?
Tetapi Mahesa Jenar tidak mengatakannya. Disadarinya bahwa hati Arya Salaka benar-benar sedang gelap. Dan Mahesa Jenar pun dapat memahami kegelapan hati itu. Dikenangnya kemudian, ketika ia kehilangan Rara Wilis di Pliridan beberapa tahun yang lalu.
Seorang yang tidak tahu sebab musababnya, Sagotra, hampir-hampir dicekiknya sampai mati. Namun kini Arya Salaka menghadapi persoalan itu tidak seorang diri seperti dirinya pada saat itu. Tetapi di belakangnya akan terlibat beratus-ratus orang.
Mahesa Jenar itu pun hanya dapat merenung. Ia tidak dapat mencegah muridnya dalam keadaan itu, kalau ia tidak ingin kehilangan kewibawaan atas muridnya itu. Sebab hampir pasti, bahwa Arya Salaka tidak akan mendengarnya. Tetapi sudah tentu bahwa hatinya akan menjadi hancur pula, apabila ia harus menyaksikan pertentangan yang pecah antara Banyubiru dan Demak. Beberapa tahun yang lampau ia berusaha mati-matian untuk menghindarkan pertentangan itu. Pertentangan yang timbul karena persoalan yang bagi Demak jauh lebih bernilai. Persoalan yang ditimbulkan karena keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun ternyata hanya karena kesalahpahaman saja. Kini soal itu adalah soal seorang gadis. Tetapi bagi Arya Salaka persoalan ini adalah persoalan harga diri, kehormatan dan yang lebih penting adalah gairah bagi masa depannya.
Mahesa Jenar itu pun kemudian meninggalkan serambi belakang rumah Ki Ageng Gajah Sora. Arya Salaka pun kemudian pergi pula menemui beberapa orang pimpinan Banyubiru untuk menyiapkan laskarnya.
Sedang untuk beberapa saat Ki Ageng Gajah Sora masih duduk merenung ditempatnya. Terbayanglah apa yang pernah dilakukannya sendiri pada saat itu. Justru pada saat dirinya akan ditangkap oleh prajurit-prajurit Demak. Pada saat ia mendapat tuduhan menyembunyikan keris-keris pusaka istana Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Pada saat itu ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika ia melihat kibaran panji-panji Gula Kelapa diantara sepasukan Manggala pati. Bendera yang melambangkan kebesaran Demak. Lebih dari itu, bendera yang melambangkan persatuan dan kesatuan. Apakah sekarang ia akan membiarkan anaknya melawan Demak. Melawan persatuan dan kesatuan itu. Hati Gajah Sora itu pun tiba-tiba menjadi hancur. Hancur seperti yang pernah dialaminya beberapa tahun yang lalu. Tetapi ia kini tidak mampu mencegah anaknya berbuat demikian.
Tiba-tiba ia tersadar ketika Ki Ageng Lembu Sora masuk menemuinya. Adiknya itu segera akan minta diri untuk kembali ke Pamingit. Menyiapkan pasukannya untuk membantu Arya Salaka memaksa Baginda Sultan Trenggana mengurungkan niatnya, mengambil Endang Widuri untuk puteranya.
Semuanya kemudian berjalan di luar kemauan Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa kali ia berusaha mencegah anaknya melanjutkan niatnya, namun ia tidak juga berhasil. Bukan saja Ki Ageng Gajah Sora, tetapi Mahesa Jenar dan Ki Ageng Sora Dipayana.
Namun Arya Salaka tetap pada pendiriannya.
Merebut Endang Widuri dengan segala akibatnya. Sedang Gajah Sora yang merasa seolah-olah Arya Salakalah yang telah mempertahankan kedudukannya di Banyubiru, baik dari tangan Lembu Sora maupun dari tangan golongan hitam, maka ia tidak sampai hati untuk mempergunakan kekuasaan mencegah laskar Banyubiru untuk mengambil bagian dalam kemarahan Arya Salaka itu.
Tetapi Mahesa Jenar tidak segera berputus asa. Dibiarkannya Arya Salaka mempersiapkan dirinya. Mempersiapkan laskarnya dan bahkan dengan laskar Pamingit sekalipun. Namun ia masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Diotak-atiknya persoalan itu. Direntang-digulung, diurai-dilipatnya. Dihubung-hubungkannya setiap persoalan dan setiap sikap dari orang-orang yang berkepentingan. Dan akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu sikap, betapa pun berat hatinya untuk melakukannya. Menemui Kebo Kanigara seorang diri.
Malam itu Mahesa Jenar memenuhi maksudnya. Ditemuinya Kebo Kanigara yang sedang merenung di dalam bilik yang disediakan untuknya. Ketika Kebo Kanigara melihat kehadiran Mahesa Jenar, maka tampaklah ia terkejut. Dengan tergesa-gesa ia mempersilakan Mahesa Jenar masuk ke dalam bilik itu.Malam itu Mahesa Jenar memenuhi maksudnya. Ditemuinya Kebo Kanigara yang sedang merenung di dalam bilik yang disediakan untuknya. Ketika Kebo Kanigara melihat kehadiran Mahesa Jenar, maka tampaklah ia terkejut. Dengan tergesa-gesa ia mempersilakan Mahesa Jenar masuk ke dalam bilik itu.
“Terima kasih kakang”, sahut Mahesa Jenar sambil duduk dipembaringan Kebo Kanigara.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berkumpul dalam waktu yang lama. Setiap kali mereka bertemu dan bercakap-cakap. Setiap kali mereka mempersoalkan berbagai masalah yang paling ringan sampai yang paling berat. Setiap kali mereka berbuat bersama-sama dan mereka pun ternyata memiliki unsur kekuatan yang sama. Mereka bersama-sama adalah tetesan dari sumber kekuatan Ki Ageng Pengging Sepuh.
Tetapi pertemuan mereka kali ini terasa amatlah canggungnya. Mereka berdua tidak segera menyadari apakah sebabnya dari kecanggungan itu, namun terasa ada sesuatu yang diantara mereka yang kurang sewajarnya. Setelah mencobanya menenangkan hatinya, maka Mahesa Jenar mencoba mulai dengan persoalannya. Katanya, “Kakang. Apakah kakang tidak ingin melihat persiapan Arya Salaka yang akan membantu kakang mengambil kembali Widuri dari tangan Karebet?”
Kebo Kanigara menarik alisnya. Ditatapnya keheningan malam di luar pintu biliknya. Di samping dinding didengarnya jengkerik seolah-olah lagi menangis. Menangisi mereka yang tak akan dapat dijumpainya.
Dalam kesenyapan itu terdengar Kebo Kanigara berkata, “Aku akan mengucapkan terima kasih atas kesediaan Arya Salaka, Mahesa Jenar.”
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Semua berjalan dengan baik, kakang. Laskarnya memiliki tekad yang tinggi. Mereka berniat mempertahankan kehormatan nama kakang Kebo Kanigara dan Arya Salaka. Bahkan laskar Pamingit pun akan segera datang dan membantu Arya Salaka pula.”
Kebo Kanigara terdiam. Wajahnya menjadi tegang. Dan punggungnya menjadi basah oleh keringat.
“Nanti pada saat purnama naik, Arya sudah bersedia mengepung Baginda yang sedang berburu. Aku tidak tahu, apakah Baginda menyadari hal itu. Apakah Baginda menyangka bahwa Arya Salaka dan laskar Banyubiru tidak akan berani berbuat demikian sehingga Baginda tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Namun menilik kata-kata Karebet, maka Baginda pasti telah menyiapkan Wira Tamtama dan bahkan mungkin kesatuan-kesatuan yang lain".
Kebo Kanigara masih berdiam diri. Keringatnya semakin banyak mengaliri punggungnya. Dan kembali terdengar Mahesa Jenar berkata, “Kakang, kalau terjadi pertempuran antara kedua pasukan itu, maka alangkah ramainya. Kalau Baginda telah siap menghadapi Arya Salaka, maka laskar Banyubiru pasti akan tumpas. Beratus-ratus orang Banyubiru dan Pamingit akan menjadi korban. Tetapi kalau Baginda tidak mempersiapkan dirinya, maka laskar Demaklah yang akan binasa. Baginda akan terancam jiwanya karena kemarahan yang meluap-luap. Dan Arya Salaka untuk seterusnya akan bergelar seorang pemberontak yang baik, yang telah berhasil membunuh rajanya sendiri.”
“Sudahlah Mahesa Jenar,” potong Kebo Kanigara. Suaranya perlahan-lahan dan parau. “Aku sudah menyangka bahwa hal-hal yang demikian dapat terjadi.”
“Ya. Aku juga menganggap bahwa kakang sudah dapat membayangkannya. Lalu bagaimana dengan kita kakang? Apakah sebaiknya kita ikut juga dalam pertempuran itu?”
Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya bergelora. Namun ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Sesaat bilik itu menjadi sunyi. Mereka berdua duduk mematung. Namun ternyata bahwa wajah-wajah mereka menjadi tegang.
Yang mula-mula berkata di antara mereka adalah Mahesa Jenar. Dengan penuh tekanan ia berkata. “Bagaimanakah sebaiknya kakang, apakah kita juga akan berada dalam pasukan itu?”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya