Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 148
SESAAT kemudian terdengar sapa halus dari dalam bilik itu, "Siapa?"
"Hamba, Gusti."
"Emban?"
"Hamba, Gusti."
"Kau mengetuk pintu?"
"Hamba, Gusti."
"Ada sesuatu?"
"Ya Gusti, emban Gusti Putri ingin menghadap."
"Oh."
Dan sesaat kemudian terdengarlah gerit pintu bilik itu. Sebenarnya sinar lampu minyak memercik keluar. Dan Permaisuri itu telah berdiri di ambang pintu. "Siapakah yang ingin menghadap?"
Emban bercincin emas itu menyembah sambil berkata, "Hamba Gusti." Namun terasa suaranya bergetar.
"Ada apakah? Apakah Putri sakit?"
"Tidak Gusti," sahut emban itu. Suaranya menjadi semakin gemetar. Dan dengan terbata-bata ia berkata, "Gusti, Putri tidak sedang sakit, tetapi sedang...." Tiba-tiba suaranya seakan-akan tersumbat di kerongkongan.
"Sedang apa?" desak permaisuri.
Keringat dingin mengalir di seluruh wajah kulit emban yang bercincin emas itu. Ia menjadi bertambah gemetar ketika Permaisuri bertanya, "Apakah persoalan ini sangat penting sehingga kau harus menghadap malam ini?"
"Hamba, Gusti," jawab emban itu.
"Membawa pesan Putri?"
Emban itu menggeleng, "Tidak Gusti."
Permaisuri menjadi heran. Katanya, "Lalu apakah keperluanmu?"
"Gusti..." jawab emban itu tergagap. Sedang emban permeisuri itu pun tak kalah herannya. Kenapakah kawannya ini? Apakah agaknya ia diganggu oleh hantu-hantu pertamanan?
Dan terdengarlah emban bercincin emas itu meneruskan dengan kata-kata yang patah-patah. "Gusti. Ampunkanlah hamba. Tetapi sesungguhnyalah bahwa hamba mengatakannya yang sebenarnya. Hendaknya dijauhkannya hamba dari bebendhu."
Emban itu berhenti sesaat, dan nafasnya menjadi semakin terengah-engah, sehingga permaisuri itu pun menjadi semakin heran.
"Tuanku," kata emban itu pula, "Ampunkanlah hamba. Sebenarnya hamba ingin menghaturkan ketakutan hamba atas Tuan Putri di kaputeren."
"Apa yang akan kau katakan, Emban" tanya Permaisuri.
"Gusti, betapa kami, para emban berusaha untuk mencegahnya, namun apakah kekuasaan kami?"
"Ya emban, tetapi kau belum mengatakan persoalannya."
"Oh." Emban itu menarik nafas. Dicobanya untuk mengatur perasaannya, baru kemudian ia berkata, "Sesungguhnya Gusti, di keputren Putri sedang menerima seorang tamu."
Permaisuri itu terkejut sekali mendengar kata-kata emban itu. Maka katanya, "Menerima tamu, katamu? Siapakah tamunya?"
"Itulah yang menyedihkan kami, Gusti," sahut emban itu, "Tamunya adalah seorang pria."
Kali ini Permaisuri itu pun tersentak seperti disengat kala. Sesaat ia tak dapat berkata apapun. Bahkan tubuhnyalah yang menjadi gemetar, sehingga kemudian dipeganginya tiang-tiang pintu bilik itu.
Sesaat kemudian barulah Permaisuri dapat berkata, "Emban, apakah katamu benar?"
"Ya, Gusti."
"Kau pernah melihat sendiri?"
"Ya, Gusti. Saat itu, tamu itu ada di petamanan. Karena itu hamba segera menghadap kemari."
Putri itu kini mengigil seperti orang yang sedang sakit. Kemudian tanpa berkata apa pun lagi, segera ia masuk ke dalam biliknya. Membenahi pakaiannya dan sedikit menyisir rambutnya. Dengan tergesa-gesa pula ia berkata kepada embanya, "Emban, aku akan menghadap Baginda."
Emban Permaisuri itu pun ikut mengigil pula. Kabar itu tak diduganya. Karena itu ia ragu-ragu sesaat, dan perlahan-lahan ia berbisik, "Apakah kau benar-benar melihatnya?"
Emban bercincin emas itu mengangguk. "Ya," jawabnya.
Emban Permaisuri itu mengusap dadanya sendiri. Tak pernah terpikirkan, bahwa seorang putri raja akan mengalami masa-masa yang demikian mengerikan. Apakah kata Baginda nanti? Emban Permaisuri itu menjadi semakin mengigil karenanya. Sekali lagi ia berbisik, "Apakah kau pernah memperingatkannya, atau setidak-tidaknya menanyakannya kepada Putri?"
EMBAN bercincin emas itu menggeleng. "Belum, aku tidak berani."
"Kenapa?" desak emban Permaisuri, "Bukankah kau pemomongnya? Adalah menjadi kewajibanmu untuk memberi peringatan kepada Putri apabila pada suatu saat Putri mengalami kegoncangan keseimbangan. Sebab bagaimanapun juga Putri itu pun manusia yang sering khilaf seperti kita."
Emban bercincin emas itu terdiam. Dan terdengar emban permaisuri itu berkata, "Sekarang persoalan itu akan menjadikan seisi istana gempar. Mudah-mudahan tak banyak orang yang mengetahuinya."
Emban Putri itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian kepalanya ditundukkannya.
Sesaat kemudian Permaisuri telah selesai. Dengan tergesa-gesa ia berjalan keluar, menutup pintu dan kemudian berkata, "Kalian berdua ikut aku."
Kedua emban itu pun menyembah. Mereka berjalan mengikuti Permaisuri ke bilik raja.
Di halaman, mereka berhenti, karena seorang peronda Nara Manggala menghentikan mereka. Dengan tombak di tangan, terdengar ia menyapa,
"Siapa?"
Emban Permaisuri menjawab, "Permaisuri."
"Oh!" Peronda itu pun kemudian membungkukkan badannya dalam-dalam. Namun dari sorot matanya terpancar pula beberapa pertanyaan di dalam dadanya.
Kenapa Permaisuri memerlukan menghadap Baginda di malam yang dingin ini?
Tetapi ia tidak berani bertanya. Namun diikutinya dengan pandangan matanya, Permaisuri itu menuju ke pintu bilik peraduan Baginda.
Seperti Permaisuri, Baginda pun terkejut bukan buatan. Berita itu seakan-akan telah meledakkan seisi dadanya. Namun Baginda adalah seorang yang telah terlalu sering menghadapi bermacam-macam masalah yang sulit, mengejutkan dan bahkan mengkhawatirkan. Karena itu Baginda dapat lebih cepat menguasai perasaannya. Maka dengan tenang Baginda itu bertanya, "Kau melihatnya sendiri, Emban?"
"Hamba, Tuanku."
Baginda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, "Aku ingin membuktikannya."
Permaisuri mengerutkan keningnya, katanya, "Apakah Baginda akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk menangkap mereka?"
Baginda menggeleng lemah, katanya, "Tidak. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Semakin banyak orang yang ikut serta menyaksikan masalah ini, makin cepat berita ini tersebar di seluruh Demak. Lalu apakah aku masih akan dapat melindungi nama Putri itu?"
"Lalu, bagaimanakah maksud Baginda?" tanya Permaisuri.
"Aku sendiri akan melihatnya."
"Sendiri?" Permaisuri itu terkejut.
Baginda menganggukkan kepalanya, jawabnya, "Ya. Kalau aku dapat menangkapnya sendiri, maka persoalan ini akan menjadi sangat terbatas."
"Apakah itu tidak berbahaya?" tanya Putri.
"Hanya terhadap para penjahat aku akan menyerahkan persoalan kepada para peronda. Namun persoalan ini sangat berbeda. Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya pula."
"Tetapi apakah anak muda itu tidak berbahaya seperti para penjahat?"
Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, "Mungkin. Karena itu aku bersenjata."
Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegahnya lagi. Baginda tidak bersedia memanggil, meskipun hanya seorang perwira Nara Manggala yang sedang bertugas malam itu. "Aku tidak dapat membayangkan apakah akibatnya seandainya seseorang dari mereka mengetahui peristiwa ini. Aku yakin bahwa peristiwa ini segera akan tersebar."
"Tetapi Baginda dapat memberinya pesan untuk merahasiakannya."
"Semakin banyak orang yang mengetahuinya, maka rahasia itu sudah bukan rahasia lagi. Dua orang emban ini sudah cukup banyak. Dan mereka harus menyimpan rahasia ini sekuat-kuatnya."
Ternyata Permaisuri tidak dapat mencegah lagi. Baginda itu kemudian membenahi pakaiannya. Sebuah pusaka berbentuk keris terselip di pinggangnya. Kemudian katanya sambil tersenyum untuk menenangkan hati Permaisuri, "Aku adalah seorang Senapati Perang. Apakah aku tidak dapat bertempur seandainya keadaan memaksa?"
Permaisuri tidak menjawab. Namun wajahnya menjadi tegang.
"Aku melalui pintu butulan," desis Baginda. "Kalian bertiga tetap di sini."
Baginda itu pun kemudian keluar dari bilik peraduannya lewat pintu butulan dengan tidak mengenakan pakaian kerajaan. Dengan hati-hati Baginda menyelinap di antara batang-batang perdu di petanaman menuju ke keputren. Dari emban, Baginda telah mengetahui dimana mereka berdua, putrinya dan laki-laki itu berada.
SEBENARNYA Baginda bukan seorang raja yang hanya dapat duduk di atas Singgasana. Namun Baginda benar-benar seorang Panglima Perang. Baginda sendiri selalu berada di garis paling depan dalam peperangan-peperangan yang besar dan berbahaya. Karena itu, Baginda tidak saja dapat memberikan perintah-perintah untuk bertempur, namun Baginda sendiri selalu mengalaminya.
Demikianlah malam itu Baginda pun mampu melakukan pekerjaannya. Dengan hati-hati Baginda berhasil mendekati tempat putrinya yang sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki. Ketika Baginda mendengar suara laki-laki itu meskipun perlahan-lahan, maka bergetarlah dada Baginda. "Gila, anak itu," desahnya did alam hati. Langsung Baginda dapat mengetahuinya, siapakah yang sedang bercakap-cakap dengan putrinya itu.
Karena itu maka segera Baginda mendekati mereka. Setapak demi setapak semakin lama semakin dekat. Tetapi telinga Karebet adalah telinga yang baik. Tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, dan tiba-tiba pula ia berbisik, "Seseorang mendekati kami."
Putri yang belum mendengar sesuatu itu menjadi heran. Dicobanya untuk mendengarkan setiap suara, namun tak ada yang dapat didengarnya.
Meskipun demikian putri itu pun menjadi gelisah. Desisnya, "Kau berkata sebenarnya?"
Karebet mengangguk. Namun telinga Sultan itu pun tidak kalah baiknya dari telinga Karebet. Karena itu Sultan pun mendengar dengan jelas, meskipun betapa lirihnya Karebet berbisik.
Karena itu segera Sultan menyadari bahwa Karebet telah mengetahui kehadirannya. Berkatalah Sultan didalam hatinya, "Luar biasa anak ini. Alangkah tajam pendengarannya."
Dan sejalan dengan itu, Sultan pun menjadi semakin berhati-hati. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang sejak dilihatnya untuk pertama kali, telah sangat menarik perhatiannya.
Kemudian Sultan itu mendengar Karebet berbisik, "Masuklah ke keputren, Putri. Biarlah aku pergi dari tempat ini."
Putri bungsu itu menjadi semakin gelisah. Kalau benar seseorang telah mengetahuinya, maka alangkah aibnya. Dan tiba-tiba Putri itu menjadi ketakutan. Dengan gemetar ia berkata, "Karebet, apakah benar kau mendengar seseorang mendekat kami?"
Karebet mengangguk.
"Apakah kau hanya ingin menakut-nakuti aku?"
"Tidak Putri," sahut Karebet, "Masuklah. Aku akan pergi ke bilik Sultan."
"Untuk apa?"
"Aku akan keluar dari arah itu."
"Aku takut, Karebet," desah Putri itu.
"Jangan takut," hibur Karebet, "Biarlah aku sendiri berusaha menyelesaikannya."
Tetapi putri itu menjadi semakin ketakutan. "Aku takut, Karebet."
"Jangan Putri," desak Karebet, "Sekarang masuklah. Biarlah aku melihat, siapakah yang datang itu. Apabila Tuan Putri masih di sini, maka aku tidak akan dapat berbuat sesuatu."
Jantung Putri itu kemudian serasa berhenti berdenyut. Tetapi Karebet itu mendesaknya, "Pergilah Putri."
Putri itu pun kemudian beringsut dan perlahan-lahan berdiri. Setapak ia melangkah untuk masuk ke dalam biliknya. Tetapi alangkah terkejutnya putri itu ketika tiba-tiba sesosok tubuh telah meloncat dari dalam gerumbul langsung berdiri di hadapannya, sehingga terdengarlah Putri itu menjerit kecil.
Karebet pun tidak kalah terkejutnya. Dengan serta merta ia meloncat pula berdiri. Dengan tajamnya ia mencoba mengamat-amati siapakah yang telah berani mengintip pertemuannya dengan Putri Sultan itu.
Dan dilihatnya seseorang yang bertubuh tegap, bertolak pinggang di hadapannya. Secarik kain kepala melingkar menutupi sebagian wajahnya, sehingga dalam malam yang gelap itu Karebet tidak segera dapat mengatahuinya, siapakah yang telah mengganggunya itu.
Orang itu masih berdiri bertolak pinggang ketika Karebet melangkah selangkah maju. Dengan lemahnya orang itu tertawa sambil berkata parau, "Apakah yang telah kalian lakukan di sini?"
Putri Sultan itu menggigil ketakutan. Namun Karebet melangkah maju sambil berdesis, "Siapakah kau?"
Orang yang sebagian dari wajahnya tertutup itu menjawab, "Apakah perlumu mengenal namaku?"
Alangkah marahnya Karebet mendengar jawaban itu. Setapak ia maju sambil berkata "jangan berbuat gila. Kutanya siapa engkau dan apa maksudmu?"
Sekali lagi Karebet mendengar orang itu tertawa lirih. Dari balik kain yang menutupi sebagian wajahnya itu Karebet mendengar jawabannya, "Katakanlah juga kepadaku, apakah keperluanmu datang kemari."
Karebet benar-benar menjadi marah. Ia harus menangkap orang itu. Apa yang akan dilakukan kemudian Karebet sama sekali tidak tahu. Tetapi setidak-tidaknya Karebet harus menghapuskan kesaksian orang itu. Membawanya keluar dari halaman, kemudian apabila orang itu kelak mengigau tentang dirinya, maka ia dapat mengingkarinya. Tetapi dihalaman itu apabila ada orang lain lagi yang mengetahuinya, atau melihat perselisihan itu maka sudah tentu ia tidak akan dapat mengingkari lagi.
Karena itu Karebetpun menggeram, " Jangan membuat persoalan disini. Ikuti aku supaya kau selamat."
"Aneh," desisi orang itu, "kalau aku selamat dengan menuruti perintahmu, alangkah senangnya. Malam ini tidur saja aku dirumah. Aku datang kemari, karena kau ada disini. Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau lakukan disini."
Darah Karebet telah benar-benar mendidih. Selangkah lagi ia maju. Dengan geram ia berkata, "Ikuti aku."
Namun jawab orang itu mengejutkan pula, "tundukkan kepalamu dan berjongkok dihadapanku. Aku akan menangkapmu."
"Persetan," desis Karebet. Kini ia menyadari bahwa orang yang datang itu benar-benar berbahaya baginya. Sudah tentu ia bukan orang kebanyakan. Bahkan tiba-tiba ia menyangka bahwa orang itu Tumenggung Prabasemi. Meskipun Karebet belum yakin benar, namun kemungkinan pertama adalah Tumenggung yang didadanya menyala segala macam nafsu. Karena itu Karebet tidak dapat berbuat lain kecuali melumpuhkannya. Apakah nanti yang dilakukan. Ia tidak sempat memikirkannya lagi. Dengan marahnya Kareber berkata, "Bagus kalau kau berkeras menangkap aku, cobalah."
Sekali lagi orang itu berkata, "jangan melawan. Sia-sia."
"Mulailah, " potong Karebet. "Aku akan mempertahankan diriku. Dan cobalah kau menyelamatkan dirimu."
"Tidak semua anggota Wira Tamtama dapat melindungi nyawanya sendiri. Menyerahlah."
"Hem, aku harus menangkap, menyumbat mulutmu dan melemparmu keluar dinding halaman."
"Cobalah, pecahkan dadaku dan tumpahkan darahku. Baru kau dapat keluar dari halaman istana."
Kini Karebet tidak dapat menahan diri lagi. Sekali lagi ia menebarkan pandangannya berkeliling. Sepi. Yang dilihatnya hanyalah batang pohon, tiang-tiang teritisan, dan bintang-bintang di langit. Karena itu maka Karebetpun sekali lagi maju melangkah sambil menggeram, "Benar-benar kau menghendaki kekerasan."
Orang itu mengangguk, katanya, "Ya dengan kekerasan aku ingin menangkapmu apabila kau tidak mau menyerah."
Karebet tidak menunggu lagi. Secepat kilat ia meloncat menyerang orang itu. Ia ingin melumpuhkannya dengan serangannya yang pertama supaya ia segera dapat menyingkir. namun Karebet menjadi kecewa. Dengan tangkasnya orang itu menghindari serangan Karebet, dan bahkan dengan kecepatan tak terduga orang itu menggeliat dan kaki kirinya berputar setengah lingkaran menyambar lambungnya.
Karebet sama sekali tidak menyangka, bahwa orang itu mampu bergerak secepat itu. Karenanya, maka ia samasekali tak dapat menghindari. Dengan tangannya ia menangkis serangan kaki itu. Namun alangkah terkejutnya ketika sebuah benturan terjadi, maka Karebet terdorong beberapa langkah surut. Sedang orang itu masih saja tegak ditempatnya, bahkan sesaat kemudian meluncurlah serangannya susul menyusul seperti deru ombak dilautan, menyentuh pantai.
Karebet yang juga bernama Jaka Tingkir itu terkejut bukan kepalang. Ternyata orang yang datang kepadanya itu memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian, maka dugaannya bahwa orang itu adalah Tumenggung Prabasemi lenyap. Ia pernah melihat Tumenggung bertempur. Ia pernah menilai ilmu Tumenggungnya. Dan sudah pasti Tumenggungya itu tidak akan mampu berbuat demikian.
Karena itu Karebet terpaksa meloncat surut beberapa kali. Dengan cemas ia melihat serangan serangan mengalir melanda dirinya. Sehingga karena ingin secepatnya mengakhiri pertempuran, maka segera ia mengetrapkan ilemu tersembunyi didalam dirinya, ilmu yang jarang dimiliki oleh siapapun, apalagi oleh Tumenggung Prabasemi. Aji Lembu Sekilan.
KETIKA serangan berikutnya beruntun mengejarnya, maka Karebet sengaja tidak menghindarinya. Ia ingin menundukkan lawannya segera, setelah lawannya mengetahui, bahwa ia memiliki ilmu yang dahsyat itu.
Demikianlah maka berturut-turut beberapa serangan lawannya mengenai dirinya. Namun Karebet itu seakan-akan telah menjadi kebal, sehingga serangan-serangan lawannya itu tak berdaya melumpuhkannya.
Orang yang bertutup kain di wajahnya itu melontar mundur. Dengan heran ia memandang wajah Karebet dengan tajamnya. Terdengar ia berdesis, “Lembu Sekilan?” Karebet tersenyum. Dengan bangga ia berkata kepada Putri bungsu yang menggigil ketakutan, “Masuklah Putri, orang ini tidak akan mengganggu. Biarlah urusan kami, kami selesaikan tanpa sepengetahuan Putri.”
Putri itupun tidak segera beranjak dari tempatnya. Terasa seluruh tubuhnya bergetar. Dan karena itu maka seakan-akan kakinya tak sanggup lagi untuk melangkah. Sehingga kemudian terdengar Karebet itu mengulangi, “Masuklah Tuan Putri.”
Putri itu pun seolah-olah menjadi sadar dari kecemasannya yang telah memuncak. Dilihatnya lawan Karebet itu masih berdiri di tempatnya, sehingga karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk bergerak.
Ketika orang yang berkerudung itu memandang wajah Putri Sultan. Karebet membentaknya, “Jangan menakut-nakuti. Kaulah yang harus berjongkok dan menyerah.”
Tetapi Karebet terkejut ketika kemudian orang itu pun tertawa. Katanya, “Kenapa kau tiba-tiba menganggap aku sebagai tawananmu? Apakah karena Lembu Sekilan itu?”
“Aku bukan anak-anak yang takut melihat hantu,” jawabnya, “Karena itu jangan menakut-nakuti aku dengan ilmu yang dapat dicari di tepi-tepi parit.”
Bukan main marahnya Mas Karebet. Ilmu Lembu Sekilan adalah ilmu yang jarang- jarang dimiliki oleh siapa pun. Bahkan orang-orang dari Karang Tumaritis pernah mengagumi ilmu itu, pada saat ia berkelahi melawan Surayuda, Demang Gunungkidul. Tetapi tiba-tiba orang yang tak dikenalnya itu kini menghinanya. Karena itu, maka kini Mas Karebet itu telah kehilangan segenap pengekangan yang memuncak, maka disergapnya orang yang telah menghinanya.
Kini sekali lagi pertempuran seorang lawan seorang itu berkobar semakin sengit. Dengan Lembu Sekilan, maka Mas Karebet memiliki kesempatan yang lebih luas dari lawannya. Hampir setiap serangan lawannya tak dapat menyentuh tubuhnya, karena lambaran ilmu Lembu Sekilan itu. Namun lawannya itu pun lincah bukan buatan. Betapa pun Karebet mengerahkan segenap kemampuannya, namun orang itu pun sangat sukar untuk dikenainya.
Semakin lama, Karebet pun menjadi semakin marah. Namun kecemasannya pun semakin tebal melingkar-lingkar di hatinya. Seandainya pada saat itu, peronda dari Nara Manggala melihat mereka, maka ia tidak akan dapat menghindarkan diri dari mala petaka. Karena itu selagi sempat ia berkata sambil bertempur, “Tuan Putri masuklah. Tinggalkan tempat ini.”
Namun suaranya itu disahut oleh lawannya, “Tuan Putri apakah Tuan Putri tidak ingin melihat tamu Tuan Puteri ini sampai pada saat terakhir. Mungkin ia masih akan memberikan beberapa pesan sebelum ia mengakhiri hidupnya.”
“Jangan mengigau,” potong Karebet dengan marahnya. Dan darahnya serasa mendidih ketika didengarnya orang itu tertawa berkepanjangan sambil menghindari setiap serangannya. Karena itu, maka Karebet menjadi semakin memperketat geraknya. Serangannya menjadi semakin lama semakin dahsyat. Bergulung-gulung seperti angin prahara dipadang-padang rumput.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya