Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 140
Bagaimanapun Galunggung mencoba mempergunakan setiap kemampuan yang ada dalam dirinya, namun dengan lincahnya Widuri berhasil menghindarkan dirinya. Seperti seekor kijang ia melompat kesamping. Tetapi ia tidak berani menentang maksud Rara Wilis, karena itu ia tidak membalasnya. Malahan ia lari seperti seekor kelinci dan bersembunyi dibelakang Rara Wilis. Namun tawanya masih saja terdengar, meskipun gadis nakal itu berusaha untuk menahannya.
Wilis melihat sikap Widuri itu dengan menahan nafas. Ketika Widuri sudah berdiri dibelakangnya ia berbisik, " Jangan terlampau nakal Widuri."
"Aku tidak dapat menahan geli bibi," jawabnya.
Galunggung telah benar-benar menjadi marah. Pedangnya kemudian diputar-putarnya diatas kepala. Sambil berteriak-teriak ia meloncat menyerang Rara Wilis. Namun Rara Wilis sudah bersedia. Dengan cepatnya ia meloncat kesamping, kemudian rantai ditangannyapun diurainya.
NYAI AGENG Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora meskipun tidak memiliki kemampuan bertempur dan tata bela diri namun mereka adalah istri-istri kepala daerah perdikan, yang dalam kedudukannya sekali dua kali pernah dilihatnya perkelahian, meskipun hanya dalam latihan-latihan laskar-laskar mereka. Karena itu, ketika mereka melihat bagaimana Endang Widuri menghindar dan bagaimana Rara Wilis dengan gerak sederhana membebaskan dirinya dari serangan Galunggung, mereka pun menyadari, bahwa wajarlah kalau kedua gadis itu sama sekali tidak takut menghadapi Galunggung.
Ternyata dalam perkelahian berikutnya, Galunggung tidak lebih daripada seorang raksasa rucah (tak berguna, Mimbar) yang bertempur melawan kesatria-kesatria Pandawa. Meskipun ia berjuang mati-matian, namun yang dapat dilakukan hanyalah meloncat-loncat tak karuan. Bahkan sekali dua kali rantai Rara Wilis telah menyentuh tubuhnya, dan membuat bekas luka yang nyeri. Kulitnya seperti terkelupas dan darah menetes dari luka-luka itu. Namun Wilis tidak benar-benar hendak melukainya, karena itu, sengatan rantai itu pun tidak terlampau berbahaya.
Tetapi ketika Galunggung menjadi semakin menggila, Rara Wilis pun menjadi muak. Karena itu serangannya dipertajam, dan Galunggung menjadi semakin terdesak. Meskipun demikian masih saja ia berteriak dan memaki-maki.
Akhirnya serangan Rara Wilis semakin terasa berat. Pangkal rantai perak itu mematuk-matuk seluruh permukaan kulitnya. Bahkan pipinya, hidungnya dan dahinya. Kulit Galunggung itu telah dipenuhi oleh jalur-jalur merah dan lecet-lecet berdarah.
Dalam kesibukannya mempertahankan diri itulah Galunggung mendengar suara Rara Wilis, ”Tinggalkan tempat ini. Menghadaplah Ki Ageng Lembu Sora, dan mintalah maaf kepadanya.”
”Persetan dengan orang itu,” jawab Galunggung, tetapi belum lagi mulutnya terkatub, pangkal rantai itu benar-benar mengenai bibirnya. ”Gila!” teriaknya, dan darah mengalir dari bibir yang tebal itu.
”Jagalah mulutmu,” bentak Rara Wilis, ”Pergi dan turuti perintahku.”
Galunggung tidak menjawab. Tetapi terasa bahwa ia tak akan dapat melawan gadis itu. Karena itu tiba-tiba matanya yang liar melingkar-lingkar mencari pintu keluar dari ruangan yang celaka itu.
Sesaat kemudian ketika beberapa kali lagi tubuhnya disakiti oleh rantai Rara Wilis, Galunggung meloncati pintu dan berlari ke halaman. Rara Wilis tidak segera mengejarnya ketika ia melihat Galunggung berhenti. Orang gila itu berdiri dengan mengacung-acungkan pedangnya kepada Rara Wilis yang berdiri di pintu sambil memaki habis-habisan. Akhirnya Galunggung berkata, ”Aku tidak dapat membunuhmu. Sayang, kau terlalu cantik. Tetapi kalau lain kali kau berani melawan aku lagi, aku tidak mau memaafkan.”
Sekali lagi Widuri tidak dapat menahan geli hatinya. Ia tertawa tertahan-tahan, sedang kedua tangannya menutup mulutnya.
”Jangan banyak tingkah,” teriak Galunggung dari halaman. ”Gadis kecil itu akan aku lumatkan kalau ia berani menghina aku lagi, kepala daerah perdikan Pangrantunan lama.”
Rara Wilis tidak menjawab. Ia melangkah setapak maju sambil memutar rantainya. Melihat sikap Rara Wilis, Galunggung mundur beberapa langkah. Kemudian tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menghambur lari menyusup regol. Namun di kejauhan suaranya masih terdengar, ”Awas kalau kau sekali lagi berani melawan aku. Aku cerai kau.”
Wilis tertegun di tempatnya. Apakah ia harus menangkap orang gila itu. Ia akan menjadi sangat berbahaya bagi penduduk dan orang-orang yang akan dijumpainya. Beruntunglah kalau ia bertemu Arya Salaka atau Lembu Sora. Tetapi kalau para prajurit mengeroyoknya beramai-ramai, maka nasibnya akan sangat menyedihkan.
Pada saat ia termangu-mangu itulah terasa dua pasang tangan memeluknya sambil terisak-isak. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora mengucapkan terima kasihnya dengan uraian air mata.
”Duduklah Nyai Ageng,” kata Wilis, lalu kepada Widuri ia berkata, ”Widuri, lihatlah di luar regol, kalau-kalau Galunggung berbuat sesuatu terhadap orang-orang yang ditemuinya, tetapi jangan berbuat terlampau jauh.”
”Baik, Bibi,” jawab Widuri. Dan ia pun segera melangkah keluar setelah ia menerima rantainya kembali.
Dengan langkah yang cepat, Widuri berjalan di jalan kecil di muka halaman banjar desa itu. Kemudian ia membelok ke kanan, menyusur jalan satu-satunya itu. Tiba-tiba ia berhenti. Di kejauhan ia melihat Galunggung berdiri berhadap-hadapan dengan seorang yang bertubuh tinggi dan besar. Dengan tangkasnya Widuri menyelinap, dan kemudian menyusup halaman, ia pergi mendekati orang gila itu.
SEKALI-KALI Widuri harus meloncati pagar-pagar batu, dan sekali-kali ia harus menyusup gerumbul-gerumbul liar yang masih berserakan di sana-sini, di halaman-halaman yang kosong dan terbentang di antara rumah-rumah kecil.
Ketika ia sudah mendekati tempat Galunggung berdiri, maka ia pun mendengar apa yang dipercakapkan mereka.
”Galunggung...” terdengar orang yang tinggi besar itu berkata, ”Marilah kita pergi ke banjar desa. Sebentar lagi Ki Ageng Lembu Sora akan datang. Darinya kau akan mendengar beberapa keterangan yang perlu.”
Yang terdengar adalah derai tertawa Galunggung. Kemudian jawabnya, ”Aku temui di sini seorang pengkhianat lagi.”
”Jangan berkata begitu,” sahut lawan bicaranya, orang tinggi itu.
Ketika Widuri sempat mengintip mereka, maka tahulah Widuri, bahwa orang yang tinggi itu adalah salah seorang pemimpin laskar Pamingit, yang pernah didengarnya dipanggil dengan nama Wulungan, meskipun ia belum mengenal langsung.
”Kau tinggal memilih Kakang Wulungan, Lembu Sora, Gajah Sora, Arya Salaka atau Galunggung,” kata Galunggung kemudian.
”Apanya yang harus aku pilih?” tanya Wulungan.
”Mereka adalah pengkhianat-pengkhianat. Sepeninggal Sawung Sariti, akulah yang paling berhak atas kedudukan yang sudah dicapainya. Sebab akulah kawan yang paling setia. Dan akulah yang telah memberinya berbagai jalan untuk mencapai cita-citanya itu,” jawab Wulungan.
Wulungan pun kemudian melihat mata Galunggung yang liar itu. Maka katanya, ”Katakanlah itu kepada Ki Ageng.”
”Akulah kepala daerah perdikan sekarang,” kata Galunggung.
”Atas nama kepala daerah perdikan Pamingit, ikutlah aku.” Wulungan menjadi tidak sabar lagi.
”Apa kau bilang?” bantah Galunggung, ”Atas nama kepala daerah perdikan Pamingit? Omong kosong. Akulah kepala daerah perdikan itu.” Mata Galunggung menjadi semakin merah dan liar, bahkan ujung pedangnya sudah mulai bergerak-gerak. Kemudian orang gila itu berteriak, ”Pengkhianat ini harus aku selesaikan.”
Sebelum Wulungan sempat berkata sesuatu, Galunggung sudah menyerangnya. Untunglah Wulungan cekatan. Ia berhasil menghindar dan sekali lagi ia mencoba mencegah Galunggung. ”Jangan berbuat sesuatu yang akan mencelakakan dirimu sendiri. Ki Ageng Lembu Sora akan menghukummu.”
Sekali lagi Galunggung menyerang sambil berteriak, ”Akulah yang akan menghukumnya.”
Sekali lagi Wulungan telah melawannya dengan pedang pula, maka Widuri tidak menampakkan diri. Ia masih saja berada di balik pagar sambil mengintip apa yang terjadi. Tetapi akhirnya ia tidak puas dengan lubang retak pagar batu itu, sehingga kemudian ia meloncat dan duduk dengan enaknya di atas pagar.
Wulungan dan Galunggung melihat kehadirannya. Mata Galunggung yang liar itu menyambarnya beberapa kali. Kemudian ia berteriak, ”He gadis gila. Kubunuh kau.”
Widuri tertawa sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang berjuntai. Tetapi ketika ia akan menjawab, terdengar Wulungan berkata, ”He Ngger, kembalilah ke banjar desa. Orang ini dapat berbahaya bagimu.”
Tetapi Widuri tidak beranjak dari tempatnya. Kakinya masih berjuntai. Sambil tersenyum ia menjawab, ”Tidak, Paman Wulungan. Aku tidak takut kepadanya, karena di sini ada Paman Wulungan.”
”Ah,” desis Wulungan. Sekali lagi matanya menyambar gadis itu. Tampaknya Widuri memang tidak takut sama sakali. Namun Wulungan tidak begitu senang melihat sikapnya, semata-mata karena Wulungan mencemaskan keselamatan gadis itu. Sebab Wulungan masih belum tahu, siapa sebenarnya Endang Widuri.
Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk memikirkan nasib Widuri. Serangan Galunggung semakin lama menjadi semakin garang, bahkan kemudian membabi buta. Mula-mula Wulungan selalu mencoba untuk mempertahankan diri saja, sambil menunggu kedatangan rombongan dari makam, dengan demikian ia mengharap dapat menangkap Galunggung hidup-hidup. Tetapi agaknya tidak dapat berlaku demikian. Serangan Galunggung benar-benar berbahaya baginya. Karena itu, Wulungan kemudian terpaksa membalas setiap serangan Galunggung. Sehingga akhirnya pertempuran itu pun menjadi bertambah sengit.
Meskipun demikian, Wulungan yang otaknya tidak terganggu, masih selalu berusaha untuk berhati-hati. Serangan-serangannya tidak mengarah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia ingin melumpuhkan lawannya tanpa membahayakan jiwanya.
Tetapi Wulungan bukanlah Rara Wilis atau Endang Widuri. Wulungan dalam ilmu tata bela diri berada dalam tataran yang sama dengan Galunggung. Karena Wulungan tidak bertempur dalam puncak ilmu yang dimilikinya, maka dengan tidak disangka-sangka, sebuah goresan menyobek pundaknya.
Wulungan terkejut dan dengan satu lontaran panjang ia melangkah surut. Terasa betapa pedihnya pundak kiri yang terluka itu. Ketika ia sempat melihat luka itu, betapa ia menjadi marah. Darahnya mengalir melumuri baju dan menetes membasahi tanah kelahirannya oleh tangan kawan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia menggeram pendek, dengan suara gemetar.
"Galunggung, apakah kau sudah benar-benar gila?."
Galunggung tertawa keras, sambil menunjuk luka di pundak itu ia berkata: "Kakang Wulungan, luka itu hanyalah sebuah luka yang kecil. Meski demikian kau telah menjadi pucat dan ketakutan. Karena itu berjongkoklah. Inilah kepala daerah perdikan yang baru."
Wulungan tidak dapat menahan hatinya yang bergelora meskipun ia telah lama bergaul dan paham sifat Galunggung, "atas nama Ki Ageng Lembu SOra, aku memperingatkan kau sekali lagi untuk yang terakhir."
"Persetan dengan Lembu Sora. Sebentar lagi aku bunuh dia sesudah aku membunuhmu," jawab Galunggung dengan sombongnya.
Mendengar jawaban itu, hati Wulungan benar-benar terbakar. Ternyata Wulungan benar-benar gila. Gila dengan pedang di tangan adalah sangat berbahaya. Karena itu, maka Wulungan tidak menunggu Galunggung menyerangnya. Wulungan menyerang. Pedangnya terjulur. Meskipun demikian pedang itu tidak mengarah lambung, dada atau leher lawan. Betapapun marahnya Wulungan, namun ia tidak bermaksud membunuh lawannya itu.
Tetapi karena keragu-raguan itulah maka Galunggung sempat menghindarkan diri. Pedang Wulungan yang mengarah kepala itu dapat dihindarinya. Dengan tertawa nyaring Galunggung memutar pedangnya, dan dengan dahsyatnya ia membalas serangan Wulungan. Tetapi Galunggung tidak berpikir wajar. Ia tidak ragu-ragu dalam setiap ayunan pedangnya. Karena itu serangannya sangat berbahaya. Wulungan terkejut melihat sambaran pedang Galunggung. Untunglah ia sempat membungkukkan kepalanya. Dan berdesing pedang itu tidak lebih senyari diatas kepalanya. Dengan demikian akhirnya Wulungan mengambil keputusan untuk melawan Galunggung dengan segenap kemampuan yang ada padanya.
Ia harus menyelamatkan dirinya, meskipun seandainya ia terpaksa membunuh lawannya. Maka, kemudian adalah perkelahian yang seru. Galunggung menyerang seperti angin ribut, sedang Wulungan bertahan dan menyerang kembali seperti Srigala yang marah.
Widuri yang melihat pertempuran itu kini tidak tertawa-tawa lagi. Ia melihat bahaya yang mengancam keduanya. Justru karena ilmu yang mereka miliki berada pada tingkatan yang sama, maka mereka berdua mempunyai kesempatan yang sama. Membunuh atau di bunuh. Dalam kebimbangan itu Widuri menyaksikan perkelahian itu berlangsung. Apakah ia harus mencegah perkelahian itu, membantu Wulungan atau membiarkannya. Dalam kebimbangan itu Widuri menyaksikan perkelahian itu berlangsung terus. Desak-mendesak silih berganti. Keduanya mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing, sebab mereka masing-masing tidak mau dadanya ditembus oleh pedang lawan. Dalam keadaan itu, Wulungan sudah tidak teringat lagi, apakah Galunggung itu akan ditangkapnya hidup atau mati. Yang ada dikepalanya adalah pilihan hidup atau mati. Gemercing pedang beradu telah mengejutkan daun-daun dan bunga-bunga luar disekitarnya. Burung-burung dan belalang beterbangan menjauhi bunyi yang mengerikan itu yang sesekali diselingi oleh teriakan Galunggung memaki.
Dalam keadaan yang demikian, Widuri menjadi semakin berbimbang hati. Tetapi lambat laun dilihatnya bahwa keseimbangan itu meskipun perlahan-lahan sekali. Wulungan ternyata memiliki suatu keuntungan, bahwa Galunggung tidak menggunakan otaknya dengan baik. Dalam nafsu gilanya, Galunggung telah kehilangan sebagian pengamatan diri, sehingga ia bertempur tanpa mempergunakan otaknya dengan baik. Sedang Wulungan, meskipun kemarahan telah memuncak dan membakar dadanya, namun dalam olah pedang ia masih dapat melihat segala kemungkinan dengan baik. Widuri yang melihat perkelahian itu menarik nafas lega. Ia benar-benar gadis aneh, namun kadang berbuat seperti orang dewasa. Memang umurnya sedang menginjak masa peralihan. Sebelah kakinya memasuki masa kedewasaan, sebelah kakinya masih berada didunia anak-anak. Dalam masa pancaroba itu Widuri sering berbuat yang aneh-aneh. Sekali nafsunya untuk berkelahi melonjak lonjak didalam dadanya, tetapi ia kadang menunjukkan sifat keibuan yang sejuk. Pada saat itu Widuri dapat melihat keadaan dengan baik.
Ketika ia melihat kelebihan Wulungan, maka dibiarkannya pertempuran berlangsung. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka tanpa campur tangan orang lain. Dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora pasti akan menerima keadaan yang terjadi dengan tanpa campur tangan orang lain. Tanpa perasaan sesal dan kecewa. Tanpa menyalahkan siapapun di luar lingkungan kekuasaannya. Tetapi tiba-tiba terjadilah hal diluar dugaannya. selagi Widuri menonton dengan enaknya, dilihatnya Galunggung dengan tiba-tiba mencakup segenggam pasir. Sebelum Wulungan sempat berbuat, ditebarkannya pasir ke matanya.
Wulungan terkejut, dengan gerak naluriah ia memejamkan matanya, namun beberapa butir pasir telah menyakitkan matanya, sehingga karenanya gerakannyapun terpengaruh pula. Pada saat yang demikian itu terdengar Galunggung tertawa nyaring. Berbareng dengan suara itu terdengar Wulungan mengumpat, "Gila kau Galunggung."
Dan Wulungan mencoba membuka matanya, namun mata itu telah menjadi kabur. Ia tidak dapat melihat lawannya dengan jelas selain bayangannya yang hitam seperti bayangan hantu. Yang dilakukan oleh Wulungan hanyalah meloncat mundur sejauh-jauhnya untuk mendapatkan waktu membersihkan matanya itu, namun Galunggung pun meloncat menyusulnya.
Widuri melihat kecurangan itu. Perasaan muaknya tiba-tiba bangkit kembali. Dengan serta merta ia melompat turun, dan berkatalah gadis itu dengan nada nyaring, "He Galunggung, kau telah berbuat curang."
Galunggung tidak mau mendengarkan kata-kata itu. Lawannya telah hampir lumpuh. Alangkah mudahnya untuk membunuhnya pada saat yang demikian itu. Pada saat berbahaya itu Wulungan mendengar suara Widuri. Ia masih sempat memikirkan nasib gadis yang kehadirannya adalah sebagai seorang tamu Pamingit. Karena itulah ia berteriak, "pergilah ngger, pergilah."
Pedang Galunggung sudah terjulur kearah perut......
Betapapun sakit mata Wulungan, namun ia mencoba untuk melihat gerak Galunggung. Namun sekali lagi ia hanya melihat bayangan hantu hitam menerkamnya. Dalam keadaan putus asa, Wulungan menggerakkan pedangnya seperti baling-baling. Ia mencoba untuk melindungi dirinya. Namun ia sadar bahwa usahanya itu adalah usaha yang sia-sia. Tetapi ternyata bayangan yang hitam tidak segera menyentuh tubuhnya dengan ujung pedangnya. Bahkan kemudian ia mendengar Galunggung memaki-maki habis-habisan.
Wulungan segera mengusap matanya, dan membersihkannya dengan ujung kainnya. Ketika ia membuka matanya, meskipun masih agak kabur, ia melihat Galunggung bertempur. Hampir ia tidak percaya pada matanya yang kabur itu. Galunggung bertempur dengan gadis yang duduk berjuntai di atas pagar batu tadi. Dengan mulut ternganga ia melihat perkelahian itu. Benar-benar mengagumkan. Gadis kecil itu bertempur dengan rantai putih berkilat-kilat di tangannya. Dan yang tak dapat dimengerti, pertempuran itu seperti perkelahian antara kucing dan tikus.
Galunggung benar-benar mirip seekor tikus raksasa yang sama sekali tak berdaya menghadapi kucing kecil itu.
KETIKA mata Wulungan itu telah sembuh kembali, dan kembali ia dapat melihat setiap garis di wajah Galunggung, maka timbullah rasa malunya. Malu kepada gadis itu. Karena itu, kemudian ia pun berkata, "Angger yang perkasa. Lepaskanlah tikus itu. Biarlah aku yang menangkapnya."
"Kau sudah baik, Paman?", tanya Widuri.
"Mudah-mudahan aku dapat melawannya," sahut Wulungan. Suaranya datar dan rata, namun di dalamnya mengandung tekanan kemarahan yang meluap-luap. Marah kepada Galunggung atas segala perbuatan gilanya dan kelicikannya.
Widuri kemudian melepaskan lawannya. Kembali ia menonton sebuah perkelahian yang sengit. Galunggung masih saja berteriak-teriak memaki-maki, namun akhirnya semakin terasa, bahwa Wulungan akan menguasai keadaan. Dalam kesulitan, orang gila itu mencoba untuk berbuat sekali lagi. Menutup mata lawannya dengan pasir. Tetapi Wulungan bukan orang gila, yang dapat berbuat kesalahan serupa untuk kedua kalinya. Karena itu, ketika ia melihat Galunggung membukuk, dan dengan tangan kirinya mencakup segenggam pasir, Wulungan meloncat dengan cepatnya. Secepat kilat. Gerakan yang belum pernah dilakukan selama hidupnya. Tetapi didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, maka ia telah melakukan suatu perbuatan yang seakan-akan berada di luar kemampuannya.
Terdengarlah kemudian suatu pekik ngeri. Darah yang merah memancar dari lambung Galunggung. Kemudian tubuh itu terdorong surut beberapa langkah. Ketika Wulungan mencabut pedangnya, ia melihat Galunggung itu masih tegak berdiri dengan pedang ditangannya. Matanya yang merah menjadi bertambah liar. Kemudian dari mulutnya yang berbusa terdengarlah ia menggeram, "Wulungan, kau tinggal memilih, Lembu Sora atau Galunggung."
Galunggung yang luka parah itu mencoba maju setapak. Tetapi keseimbangan sudah hilang, dan jatuhlah ia terguling di tanah. Meskipun demikian, matanya yang liar masih saja memandangi Wulungan dengan kemarahan yang meluap-luap. Tetapi tiba-tiba ia menyeringai kesakitan. Kemudian terdengarlah ia berteriak, "He Wulungan, kau berani menyakiti aku?"
Wulungan tegak seperti patung. Ia melihat mulut Galunggung yang berbusa-busa itu masih memaki-maki, dan kemudian Galunggung itu menggeliat menahan sakit. Widuri bukan seorang gadis berhati kecil. Tetapi ia belum pernah menyaksikan peristiwa semacam itu. Ia belum pernah melihat seorang berjuang melawan maut dengan cara demikian. Karena itu, ia menutup kedua matanya dengan tangan-tangannya yang kecil sambil berkata nyaring, "Kasihan orang itu, Paman." Galunggung masih mencoba berdiri, tetapi ia tidak mampu lagi berbuat demikian. Kemudian nafasnya menjadi semakin cepat mengalir.
Meskipun demikian masih terdengar ia berkata, "Hai, Wulungan. Berjongkoklah. Aku adalah kepala daerah perdikanmu." Wulungan akhirnya menjadi beriba hati. Bagaimana pun juga ia pernah mengalami suka duka bersama-sama bertahun-tahun. Menyerahkan diri masing-masing dalam lingkungan yang sama. Berbuat bersama-sama untuk perbuatan yang terkutuk. Untunglah Wulungan sempat menyadari kesalahan-kesalahannya, sedang Galunggung telah benar-benar terbenam dalam cita-cita gilanya.
Karena itu, kemudian Wulungan melangkah maju dan berjongkok di samping kawannya yang gila itu. Dengan suara yang berat ia berkata, "Maafkan aku, Adi Galunggung." Mata Galunggung yang marah itu terbelalak, sambil memaki, "Setan, panggil aku Ki Ageng."
"Maafkan aku Ki Ageng," sahut Wulungan. Wajah Galunggung yang tegang itu menjadi mengendor. Kemudian tampak ia tersenyum. Tersenyum gila. Wulungan adalah orang pertama sesudah Ki Ageng Lembu Sora. Sekarang ia telah memihaknya. Karena itu pekerjaannya untuk merebut tanah perdikan Pamingit menjadi semakin mudah. Katanya, "Bagus, kau memihak aku?"
Dengan wajah kosong, Wulungan mengangguk, "Ya, Ki Ageng." Sekali lagi Galunggung tersenyum. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang kembali. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata lemah dan gemetar, "Akhirnya tercapai juga cita-citaku." Oleh kata-katanya sendiri Galunggung menjadi tenang. Matanya tidak seliar semula. Tetapi nafasnya telah satu-satu meluncur dari hidung, sedang darahnya telah membasahi tanah kelahirannya. Akhirnya Galunggung menutup matanya sambil tersenyum bangga. Kata-kata yang terakhir keluar dari mulutnya, "Panggil aku Ki Ageng. Ki Ageng Galunggung."
Dan kata-kata itu hampir tak sampai pada akhirnya. Dan Galunggung mati dengan penuh kebanggan dalam kegilaan.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya