Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 147
Sejak saat itu, maka Prabasemi tak memerlukan Karebet lagi. Seandainya Karebet bukan seorang yang langsung diambil oleh Sultan dari pinggir blumbang, dan diserahkan kekesatuannya, maka Karebet itu pasti sudah dipecat, diusir bahkan sudah dibunuhnya. Tetapi Prabasemi itu masih takut, seandainya Sultan memerlukan anak itu.
Namun sejak itu, Prabasemi menjadi semakin gila. Ia ingin membuktikan bahwa suatu ketika ia akan berhasil menemui puteri Sultan itu dan berhasil memikatnya. Tumenggung bukan pangkat yang terlalu rendah. Dalam peperangan ia telah berhak untuk memegang jabatan panglima dalam laskar segelar sepapan. Dan ia yakin kesaktiannya akan ikut menentukan pula keadaan dirinya. Juga akan dapat menentukan apakah puteri Sultan itu akan menaruh perhatian akan dirinya atau tidak.
Prabasemi pernah mendengar juga nama-nama perwira yang pernah menggemparkan Demak. Seorang kawannya dari angkatan yang lebih tua, dari kesatuan Nara Manggala, bernama Gajah Alit tak kurang saktinya. Seorang lain dari panglima pasukan Demak yang berada di Bergota. Arya Palindih, adalah orang yang sakti.
"Tetapi apakah kau tidak dapat menyamai kesaktian mereka?" katanya dalam hati
Tetapi sebagai seorang perwira yang masih muda, ia hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk pergi bersama-sama dengan mereka yang mempunyai nama dalam keprajuritan Demak. Sehingga dengan demikian, maka Prabasemi itu belum pernah mendapat kesempatan untuk melihat atau memperlihatkan kesaktiannya masing-masing angkatan sebelumnya dan dirinya sendiri. Itulah agaknya yang menyebabkan Prabasemi haus pada kesempatan kesempatan demikian.
Perang merupakan lapangan permainan yang digemarinya, sekedar untuk mengukur diri. Tak pernah diperhatikannya, apakah akibat dari peperangan itu. Tak pernah terpikirkan olehnya, berapa orang yang gugur. Ia ingin namanya akan semakin menanjak keatas, merayap kesamping nama-nama yang pernah didengar sebelumnya.
Dengan demikian Prabasemi merupakan Perwira yang namanya dikenal karena tindakannya yang kasar. Setia persoalan yang betapapun kecilnya atas daerah wilayah Demak, bahkan daerah perdikan akan diselesaikan oleh Prabasemi dengan kekerasan. Dengan dalih yang dibuat-buat, Prabasemi selalu mengakhiri tugasnya dengan pertumpahan darah.
Ada anak buah yang senang dengan kebiasaan itu, namun ada yang membencinya. Karebet termasuk orang yang muak dengan perbuatan itu. tetapi sebagai seorang yang patuh pada ketetapan yang berlaku dalam lingkungan Wira Tamtama, maka tak banyak yang dapat ia lakukan. Dan sebenarnya untuk sementara Prabasemi mendapat sambutan baik dari atasannya. Seakan-akan semua tugas yang diserahkannya pasti dapat diselesaikannya.
Dan kini Prabasemi telah sampai pada tangga yang cukup tinggi. Tumenggung. Namun nafsunya yang berlebihan masih belum juga surut.
Bahkan kini ia terdorong dalam satu persoalan yang lebih gila lagi. Wajah puteri bungsu itu tak pernah dilupakannya. Dan ia bertekad untuk suatu ketika bertemu dengan gadis itu. Apa yang dilakukan Karebet ternyata telah mendorongnya ke sudut yang semakin gelap.
Tetapi sementara itu Karebetpun menjadi semakin gila. Sejak ia tahu Prabasemi kasmaran kepada puteri Sultan, sejak itu ia bertambah jauh tenggelam dalam permainan yang berbahaya. Sebenarnya ia mengatakan apa yang diketahuinya tentang Prabasemi kepada puteri itu. Namun puteri berkata kepadanya "terserah kepadamu Karebet."
"Apakah artinya aku ini puteri," kata Karebet
"Aku tidak lebih dari seorang Tamtama, sedangkan Prabasemi adalah Tumenggung sakti."
Karebet hampir menjadi lupa diri ketika melihat puteri itu tersenyum sambil berkata, "Kalau akau mau Karebet, aku tidak hanya sekedar mendapatkan Tumenggung, tetapi aku akan mendapatkan seorang Bupati Nayaka atau seorang Adipati."
Dada Karebet menjadi semakin berdebar-debar, "Kenapa puteri tidak mau?"
"Apakah kau menghendaki demikian?" bertanya puteri itu.
"Ah," desah Karebet.
"Aku sedang berfikir, bagaimana cara sebaik-baiknya untuk bunuh diri."
"Kenapa bunuh diri?"
"Aku tak sanggup melihat Puteri dipersandingkan. Mungkin dengan seorang Adipati, Pangeran dan dengan Tumenggung Prabasemi."
"Jangan mengigau Karebet," potong puteri itu.
Karebet tersenyum. Kemudian katanya, "lalu bagaimana aku harus mengatakan kepada Tumenggung yang gagah itu ?"
"Terserah kepadamu. Mungkin kau akan mengatakan kepadanya bahwa aku akan menerima lamarannya."
Demikianlah Karebet semakin yakin akan dirinya. Ia tidak akan dapat disisihkan oleh Tumenggung yang dipenuhi segala macam nafsu itu.
TETAPI Tumenggung Prabasemipun tidak putus asa. Dihubunginya beberapa emban, disuapnya dengan uang, pakaian dan benda berharga lainnya. Dimintanya mereka menyampaikan beberapa pesan untuk puteri itu.
Namun usaha Tumenggung itupun sia-sia. Puteri Sultan Trenggana tak pernah memperhatikan pesan itu. Dan bahkan puteri selalu berpura-pura belum pernah mendengar nama Prabasemi. Dengan demikian Prabasemi semakin prihatin. Kadang bila pikiran jernih datang, maka disadarinya bahwa yang dilakukannya adalah laku seorang gila. Namun apabila dikenangnya wajah itu, maka pikiran gilanya kembali menguasai kepalanya.
Dan terjadilah suatu peristiwa. Peristiwa tak disangka-sangka oleh Prabasemi. Ketika pada suatu hari, seorang emban yang telah disuapnya berlari kepadanya.
"Ada apa ? Apakah puteri memanggil aku?"
Emban menggeleng, dan Tumenggung menjadi kecewa.
"Ki Tumenggung, aku tidak yakin usaha Ki Tumenggung akan berhasil"
Tumenggung Prabasemi membelalakkan matanya.
"Apa katamu?"
"Ki Tumenggung, seseorang telah mendahului menyentuh hati tuan puteri..."
"He, " Prabasemi terkejut sekali sehingga terjingkat.
"Seseorang telah mendahului Ki Tumenggung"
"Bohong, aku juga pernah dibohongi demikian," teriaknya
"Aku tidak bohong," sahut emban.
"Apakah kau dapat mengatakannya, siapakah yang telah mendahului aku ?"
"Anak muda itu pernah datang ke keputren. Dan kali ini aku melihatnya sendiri."
"Gila, apakah para prajurit Nara Menggala tidur semua ?"
"Anak muda itu selalu datang ke istana. Baginda sering memanggilnya, sehingga para Nara Manggala selalu melepaskannya untuk masuk ke mana saja yang disukainya."
"Siapa dia ?"
"Aku tidak kenal namanya. Tetapi ia dari Wira Tamtama seperti Ki Tumenggung."
"Gila, siapa dia ? He, siapa ?" wajah Tumenggung itu menjadi merah padam. Ia percaya kata-kata emban itu. Karena itu maka dadanya bergetar seperti seratus guntur meledak bersama-sama didalamnya. Emban tidak dapat menjawab. Memang ia tidak tahu siapakah nama anak muda itu. Namun ia dapat mengatakan, bahwa Baginda sering memanggilnya untuk memijat kakinya. Atau kadang-kadang anak muda itu diajak bermain panah, membidik sasaran-sasaran yang aneh-aneh. Dan bahkan bermain kecerdasan. Macanan atau mul-mulan dengan asyiknya. Mendengar keterangan emban itu, menggigilah tubuh Prabasemi. Dengan suara yang parau gemetar ia bertanya,"Apakah anak muda itu masih sangat muda ?"
"Ya," jawab emban itu.
"Bertubuh tegap, berdada bidang ?"
"Ya."
"Selalu tersenyum ?"
"ya."
"Gila. Setan itu bernama Karebet ? Kau dengar ?" bentak Prabasemi.
Kini ia benar-benar kehilangan kesabarannya. Seandainya Karebet ada dihadapannya, maka sudah pasti ia akan berusaha membunuhnya. Tetapi yang ada kini adalah emban itu. Emban yang menggigil ketakutan.
"Kau lihat sekarang orang itu berada di keputren ?"
"Ya." Emban itu mengangguk.
"Aku akan kesana. Aku bunuh anak itu," teriak Prabasemi.
"Jangan Tuan," pinta emban itu.
"Kenapa ?"
"Tuan, apakah Tuan mungkin melampaui penjagaan Nara Manggala seperti anak muda itu ?"
PRABASEMI menggeram. Ia tidak mempunyai wewenang apa pun untuk memasuki bagian dalam istana seperti Karebet. Kalau ia memaksa, maka ia akan berhadapan dengan Nara Manggala. Sedang kalau Nara Manggala itu dimintanya untuk menyergap kaputren beramai-ramai, maka Karebet pasti sempat melarikan diri. Dan apabila tidak ditemui bukti, maka Baginda pasti akan murka. Meskipun perasaan Prabasemi pada waktu itu seolah-olah sedang menyala, namun naluri keprajuritannya telah mencegahnya untuk bertindak. Karena itu, Tumenggung itu hanya bisa menggeram dan menghentak-hentakkan kakinya.
Dengan gemetar ia berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil mengumpat, "Setan, Karebet itu. Seharusnya ia dibunuh." Namun akhirnya Tumenggung itu pun berhenti mondar-mandir. Ditatapnya wajah emban yang ketakutan itu. Dan tiba-tiba Tumenggung Prabasemi tersenyum.
Emban yang ketakutan itu pun terkejut melihat perubahan sikap Prabasemi yang tiba-tiba itu. Namun ia tidak berani bertanya sesuatu. Bahkan ia menjadi semakin gelisah ketika kemudian Prabasemi itu berhenti beberapa langkah dihadapan emban yang duduk sambil menundukkan wajahnya.
"Emban..." katanya, "Sudahlah, biarlah Gusti Putri itu menuruti kehendak sendiri."
Emban itu menjadi semakin heran. Sekali ia mengangkat wajahnya dengan sorot matanya yang penuh mengandung pertanyaan. "Namun putri itu pun harus mendapat pelajaran. Aku tak akan dapat berbuat apa pun untuknya. Karena itu Emban, apakah tidak sebaiknya melaporkannya kepada ibunda permaisuri apabila kau melihat anak muda itu datang kembali?"
Emban menggeleng, "Aku tidak berani tuan. Dan dengan demikian maka akibatnya pun akan jauh sekali. Mungkin putri akan dihukum didalam istana, dan mungkin anak muda itu dapat dihukum mati." Prabasemi tertawa. Katanya, "Bukankah itu hukuman yang wajar?"
"Putri akan berduka."
Prabasemi tertawa. Katanya seterusnya, "Jadi apakah sebaiknya dibiarkan saja perbuatan gila itu? Apakah dengan demikian kau sendiri tidak akan digantung kelak apabila kedua anak-anak muda itu terdorong kedalam keadaan yang makin parah?"
Emban itu terdiam. Kata-kata Prabasemi itu memang benar. Seandainya Gusti Putri itu terperosok dalam perbuatan yang lebih sesat lagi, maka dirinyapun akan mendapat hukuman pula beserta seluruh emban yang lain. Selagi ia sibuk menimbang-nimbang, emban itu terkejut ketika dipangkuannya jatuh sebentuk cincin emas yang berkilat-kilat. Dengan mulut ternganga ia menengadahkan wajahnya menatap wajah Prabasemi. Prabasemi itu masih tersenyum. Katanya, "Pakailah, supaya kau tidak lupa kepadaku. Dan supaya kau tidak lupa nasehatku. Sebaiknya kau laporkan peristiwa-peristiwa semacam itu. Bukankah tugasmu momong Gusti Putri? Dan bagiku Gustri Putri itu sama sekali sudah tidak menarik lagi sejak aku melihat kau."
"Ah", desis emban itu. Namun ia pun menjadi berbangga akan kata-kata Prabasemi itu. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginan untuk benar-benar dikagumi oleh Tumenggung itu. Sehingga sambil mengerling emban itu berkata, "Tuan jangan berolok-olok."
Prabasemi tertawa. Jawabnya, "Kenapa aku berolok-olok. Aku baru melihat putri itu dari kejauhan, sedang aku telah melihat kau dari dekat. Bukan baru sekali dua kali, tetapi karena kau sering datang kemari, aku telah melihat hampir seluruhnya yang ada padamu. Tingkah lakumu, sifat-sifatmu, senyummu."
"Ah", wajah emban itu menjadi kemerah-merahan. Namun ia menjadi semakin berbangga.
"Nah, lakukanlah pesanku itu", berkata Prabasemi kemudian perlahan-lahan, "kau akan mendapat hadiah daripadaku. Lebih banyak dari yang sudah aku berikan. Biarlah seandainya putri itu mendapat pingitan yang lebih keras dari ibunda. Aku tidak peduli lagi, asalkan kautidak ikut dipingit pula."
Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia berjanji untuk melakukannya, "Ya Ki Tumenggung, akan aku beritahukan kepada Permaisuri apabila anak muda itu datang kembali."
"Bagus, bagus", sahut Prabasemi, "jangan tanggung-tanggung Rumah ini masih kosong."
Dan emban itu pun berdesir. Tanpa dikehendakinya ia memandang berkeliling ruangan itu. Dilihatnya rumah Tumenggung yang masih muda itu dipenuhi dengan alat-alat rumah tangga yang bagus. Tempat duduk dari kayu berukir, geledek-geledek berukir dan tirai-tirai sutera dimuka sentong tengah dan kedua sentong samping. Bahkan tiang-tiangnya pun diukir pula dengan bagusnya dengan warna-warna sungging yang indah. Tanpa disadarinya pula emban itu tersenyum.
PRABASEMI membiarkan emban itu berangan-angan. Namun hati Tumenggung itu mengumpat, "Gila pula agaknya emban ini seperti aku. Apa disangkanya ia cukup bernilai untuk bermimpi menjadi istri Tumenggung?" Bibir Tumenggung itu membayangkan sebuah senyum. Dan senyumnya itu telah mendebarkan hati emban yang mabuk kesenangan. Ketika emban itu pergi. Prabasemi masih tersenyum-senyum sendiri. Ia mengharap emban yang telah membawa cincinnya itu memenuhi janjinya. "Apabila benar yang dikatakan itu," Prabasemi bergumam sendiri, "Maka umur Karebet itu menjadi amat pendeknya. Kasihan. Tetapi ternyata ia lebih gila daripadaku."
Tetapi Tumenggung Prabasemi ternyata cerdik. Betapa darahnya mendidih apabila ia melihat Karebet, namun ia selalu dapat menahan dirinya. Bahkan sikapnya kepada Karebet seakan-akan menjadi bertambah baik. Dibawanya anak muda itu ke mana-mana. Dibawanya Karebet itu ketempat-tempat yang disukainya. Ke pasar dan ke warung-warung. Apabila Tumenggung itu membeli kain baru untuk dirinya, maka dibelikannya pula Mas Karebet.
Namun otak Mas Karebet bukan otak yang tumpul. Ia merasakan beberapa perubahan sikap Tumenggung. Mula-mula Tumenggung itu marah kepadanya, tetapi tiba-tiba sikap itu berubah. Meskipun demikian ia belum dapat mengetahuinya dengan pasti, apakah maksud Tumenggung itu sebenarnya. Dan ternyata Mas Karebet meraba ke arah yang tidak tepat. Ia menyangka, bahwa Tumenggung itu sedang menyuapnya supaya ia bersedia menyampaikan pesan-pesannya kepada Gusti Putri. Karena itulah maka Karebet tidak juga menyadarinya, bahwa seakan-akan dari celah-celah setiap pintu kaputren, sepasang mata selalu mengintipnya. Setiap langkah putri bungsu itu tak pernah terlepas dari pengawasan emban yang haus kemukten itu, apalagi Mas Karebet berada di sekitarnya, meskipun dengan bersembunyi-sembunyi.
Akhirnya datang pula saat itu. Ketika malam sedang merayap semakin dalam, dan bintang-bintang dilangit seakan-akan sedang tenggelam dalam pelukan awan yang kelabu. Sekali-kali lidah api yang panjang menyala di langit yang gelap, disusul dengan suara gemuruh diudara. Angin yang dingin bertiup semakin lama semakin kencang. Seorang anak muda berjalan bergegas-gegas masuk ke pintu gerbang dalam halaman istana. Seorang prajurit yang sedang bertugas menyapanya, "He, berhenti. Siapa?"
Anak muda itu mengangkat wajahnya. Dengan tergesa-gesa ia menjawab, "Kaki Baginda terkilir."
"Oh, kau Karebet?" tanya prajurit itu. Karebet tidak menjawab. Ia berjalan terus memasuki pintu gerbang. Dan prajurit bertombak itu kembali ke gardunya.
"Karebet," gerutunya. Kawannya tersenyum, jawabnya, "Jangan iri. Baginda amat sayang kepadanya. Bahkan seperti putera sendiri. Setiap kali anak itu dipanggilnya. Ada-ada saja."
"Kenapa bukan aku?" kelakar orang bertombak itu. "Aku juga sedang belajar, meloncat mundur sambil berjongkok. Bukankah karena Sultan melihat anak itu berbuat demikian di halaman masjid, maka Karebet itu dipungutnya?"
"Ternyata ia pun merupakan Tamtama yang baik," jawab yang lain, "Sebaik Tumenggung yang selalu mabuk tuak itu."
Beberapa orang prajurit yang sedang berjaga-jaga di gardu itu pun tertawa. Seorang dari mereka yang sedang memegang dadu melemparkannya ke sudut, lalu menguap. Katanya, "Alangkah dinginnya." "Tidurlah," sahut yang lain, "Giliranmu adalah seperempat malam terakhir."
Orang itu tidak menjawab, namun ia merangkak kesudut. Dan kemudian merebahkan dirinya di samping dua orang lain yang sudah mendengkur. Mereka adalah petugas-petugas yang akan mendapat giliran pada perempat malam terakhir.
KAREBET pun kemudian memasuki halaman dalam istana. Seperti biasa ia berjalan menyusur teritis kebilik Baginda. Namun ia tersenyum sendiri. Baginda pasti sedang tidur nyenyak dimalam yang dingin ini. Tiba-tiba tubuh anak muda itu pun kemudian seakan-akan lenyap dibawah bayang-bayang pepohonan. Tak seorang pun yang melihatnya. Perlahan-lahan ia menyusur di antara tananam di pertamanan itu menuju kesisi halaman yang lain. Kaputren. Angin malam masih bertiup menggoyangkan daun-daunan dan menggugurkan kelopak-kelopak bunga kering. Lamat-lamat di antara desir angin terdengarlah suara burung bence. Perlahan-lahan dan jarang-jarang. Bukan suara burung yang sesungguhnya. Tetapi tak seorang pun yang mengetahuinya selain Gusti Putri. Dan perlahan-lahan pula, terbukalah pintu kaputren. Sesaat kemudian tertutup kembali. Seorang gadis yang berkerudung kain menyelinap keluar dan berjalan tersuruk-suruk ke samping dinding kaputren itu.
"Ah kau," desis gadis itu.
Karebet tersenyum. Katanya, "Apakah Tuan Putri sudah tidur?"
"Belum," jawab putri itu, "Aku menunggumu."
Putri itu pun kemudian duduk di tanah di samping Karebet, di balik rimbunnya pertamanan. Sekali-kali kilat masih menyambar di langit dan guruh masih menggelegar satu-satu. Namun kedua anak-anak muda itu sama sekali telah tenggelam dalam keasyikan, sehingga tak dilihatnya cahaya tatit, dan tak didengarnya gemuruh guntur.
Di sudut lain, emban yang mengenakan cincin emas di jari-jarinya dan bersembunyi di balik sudut dinding, tampak tersenyum-senyum. Ia kemudian tidak hanya sekadar ingin menyelamatkan putrinya dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk.
Namun kemudian ia bahkan mengharap keadaan akan bertambah parah. Bahkan ia mengharap Sultan menjadi sangat murka kepada putrinya, dan kemudian mengenakan pingitan yang sangat berat. Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Prabasemi pasti akan melupakannya. Melupakan putri itu. Bukankah dengan demikian, kesempatan baginya menjadi lebih luas lagi? Istri Tumenggung adalah impian yang sangat menyenangkan. Selagi kawan-kawannya masih tetap menjadi emban, dan satu dua akan diambil oleh jajar atau setinggi-tingginya bekel juru taman, maka ia telah menjadi seorang istri Tumenggung. Tumenggung Wira Tamtama.
Kini kesempatan itu terbuka baginya. Karena itu, dengan tersenyum ia bergeser surut. Dan sesaat kemudian dengan tergesa-gesa ia berjalan menyusur dinding belakang, menuju bilik Permaisuri. Tetapi, ketika ia sampai di samping bilik itu, ia menjadi ragu-ragu. Apakah Permaisuri mempercayainya, dan apakah akibatnya tidak akan terlalu parah dan menyebabkan Putri berduka? Namun kemudian diingatnya kata-kata Tumenggung Prabasemi, "Apakah dengan demikian kau sendiri tidak akan digantung kelak apabila kedua anak-anak muda itu terdorong ke dalam keadaan yang semakin parah?"
Ketika emban itu sedang bimbang, ia menjadi terkejut bukan buatan ketika terasa seseorang menggapit pundaknya. Ketika ia menoleh, dilihatnya di belakangnya berdiri seorang emban Permaisuri. Dengan tersenyum, emban itu bertanya, "He, kenapa kau malam-malam, berada di sini?"
"Oh," jawab emban Putri Bungsu yang bercincin emas tergagap.
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa?" tanya emban Permaisuri dengan heran. Emban bercincin emas itu diam sesaat. Dicobanya untuk mengatasi getar di dalam dadanya. Getar yang ditumbuhkan oleh benturan-benturan perasaannya. Namun ketika emban Permaisuri itu mendesaknya, maka terluncurlah kata-katanya, "Ah. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat penting terjadi di kaputren."
Emban Permaisuri itu mengerutkan keningnya. Katanya, "Kenapa? Apakah Putri sakit?"
Emban bercincin emas itu menggeleng.
"Tidak," katanya.
"Lalu kenapa?"
"Berikanlah aku kesempatan menghadap Permaisuri."
Emban Permaisuri itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, "Apakah persoalan itu sedemikian pentingnya sehingga harus kau sampaikah hari ini?"
"Ya. Sedemikian pentingnya."
"Tidak dapat ditunda sampai esok pagi-pagi?"
Emban bercincin emas itu menggeleng.
"Tidak," jawabnya, "Persoalannya sangat penting dan harus diselesaikan malam ini."
Emban Permaisuri itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berjalan ke pintu bilik Permaisuri, sedang emban bercincin emas itu mengikutinya.
"Belum lama Permaisuri tidur," kata emban itu, "Baru saja Baginda meninggalkan bilik ini. Agaknya ada persoalan yang penting yang sedang dibicarakan dengan Permaisuri."
"Soal inipun tak kalah pentingnya," desak emban bercincin emas. Akhirnya emban Permaisuri itu pun mengetuk pintu perlahan-lahan. Tidak biasa hal itu dilakukannya. Namun apabila persoalannya penting sekali, maka Permaisuri pasti tidak akan murka.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya