Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 131
LEMBU SORA segera meloncat, menyambar bajunya dan sambil berjalan tergesa-gesa, ia mengenakan baju itu di sepanjang jalan, sambil berteriak, "Cari Sawung Sariti. Beritahukan kepadanya, bahwa aku menghadap Kakang Gajah Sora untuk menyerahkan segala kesalahan."
Tetapi ketika ia sampai di halaman banjar desa itu, dan melihat bayangan kakaknya berdiri di muka pintu seperti sikap seekor gajah yang sedang marah, ia menjadi ragu-ragu. Apakah kakaknya nanti tidak tiba-tiba saja memukul kepalanya selagi ia sedang memeluk kakinya? Apakah ia masih berhak memanggil orang yang berada di muka pintu itu dengan sebutan Kakang? Karena keragu-raguannya itu, dan karena kesadaran diri akan kesalahannya yang bertimbun-timbun, ia beberapa kali terhenti. Bahkan yang terakhir, kurang beberapa langkah lagi, ia sudah tidak dapat lagi memaksa dirinya untuk maju. Bahkan tiba-tiba ia melihat ketegangan sikap kakaknya, dan tanpa sadar, ia pun menarik kakinya merenggang.
Tiba-tiba muncullah ayahnya. Dan bersamaan dengan itu, kembali pulalah pikirannya yang jernih. Ia datang untuk minta maaf kepada kakaknya itu. Apakah kakaknya akan memaafkannya atau tidak, bukanlah soalnya. Apakah kakaknya akan memukul hancur kepalanya dengan Lebur Seketi, juga bukan soalnya. Karena itu sekali lagi ia memaksa diri, mengusir ketakutannya untuk melihat kesalahan dirinya sendiri.
Dengan langkah yang gemetar, Lembu Sora mendekat Gajah Sora. Tetapi ia tidak berjongkok dan memeluk kaki kakaknya. Yang dilakukan hanyalah mengulurkan kedua tangannya sambil membungkukkan punggungnya dalam-dalam. Dari mulutnya keluarlah suaranya berdesir lambat, "Kakang Gajah Sora...."
Gajah Sora masih berdiri tegang. Di belakangnya, di mulut pintu telah berdiri beberapa orang berdesak-desakan. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Paningron dan Gajah Alit.
Terasa sesuatu bergolak di dadanya. Sebagai manusia biasa, sulitlah baginya untuk melenyapkan segala kenangan pahit yang harus ditelannya. Semuanya itu adalah akibat dari perbuatan adiknya itu.
Ki Ageng Sora Dipayana melihat pergolakan di hati anaknya yang tua. Ia pun bisa mengerti, betapa pedih hatinya selama ini. Namun bagaimanapun juga keduanya adalah anaknya. Apalagi pada saat terakhir, Lembu Sora telah menemukan kembali jalan kebenaran. Karena itu ia berkata, "Adikmu telah lama menunggumu. Dalam limpahan kasih keluarga Pangrantunan, ia telah menemukan titik-titik terang dalam hidupnya."
Gajah Sora menahan nafasnya. Perlahan-lahan tangan kanannya bergerak. Akhirnya dengan hati kosong, disambutnya tangan adiknya. Tetapi ia terkejut ketika Lembu Sora tidak saja menggenggam tangannya itu erat-erat, tetapi diciumnya, dan dibasahinya tangan itu dengan air mata. Dada Gajah Sora pun bergetar. Darahnya yang serasa menggelegak sampai ke lehernya oleh perasaan marah, dendam dan muak yang meluap-luap ketika melihat adiknya itu, kini perlahan-lahan mengendap kembali ke dalam hatinya.
Ki Ageng Lembu Sora seorang laki-laki yang tak mengenal takut, seorang laki-laki yang bergegayuhan setinggi awan, yang berkelana di langit biru, yang karenanya telah melupakan tata subasita, bahkan telah melupakan kulit daging sendiri, kini seperti kanak-kanak yang kehilangan barang mainannya, menitikkan air mata sambil menggenggam tangan kakaknya.
Ki Ageng Gajah Sora pun runtuhlah hatinya. Dikenangkannya pada masa kanak-kanak mereka. Pada masa-masa mereka sering bertengkar dan berkelahi berebut barang mainan. Kalau Gajah Sora sedang asyik membuat mainan dari kayu atau dari bambu, kemudian datang Lembu Sora yang kecil merebutnya. Kadang-kadang Gajah Sora yang belum puas menikmati permainannya pun menjadi marah dan berusaha merebut permainan itu kembali. Tetapi Lembu Sora mempertahankan dengan tangisnya.
Kalau demikian, akhirnya runtuhlah pertahanan hati Gajah Sora. Ia tidak akan meminta permainan itu kembali. Seandainya, seandainya saat inipun tiba-tiba Lembu Sora berkata, "Kakang, aku iri hati melihat kamukten Banyubiru. Aku ingin untuk ikut menikmatinya. Betapa rinduku kepada suatu masa yang gemilang dari perjalanan hidupku, dengan memiliki daerah bekas tanah perdikan Pangrantunan seutuhnya," Berserahlah Lembu Sora.
Tetapi, tetapi seandainya Lembu Sora datang kepadanya dengan tangan bertolak pinggang. Menuding di depan hidungnya sambil berteriak, "Minggat kau Gajah Sora. Banyubiru adalah milikku."
Seandainya demikian, maka pasti akan ditengadahkan wajahnya, dan akan dijawabnya dengan lantang, "Marilah Lembu Sora, lampaui mayatku dahulu." Tetapi, tetapi yang terjadi bukanlah demikian. Lembu Sora tidak menangis untuk meminta kemukten Banyubiru, dan Lembu Sora tidak bertolak pinggang untuk menantang kakak kandungnya sendiri. Baru saja, dalam saat yang pendek dialami, betapa pahitnya daerah Pamingit yang dilanda oleh arus peperangan. (Bersambung)-c
BETAPA pedih hati Lembu Sora melihat api yang menelan rumah-rumah dan banjar-banjar desa, mendengar pekik tangis perempuan dan anak-anak yang berusaha untuk memperpanjang hidupnya.
Betapa ngeri perasaan anak-anak melihat darah yang bercucuran dan betapa tertekan jiwanya melihat ayahnya diseret ke jalan-jalan. Tetapi peperangan itu sendiri serasa menjadi sahabat yang paling karib dari manusia. Setiap kali akan datang kembali, mengunjungi sahabatnya. Kalau tidak, maka sahabatnya itulah yang bertingkah mengundangnya.
Ternyata dalam sejarah hidup manusia yang ditulis di lontar-lontar, kitab-kitab kidung dan di lontar-lontar yang lain, selalu akan berulang kembali kata-kata: perang, perang, perang! Meskipun setiap mulut akan mengutuknya sebagai hantu yang paling menakutkan, tetapi seperti juga kekasih yang selalu dirindukan. Tidak saja negara-negara besar di Nusantara sendiri yang timbul dan tenggelam setelah pacah perang-perang besar, seperti Mataram Lama, Jenggala, Kediri, Pajajaran, Majapahit, dan bahkan ceritera-ceritera yang dibawa oleh para perantau, para pelaut dan pedagang asing di pantai Nusantara.
Negara-negara Parangakik, Ngerum, negara-negara Cina dan Jepang yang berebut pengaruh, selalu diakhiri oleh tangis para janda dan anak-anak karena suami dan ayah mereka lenyap dengan mengerikan sekali dalam kebiadaban api peperangan. Peperangan yang paling terkutuk, yang selalu terjadi di bumi Nusantara sejak masa-masa pemerintahan Senduk di Mataram Lama, Jayabaya dan Jayasaba, sampai pada masa-masa pemerintahan Tumapel Kediri dan seterusnya, pecahnya Majapahit, adalah karena perang saudara. Pemberontakan Peregreg, dan sebagainya, adalah permulaan dari kemunduran Majapahit. Karena itulah, didasari pada kesadaran yang demikian, setelah kepalanya sendiri hampir terbentur hancur, Lembu Sora sempat melihat dalam dirinya. Ia tidak mau mengalami nasib yang demikian. Kehancuran mutlak atas Pamingit dan Banyubiru. Yang membelit dirinya kini adalah penyesalan. Penyesalan yang menghujam ke dalam jantung kalbunya.
Dan ia belum terlambat.
Gajah Sora pun kemudian telah bersiap sebagai seorang kakak yang baik. Sambil menepuk bahu adiknya, ia berkata perlahan-lahan. ”Masuklah Lembu Sora.” Lembu Sora tidak bisa menjawab. Mulutnya tersumbat. Tetapi ia mengangguk dan melangkah ke pintu. Yang berada di pintu pun telah duduk kembali ke tempatnya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Gajah Alit dan Paningron, kemudian Arya Salaka, Wilis dan Widuri. Disusul kemudian Gajah Sora dan Lembu Sora, sedang yang terakhir kali menempati tempatnya adalah Ki Ageng Sora Dipayana.
Mula-mula terasa betapa hatinya bergelora ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat siapa saja yang hadir di dalam ruangan itu. Apalagi ketika ia melihat dua orang yang berpakaian lengkap sebagai prajurit-prajurit Demak. Jelas terbayang di kepalanya, bagaimana ia dengan orang-orang golongan hitam, mencegat laskar Demak, lima enam tahun yang lampau. Bagaimana pada saat itu Mahesa Jenar telah menyergapnya.
Tetapi kemudian hati Lembu Sora menjadi sumeleh. Ia pasrah pada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Ia akan menerima kebenaran tertinggi. Sebab kemudian ia yakin, bahwa kebenaran tidak dapat dipaksakan oleh manusia, meskipun manusia seluruh dunia mengakuinya. Namun oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kebenaran yang berjalan di atas firman-Nya.
Tetapi sesuatu telah terjadi di luar halaman banjar desa itu. Dua pasang mata telah menyaksikan betapa Ki Ageng Lembu Sora menangis. Dan wajah kedua orang itupun menjadi merah karena marah. Seorang berperawakan kokoh dengan jalur-jalur ototnya yang menjorok di seluruh permukaan kulitnya. Orang itu adalah Galunggung, sedang yang lain, seorang anak muda sebaya dengan Arya Salaka, putra Ki Ageng Lembu Sora sendiri.
”Perempuan,” bisik Sawung Sariti.
”Ayah Angger Arya Salaka terlalu perasa,” sahut Galunggung.
"Apa yang kira-kira dilakukan Ayah? Menyerah kepada nasib? Atau malahan menyerahkan Pamingit sebagai tebusan dirinya?” Sawung Sariti meneruskan sambil mencibirkan bibirnya.
”Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh dua orang prajurit dari Demak itu di sini?” tanya Galunggung tiba-tiba.
Sawung Sariti mengerutkan keningnya. ”Entahlah,” jawabnya, ”Mungkin ia akan menangkap Ayah, karena Ayah pernah mencegat laskar Demak, dahulu.”
Mata Galunggung yang seperti burung hantu itu tiba-tiba menjadi suram. Ia menarik nafas sambil mengeram, katanya, ”Kalau benar, aku kira lebih baik hancur daripada menyerah.”
”Apakah kau sangka yang dua orang itu mampu menghancurkan kita?” kata Sawung Sariti dengan nada yang tinggi. (Bersambung)-b
GALUNGGUNG menyahut, ”Laskarnya, apakah kira-kira hanya dua orang itu saja?”
”Jangan pikirkan itu,” potong Sawung Sariti, ”Barangkali ia mengawal Paman Gajah Sora yang hanya sekadar boleh menengok keluarga. Tetapi yang penting bagiku adalah Arya Salaka. Apakah Paman Gajah Sora kembali memerintah di Banyubiru atau tidak, kalau Arya Salaka dapat aku lenyapkan, maka akhirnya Pamingit dan Banyubiru akan jatuh di tanganku dengan sendirinya.”
”Angger benar. Tak ada orang lain yang dapat mewarisi kedua daerah ini secara sah selain Angger Sawung Sariti,” jawab Galunggung.
Sawung Sariti tersenyum. Seolah-olah ia telah memastikan dirinya untuk menerima warisan dari ayahnya atas Pamingit dan dari pamannya Gajah Sora atas Banyubiru. Meskipun dengan demikian ia harus duduk di atas bangkai kakak sepupunya.
”Marilah kita pergi,” ajak Sawung Sariti.
”Tidaklah Angger akan menghadap Pamanda Gajah Sora?” tanya Galunggung.
Sawung Sariti mencibirkan bibirnya, jawabnya, ”Buat apa?”
Keduanya pun melangkah pergi. Tak seorangpun yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Sawung Sariti. Dan keduanya pergi tanpa menarik perhatian seorang pun. Sebagaimana mereka datang dari dalam gelap, berhenti dan berdiri menyaksikan apa yang terjadi di halaman banjar desa dari dalam gelap, mereka pun lenyap ditelan oleh kegelapan.
Di Banjar Desa, pembicaraan-pembicaraan telah mulai berlangsung lancar sekali. Paningron, meskipun tidak dengan tegas, namun disindirnya, bahwa ia tidak akan mengambil suatu tindakan apapun terhadap Banyubiru dan Pamingit, karena peristiwa pencegatan lima tahun lampau, sebab menurut laporan yang masuk ke Demak, pencegatan itu dilakukan oleh golongan hitam.
Sesaat kemudian di halaman itupun dikejutkan oleh suara tawa yang tinggi nyaring. Kemudian masuklah ke halaman itu seorang tua yang bertubuh tinggi, kekurus-kurusan. Dengan suara yang berderai, ia bertanya kepada anak-anak yang duduk di halaman, ”Siapakah yang berada di dalam?”
”Penuh, Ki Ageng,” jawab salah seorang.
Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Katanya, ”Seseorang memberitahu kepadaku, katanya Anakmas Mahesa Jenar telah datang, bersama-sama dengan beberapa orang lain, di antaranya dua orang gadis. Adakah Rara Wilis bersamanya?”
Yang ditanya oleh Ki Ageng Pandan Alas, kebetulan adalah anak-anak Banyubiru, yang memang mengenal Rara Wilis.
Dari lubang pintu mereka memang melihat gadis itu berada di dalam. Maka salah seorang menjawab, ”Ya, Ki Ageng, salah seorang di antaranya adalah Rara Wilis.”
Ki Ageng Pandan Alas tertawa. ”Aku sudah rindu kepadanya,” katanya. Dan suaranya itu terdengar dari dalam ruangan Banjar Desa. Maka berkatalah Ki Ageng Sora Dipayana, ”Angger Rara Wilis agaknya eyangmu telah datang.”
”Ya, Eyang,” jawabnya, ”Aku sudah mendengar suaranya.”
Pada saat itulah Ki Ageng Pandan Alas muncul. Bagitu saja ia langsung masuk ke dalam Banjar. Tetapi ia tertegun, ketika dilihatnya banyak orang lain. Di antaranya, bahkan dua orang prajurit dalam pakaiannya.
”Silahkan Ki Ageng,” Ki Ageng Sora Dipayana mempersilahkan.
”Uh!” sahut Ki Ageng Pandan Alas, ”Aku kira hanya orang-orang kita sendiri, tetapi agaknya ....” suaranya terputus, lalu sambil berjalan berjongkok ia maju ke depan Gajah Sora sambil berkata, ”Bukankah ini Angger Gajah Sora seperti yang kau katakan, Ki Ageng?"
Ia berkata Ki Ageng Sora Dipayana, namun tangannya terancung kepada Gajah Sora. Dengan serta merta Gajah Sora menyambut salam itu, sambil membungkuk hormat ia menjawab, ”Terimakasih, Paman.”
Baru kemudian Ki Ageng Pandan Alas sempat menyapa cucunya Rara Wilis.
”Kau bertambah kurus Wilis,” katanya. Rara Wilis menundukkan wajahnya. ”Tetapi jangan terlalu kau biarkan dirimu menjadi semakin kurus. Itu tidak baik. Apalagi bagi gadis-gadis,” kata eyangnya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Endang Widuri, ”Tidak Eyang, Bibi Wilis hampir setiap pagi dan sore minum jamu singset. Karena itu Bibi Wilis kian hari kian bertambah cantik.”
”Ah,” potong Wilis sambil mencubit lengan anak itu.
”Aduh!” Widuri mengaduh, namun ia tertawa-tawa saja.
Dengan hadirnya Ki Ageng Pandan Alas, ruangan itu bertambah ramai dan ribut. Namun juga bertambah panas. Apalagi sesaat kemudian Titis Anganten telah datang pula meramaikan pertemuan itu. Pertemuan dari sekelompok sahabat yang lama terpisah-pisah, namun kemudian berkumpul kembali dalam suasana yang menyenangkan.
Pembicaraan mereka berkisar kesana kemari tak menentu. Terasa seakan-akan waktu begitu sempit dan cepat. Karena itu mereka terpaksa menunda pembicaraan mereka sampai esok. Belum ada hal yang puas mereka dengar, baik dari Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara tentang Pasingsingan yang rangkap tiga. Juga dari Gajah Sora tentang pengalamannya di Demak, serta dari Ki Ageng Sora Dipayana, Pandan Alas dan Titis Anganten tentang lenyapnya laskar hitam dari Pamingit. (Bersambung)-c
AGAKNYA malam telah jauh. Dan pertemuan itu pun bubarlah. Masing-masing dibawa ke pondok yang sudah disediakan, meskipun berpencar-pencar. Malam menjadi sepi.
Namun Ki Ageng Gajah Sora tidak segera dapat beristirahat. Di halaman, anak-anak Banyubiru benar-benar menantinya, sehingga ia masih memerlukan waktu untuk menemui mereka. Berbicara dengan mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, yang kadang-kadang aneh-aneh. Tetapi dari mereka Gajah Sora juga mendengar bahwa anaknya, Arya Salaka, benar-benar luar biasa.
Jaladri pernah melihat Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Tidak saja dalam pertempuran besar beberapa hari yang lalu, tetapi di Gedong Sanga pun pernah dilihatnya. Ia sama sekali tidak menyangkal ceritera itu. Bukan sekadar ceritera yang berlebih-lebihan, namun ceritera itu benar-benar terjadi.
Dirinya sendiri pernah membuktikan betapa anak muda yang bernama Arya Salaka itu mampu melawannya.
Selagi Ki Ageng Gajah Sora duduk bersama dengan anak-anak Banyubiru, sebelum ia diantar ke pondoknya, Arya Salaka telah mendahuluinya bersama gurunya dan Kebo Kanigara. Tetapi ia pun tidak segera dapat tidur. Ketika gurunya dan Kebo Kanigara telah berbaring di ruang dalam, Arya Salaka masih duduk di muka pintu menunggu kedatangan ayahnya, yang juga harus beristirahat di tempat itu bersama-sama mereka. Sedang di pondok sebelah adalah tempat untuk beristirahat kedua prajurit dari Demak, Paningron dan Gajah Alit.
Ketika Arya Salaka sedang merenungi titik-titik yang jauh di dalam gelap malam, tiba-tiba dilihatnya seseorang lewat di muka pondoknya. Seorang tua yang berjalan seperti perempuan. Orang itu berhenti sejenak, lalu melambaikan tangannya kepada Arya Salaka. Arya Salaka yang sudah mengenalnya segera berdiri mendekatinya. Sambil membungkuk hormat, ia bertanya, ”Adakah sesuatu, Eyang Titis Anganten?”
”Aku ingin mengatakan kepadamu dalam pertemuan tadi, namun aku tidak sampai hati merusak suasana yang gembira itu. Sebenarnya masih ada sesuatu yang ketinggalan dari keluarga Banyubiru dan Pamingit,” jawab Titis Anganten.
Cepat hati Arya bergeser ke ibunya. Dahulu orang tua itulah yang memberitahukan kepadanya, bahwa ibunya selamat. Dan sekarang ia berkata tentang keluarga Banyubiru dan Pamingit yang tercecer.
”Ya,” sahut Arya, ”Agaknya Eyang Sora Dipayana tidak ingat lagi kepada ibu.
”Ah. Jangan berkata begitu Arya,” potong Titis Anganten, ”Eyangmu sudah tahu, kalau ibumu aku selamatkan. Agaknya ia segan untuk dengan tergesa-gesa menyuruhku mengambilnya. Karena itu dibiarkannya saja sampai aku datang membawanya kembali.”
Arya menundukkkan wajahnya. Terasa bahwa ia agak terlanjur menyangka eyangnya melupakan ibunya.
”Sekarang...” Titis Anganten meneruskan, ”Aku ingin mengembalikan ibumu. Justru ayahmu sudah lebih dahulu datang tanpa disangka-sangka.”
”Terimakasih, Eyang,” jawab Arya, ”Di manakah Ibu sekarang?”
”Masih di pengungsiannya,” sahut Titis Anganten, ”Aku kira keadaan telah benar-benar baik. Kalau kau tak keberatan, jemputlah. Tak usah orang-orang tua seperti aku.”
”Baik Eyang,” sahut Arya, ”Tunjukkan aku tempatnya.”
”Tidak terlalu jauh. Ibu serta bibimu aku sembunyikan di Sarapandan,” jawab Titis Anganten.
”Sarapandan,” ulang Arya.
”Ya, desa kecil yang tak berarti. Aku memang menyangka desa itu tak akan menarik perhatian. Dan ternyata memang demikian. Orang-orang dari golongan hitam itu sama sekali tak tertarik untuk singgah. Dan hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang dapat aku lakukan waktu itu. Untunglah, segera laskar Pamingit datang dari Banyubiru bersama-sama dengan eyangmu. Apalagi akhirnya laskarmu datang pula bersama gurumu dan Kebo Kanigara yang mengaggumkan itu,” kata Titis Anganten.
”Di mana letak dusun itu?” tanya Arya.
TITIS ANGANTEN memberinya sekadar petunjuk, namun kemudian katanya tanpa berprasangka, ”Ah, aku kira lebih baik pergi bersama-sama dengan Sawung Sariti.”
Arya mengerutkan keningnya. Sesuatu berdesir di dalam hatinya. Ia tidak tahu, perasaan apa yang menganggunya apabila ia mendengar nama saudara sepupunya. Namun ia tidak dapat berkata sesuatu kepada Titis Anganten.
”Arya...” Orang tua itu meneruskan, ”Aku kira Sawung Sariti telah mengenal semua sudut daerah Pamingit ini. Aku kira ia pun mengenal Sarapadan.Apalagi ibunya pun di sana.”
Arya masih berdiam diri, dan agaknya Titis Anganten tidak memperhatikan anak muda itu. Sebab ia segera berkata pula, ”Berkatalah kepada gurumu. Kalau kau temui Sawung Sariti ajaklah dia, kalau kau perlukan aku, aku pun bersedia.”
”Baiklah Eyang,” jawab Arya. Namun tidaklah baik baginya untuk mengajak orang tua itu. Dengan demikian ia akan menjadi anak manja yang tak dapat melakukan sesuatu tanpa pertolongan orang lain, namun pergi bersama Sawung Sariti pun ia agak segan-segan.
”Tetapi anak itu sudah baik,” pikirnya. Sementara itu kakinya melangkah tlundak pintu langsung ke pembaringan gurunya.
”Paman,” katanya perlahan-lahan ketika ia melihat gurunya masih belum tidur.
Mahesa Jenar mengangkat kepalanya, ”Ada apa Arya?” Maka dikatakannya apa yang didengar dari Titis Anganten.
”Kau akan pergi?” tanya Mahesa Jenar.
Arya Salaka menganguk sambil menjawab, ”Ya, Paman.”
”Kau tidak menunggu Ayah?” tanya Kebo Kanigara yang berbaring di bale-bale, di samping Mahesa Jenar. Tiba-tiba Arya ingin mengejutkan ayahnya. Kalau ayah datang nanti mudah-mudahan ia telah kembali bersama ibunya. Bukankah Sarapadan tidak begitu jauh? Meskipun seandainya ayahnya dahulu datang, kemudia baru ibunya pun, akan dapat menggembirakan hati ayahnya itu.
Karena itu ia menjawab, ”Tidak Paman. Aku ingin mengejutkan Ayah.”
”Dengan siapa kau akan pergi?” tanya Mahesa Jenar.
”Eyang Titis Anganten bersedia mengantarkan aku kalau aku memerlukannya. Kalau tidak, maka Eyang menyuruhku mengajak Sawung Sariti,” jawab Arya Salaka.
Mahesa Jenar bangkit dan duduk di bale-bale itu. Tampak ia sedang berpikir. Di dalam dadanya berdesir pula perasaan seperti perasaan di dada Arya Salaka. Namun ia pun berdiam diri.
”Aku segan untuk meminta Eyang Titis Angenten mengantarku,” kata Arya Salaka.
”Apakah Sarapadan tidak jauh?” tanya Kebo Kanigara.
”Tidak,” sahut Arya, ”Menurut eyang Titis Anganten, Sarapadan hanya berantara empat bulak besar kecil.
”Pergilah,” kata Mahesa Jenar kemudian, ”Tetapi berhati-hatilah. Jarak itu tidak terlalu jauh. Kau dapat membawa siapapun. Tidak perlu eyangmu Titis Anganten. Biarlah ia beristirahat. Juga tidak perlu Sawung Sariti. Setiap orang Pamingit akan dapat menunjukkan letak desa itu.”
”Baiklah Paman,” sahut Arya. Kemudian ia pun minta diri kepada gurunya dan kepada Kebo Kanigara. Ia bermaksud untuk pergi saja seorang diri. Sarapadan tidak terlalu jauh. Jalur jalannya pun telah ditunjukkan oleh Titis Anganten. Sehingga ia akan dengan mudah menemukannya, atau tidak akan dapat bertanya kepada siapa saja yang akan ditemuinya di perjalanannya. Peronda atau penjaga gardu.
Maka segera Arya pun berangkat. Malam menjadi semakin dalam. Namun bintang di langit bertebaran di segala penjuru. Angin malam yang dingin bertiup menghancurkan suara-suara anjing liar yang berebut makanan. Sekali-kali di kejauhan terdengar suara buruang hantu menggetarkan udara.
Tiba-tiba di sudut desa, Arya terhenti. Dilihatnya dua orang berdiri sebelah-menyebelah di kedua sisi jalan. Namun segera Arya mengenal mereka berdua, Sawung Sariti dan pengawalnya yang setia, Galunggung.
”Bukankah kau ini Kakang Arya Salaka?” sapa Sawung Sariti.
”Ya, Adi,” jawab Arya.
”Ke manakah Kakang akan pergi di malam begini?” tanya Sawung Sariti pula.
Arya Salaka menjadi ragu-ragu. Kalau ia berkata sebenarnya maka ada kemungkinan Sawung Sariti akan ikut serta. Padahal, meskipun ia telah berusaha untuk melupakan, namun berjalan bersama-sama dengan adiknya, ia masih terasa segan. Tetapi ia tidak menemukan jawaban lain, karena itu ia terpaksa menjawab dengan berterus terang.
”Aku akan menjemput Ibu ke Sarapadan.”
”Adakah Bibi Gajah Sora di Sarapadan?” bertanya Sawung Sariti.
”Ya,” jawab Arya singkat.
”Kalau demikian, ibuku juga di sana?” tanya Sawung Sariti pula.
”Ya,” jawab Arya pula.
”Dari mana Kakang tahu?” desak Sawung Sariti.
”Eyang Titis Anganten,” sahut Arya Salaka.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya