Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 139

Sesaat kemudian makam itu telah sunyi kembali. Seonggok tanah dan sepasang maejan baru berada di tengah-tengahnya. Di atasnya bergerak-gerak dalam belaian angin pegunungan, daun-daun dan bunga-bunga kamboja yang putih bersih. Sepi, sesepi hati Lembu Sora. Hanya kadang-kadang terdengar ciap burung pipit yang beterbangan mencari makanan buat anak-anaknya yang ditinggalkan di atas sarang. Di perjalanan pulang itulah mereka melihat tiga orang berjalan bergegas-gegas ke arah mereka. Ki Ageng Sora Dipayana yang berjalan di paling depan bersama-sama dengan Paningron dan Gajah Alit segera bertanya kepada mereka.

"Apa yang terjadi?".

Orang itu pun berceramah tentang Galunggung. Mereka menyangka bahwa Galunggung telah pergi ke makam dan mengamuk di sana. Tetapi ternyata Galunggung tidak ada diantara mereka, karena itu mereka menjadi sangat cemas karenanya. Galunggung adalah gambaran diri seorang yang mabuk pada kekuasaan, pangkat dan penghargaan. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya. Dan sekarang orang itu agaknya kehilangan keseimbangan pikirannya. Sebab dengan hilangnya Sawung Sariti, segala cita-citanya ikut lenyap pula.

"Wulungan....", Ki Ageng Lembu Sora memanggil. Wulungan pun segera berjalan di sampingnya. "Lihatlah, apa yang dilakukan oleh anak gila itu," desisnya.

"Baik Ki Ageng," jawab Wulungan. Dan Wulungan pun segera berjalan mendahului orang-orang yang pulang dari makam itu.

Ketika Galunggung meninggalkan regol halaman, ia memang tidak bermaksud pergi ke makam. Otaknya yang dipengaruhi oleh bermacam-macam persoalan itu ternyata tidak dapat lagi bekerja dengan baik. Dengan pedang telanjang ia berlari-lari ke banjar desa.

Di dalam banjar desa itu, beberapa orang perempuan sedang mencoba menenangkan hati Nyai Ageng Lembu Sora yang beberapa kali jatuh pingsang kembali. Sekali-kali ia menangis melolong-lolong, seperti anak-anak yang kehilangan golek kesayangannya. Namun semakin lama ia menjadi semakin tenang.

Tetapi sesaat kemudian, mereka digaduhkan oleh kedatangan Galunggung. Pedangnya yang telanjang itu diayun-ayunkan sambil berteriak memaki-maki. Dan karena itu bubarlah perempuan-perempuan desa itu bercerai berai. Perempuan-perempuan itu berteriak-teriak dan berlari-larian. Mereka pada umumnya telah mengenal siapakah Galunggung itu. Seorang yang menakutkan bagi perempuan-perempuan, apalagi perempuan-perempuan muda. Sekarang orang yang menakutkan itu membawa pedang sambil berteriak memaki-maki.

Nyai Ageng Lembu Sora terkejut juga melihat kedatangan Galunggung. Sesaat ia lupa pada keadaan dirinya sendiri. Ketika sebagian dari perempuan-perempuan itu telah berlarian keluar, maka Galunggung pun masuklah ke banjar desa sambil berkata, "He, di mana Arya Salaka?".

"Galunggung!", panggil Nyai Ageng Lembu Sora.

"Aku mencari Arya Salaka", jawab Galunggung.

"Kenapa dengan Arya Salaka?", tanya Nyai Ageng.

"Pengkhianat. Dibunuhnya Sawung Sariti bersama-sama dengan Bugel Kaliki," jawab Galunggung.

Nyai Ageng Lembu Sora mengerutkan keningnya. Katanya, "Kau keliru Galunggung. Mereka berdua telah berjuang bersama-sama melawan Bugel Kaliki itu."

"Omong kosong!", bentak Galunggung.

"Galunggung!", potong Nyai Ageng Lembu Sora, "Kau kenal aku bukan?"

"Ya, ya. Nyai Ageng Lembu Sora," jawab Galunggung.

"Nah, kalau demikian dengar kata-kataku," sahut Nyai Ageng Lembu Sora, "Kau terlalu letih barangkali. Beristirahatlah."

"Tidak!" jawab Galunggung, matanya semakin bertambah liar.

"Aku harus membunuh Arya Salaka."

"Jangan sembunyikan monyet itu," bentaknya.

"Jangan membentak-bentak aku Galunggung," jawab Nyai Ageng Lembu Sora, "Aku adalah ibu Sawung Sariti itu, dan aku adalah Nyai Ageng Lembu Sora, istri kepala daerah perdikanmu."

SEJENAK Galunggung terdiam. Ia berhadapan dengan istri kepala daerah perdikannya. Tetapi sesaat kemudian otaknya yang sudah tidak wajar lagi itu menyentak-nyentak kembali. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar seperti suara hantu yang kegirangan.

"Diam!" bentak Nyai Ageng Lembu Sora. Tetapi Galunggung tidak mau diam. Tertawanya bertambah keras.

"Nah, katanya kau juga sudah berkhianat seperti Arya Salaka. Kalau demikian, akulah tinggal satu-satunya orang yang setia. Setia kepada Sawung Sariti dan setia kepada cita-citanya. Mempersatukan tanah perdikan Banyubiru dan Pamingit. Ki Ageng Lembu Sora sendiri pun sudah tidak setia lagi. Kalau begitu semua harus aku lenyapkan. Arya Salaka, Lembu Sora dan monyet bangkok yang sudah dibebaskan dari Demak itu."

"Galunggung!" teriak Nyai Ageng Lembu Sora, "Kau sudah gila!"

Tetapi Galunggung tertawa terus. Di antara derai tertawanya ia berkata, "Kalian, perempuan-perempuan ini pun akan aku bunuh pula, sebab kalian tidak mau menunjukkan di mana Arya Salaka berada." "Jangan mengigau," potong Nyai Ageng Lembu Sora, tetapi hatinya pun menjadi bergetar. Juga Nyai Ageng Gajah Sora, menjadi gemetar. Galunggung agaknya telah benar-benar kehilangan pikiran wajarnya. Dan ketika pedangnya itu diayun-ayunkan, bergetarlah setiap dada orang yang melihatnya. Beberapa orang menjadi menggigil dan yang lain menjadi lemas tak berdaya.

"Kalian tak akan dapat lari. Kalau kalian mencoba meloncat keluar, aku akan dapat mengejar kalian. Dan kalian akan aku bunuh satu persatu. Satu demi satu!"

Kembali suara tertawanya membelah ruangan banjar desa yang tidak terlalu lebar itu.

"Galunggung..." kata Nyai Ageng Lembu Sora. Namun suaranya sudah agak gemetar, "Kau telah mengkhianati Ki Ageng Lembu Sora. Kepala daerah perdikanmu."

"Akan aku bunuh dia. Sebab orang itu tidak setia kepada cita-citanya. Kenapa tidak dibunuhnya Arya Salaka. Dan kenapa dibiarkannya Gajah Sora itu kembali? Pengkhianat!" teriaknya.

Nyai Ageng Lembu Sora tak dapat berbuat apa-apa lagi. Galunggung telah menjadi gila dan tidak dapat mendengarkan kata-katanya. Karena itu, ia pun menjadi semakin ngeri. Apalagi ketika kemudian setapak demi setapak sambil tertawa berkepanjangan, Galunggung melangkah maju. "Tak ada gunanya kalian lari."

Tetapi perempuan-perempuan itu memekik-mekik dan mereka menghambur keluar dari ruangan itu. Beberapa orang yang masih sadar mencoba menarik tangan Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora sambil berbisik, "Selamatkan diri Nyai Ageng berdua."

"O!" teriak Galunggung. "Kemana kalian akan menyelamatkan diri?"

Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora benar-benar tak melihat jalan untuk menyelamatkan diri. Agaknya mereka berdualah yang pertama-tama harus dibinasakan. Karena itu mereka pun menjadi ketakutan dan gemetar sehingga keduanya menjadi saling berpegangan dengan eratnya.

Namun di antara perempuan-perempuan itu, tidaklah semua menjadi ketakutan dan kehilangan akal. Tidak semua berlari-lari sambil berteriak-teriak. Ketika Galunggung benar-benar tak dapat mendengarkan kata-kata Nyai Ageng Lembu Sora, dan ketika ia melangkah maju setapak demi setapak, maka tanpa berjanji tampillah dua orang gadis, berdiri tegak dengan tenangnya di hadapan dan membelakangi Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Gajah Sora itu.

Keduanya adalah Rara Wilis dan Endang Widuri. Maka terdengarlah bisik Rara Wilis perlahan, "Tenangkan hati Nyai. Akan aku coba mencegah perbuatan orang itu."

Nyai Ageng Lembu Sora dan Nyai Ageng Gajah Sora terkejut, bahkan Galunggung yang gila itu pun terkejut melihat ketenangan dua orang gadis itu. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora masih belum mengenal terlalu banyak, siapakah mereka itu. Yang mereka ketahui hanyalah nama kedua gadis itu, dan bahwa kedua gadis itu bukanlah gadis Pamingit dan bukan pula gadis Banyubiru.

"Nini..." panggil Nyai Gajah Sora, "Kemarilah."

Tetapi Rara Wilis dan Endang Widuri tidak bergerak lagi dari tempatnya. Bahkan menoleh pun tidak. Pandangan mereka tertuju ke mata pedang Galunggung yang berkilat-kilat tajam. Meskipun demikian Rara Wilis menjawab, "Biarlah aku coba, Nyai."

"Jangan Nini," Nyai Ageng Lembu Sora pun mencoba mencegahnya. Ia tahu benar betapa berbahayanya Galunggung bagi perempuan. Apalagi gadis-gadis cantik itu.

SEJENAK Galungung memandangi keduanya. Mula-mula matanya menjadi bersinar-sinar. Sambil tertawa dalam gilanya, ”Hai gadis-gadis cantik, jangan berdiri di situ. Biarlah aku selesaikan urusanku. Nanti kau boleh ngunggah-unggahi. Kau akan menjadi istri kepala daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru. Kau dan aku.”

Ujung pedangnya bergerak-gerak menunjuk ke wajah Rara Wilis dan Endang Widuri. Namun kedua gadis itu tidak beranjak dari tempatnya.

”Nini,” panggil Nyai Ageng Lembu Sora cemas, ”Menyingkirlah.”

Wilis menarik nafas. Ia sudah beberapa kali menghadapi lawan. Bahkan ia pernah behadapan dengan orang yang sedang terganggu syarafnya. Gila. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menenangkan hati Galunggung,katanya, ”Galunggung, kalau ada persoalan biarlah persoalan itu diselesaikan. Persoalan antara kau dan Arya Salaka atau antara kau dan Paman Lembu Sora. Tetapi kami perempuan-perempuan di sini, tidaklah tahu persoalan itu. Dan kalau kau bunuh kami pun persoalanmu tidak akan selesai.”

Sekali lagi Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menjadi keheran-heranan. Kata-kata Rara Wilis diucapkan las-lasan, kata demi kata. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kecemasan apalagi ketakutan.

Galunggung mengerutkan keningnya. Matanya tiba-tiba menjadi suram. Meskipun otaknya tak wajar lagi, namun lamat-lamat ia menjadi teringat bahwa ia pernah melihat gadis-gadis itu. Satu atau dua kali tetapi dimana dan kapan. Akhirnya wajahnya menjadi tegang ketika kemudian teringat olehnya, dimana ia bertemu dengan kedua gadis itu. Sehingga terlontarlah dari mulutnya, ”He bukankah kau gadis-gadis gila dari Gedangan?”

”Kau masih mengenal kami?” jawab Widuri.

”Bukankah kau pernah mengunjungi kami di Gedangan? Bersama Harimau betina dari Gunung Tidar dan kemudian Sepasang Uling dari Rawa Pening?”

”Gila!” teriak Galunggung. Matanya menjadi liar kembali. Kedua gadis itu ternyata pernah menghadapi laskarnya sebagai lawan yang tangguh. Bahkan bukankah mereka pernah bertempur melawan Jaka Soka dan istri Sima Rodra? Tetapi otak Galunggung itu benar-benar telah tidak dapat berputar. Pikirannya hanyalah sesaat terpencar di kepalanya. Kemudian kembali gilanya mempengaruhinya. Karena itu maka sekali lagi ia tertawa, ”Bagus, bagus. Kalian akan menjadi istri yang baik. Menepilah, jangan biarkah perempuan itu melarikan diri.”

”Jangan maju lagi,” potong Rara Wilis. Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora sekali lagi terkejut. Mereka tidak percaya apa yang dikatakan oleh Rara Wilis. Tetapi sekali lagi mereka mendengar gadis itu memerintah, ”Galunggung, tetap di tempatmu.”

Galunggung yang hampir saja melangkah maju, terhenti juga. Dipandangnya Rara Wilis dengan tajamnya. Matanya telah memerah, semerah darah. Kemudian ia berteriak nyaring, ”Pergilah atau kau akan lebih dahulu mati?”

Nyai Ageng berdua di belakang kedua gadis itu benar-benar menjadi cemas, mereka tidak mau mengorbankan orang lain untuk keselamatan mereka. Karena itu Nyai Ageng Gajah Sora berkata, ”Biarlah kami selesaikan urusan kami nini. Menyingkirlah.”

”Tenangkan hati Nyai Ageng berdua,” sahut Wilis, dan kedua perempuan yang ketakutan itu menjadi semakin tidak mengerti. Dalam pada itu Rara Wilis dan Widuri sudah tidak melihat kesempatan lain, kecuali mengusir orang gila itu dengan kekerasan. Karena itu tiba-tiba Widuri berbisik, ”Serahkanlah kepadaku,Bibi.”

Rara Wilis meredupkan matanya. Ia menjadi ragu-ragu. Gadis kecil ini masih terlalu sukar untuk mengendalikan dirinya. Kalau kemudian Galunggung itu terbunuh oleh Widuri, masih belum diketahui apakah Ki Ageng Lembu Sora membenarkannya. Karena itu maka ia menjawab, ”Aku sajalah yang menyelesaikannya, Widuri.”

"Ia bersenjata," jawab Widuri, "sedangkan bibi tidak. Apalagi bibi tidak siap dengan pakaian wajar untuk bertempur."

"Kau juga tidak Widuri," sahut Wilis.

Ketika Galunggung kemudian tertawa kembali sambil melangkah maju. Wilis berkata, "Berikan kalungmu itu kepadaku. Aku pernah menggunakan segala macam senjata, selain kekhususan dalam bermain pedang. Rantaimu itu akan lebih baik daripada sulur-sulur kayu yang pernah aku pakai berlatih dengan eyang Pandan Alas."

Widuri ragu-ragu sejenak. namun Wilis berkata tegas, "serahkanlah. Orang gila itu sudah hampir mulai." Widuri tidak dapat berbuat lain daripada melepaskan kalung peraknya. Kemudian ia melangkah surut berdiri disamping Nyai Ageng Gajah Sora yang menjadi bertambah cemas. "Pergilah, pergilah," teriaknya.

"Biarlah nyai," sahut Widuri, "bibi Wilis akan dapat menjaga diri."

Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora tak dapat berbuat apa-apa lagi. Galunggung sudah berdiri selangkah dimuka Wilis. Pada saat itu, Rara Wilisterpaksa menyangkut ujung kain panjangnya pada sabuknya. Pada saat itulah pedang Galunggung teracung didadanya. Sambil tertawa ia berkata, "sayang dada ini akan tembus oleh senjataku."

Rara Wilis mengerutkan keningnya, mata orang itu benar-benar mengerikan. Namun Rara Wilis adalah gadis yang tabah. Karena itu ia bergeser dari tempatnya. Bahkan ia telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Ia tidak memegang rantai Widuri di pangkalnya dan menggunakan Cakra yang tersangkut dirantai itu untuk melawan Galunggung. Tetapi Rara Wilis memegang pada ujungnya dimana cakra itu tersangkut. Bahkan Cakra itu dilepaskannya, dan diserahkan kepada Widuri. Widuri melihat bagaimana Rara Wilis mempergunakan senjatanya. Karena itu ia segera memakluminya, bahwa Rara Wilis agaknya hanya ingin mengusir Galunggung dari banjar desa.

Ketika sekali lagi suara Galunggung menggelegar, Rara Wilis membentaknya dengan nada yang tinggi, "Diam, dan tinggalkan tempat ini!."

Tiba-tiba tawa Galunggung berhenti. Ia memandang Rara Wilis dengan mata merah, katanya, "Apa maumu?."

"Tinggalkan tempat ini," ulang Rara Wilis.

Galunggung memandang semakin tajam. Gadis ini memang cantik. tapi baginya lebih baik menjadi Kepala Perdikan yang kaya raya daripada menuruti perintah itu. Jarak jangkau pada kedudukan kepala daerah perdikan disangkanya terlampau pendek. Bukankah tinggal membunuh Arya Salaka, Gajah Sora dan Lembu Sora saja. Mudah sekali, mudah sekali. Karena itu ia menggeram, "jangan gila. Jangan menghalangi aku!"

"Kau yang gila," bantah Rara Wilis. Galunggung menjadi benar-benar marah. Dan tiba-tiba ia menakut-nakuti Wilis dengan pedangnya. Pedang yang telanjang itu diacung-acungkannya dengan gerakan menghentak-hentak.

Berdesirlah dada Nyai Ageng GajahSora dan Nyai Ageng Lembu Sora. Namun Rara Wilis bergeserpun tidak.

"Jangan berlaku seperti Buta Terong," teriak Widuri yang tidak dapat menahan gelinya melihat solah Galunggung. Mendengar kata-kata itu Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menjadi heran. Galunggung yang marah dalam kegilaannya itu dianggap sebagai suatu pertunjukan yang mengasyikkan oleh gadis ini.

Meskipun Galunggung telah hampir gila, namun kata-kata Widuri itu telah memanaskan kupingnya. Karena itu ia berteriak,"tutup mulutmu atau aku akan menyobeknya."

Widuri benar-benar nakal. Ia malahan tertawa kecil. Dan karena Galunggung tak dapat menahan diri lagi. Langsung ia meloncat dengan pedang terulur, tidak menyerang Rara Wilis tetapi menyerang Endang Widuri.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya