Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 124
PASINGSINGAN guru Lawa Ijo itu tertawa panjang sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia tertawa dan tertawa untuk memuaskan hatinya. Sambil menunjuk kepada Sura Sarunggi dan lawannya ia berkata, ”Lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Anggara, penjagamu itu. Lihatlah, sebentar lagi ia akan binasa.”
Orang yang berdiri di samping Mantingan itu tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya, dan memandang kepada adik seperguruannya yang sedang bertempur.
Mereka berputar-putar dengan lincahnya, lontar-melontar seperti sepasang garuda yang sedang berlaga. Tangan mereka berkembang seperti sayap dengan senjata masing-masing.
Cemeti Sura Sarunggi meledak-ledak mengerikan, sedangkan sinar kuning pisau belati lawannya menyambar-nyambar seperti petir di langit yang kelam. Ujung cemeti Sura Sarunggi itu seolah-olah memiliki penglihatan, ke mana ia harus mematuk. Namun ujung belati lawannya seperti mempunyai mata, yang dapat melihat setiap serangan dari arah manapun juga.
Maka pertempuran itu menjadi semakin dahsyat dan dahsyat. Sura Sarunggi bertempur dengan kasar dan bengis, sedang Anggara melayaninya dengan tangkas dan tangguh.
Ketika mereka sudah berkelahi beberapa saat, Sura Sarunggi menjadi semakin heran. Lawannya dapat bertempur dengan gigihnya. Bahkan beberapa macam geraknya telah dikenalnya. Mirip dengan Pasingsingan sahabatnya itu. Karena itu timbullah beberapa pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang ini benar-benar Pasingsingan...?
”Tidak mungkin!” Pertanyaan itu dibantahnya sendiri.
Anggara pada saat itu memang sengaja bertempur dengan ciri-ciri perguruan Pasingsingan. Ia sengaja menunjukkan, bahwa dirinyapun memiliki ilmu seperti ilmu-ilmu ajaib dari orang yang bernama Pasingsingan itu. Bahkan beberapa gerak diulangnya supaya menjadi jelas bagi lawannya.
Guru Lawa Ijo masih tertawa keras-keras. Dan Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih memandangi Sura Sarunggi dan Anggara.
”Jangan membeku seperti batu,” tegur Umbaran, ”Sekarang apa katamu?”
Orang yang bernama Radite itu perlahan-lahan menoleh ke arah Umbaran, jawabnya,
”Marilah kita lupakan masa lampau. Marilah kita bina bersama masa depan perguruan kita.”
”Masa depanku jauh berbeda dengan masa depanmu. Jangan mengigau lagi. Pergi dan
bawa adikmu itu, atau kau berdua binasa.” Umbaran meneruskan, ”Jangan mimpi aku berlutut di bawah kakimu dan menyerahkan perempuan untuk kedua kalinya.”
”Jangan bicara tentang perempuan!” Radite membentak. Kesabarannya telah menjadi semakin tipis. Hatinya yang luka karena perempuan, kini terungkap kembali.
”Aku bicara tentang perempuan, supaya kau teringat kembali akan perjanjian kita. Kita tidak akan saling mengganggu,” sahut Umbaran.
”Aku tidak akan mengganggu gugat pusaka-pusaka yang telah kau miliki, ciri-ciri khusus Pasingsingan yang kau pakai, sedang kau tak akan mengganggu gugat perempuan itu,” jawab Radite. ”Tetapi aku berhak mengganggu gugat segala perbuatanmu yang terkutuk.”
”Kau iri hati,” kata Umbaran.
”Tidak,” jawab Radite, ”Aku mempunyai kepentingan sendiri. Aku tidak mau menanggung beban dosamu lebih banyak lagi karena kesalahanku, menyerahkan kesaktian Pasingsingan kepadamu. Sebab dengan demikian kau telah menarik diri dari persahabatanku dengan Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Angganten dan lain-lain. Bahkan kau telah menempatkan dirimu sebagai lawan. Nah, aku akan menghentikan semuanya itu.”
”Ha, itulah akibat nafsu gilamu kepada perempuan?” jawab Umbaran. Sengaja ia ingin memanaskan hati Radite. Mempengaruhinya dengan kelemahan-kelemahannya.
Tetapi dengan demikian Radite menjadi marah. Peristiwa itu adalah peristiwa yang paling pedih dalam hidupnya, karena itu setiap kali ia dihadapkan pada kenangan itu, setiap kali ia kehilangan kesabaran.
”Umbaran...” kata Radite dengan lantang, ”Kesabaran seseorang ada batasnya. Jangan menunggu demikian.”
Umbaran menjadi berdebar-debar. Apakah Radite benar-benar akan marah dan menyerangnya? Tetapi tak ada pilihan lain. Sura Sarunggi telah bertempur dengan gigihnya.
Keduanya berdiri tegak dengan tenangnya. Radite masih berusaha menguasai perasaannya, sedang Umbaran menjadi berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang berat.
Ia tidak segarang biasanya, yang langsung menikam lambung lawannya. Kali ini ia benar-benar memperhitungkan keadaan. Karena keragu-raguannya itulah ia masih berdiri tegak.
Ketika keduanya sedang berusaha menekan perasaan masing-masing, tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi kentongan, yang dipukul bergelombang-gelombang. Rog-rog asem.
”Setan,” desis Pasingsingan, ”Mereka datang.”
Radite mengangkat wajahnya. Lamat-lamat terdengar kentongan itu menjalar. Ia tidak tahu tanda apakah itu. Karena itu, ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan.
Namun karena itulah maka Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi bertambah bingung. Akhirnya ia kehilangan kejernihan dan kelicinan otaknya. Ia tahu benar, bahwa tanda itu mengabarkan kedatangan orang Banyubiru atau Pamingit. Mahesa Jenar atau Sora Dipayana dan kawan-kawannya. Akhirnya ia menjadi mata gelap. Sebab menyingkirpun tak ada kesempatan.
Karena itu, tanpa diduga-duga, ia meloncat dengan garangnya sambil berteriak nyaring. Pedangnya berkilauan menyambar leher Radite.
RADITE terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba itu. Sebenarnya ia masih mengharap agar mereka tidak perlu mempergunakan kekerasan, apalagi dengan tetesan darah. Tetapi Umbaran telah menyerangnya. Dengan demikian ia tak dapat berbuat lain daripada melawannya. Maka sesaat kemudian kedua Pasingsingan itupun telah bertempur pula. Masing-masing memegang pisau belati panjang di tangannya.
Umbaran dan Radie adalah dua orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari guru yang sama. Karena itu merekapun bertempur dengan ilmu yang sama pula. Tetapi ilmu mereka masing-masing telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan pengaruh keadaan dan waktu.
Ilmu Pasingsingan Umbaran telah berubah menjadi semakin kasar, keras dan kejam. Sedang ilmu Radite masih tetap dalam tataran yang bersih. Meksipun demikian tidak berarti bahwa Umbaran telah melampaui Radite dalam ketahanan tempurnya.
Dalam beberapa saat mereka telah lenyap dari bentuk mereka. Yang tampak hanyalah pusaran yang kelam dari jubah mereka yang abu-abu, di sela oleh cahaya kuning yang menyambar-nyambar mengerikan.
Umbaran yang mata gelap, bertempur dengan darah yang bergelora. Hatinya benar-benar telah dikuasai oleh nafsu yang ganas. Dan dari hidungnya seolah-olah terhirup udara maut. Dengan berteriak-teriak nyaring ia meloncat-loncat, menyerang dengan sengitnya. Pisaunya berputar-putar mengarah ke segenap bagian-bagian tubuh Radite.
Dalam kesibukan pertempuran antara hidup dan mati itu, terdengar Umbaran berteriak, ”Kalau kau masih belum mampu melenyapkan diri dari tangkapan mataku, jangan mengharap keluar dari halaman ini dengan ragamu.”
Radite diam saja. Namun ia bertempur terus. Sebenarnya dalam lekuk-lekuk hatinya yang terdalam, masih juga bermunculan perasaan sesal dan ngeri atas apa yang pernah terjadi pada dirinya. Tukar-menukar kehormatan. Tetapi ia sadar pula, bahwa apabila ia tidak cawe-cawe, maka Pasingsingan yang bernama Umbaran itu akan banyak menimbulkan bencana.
Kalau benar-benar ia berhasil memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka keadaan akan sangat berbahaya. Ia dapat menghadap Sultan Demak dengan laskar segelar sepapan, dan memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan, setelah ia menyatakan diri sebagai pemilik pusaka-pusaka sipat kandel itu.
Dengan landasan kekuatan golongan hitam dan daerah-daerah yang didudukinya, beserta kesesatan pandangan beberapa orang kawula Demak atas kepercayaan mereka, bahwa siapa yang memiliki Nagasasra Sabuk Inten akan mampu merajai Nusantara, maka Umbaran akan mendapatkan pengikut-pengikutnya.
Atau orang yang berotak licin itu dapat menempuh jalan lain. Ia dapat menggerakkan laskar hitam untuk menimbulkan bencana. Sebagai Pasingsingan, ia dapat menggulung daerah demi daerah. Namun kemudian sebagai Umbaran yang berwajah manis, ia menghadap Sultan dengan menyerahkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan demikian ia akan mendapatkan banyak kepercayaan dari Sultan. Akhirnya ia dapat melawan kekuasaan Demak dari luar dan dari dalam. Sementara itu ia harus mencuri keris-keris itu kembali.
Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin sengit. Masing-masing bertekad untuk memenangkan pertempuran. Meskipun Umbaran bertempur dengan kasar dan bengis, namun Radite bukan anak-anak yang baru dapat berdiri. Radite memiliki kematangan ilmu melampaui Umbaran, meskipun pada dasarnya Umbaran berguru lebih dahulu kepada Pasingsingan Sepuh.
Tetapi karena Umbaran kurang dapat menepati ajaran-ajaran gurunya, maka akhirnya ia terpaksa menghentikan usahanya mengisap ilmu yang luar biasa itu. Dan kini, dua orang murid dari perguruan yang sama itu berhadapan dan bertempur mati-matian.
Selain mereka yang bertempur, tak seorangpun yang menggerakkan tubuhnya oleh ketegangan yang semakin memuncak. Perhatian mereka seolah-olah terikat erat-erat pada pertempuran itu.
Kesempatan yang demikian itulah yang ditunggu Jaka Soka. Kalau ia terlambat mempergunakan waktu, sehingga Mantingan dan kawan-kawannya berhasil menguasai diri mereka, maka akan celakalah nasibnya. Dengan diam-diam dan sangat hati-hati ia berkisar, setapak demi setapak. Ia telah menemukan arah yang baik untuk menyembunyikan diri dan kemudian meninggalkan tanah perdikan yang seolah-olah menjadi panas, sepanas bara api baginya. Maka, dengan tidak menarik perhatian, akhirnya Jaka Soka berhasil menyelinap ke dalam gelap dan kemudian menghilang dari halaman itu.
Bagi Jaka Soka, lebih baik hidup di antara anak buahnya dan perempuan-perempuan yang dikumpulkan selama ini, daripada mati di Banyubiru. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang atasnya. Apakah orang akan mengatakannya pengecut, apakah penakut, ia tidak keberatan. Sebab pada dasarnya, meskipun golongan hitam itu nampaknya bekerja bersama-sama, namun mereka sama sekali tak memiliki kesetiakawanan yang jujur. Apabila mereka terbentur pada kepentingan diri, maka kepentingan bersama dapat dianggapnya tidak berlaku.
Sementara itu, Arya Salaka memacu kudanya seperti angin topan. Meskipun demikian, tarasa betapa lambatnya perjalanan itu. Kuda yang dinaikinya betapa malasnya, sehingga berkali-kali ia terpaksa mencambuknya.
Ketika dari kejauhan tampak api yang menyala, terdengar giginya gemertak. Tangannya yang memegang tombak pusaka Banyubiru terasa gemetar. Ia menjadi marah sekali. Ia menyesal, bahwa ia terlambat.
MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara berpacu di belakangnya. Kedua orang itu pun tak kalah gelisahnya. Juga kedua orang itu menyesal kenapa Sawung Sariti tidak segera mengabarkan kepada mereka, bahwa ada serombongan orang-orang dari golongan hitam yang pergi ke Banyubiru. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memacu kuda mereka dengan darah yang bergolak. Suara kaki-kaki kuda mereka berderap memecah sepi malam di atas tanah-tanah berbatu padas. Orang-orang yang menutup pintu serapat-rapatnya di tepi-tepi jalan, menjadi semakin gelisah mendengar derap kuda itu. Mereka memeluk anak-anak mereka semakin erat di dada mereka sambil berdoa, semoga Yang Maha Kuasa melindungi mereka dari bencana. Arya Salaka melihat dua tiga orang menyelinap ke halaman ketika kudanya menghambur terbang, tetapi ia tidak memperdulikannya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak begitu tertarik kepada orang-orang itu. Tetapi ketika kemudian terdengar bunyi kentongan, mereka menyesal. Agaknya orang-orang itu adalah para pengawas, yang harus mengamat-amati kedatangan orang-orang Banyubiru. Namun mereka tak dapat memutar kuda mereka kembali. Dengan demikian waktu mereka akan semakin habis. Ketika Arya Salaka akan membelok ke arah api yang menyala-nyala, terdengar Mahesa Jenar berteriak, ”Terus ke rumahmu, Arya.”
Arya menarik kekang kudanya sekuat-kuatnya, sehingga kuda itu meringkik dan berdiri tegak di atas kedua kaki belakangnya. ”Api,” jawab Arya. Pada saat itu kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berlari disampingnya, tidak ke arah api itu. Dan terdengarlah suara Mahesa Jenar tanpa menghentikan kudanya, "Itu adalah suatu cara untuk memancing kita. Aku telah mengenal akal itu".
Kembali Arya Salaka menggeretakkan giginya. Dengan cepatnya ia mencambuk kudanya dan berlari mengikuti gurunya. Mereka langsung pergi ke rumah kepala daerah perdikan yang sedang diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Ketika mereka semakin lama menjadi semakin dekat, maka dada merekapun semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, Arya masih belum sadar benar akan keadaannya, sehingga dengan berteriak ia bertanya, "Bagaimana dengan api itu paman?".
Mahesa Jenar menoleh. Dilihatnya Arya telah menyusul dekat dibelakangnya, "Jangan perdulikan", jawabnya "mereka hanya ingin menarik perhatian kita. Tempat yang menyala itu adalah tempat-tempat yang tak berarti. Mudah-mudahan laskarmu telah berusaha untuk menyelesaikannya. Bukankah api itu telah surut?". "Ya", sahut Arya. Ia mengerti sekarang, bahwa bahaya yang sebenarnya tidak terletak di daerah api itu. Demikianlah mereka bertiga memacu kuda-kuda mereka semakin cepat dan cepat. Mereka berpacu bersama angin basah yang bertiup menghanyutkan awan yang kelabu. Kilat memancar-mancar di udara seperti sedang bersabung, diantar oleh bunyi guruh yang menggelegar memukul tebing-tebing perbukitan. Arya Salaka menjadi tidak sabar lagi. Ketika ia melihat sepasang beringin di alun-alun, hatinya seperti meronta-ronta. Tetapi dimuka regol rumahnya tak dilihatnya apapun yang mencurigakan.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Arya Salaka. Karena itu mereka menghentikan kuda-kuda mereka dimuka halaman. Mereka harus memasuki halaman itu dalam kesiagaan penuh. Namun Arya Salaka tidak sempat berpikir demikian. Ia langsung melampaui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara di atas kudanya yang masih berlari seperti di kejar hantu.
"Arya!", teriak Mahesa Jenar.
Tetapi Mahesa Jenar tak mampu menghentikannya. Seperti anak panah Arya langsung menyerbu masuk ke halaman. Di halaman itu masih bertempur dengan sengitnya, Sura Sarunggi melawan Anggara, dan Umbaran melawan Radite. Mereka bertempur dalam tingkat tertinggi dari ilmu-ilmu mereka. Yang paling gelisah dari mereka adalah Umbaran. Ia sadar sesadar-sadarnya, apabila datang orang-orang Banyubiru, maka akan berakhirlah kisah petualangannya. Karena itu, dalam kegelisahannya ia sempat memperhitungkan keadaan. Ia harus bertindak cepat dan menguntungkan. Karena itu ia memutuskan untuk membunuh salah seorang lawannya atau orang-orang Banyubiru yang datang untuk mengurangi lawannya. Sesudah itu, kalau perlu ia akan melarikan diri saja, meskipun kemungkinannyapun tipis pula. Tetapi kalau ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, ia akan dapat mempengaruhi keadaan, meskipun hanya sekejap. Dan kelebihan waktu yang sekejap itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.
Demikianlah ketika ia mendengar derap kuda langsung memasuki halaman, ia melontar mundur beberapa langkah, kemudian dengan tak terduga Umbaran berteriak keras-keras, dan pisau belati panjangnya meluncur seperti tatit ke dada Arya Salaka. Arya terkejut melihat sinar kuning menyilaukan terbang kearahnya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk mengelak. Kudanya sendiri berlari cepat menyongsong sinar yang berkilat-kilat itu.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut bukan kepalang. Maut yang menyambar itu demikian cepatnya sehingga mereka tak mampu berbuat apa-apa, selain berteriak keras, "Arya, bungkukkan badanmu".
ARYA SALAKA telah kehilangan keseimbangan perhitungannya. Karena itu tak ada yang dapat dikerjakan. Ia mencoba membungkuk merapat ke punggung kuda, namun pisau itu telah dekat sekali. Tetapi tak sempat dilihatnya adalah sambaran pisau yang kedua. Pisau belati panjang yang seakan-akan mengejar pisau yang pertama.
Pisau inipun tak kalah cepatnya, meluncur dari arah yang lebih rendah dari pisau yang pertama, sehingga kedua pisau itupun seperti kilat di langit yang sambar menyambar. Tuhan adalah penentu dari semua kejadian. Demikianlah pisau itupun tak terlepas dari pengaruh tanganNya. Pisau belati yang kedua, yang dilemparkan oleh Pasingsingan yang seorang lagi, meluncur dari arah yang berbeda serta lebih rendah dari arah pisau yang pertama, berhasil mengenai pisau yang pertama.
Sentuhan itu dapat mempengaruhi arah pisau-pisau itu. Sehingga dengan demikian, selisih arah yang hanya setebal jari mengukit arah yang pertama, telah menyelamatkan Arya Salaka. Meskipun ia belum berhasil merapatkan tubuhnya sepenuhnya, namun pisau-pisau itu tak menyentuh kulitnya. Hanya ikat kepalanya sajalah yang tersambar dan terbawa oleh pisau-pisau itu. Namun meskipun demikian, dada Arya Salaka berdesir keras. Ia menggeram sambil menggigit bibirnya. Maut serasa telah hinggap diujung rambutnya.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpekik kecil. Mereka meloncat bersama-sama maju, namun kemudian mereka melihat Arya Salaka masih duduk di atas punggung kudanya yang meluncur cepat di halaman itu, yang kemudian melingkar memutar di samping gandok.
"Bagaimana kau Arya ?", teriak Mahesa Jenar. Nafas Arya masih meloncat-loncat tak teratur. Dadanya berdebar cepat dan jantungnya seperti berdentang-dentang. Namun ia sempat menjawab terbata-bata, "Baik paman".
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas panjang. Tetapi kelegaannya itu tidak terlalu lama. Mereka ditegangkan kembali oleh kenyataan yang dilihatnya dihalaman. Dalam remang-remang cahaya obor di pendapa, mereka melihat Mantingan, Wilis, Widuri dan Wirasaba berdiri dalam satu kelompok hampir berhimpitan dengan kaku, di pendapa mereka melihat Wanamerta duduk lemas seperti orang yang kehilangan akal, sedang Sendang Parapatpun duduk bersandar tiang. Tangannya memegang senjatanya, namun senjata itu terkulai di lantai. Sedang beberapa penjaga diregol jatuh tersungkur di tanah, dan mereka yang berada di gardu telah kehilangan kemampuan bergerak.
Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka menjadi semakin terkejut ketika mereka melihat dua lingkaran pertempuran.
Dan hampir-hampir dada mereka meledak ketika mereka melihat tiga orang yang memakai jubah abu-abu dan bertopeng kasar.
"Apakah sebenarnya yang telah terjadi", gumam Mahesa Jenar. Kebo Kanigara berdiam diri. Keningnya berkerut-kerut. Umbaran ternyata telah menyerang Radite dengan membabi buta, ketika ia tidak berhasil membunuh Arya Salaka. Pada saat itu, ia telah mencoba untuk melarikan diri, namun Radite bukan anak-anak yang dapat dikelabuhinya, sehingga dengan beberapa loncatan ia telah berhasil menahan Pasingsingan yang menghantui Demak pada saat itu. Tiba-tiba halaman itu digetarkan oleh pekik kecil. Widuri tiba-tiba berhasil menguasai kesadarannya, ketika dilihatnya ayahnya memasuki halaman. Kemudian ia meloncat maju. Mula-mula ia seperti melihat malaikat hadir di halaman itu. Maka ketika ayahnya berdiri tegak mengamati keadaan, ia menghambur lari kepadanya, "Ayah", panggilnya. Seperti anak ayam yang terancam elang, Widuri bersembunyi di balik sayap-sayap induknya. Kebo Kanigarapun menjadi terharu karenanya. Meskipun ia tidak melepaskan perhatiannya kepada keadaan sekelilingnya, namun dipeluknya anak itu erat-erat. Pada saat itu Rara Wilis pun menjadi bertambah tenang, sebab mereka masih dapat mengharap perlindungan dari orang-orang yang dibanggakannya. Demikianlah ketegangan yang mencekik leher orang-orang di halaman itu menjadi semakin terurai. Kedatangan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka benar-benar telah membebaskan mereka dari kecemasan. Bukan karena mereka cemas dan takut bahwa mereka akan terbunuh, namun mereka cemas dan takut bahwa mereka tidak dapat mempertahankan pusat pemerintahan Banyubiru, dan karena itulah kini mereka yakin bahwa Banyubiru akan dapat diselamatkan. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih berdiri tegak tak bergerak. Hanya pandangan mata mereka sajalah yang beredar dari satu titik ke titik yang lain. Ketika kemudian mata Mahesa Jenar bertemu pandang dengan Rara Wilis berdesirlah hatinya.
Rara Wilis kemudian menundukkan wajahnya, namun hatinya melonjak. Pada wajah gadis itu, Mahesa Jenar dapat melihat ketegangan yang selama itu mencekam hatinya.
Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara bergumam perlahan-lahan, "Widuri, apakah yang terjadi? Bukankah kalian selamat?".(Bersambung)-b
WIDURI tidak senakal dan semanja biasanya. Kini benar-benar ia berusaha menempatkan diri. Karena itu ia menjawab perlahan-lahan, ”Tiga hantu bertemu di sini, Ayah. Ditambah seorang lagi, yang datang bersama salah seorang dari hantu-hantu itu.”
Kebo Kanigara menarik nafas. Ia menjadi ragu, apakah yang harus dilakukan. Tetapi disamping itu, ia pun bersyukur kepada Yang Maha Agung bahwa anak serta sahabat-sahabatnya telah diselamatkan. Berbeda dengan Mahesa Jenar. Ia telah memiliki beberapa pengetahuan yang lebih banyak daripada Kebo Kanigara. Ia telah mengenal lebih dalam mengenai Pasingsingan.
Karena itu cepat otaknya bekerja dan menemukan pemecahan dari teka-teki yang dihadapinya. Teringatlah ia kepada ketiga murid Pasingsingan yang bernama Radite, Anggara dan Umbaran.
Teringatlah ia kepada dua orang petani yang bernama Paniling dan Darba di Pudak Pungkuran. Karena itu Mahesa Jenar segera mengetahui bahwa kedua orang berjubah abu-abu di antara mereka adalah Radite dan Anggara, sedang yang lain adalah Umbaran.
Mahesa Jenar juga memastikan bahwa yang bertempur melawan Sura Sarunggi itu adalah salah seorang dari kedua petani dari Pundak Pungkur itu, sedang yang bertempur di antara dua orang yang berpakaian mirip itu adalah Umbaran melawan salah seorang saudara seperguruannya. Tetapi yang manakah di antara keduanya yang bernama Radite dan yang manakah yang Umbaran? Karena itulah kemudian Maheswa Jenar berbisik kepada Kebo Kanigara, ”Kakang, ingatkah Kakang kepada dua orang petani di Pudak Pungkuran?”
”Ya,” sahut Kebo Kanigara. Sebenarnya ingatannya pun mulai merayap kepada kedua orang petani itu. Karena itu, pertanyaan Mahesa Jenar telah mendorongnya kepada suatu kepastian tentang tiga orang hantu berjubah abu-abu itu.
”Tuhan Maha Besar,” Mahesa Jenar meneruskan, ”Mereka datang kemari pada saat yang tepat. Karena salah seorang dari mereka itu pulalah maka Arya Salaka dapat diselamatkan.”
”Ya,” jawab Kebo Kanigara. Pada saat itu dua buah pisau belati panjang yang berwarna kuning terbang ke arah Arya Salaka. Baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara melihat salah seorang dari mereka berjongkok. Orang itulah yang telah menolong Arya dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh yang lain. Dan orang itulah pasti salah seorang dari Radite atau Anggara. Tetapi ketika kemudian keduanya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang riuh, maka mereka tidak dapat mengenal lagi yang manakah di antara keduanya yang telah menolong Arya. Karena itu mereka tidak dapat segera berbuat sesuatu, sebelum memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan sebaik-baiknya.
Namun Mahesa Jenar tidak mencemaskan keadaan. Ia yakin bahwa Radite dan Anggara akan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Di Rawa Pening dahulu, Sima Rodra dan Pasingsingan tak mampu melawan kedua orang itu pula, sedangkan pada saat itu Radite dan Anggara harus menyembunyikan gerak-gerak khusus dari perguruan Pasingsingan.
Apalagi kini mereka dapat bergerak dengan leluasa tanpa pengendalian diri. Mereka tidak perlu takut-takut bahwa mereka akan dikenal, sebab agaknya kehadiran mereka pada saat itu dengan ciri-ciri kekhususan mereka, adalah karena Radite dan Anggara telah menemukan suatu cara pemecahan.
Karena itulah akhirnya Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara malahan berkisar menepi. Arya pun telah turun dari kudanya. Kini jantungnya telah tidak berdentang-dentang lagi. Ia berdiri tidak jauh dari gurunya, sambil memperhatikan setiap keadaan. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ada tiga orang yang berjubah dan bertopeng. Sedang sepasang di antaranya saling bertempur.
Pertempuran di halaman itu semakin sengit, Sura Sarunggi mengumpat di dalam hati. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara benar-benar mempengaruhi perasaannya. Ia telah melihat sendiri apa yang telah dialami oleh Sima Rodra dan Nagapasa. Kedua orang itu pulalah yang telah membinasakan mereka. Sedang kini tiba-tiba ada setan, gendruwo, thethekan yang mengganggu. Orang berjubah itu benar-benar mengacaukan rencana. Kalau tak ada mereka, ia pasti akan berhasil menghindari pertempuran ketika didengarnya kentongan rog-rog asem. Tetapi sekarang tak ada kesempatan untuk meninggalkan halaman itu.
Tetapi justru karena itulah maka Sura Sarunggi, seorang yang mempunyai nama yang besar di antara mereka, yang tahu akibat-akibat dari perbuatannya, menjadi semakin marah. Senjatanya meledak-ledak seperti guruh di langit. Menyambar, melingkar, mematuk mengerikan. Senjata itu dapat menyerang lawannya tidak saja dari muka atau dari samping, tetapi ujungnya tiba-tiba dapat mematuk pula dari arah punggung lawannya.
Untunglah yang melawannya adalah Anggara yang memiliki kelincahan melampaui ujung cemeti itu. Setiap kali ia meloncat-loncat menghindari dari ujung senjata lawannya itu, selincah sikatan menyambar belalang di rerumputan. Bahkan ujung pisaunya pun mematuk-matuk mengerikan, seolah-olah telah berubah menjadi puluhan, bahkan ratusan pisau yang bergerak bersama-sama.
Kemudian Sura Sarunggi itu tidak lagi memperhitungkan apa yang akan terjadi atas dirinya. Tetapi yang ada dibenaknya adalah bertempur mati-matian untuk membinasakan orang yang telah berani merusak rencananya itu. Sesudah itu, apakah ia harus mengalami nasib seperti Sima Rodra, apakah ia masih akan bernasib baik, tidaklah menjadi soal baginya. Demikianlah pertempuran antara Sura Sarunggi dengan Anggara segera mencapai saat-saat yang menentukan.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya