Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 136
Dan tiba-tiba saja terdengar hantu itu tertawa berderai mengerikan, seolah-olah daun pohon nyamplung yang lebat itu ikut bergetar karenanya. Meskipun suara tertawa itu jauh berbeda dari suara tertawa Pasingsingan maupun Lawaijo, yang didalamnya dilontarkan pula aji GelapNgampar, namun suara tertawa Bugel Kaliki itu benar-benar menyakitkan hati.
Karena itulah maka Jaka Tingkir menjadi bertambah marah. "Tutup mulutmu hantu bongkok. Jangan terlalu sombong. Kalau kau tertawa sekali lagi, aku sobek mulutmu dengan Kiyai Sangkelat ini."
Suara tertawa itu terhenti. Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali suara itu menggetarkan udara malam. Bahkan kemudian Bugel Kaliki berkata, " kalau kau mampu berbuat begitu anak yang perkasa, pastilah sudah kau lakukan."
Karang Tunggal menjadi bertambah marah. Namun Bugel Kaliki benar-benar tak dapat disentuhnya. Orang yang bongkok itu masih mampu meloncat-loncat dengan lincahnya menghindari setiap serangan yang datang ke tubuhnya. Bahkan sekali-kali iapun mampu menyerang dengan garangnya. Untunglah bahwa hantu itu benar-benar tak mampu melawan. Karena ia masih menunggu setiap kesempatan yang terbuka. Dan kesempatan itu semakin lama semakin terbuka lebar baginya. Kedua anak muda itu berada diambang bahaya.
Tetapi dengan tak mereka sangka, dari tanggul parit yang menyilang jalan kecil itu muncullah dua sosok bayangan yang terbang ke arah mereka, sehingga mereka yang bertempur itu menjadi terkejut. Bugel Kaliki segera melontarkan diri ke samping, mencari kesempatan untuk melihat siapakah yang datang itu. Karang Tunggal dan Arya Salakapun tidak mengejarnya. Mereka juga ingin mengetahui siapakah yang datang langsung kepada mereka.
Melihat gerakan mereka berdua, Bugel Kaliki terkejut bukan main. Mereka pasti orang-orang sakti apalagi ketika keduanya telah semakin dekat. Maka Bugel Kaliki menjadi pasti siapakah yang datang itu. Namun kesempatan untuk menghindarkan diri sudah terlalu sempit sebab orang yang datang itu pasti akan mengejarnya, sampai diujung langitpun.
Karena itu maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali menghadapi mereka, bertakar jiwa. Tetapi untuk melawan orang-orang itu Bugel Kaliki tidak akan dapat sambil tertawa. Apalagi kalau kedua orang itu bergabung dengan kedua anak muda yang sedang dihadapinya. Meskipun demikian ia pasti akan berusaha menyelamatkan diri, apapun caranya. Sesaat kemudian kedua orang itu telah berada tidak lebih lima depa didepan mereka.
Mahesa Jenar berdiri tegak dengan wajah tegang, sedang Kebo Kanigara tiba-tiba melihat seseorang berbaring ditanah.
"Siapakah dia," gumamnya
"Adi Sawung Sariti," sahut Arya Salaka. namun matanya masih tertanam dimata Bugel Kaliki.
"Sawung Sariti," ulang Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar bersamaan. Kebo Kanigarapun segera melangkah mendekati tubuh yang lemah itu. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau melepaskan diri dari pandangan mata hantu bongkok itu.
Kebo Kanigara kemudian berjongkok disamping Sawung Sariti sambil berbisik, "Sawung Sariti"
Sawung Sariti membuka matanya. Ketika dilihatnya Kebo Kanigara, bertanyalah ia dengan suara lemah, "siapakah kau?."
"Kebo Kanigara," jawabnya.
"Oh, bukankah paman sahabat paman Mahesa Jenar?," desis Sawung Sariti lirih.
"Ya," jawab Kebo Kanigara pendek. Tiba-tiba wajah Sawung Sariti menjadi cerah. Meskipun demikian perasaan sakit didalam dadanya terasa menyengat-nyengat. Ia mencoba untuk bergerak, tetapi betapa sakitnya sehingga ia mengerang perlahan-lahan.
"Jangan bergerak, tubuhmu masih lemah sekali," kata Kebo Kanigara.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Bugel Kaliki tertawa. Katanya, "Nah kalian sudah datang. Marilah kita selesaikan persoalan kita. terserah kepada kalian, apakah mau bertempur secara jantan atau mengeroyokku sebagai betina pengecut, berempat sekaligus."
Mendengar suara Bugel Kaliki itu Sawung Sariti menggeliat, "setan," desisnya marah, "ia telah melukai dadaku." Sedemikain marahnya Sawung Sariti sehingga karena dorongan perasaanya itu ia telah mengangkat kepalanya. Tetapi sekali lagi ia mengeluh. dadanya benar-benar terasa pecah. Karena itu iapun kembali terkulai di tanah.
"Jangan bergerak," kembali Kebo Kanigara menasihati. Perlahan-lahan tubuh yang lemah itu dibawanya menepi.
"Iblis itu," desis Sawung Sariti
"Biarkan dia, pamanmu Mahesa Jenar akan mengurusinya."
"Apakah paman Mahesa Jenar disini ?," bertanya Sawung Sariti.
"Ya," jawab Kebo Kanigara "Sokurlah," gumam Sawung Sariti, "mudah-mudahan nasibnya akan sama dengan nasib Sima Rodra Tua." (Dikutip oleh Mahesa Mimbar)
TERDENGAR Bugel Kaliki berkata pula, ”Ayolah. Aku sudah siap. Bukankah kalian marah karena anak tikus itu aku lukai?”
”Diamlah!” potong Mahesa Jenar, ”Jangan mencoba mengungkit harga diri kami untuk menyelamatkan diri. Kau ingin bertempur seorang dengan seorang. Berkatalah demikian.Kau tak usah mempergunakan kata-kata sindiran yang menjemukan itu.”
Bugel Kaliki mengerutkan keningnya. ”Gila!” geramnya.
”Kau terlalu sombong. Jangan mengukur dirimu dengan terbunuhnya Sima Rodra yang garang itu.”
”Tak pernah aku berbuat demikian. Tetapi kau pun jangan berbangga karena kau berhasil melukai anak-anak,” bantah Mahesa Jenar.
"Mereka yang mulai. Bukan aku,” jawab Bugel Kaliki. Hampir saja mulut Karang Tunggal terbuka membantah kata-kata Bugel Kaliki itu. Tetapi niatnya cepat-cepat diurungkan. Pamannya, Kebo Kanigara, yang juga bernama Putut Karang Jati, ada di tempat itu. Karena itu segera ia memperbaiki sikapnya. Ia kini tidak pula bertolak pinggang dengan muka menengadah. Meskipun demikian, ia tetap bersiaga, kalau-kalau Bugel Kaliki tiba-tiba melompatinya. Kyai Sangkelat masih ditangannya, dan aji Lembu Sekilan pun masih diterapkannya.
Meskipun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut pula melihat keris di tangan Karang Tunggal, juga kehadirannya yang tiba-tiba di tempat itu, namun mereka belum sempat menanyakannya, sebab Bugel Kaliki pun telah bersiap pula. Bahkan terdengar hantu itu berkata, ”Mahesa Jenar, kau benar-benar lantip. Kau tidak mau aku berkata melingkar-lingkar. Baiklah, ayo siapa dahulu yang akan aku binasakan. Kau atau sahabatmu itu. Atau anak-anak tikus yang tak tahu diri itu.”
Mahesa Jenar melangkah setapak maju. Jawabnya, ”Akulah yang sudah berdiri paling dekat.”
”Bagus!” teriak Bugel Kaliki.
Berbareng dengan itu ia pun segera meloncat dengan kecepatan yang mengagumkan. Namun Mahesa Jenar pun telah bersiaga. Karena itu, dengan kecepatan yang sama, ia berhasil menghindarkan dirinya.
Sesaat kemudian, berkobarlah perkelahian yang sengit dibawah pohon nyamplung itu. Kini yang bertempur adalah Mahesa Jenar melawan Bugel Kaliki. Dua tokoh sakti dari golongan yang berlawanan. Masing-masing bertekad untuk saling membinasakan.
Singa lena, silih ungkih.
Kebo Kanigara masih berjongkok di samping Sawung Sariti. Tetapi matanya tidak terlepas dari setiap gerak dari mereka yang sedang bertempur mati-matian itu.
Arya Salaka dan Karang Tunggal pun bergeser menjauh pula. Dengan penuh kekaguman mereka mengikuti setiap pergeseran yang terjadi. Desak-mendesak. Sesekali mereka melihat Mahesa Jenar terdorong surut, namun sesaat kemudian mereka melihat Bugel Kaliki meluncur beberapa langkah mundur.
Demikianlah pertempuran di bawah pohon nyamplung itu berlangsung dengan dahsyatnya. Si Bongkok itu bergerak meloncat-loncat seperti tupai, sedang Mahesa Jenar mampu menyerangnya seperti burung Rajawali di udara. Menyambar-nyambar dengan garangnya. Kemudian mematuk dengan paruhnya yang tajam runcing.
Dan apabila Bugel Kaliki itu seakan-akan merubah dirinya segarang harimau belang, Mahesa Jenar pun melawannya setangguh seekor banteng ketaton. Sehingga dengan demikian, akhirnya terasa oleh Bugel Kaliki bahwa Mahesa Jenar benar-benar mempunyai kesaktian yang luar biasa. Tahulah sekarang hantu bongkok itu, karena Sima Rodra tak mampu melawannya.
Karena itu, maka untuk keselamatan diri, akhirnya diurainya senjata andalannya, yang seakan-akan tak pernah disentuhnya. Sehelai kain empat persegi yang berwarna merah, dan disalah satu sudutnya diikatkan sepotong timah baja kuning.
Pusaka peninggalan nenek moyangnya.
Dengan memegang sudut silangnya, timah baja kuning itu diputarnya seperti baling-baling. Mahesa Jenar melihat senjata itu dengan hati yang tegang. Ia tahu benar apa yang sedang dihadapi. Karena itu, maka ia tidak sempat untuk memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Sawung Sariti, Karebet, Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Meskipun lamat-lamat ia masih mendengar suara Sawung Sariti yang kadang-kadang mengeluh pendek menahan sakitnya. Namun bagi Mahesa Jenar keluhan itu justru merupakan minyak yang menyiram nyala kemarahannya terhadap sisa-sisa golongan hitam.
Malam berjalan dengan lancarnya. Bintang-bintang semakin lama semakin condong kegaris cakrawala di ujung barat. Namun pertempuran di bawah pohon nyamplung itu masih berlangsung terus. Bahkan kini perkelahian itu bertambah-tambah dahsyatnya.
Bugel Kaliki dengan senjatanya yang aneh itu menyambar-nyambar seperti burung alap-alap. Namun Mahesa Jenar bukanlah sekedar burung merpati yang ketakutan. Bugel Kaliki ternyata bukan saja wajahnya yang mengerikan, namun tandangnya sesuai benar dengan namanya dan wajahnya yang menakutkan itu. Timah baja kuning diujung kain perseginya menyambar-nyambar seperti lebah. Suaranya berdesing-desing dan melibat lawannya dari segenap arah.
MAHESA JENAR merasakan kedahsyatan dan kecakapan Bugel Kaliki mempermainkan senjata aneh itu. Beberapa kali ia terpaksa meloncat surut dan beberapa kali timah lawannya itu mengiang dekat benar dengan kepalanya. Bahkan karena perhatian Mahesa Jenar terpaku pada senjata itu, maka sekali-kali terasa kaki hantu bongkok itu menyambar lambungnya, sehingga Mahesa Jenar yang kokoh itu terpaksa terdorong surut. Bahkan sekali-kali tangan Bugel Kaliki itu sempat menyentuh tubuh Mahesa Jenar dan sekali-kali mendorongnya mundur. Dengan demikian Mahesa Jenar terpaksa melawannya dengan sepenuh tenaga.
Untunglah bahwa Mahesa Jenar bertubuh kuat sekuat banteng jantan. Betapa pun lawannya berusaha untuk melumpuhkannya, namun dengan gigihnya ia bertahan. Meskipun demikian, senjata Bugel Kaliki itu benar-benar mengganggunya. Sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk menembus lingkaran timah baja kuning yang berterbangan mengitari tubuhnya. Namun Mahesa Jenar tidak pernah kehilangan akal. Ia memperhitungkan setiap kemungkinan. Betapapun sulitnya, sekali-kali ia berhasil juga mengenai tubuh lawannya. Dengan kaki atau dengan tangannya. Tetapi sentuhan-sentuhan itu agaknya tidak banyak berarti, karena setiap senjata Bugel Kaliki itu selalu menghalang-halanginya.
Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Mas Karebet memandangi perkelahian itu dengan penuh perhatian sehingga nampaknya seperti patung dalam ketegangan. Mereka mengikuti setiap gerak, baik Mahesa Jenar maupun Bugel Kaliki. Namun setiap saat mereka menjadi bertambah tegang. Apalagi ketika mereka melihat setiap kali Bugel Kaliki berhasil melibas Mahesa Jenar dan sekali-kali kemudian berhasil melontarkannya surut. Namun meskipun demikian, mereka tetap terpaku di tempat masing-masing dengan ketegangan yang semakin meningkat.
Maka setelah mereka bertempur semakin lama, serta usaha Mahesa Jenar untuk menjatuhkan lawannya masih belum berhasil, karena senjatanya yang aneh itu, bahkan terasa betapa tekanan Bugel Kaliki semakin lama menjadi semakin ketat, karena timah baja kuningnya yang seolah-olah dapat mengurung Mahesa Jenar, sehingga ia tidak sempat untuk menyerang.
Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada mempertahankan hidupnya dengan ilmu tertinggi yang dimilikinya. Dengan demikian, Mahesa Jenar dengan lincahnya meloncat ke samping beberapa langkah untuk membebaskan diri dari libatan timah baja kuning yang menyambar-nyambar itu. Kemudian dengan garangnya ia mengangkat satu kakinya, ditekuknya ke depan, satu tangannya diluruskan ke atas seperti akan menyentuh bintang-bintang di langit, tangannya yang lain menyilang dada.
Dan dalam pada itu, tersalurlah kekuatan Aji Sasra Birawa.
Bugel Kaliki melihat tata gerak Mahesa Jenar itu. Ia pun telah mengetahui pula, bahwa dengan demikian Mahesa Jenar sedang mateg aji yang terkenal. Dengan dahsyatnya ia meloncat sambil memutar senjatanya demikian kerasnya sehingga terdengar angin berdesing.
Namun apa yang dilakukan Mahesa Jenar adalah terlalu cepat. Sehingga ketika serangan itu tiba, Mahesa Jenar sempat meloncat mundur sambil merendahkan dirinya. Timah baja kuning itu nyaris menyambar pelipisnya. Tetapi sesaat kemudian ia telah tegak kembali dan dengan kecepatan kilat ia meloncat maju.
Tangan kanannya menyambar, dengan dahsyat menghantam tengkuk Bugel Kaliki. Bugel Kaliki masih mencoba untuk menghindar, namun ia terlambat. Sebuah hantaman yang dahsyat telah mengenainya.
Terdengarlah ia berteriak nyaring kemudian melenting dan jatuh terguling di tanah. Tetapi hantu itu tidak mau menyerah pada keadaannya. Dengan tertatih-tatih ia bangkit kembali. Sekali terdengar umpatan kotor dari mulutnya serta matanya menyorot sinar kemarahan yang liar.
Kemudian dengan sekuat tenaga ia melempar Mahesa Jenar dengan senjatanya. Untunglah Mahesa Jenar tetap waspada, sehingga secepat itu pula ia berhasil menghindari senjata Bugel Kaliki. Sekali lagi terdengar Bugel Kaliki mengumpat, kemudian jatuh kembali, terjerembab.
Arya Salaka memalingkan wajahnya melihat saat-saat terakhir yang mengerikan dari hantu yang hampir membunuhnya itu. Mahesa Jenar masih berdiri tegak seperti patung. Dipandangnya tubuh Bugel Kaliki terbaring di tanah.
Mati.
Kemudian ditariknya nafas dalam-dalam, sedang di hatinya terpanjatlah ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menyelamatkannya dari senjata Bugel Kaliki yang mengerikan, serta telah memberinya kekuatan, bahkan membinasakan hantu yang menakutkan itu. Bersyukurlah bahwa ia telah berhasil melakukan pengabdian sekali lagi atas kemanusiaan dalam pancaran cinta kasih yang abadi. Tidak saja Mahesa Jenar, namun Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Karang Tunggal pun menarik nafas pula. Seakan-akan sesuatu yang menekan dadanya telah dapat dipunahkan. Bahkan tiba-tiba terdengar Sawung Sariti berkata perlahan-lahan ketika ia mendengar teriakan ngeri, ”Paman, apakah yang terjadi?”
KEBO KANIGARA memandang wajah anak itu. Tampaklah kadang-kadang mulutnya menyeringai menahan sakit. Maka jawabnya, "Sawung Sariti, bersyukurlah kau, karena pamanmu Mahesa Jenar telah mengakhiri pertempuran."
"Bagaimana dengan hantu bongkok itu?" tanya Sawung Sariti lemah.
"Ia sudah binasa," sahut Kebo Kanigara.
"Tuhan Maha Besar," desisnya. Tetapi hatinya sendiri tergetar mendengar suaranya. Selama ini tak pernah ia menyebut nama Tuhan. Apalagi kebesarannya. Tiba-tiba saja kata-kata itu terluncur begitu saja dari mulutnya. Namun setelah itu terasa betapa dekatnya ia dengan Tuhan. Maka timbullah keinginannya untuk sekali lagi menyebut nama itu, nama yang selama ini terlupakan olehnya. Maka katanya, "Tuhan Maha Besar. Ya, Tuhan Maha Besar."
Mahesa Jenar menoleh mendengar suara Sawung Sariti itu. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan berjongkok di sampingnya. Perlahan-lahan ia berkata, "Tenangkan hatimu, Sawung Sariti."
"Terimakasih, Paman," jawabnya lirih.
"Hatiku telah puas. Hantu itu telah binasa."
Tampaklah senyum mengambang di bibir Sawung Sariti. Meskipun demikian nafasnya terdengar semakin cepat mengalir dari lubang hidung dan mulutnya, sedang dari mulut itu masih menetes darah yang merah.
"Mahesa Jenar..." kata Kebo Kanigara kemudian, "Apakah tidak sebaiknya Sawung Sariti segera mendapat pengobatan?"
Sawung Sariti menggeleng lemah, katanya, "Obat yang paling baik, telah aku dapatkan, Paman."
"Apakah itu?" tanya Kebo Kanigara.
Sawung Sariti tersenyum. Senyum yang sayu. Jawabnya, "Di manakah Kakang Arya Salaka?"
Arya Salaka ternyata sudah berjongkok di belakang Mahesa Jenar, berdua dengan Karang Tunggal.
"Mendekatlah Arya," kata Mahesa Jenar.
"Kakang..." Sawung Sariti tidak meneruskan kata-kata, namun matanya telah memancarkan segenap perasaan yang tersimpan di dadanya.
"Tenangkan hatimu Adi," pinta Arya Salaka mengulangi kata-kata Kebo Kanigara. Dan sekali lagi Sawung Sariti tersenyum.
"Biarlah anak ini aku bawa kembali ke Pamingit," kata Kebo Kanigara. "Mungkin Paman Sora Dipayana dapat mengobatinya."
"Sebaiknyalah demikian, Kakang," jawab Mahesa Jenar, "Dan biarlah Arya Salaka menjemput ibunya dan ibu Sawung Sariti."
Mendengar Mahesa Jenar menyebut-nyebut ibunya, berdesislah Sawung Sariti. Katanya lemah, "Tolonglah Kakang Arya, jemputlah ibuku sekali."
"Baiklah Adi," jawab Arya, "Akan aku bawa Bibi Lembu Sora bersama ibuku ke Pamingit."
Sawung Sariti masih mencoba tersenyum walau wajahnya semakin sayu. Katanya, "Terimakasih Kakang."
Kebo Kanigara pun kemudian bangkit sambil mengangkat tubuh Sawung Sariti perlahan-lahan.
Dalam pada itu terdengar Sawung Sariti berkata perlahan-lahan, "Paman, aku telah menyulitkan Paman."
"Jangan berpikir demikian Sawung Sariti," jawab Kebo Kanigara. "Adalah kewajiban manusia untuk saling membantu. Mungkin pada suatu saat aku akan memerlukan bantuanmu pula."
Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi terharu. Apakah Kebo Kanigara akan berbuat demikian manisnya pula seandainya dirinya berhasil membunuh Arya Salaka?
"Hem..." Ia menggeram. Perasaan sesal meronta-ronta di dalam dadanya. Sesal atas segala macam pekertinya yang jauh tersesat ke daerah nafsu.
Mereka pun kemudian berjalan ke arah yang berbeda-beda. Arya Salaka dan Mahesa Jenar ke Sarapadan, sedang Kebo Kanigara mendukung Sawung Sariti ke Pamingit.
Yang berdiri kebingungan adalah Karebet. Ia memandang Arya Salaka dengan permintaan, apakah boleh pergi bersamanya.
"Tidakkah Kakang Karang Tunggal pergi bersama Paman Kebo Kanigara?" tanya Arya Salaka, "Barangkali Paman Kebo Kanigara perlu bantuan Kakang, mendukung Adi Sawung Sariti. Di Pamingit nanti kita bertemu. Barangkali Kakang Karang Tunggal banyak mampunyai ceritera yang menarik."
"Oh!" Karebet seperti tersadar dari mimpi. Bukankah ia dapat membantu pamannya itu. Karena itu maka katanya, "Baiklah Adi, aku membantu Paman Karang Jati."
Dan berlari-larilah Karebet menyusul pamannya. Ketika ia telah berjalan di belakang pamannya, berkatalah ia perlahan-lahan, "Paman, biarlah Adi Sawung Sariti aku dukung."
Kebo Kanigara menoleh. Tapi ia tidak segera menjawab. Karena itu hati Karang Tunggal menjadi berdebar-debar. Akhirnya ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Hatinya berdesir ketika pamannya itu bertanya, "Kenapa kau berada di sini, Karebet?"
Kepala Karebet menjadi semakin tunduk. Ia benar-benar takut kepada pamannya itu.
"Kenapa?" ulang Kebo Kanigara.
Karebet masih belum dapat menjawab. Karena itu hatinya menjadi semakin kecut.
Tiba-tiba berkatalah Karang Jati, ”He, Karebet. Kau akan ikut aku ke Pamingit?”
”Ya, Paman,” jawab Karebet singkat.
”Bagus, kau akan dapat menemui kawan-kawanmu dari pasukan Nara Manggala,” sambung Kebo Kanigara. Karebet terkejut.
”Nara Manggala?” ulangnya.
”Ya,” jawab Kebo Kanigara acuh tak acuh.
”Ki Gajah Alit, dan para pejabat rahasia Demak, Ki Paningron.”
”Benarkah keduanya di sini?” desak Karebet semakin terkejut.
”Kenapa?” tanya Kebo Kanigara. Karebet terdiam. Sekali lagi pandangan matanya terbanting di tanah. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
”Karebet...” kata Kebo Kanigara kemudian, ”Seharusnya kau menjadi gembira. Bukankah kau akan bertemu dengan perwira-perwira dari pasukan Demak? Aku dengar, kau pun telah menjadi lurah Wira Tamtama.”
”Ya, Paman, tetapi...” Karebet tak dapat meneruskan kata-katanya.
”Tetapi kenapa?” desak Kebo Kanigara. Sekali lagi Karebet terbungkam. Akhirnya terdengar Kebo Kanigara berkata dengan suara yang berat, ”Karebet, apakah yang sebenarnya terjadi?”
Karebet masih berjalan dengan muka tunduk di belakang pamannya. Ia tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi sehingga ia diusir dari Kraton Demak. Bahwa ia masih hidup dan lepas dari kemarahan Sultan yang lebih besar lagi, adalah karena Sultan sejak semula telah tertarik kepada keperwiraan dan kecekatannya, sehingga kasih yang dilimpahkan kepadanya agak berlebihan dibanding dengan para prajurit lainnya.
Kemudian terdengar Kebo Kanigara berkata, ”Aku sudah tahu apa yang kau lakukan di Demak, Adol bagus. Kau sangka di seluruh kolong langit ini hanya kau sendiri seorang laki-laki?”
Hati Karebet menjadi semakin berdebar-debar. Dan karena itu wajahnya menjadi semakin tumungkul memandang pundaknya. Ia menyangka bahwa pamannya akan memarahinya. Namun sebenarnya Kebo Kanigara pun sayang benar kepada kemenakannya yang nakal itu.
Maka katanya, ”Karebet, bagaimanakah pertimbanganmu? Apakah kau akan menemui para perwira dari prajurit Demak itu?”
Beberapa saat Karebet diam. Ia menjadi berlega hati ketika pamannya tidak memaki-makinya. Setelah debar jantungnya mereda, ia berkata, ”Aku kira lebih baik tidak, Paman.”
”Nah, kalau demikian, jangan ikuti aku. Pergilah ke Banyubiru. Setelah semuanya selesai, aku akan ke sana mengantarkan Arya Salaka. Aku akan menemuimu. Dan kau harus berkata sebenarnya apa yang telah terjadi dan apa yang pernah kau lakukan.”
”Baik Paman,” jawab Karebet. ”Aku sekarang berada di rumah Ki Buyut atau yang dikenal Ki Lemah Telasih.”
”Nah, pergilah. Apakah kau sudah tahu jalan yang harus kau tempuh?” tanya Kebo Kanigara. Sebenarnya ia tahu bahwa hampir seluruh jalan di sekitar pegunungan Merapi, Merbabu, Slamet, Ungaran, Murya, Sindara, Sumbing, Lawu, Kelut, Kawi sampai di daerah barat dan timur telah dilintasinya.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya