Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 116
TIBA-TIBA tubuh Mahesa Jenar bergetar karena tekanan perasaannya. Ia melihat orang yang berdiri di hadapannya dengan baju kulit harimau hitam, seperti ia melihat campur baur dari segala kejahatan dan nafsu. Karena itu ia bergumam seperti kepada diri sendiri, ”Aku harus menghentikannya sebelum ia menjadi berkembang.”
Sima Rodra tertawa. Keras sekali.
”Apa yang akan kau hentikan?”
”Untuk membunuh harimau, jangan ditunggu harimau itu menjadi besar,” sahut Mahesa Jenar.
”Kau akan membunuh aku? Ha, kaupun telah mimpi untuk menjadi seorang pembunuh,” kata Sima Rodra.
”Apa bedanya? Membunuh kau sama artinya dengan menegakkan kemanusiaan, karena kau ingin memperkosa kemanusiaan itu. Dan karena sifat-sifatmulah maka aku menolak adamu,” jawab Mahesa Jenar.
”Terlalu berbelit-belit,” jawab Sima Rodra. ”Yang aku ketahui, kalau kita berkelahi, aku atau kau yang menjadi pembunuh.”
”Otakmu terlalu beku. Atau sama sekali diselimuti oleh noda-noda hitam dalam hidupmu...?" Mahesa Jenar menyela.
”Persetan. Jangan gurui aku. Menyerahlah, aku akan membunuhmu dengan cepat,” jawab Sima Rodra. ”Bagaimana kalau sebaliknya?” bantah Mahesa Jenar. ”Hem, kalau begitu aku akan melukai wajahmu yang tampan, dan membiarkan kau mati perlahan-lahan,” geram Sima Rodra dengan marahnya.
”Tak ada pilihan lain,” sahut Mahesa Jenar.
Sima Roda kemudian mengaum keras sekali. Beberapa orang di sekitarnya terkejut, meskipun laskar dari golongan hitam sendiri. Hanya orang-orang dari Gunung Tidar sajalah yang bertambah semangat di dalam dada mereka mendengar auman yang mengerikan itu.
Dengan suatu loncatan yang buas, sebuas harimau lapar, Sima Rodra menyerang langsung kepada Mahesa Jenar. Demikian cepatnya serangan itu, sehingga Mahesa Jenar agak terkejut. Namun hanya sesaat. Sesaat kemudian ia seakan-akan menancapkan kedua kaki dalam-dalam, menyiapkan diri menyambut serangan itu. Ia sengaja tidak menghindar, tetapi ia ingin membentur tangan lawannya untuk menjajagi sampai di mana kekuatan Sima Rodra yang pernah menggemparkan itu. Kalau hal itu terjadi beberapa tahun lalu, maka Mahesa Jenar pasti akan terlempar dan terbanting mati, karena Sima Rodra dengan marahnya telah mengerahkan kekuatannya.
Tetapi yang terjadi adalah berbeda, Mahesa Jenar telah menemukan kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya, setelah ia mesu diri di Bukit Karang Tumaritis. Dengan demikian maka yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Demikian dahsyat sehingga seakan-akan terjadi benturan guntur di langit. Tubuh masing-masing tergetar dan kemudian terdorong selangkah surut.
Sekali lagi Sima Rodra mengaum dahsyat. Meskipun ia tidak mengalami cidera, namun betapa herannya melihat Mahesa Jenar masih tegak berdiri dihadapannya. Karena itu sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya.
Namun kali ini Mahesa Jenar telah menemukan nilai-nilai kekuatan lawannya, sehingga ia dengan sempurna dapat menempatkan diri pada keadaan yang seharusnya.
Dengan tangkas Mahesa Jenar menghindarkan diri, dengan meloncat ke samping. Namun harimau yang hampir gila itu benar-benar tangkas. Demikian kakinya menyentuh tanah, kakinya yang lain diputar ke arah lambung lawannya. Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa menarik tubuhnya condong kebelakang.
Tetapi sekali lagi harimau tua itu menyerangnya dengan tendangan ganda. Kali ini Mahesa Jenar tidak dapat hanya menyondongkan dirinya. Ia pun terpaksa melompat mundur. Tetapi dengan demikian ia menemukan kelemahan lawannya. Sekali lagi kaki Sima Rodra mesih terjulur, Mahesa Jenar menangkapnya pada bagian bawah lututnya. Namun Harimau Lodaya itupun tangkas pula. Ia tidak mau membiarkan hal itu terjadi.
Ketika tangan Mahesa Jenar menyentuh kakinya, segera ia melipatnya, sehingga dengan demikian tangan Mahesa Jenar menjadi terjepit. Mahesa Jenar menggeram perlahan-lahan, tetapi segera ia mendorong tubuh lawannya yang tegap besar itu dengan siku tangannya yang lain di arah lambung.
Demikian kerasnya sehingga Sima Rodra dan Mahesa Jenar bersama-sama jatuh terguling. Tetapi dengan demikian, Mahesa Jenar telah melepaskan jepitan lawannya, bahkan ketika ia melihat Sima Rodra meloncat bangkit, Mahesa Jenar pun telah berdiri pula. Maka segera mereka terlibat kembali dalam perkelahian. Masing-masing adalah orang-orang perkasa, yang mempunyai kelebihan dari orang lain.
Sima Rodra dengan penuh nafsu kebuasan bertempur mati-matian. Sebab ia sadar bahwa orang-orang seperti Mahesa Jenar adalah penghalang utamanya. Di pihak lain, Mahesa Jenar pun bertempur dengan penuh kesadaran akan kewajibannya sebagai manusia yang mengabdikan diri pada kemanusiaan.
Kegagalannya kali ini, lebih-lebih kegagalan laskar Pamingit dan Banyubiru berarti runtuhnya martabat manusia, setidak-tidaknya di Pamingit dan Banyubiru. Dengan demikian, ia bertekad untuk bertempur yang terakhir kalinya dengan Harimau Gila itu. Biarlah ia terbunuh kalau ia tidak berhasil, namun kalau ia berhasil, maka telah diletakkannya satu di antara berjuta-juta batu yang akan membentuk bangunan kemanusiaan.
Pertempuran itu semakin lama semakin dahsyat. Sima Rodra dengan mengaum-aum mengerikan, menyerang dengan buasnya. Tangannya kadang-kadang mengembang seperti sayap, tetapi kemudian terjulur untuk menerkam lawannya seperti harimau. Jari-jarinya yang kokoh dan kuat merupakan bahaya yang setiap saat dapat menembus daging lawannya.
DALAM pertempuran yang hiruk pikuk itu, Sima Rodra tampak sebagai seekor harimau hitam di antara beratus-ratus kelinci yang sedang berjejal-jejalan. Namun lawan yang dihadapinya kini bukan kelinci-kelinci itu. Tetapi lawannya adalah seekor banteng yang tangguh. Seekor Banteng yang dengan tenang dan yakin pada dirinya atas lambaran kebenaran, berjuang menegakkan sendi-sendi kemanusiaan. Sehingga dengan demikian maka pertempuran di antara mereka, adalah pertempuran yang akan diakhiri dengan lenyapnya salah satu dari keduanya. Pertempuran yang melambangkan pertempuran yang akan terjadi di sepanjang jaman. Kebenaran melawan kemungkaran dan kejahatan. Pertempuran di antara mereka yang berjalan dijalan Allah, melawan mereka yang melawan cinta Tuhan. Tetapi Tuhan Maha Pengampun. Karena itu, bagi siapa saja yang bertobat serta menyebut nama-Nya dengan ikhlas serta penyerahan yang tulus, maka pintu Rumah-Nya selalu terbuka. Sejalan dengan matahari yang semakin tinggi, semakin seru pulalah pertempuran itu. Setiap senjata telah menjadi merah oleh darah. Darah sesama manusia. Dan tanah telah menjadi merah pula oleh siraman darah yang merah segar. Tetapi karena bau darah itulah maka mereka menjadi semakin buas. Mereka tinggal memilih dua kemungkinan di dalam peperangan itu. Mati terbunuh atau terpaksa membunuh. Tetapi mereka telah bertindak atas suatu keyakinan. Bagi golongan hitam, membunuh adalah pekerjaan mereka untuk mendapatkan kepuasan nafsu dan kemungkinan yang menimbulkan harapan. Kali ini mereka mengharap untuk mendapat bagian dari tanah yang mereka perebutkan. Pamingit, dan lusa Banyubiru, serta segala kekayaan di atasnya. Bahkan atas setiap laki-laki untuk diperintahnya dan berkuasa atas setiap perempuan untuk diperlakukan dengan sekehendak hati mereka. Sedang masa mendatang, mereka mendapat harapan yang lebih baik lagi apabila benar-benar mereka dapat memecahkan kerajaan Demak. Siapa tahu mereka akan dapat pangkat Tumenggung, dengan rumah yang besar-besar dan selusin isteri yang cantik-cantik. Sebaliknya, laskar Banyubiru dan Pamingit berjuang atas keyakinan mereka pula. Mereka terpaksa membunuh untuk menghentikan kebuasan manusia atas manusia. Mempertahankan tanah mereka dan milik mereka. Mempertahankan karunia Tuhan untuk mereka. Karena itulah maka, kedua belah pihak bertempur mati-matian. Siapa yang lengah, dadanya akan tertembus senjata. Dan mataharipun seakan-akan menjadi suram karena sinarnya yang ditakbiri oleh debu yang mengepul di udara seperti kabut.
Di antara deru senjata dan teriakan penuh nafsu, terdapatlah beberapa titik-titik perkelahian yang paling dahsyat. Ki Ageng Sora Dipayana melawan Bugel Kaliki yang berputar seperti angin pusaran.
Ki Ageng Pandan Alas melawan Pasingsingan seperti beradunya angin prahara yang bertentangan arah.
Titis Anganten melawan Sura Sarunggi yang seolah-olah menjadi tenggelam dalam kabut yang gelap.
Di bagian lain, Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra demikian dahsyatnya seperti guntur dilangit yang saling sambar menyambar. Tetapi ada di antara mereka, tokoh yang dahsyat dari golongan hitam itu yang masih berdiri saja di antara kedua laskar yang bertempur. Hanya sekali-kali saja ia menggerakkan tangannya untuk melawan serangan-serangan laskar Banyubiru, dan sekali-kali ia terpaksa menghindar kalau dua tiga orang yang gagah berani menyerangnya bersama-sama. Namun tangannya benar-benar seperti tangan hantu. Sekali ia berhasil merampas sebuah pedang, dan menancapkan pedang itu dengan mudahnya di dada pemiliknya. Dengan tertawa menyeringai ia berpaling sambil bergumam, ”Tikus yang sombong.” Kemudian ia melangkah pergi di antara kacau-balaunya pertempuran, seperti berjalan di dalam kesibukan pasar saja. Ia melihat betapa sahabat-sahabatnya bertempur mati-matian. Ia melihat betapa Sima Rodra berjuang sekuat tenaga melawan Mahesa Jenar.
Orang itupun menjadi heran pula. Bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat mengimbangi Sima Rodra yang ganas itu. Terhadap Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten ia tidak perlu heran. Pertempuran diantara mereka dapat berlangsung lama. Sehari, dua hari, bahkan tanpa batas, seperti kalau ia sendiri tanpa lawan. Karena itu ia sedang berpikir apakah yang harus dilakukan. Membunuh sebanyak-banyaknya, atau membantu salah seorang dari keempat sahabatnya. Ia harus yakin bahwa kawan-kawannya itupun dapat membawa diri. Karena itu biarlah ia bekerja sendiri. Tetapi membunuh laskar-laskar kecil yang berserak-serakan seperti tikus itupun tak akan berarti.
Sebagai seorang tokoh yang ditakuti tidak saja di Nusa Kambangan, ia merasa terlalu berharga untuk berperang melawan laskar-laskar Banyubiru yang tak berarti itu. Sekali-kali ia memandang jauh ke sapit sebelah kanan. Terhadap muridnya Jaka Soka pun ia tidak terlalu cemas. Seandainya Jaka Soka itu harus berhadapan dengan Lembu Sora sekalipun. Karena itu tidak ada kerja lain baginya daripada membunuh. Bukankah di dalam peperangan yang berjumlah besar, membunuh siapapun yang ada didekatnya bukan berarti merendahkan diri. Pertempuran yang demikian adalah pertempuran yang kacau. Setiap senjata dapat mengarah setiap dada lawan.
Maka akhirnya Nagapasa itupun menjadi puas terhadap pendiriannya. Daripada berdiri saja di situ, memang lebih baik berbuat sesuatu yang dapat memperingan pekerjaan laskar dari golongan hitam. Kemudian setelah ia mendapat ketetapan hati, mulailah ia bergerak sekali sambar, kembali ia merampas sebuah tombak. Ia memutar tombak itu sekali diudara kemudian dengan satu gerakan kemungkinan untuk menghindar. Demikian cepat dan keras. Tetapi tiba-tiba Nagapasa menarik kembali tombak itu ketika tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya, ”Alangkah dahsyatnya Tuan.”
NAGAPASA menoleh. Ia melihat seorang bertubuh tegap kekar berdiri di sampingnya. Orang itu belum pernah dikenalnya. Karena itu ia mengacuhkannya. Maka kembali ia mencari orang yang hampir terbelah dadanya oleh tombaknya sendiri. Tetapi orang itu sudah lari menghilang di antara hiruk pikuk pertempuran, mencari lawan yang tak bertangan hantu.
Nagapasa kecewa. Ia menggeram dan sekali lagi menoleh kepada orang yang menyapanya. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat wajahnya yang tenang. Orang itu pasti salah seorang dari laskar Banyubiru. Tetapi tiba-tiba Nagapasa kehilangan nafsu untuk membunuh orang itu. ”Mungkin ia belum mengenal aku. Biarlah aku bermain-main dahulu. Biarlah ia menjadi ngeri dan baru kemudian aku akan membunuhnya setelah ia melihat bagaimanakah caranya aku membunuh,” pikirnya.
Mendapat pikiran itu, segera Nagapasa mendesak maju ke dalam laskar Banyubiru. Ia akan berbuat hal-hal yang aneh untuk menakut-nakuti orang yang menyapanya dengan tenang. Tetapi orang itu mengikutinya dalam jarak yang dekat sekali. Seakan-akan ia melekat pada jarak yang ditetapkan. Namun Nagapasa tidak memperdulikannya, bahkan lebih baiklah bila orang itu dapat melihat dengan seksama bagaimana ia dapat mematahkan leher seorang dengan tangannya, mencukil matanya dengan jari-jarinya, dan memecahkan kepala itu dengan pukulan tangannya. Ketika seseorang bertempur di dekatnya, iapun segera meloncat menangkap orang Banyubiru. Tangannya mencekik leher, sedang tangannya yang lain terayun ke dahi orang itu. Benar-benar suatu pemandangan yang mengerikan. Tetapi kembali Nagapasa mengurungkan niatnya, ketika ia mendengar orang yang mengikutinya itu tertawa. Meskipun suaranya lunak sekali namun nadanya benar-benar tak menyenangkan.
Kemudian terdengar ia berkata, ”Tidak tanggung-tanggung. Suatu pameran kekuatan yang luar biasa.”
Nagapasa memandang orang itu dengan seksama, sementara tangannya masih mencekik leher. Ia mengamat-amati orang itu dengan tanpa berkedip. Benar-benar orang itu belum pernah dikenalnya. Tetapi menilik sikapnya, orang itu pasti bukan orang kebanyakan atau salah seorang dari laskar biasa dari Banyubiru.
”He, kau siapa?” tanya Nagapasa acuh tak acuh.
Orang itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, ”Laskar Banyubiru.”
”Aku sudah tahu,” bentak Nagapasa marah.
”Namamu dan jabatanmu?”
”Kebo Kanigara,” jawabnya. ”Laskar biasa.” Nagapasa menggeram.
Nama itu benar-benar belum pernah dikenalnya. Tetapi sikap orang itu sangat menyakitkan hatinya. ”Sudahkah kau mengenal aku?” tanya Nagapasa.
”Ya, aku kenal,” jawab Kanigara. ”Bukankah Tuan yang menamakan diri Nagapasa?”
Nagapasa menjadi semakin jengkel. Ternyata orang itu telah mengenalnya, tetapi kenapa ia sedemikian berani menghadapinya.
”Bagus,” kata Nagapasa lebih lanjut. ”Kalau demikian kau kenal juga dari mana Nagapasa datang?” ”Ya,” jawab Kanigara pula. ”Nagapasa berasal dari Nusakambangan dengan muridnya yang bernama Jaka Soka. Nagapasa adalah seorang yang sakti, sejajar kesaktiannya dengan Pasingsingan, Sima Rodra, Sura Sarunggi dan Bugel Kaliki.”
Nagapasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin heran. Orang yang bernama Kebo Kanigara itu mengenalnya dengan lengkap, namun ia masih berani menyapa seenaknya saja. Apakah orang ini benar-benar ingin bunuh diri?
”Kalau demikian...” Nagapasa berkata pula, ”Apa maksudmu mengikuti aku?”
”He...” Kanigara berpura-pura terkejut, meskipun ia tahu apa yang tersirat di dalam pikiran Nagapasa itu, ”Bukankah kita berada di dalam peperangan. Dan bukankah setiap kita dari Banyubiru dan dari golongan hitam dapat menjadi lawan?”
Nagapasa menjadi semakin marah mendengar jawaban itu, katanya, ”Kau akan melawan aku?”
”Apa aku harus memilih lawan” sahut Kanigara. ”Siapa yang ada di hadapanku adalah lawanku.”
”Kau sudah menjadi gila,” teriak Nagapasa. ”Lihat betapa orang ini hampir mati karena tanganku. Aku dapat memperlakukan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus orang seperti ini.”
”Ya, aku percaya,” jawab Kanigara.
”Kau ingin aku berbuat demikian terhadapmu?” bentak Nagapasa semakin keras.
”Tidak,” jawab Kanigara. Kejengkelan Nagapasa menjadi semakin memuncak.
”Lalu apa maumu?” Ia berteriak lebih keras lagi.
”Kita berperang. Mauku bertempur melawan Tuan,” sahut Kanigara. ”Orang ini agaknya orang gila,” pikir Nagapasa. Dengan demikian ia kehilangan nafsu untuk berbuat sesuatu. Melawan orang gila baginya hanya akan membuang-buang waktu saja.
KEMBALI Nagapasa berpaling kepada orang yang dicekiknya. Kepada orang itu ia akan menumpahkan kejengkelannya. Dengan menggeram ia berkata, ”Nasibmu tak begitu baik, tikus yang malang. Berdoalah sebelum kepalamu aku pecahkan.” Kemudian terayunlah kembali tangan Hantu Laut dari Nusakambangan itu. Sedang orang yang dicekiknya telah kehilangan harapan untuk dapat hidup. Ia kenal siapakah Nagapasa itu. Dan menyesallah bahwa ia kurang berhati-hati, bertempur di dekat orang bertangan maut itu. Namun akhirnya ia memejamkan matanya pasrah diri. Dalam perjuangan maut adalah tantangan. Kalau maut itu datang, biarlah ia menelannya. Namun ia yakin bahwa ia telah berjuang menegakkan kebenaran. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tak terduga-duga. Ketika tangan Nagapasa hampir saja memecahkan kepala orang yang telah pasrah diri itu, terjadilah suatu benturan yang keras. Tangan Nagapasa terasa bergetar hebat. Ia merasa bahwa tangannya telah mengenai sesuatu, tetapi sama sekali bukan kepala orang yang dicekiknya. Dan kepala itu sama sekali tidak dipecahkannya, malahan tangannya sendiri merasa tergetar.
Belum lagi ia sadar akan peristiwa itu, kembali terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai tangannya yang lain, yang sedang mencekik orang yang telah berputus asa itu, demikian kerasnya sehingga tanpa disengaja tangannya terlepas, dan orang yang dicekiknya itu terpental beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.
Nagapasa melompat selangkah mundur. Ia telah berpuluh tahun hidup dalam kancah perkelahian, pertempuran dan pembunuhan. Karena itu ia telah memiliki pengalaman yang tak terkira banyaknya. Sehingga dengan demikian segera ia sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang berada di luar perhitungan. Ketika ia sadar memandang berkeliling, yang dilihatnya hanyalah orang yang bernama Kebo Kanigara itu, selain beberapa orang yang sedang bertempur melawan lawan masing-masing. Dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Kanigara lah orangnya, yang telah mencoba membentur tangannya. Nagapasa menjadi marah sekali.
Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, semerah darah. Meskipun bibirnya terkatup rapat, namun terdengar betapa giginya gemeretak. Dengan tangan yang bergetar ia menunjuk wajah Kebo Kanigara sambil berkata dengan gemetar, ”Kau...?”
Kebo Kanigara masih setenang tadi. Sambil mengangguk ia menjawab singkat, sesingkat pertanyaannya, ”Ya.”
Nagapasa sadar bahwa orang yang bernama Kebo Kanigara itu bukan orang gila seperti yang disangkanya. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar orang perkasa, yang telah menempatkan diri sebagai lawannya dalam pertempuran itu dengan penuh kesadaran. Dengan demikian darahnya kini telah benar-benar mendidih. Karena itu ia sudah tidak mampu lagi untuk bertanya-tanya.
Dengan memekik tinggi ia meluncur seperti ular yang mematuk lawannya, dengan tangan terjulur ke arah wajah Kebo Kanigara. Tetapi Kebo Kanigara bukan anak-anak yang terkejut melihat ular sawah yang melingkar di pematang. Ia cukup dewasa untuk menghadapi setiap kemungkinan. Karena itu, ketika ia mendapat serangan dari Nagapasa, sama sekali tidak menjadi gugup. Dengan tenangnya Kebo Kanigara membuat perhitungan yang tepat. Ketika serangan Nagapasa itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya menelentang. Kedua kakinya segera menyambar perut lawannya, dan dengan lemparan yang keras, Nagapasa terpelanting keudara. Tetapi Nagapasa pun cukup mempunyai bekal untuk bertempur melawan Kebo Kanigara. Ia mula-mula terkejut mengalami peristiwa itu, namun segera ia menguasai dirinya kembali. Dengan sebuah putaran ke udara, ia telah mencapai keseimbangannya. Karena itu Nagapasa dapat dengan baiknya menjatuhkan diri di atas kedua kakinya.
Tetapi ketika ia berhasrat untuk meloncat menyerang lawannya, Kebo Kanigara pun telah siap pula tegak seperti bukit karang yang tak tergoyahkan oleh badai yang betapapun dahsyatnya. Sesaat kemudian, kembali Nagapasa menyerang dengan kerasnya dibarengi dengan sebuah teriakan tinggi. Dan kembali Kebo Kanigara melawannya dengan tenang, namun penuh gairah. Sebab Kebo Kanigara pun yakin, bahwa orang-orang seperti Nagapasa adalah sumber dari segala macam bencana bagi umat manusia. Maka karena itulah pertempuran antara kedua orang perkasa itu segara menjadi semakin dahsyat.
Nagapasa bertempur seperti seekor naga. Tubuhnya seolah-olah menjadi lemas dan dapat bergerak ke segenap arah. Tulang-tulangnya seakan-akan menjadi selemas daun. Begitu baiknya Nagapasa menguasai tubuhnya, sehingga setiap bagiannya dapat berubah menjadi senjata yang berbahaya. Jari-jarinya, sikunya, kepalanya, lutut dan jari kakinya, tumitnya dan segala bagian yang lain. Ia dapat meluncur dengan cepatnya, melingkar-lingkar seperti pusaran air yang menghisap segenap benda yang tersentuh jari-jari lingkarannya, menelannya dan menghancur-lumatkannya. Demikian dahsyatnya Nagapasa bertempur sehingga benar-benar mirip seekor naga raksasa yang bertempur didalam lautan yang digelorakan oleh ombak yang dahsyat.
Tetapi lawannya adalah Kebo Kanigara. Seorang yang telah memiliki ilmu yang sempurna. Benarlah kata orang, yang bahkan almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri mengakui, bahwa sebenarnya Kebo Kanigara telah melampaui kemampuannya.
Kebo Kanigara telah menemukan cara untuk menempa diri dengan dahsyatnya. Ia hanya memerlukan waktu tidak lebih dari semperempat waktu yang diperlukan oleh Ki Ageng Pengging Sepuh dengan caranya. Karena itulah maka Kebo Kanigara benar-benar memiliki sifat yang luar biasa. Ia dapat bertempur selincah anak kijang di padang rumput, namun ia dapat garang seperti singa. Di saat-saat yang lain Kebo Kanigara bertempur seperti seekor garuda dengan sayap-sayapnya yang kokoh seperti baja namun trengginas seperti sikatan. (Bersambung)-o
SEPERTI Mahesa Jenar, Kebo Kanigara juga memiliki kekhususan. Ia benar-benar tangguh sebagaimana ciri-ciri khusus Perguruan Pengging. Seakan-akan berkulit tembaga, bertulang besi. Serta apabila keringatnya telah membasahi punggungnya, tandangnya menjadi semakin garang, seperti banteng ketaton. Demikianlah, ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Kebo Kanigara dan Nagapasa telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun disamping kemarahan yang semakin memuncak, Nagapasa pun menjadi heran. Apakah ia sebenarnya sedang bertempur melawan seorang manusia, ataukah tiba-tiba saja ada malaikat yang menjelma dan melawannya?
”Persetan dengan malaikat. Aku tidak takut melawan malaikat seandainya ia benar-benar ada.”
Nagapasa mengumpat di dalam hati, namun di dalam relung hatinya yang terdalam ia mengeluh, ”Gila benar orang ini. Siapakah sebenarnya dia?”
Kebo Kanigara pun berjuang terus. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa. Hantu Laut yang memiliki kesaktian dan pengalaman yang mengerikan. Karena itu, Kebo Kanigara pun cukup berhati-hati. Namun sedikit demi sedikit, akhirnya ia berhasil mengetahui segi-segi kedahsyatan ilmu lawannya, tetapi juga segi kelemahan-kelemahannya. Suatu hal yang tak dapat dilihat oleh orang biasa. Kebo Kanigara memiliki daya pengamatan yang lebih tajam dari manusia kebanyakan. Dengan demikian, apa yang selama ini tak diketahui orang, dapatlah diketahuinya, dan apa yang tak dapat dikerjakan orang lain, ia dapat melakukannya.
Pertempuran di lereng Gunung Merbabu itupun menjadi semakin riuh. Percikan darah berhambur-hamburan membasahi tanah pegunungan dan rumput-rumput liar. Kedua belah pihak berjuang semakin gigih. Sebab tak ada pilihan lain, apabila seseorang telah berada di tengah-tengah api peperangan. Debu mengepul semakin tinggi di udara. Putih gelap, seperti kabut ampak-ampak di lereng-lereng bukit.
Ki Ageng Sora Dipayana masih bertempur melawan Bugel Kaliki. Silih ungkih, singa lena. Desak-mendesak, serang-menyerang silih berganti. Tetapi keduanya sadar, bahwa kesaktian mereka benar-benar berimbang. Sekali-kali, baik Ki Ageng Sora Dipayana maupun Bugel Kaliki, berusaha untuk menebarkan pandangannya ke bagian-bagian pertempuran yang lain, seperti juga apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pandan Alas dan Pasingsingan, Titis Anganten dan Sura Sarunggi. Sekali-kali merekapun ingin mengetahui apa yang telah terjadi di bagian-bagian yang lain. Dari celah-celah deru senjata, Ki Ageng Sora Dipayana, yang bertempur seorang diri di antara laskar Banyubiru dan Pamingit yang saling bertempur pula. Semula Ki Ageng Sora Dipayana mencemaskan nasib Mahesa Jenar, tetapi kemudian ia menjadi heran. Mereka telah cukup lama bertempur, namun agaknya Mahesa Jenar masih tetap bertahan dengan gigihnya. ”Apakah yang telah terjadi dengan Angger Mahesa Jenar selama ini?” pikirnya. Dan tiba-tiba sesaat kemudian orang tua itupun terkejut pula. ”Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Kanigara itu? Timbul pertanyaan pula di dalam hatinya. Bahkan ia menjadi semakin heran ketika melihat, bahwa Kebo Kanigara dapat bertempur melawan Nagapasa sebaik dirinya sendiri atau orang-orang seangkatannya. Bahkan karena darah yang jauh lebih muda daripada darahnya dan orang-orang seangkatannya, Kebo Kanigara tampak betapa tangkas dan perkasanya.
”Hem...” desisnya, ”Siapakah sebenarnya orang itu?”
Ternyata di bagian lainpun terdengar Ki Ageng Pandan Alas berdesis, ”Benar-benar Angger Kebo Kanigara sakti tiada taranya.”
Di bagian lain lagi Titis Anganten bergumam, ”Aneh. Belum pernah aku mengenalnya. Namun tiba-tiba ia telah mengejutkan kami.”
Bukan saja orang-orang Banyubiru dan Pamingit yang keheran-heranan melihat keperkasaan Kebo Kanigara, namun orang-orang dari golongan hitampun menjadi cemas melihat tandangnya. Ketika orang-orang lain sedang sibuk menilai dirinya, Kebo Kanigara sempat menyaksikan betapa Mahesa Jenar berjuang di antara hidup dan mati. Tanpa sesadarnya merayaplah perasaan bangga di dalam dirinya. Ia melihat benih subur tumbuh di dalam tubuh Mahesa Jenar yang kemudian bahkan telah berkembang dengan rimbunnya. Ia melihat Mahesa Jenar itu telah dapat menguasai ilmunya. Tidak saja Mahesa Jenar itu telah dapat mensejajarkan diri dengan almarhum gurunya, namun dalam penglihatan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar bahkan telah melampauinya. Masa-masa pembajaan diri yang dahsyat telah menempa Mahesa Jenar dan muridnya sedemikian dahsyat pula. Dan sekarang Mahesa Jenar mencoba menerapkan ilmunya dalam suatu perjuangan yang menentukan.
Dalam suatu kesempatan yang lain, Kebo Kanigara melihat bagaimana Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo. Anak muda itupun menunjukkan betapa gigihnya ia berjuang melawan kejahatan. Tombaknya yang bernama Kyai Bancak itu menyambar-nyambar seperti seribu mata tombak bersama-sama, melawan sepasang pisau belati panjang yang berkilat-kilat ditangan Hantu Alas Mentaok. Namun Arya Salaka telah tumbuh menjadi anak muda yang perkasa. Apapun yang dilakukan lawannya, dengan baiknya Arya dapat melayaninya. Kegarangan dan kekasaran Lawa Ijo sama sekali tak mempengaruhi langkahnya. Apalagi Arya telah membumbui ilmunya dengan segala macam tingkah laku binatang-binatang liar yang pernah menarik perhatiannya. Bagaimana seekor tikus berhasil menyelamatkan dirinya dari gigi-gigi ular berbisa, dan bagaimana seekor kijang yang lemah berhasil membebaskan dirinya dari terkaman serigala-serigala lapar. Namun Arya Salaka pun tahu, bagaimana seekor banteng dengan tanduknya, dalam ketenangan yang luar biasa, berhasil merobek perut seekor harimau yang justru menyerangnya dengan garang.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya