Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 115

DEMIKIANLAH, Ki Ageng Sora Dipayana sendiri terkejut atas kehadiran seorang sahabat lamanya. Namun terbersitlah kegembiraan di hatinya. Dengan kehadiran orang ini, sedikit banyak akan dapat mengubah keseimbangan laskar di kedua belah pihak. Karena itu dengan tersenyum ia menyambut kedatangan orang itu dengan penuh gairah.

”Selamat datang Danyang Gunung Kidul.”

”Eh, aku hampir terlambat,” jawabnya.

”Agaknya orang Banyuwangi itu telah ada pula di sini.”

Titis Anganten tertawa. ”Kau terlalu malas,” jawabnya. ”Aku, yang berjarak ribuan tonggak telah datang lebih dahulu.”

Danyang Gunungkidul itu, Ki Ageng Pandan Alas, tertawa. Sahutnya, ”Kerjamu tidak ada lain kecuali berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Sedang aku masih harus menunggu jagung tua.”

”Ah, orang yang hidupnya terikat pada tanaman jagung. Kalau dunia ini akan meledak, kau masih saja menunggui jagungmu?” sela Ki Ageng Sora Dipayana. Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Namun ia sudah berjalan pula di samping Sora Dipayana.

”Nah, pilihlah aku lawan,” katanya.

”Terserah kepadamu,” jawab Sora Dipayana.

”Yang bongkok, yang berkulit macan, yang berkepala besar atau yang mana?”

”Mana saja yang terdekat,” jawab Pandan Alas seenaknya. Tetapi meskipun demikian, dalam waktu yang cepat ia telah berhasil menilai lawan-lawannya. Ia benar-benar terkejut ketika ia melihat Mahesa Jenar berdiri di sapit sebelah kiri.

Namun ia agak tenteram setelah dilihatnya Putut Karang Jati yang bernama pula Kebo Kanigara. Ia telah mengenalnya sebagai putra Ki Ageng Pengging Sepuh di bukit Karang Tumaritis. Ia berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan kedua orang itu dapat menempatkan diri sebaik-baiknya, sehingga kedua-duanya tak menemukan cidera. Juga ia berdoa mudah-mudahan Arya Salaka dapat membawa dirinya di antara laskarnya. Sesaat kemudian, kedua laskar itu telah mencapai jarak yang menentukan. Sebelum laskar Pamingit mulai, terdengarlah orang-orang laskar itu berteriak nyaring, sambil berloncatan menyerbu. Sementara itu Ki Ageng Lembu Sora segera menggerakkan tangannya yang telah menggenggam pedangnya yang besar sekali, memberi aba-aba kepada laskarnya untuk bertempur.

Tanda itu segera diteruskan oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Merekapun memutar pedang masing-masing di udara, sebagai perintah untuk bertempur. Di sayap kiri, tampaklah berkilauan tombak pusaka di tangan Arya Salaka. Dengan tekad yang bulat, ia telah menyerahkan dirinya untuk melakukan pengabdian. Dengan doa di dalam hati, ”Tuhan akan menyertai kami dan memberkahi pengabdian kami.”

Ketika ia mengangkat tombaknya, berkilat-kilat pulalah pedang Bantaran, Penjawi dan tombak bermata dua ditangan Jaladri. Merekapun meneruskan aba-aba Arya Salaka kepada laskar mereka, yang bergerak sebagai sapit kiri dari gelar Sapit Urang. Sesaat Arya Salaka melihat Bantaran beserta laskarnya mendesak maju. Mereka melingkar untuk kemudian menyerang dari lambung. Tetapi orang-orang dari golongan hitam itu tidak mempergunakan gelar tertentu, sehingga merekapun menghambur menyerang laskar Bantaran dari arah yang mereka sukai. Meskipun demikian, Bantaran tidak menjadi bingung. Ia tetap bertempur dalam gelar kiri. Laskarnya yang bersenjata pedang dengan perisai di tangan kiri, bertempur seperti banteng-banteng yang tangguh. Demikian juga laskar Jaladri di bagian tengah sapit kiri. Laskar yang sebagian besar bersenjata tombak inipun bertempur dengan semangat yang menyala-nyala. Mereka sadar, betapa orang-orang dari golongan hitam itu harus dimusnahkan. Sebab satu saja mereka tinggal, akan dapat merupakan benih buat masa datang. Sedang laskar Penjawi berada dekat dengan induk pimpinan. Seperti juga Penjawi sendiri, laskarnya bertempur tanpa mengenal takut, meskipun mereka sadar bahwa orang-orang dari golongan hitam itu dapat berbuat hal-hal di luar batas-batas perikemanusiaan. Namun justru karena itulah maka mereka harus dimusnahkan.

Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, masih berdiri, di antara kedua pihak yang sudah terlibat dalam pertempuran itu. Ia melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian pandangannya menebar ke segenap penjuru pertempuran. Di sebelah kirinya, tidak terlalu jauh, ia melihat Ki Ageng Pandan Alas menyusup ke dalam daerah pertempuran untuk mendekati Pasingsingan.

Agaknya ia benar-benar ingin tahu, apakah Pasingsingan ini benar-benar Pasingsingan sahabatnya dahulu. Ia masih ingat, di alun-alun Banyubiru, ia pernah bertempur dengan Pasingsingan itu. Meskipun Pasingsingan itu mempunyai pusaka-pusaka dengan ciri-ciri khususnya, namun ia tetap meragukannya. Demikianlah, supaya kedatangannya di Pangrantunan ini ada juga hasilnya, apabila ia benar-benar dapat mengetahui, siapakah yang bersembunyi di balik topeng yang jelek itu.

Pandan Alas menyesal, bahwa ketika ia dengan tergesa-gesa berangkat dari Gunungkidul, ketika didengarnya kabar, tentang kerusuhan di Banyubiru, yang ternyata seterusnya berkembang menjadi kerusuhan-kerusuhan di Pamingit dan Pangrantunan, tidak diajak serta muridnya, Sarayuda, yang setidak-tidaknya akan dapat membantu memperingan pekerjaan laskar Pamingit dan Banyubiru. Tetapi yang didengarnya semula adalah persoalan yang lain. Persoalan antara Banyubiru dan Pamingit.

Di arah yang lain, ia melihat Titis Anganten, berdiam diri sambil tersenyum-senyum. Orang itupun agaknya sedang menikmati kesibukan pertempuran itu. Ia menunggu saja, siapakah yang akan datang kepadanya. Hanya sekali-kali ia harus bergerak menghindari serangan dari laskar golongan hitam, yang menyangka bahwa Titis Anganten itu dapat dikenalinya dengan mudah. (Bersambung)

PARA penyerang itu menjadi kecewa setelah mereka sadar, bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Titis Anganten. Karena itu segera mereka mencari sasaran lain, dan menyerahkan Titis Anganten itu kepada para pemimpin mereka. Namun sesaat kemudian, ia melihat Titis Anganten itu tertawa, sambil meloncat maju menyongsong seorang yang bertubuh tegap tinggi dan berkepala besar. Sura Sarunggi dari Rawa Pening.

Sesaat kemudian Ki Ageng Sora Dipayana melihat Bugel Kaliki, Si Bongkok dari Gunung Cerme, datang ke arahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Agaknya ia harus bertempur melawan hantu bongkok itu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia kenal benar bahwa Si Bongkok itu seperti bertangan bara. Sentuhan-sentuhan atas tubuh lawannya oleh tangan Bugel Kaliki itu, kulitnya pasti akan terkelupas. Namun Bugel Kaliki itupun sadar. Sentuhan tangan Ki Ageng Sora Dipayana dapat merontokkan isi dada, dan dapat menghentikan peredaran darah. Bagian dari aji Lebur Sakethi sungguh tak dapat diabaikan. Apalagi Lebur Saketi dalam ujud kasarnya. Akan luluhlah setiap sasaran yang dapat dikenainya. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menyambut lawannya, ia mencoba untuk melihat sapit sebelah kiri. Dadanya berdesir ketika ia melihat Sima Rodra mengaum dengan dahsyatnya menerkam Mahesa Jenar. Apalagi ketika melihat Mahesa Jenar menyambutnya seorang diri, tidak dengan perlindungan laskarnya sama sekali.

Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu, selain berdoa, mudah-mudahan Mahesa Jenar segera menempatkan dirinya dalam lingkaran laskarnya. Ia juga cemas akan nasib sahabat Mahesa Jenar yang bernama Putut Karang Jati. Bahkan ia dengan sengaja menempatkan diri di garis lintas Naga dari Nusakambangan. Nagapasa itu benar-benar orang yang dapat berbuat seperti ular naga. Hampir seluruh tubuhnya dapat dipergunakannya untuk bertempur.

Tetapi sesaat kemudian, Bugel Kaliki telah berdiri di hadapannya. Sambil tertawa kecut hantu itu berkata, ”Selamat pagi Ki Ageng Sora Dipayana yang sakti. Jangan kau perhatikan nasib orangmu yang bernama Mahesa Jenar itu. Biarlah ia lumat ditangan Harimau Tua dari Lodaya.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Ternyata Bugel Kaliki memperhatikannya, dan mencoba mempengaruhi perhatiannya, agar ia tidak dapat memusatkan pikirannya untuk melawan Bugel Kaliki itu.

Karena itu ia tertawa sambil menjawab, ”Ia bukan sanak, bukan kadang. Biarlah ia berusaha untuk menjaga dirinya sendiri.”

Mata Si Bongkok itu tiba-tiba menjadi sipit. Meskipun demikian ia berkata, ”Bagus. Agaknya kau tidak peduli pula atas anakmu yang bernama Lembu Sora. Dapatkah ia melawan Jaka Soka? Dan cucumu Sawung Sariti yang harus bertahan melawan Wadas Gunung, murid Pasingsingan? Sedang cucumu yang satu lagi sedang dilibat oleh aji Alas kobar Lawa Ijo dari Mentaok?”

Ki Ageng Sora Dipayana sekali lagi memandang berkeliling. Daerah pertempuran itu sudah semakin ribut. Masing-masing berjuang dengan segenap tenaga yang ada. Terhadap Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana tak perlu cemas. Ia tidak perlu khawatir bahwa Jaka Sora akan dapat mengalahkan anaknya dengan mudah. Apalagi Lembu Sora berada di dalam barisan Pamingit yang penuh, setelah laskar Banyubiru datang membantu. Juga Sawung Sariti tak perlu dirisaukan. Wadas Gunung adalah murid Pasingsingan yang tidak banyak mendapat perhatian dari gurunya. Sebab segenap harapan ditumpahkan kepada Lawa Ijo. Terhadap Arya Salaka, ia perlu menimbang-nimbang. Ia tahu bahwa Arya Salaka setidak-tidaknya memiliki ketangkasan dan ketangguhan sama dengan Sawung Sariti.

Namun kali ini ia harus berhadapan dengan Lawa Ijo, yang memiliki kesaktian lebih dahsyat dari Wadas Gunung. Tanpa dikehendakinya sendiri, Ki Ageng Sora Dipayana memperhatikan sapit sebelah kiri dari gelar Sapit Urang-nya. Ia bangga atas kesempurnaan gelar itu. Ia melihat di ujung laskar Banyubiru, suatu lingkaran yang menganga dan menyerang orang-orang Pamingit dengan dahsyatnya.

Namun sayap kiri itu baginya sangat mencemaskan. Di sayap itu berkumpul tokoh-tokoh Nagapasa dan Sima Rodra bersama-sama dengan Lawa Ijo. Namun kali ini ia tidak banyak mempunyai waktu, sebab sekali lagi ia mendengar Bugel Kaliki mendengus. ”Ha, kau ingin pergi ke sayap kirimu yang mulai rusak...?”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum, ”Aku sedang menilai pertempuran. Agaknya keseimbangan dari kedua laskar itu telah berubah sama sekali. Apa katamu tentang laskar Banyubiru yang seperti taufan melanda laskarmu?”

Tiba-tiba Bugel Kaliki itu tertawa terbahak-bahak, jawabnya, ”Buat apa aku ributkan laskar yang sedang bertempur itu? Aku datang kemari seorang diri. Tak peduli apakah laskarmu atau laskar kawan-kawanku yang akan binasa.”

”Dan kau sendiri...?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

”Aku sendiri akan dapat menjaga diriku. Aku dapat berbuat sekehendakku,” sahut Bugel Kaliki.

”Lalu sekarang apa yang kau kehendaki?” tanya Sora Dipayana.

”Nagasasra dan Sabuk Inten. Berikan itu kepadaku. Nanti aku akan membantu laskarmu,” jawab hantu bongkok itu.

”Buat apa?” tanya Ki Ageng.

Bugel Kaliki tertawa. Jawabnya, ”Buat apa kau sembunyikan keris itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana sama sekali tidak perlu memberikan keterangan, sebab ia yakin bahwa kata-katanya akan dipercaya. Karena itu ia menjawab seenaknya, ”Mungkin suatu waktu perlu untuk melawan serangan seperti yang terjadi kali ini.”

Bugel Kaliki tiba-tiba menjadi tegang. ”Kalau begitu kedua keris itu benar-benar masih kau simpan?” ”Apa kepentinganmu?” sahut Sora Dipayana.

”Aku akan mencoba mempertahankan diri. Meskipun aku sudah tua, namun mati karena tanganmu, sungguh tak menyenangkan,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana. Bugel Kaliki tak mau berbicara lagi.

Setelah memandangi pertempuran itu sekali lagi, tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak tinggi. Ki Ageng Sora Dipayana pun telah bersedia pula. Karena itu segera ia menghindar untuk segera meloncat dengan tangkasnya menyerang kembali. Demikianlah, kedua orang itu kemudian bertempur dengan dahsyatnya di antara hiruk pikuk pertempuran.

Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar harus memusatkan segenap perhatiannya untuk melawan hantu bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, ia tidak mempunyai kesempatan mengamati pasukannya. Meskipun demikian, ia merasa bahkan laskar Pamingit dan Banyubiru bersama-sama, dapat mengimbangi laskar lawan, bahkan sedikit demi sedikit terasa, garis pertempuran itu bergeser maju. Bugel Kaliki itu, meskipun punggungnya melengkung karena bongkoknya, namun gerakannya sangat berbahaya. Ia dapat meloncat-loncat dengan lincahnya, menerkam dan menghantam. Bahkan kakinya pun tak kalah tangkasnya.

Ia dapat berloncatan seperti kijang, namun sekali-kali menerkam seperti serigala.

Tetapi Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang telah cukup makan pahit-getirnya penghidupan. Dengan tak kalah lincahnya, ia meloncat menghindari setiap serangan yang kemudian dengan lincahnya pula ia menyerang lawannya kembali. Kedua tangannya bergerak dengan cepatnya, seperti sayap seekor burung branjangan. Dengan dahsyatnya kedua tangan orang tua itu mematuk-matuk, ke pusat-pusat simpul syaraf.

Inilah yang mengerikan. Sekali tubuh lawannya tersentuh jarinya, akan bekulah seluruh daging-daging syarafnya. Dan ini pun dimaklumi oleh lawannya.

Sehingga Bugel Kaliki pun berjuang keras untuk melindungi setiap kemungkinan itu. Ia percaya kepada ketangkasannya dan kekuatannya. Kepada kesaktiannya, yang dapat menjadikan tangannya sepanas bara. Ia menamai kesaktian itu Candra Mawa, di samping ilmunya yang tak kalah dahsyatnya, yang dengan bangga disebutnya Dasa Prahara. Dengan demikian maka pertempuran itu merupakan pertempuran yang dahsyat antara dua orang perkasa. Sehingga setiap orang di sekitarnya terpaksa bergesa-gesa menjauhkan diri.

Untuk sesaat pertempuran antara laskar Pamingit dan laskar golongan hitam, di sekitar kedua tokoh tua itu terhenti. Dengan keheran-heranan mereka memandang perkelahian yang berubah seperti lesus yang berputar-putar mengerikan. Tetapi ketika mereka tersadar, segera mereka terlibat kembali dalam pertempuran yang sengit. Matahari semakin lama menjadi semakin tinggi beredar di langit yang bersih.

Begitu cepat, seakan-akan begitu tergesa-gesa untuk dapat melihat medan pertempuran itu dengan jelas. Untuk kesekian kalinya bola api yang terapung itu melihat betapa manusia bertengkar dan bertempur di antara mereka. Sudah berapa banyak darah yang mengalir dari luka-luka di tubuh mereka, telah berapa banyak air mata yang mengalir karenanya. Namun manusia itu tidak jemu-jemunya, saling membunuh karena mereka bertentangan kepentingan. Terdoronglah kepentingan mereka, golongan mereka, diri mereka, maka kadang-kadang mereka lupa, betapa, manusia tercipta karena cinta. Larutlah cinta itu seperti kabut yang dilanda angin, apabila mereka dihadapkan pada pemanjaan diri. Pemanjaan nafsu jasmaniah. Dan lupalah mereka akan hari-hari yang dijanjikan. Hari pengadilan di ujung zaman. Namun Tuhan Maha Tahu. Didengar-Nya apa yang terlontar dari bibir kita, apa yang terucapkan oleh mulut kita. Bahkan tahulah Tuhan apa yang terukir di dalam hati kita. Sehingga dengan demikian kebaktian bukanlah janji, namun sebenarnya kebaktian adalah tingkah laku dan pengamalan. Semakin tinggi matahari memanjat langit, pertempuran di lereng Gunung Merbabu itu menjadi semakin riuh.

Berdentanglah bunyi senjata beradu, dibarengi teriakan seram dan pekik ngeri kesakitan.

DI pangkal sayap kanan, Titis Anganten sedang sibuk melayani Sura Sarunggi yang bertubuh tegap kekar dan bekepala besar. Dengan gerak yang kasar penuh kebencian, Sura Sarunggi menyerang lawannya tanpa pengendalian diri. Ia ingin segera melihat Titis Anganten menjadi lumat.

Titis Anganten yang bertubuh kecil dan sama sekali tak segagah lawannya itu dapat bertempur dengan sempurna. Gerak-geraknya yang tampak lemah dan tak bertenaga, namun seakan-akan memiliki pengaruh yang tak dapat diduga akibatnya. Titis Anganten benar-benar berkelahi seperti perempuan.

Kalau saja tangannya menyentuh lawannya, maka ia segera mencubitnya. Namun cubitan itu benar-benar luar biasa, sehebat sengatan seribu lebah bersama-sama. Sedang lawannya adalah seorang yang bertenaga raksasa. Sambaran tangannya menimbulkan desir angin dingin yang mengerikan. Kalau suatu kali ia terpaksa membuat benturan kekuatan, maka mereka bersama-sama akan tergetar surut.

Di bagian lain, dengan penuh kemarahan dalam hati, Pasingsingan berhadapan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Ketika Pasingsingan memandangnya seperti memandang hantu, berkatalah Ki Ageng Pandan Alas, ”Apakah aku aneh?”

Pasingsingan menggeram, jawabnya, ”Kenapa kau hadir juga di sini?”

”Apa salahnya? Sahabat-sahabatku semua berada di sini. Ki Ageng Sora Dipayana, Titis Anganten dan kau Pasingsingan. Bukankah sudah sebaiknya kalau aku datang pula?” sahut Pandan Alas.

Sekali lagi Pasingsingan menggeram. ”Jangan banyak ribut. Jangan bicara lagi tentang sahabat, tentang masa lampau dan segala macam kenangan tak berarti. Yang sebaiknya segera kau lakukan adalah meninggalkan daerah ini.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. ”Kenapa aku harus pergi. Atas hak yang sama, maka seperti kau aku hadir dalam pertemuan ini.”

”Aku sebenarnya menyayangkan nyawamu. Jangan kau mati tanpa arti. Sebab persoalan kami bukanlah persoalan yang dapat kau campuri,” sahut Pasingsingan.

”Kenapa tidak? Daerah ini daerah Pangrantunan. Ki Ageng Sora Dipayana gembira melihat kehadiranku. Kenapa kau tidak?” kata Pandan Alas.

Pasingsingan menggeram kembali. Suaranya melingkar-lingkar di dalam perutnya. Sekali-kali melayangkan pandangannya ke seluruh daerah pertempuran. Ia melihat Bugel Kaliki berhadapan dengan Ki Ageng Sora Dipayana sendiri, sedang Sura Sarunggi bertempur melawan Titis Anganten.

Di ujung lain ia melihat Mahesa Jenar bertempur melawan Sima Rodra yang menyimpan dendam di dadanya. Pasingsingan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu, bagaimana mungkin Mahesa Jenar dapat melawan aji Alas Kobar beberapa waktu yang lampau didekat Candi Gedong Sanga.

Malaekat manakah yang telah memberinya kesaktian sedemikian tiba-tiba? Sedang di bagian lain, Pasingsingan melihat kawan Mahesa Jenar bertempur melawan Nagapasa. Ia mengharap Nagapasa segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian, kelebihan yang seorang itu, akan mempunyai banyak akibatnya.

Nagapasa dapat membantu salah seorang dari tokoh-tokoh hitam itu, memusnahkan lawan-lawan mereka satu demi satu dengan cepat.

”Apa yang kau renungkan?” tanya Ki Ageng Pandan Alas.

”Bukan apa-apa,” sahut Pasingsingan.

”Aku sedang berbangga.”

”Apa yang kau banggakan?” desak Pandan Alas.

”Laskarku dari Mentaok. Sekarang mereka akan menghancurkan laskar Banyubiru dan Pamingit. Lusa mereka akan menghancurkan laskar Demak,” jawab Pasingsingan.

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. ”Jangan mimpi. Kau kira Demak itu seperti apa? Itulah contohnya, satu di antara prajuritnya yang bernama Rangga Tohjaya. Bahkan seandainya kau dapat mengalahkan laskar Banyubiru dan Pamingit sekalipun, maka Banyubiru dan Pamingit berhak mendapat perlindungan dari Demak, seandainya mereka benar-benar tak mampu mengatasi kesulitan mereka.

Nah apa katamu? Apakah arti laskar alasan itu?” Pasingsingan menjadi marah. ”Lihat, sebagian dari laskar gabungan kami. Kami masih menyimpan tenaga cadangan di Pamingit dan di daerah kami sendiri-sendiri.”

”Bagus. Agaknya kau benar-benar menghemat. Sedikit-sedikit saja orangmu yang bunuh diri di medan ini, supaya kau sempat berbuat aneh-aneh didalam pertempuran. Kau agaknya dapat melepaskan nafsu-nafsu yang aneh di sini. Bau darah dan teriakan-teriakan yang mengerikan dapat menyegarkan tubuhmu,” sahut Pandan Alas.

”Gila. Jangan banyak bicara lagi. Tinggal pilih, kembali ke asalmu atau mati berkubur debu di sini,” gertak Pasingsingan.

Pandan Alas tidak menjawab. dengan tersenyum ia bersiaga. Dan apa yang diduga benar-benar segera terjadi. Dengan garangnya Pasingsingan mengembangkan tangannya, dan dalam satu loncatan ia menerkam lawannya.

Cepat Pandan Alas mengelak dengan satu langkah ke samping sambil merendahkan dirinya. Tangan kanan Pasingsingan menyambar di atas kepalanya dengan cepatnya seperti desis angin yang keras.

Tetapi dalam sekejap Pandan Alas telah memutar tubuhnya dan kaki kanannya melontar ke arah lambung Pasingsingan. Pasingsingan menggeliat dengan lincahnya, dengan sikunya ia melindungi dirinya.

Demikianlah kedua orang itu segera terlibat dalam perkelahian pula seperti yang lain-lain. Mereka masing-masing mempunyai kekhususan yang sulit diketahui. Sekali-kali mereka melontar kian-kemari, namun di saat lain mereka berbenturan dengan hebatnya. Serangan Pasingsingan benar-benar seperti topan yang dahsyat, namun Ki Ageng Pandan Alas tidak kurang dari angin ribut yang mengerikan.

KEDUA orang itu berjuang dengan segenap kekuatan dan tenaga, dengan segenap kepandaian dan kemampuan. Ketika keringat mereka mulai mengalir membasahi pakaian-pakaian mereka maka pertempuran itu menjadi kian sengit. Bahkan kemudian yang tampak seakan-akan seperti gulungan asap yang berputar-putar dengan cepatnya, seperti gulungan awan mendung dilangit. Sekali-kali terdengar benturan-benturan seperti ledakan guntur menjelang datangnya prahara. Daerah pertempuran itupun menjadi kabur oleh hamburan debu yang melingkar-lingkar menaburi kedua orang yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Sedang gerak kedua bayangan di dalam lingkaran debu itu tak dapat diamati lagi.

Di sayap kiri gelar Sapit Urang dari laskar gabungan antara Pamingit dan Banyubiru itu pun terjadi pertempuran yang dahsyat. Laskar golongan hitam bertempur membabi buta. Siapapun dan apapun yang ada di hadapannya pasti akan dihancurkannya. Namun mereka terpaksa menelan ludah mereka, ketika mereka membentur laskar Banyubiru. Bantaran di ujung sapit, Jaladri di tengah-tengah, dan Panjawi di pangkalnya, merupakan benteng-benteng yang kokoh kuat, yang tak tergoyahkan oleh arus banjir dari orang-orang golongan hitam itu.

Di antara mereka itu terdapatlah Sima Rodra yang sedang mengaum-ngaum dengan kerasnya. Betapa ia mencurahkan dendam di dadanya kepada orang yang bernama Mahesa Jenar itu. Orang yang telah membunuh menantunya serta membebaskan tawanan anaknya di bukit Karang Tumaritis. Selain itu, ternyata bahwa Rara Wilis, yang dalam pengertian Sima Rodra diselamatkan oleh Mahesa Jenar di Karang Tumaritis itulah yang membunuh anak perempuannya. Karena itu ia ingin melepaskan beban yang selama ini menghimpit jantungnya kepada Mahesa Jenar.

Tetapi sekali dadanya berguncang ketika ia mendengar Mahesa Jenar tertawa. Tidak terlalu keras, namun nadanya hampir memecahkan dadanya.

"Gila...!" teriaknya.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Bukan apa-apa," jawab Mahesa Jenar.

"Aku hanya menyatakan kegembiraan hatiku setelah lama kita tak bertemu."

"Bukan saatnya bergurau. Lebih baik kau menyebut nama nenek moyangmu selagi kau sempat," geram harimau dari Lodaya itu.

"Kau ingin melunakkan hatiku? Jangan kau sangka bahwa hatiku sekecil hati kelinci dan selunak hati kucing yang dihadapi daging. Aku adalah Sima Rodra dari Alas Lodaya," teriak harimau itu dengan garangnya.

"Aku sudah tahu dan aku sudah mengenalmu sejak lama. Sejak kau mencegat aku di jalan silang ke Bergota dari Gunung Tidar bersama Kakang Gajah Sora. Kemudian di Gedangan kita bertemu lagi," jawab Mahesa Jenar, tetapi ia lupa bahwa Kebo Kanigara berperankan diri di Karang Tumaritis membebaskan Wilis. Karena itu Sima Rodra berteriak, "Kau ingin mengurangi kesalahanmu. Di Karang Tumiritis kau telah menghinakan kami. Kau berhasil membebaskan perempuan tawanan anakku, cucu Pandan Alas. Bahkan karenanya akhirnya perempuan itu membunuh anakku."

Ketika Mahesa Jenar teringat peristiwa itu, kembali ia tertawa. Ia mencoba tertawa seperti Kebo Kanigara tertawa. Katanya, "Inilah murid perguruan Pengging. Mahesa Jenar."

Kembali dada Sima Rodra terguncang. Tertawa yang demikian itu pulalah yang didengarnya pada saat itu di bukit Karang Tumaritis, ketika seorang yang menamakan diri Mahesa Jenar tiba-tiba seperti terbang dan hinggap di atas batu karang sambil berkata, "Inilah Mahesa Jenar, murid perguruan Pengging."

"Gila. Jangan kau berbangga atas kemenanganmu saat itu. Kau memang mempunyai kelebihan dari kami dalam hal melarikan diri dan bersembunyi," bentak Sima Rodra. "Tetapi marilah kita sekarang berhadapan. Tidak melarikan diri dan tidak bersembunyi."

"Kali ini aku tidak akan bersembunyi dan melarikan diri. Aku kini berdiri di antara laskar yang sedang bertempur. Karena itu akupun harus bertempur seperti mereka. Menang atau kalah, marilah kita serahkan kepada keputusan tertinggi. Sebab aku yakin, kebenaran tak akan dapat ditindas oleh kejahatan," jawab Mahesa Jenar.

"Huh, pandangan hidup yang didasarkan pada keputusasaan. Bagiku menang atau kalah tergantung kepada kita sendiri. Dan bahwa suatu ketika kebenaran akan lenyap oleh kejahatan dan di atasnya akan aku bangun kebenaran yang baru menurut seleraku," bantah Sima Rodra.

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Sima Rodra akan membangun kebenaran di atas bangkai-bangkai dan kejahatan. Benar-benar seorang yang tidak tanggung-tanggung. Kebenaran baginya tidak lebih dari pemuasan nafsu sendiri.

Akhirnya ia menjawab, "Semakin banyak orang seperti kau di dunia ini, semakin parahlah tata kehidupan manusia. Peradaban yang kau bina, seperti yang dilakukan oleh anak menantumu di Gunung Baka, di kaki bukit Karang Tumaritis, dan barangkali di seribu tempat lain, menunjukkan betapa kau telah menghilangkan batas antara manusia dan binatang, antara manusia dan setan. Pemanjaan nafsu, pemutarbalikan tata kesopanan, pemujaan pada kekejaman dengan mengorbankan gadis-gadis di atas batu-batu pemujaan yang kau buat, dengan mengalirkan darahnya."

"Jangan berlagak seperti malaikat yang bersih suci," potong Sima Rodra. "Hidupku dan hidupmu tidak akan lebih dari kisaran satu abad. Kenapa tidak kau nikmati hidupmu yang pendek itu?"

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya