Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 137

KAREBET pun kemudian mengambil jalan lain untuk langsung pergi ke Banyubiru. Daerah yang tidak terlalu dekat. Namun berjalan kaki bagi Karebet adalah pekerjaannya sehari-hari.

Kebo Kanigara berhenti sejenak melihat langkah kemenakannya itu. Karebet benar-benar memiliki tubuh idaman bagi setiap laki-laki. Apalagi bagi mereka yang mesu raga, olah keprawiraan. Badannya tegap, berdada bidang. Tangan-tangan serta kaki-kakinya kokoh kuat seperti baja.

Sedang geraknya lincah cekatan seperti burung sikatan. Dan Karebet mempunyai modal yang cukup lengkap. Selain tubuhnya yang serasi, ia pun memiliki wajah yang tampan. Tetapi wajahnya yang tampan itulah yang menyebabkan ia diusir dari Demak.

Kebo Kanigara tidak yakin bahwa kemenakannya itu benar-benar membunuh orang Demak. Cara Paningron menceriterakannya telah menimbulkan kecurigaan. Senyum-senyum yang aneh. Dan ia telah memaklumi maksudnya.

Pada saat itu bintang-bintang di langit telah bergeser jauh dari tempat semula. Lamat-lamat terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Dalam keheningan malam itu terdengar Sawung Sariti berbisik, ”Kenapa Kakang Karebet paman perintahkan ke Banyubiru? Aku ingin berkenalan dengan pemuda yang perkasa itu.”

Kebo Kanigara kini telah berjalan lagi. Langkahnya tegap dan agak cepat. Perlahan-lahan terdengar ia menjawab ”Barangkali lebih baik demikian, Sawung Sariti. Sedang kau, pada masa-masa yang akan datang akan dapat mengenalnya lebih dekat.”

Sawung Sariti menarik nafas dalam-dalam. Terasa seolah-olah beribu-ribu jarum menusuk-nusuk dadanya dari dalam. Dengan lirih ia berdesis, ”Mudah-mudahan aku mempunyai waktu.”

”Jangan berangan-angan demikian.” Kebo Kanigara menasihati, ”Berdoalah supaya lukamu sembuh kembali.”

Namun sebenarnya Kebo Kanigara pun dihinggapi perasaan cemas melihat anak muda dalam dukungan tangannya itu. Karena itu ia berjalan semakin cepat, supaya segera sampai ke Pamingit.

Dalam pada itu Arya Salaka dan Mahesa Jenar berjalan ke arah yang berlawanan. Sekali-kali Arya memandang ke langit yang bersih. Perlahan-lahan ia berkata, ”Hujan sudah jauh berkurang, Paman.”

”Sudah kita lampaui mangsa kesanga,” sahut pamannya. ”Mudah-mudahan hari-hari yang akan datang tidak selalu diliputi oleh awan yang kelam.

”Hari-hari yang cerah,” desis Arya Salaka kemudian untuk sesaat mereka berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar Arya berkata, ”Paman, ternyata Bugel Kaliki tidak sekuat yang aku sangka. Bukankah ia termasuk tokoh yang sejajar dengan Sima Rodra dan sebagainya?”

”Tentu,” jawab Mahesa Jenar. ”Tetapi pengaruh keadaan telah menyebabkan ia kehilangan pengamatan. Ia benar-benar telah putus asa. Hilangnya beberapa orang sahabatnya menjadikan Bugel Kaliki berhati kecil. Apalagi kali ini ia melihat kehadiranku dan Kakang Kebo Kanigara bersama-sama.

Sedang sebelum itu pun ia sudah harus bekerja berat. Bukankah kau dan Karebet telah melawannya dengan gigih? Karebet benar-benar anak luar biasa. Apalagi dengan Sangkelat di tangannya. Yang lebih mempercepat kekalahannya adalah bongkah di punggungnya.

Sejak semula aku melihat, betapa ia melindungi punggungnya itu, sehingga aku berpikir bahwa orang itu pasti memiliki kelemahan di punggungnya itu. Demikianlah ketika tanganku mengenai tengkuknya, ternyata Bugel Kaliki tak mampu melawannya. Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia yakin, bahwa apabila ia bertempur, tidak saja ia harus mempergunakan tenaganya, tetapi juga otaknya, sehingga dapat diketahuinya, kekuatan dan kelemahan lawan.

Kembali mereka berdiam diri. Ujung malam itu ditandai oleh suara kokok ayam jantan dari desa di hadapan mereka, Surapadan.

Tiba-tiba Arya Salaka menjadi berdebar-debar. Kakinya serasa gemetar, dan ingin meloncat berlari mencari pondok yang dikatakan oleh Titis Anganten. Tiga halaman dari gardu di mulut jalan desa. Tetapi ia menahan dirinya, sebab gurunya berjalan di sampingnya.

Dalam keriuhan suara ayam jantan itu, terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Ibumu dan bibimu berada di desa itu Arya?”

”Ya paman,” jawab Arya.

”Adakah kau tadi pergi bersama Sawung Sariti?” bertanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya menjadi ragu-ragu. Namun ia menjawab pula, ”Ya paman”.

”Apakah yang terjadi?” berkata Mahesa Jenar pula.

”Kami bertemu dengan Bugel Kaliki. Untunglah kakang Karebet tiba-tiba saja berada di tempat itu pula,” jawab Arya bimbang.

”Sebelum itu apakah yang terjadi?” desak Mahesa Jenar.

Kembali Arya menjadi ragu-ragu. Ia tidak segera menjawab. Apakah pamannya tahu bahwa ia lebih dahulu bertempur melawan Sawung Sariti? Dalam kebimbangan itu terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Arya aku tidak yakin luka di dadamu itu karena tangan Bugel Kaliki sebab ia tidak bersenjata tajam, bahkan kalau kau tersentuh tangannya maka akibatnya akan sama seperti yang diderita oleh Sawung Sariti. Karena itu aku ingin tahu, siapakah yang melukaimu?."

Mulut Arya menjadi berat seberat perasaannya untuk menyebut nama adiknya. Ia mencoba untuk berusaha melindunginya, namun pertanyaan gurunya itu benar-benar mendesaknya. Karena itu, betapapun beratnya ia terpaksa berkata, "Sawung Sariti, paman."

"Aku sudah menduga," desis Mahesa Jenar. "Dan kaupun telah melukai pundaknya."

"Ya, paman," Arya tidak dapat mengelak lagi.

"Lukamu tidak berbahaya, tetapi apakah kau melukai Sawung Sariti dengan Kiyai Suluh?."

"Tidak paman, aku melukainya dengan pedang yang diberikan oleh Karang Tunggal."

"Karang Tunggal sudah ada pada waktu itu?," tanya Mahesa Jenar.

"Sudah paman," Sahut Arya, kemudian diceritakannya apa yang diketahuinya. Sejak ia pergi bersama Sawung Sariti sehingga melihat Karebet bertempur melawan Sawung Sariti dibawah pohon nyamplung Dari Karebet ia mendengar, bahwa agaknya Sawung Sariti telah menunggunya disitu.

Mahesa Jenar mengangguk-angguk namun yang meloncat dari mulutnya adalah, "itulah gandu dimulut lorong."

Kembali dada Arya berdebar cepat sekali. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke tempat ibunya menyembunyikan diri. Namun ia masih mendengar gurunya bergumam, "untunglah kau tidak menyentuh adikmu dengan Kiyai Suluh. Sebab dengan demikian setiap orang, juga pamanmu Lembu Sora, eyangmu Sora Dipayana akan melihat kesaktian pusaka itu. Dan kaulah pembunuh yang sebenarnya dari adik sepupunya."

Arya menundukkan wajahnya.

"Ya untunglah yang demikian tidak terjadi."

Sesaat kemudian Arya berhenti disamping gardu dimulut lorong desa Sarapadan itu. Dan terdengarlah ia bergumam. "Kita membelok kekiri paman, tiga halaman dari gardu ini."

Mahesa Jenar tidak menjawab. Ia mengikuti saja Arya yang melangkah perlahan menyusuri lorong itu sambil menghitung halaman di kanan jalan. Namun halaman di desa kecil itu ternyata cukup luas.

Ketika Arya Salaka dan Mahesa Jenar telah melampaui halaman yang ketiga, didadanya serasa telah menggetarkan seluruh tubuhnya. Sesaat ia menjadi ragu-ragu.

Halaman ketiga ini dipagari oleh dinding batu yang sebagian telah rusak. Regolnya runtuh dan rumah yang berdiri dihalaman itupun sudah tidak tegak lagi. Sebuah gubuk bambu beratap ilalang.

"Disinikah ibu beserta bibi itu?," desis Arya Salaka ragu ragu.

"Ya," sahut Mahesa Jenar pasti.

"Tetapi....," kata-kata Arya tertutup.

"Eyangmu Titis Anganten telah mencoba mempergunakan perhitungan sebaik-baiknya. Kau pasti menduga bahwa Ibu dan Bibimu berada dirumah yang paling baik di desa ini?."

Arya mengangguk.

"Orang lainpun akan menduga demikian. Karena itulah maka ibu dan bibimu berhasil bersembunyi." sahut Mahesa Jenar.

"Oh", Arya menarik napas. ia menyadari kebodohannya.

Kemudian dengan dada berdebar-debar ia melangkahi bongkah kayu yang berserak serak disamping regol halaman itu.

Ia terhenti ketika ia sudah dimuka pintu. "Ketuklah," desis Mahesa Jenar. Perlahan lahan Arya mengetuk pintu rumah itu. Dan dari dalam rumah itu terdengar sapa perlahan, suara laki-laki tua.

"Siapa?."

"Aku kakek," sahut Arya Salaka.

"Aku siapa?," orang itu menegaskan.

Arya telah menerima pesan dari Titis Anganten bagaimana ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya, supaya orang dirumah itu percaya bahwa kedatangannya sudah persetujuan Titis Anganten.

Orang yang menitipkan dua orang pengungsi kepadanya.

"Aku kek, burung elang dari lereng bukit," sahut Arya.

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar menggamit tangannya tetapi ketika Arya Salaka menganggukkan kepalanya, tahulah Mahesa Jenar maksud jawaban itu.

Kemudian terdengarlah langkah perlahan menuju ke pintu. Dan sesaat kemudian terdengarlah derak pintu lereg itu terbuka. Seorang lelaki tua berdiri terbongkok bongkok dimuka pintu sambil berusaha mengamati tamunya.

"Masuklah," orang tua itu mempersilahkan.

"Terimakasih kek, tetapi adakah sepasang pohon Wregu itu masih disini?," bertanya Arya Salaka seperti pesan Titis Anganten.

Orang tua itu yakin sudah bahwa kedua orang itu adalah orang suruhan yang menitipkan kedua pengungsi kepadanya. Karena itu ia menjawab, "Ya, ya, aku telah menjaganya dengan baik."

Arya Salaka dan Mahesa Jenar melangkah masuk . Dipersilahkannya mereka duduk di bale-bale bambu. Berderak-deraklah suaranya ketika dua sosok tubuh yang gagah itu memberati bale-bale.

Orang tua itupun kemudian berjalan ke senthong kanan, dan terdengarlah ia berkata, "Nyai telah datang utusan dari orang yang membawa nyai berdua kemari."

"Sudahkah kau yakin kakek?" terdengar suara seorang wanita.

"Aku yakin, nyai," jawab orang itu.

Dan sesaat kemudian dari sentong kanan keluarlah dua orang wanita. Jauh lebih tua dari lima enam tahun yang lampau . Wajahnya pucat dan kekurus kurusan. Karena itu tanpa sadar Arya menoleh dan cepat berdiri. Mahesa Jenarpun berdiri pula. Ia melihat betapa muridnya menjadi gemetar.

"Siapakah kau?," bertanya salah seorang daripadanya.

Mulut Arya terbungkam. Ibunya itu ternyata sudah tidak mengenalinya. Yang menjawab kemudian adalah Mahesa Jenar.

"Adakah Nyai lupa kepadaku?,"

Orang itu mengerutkan keningnya. Akhirnya wajahnya cerah dan dengan ragu-ragu ia berkata, "Adi Mahesa Jenar."

"Ya, aku Mahesa Jenar," jawab Mahesa Jenar.

"Oh," terdengar ia berdesis dan wajahnya menjadi semakin cerah.

"Lalu siapa anak muda ini?."

Mahesa Jenar dapat memaklumi, bahwa dirinya sendiri tidak mengalami banyak perubahan. Tetapi Arya Salaka yang sedang tumbuh itu akan mengejutkannya. Pada saat meninggalkan Banyu Biru, ia tidak lebih dari seorang anak-anak berumur antara tigabelas tahunan. Dan sekarang ia adalah seorang pemuda perkasa. Bertubuh kekar dan berdada bidang.

Karena itulah maka Mahesa Jenar berkata, "Nyai, bertanyalah kepadanya siapakah namanya?."

Nyai GajahSora menjadi ragu-ragu. Tetapi hatinya berdesir ketika melihat anak itu gemetar. Dan kemudian tiba-tiba saja anak muda itu meloncat maju berjongkok sambil memeluk kaki ibunya.

"Ibu...."

Nyai GajahSora terkejut. Dan terloncatlah dari mulutnya, "Kau kah itu."

Arya Salaka tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Kerongkongannya serasa tersumbat batu. Sedangkan matanya menjadi panas.

Wanita itu kini yakin. Anak itu adalah anak yang pernah dibelainya enam tahun lalu, anak yang tidur dipangkuannya, dicium keningnya. Namun sering pula dimarahinya karena kenakalannya.

Tiba-tiba tangannya yang lemah memeluk kepala Arya Salaka dan menekankan ke dadanya. Dan terasa tiba-tiba dada yang tipis itu menggelombang.

Meledaklah sebuah tangis kegembiraan.

"Arya, bukankah kau Arya Salaka ?"

Juga Arya tidak mampu berkata sepatahpun. Seabagai laki laki yang tabah menghadapi setiap bahaya maut yang mengancamnya, Arya adalah seorang berhati baja. Namun kali ini ia tidak kuasa menahan diri.

Meneteslah sebutir air mata .

Nyai Gajahsora benar-benar menangis. Ia tidak tahu apakah yang bergejolak didalam dadanya.. Anak ini pada saat terakhir sebelum berpisah dengannya juga pernah dipeluknya seperti ini. Menekankan kepala anak ini ke dadanya.Kini anak itu tidak berdiri pada telapak kakinya tetapi pada kedua lututnya. Namun Nyai Gajahsora tak sempat memperhatikannya. Dipeluknya anak itu seperti enam tahun lampau, diciumnya keningnya dan dibasahi dahi anak itu dengan air mata.

Nyai Lembusorapun terharu melihat pertemuan itu. Tanpa sesadarnya dari matanya juga mengalir air mata. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara anaknya dengan anak itu, antara suaminya dengan kakaknya Gajahsora. Karena kasihnya kepada Arya Salaka sebagai kemenakan satu-satunya tidak berkurang. Dengan demikian iapun terharu melihat pertemuan itu, setelah anak itu hilang selama enam tahun didsisi ibunya.

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia gembira, segembira Arya Salaka sendiri. Ia akan dapat menyerahkan anak itu nanti kepada ayah bundanya tanpa mengecewakan mereka. Mahesa Jenar telah tidak menyianyiakan kepercayaan Gajahsora kepadanya meskipun ia harus mengucapkan beribu-ribu terimakasih pula kepada Kebo Kanigara.

Tiba-tiba terdengarlah suara Nyai Gajahsora terputus-putus karena isaknya, "Kemana kau selama ini Arya?, ayahmu tak kunjung kembali.dan kau meninggalkan aku seorang diri dalam sepi dan duka"

Arya ingin menjawab. Ingin bercerita bahwa ia sama sekali tidak bermaksud meninggalkan ibunya. Ia ingin mengatakan bahwa selama ini wajah ibunya tak sekejappun terhapus dari angan-angannya. Tetapi yang menyumbat kerongkongannya serasa menjadi semakin besar pula. Karena itu ia hanya dapat menelan ludahnya beberapa kali.

Dan kemudian ibunya menarik anak itu berdiri. Ketika Arya berdiri, terkejutlah Nyai Gajahsora. Katanya, "Oh, kau sudah besar, kau benar-benar menjadi bayangan ayahmu, seperti belahannya dalam cermin."

Mahesa Jenar berdesir mendengar kata-kata itu. Meskipun suaminya telah pergi selama enam tahun, namun setiap ungkapan kantanya menyatakan bahwa kesetiaannya tidak berkurang. Dan dalam suasasna yang demikian itulah Mahesa Jenar teringat akan dirinya. Apabila kelak ada sesuatu dengan dirinya, adakah seseorang yang akan menantinya? atau mencemaskannya ?.

Dan tiba-tiba pula teringatlah ia kepada Rara Wilis, seorang gadis yang setia menanti, meskipun umurnya selalu menghantuinya.

Hari demi hari.....

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersenyum. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Dengan sudut matanya disambarnya setiap wajah yang ada diruangan itu. Kalau kalau ada diantara mereka yang melihat perubahan wajahnya.

"Hem," ia menarik napas dalam-dalam. Sedang hantinya berkata, "jangan berangan-angan seperti pemuda meningkat dewasa."

Nyai Gajahsora dan Nyai Lembusorapun segera berkemas-kemas pula. Mereka ingin segera kembali ke Pamingit. Meskipun Arya belum mengatakan tentang kehadiran ayahnya dan tentang keadaan adik sepupunya.

Ketika mereka sudah selesai berkemas, maka kedua perempuan itu segera minta diri kepada penghuni rumah yang sudah lanjut usia sambil mengucapkan diperbanyak terimakasih atas perlindungan yang diberikan.

"Eh," sahut kakek tua itu.

"Sudah menjadi kewajiban setiap warga untuk melindungi Nyai Ageng berdua. Sedang yang aku lakukan sekedar menerima Nyai berdua dan memberikan sekedar tempat untuk beristirahat."

"Aku tidak akan melupakan kau, kek," sahut Arya Salaka.

"Suatu saat aku pasti akan menengok rumah ini."

"Terimakasih ngger, terimakasih." Jawab orang itu.

Maka sesaat kemudian, berjalanlah mereka berempat menuju Pamingit. Didalam dada mereka masing-masing bergetarlah angan angan menyongsong hari yang akan datang.

Nyai Ageng Gajahsora menjadi gembira karena kini ia berjalan dengan anaknya yang hilang dan kembali kepadanya sebagai pemuda yang perkasa. Arya Salaka memandang langit yang cerah secerah hatinya. Sedang Mahesa Jenar menundukkan kepalanya menghitung masa lampaunya. Tetapi kini sebagian besar pekerjaannya telah selesai. Ia tinggal menghadapkan Arya Salaka kepada ayah bundanya., kemudian ia sendiri akan ke Karang Tumaritis menanyakan panembahan Ismaya, apa yang harus dilakukan atas Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten

Sesudah itu datanglah saatnya mengurus dirinya sendiri.

Perlahan lahan langit yang ditaburi bintang itu menjadi semakin terang. Cahaya fajar yang meloncat dari balik bukit telah menjalari seluruh langit. Dan bintang bintangpun semakin redup karenanya. Angin pagi yang lembut mengalir perlahan lahan seakan ikut berdendang bersama mereka yang sedang berjalan berempat itu menyanyikan lagu riang gembira menyongsong hari yang cerah.

Demikianlah mereka berjalan dalam limpahan cahaya pagi. Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang berbahaya.

Langir biru, batang batang jagung yang hijau. Air yang jernih sejuk mengalir di parit-parit ditepi jalan. Desa-desa yang menjorok seperti pulau-pulau di lautan hijau. Daun-daun bergoyang ditiup angin pagi yang lembut, gemersik diantara kicau burung-burung liar yang riang berloncatan dari dahan ke dahan.

Tetapi ketika mereka hampir sampai di bawah pohon nyamplung hati Mahesa Jenar dan Arya Salaka menjadi berdebar-debar. Semalam mereka tidak sempat mengurus mayat Bugel Kaliki. Kalau mayat itu masih disana, pasti akan mengejutkan Nyai Ageng berdua. Tetapi mereka tidak dapat menempuh jalan lain. Mereka harus melampaui jalan di bawah pohon nyamplung itu.

"Paman," tiba-tiba Arya berkata pelan sekali kepada Mahesa Jenar. "Bagaimana dengan mayat Bugel Kaliki?."

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, "lihatlah dan kalau masih ada singkirkan sementara. Nanti kita selesaikan mayat itu sebaik-baiknya."

Arya mengangguk, kemudian kepada ibunya ia berkata, "Ibu dan Bibi, perkenankanlah aku mendahului. Ada sesuatu yang akan aku lihat lebih dahulu."

Nyai Ageng berdua itu menjadi berdebar-debar. Maka bertanyalah Nyai Ageng Gajahsora, "Apakah keadaan di Pamingit masih belum baik Arya?."

"Tidak ibu," jawab Arya, "kedadaan sudah terlalu baik. Tetapi parit yang menyilangi jalan disebelah pohon nyamplung yang tampak kemarin itu kemarin terlalu cepat mengalir dan terlalu dalam airnya. Barangkali aku dapat memilih jalan yang lain."

"Oh," Nyai Ageng Gajahsora dan nyai Lembu Sora menarik nafas lega, maka berkatalah ibu Arya, "pergilah."

Aryapun pergi bergegas mendahului. Ia tidak mau ibu serta bibinya menjadi terkejut dan ngeri.

Tetapi ketika ia sampai di bawah pohon itu, ia terkejut. Mayat itu sudah tak ditemuinya di sana.

”Hilang,” pikirnya. Yang dilihatnya hanyalah beberapa bekas darah yang mengalir dari lukanya, luka Sawung Sariti. Dengan dada yang berdebar-debar, ia melihat pakaiannya. Beberapa noda darah masih melekat dan mewarnai bajunya dengan noda-noda merah kehitam-hitaman. Tetapi luka didadanya tak mengalirkan darah lagi. Ia yakin bahwa ibu dan bibinya telah melihat luka itu. Tetapi mereka berdua tak mengucapkan sepatah pertanyaan pun.

”Ah!” desisnya. ”Adalah hal yang lumrah bahwa dalam daerah pertempuran seseorang mengalami luka di tubuhnya.”

Ketika ia menengok ke belakang, dilihatnya ibunya, bibinya serta Mahesa Jenar sudah berjalan semakin dekat. Cepat-cepat ia berusaha menghapus bekas-bekas darah yang mewarnai tanah di bawah pohon nyamplung itu. Namun sebuah pertanyaan melingkar-lingkar di kepalanya, di manakah mayat Bugel Kaliki? Apakah ia masih belum benar-benar mati dan kemudian bangkit kembali?

Tetapi Arya Salaka tidak sempat berpikir terlalu panjang. Ia terpaksa berpura-pura berjalan ke parit yang menyilang jalan di sebelah pohon nyamplung. Ia tersenyum sendiri ketika ia melihat aliran airnya yang bening kemercik di antara batu-batu kecil yang berserak-serakan di atas pasir. Aliran air di parit itu masih seperti kemarin. Tidak lebih dari setinggi betis.

”Hem,” gumam Arya, ”Tidak mungkin parit sebesar ini menjadi berarus deras dan dalam.”

Ibu serta bibinya itu pun menjadi semakin dekat. Dari jauh mereka melihat Arya Salaka membungkuk-bungkuk kemudian duduk di tanggul parit di bawah pohon nyamplung. Tetapi mereka tidak tahu apakah yang sudah dikerjakan oleh anak itu.

Ketika itu Arya sedang memungut sebatang pedang yang dipergunakan melawan Sawung Sariti, serta sebatang pedang Sawung Sariti sendiri, yang kemudian keduanya dipergunakan oleh Sawung Sariti untuk melawan Bugel Kaliki.

Nyai Ageng Gajah Sora beberapa kali memandang langit yang biru bersih. Di Sarapadan, kemarin setetes pun tak turun hujan. Kalau demikian maka di bagian timur pasti hujan lebat kalau parit itu benar-benar banjir.

Ketika mereka sampai di tepi parit itu, maka Nyai Ageng Gajah Sora pun menjadi heran. Parit itu tidak lebih dari sebetis dalamnya.

”Sudah tidak banjir lagi, Arya?” ia bertanya.

”Tidak Ibu,” jawab Arya.

Tampaklah beberapa pertanyaan masih tersimpan di dalam wajah ibunya, namun tak satupun yang terkatakan.

Ketika mereka sudah melampaui parit itu dan berjalan menyusur jalan kecil, maka berbisiklah Mahesa Jenar, ”Bagaimana dengan mayat itu?”

”Hilang,” bisik Arya singkat.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. ”Hilang?” ia mengulang.

”Ya, hilang!” jawab Arya.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya