Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 125

KETIKA Anggara melihat lawannya berjuang pada tataran terakhir, ia pun segera memusatkan segela kemampuannya. Sehingga lambat laun, tampaklah bahwa petani miskin dari Pudak Pungkuran itu dapat mendesak lawannya. Sambil menggeram marah, Sura Sarunggi berusaha untuk melepaskan segala kesaktiannya. Namun ternyata Anggara memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Sehingga akhirnya Sura Sarunggi tak dapat berbuat lain daripada melepaskan ilmu terakhir, yang dinamainya Uler Kilan.

Ilmu yang luar biasa dahsyatnya. Meskipun pada dasarnya ilmu ini adalah ilmu gerak, namun Uler Kilan memiliki daya keampuhan yang nggegirisi. Sentuhan-sentuhan ilmu ini dapat menyebabkan lawannya menjadi nyeri dan panas, seperti tersentuh oleh ulat yang paling berbahaya berlipat seperti tersentuh oleh bisa ulat yang paling berbahaya berlipat seribu.

Dengan berteriak nyaring, Sura Sarunggi melenting tinggi. Kemudian menyambar lawannya dengan tangannya yang mengembang. Sedang tangannya yang lain masih juga mempermainkan cambuknya yang meledak-ledak mengerikan. Anggara yang melihat perubahan gerak lawannya, segara mengetahui, bahwa orang yang berkepala besar itu telah melepaskan ilmu terakhirnya.

Karena itu, iapun melontar mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Sebab, sudah pasti, untuk melawan ilmu sakti itu, ia pun harus mempergunakan rangkapan pula. Sura Sarunggi kemudian bertempur benar-benar seperti Ular Kilan. Jauh berbeda dengan gerak-gerak sebelumnya. Ia melenting-lenting dari satu tempat ke tempat lain dengan loncatan-loncatan panjang. Kemudian kembali ia menyerang dengan telapak tangannya.

Disusul dengan ledakan cambuknya memecah desir angin malam. Akhirnya Anggara pun tak mempunyai pilihan lain. Dalam sesaat ia telah berhasil membangun diri dalam kekuatan rangkapannya. Ilmu yang disusunnya bersama-sama dengan kakak seperguruannya, Radite, berdasarkan ilmu yang diterimanya dari gurunya. Ilmu yang tak kalah ampuhnya, yang dinamai Naga Angkasa.

Tiba-tiba Anggara dalam pakaian Pasingsingan itu mengembangkan tangannya, seperti seekor burung garuda. Jubahnya seolah-olah menjadi sayap-sayap yang selalu bergerak-gerak ditiup angin. Dalam kesiagapan tertinggi ia menanti lawannya menyerangnya kembali. Demikianlah kedua orang itu bertempur dalam tingkatan terakhir. Sura Sarunggi menjadi heran, kenapa Pasingsingan ini tak melepaskan aji Gelap Ngampar atau Alas Kobar, tetapi ia lebih senang melawan ilmunya dengan ilmu gerak pula.

Namun Naga Angkasa pun membawa udara yang aneh, yang seolah-olah mempengaruhi kesadaran lawannya. Naga Angkasa tidak sepanas Alas Kobar, namun pengaruhnya jauh melampauinya, sehingga dengan demikian, terasa bahwa ilmunya sendiri, Uler Kilan menjadi susut daya kemampuannya.

Meskipun demikian, Sura Sarunggi bukan tokoh yang baru lahir kemarin sore. Berpuluh-puluh tahun ia menekuni ilmunya. Karena itu, didesaklah ilmu itu sampai tapis. Dengan demikian, maka perlawannyapun menjadi bertambah sengit. Namun kembali kepada sumber kekuatan, yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Bagaimanapun setan dan iblis berusaha membangun kerajaan dengan dalih apapun juga, namun akhirnya kekuasaan Tuhanlah yang akan menang. Dan akan mulailah kerajaan Sorga yang abadi.

Semakin lama, semakin jelas, bahwa Naga Angkasa yang dahsyat itu, benar-benar dapat mendesak ilmu yang dinamainya Uler Kilan. Meskipun demikian, Uler Kilan yang kasar dan bengis itu benar-benar merupakan ilmu terkutuk dan luar biasa. Apalagi kemungkinan Sura Sarunggi itupun mempergunakan ilmunya yang lain, yang disebutnya Welut Putih, yang dapat meluluri kulitnya dengan keringatnya, sehingga ia menjadi selicin belut.

Kemudian Anggara terpaksa untuk kedua kalinya melepaskan ilmunya yang lain, ilmu yang benar-benar diterima dari gurunya secara murni, Alas Kobar, setelah ia berusaha menjauhkan lawannya dari pendapa. Sebab ia sadar, bahwa Alas Kobar akan memancar ke segala arah, sehingga dengan demikian ia memerlukan jarak untuk membebaskan orang-orang lain dari pengaruhnya. Terasa kini oleh Sura Sarunggi, bahwa lawannya itupun benar-benar bernama Pasingsingan. Tetapi ia tetap tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Meskipun demikian ia tidak mau berpikir lebih banyak lagi. Ketika terasa udara panas menyerangnya, iapun segera membentengi diri, untuk membebaskan panas yang melibatnya.

Namun dengan demikian, terasa bahwa ilmunya menjadi semakin susut. Kemampuannya tidak sedahsyat mula-mula. Naga Angkasa yang dirangkapi Alas Kobar benar-benar menjadikannya cemas. Tetapi kini benar-benar ia tak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Karena itu, bagaimanapun juga, ia harus mengurai segenap kemampuannya. Bahkan akhirnya ia menjadi seolah-olah putus asa, dan bertempurlah ia membabi buta. Dalam keadaan yang demikian itulah, akhirnya Sura Sarunggi benar-benar kehilangan perhitungan.

Ketika Anggara menyerangnya dengan dahsyat, ia mencoba untuk mengelakkan diri dengan melenting tinggi. Uler Kilan itu benar-benar telah membebaskannya, namun ketika ia berusaha untuk menyerang lawannya dengan cambuknya di tangan kiri dan kekuatan-kekuatan ilmu gerak Naga Angkasa, ia berhasil menangkap ujung cambuk Sura Sarunggi. Direnggutkannya cambuk itu kuat-kuat, namun Sura Sarunggi tak akan melepaskan senjatanya. Memang hal itu telah diperhitungkan oleh Anggara. Dengan demikian, karena Anggara merasa bahwa Naga Angkasa dapat melampaui, setidak-tidaknya menyamai kekuatan lawannya, ia mempunyai kemenangan waktu. Sura Sarunggi tersentak selangkah maju, namun selangkah itu telah menentukan saat terakhirnya. Ketika ia meluncur maju, pada saat yang bersamaan, Anggara meloncat maju. Pisau belati panjangnya bergerak dengan cepatnya menyambar leher lawannya. (Bersambung)-c

TETAPI Sura Sarunggi tak mau mati. Dengan gerak naluriah, ia terpaksa melepaskan cambuknya dan membungkukkan diri. Kali ini ia terbebas dari sambaran pisau itu, tetapi untuk kedua kalinya Anggara menyerang dengan tangannya mengenai tengkuk lawannya. Kekuatan Anggara benar-benar mengagumkan. Meskipun saat itu Sura Sarunggi dalam lambaran ilmunya, namun dengan kekuatan Naga Angkasa, pukulan tangan Anggara benar-benar seperti sambaran petir yang menghantam dari langit.

Demikianlah maka pertempuran itu sampai pada akhirnya. Sura Sarunggi, seorang yang selama ini menjadi tempat berlindung beberapa orang dari golongan hitam di Rawa Pening, dan yang telah melahirkan dua orang kakak-beradik Uling Putih dan Uling Kuning ke dalam lingkungan golongan hitam, kini tak dapat menghindarkan diri dari terkaman maut. Karena pukulan tengan Anggara yang berlambaran ilmu dahsyat itulah, maka terdengar gemeretak tulang lehernya. Sekali ia menggeliat dan melenting tinggi, kemudian ia terjatuh beberapa langkah dari lawannya. Meskipun demikian ia masih berusaha berdiri dan dengan mata yang merah menyala-nyala ia mengumpat dalam bahasa kasar, ”Setan belang, iblis laknat. Terkutuklah kau oleh jin dan peri....”

Kemudian Sura Sarunggi kehilangan segenap kekuatannya. Ia tak dapat mengumpat-umpat lagi, bahkan akhirnya ia terhuyung-huyung dan kemudian jatuh diam. Maut telah merenggutnya dari kehidupannya yang penuh dengan noda-noda hitam. Suaranya yang kasar dan keras itu telah mempengaruhi suasana di halaman itu. Semua orang menoleh kepadanya. Agak jauh di depan gelap mereka melihat orang berjubah itu berdiri tegak. Beberapa langkah di hadapannya terkapar lawannya.

Mantingan dan Wirasaba melihat peristiwa itu seperti peristiwa-peristiwa rentetan-rentetan kejadian-kejadian yang mengambang dalam hatinya. Ia menyaksikannya dengan perasaan yang kosong, setelah hatinya terampas oleh ketegangan yang terus-menerus. Meskipun demikian, sesuatu memancar di dalam dada mereka. Ketika melihat Sura Sarunggi jatuh tersungkur, menyalalah kelegaan di dada mereka. Sedang Rara Wilis dan Endang Widuri kini telah benar-benar menjadi tenang. Mereka telah dapat menilai, keadaan dengan baik. Mereka telah dapat meyakinkan diri mereka, bahwa Sura Sarunggi dan Pasingsingan yang datang bersama hantu Rawa Pening itu pasti akan dapat dikalahkan.

Kehadiran Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menjadi kunci penyelesaian apabila kedua orang berjubah yang lain tak mampu memenangkan pertempuran. Juga apabila kedua orang bertopeng yang tak mereka kenal itu, akhirnya akan mengambil alih perbuatan-perbuatan kedua orang yang lain itu.

Apalagi kemudian mereka melihat bahwa salah seorang dari dua orang yang menggoncangkan hati mereka telah dapat dikalahkan. Pasingsingan, guru Lawa Ijo itupun tak kalah terkejutnya mendengar sahabatnya mengumpat-umpat. Dengan satu loncatan panjang, guru Lawa Ijo melontar ke samping untuk mendapat waktu melihat apa yang terjadi atas Sura Sarunggi. Lawannya pun tidak melihat, bagaimana sahabatnya itu jatuh tersungkur di tanah, untuk kemudian tidak bangun kembali.

Terdengarlah Umbaran menggeram. Suaranya bergulung-gulung di belakang topengnya yang kasar. Kemudian terdengarlah ia berteriak putus asa, ”Ayo, majulah bersama-sama. Radite, Anggara, Mahesa Jenar dan kawanmu itu. Bersama-sama mati pulalah Mantingan, dan perempuan-perempuan yang tak tahu diri. Inilah Umbaran, tak akan mundur setapak.”

Suaranya menggelegar seperti suara guruh yang mengumandang di lembah yang berawa itu. Namun di balik suara yang garang itu, terasa betapa kecemasan dan keputusasaan menguasainya. Anggara masih berdiri di tempatnya, namun ia telah memutar tubuhnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih tegak seperti patung, dan Radite yang langsung berhadapan dengan Umbaran itupun belum juga bergerak.

Bahkan kemudian terdengar Radite itu berkata, ”Umbaran, Anggara terpaksa membunuhnya.”

”Persetan dengan Sura Sarunggi,” jawab Umbaran. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Mereka kini tahu dengan tepat, bahwa yang bertempur dengan Umbaran adalah Radite.

Dan kini mereka telah dapat membedakan, yang manakah Radite dan yang manakah Umbaran. Meskipun demikian, mereka tak akan mengganggu dua orang yang kakak-beradik seperguruan itu menyelesaikan masalah mereka.

”Umbaran...” kata Radite, ”Pergunakanlah saat-saat terakhir ini sebaik-baiknya. Pandanglah langit yang luas dan menjadi lapang pulalah hatimu. Menyebutlah nama Tuhan, dan kemudian bertobatlah.”

”Kenapa aku harus bertobat?” teriak Pasingsingan, ”Aku telah menempuh suatu perjuangan yang mengasyikkan, yang telah membentuk diriku menjadi seorang yang bercita-cita."

"Kau, aku, Anggara, Anakmas Mahesa Jenar dan Anakmas Kebo Kanigara itupun memiliki dosa masing-masing. Karena itu terhadap orang yang telah bertobat, tak seharusnya dilakukan sesuatu. Sebab kami sendiri pun bernoda. Kami akan memaafkan kau. Demikian juga guru kita. Hanya orang-orang yang terlepas dari dosalah yang berhak menghukum setiap orang yang telah bulat-bulat pasrah diri ke dalam lingkungan kebenaran. Dan orang yang demikian itu tidak ada di dunia ini. Karena itu apabila kau benar-benar bertobat, pasrah diri dengan tulus dan jujur, tak akan ada orang yang mendendammu.”

”Bah!” jawab Umbaran, ”Akan kau pikat aku dengan mulutmu. Bertempurlah dengan sikap jantan. Jangan membujuk dan menikam aku dari belakang.”

”Kejantanan seseorang tidaklah ditentukan dengan atau oleh senjata,” sahut Radite, ”Tetapi ditentukan oleh caranya menyelesaikan persoalan. Bagaimana ia menghargai cinta atas sesama, cinta yang dilimpahkan Tuhan kepadanya.”

”MARILAH kita selesaikan persoalan ini dengan cara yang sudah kita mulai,” kata Umbaran dengan lantang. ”Aku telah bertekad untuk membunuh dan mengikat kalian di belakang kaki-kaki kuda. Kalau kau akan berbuat demikian atasku, ayolah, majulah bersama-sama.”

”Kalau kami berbuat demikian atasmu, Umbaran...” kata Radite, ”Maka dosa kami akan berlipat ganda. Sebab kami tahu bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dosa dan bertentangan dengan perikemanusiaan. Dan dengan demikian, tak akan ada bedanya, siapakah yang dapat menikmati cinta abadi, dan manakah yang masih hidup dalam kegelapan.”

Tiba-tiba Pasingsingan yang juga bernama Umbaran itu tertawa dan tertawa. Suaranya menggelegar mengumandang. Namun ia tidak melepaskan aji Gelap Ngampar, sebab ia tahu, bahwa tidak akan ada gunanya. Tetapi ia tertawa karena berbagai perasaan bergulat di dalam dadanya. Marah, kecewa, cemas dan putus asa.

Pada saat yang demikian, seakan-akan berdatangan kenangan masa lampaunya. Sejak masa kanak-kanaknya yang kelam. Ayahnya bukanlah seorang yang dapat dibanggakan. Ia adalah seorang penjudi besar, yang hampir setiap malam tak pernah menjenguk rumahnya. Seorang yang sanggup membunuh kawan bermainnya hanya karena uang seduwit, apalagi dalam persoalan-persoalan yang lebih besar. Sebagai lazimnya penjudi, ayahnya adalah seorang yang mabuk pada nafsu-nafsu keduniawian yang lain, makan, minum tuak dan perempuan. Meskipun ayahnya tidak termasuk dalam lingkungan penjahat, namun apa yang dilakukan tidaklah kalah kejam dan bengis daripada para penjahat.

Ibunya mula-mula hanya menahan hati. Dengan sedih ia berusaha hidup dan menghidupi anaknya, Umbaran. Tetapi lambat laun, perempuan itupun hanyut dalam arus kemiskinan jiwa. Ketika seorang laki-laki datang dan menyatakan belas kasihannya ketidakpuasannya selama ini kepada suaminya dan kesulitan yang disandangnya. Laki-laki datang dengan berbagai kesenangan. Uang, perhiasan dan nafsu. Maka berulang kalilah hal yang demikian itu terjadi. Laki-laki itu datang untuk kedua, ketiga, keempat dan ketigapuluh kalinya.

Sejak itu Umbaran menjadi liar. Tak ada perhatian atasnya sebagai anak-anak yang memerlukan cinta kasih orang tuanya. Ayahnya sibuk dengan dadu dan warna-warna di meja judi, sedang ibunya sibuk melayani laki-laki yang datang mengisi kekosongan hatinya.

Umbaran yang kecil, melihat kehidupan dari segi yang kelam. Mula-mula ia merasa sedih. Kemudian ia membenci laki-laki yang datang hampir setiap hari apabila ayahnya pergi. Ia benci kepada ayahnya yang hampir menguras habis segala kekayaan dan harta benda yang pernah dimiliki. Ia benci kepada segala-galanya. Akhirnya ia menerima keadaan itu sebagai hal yang sewajarnya. Sebagai hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Ia menganggap bahwa saat yang pendek dalam dunia ini harus diteguknya senikmat-nikmatnya. Tanpa menghiraukan masa-masa mendatang, tanpa menghiraukan jaman yang abadi yang akan ditandai oleh pengadilan bagi segenap umat manusia. Pada saat manusia harus menjawab tanpa dapat menyembunyikan peristiwa yang bagaimanapun kecil dan gelapnya. Sebab pengadilan Tuhan mengenal setiap manusia. Tuhan akan melihat, meskipun hanya setetes darah yang pernah ditumpahkan, selembar rambut yang pernah digugurkan, tanpa dapat dipungkiri.

Tetapi Umbaran tidak mengenal itu. Tak seorangpun yang pernah memperkenalkannya dengan kerajaan sorga. Tak seorangpun yang pernah berceritera kepadanya tentang kehadiran nabi-nabi di dunia.

Umbaran tak pernah mendengar semuanya itu. Ketika akhirnya ia mendengar juga, hatinya telah menjadi sekeras batu. Meskipun kadang-kadang hatinya terketuk juga, namun nafsunya yang melonjak-lonjak, yang dipupuknya sejak kanak-kanaknya, telah mendesak cahaya-cahaya yang menyorot ke dalam hatinya. Sehingga kemudian ia telah bertekad untuk menutup pintu serapat-rapatnya dari segenap pekabaran tentang kerajaan Allah yang Abadi.

Kalau terasa padanya, adanya kekuatan-kekuatan di luar kekuatan dirinya, di luar kekuatan manusia, maka ia mencoba untuk mencarinya pada alam, pada batu-batu besar, pada pohon-pohon beringin tua, pada relung-relung goa. Kepada kerajaan setan, ia mengabadikan dirinya untuk mendapat kekuatan-kekuatan ajaib. Namun kekuatan-kekuatan yang dilambari oleh kekuatan hitam, yang arahnyapun untuk membuat malapetaka dan bencana bagi umat manusia. Karena itulah ketika hatinya menjadi gelap, maka gelaplah seluruh isi bumi. Tak ada sedikitpun cahaya yang dapat memberinya arah.

Ketika ia harus berhadapan dengan Radite itupun, baginya seakan-akan dihadapkan ke tepi suatu jurang yang dalam dan kelam. Tetapi ia sudah bertekad untuk melompat ke dalamnya. Ia tidak tahu apakah di dalamnya akan dijumpainya istana gading yang indah, atau di sana akan dijumpainya kandang serigala lapar yang siap untuk menyobek-nyobek kulit dagingnya. Namun ia tidak peduli itu. Ia sudah basah kuyup di tengah-tengah arus sungai yang deras. Tak ada jalan kembali.

TANPA berkata sepatah katapun, akhirnya Umbaran membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya. Ketika kemudian semua kenangan masa lampaunya telah menghindar dari benaknya, suara tertawanyapun menjadi surut, dan akhirnya terdiam. Demikian mulutnya terkatup, dengan serta merta direnggutnya topeng yang selama ini menutupi wajah aslinya. Dan tampaklah wajah tampan seorang yang telah melampaui setengah abad. Matanya yang bulat besinar-sinar penuh nafsu, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Dengan geram topeng itu dibantingnya, dan terdengarlah ia berkata, ”Radite, tak ada artinya lagi bagiku topeng dan jubah ini. Sekarang Umbaran berhadapan dengan Radite dalam penentuan saat terakhir.”

Terdengarlah Radite menarik nafas. Ia mengeluh dalam hati melihat kekerasan hati Umbaran.

Namun perlahan-lahan tangannya bergerak membuka topengnya pula. Jawabnya, ”Marilah kita tidak berpura-pura lagi, tidak menjadikan diri kita orang-orang aneh yang hanya mengalutkan orang lain yang melihat kita. Marilah kita kembali kepada diri kita, manusia yang kercil, dan tak berarti. Marilah kita yang kecil ini mempersiapkan diri kita untuk mengharap Yang Maha Agung. Umbaran, berjanjilah. Persoalanmu akan selesai, dan akibatnya persoalan-persoalan lainpun akan selesai pula. Pengikut-pengikutmu pun akan sadar dari kekeliruannya, bahwa apa yang akan dicapainya selama ini tak akan bermanfaat bagi bebrayan manusia.”

Umbaran menggeram. Sekali lagi suara tertawanya terlontar mengerikan, katanya, ”Jangan mengigau lagi, Radite. Bersiaplah.”

Sebelum Radite menjawab, Umbaran telah menyerangnya kembali. Dengan gerak yang dahsyat penuh nafsu kemarahan ia mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan mirip dengan orang yang kehilangan akal. Meskipun demikian, gerak-gerak yang dilontarkan menjadi semakin berbahaya. Dalam keputusasaan, ia hanya mampu berpikir, ”Marilah kita mati bersama-sama.”

Radite kemudian telah kehilangan kesempatan untuk mengajak saudara seperguruannya itu menemukan jalan kembali. Kesalahan yang telah dilakukannya beberapa puluh tahun lampau seharusnya tak terulang lagi. Pada saat seakan-akan ia membuka pintu seluas-luasnya kepada Umbaran untuk melakukan kejahatan. Pada saat ia menyerahkan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan karena nafsunya yang tak terkendalikan. Meskipun pada saat itu, ia sama sekali tidak menduga, bahwa saudara seperguruannya itu tidak meneruskan naluri gurunya yang bijaksana dan penuh pengabdian kepada manusia, yang di dasarnya dengan sinar cinta yang abadi.

Demikianlah pertempuran itu kembali berlangsung dengan sengitnya. Umbaran yang putus asa bertempur seperti gelombang laut yang ganas, bergulung-gulung menghantam apapun yang ada di hadapannya, sedang Radite melayaninya seperti seekor burung rajawali, yang setiap saat mampu melontarkan diri ke udara, menghindari ancaman gelombang yang bagaimanapun dahsyatnya, untuk kemudian menukik dengan kuku-kukunya yang tajam dan paruhnya yang runcing, menghantam lawannya. Tak seorangpun yang berani mencampuri pertempuran itu. Apalagi Mantingan, Wirasaba, atau Wilis.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak beranjak dari tempatnya. Sedang Widuri masih berpegangan ujung baju ayahnya, seperti anak-anak yang takut hilang di tengah-tengah pasar yang ribut. Arya Salaka masih juga berdiri seperti patung. Namun hatinya berdebar menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan pertempuran itu dengan tegang pula. Mereka sadar bahwa yang dihadapinya adalah persoalan yang sama sekali berbeda dengan persoalan yang sedang berlangsung di Pamingit. Radite dan Umbaran tidak bertempur karena tanah perdikan Banyubiru, tidak karena mereka berebut Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak karena mereka berdua ingin memiliki kesempatan untuk menuju ke singgasana Demak. Kalau Umbaran bertempur dengan nafsu yang meluap-luap untuk mempertahankan cita-citanya tanpa mengenal surut, maka Radite bertempur dengan harapan untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, menghentikan kejahatan yang akan selalu dilakukan oleh Umbaran.

Radite sendiri sama sekali tidak ada nafsu untuk memiliki pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, tak ada nafsu untuk menjadi tetua para sakti dan tak ada nafsu untuk menempuh jalan ke singgasana Demak. Sebab ia tahu bahwa itu bukanlah haknya. Setiap orang yang mencoba untuk merebut hak itu tanpa wahyu keraton padanya, tanpa wahyu yang dilimpahkan oleh Yang Maha Esa, maka mereka pasti akan mengalami kegagalan, bahkan kehancuran, apabila mereka tidak segera menyadari kesalahannya.

Demikianlah pertempuran yang sengit itu berlangsung tanpa gangguan. Seakan-akan mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam gelap malam yang semakin pekat itu, bayangan mereka melontar-lontar melingkar-lingkar dengan cepatnya. Kini mereka telah tak bersenjata lagi. Mereka hanya percaya kepada kekuatan mereka, kepada kesaktian mereka. Meskipun demikian mereka sama sekali tak mempergunakan aji mereka, baik Gelap Ngampar maupun Alas Kobar, sebab mereka sadar bahwa ilmu-ilmu itu hanya akan berbenturan tanpa arti.

Mereka kini lebih mementingkan kepada kesempatan-kesempatan yang akan ditemuinya apabila lawannya berbuat kesalahan yang meskipun sekejap.

Mendung di langit menjadi semakin tebal dan tebal. Angin dari lembah kini sudah tidak bertiup lagi. Sambaran-sambaran tatit di langit yang kadang-kadang menyobek gelap malam menjadi semakin sering, dan guruhpun menggelegar tak henti-hentinya.

SESAAT kemudian, meledaklah petir di udara, yang kemudian disusul dengan hujan yang seperti dicurahkan dari langit. Butiran-butiran air yang besar berjatuhan di tanah, di genteng-genteng, di cabang-cabang pepohonan, dan di tubuh mereka yang dengan kaku berdiri di halaman Banyubiru. Hujan yang seperti tertuang dari langit yang yang pecah itu sama sekali tak mereka hiraukan. Bunyinya yang kemersak seperti banjir bandang tak mereka dengar, sebab perhatian mereka sedang terpaku pada pertempuran antara hidup dan mati dari dua orang yang bersaudara seperguruan.

Hanya Anggara lah yang kemudian bergerak dari tempatnya, tetapi tidak mencari tempat untuk berteduh. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati titik pertempuran, dimana kedua saudara seperguruannya sedang mengadu kesaktian, yang bersumber dari mata air yang sama. Namun dalam arus yang berikutnya, sungai yang satu tetap mengalirkan air yang bening, meskipun ada juga kotoran-kotoran yang hanyut di dalamnya. Sedang sungai yang lain benar-benar telah mengalirkan air yang keruh.

Anggara pun kemudian telah melepaskan topengnya. Ketika kedua saudaranya tak mengenakan topeng lagi. Ia sama sekali tak merasa perlu mempergunakannya. Di sela-sela bunyi gemersik dedaunan yang digerakkan oleh air hujan, kadang-kadang terdengarlah jerit yang memekakkan telinga, yang melontar dari mulut Umbaran dengan penuh kemarahan. Dan bersamaan dengan itu gerakannya pun menjadi semakin liar dan ganas.

Namun Radite telah bertekad untuk melayaninya habis-habisan. Meskipun sekali-kali timbul juga penyesalan di hatinya. Seandainya, ya seandainya dirinya pada saat itu tak terlibat dalam nafsu yang telah menjadikannya seolah-olah lupa pada keadaan diri, maka apa yang diprihatinkannya atas Umbaran itu tidak akan terjadi. Tetapi semua sudah terjadi. Yang harus dilakukan adalah menghentikan persoalan yang telah berlarut-larut dan yang menurut Anggara telah hampir terlambat. Terngiang kembali kata adik seperguruannya, ”Kakang, agaknya Kakang telah menunggu anak macan itu menjadi seekor macan yang ganas dan trengginas. Nah akhirnya pekerjaan Kakang akan menjadi sangat berat.”

Ternyata kata-kata itu benar. Pekerjaan Radite benar-benar berat. Umbaran telah menambah ilmunya dengan segala macam ilmu yang didapatnya dari daerah-daerah kelam, dari pohon-pohon beringin tua, dan relung-relung goa dan dari batu-batu besar dari bukit-bukit yang suram. Namun Radite pun telah matang pula dengan ilmunya. Selama ia bersembunyi di antara para petani miskin di Pudak Pungkuran bersama Anggara, sempat juga mereka menempa diri mendalami ajaran-ajaran gurunya lahir dan batin.

Meskipun mereka menganggap diri mereka telah hilang dari pergaulan para sakti, namun firasat mereka tetap menuntut untuk menjagai kemungkinan-kemungkinan, bahwa pada suatu saat mereka masih harus menampakkan diri. Karena itulah maka kali inipun Radite tidak dapat didesak oleh Umbaran. Bagaimanapun ganasnya Umbaran, namun dengan tangguhnya Radite melawan hantu yang terkenal dari alas Mentaok itu. Bahkan akhirnya ternyata bahwa Umbaran lambat laun harus merasakan betapa dahsyat ilmu yang dimiliki oleh Radite.

Tetapi Umbaran tidak lagi mendapat kesempatan untuk lari. Kalau tatit memancar di udara, jelas dilihatnya. Anggara, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdiri tegak di halaman itu. Mereka adalah orang-orang yang mengerikan bagi Umbaran. Mereka adalah orang-orang yang telah terbukti dalam melampaui kesaktian golongannya. Mahesa Jenar yang telah berhasil membunuh Sima Rodra itu terang tak dapat dikalahkan sejak di Gedong Sanga, Kebo Kanigara telah berhasil membunuh Naga Laut yang menamakan diri Nagapasa, sedang Anggara baru saja membinasakan sahabatnya Sura Sarunggi.

Kini ia sendiri harus bertempur melawan Radite. Dan ia merasakan betapa tangan lawannya menjadi sekeras baja dan seberat timah. Setiap sentuhan serasa meremukkan tulang sungsumnya. Namun demikian, hati Umbaran telah benar-benar dikuasai oleh iblis. Ia tidak mau melihat kenyataan. Ia tidak mau mendengarkan panggilan terakhir dari saudara seperguruannya itu. Pada saat-saat terakhir, ternyata bahwa ia semakin terdesak.

Di dalam hujan yang semakin lebat, tampaklah ia setapak demi setapak terdesak mundur. Meskipun Umbaran berusaha untuk menguasai keadaan, menyerang dengan dahsyatnya, sedahsyat hujan yang tercurah dari langit, namun Radite tak ubahnya seperti batu karang yang tegak perkasa, tak goyah oleh arus air dan angin yang bagaimanapun kencangnya. Meskipun hujan masih belum surut, namun berangsur-angsur gelap malam menjadi berkurang.

Api di ujung kota telah lama padam. Dari kejauhan, di sela-sela desir hujan di dedaunan dan di atap-atap rumah terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Lamat-lamat namun meyakinkan bahwa hari menjelang pagi. Sesaat kemudian terdengarlah suara riuh di luar halaman. Agaknya laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir orang-orang dari golongan hitam yang telah membakar rumah dan banjar-banjar desa, kini berdatangan di rumah kepala daerahnya. Mendengar suara riuh itu, dan mendengar ayam jantan yang berkokok di kejauhan, Umbaran menjadi bertambah gelisah. Seperti ia datang dari kerajaan setan, maka kedatangan fajar sangat menggelisahkan. Apalagi suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Karena itulah maka akhirnya ia menuntut saat terakhir dari pertempuran itu. Seperti orang gila ia menyerang sejadi-jadinya. Kini ia tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain, kecuali nafsu kemarahan dan keputusasaan. Karena itulah maka Umbaran mencoba untuk mempergunakan ajiannya Alas Kobar. Ia mengharap apabila ajinya tak dapat mempengaruhi lawannya atau Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Anggara setidak-tidaknya ia akan dapat membunuh Mantingan, Wilis dan Widuri.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya