Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 165
Dengan sigapnya para peronda itu mengejarnya. Beberapa orang mendahuluinya dan mencegahnya, sehingga orang yang mencurigakan itu segera terkepung rapat-rapat.
“Siapakah kau?” desak penjaga itu.
Jawaban orang itu benar-benar mengejutkan. Katanya, “Apakah kepentinganmu dengan namaku?”
Para penjaga itu benar-benar keheranan sehingga sesaat mereka berdiam. Namun kemudian salah seorang diantaranya bertanya pula.
“Ki Sanak. Kami adalah para peronda dari Banyubiru. Kami mempunyai wewenang untuk mengetahui, setiap orang yang berada didalam wilayah perondaan kami. Karena itu, maka katakanlah siapakah Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak.”
Kembali para penjaga itu terkejut. Orang yang tak mereka kenal itu tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, “Baiklah kalau kau ingin mengenal namaku. Orang memanggil aku, Mas Karebet.”
Para penjaga itu mengerutkan keningnya. Nama itu asing bagi mereka. Karena itu maka salah seorang bertanya pula. “Darimanakah asal Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak di malam hari begini?”
“Tidak apa-apa”, jawab orang yang ternyata bernama Karebet itu.
“Aneh. Tetapi biarlah kau jawab, darimanakah asalmu?”
“Aku berasal dari jauh. Apa pedulimu?”
Para penjaga itu menjadi semakin curiga. Sehingga kemudian salah seorang daripadanya membentak. “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Katakanlah, apakah keperluanmu. Kalau kau berkunjung ke salah seorang penduduk Banyubiru, siapakah yang telah kau kunjungi itu.”
Karebet mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertolak pinggang dan berkata lantang. “Jangan ganggu aku. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”
“Tidak mungkin Ki Sanak. Tidak mungkin seseorang akan dapat berbuat sekehendak sendiri. Di tanah perdikan ini ada peraturan-peraturan yang harus ditaati.”
“Taatilah siapa yang mau mentaati. Aku tidak.”
“Jangan berkeras kepala, Karebet” bentak seorang penjaga yang kehilangan kesabaran. “Kau mencoba memancing kemarahan kami. Apakah sebenarnya kepentinganmu.”
“Jangan bertanya-tanya lagi. Aku akan pergi, minggir.”
“Jangan berbuat seperti orang alasan. Taatilah peraturan kami. Kami adalah alat-alat untuk menegakkan peraturan itu.”
“Tidak ada peraturan yang dapat mengikat aku,” sahut Karebet lantang.
“Peraturan bagiku adalah ikatan-ikatan yang tak berarti. Aturan bagiku adalah keduabelah tangan dan keduabelah kakiku, pedang dilambungku dan taruhannya adalah nyawaku.”
Para penjaga itu benar-benar menjadi heran. Apakah orang itu orang gila ataukah orang yang tak waras. Namun menilik sikapnya, maka orang itu benar-benar berbahaya bagi mereka, sehingga karena itu maka mereka segera mempersiapkan diri.
Karebet yang melihat para penjaga itu bersiap, berkata pula. “He, apakah yang akan kalian lakukan?”
“Kami hanya sekadar melakukan kewajiban kami, Ki Sanak harus menyebutkan nama yang sebenarnya, keperluan yang sebenarnya dan darimanakah Ki Sanak yang sebenarnya. Kalau tidak, kami terpaksa menangkapmu dan membawa kerumah Kepala Daerah Tanah Perdikan ini.”
Karebet itu tiba-tiba tertawa. Jawabnya, “Apakah kalian berkata sebenarnya?”
“Tentu”
“Bagus. Cobalah tangkap aku. Sudah aku katakan, bahwa peraturan bagiku adalah keduabelah tangan dan kakiku serta pedang dilambungku.”
Para penjaga itu serentak bergerak maju. Tetapi Karebetpun sudah bersiaga, bahkan tiba-tiba ia telah mulai dengan sebuah serangan yang benar-benar tidak disangka-sangka. Tangannya bergerak dengan cepatnya menyambar salah seorang dari kelima penjaga itu, sehingga tiba-tiba orang itu terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh. Terdengar ia mengerang kesakitan dan berusaha dengan tertatih-tatih tegak kembali. Namun terasa punggungnya menjadi sakit, sehingga karena itu, maka tenaganya sudah jauh berkurang.
Keempat kawannya tidak menunggu lebih lama lagi. Segera mereka menyerang bersama-sama. Tetapi, ternyata mereka berhadapan dengan Mas Karebet. Seorang anak yang aneh dan mengagumkan. Karena itulah maka mereka tidak dapat berbuat banyak. Mas Karebet itu mampu bergerak secepat burung sikatan, dan menyambar-nyambar dengan garangnya, seperti burung rajawali. Benar-benar suatu gabungan kecakapan yang tiada taranya.
Tetapi keempat orang laskar Banyubiru dan seorang lagi yang telah hampir tak berdaya itu pun sama sekali bukan pengecut. Meskipun mereka terkejut melihat lawannya mampu bergerak dengan cepatnya, bahkan di luar dugaan mereka, namun mereka kini sedang melakukan tugas mereka, sehingga bagaimana pun juga, mereka berjuang sekuat-kuat tangan dan kaki mereka, maka mereka pun pasti masih akan tetap bertempur.
Sehingga dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Seorang diantara mereka berusaha untuk meninggalkan perkelahian itu untuk memberitahukannya kepada mereka yang masih berada di gardu penjagaan.
Namun tiba-tiba Mas Karebet itu meloncat seperti seekor kijang, dan orang itu pun terpelanting pula beberapa langkah sehingga kemudian jatuh berguling di tanah.
Alangkah marahnya para peronda itu. Namun tidak banyaklah yang dapat mereka lakukan selain mencoba bertahan atas serangan-serangan Karebet yang sedemikian lincahnya.
Tetapi ternyata Karebet bukanlah lawan mereka. Satu demi satu mereka jatuh berguling dan betapa sulitnya untuk bangun kembali.
Punggung-punggung mereka terasa menjadi nyeri, dan dada mereka menjadi serasa sesak. Betapa pun mereka berusaha, namun tenaga mereka benar-benar terbatas jauh di bawah kemampuan Mas Karebet itu.
Akhirnya para peronda itu menjadi benar-benar hampir tidak berdaya.
Meskipun mereka masih berusaha untuk berdiri, namun mereka sudah tidak mampu lagi untuk tegak ditempatnya. Sekali-kali mereka terhuyung-huyung dan bahkan hampir-hampir mereka tidak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri.
Karebet itu berdiri bertolak pinggang. Ditatapnya wajah para peronda itu satu demi satu. Kemudian terdengar ia tertawa nyaring. Katanya disela-sela suara tertawanya, “He, katakan sekarang kepadaku. Apakah aku masih harus mentaati peraturanmu?”
Jawab peronda itu mengejutkan Mas Karebet. Singkat namun penuh ketegasan. “Ya”
Tetapi kembali terdengar suara Karebet itu tertawa berkepanjangan.
Katanya pula, “Sekarang kau lihat, bahwa peraturan itu tidak berlaku bagiku. Yang berlaku bagiku adalah tenagaku. Kalau kalian mampu mengalahkan aku, barulah aku akan tunduk kepada kalian.”
“Mungkin kau mampu mengalahkan kami” sahut salah seorang peronda itu, “Tetapi kau tak akan mampu menghapus peraturan yang berlaku di daerah ini. Mungkin kau kali ini dapat menghindarkan diri atas berlakunya peraturan itu. Namun tidak untuk selamanya. Kau pasti akan dihadapkan pada satu pilihan, mentaati peraturan yang berlaku di Banyubiru atau pergi meninggalkan Banyubiru.”
“Omong kosong” sahut Karebet. “Kau tidak mau mengakui kekalahanmu. Kau masih akan mencari-cari kebanggaan pada persoalan yang lain. Lebih baik kalian mengaku atas kekalahan ini. Hati kalian akan menjadi lapang. Dan kalian akan segera melupakannya.”
“Tidak” sahut peronda yang lain. “Kami tidak akan dapat melupakan. Meskipun kali ini ada seorang yang dapat meloloskan diri dari keharusan yang berlaku, tetapi di lain kali tidak akan terulang kembali.”
Karebet itu pun tertawa pula. “Kalian adalah laskar yang baik” katanya, “Selagi kalian berhadapan dengan maut pun kalian masih tetap dalam tugas kalian. Nah, bagus. Karena itu maka Banyubiru menjadi kuat.”
“Jangan terlalu sombong.”
“Aku tidak sombong. Aku berkata sebenarnya. Dan kau pun berkata sebenarnya. Aku orang yang tidak mempunyai tempat tinggal yang mengikat aku, sehingga aku pun tidak terikat pada peraturan di daerah mana pun juga. Aku akan berbuat apa saja yang aku kehendaki. Termasuk gadis yang hilang itu.”
“He” para peronda itu terkejut seperti disengat labah-labah biru. Betapa pun mereka menjadi lemah, namun mereka melangkah pula maju sambil berkata. “Apakah yang kau katakan tadi. Gadis yang hilang beberapa hari yang lampau yang kau maksudkan?”
“Ya” sahut Karebet. “Gadis yang hilang itu telah aku ambil.”
“Setan” terdengar salah seorang peronda itu mengumpat. “Sekarang kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini.”
“Apakah kau ingin bertempur lagi?”
“Kami belum benar-benar kau lumpuhkan” sahut peronda itu. Dan tiba-tiba terdengar gemerincing pedangnya. Dan pedang itu pun kini telah berada di dalam genggamannya. Kawan-kawannya pun segera menarik senjata-senjata mereka pula. Berkata pula peronda itu. “Kami tidak bisa mempergunakan senjata kami apabila tidak terpaksa. Kini kami melihat, bahwa seandainya kami melukai dan bahkan apabila terpaksa membunuhmu, bukan salah kami. Kami tidak biasa berbuat demikian dalam keadaan yang damai seperti sekarang. Namun keadaan ini pun keadaan yang tidak bisa pula.”
Karebet mundur selangkah. Katanya, “Jangan menjadi gila karena kekalahan kalian. Jangan bermain-main dengan senjata. Siapa yang bermain-main dengan pedang, maka ia akan sampai pada kemungkinan dilukai dengan pedang pula.”
“Kami berpijak pada kewajiban kami.”
“Bagus. Sudah aku katakan, kalian adalah laskar Banyubiru yang baik.
Tapi bagaimanakah kalau kita hindarkan pertempuran ini?”
“Hanya ada satu kemungkinan” sahut peronda itu. “Serahkan Endang Widuri.”
“Syaratmu terlalu berat”
“Tidak ada syarat yang lain” “Kalau begitu, baiklah aku melawan dengan pedang pula.”
Sebelum para peronda itu menjawab, maka Karebet itu pun telah menggenggam sebilah pedang pula. Pedang yang tidak terlalu panjang, namun benar-benar telah menggetarkan hati para peronda itu. Apalagi ketika Karebet itu berkata. “Kalian sudah tidak dapat berdiri tegak lagi. Apakah kalian masih mampu mengayunkan pedang?”
Para peronda itu tidak menjawab. Kembali mereka mendesak maju. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka melihat tiba-tiba saja Karebet telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan berganda, maka dengan getar kemarahan yang meluap-luap di dalam dada, mereka melihat duabilah pedang dari kelima pedang itu telah terlempar jatuh.
“Kenapa kau letakkan pedang-pedang itu?” ejek Karebet.
Mereka menjadi semakin marah. Dengan serta mereka ketiga kawannya menyerang bersama-sama. Tetapi Karebet tidak melawannya. Ia bergeser mundur sambil berkata, “Kalian terlalu payah. Seandainya aku berlari-larian tanpa melawan sekali pun, maka kalian akan jatuh dan mati kelelahan. Nah, apakah yang akan kalian lakukan kemudian?”
Para peronda itu menggeram. Namun kata-kata itu dapat dimengertinya. Mereka tidak akan mampu lagi berlari-larian mengejar Karebet yang dengan sombongnya berloncatan di antara batu padas di lereng bukit Telamaya itu.
“He para peronda yang baik” berkata Karebet itu kemudian. “Jangan mengejar-ngejar aku lagi. Kalian akan menjadi pingsan karenanya. Lebih baik kalian kembali ke rumah Daerah Tanah Perdikan Banyubiru. Katakanlah kepadanya, bahwa Endang Widuri yang hilang itu telah aku bawa. Namaku Karebet, berasal dari daerah Pengging. Katakan kepadanya bahwa gadis itu telah aku sembunyikan. Nanti beberapa hari lagi, apabila purnama naik, maka Baginda Sultan Trenggana akan berburu di hutan Prawata. Pada saat itulah gadis itu akan aku serahkan kepada Baginda untuk puteranya, Pangeran Timur. Kalau Arya Salaka tidak merelakannya, maka aku akan tunggu di hutan itu. Suruhlah ia datang dengan pasukan segelar sapapan. Maka kedatangannya akan aku sambut dengan gembira.
Sebenarnya aku adalah Lurah Wira Tamtama yang terpercaya. Pasukanku telah sedia untuk mengamankan perbuatanku ini.”
Para peronda mendengar kata-kata itu dengan tubuh yang gemetar. Gemetar karena marah, heran, dendam dan kecewa. Tetapi mereka kini merasa, wajarlah bahwa mereka tidak mampu melawan anak muda yang bernama Karebet itu, sebab ia adalah Lurah Wira Tamtama. Tetapi mereka menjadi heran dan kecewa, apakah kekuatan itu sudah seharusnya dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Apakah dengan demikian, maka Karebet benar-benar telah berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Wira Tamtama?
Tetapi para peronda itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu melihat Karebet itu kemudian meloncat diatas sebuah batu padas sambil menengadahkan dadanya. “Inilah Karebet yang teguh timbul.
He para peronda, sampaikanlah kata-kataku kepada Arya Salaka yang berbangga hati memiliki Sasra Birawa. Nah, selamat malam, aku tunggu anak muda itu di hutan Prawata nanti pada saat purnama naik. Sebagai Kebo-Danu Banyubiru yang perkasa.”
Bukan main marah para peronda itu, sehingga salah seorang dari padanya yang tidak tahan lagi mendengar kesombongan Karebet itu dengan serta merta melontarkan pedangnya. Tetapi dengan tawa yang menyakitkan hati, pedang itu disentuh oleh Mas Karebet dengan pedangnya pula. Suara gemerincing di lereng bukit itu, memberitahukan bahwa pedang yang dilontarkan itu terlempar jatuh ke dalam lereng yang terjal.
“Lihatlah bulan yang hampir bulat di langit. Meskipun bulan itu sudah hampir tenggelam. Itu adalah pertanda bahwa saat purnama tidak akan terlalu lama lagi.”
Sebelum para peronda itu berbuat sesuatu, maka bayangan anak muda yang berdiri di atas batu karang itu seakan-akan melayang yang hilang di balik batu itu. Para peronda itu masih berusaha untuk mengejarnya, tetapi mereka sudah tidak menemukan lagi. Jejaknya pun tidak.
Berbagai perasaan bergolak di dalam dada para peronda itu. Sudah sekian lama mereka mencari seorang gadis yang hilang. Dan sudah sekian lama mereka tidak dapat menemukan jejaknya. Kini tiba-tiba mereka mendengar langsung, bahwa gadis itu telah dilarikan oleh anak muda yang bernama Karebet. Dengan suara parau peronda itu berkata, “Pantas. Kalau bukan anak muda itu, maka sudah pasti Endang Widuri tidak akan berhasil dikalahkannya. Bukankah anak gadis itu sendiri mampu bertempur melampaui kita masing-masing. Bahkan kita berlima sekaligus.”
Yang lain-lain menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tidak dapat tinggal diam dengan penuh kekaguman. Tiba-tiba mereka sadar, bahwa apa yang mereka lihat dan mereka dengar itu harus mereka sampaikan kepada Kepala Daerah Perdikan mereka. Karena itulah maka dengan tergesa-gesa mereka berjalan kembali ke gardu mereka. Menceriterakan kepada kawan-kawan mereka yang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman.
“Kami akan pergi ke rumah Ki Ageng” berkata peronda itu.
“Kenapa kalian tidak memberi tahukan kepada kami? Mungkin kami akan dapat membantu menangkap orang itu, apabila kami datang bersama-sama.”
“Sudah kami usahakan, tetapi kami tidak sempat melakukan.”
Kelima orang itu pun segera meninggalkan gardu mereka, dan dengan tergesa-gesa pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora. Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Para penjaga di rumah Ki Ageng itu pun terkejut pula. Dengan serta merta mereka bertanya, “Ada apa digardumu?”
“Penting sekali” jawab yang ditanya. “Kami menghadap Ki Ageng.”
“Malam-malam begini? tidak besok pagi?”
“Terlalu penting.”
“Soal apa?”
“Gadis yang hilang itu.”
“He” penjaga itu terkejut. “Kau menemukannya.”
“Akan aku beritahukan kepada Ki Ageng.”
“Ya. Tetapi apakah sudah kau ketemukan?”
“Berilah kesempatan aku bertemu Ki Ageng. Tergesa-gesa sekali.”
“Oh” penjaga itu pun sadar, bahwa ia harus membangunkan Ki Ageng. Karena itu, maka cepat-cepat ia pergi ke samping rumah dan perlahan-lahan mengetuk dinding ditentang pembaringan Ki Ageng.
“Siapa?” terdengar sapa dari dalam.
“Kami, para penjaga Ki Ageng.”
“Ada apa?”
“Seseorang peronda melaporkan tentang gadis yang hilang itu.”
“He” Ki Ageng Gajah Sora terkejut sehingga ia terloncat dari pembaringannya. Penjaga yang membangunkan itu mendengar pembaringan Ki Ageng berderak dan didengarnya langkah tergesa-gesa keluar dari dalam biliknya.
Sesaat kemudian didengarnya pintu pringgitan terbuka, dan Ki Ageng muncul di ambang pintu.
“Siapa yang membangunkan aku?”
Penjaga itu telah berdiri disamping tangga pendapa. Sehingga dari sana ia menjawab, “Aku Ki Ageng.”
“Kemari. Kemarilah. Katakan apa yang kau ketahui tentang gadis itu.”
Penjaga-penjaga itu pun membawa kelima orang peronda yang bertemu dengan Karebet, naik ke pendapa. Ki Ageng Gajah Sora pun segera menerima mereka.
“Penting sekali?” bertanya Ki Ageng.
“Ya, Ki Ageng” jawab salah seorang dari mereka.
“Apakah kalian menemukan jejaknya,” bertanya Ki Ageng.
“Ya” jawab peronda itu.
Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berkatalah ia kepada penjaga rumahnya, “Bangunkan tamu-tamu kita. Mereka sebaiknya mendengar juga tentang hal ini.”
Para penjaga itu pun segera membangunkan tamu-tamu Ki Ageng Gajah Sora yang berada di dalam gandok-gandok rumah itu. Ki Ageng Gajah Sora sendiri membangunkan Arya Salaka. Sehingga sesaat kemudian pendapa Banyubiru itu telah terjadi suatu pertemuan yang lengkap. Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar, Rara Wilis, Arya Salaka dan Kebo Kanigara beserta beberapa orang lain. Mahesa Jenar duduk dengan dada berdebar-debar. Hampir tidak sabar Arya Salaka bertanya dengan suara parau sambil mengusap matanya yang masih agak kemerah-merahan. “Cepat, katakan, apa yang kau lihat."
Peronda itu menarik nafas. Ia menjadi berdebar-debar pula setelah ia duduk bersama dengan orang-orang yang dikaguminya itu. Tidak hanya seorang tetapi beberapa orang. Bagaimanakah seandainya mereka bersama-sama maju bertempur. Di kenangnya kata-kata Mas Karebet itu. “Suruhlah ia datang segelar sapapan.”
Tiba-tiba dada peronda itu seakan-akan mengembang. Dihadapannya duduk orang-orang sakti yang tidak kalah saktinya dengan Mas Karebet.
“He. Kenapa kau malah tertidur.” bentak Arya Salaka.
Orang itu terkejut. Dan dengan serta merta ia berkata, “Tidak. Aku tidak tertidur.”
“Katakanlah”
Salah seorang dari peronda itu pun kemudian mulai dengan ceritanya. Ditemuinya seorang yang mencurigakan. Dan diketahui kemudian apa yang telah dilakukan. Orang itulah yang menculik Endang Widuri.
“Hem” geram Arya Salaka. “Kalian berlima tidak dapat menangkapnya.”
“Tidak” jawabnya.
“Apakah kau dapat mengira-irakan bentuk atau ciri-ciri orang itu?” desak Arya tidak sabar.
“Orang itu menyebut namanya”
“He” bukan main terkejut Arya Salaka, dan bahkan semua yang ada di pendapa itu ”Orang itu berani menyebut namanya,” suara Arya benar-benar meluapkan kemarahan tiada taranya. Meskipun ia sadar, bahwa orang itu pasti seorang yang perkasa. Bahkan ia menyadari pula bahwa orang itu pasti terlalu percaya kepada diri sendiri. “Siapakah nama orang itu?” Peronda itu menarik nafas. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Apakah nama itu nama sebenarnya? Kalau tidak, maka akan sia-sialah laporannya ini. Atau kalau nama itu nama sebenarnya sekalipun, apakah orang-orang yang berada di pendapa ini telah pernah mengenalnya?
Karena ia tidak segera menjawab, maka Arya Salaka menjadi jengkel, sehingga ia berteriak. “Siapa namanya?”
Kembali peronda itu terkejut, dan dengan serta merta pula ia mengucapkan nama itu, katanya. “Ia menyebut namanya sendiri Karebet.”
“Karebet” tanpa disengaja Arya Salaka mengulangi nama itu dengan kerasnya. Bahkan sekali ia bergeser maju dan mengguncang tubuh peronda itu sambil berteriak. “Karebet kau bilang.”
Peronda itu mengangguk. “Ya”
Jawaban itu benar-benar mengejutkan seisi pendapa. Benar-benar tak mereka sangka bahwa yang mengambil Endang Widuri adalah Mas Karebet. Beberapa orang yang belum pernah mendengar nama itu, belum dapat mengambil kesimpulan apa pun. Tetapi Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Rara Wilis serentak berpaling ke arah Kebo Kanigara. Dan terdengar Mahesa Jenar menggeram perlahan.
“Karebet.”
“Paman” tiba-tiba Arya Salaka itu berteriak. “Paman Kebo Kanigara. Bagaimanakah itu? Kenapa yang berbuat curang itu justru Karebet. Kenapa?”
Mahesa Jenar terpaksa bergeser pula maju. dengan sabarnya ia berkata. “Arya. Tenanglah. Tenanglah sedikit. Marilah kita berbicara dengan hati yang lapang.”
“Tetapi bukankah Karebet itu kemanakan paman Kebo Kanigara?”
“Ya. Karebet itu memang kemanakan pamanmu Kebo Kanigara,” sahut Mahesa Jenar, masih setenang semula. “Tetapi ingatlah. Yang hilang itu adalah anak pamanmu itu pula.”
“Oh” Arya Salaka menekan dadanya. Dada itu serasa akan pecah karenanya. Tetapi kini ia menundukkan wajahnya. Endang Widuri adalah puteri Kebo Kanigara. Sehingga dengan demikian, maka seharusnya Kebo Kanigaralah yang akan lebih dahulu marah daripada dirinya.
Kebo Kanigara menjadi gelisah pula karenanya. dengan wajah yang suram ia berkata, “Ya. Karebet adalah kemenakanku.”
Sesaat pendapa itu menjadi sepi. Angin yang dingin telah menyentuh tubuh-tubuh mereka yang hangat karena hati mereka yang terbakar oleh perasaan yang pelik ini.
Dalam keheningan itu kembali terdengar Suara Arya Salaka gemetar. “Sekarang dimanakah Karebet itu?”
“Anak muda itu telah menghilang."
“Hem” Arya Salaka menggeram penuh kemarahan. “Apakah kita akan dapat menemukannya?”
“Ya” sahut peronda itu.
“He. Apakah yang kau katakan” Arya Salaka menjadi semakin gelisah. “Kau katakan bahwa ada kemungkinan untuk menemukannya?”
“Ya” sahut orang itu. “Bahkan orang itu mengharap kedatangan kita.
Orang-orang Banyubiru.”
“Gila” teriak Arya. “Atau kaukah yang gila itu?”
“Tidak. Benar-benar dikatakannya. Nanti saat purnama naik, Baginda Sultan Tranggana akan berburu ke hutan Prawata.”
“Gila. Kau yang benar-benar telah gila. Aku bertanya tentang Karebet. Bukan tentang Sultan Tranggana,”
“Ini adalah kelanjutan dari peristiwa itu” sahut orang itu. “Nanti pada saat purnama naik, Baginda akan pergi berburu.”
“Itu sudah kau katakan.”
“Ya. ya,” peronda itu menjadi gugup. Dan karenanya maka kata-katanya menjadi kurang teratur. “Diperburuan itu, maka Karebet akan menyerahkan Endang Widuri kepada Baginda untuk puteranda Pangeran Timur.”
“Kau berkata sebenarnya?” potong Arya tergagap.
“Ya. Dan dikatakan oleh Karebet itu, bahwa seandainya Arya Salaka yang membanggakan Sasra Birawa itu tidak merelakannya, maka dipersilakan ia datang dengan pasukan segelar sappapan. Karebet yang katanya lurah Wira Tamtama akan menyambutnya dengan senang hati.”
“Begitu katanya?” teriak Arya.
“Ya”
Kembali Arya Salaka kehilangan pengamatan diri. Sambil mengguncangkan tubuh peronda itu ia berteriak. “Dimana kau temui Karebet itu?”
“Diperbatasan, di Sendang Muncul.”
Arya Salaka tidak menjawab. Tiba-tiba ia meloncat berlari ke belakang. Semua terkejut melihat tingkahnya. Namun Mahesa Jenar dan ayahnya, Gajah Sora yang mengenal tabiat anak itu, segera mengetahui, bahwa Arya Salaka berlari untuk mengambil kudanya.
Karena itu maka keduanya hampir bersamaan memanggilnya.
“Arya. Arya Salaka.”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya