Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 132
SAWUNG SARITI mencibirkan alisnya. Ia berpikir sejenak. Kemudia ia berkata, "Aku pergi bersama-sama dengan Kakang."
Arya menarik nafas. Ia pasti tidak akan dapat menolak. Karena itu ia menjawab, "Suatu kebetulan bagiku, Adi. Aku belum pernah melihat tempat itu. Sekarang kalau kau akan menemani aku, aku akan berterima kasih."
Sawung Sariti mengangkat wajahnya. Dengan sudut matanya ia memandang wajah kasar orang kepercayaannya. Kemudian terdengar ia berkata, "Kita ikut."
"Marilah Angger." Terdengar suara Galunggung berat.
Maka kemudian pergilah mereka bertiga berjalan beriring-iringan. Galunggung sambil menyeret pedangnya yang tersangkut di lambungnya. Sekali-kali Arya mengerling kepada adiknya itu. Pedangnya berjuntai-juntai hampir menggores tanah. Pedang itu hampir setiap keadaan tak pernah terlepas dari pinggangnya.
Sebenarnya kalau Arya bercuriga, itupun cukup beralasan. Ia menyesal bahwa ia tidak membawa tombak pusaka Banyubiru. Namun hatinya kemudian menjadi besar, ketika terasa didalam bajunya terselip sebuah pisau belati panjang terbalut dengan klika kayu. Pisau belati pusaka Pasingsingan yang bernama Kiai Suluh.
- Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu - pikirnya.
Dan kadang-kadang ia terpaksa tersenyum sendiri atas kecurigaannya itu.
Sedang Sawung Sariti berjalan saja dengan enaknya, melenggang dalam dingin malam.
Tetapi tiba-tiba Arya mengangkat alisnya.
Dan berkatalah ia dengan serta merta - Adi apakah benar jalan ini jalan ke Sarapadan? -
Sawung Sariti menoleh. Ia berhenti melangkah, kemudian menjawab pertanyaan Arya dengan heran - Ya inilah jalan itu. Kenapa? -
Arya mengamat-amati keadaan sekelilingnya. Dikejauhan di wajah taburan bintang dilangit ia melihat sepasang pohon siwalan.
Katanya - bukankah kita harus melewati jalan kecil diantara pohon siwalan itu? -
- Siapa bilang ? - bertanya Sawung Sariti.
- Eyang Titis Anganten - jawab Arya Salaka.
- Eyang Titis Anganten keliru - sahut Sawung Sariti.
Tetapi Arya adalah seorang muda yang hampir seluruh hidupnya berada dalam perjalanan. Iapun tahu benar, bahwa Titis Anganten adalah seorang perantau, sehingga ia yakin bahwa tak mungkin orang tua itu salah.
Karena keyakinannya itu maka Arya menjawab - Adi, eyang Titis Anganten adalah seorang perantau, yang kerjanya berjalan dari satu ujung, kelain ujung dari pula ini. Karena itu apakah eyang Titis Anganten akan salah jalan dalam jarak empat lima bulak saja? -
- Aku adalah anak Pamingit - jawab Sawung Sariti - sejak bayi aku bermain-main ditempat ini. Adakah aku tidak mengenal Sarapadan?
Memang, sebenarnyalah demikian.
Seharusnya Arya percaya bahwa Sawung Sariti mengenal daerah ini dengan baik. Tetapi ada sesuatu dipojok hatinya yang berbisik - Pilihlah jalan sendiri. -
Karena itu Arya berkata - Adi, barangkali ada jalan lain ke Sarapadan. Jalan yang barangkali ditempuh oleh Eyang Titis Anganten pada saat itu.-
- Agaknya kakang Arya Salaka lebih percaya kepada orang tua itu daripada kepadaku? - bertanya Sawung Sariti. Arya menjadi beragu. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Agak sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu.
Meskipun demikian akhirnya ditemukannya juga jawabannya - Adi, baiklah aku mencoba membuktikan, apakah Eyang Titis Anganten benar-benar seorang perantau yang baik. Sedangkan apabila nanti jalan itu tak aku ketemukan, aku akan kembali ke Pamingit. Mengajak orang tua itu pergi bersama-sama dan mengatakan kepadanya, bahwa perantau itu kini telah menjadi pelupa dan tak dapat mengenal jalan antara Pamingit dan Sarapadan meskipun ia dapat menemukan jalan kembali ke Banyuwangi yang menurut eyang Titis Anganten jaraknya beribu-ribu kali lipat. -
Wajah Sawung Sariti menjadi panas. Terasa sindiran halus pada kata-kata Arya. memang sebenarnya bahwa jalan terdekat ke Sarapadan adalah jalan kecil diantara sepasang pohon Siwalan itu. Karena agaknya Arya Salaka telah berkeras hati untuk menempuh jalan itu, maka akhirnya ia berkata - Baiklah kakang Arya, kau lewat jalanmu, aku lewat jalan yang sudah aku kenal baik-baik. Meskipun barangkali kakang akan sampai ke Sarapadan, namun jalan yang akan kau tempuh itu agak terlalu jauh. -
- Tidak apalah adi - jawab Arya - lalu bagaimana dengan adi Sawung Sariti? -
- Aku akan mengambil jalan ini - sahut Sawung Sariti.
- Baik. Kalau demikian biarlah kita berjanji untuk saling menunggu di tempat pengungsian ibu kami, supaya kita bisa pulang bersama-sama - berkata Arya Salaka.
- Tidak perlu - jawab Sawung Sariti - kita sudah berselisih jalan disini. Biarlah kita jemput ibu kita masing-masing. Aku jemput ibuku, kau jemput ibumu. -
ARYA menarik nafas panjang. Adiknya memang terlalu kaku. Namun Arya masih mencoba berkata, ”Apakah kata ibu-ibu kita itu nanti. Mereka mengungsi bersama-sama, biarlah mereka pulang bersama-sama.”
”Ibuku bukan perempuan cengeng,” jawab Sawung Sariti, ”Kalau ibuku tak mau, biarlah ia pulang sendiri tanpa Sawung Sariti.”
”Hem!” terdengar Arya mengeluh. Tetapi ia tidak sempat berbicara lagi. Sawung Sariti telah pergi meninggalkannya. Galunggung berjalan di belakangnya hampir meloncat-loncat. Sekali dua kali dilihatnya kedua orang itu menoleh, tetapi lalu berjalan semakin cepat.
Perlahan-lahan Arya memutar tubuhnya. Ia melangkah kembali ke jalan kecil di antara pohon Siwalan itu. Ia harus berjalan terus ke selatan, kemudian di simpang tiga ia harus membelok ke kiri. Setelah beberapa langka akan ditemuinya parit. Ia dapat menempuh dua jalan. Terus lewat jalan kecil itu, atau menyusur tepi parit. Namun kedua jalan itu akan bertemu kembali di bawah pohon nyamplung yang besar di tepi sebuah sungai kecil. Setelah itu, ia hanya akan menyusur satu jalan terus sampai dimasukinya desa Sarapadan.
”Mungkin Adi Sawung Sariti benar,” pikirnya, ”Jalan itupun akan sampai ke Sarapadan.” Dengan demikian Arya agak menyesal. Mungkin ia terlalu berprasangka.
Namun sebenarnya Arya telah berbuat hati-hati. Firasatnya telah dapat memberinya beberapa pertimbangan dalam mengambil keputusan. Kalau ia berjalan bersama-sama dengan Sawung Sariti, akibatnya akan berbahaya sekali. Sawung Sariti telah membawanya lewat jalan yang sepi, menyusur lewat pereng yang terjal. Di sana segala sesuatu akan dapat terjadi. Satu sentuhan di kakinya, akan dapat mengantarkannya ke dasar jurang yang dalam dan berdinding runcing seperti gerigi. Dan hal yang demikian itu, akan dapat terjadi. Untunglah, Tuhan telah membawanya lewat jalan lain.
Di jalan itu, Sawung Sariti berjalan sambil mengumpat-umpat. Sedang Galunggung pun menggeram tak habis-habisnya. Ketika Sawung Sariti membelok, dan memilih jalan itu, hatinya yang kelam segera dapat menebak maksud momongannya. Bahkan ia telah bersiap di belakang Arya, menyentuhnya sedikit dan kemudian bergegas-gegas berlari-lari ke Pamingit, memberitahukan kecelakaan yang terjadi, bahwa Arya Salaka terpeleset ke dalam jurang, atau dibiarkannya, tak seorangpun mengetahuinya.
Namun rencananya ternyata urung. Arya memilih jalan lain. Karena itupun mereka harus mempunyai rencana lain. Namun telah terpateri di dalam kepala anak muda dari Pamingit itu, bahwa Arya Salaka harus dilenyapkan. Sudah tentu dengan diam-diam. Dengan demikian kedatangan Gajah Sora tak akan berpengaruh. Kelak, sudah pasti bahwa Pamingit dan Banyubiru akan dikuasainya. Apalagi kini golongan hitam yang menghantui mereka telah lenyap pula.
”Kakang Arya akan membelok di simpang tiga,” bisik Sawung Sariti.
”Ya,” jawab Galunggung singkat.
”Lalu, mungkin akan dipilihnya jalan di tepi parit,” Sawung Sariti meneruskan.
Sawung Sariti berpikir sejenak. Hatinya benar-benar sudah dikuasai oleh nafsu yang menyala-nyala. Yang berada di dalam kepalanya hanyalah usaha terakhir untuk menyingkirkan kakak sepupunya.
Galunggung dapat mengetahui apa yang bergolak di dalam hati anak muda itu. Karena itu iapun turut berpikir. Ia mengharap bahwa Sawung Sariti kelak benar-benar dapat menguasai Pamingit dan Banyubiru. Dengan demikian, ia pun akan mendapat tempat yang baik. Jauh lebih baik daripada yang sekarang dimiliki. Mungkin akan didapatnya tanah dua kali lipat dari tanah yang diterimanya sekarang. Juga kekuasaan yang diperoleh akan berlipat-lipat pula.
Setelah mereka berdiam diri sejenak, maka berkatalah Galunggung, ”Angger Sawung Sariti. Kita masih mempunyai kesempatan. Kita dapat menempuh jalan memisah, lewat pematang dan menyusup di bawah uwot parit sebelah.
”Aku juga berpikir demikian,” sahut Sawung Sariti, ”Kita cegat Kakang Arya di simpang tiga, sebelum kita harus memilih jalan mana yang dilewati.”
”Terlalu tergesa-gesa,” jawab Galunggung, ”Kita cegat Angger Arya di sebelah pohon nyamplung.”
Kembali Sawung Sariti berpikir. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Mungkin baik juga.”
”Kalau demikian,” Sawung Sariti meneruskan, ”Kita harus segera menyusul Kakang Arya Salaka. Kita ambil jalan pematang.”
Sawung Sariti tidak menunggu jawaban Galunggung. Cepat ia meloncati parit kecil di tepi jalan. Kemudian menyusur pematang, menyusup di antara batang-batang jagung muda. Namun meskipun demikian, Sawung Sariti harus berhati-hati, supaya Arya tak dapat melihatnya.
DEMIKIANLAH, dengan bergegas-gegas kedua orang itu berjalan memotong arah. Mereka berjalan di atas pematang-pematang, tanggul-tanggul parit untuk dapat mendahului Arya Salaka. Karena Sawung Sariti telah terlalu biasa dengan daerah ini, maka ia dapat memperhitungkan jarak yang dilewatinya itu cukup jauh dari jalan yang dilalui Arya, sehingga ia tidak usah khawatir dapat diketahuinya. Ketika mereka harus memotong jalan, barulah mereka berjalan dengan sangat hati- hati, menyusur batang-batang jagung sambil membungkuk-bungkuk. Akhirnya mereka terjun ke anak sungai, dan lewat di bawah uwot dari kayu yang bersilang di atas anak sungai itu, mereka memotong jalan. Mereka mengharap, bahwa dengan demikian mereka akan dapat mendahului Arya Salaka sampai di bawah pohon nyamplung.
Arya Salaka yang tidak tahu, apa yang sedang direncanakan oleh adik sepupunya, berjalan seenaknya sambil menikmati angin malam. Langit tidak terlalu bersih, namun di beberapa sudut bintang masih tampak berkeredipan menghias malam. Dengan cermatnya ia memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh Titis Anganten. Jalan manakah yang seharusnya dilewatinya. Namun jalan itu tidak terlalu sulit baginya. Sehingga ia pun tidak usah cemas, bahwa ia akan tersesat.
Kemudian Arya sampai di simpang tiga. Di simpang tiga, ia membelok ke kiri. Beberapa langkah kemudian ditemuinya parit. Dan ia harus memilih, apakah akan berjalan di sepanjang jalan kecil itu, ataukah akan memilih jalan tanggul di sepanjang parit. Arya kemudian berhenti sejenak. Dilihatnya air yang memercik di dalam parit itu. Mengalir dengan tenangnya. Maka timbullah keinginannya untuk berjalan menyusur parit itu sambil memperhatikan airnya.
Dalam pada itu, Sawung Sariti telah sampai di bawah pohon Nyamplung. Dengan hati-hati ia menempatkan dirinya di tepi jalan. Telah diperhitungkannya, bahwa dengan satu loncatan, ia harus sudah dapat mencapai Arya Salaka dengan pedangnya. Demikian juga Galunggung, harus sudah siap.
Meskipun kemampuan bertempur Galunggung jauh berada di bawah kemampuan Arya Salaka, namun dengan menyerangnya secara tiba-tiba bersama-sama dengan Sawung Sariti maka mereka mengharap, bahwa mereka tidak usah mengulangi dengan serangan kedua. Dengan demikian, Sawung Sariti dan Galunggung dengan tenangnya mengendap di tepi jalan, di bawah pohon Nyamplung yang rimbun.
Gemersik angin malam yang mengusik daun-daun di atasnya, terdengar seperti keluh kesah yang sedih. Bahkan kemudian terdengar seperti orang yang berbisik-bisik, menyampaikan kabar yang mengerikan.
Beberapa saat Sawung Sariti dan Galunggung mengendap di sisi jalan itu, terasa betapa waktu berjalan lambat sekali. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang menjemukan. Apalagi mereka berdua dicekam oleh ketegangan yang setiap saat menjadi semakin memuncak. Mata mereka seperti tersangkut di tikungan jalan di samping parit yang menyilang jalan kecil. Dari sanalah Arya Salaka akan muncul. Kalau tidak dari jalan kecil itu, pasti akan muncul dari tanggul di tepi parit.
Tetapi Arya Salaka agaknya berjalan terlalu lambat. Seharusnya ia kini telah muncul dan berjalan lurus di hadapan mereka yang menunggunya dengan gelisah. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Arya ingin mencuci kakinya di dalam parit yang bersih itu dan untuk beberapa saat ia bermain-main dengan percikan airnya.
Tetapi, kemudian dari balik tikungan itupun muncul sebuah bayangan. Seorang yang berjalan melenggang dalam keremangan malam. Bayangan itu berjalan dengan tergesa-gesa, lewat jalan kecil di muka pohon nyamplung itu. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bertambah gelisah. Segera mereka menarik pedang masing-masing, dengan sangat berhati-hati. Sesaat yang akan datang, pedang mereka harus melakukan tugas-tugas mereka yang berat. Tetapi mata Sawung Sariti yang tajam itu menjadi liar. Ia melihat perbedaan yang kecil pada bayangan itu. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah orang itu Arya Salaka. Beberapa kali Sawung Sariti mengedipkan matanya, namun ia menjadi bertambah bimbang. Semakin dekat bayangan itu, semakin gelisah hati Sawung Sariti, sebab ia menjadi semakin yakin, bahwa bayangan itu sama sekali bukan Arya Salaka. Meskipun orang yang datang itu juga bertubuh tegap, namun Sawung Sariti dapat membedakan, bahwa Arya Salaka berjalan dengan gaya yang berbeda.
Ketika beberapa langkah orang itu menjadi semakin dekat, makin jelas, bahwa orang itu memakai pakaian yang lain. Galunggung pun akhirnya mengetahui juga, bahwa yang datang itu bukanlah yang mereka tunggu.
Dengan nafas yang memburu ia berbisik perlahan, ”Bukan itu orangnya, Angger.”
”SETAN!” Sawung Sariti mengumpat, ”Ada juga malam-malam orang berkeliaran di daerah yang masih belum tenang sama sekali ini.”
”Agaknya ia akan mengairi sawah,” bisik Galunggung.
”Tidak. Tidak ada orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk keperluan yang dapat dilakukan siang hari,” sahut Galunggung.
”Lalu siapakah dia?” tanya Galunggung pula.
”Apa pedulimu terhadap orang itu. Yang penting kita tunggu Arya Salaka,” jawab Sawung Sariti.
Galunggung pun kemudian berdiam diri.
Orang itu sudah semakin dekat. Sawung Sariti menahan nafasnya. Biarlah orang itu berlalu. Kemudian orang yang lewat di belakangnya, pastilah Arya Salaka.
Tetapi Sawung Sariti menjadi marah, ketika tiba-tiba orang itu berhenti. Ia menoleh ke belakang, seakan-akan ada yang ditunggu-tunggunya. Bahkan kemudian dengan enaknya orang itu duduk di bawah pohon nyamplung itu, di sisi jalan yang lain, sambil memeluk lututnya.
Sawung Sariti menggeram perlahan-lahan. ”Gila!” pikirnya, ”Apa kerjaannya orang itu?”
Namun disabarkannya hatinya untuk sesaat. Barangkali orang itu akan segera pergi. Sebab, pada saat orang itu muncul di tikungan, nampaknya ia akan tergesa-gesa. Namun kenapa tiba-tiba orang itu duduk saja dengan enaknya di hadapannya? Sesaat sudah berlalu. Sawung Sariti masih mencoba menunggu. Tetapi akhirnya ia menjadi gelisah dan semakin marah. Arya Salaka pasti hampir tiba. Kalau orang itu masih duduk di situ, maka ia dapat mengganggu pekerjaannya, atau kalau terpaksa orang itu pun harus ditiadakan, untuk menghilangkan jejak. Maka akhirnya Sawung Sariti tidak sabar lagi. Ia takut kalau Arya Salaka segera akan datang. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat dengan garangnya, sambil mengacungkan pedangnya kedada orang itu.
”Apa pekerjaanmu di sini?” bentaknya.
Orang itu terkejut bukan main. Tiba-tiba ia menjadi gemetar, jawabnya, ”Aku, aku tidak apa-apa.” ”Kalau begitu. Tinggalkan tempat ini segera,” perintah Sawung Sariti.
”Kenapa?” tanya orang itu.
”Tidak ada-apa,” jawab Sawung Sariti ”Tetapi pergi sekarang.”
Orang itu pun berdiri dan akan melangkah pergi ke arah darimana ia datang.
”Jangan ke sana,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau orang itu akan berpapasan dengan Arya Salaka dan akan memberitahukan apa yang terjadi dengan dirinya.
”Ke mana?” tanya orang itu.
”Ke sana,” kata Sawung Sariti menunjuk ke arah yang berlawanan.
”Aku tidak punya keperluan di sana,” jawab orang itu.
”Aku tidak peduli. Pergi ke sana, cepat,” Sawung Sariti menjadi semakin marah
”Kau datang dari arah sana, kemudian apa perlumu kalau kau tidak mempunyai keperluan ke arah yang lain.”
”Aku hanya akan datang ke bawah pohon nyamplung ini,” jawab orang itu, ”Aku telah bermimpi, bahwa aku pada saat ini harus berada di sini.”
”Jangan banyak cakap. Pergi sekarang,” bentak Sawung Sariti.
Orang itu menjadi bingung. Karena itu malahan ia berdiri saja seperti patung. Galunggung akhirnya tidak sabar sama sekali melihat orang itu masih berdiri di sana dengan mulut ternganga.
Ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, ”Binasakan saja orang itu, sebelum anak itu datang.”
”Jangan, jangan!” teriak orang itu.
”Jangan berteriak,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau Arya mendengarnya. Namun dengan demikian waktu mereka menjadi semakin sempit. Dan sejalan dengan itu, pikiran Sawung Sariti pun menjadi semakin kisruh. Ia tidak mau gagal kali ini. Karena itu, akhirnya ia sependapat dengan Galunggung. Orang itu harus disingkirkan.
Meskipun demikian ia masih mencoba sekali lagi membentaknya, ”Pergi, cepat!”
Tetapi orang itu tidak segera pergi. Ia masih berdiri saja seperti orang yang kehilangan kesadaran.
Karena itu maka Sawung Sariti tidak bisa berbuat lain daripada menyingkirkannya dengan paksa.
Karena itu katanya, ”Singkirkan dia, Galunggung.”
Galunggung yang sejak tadi sudah kehilangan kesabaran segera menggeram sambil meloncat. Pedangnya tepat mengarah ke hulu hati orang yang masih berdiri kebingungan itu. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang tak pernah dibayangkan. Dalam mimpi pun tidak. Orang itu, dengan tangkasnya memiringkan tubuhnya. Dengan demikian, maka pedang Galunggung menyentuhpun tidak. Sehingga Galunggung terseret oleh kekuatan sendiri dan terhuyung-huyung beberapa langkah ke depan.
Pada saat ia berusaha memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba terasa sebuah genggaman mencengkam rambutnya. Dan oleh sebuah tarikan yang kuat, ia terseret kedepan. Ia kemudian tidak mampu menolong dirinya, ketika tiba-tiba terbanting tertelungkup, masuk persawahan yang basah.
SAWUNG SARITI melihat peristiwa itu dengan mata yang terbelalak, yang dilihatnya adalah Galunggung itu terjerembab. Karena itulah, hatinya menjadi menyala-nyala. Pedangnya pun cepat bergerak ke dada orang yang menyakitkan hati itu.
Tetapi sekali lagi Sawung Sariti terkejut, pedangnya pun sama sekali tak menyentuh orang itu. Dengan demikian Sawung Sariti akhirnya mengetahui, bahwa orang itu bukanlah sekadar seorang yang berkeliaran di malam hari dalam keadaan yang belum tenang benar.
Dengan gerakan-gerakannya dan caranya membebaskan diri, baik dari tikaman pedang Galunggung maupun dari tusukan pedangnya sendiri, tahulah Sawung Sariti, bahwa orang itu sebenarnya orang yang berilmu. Dengan demikian, Sawung Sariti menjadi bertambah gelisah dan marah. Usahanya untuk membinasakan Arya Salaka belum berhasil, dan kini dijumpainya lawan yang tak dapat diperingan.
Ternyatalah kemudian, ketika Sawung Sariti mengulangi serangannya, maka dengan tangkasnya orang itu berkisar dan meloncat, namun terdengar mulutnya berkata, ”Ki Sanak, aku tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Kenapa kalian berusaha untuk membunuh aku.”
Sawung Sariti sudah benar-benar dibakar oleh nyala kemarahannya, maka terdengar ia menjawab, ”Kau telah mengganggu pekerjaanku. Karena itu kau harus binasa.”
”Aku tidak mengganggu Ki Sanak. Aku hanya sekadar memenuhi mimpiku sore tadi, bahwa aku harus datang di bawah pohon nyamplung ini,” sahut orang itu.
”Omong kosong!” bentak Sawung Sariti, sementara itu pedangnya berputar semakin cepat dalam ilmu keturunan Pangrantunan. Suatu ilmu yang sukar dicari bandingnya. Apalagi Sawung Sariti memiliki kelincahan yang cukup, sehingga pedangnya seakan-akan berubah seperti asap yang bergulung-gulung melanda lawannya.
Lawannya itu pun berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. Seperti bayangan saja, ia meloncat-loncat dengan cepatnya, seakan-akan tubuhnya sama sekali tak memiliki berat. Ia meloncat dari sana kemari, berputar dan melingkar, kemudian mirip dengan seorang yang sedang bermain-main berputar di udara. Ia selalu menghindari saja setiap serangan yang datang.
Dalam pada itu Galunggung pun telah bangun kembali. Wajahnya dikotori oleh lumpur liat yang basah. Beberapa kali ia mengibas-kibaskan rambutnya. Ikat kepalanya telah hilang terlempar jauh. ”Setan!” geramnya. Tetapi ia pun terbelalak ketika ia melihat orang yang akan dibunuhnya itu bertempur melawan Sawung Sariti.
Ia tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin orang itu dapat menyelamatkan diri sampai beberapa lama. Sedangkan agaknya Sawung Sariti telah benar-benar berusaha membunuhnya. Karena itu, timbullah maksud Galunggung untuk membantu momongannya. Dengan hati-hati mendekati pertempuran itu. Ia melihat pedang Sawung Sariti bergulung-gulung seperti asap putih yang melibat lawannya, namun ia melihat lawannya itu seperti anak kijang yang menari-nari keriangan di padang rumput yang hijau. Berloncatan kian-kemari, bahkan sekali-kali orang itu berkata nyaring, ”Katakanlah Ki Sanak. Apa salahku?”
”Persetan!” teriak Sawung Sariti.
Ia sudah lupa bahwa Arya Salaka akan dapat mendengar teriakannya itu. Bahkan pedangnya menjadi semakin cepat berputar. Galunggung kemudian tak mau membiarkan pertempuran itu berlangsung lama lagi. Ia masih ingat bahwa kedatangan mereka di tempat itu adalah menunggu Arya Salaka. Karena itu, sekuat-kuatnya, ia ingin membantu Sawung Sariti. Sebab sebenarnya Galunggung pun memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan. Dengan garangnya Galunggung meloncat sambil menggeram. Pedangnya lurus memotong gerakan bayangan yang sedang menghindari serangan Sawung Sariti.
Namun malanglah nasibnya. Tiba-tiba terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai pelipisnya.
Demikian dahsyatnya, sehingga terasa seakan-akan bintang-bintang yang melekat di langit rontok bersama-sama menimpa dirinya. Sekali lagi Galunggung terlempar ke sawah. Kini ia jatuh terlentang. Namun, tiba-tiba dadanya berdesir ketika terasa bahwa pedangnya sudah tak berada di tangannya lagi.
Dengan susah payah ia mencoba menguasai dirinya. Perlahan-lahan Galunggung mengangkat wajahnya.
Dan sekali lagi jantungnya berdentang keras ketika dilihatnya, pedangnya sudah berada di tangan lawan Sawung Sariti itu. Dengan demikian, kini ia menyaksikan sebuah pertarungan pedang yang nggegirisi.
Masing-masing bergerak dengan tangkas dan tangguhnya. Namun akhirnya terasa bahwa lawan Sarung Sariti itu memiliki kekuatan dan kecepatan melampaui Sawung Sariti sendiri. Dengan demikian, beberapa saat kemudian, Sawung Sariti sudah harus mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ternyata ia telah salah langkah. Sebelum melawan Arya Salaka, sudah harus ditemuinya lawan yang tangguh dan bahkan memiliki tata gerak yang melampauinya.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya