Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 103
RARA WILIS mengangguk sambil tersenyum, jawabnya, ”Kalau kau berhasil Widuri, dan kemudaian Ki Ageng Sora Dipayana berhasil pula mencegah terjadinya pertumpahan darah, maka berpuluh-puluh jiwa yang akan menjadi benteng dalam perjuangan ini dapat diselamatkan, serta berpuluh-puluh wanita akan mengukir di dalam hatinya, bahwa seseorang telah membendung air mata mereka yang akan tertumpah, karena mereka kehilangan suami, serta beribu-ribu anak-anak yang akan meneriakkan kembali nama bapaknya, ketika bapak mereka kembali dengan selamat dari pertumpahan yang urung nanti.” Terasa sesuatu bergerak-gerak di tenggorokannya.
Dengan tidak sengaja gadis itu memandang ayahnya. Bagaimanakah perasaannya kalau pada suatu kali ayahnya itu pergi dan tidak akan kembali. Tetapi pada saat itu tiba-tiba ayahnya memandangnya pula. Agaknya Kebo Kanigara pun ragu, apakah pertempuran dapat dihindari. Karena itu ia merasa perlu untuk melindungi anaknya lebih rapat lagi.
Dengan berbisik ia menyerahkan sesuatu kepada Endang Widuri, katanya, ”Inilah bandul kalungmu. Pasanglah.”
Widuri menerima pemberian itu. Ia terpekik kecil ketika ia melihat sebuah benda yang berkilat-kilat di tangannya. Sebuah gelang putih gemerlapan dan dari dalamnya memancar cahaya kebiru-biruan. Pada dinding luar gelang itu, terdapatlah ukiran api yang menyala, sehingga gelang itu menjadi seolah-olah bergerigi tajam.
”Apakah ini ayah?” tanya Widuri sambil tersenyum keriangan. Ia belum pernah melihat benda itu sebelumnya.
”Itulah kelengkapan kalungmu itu. Pasanglah di ujungnya,” jawab ayahnya.
”Apakah namanya?” desak gadis itu.
”Cakra,” jawab ayahnya singkat.
”Cakra? Adakah cakra ini yang dahulu dipunyai oleh Prabu Kresna?” tanya Widuri pula.
”Hus, jangan mimpi. Kalau aku memiliki cakra peninggalan Prabu Kresna, bukankah aku dapat menggugurkan bukit Merbabu itu?”
Endang Widuri masih saja mengagumi cakra pemberian ayahnya itu. Ia menjadi geli mendengar jawaban ayahnya. Katanya, ”Ah, aku kira dengan cakra ini aku akan mampu menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan.”
”Pakailah,” potong ayahnya, ”Lalu kerjakan tugasmu.”
Widuri seperti tersadar dari mimpi yang menyenangkan tentang cakra itu. Ia teringat pada pekerjaannya yang diserahkan kepadanya oleh Rara Wilis. Karena itu ia melangkah lebih cepat menyusul Arya Salaka yang berjalan beberapa langkah di depannya.
”Kakang...” bisik Endang Widuri setelah ia berjalan di samping anak muda itu. Arya Salaka menoleh. Kali ini Endang Widuri tidak mau kedahuluan lagi, sehingga ia tidak sempat untuk berbicara. Karena itu segera ia berkata, ”Kakang lihat ini.”
Arya melihat benda yang berkilat-kilat di tangan gadis itu.
”Apakah itu?” ia bertanya.
”Cakra,” jawabnya singkat.
”Bagus,” gumam Arya Salaka, ”Lihat.”- Widuri menyerahkan cakra itu kepada Arya Salaka yang mengaguminya.
Arya Salaka segera tahu, bahwa benda itu adalah kelengkapan kalung Endang Widuri. Dengan senjata itu Widuri akan menjadi gadis yang benar-benar berbahaya di dalam pertempuran. Pada saat ia menyaksikan Endang Widuri berkelahi melawan Bagolan, rantai gadis itu sama sekali tidak berbandul.
Dengan rantai itu saja Bagolan sama sekali tak berdaya melawannya, apalagi kalau di ujung rantainya tersangkut senjata itu.
Ketika Arya Salaka masih mengagumi senjata itu, berkatalah Endang Widuri kepadanya, ”Kakang, apakah barisan ini sekarang juga akan mulai dengan gelar perang?”
Arya mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia mengangguk, jawabnya, ”Ya, begitu barisan ini keluar dari mulut lembah, aku pasang gelar.”
”Apakah kakang akan mulai dengan pertempuran langsung siang ini juga?” tanya Widuri pula.
Arya menengadahkan wajahnya. Ia melihat matahari telah melampaui kepalanya. Pertanyaan Widuri itu tepat benar. Kalau ia mulai hari ini dengan menyerang langsung jantung kota, maka ia akan terganggu oleh gelap malam. Ia tidak dapat memperhitungkan, apakah ia akan dapat menyelesaikan pertempuran sehari, dua hari, seminggu atau lebih.
Tetapi ia sudah punya rencana lengkap. Hampir setiap hari ia mendapat petunjuk-petunjuk dari Mahesa Jenar. Dari petunjuk-petunjuk itu ia sudah dapat mengetahui dengan pasti, apakah yang harus dilakukan kalau ia harus merebut Banyubiru dengan kekerasan. Soalnya hanyalah soal waktu saja. Ia harus membagi pasukannya dalam tiga bagian. Sayap kiri, kanan dan induk pasukan. Sayap kiri itu harus membawa dirinya melewati jurusan Timur. Mendaki bukit di sebelah timur untuk kemudian menguasai daerah Banyubiru bagian timur. Sedang sayap kanan harus berbuat yang sama dari arah barat. Namun di samping itu, sayap ini mempunyai tugas untuk melakukan pencegatan, apabila datang bantuan dari Pamingit.
”Pertempuran tidak harus berlangsung hari ini.”
Akhirnya terdengar Arya bergumam. ”Hari ini aku akan menghadapkan laskarku ke perbatasan. Malam nanti sayap-sayapku akan mulai berkembang. Besok pagi aku mulai dengan gerakan memasuki kota.”
WIDURI mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian ia tinggal mempunyai waktu sedikit. Kalau laskar ini telah terpecah, maka akan sulitlah untuk mengubah setiap rencana yang sudah dipersiapkan itu.
"Kau menghadapi pekerjaan yang berat, Kakang," kata Widuri.
"Ya, aku sadari itu sepenuhnya. Paman Lembu Sora bukan orang yang bodoh. Ia mempunyai pandangan yang luas dan dalam. Ia memiliki keahlian bersiasat. Aku kira Sawung Saritipun akan memiliki sifat-sifat itu juga."
"Sadar atau tidak sadar, apa yang kau lakukan ini mirip benar dengan ceritera Baratayuda." Endang Widuri mulai dengan usahanya menyampaikan pesan Rara Wilis.
Arya mengangguk sambil tersenyum.
"Mungkin," gumamnya.
Kemudian mulailah Widuri berceritera dari ceritera yang didengarnya dari Rara Wilis. Ternyata Widuri benar-benar memiliki kecerdasan yang mengagumkan. Dengan hati-hati ia mengemukakan persoalan demi persoalan. Apa yang diduga oleh Rara Wilis ternyata sebagian besar benar. Kalau yang menyampaikan ceritera itu kepada Arya Salaka orang lain, bukan Widuri, maka akibatnyapun akan lain.
Tetapi kali ini Arya mendengar ceritera tentang Bisma dan Prabu Salya dari Endang Widuri. Dari seorang gadis yang aneh baginya. Arya Salaka sendiri tidak tahu, pengaruh apakah yang sudah memukau dirinya, sehingga setiap kata dari gadis itu sedemikian meresap ke dalam dadanya. Iapun kemudian merasa, betapa menyesalnya nanti, apabila eyangnya melibatkan diri di dalam pertempuran ini.
Eyangnya yang menurut Mahesa Jenar mengharap kedatangannya. Mengharap untuk dapat menemui cucunya yang telah lama hilang. Ia tidak tahu, apakah ada di antara orang di dalam pasukannya yang mampu menandingi eyangnya itu.
Tetapi Mahesa Jenar kini ternyata memiliki ilmu yang dahsyat. Disamping itu ada Kebo Kanigara.
Tiba-tiba ia menyesal atas dugaannya itu. Kenapa ia seolah-olah yakin bahwa eyangnya akan berpihak kepada pamannya. Apakah tidak mungkin kakeknya itu datang kepadanya dan berkata, "Kau benar Arya. Karena itu aku berada di pihakmu."
Bahkan lebih daripada itu. Akhirnya Arya Salaka sampai pada pikiran yang sejalan dengan pikiran Mahesa Jenar. Apakah tidak mungkin apabila kakeknya itu berkata kepada pamannya, "Lembu Sora, tinggalkan Banyubiru. Serahkanlah daerah ini kepada anak yang bernama Arya Salaka, putra kakakmu Gajah Sora."
Lalu pamannya itu menjawab, "Baiklah ayah." Bukankah dengan demikian pertempuran dapat dihindari?
Tetapi Lembu Sora bukanlah orang yang dapat berlaku demikian. Untuk beberapa lama Arya Salaka berdiam diri. Ia berjalan saja tanpa menoleh. Matanya seolah-olah terpaku pada bukit yang terbujur jauh di hadapannya, yang sekali hilang ditelan oleh bukit kecil di sekitar jalan yang dilaluinya, tetapi yang kemudian muncul kembali, seakan-akan tersembul dari dalam tanah.
Di langit matahari berjalan pula dengan tenangnya. Sinarnya yang semakin condong terasa seperti membakar kulit. Endang Widuri tidak tahu pasti, apakah yang sedang bergolak di dalam dada anak muda itu sebagai akibat dari kata-katanya. Tetapi iapun berdiam diri pula. Ia berjalan dengan langkah yang tetap mengikuti irama langkah barisan anak-anak Banyubiru itu. Ketika laskar itu akhirnya muncul dari daerah-daerah pegunungan, Widuri melihat suatu dataran yang luas terbentang dihadapannya. Ia mengira bahwa Arya akan segera menebarkan barisannya dalam gelar perang. Tetapi sampai beberapa lama aba-aba itu sama sekali tidak diberikannya. Laskar Banyubiru itu masih saja berjalan seperti ular yang panjang berkelok-kelok menuruti jalan sempit menuju ke Banyubiru. Di kiri kanan jalan itu terbentang padang rumput yang luas, yang di sana sini terdapat beberapa gerumbul-gerumbul kecil dan pohon-pohon perdu yang berserak-serakan. Sedang di lereng-lereng bukit kecil tampak batang-batang ilalang yang memanjat sampai ke lambung. Ketika matahari telah mulai merendah, barulah mereka sampai ke daerah yang berhadapan dengan tanah-tanah persawahan. Diseberang sawah itulah mereka baru akan menjumpai desa yang pertama.
Di kejauhan, di seberang padang-padang rumput itu, tiba-tiba tampaklah debu putih yang mengepul. Mata Arya yang tajam segera dapat melihatnya. Demikian juga Endang Widuri dan Wanamerta. Maka terdengarlah Arya Salaka berbisik, "Kau lihat debu itu, Widuri?"
Endang Widuri mengangguk. "Kuda," desisnya. "Ya, orang berkuda." Arya Salaka melengkapi.
Debu itu semakin lama menjadi semakin tipis, dan akhirnya semakin jauh dan jauh, untuk kemudian seperti hilang ditelan cakrawala. Untuk beberapa saat, orang berkuda itu mempengaruhi pikiran Arya Salaka. Namun akhirnya hatinya memutuskan, "Biarlah seandainya orang itu akan memberitahukan kepada Paman Lembu Sora. Kami sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Kasar dan halus."
Tetapi bagi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, orang berkuda itu benar-benar menimbulkan persoalan. Kuda itu ternyata menghilang ke arah barat. Seandainya orang berkuda itu, salah seorang pengawas dari Pamingit, ia tidak akan menghilang ke barat. Tetapi ia akan memacu kudanya ke selatan, dan menghilang ke balik desa yang pertama tampak di muka barisan itu. Dengan demikian, maka Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mempunyai tanggapan yang lain.
Orang itu bukanlah orang Pamingit atau Banyubiru.
"Jadi siapakah dia?" tanya Kebo Kanigara perlahan-lahan. "Tak ada lain, orang itu pasti dari golongan hitam," jawab Mahesa Jenar.
Kebo Kanigara mengangguk-anggukan kepalanya. "Satu-satunya kemungkinan," gumamnya. "Mereka akan mengambil keuntungan dari perselisihan ini," sahut Mahesa Jenar.
"Keadaan yang sulit." Kembali Kebo Kanigara bergumam.
MAHESA JENAR kemudian berdiam diri. Ia melihat bahwa Arya Salakapun telah mengetahui adanya orang berkuda yang mencurigakan itu. Tetapi ia tidak mau mempengaruhi rencana anak muda itu. Ia ingin mengetahui, sampai dimana kemampuan Arya Salaka. Ia akan memberi petunjuk-petunjuk apabila sangat diperlukan, atau laskar ini menuju kedalam bahaya.
Tiba-tiba ia melihat Arya Salaka mengangkat tangan kirinya. Kemudian terdengarlah bunyi bende dua kali berturut-turut. Sesaat kemudian berhentilah seluruh pasukan itu.
Dengan isyarat Arya Salaka memanggil para pemimpin kelompok untuk datang kepadanya. ”Kita berhenti di sini,” katanya kepada para pemimpin laskarnya. Kemudian kepada Bantaran dan Penjawi, ia berkata, ”Siapkan laskar ini menjadi tiga bagian. Sayap kiri, yang akan masuk ke Banyubiru lewat timur. Sayap kanan lewat barat dan menjaga kemungkinan datangnya bantuan dari Pamingit. Sedang yang lain, induk pasukan akan langsung menuju ke jantung kota, serta menyiapkan bagian-bagian yang harus melakukan pengejaran-pengejaran terhadap lawan yang menarik diri serta membuat pertahanan-pertahanan baru.
” Para pemimpin itupun telah tahu benar apa yang harus dilakukan, sebab perintah itu adalah perintah ulangan seperti yang mereka dengar sebelumnya.
”Tetapi...” kemudian Arya Salaka meneruskan, ”Kalian jangan bergerak lebih dahulu sebelum aku memberi perintah. Aku harus mendapat keyakinan bahwa dengan sekali tusuk, rencana kita berhasil. Karena itu aku harus menguasai keadaan medan sebaik-baiknya.”
Para pemimpin itupun mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak menanyakan apa-apa. Tugas mereka, menunggu sampai Arya memberikan perintah. Sekarang, nanti atau nanti malam. Namun mereka sudah tidak terlalu gelisah, seperti ketika mereka masih harus menunggu di perkemahan tanpa batas waktu. Sekarang mereka telah berada di garis perbatasan. Bahkan mungkin mereka tidak usah menunggu sampai besok, sebab orang-orang Pamingit itupun dapat melakukan penyerangan dengan tiba-tiba. Karena itu mereka selalu bersiap.
Tempat itu mendapat pengawalan yang kuat dari pasukan-pasukan panah yang akan menjadi ujung-ujung sayap. Kelompok yang akan menjadi sayap kiri telah memisahkan diri di bawah pimpinan Bantaran. Dalam kelompok itu ikut serta Mantingan. Sedang sayap kanan dipimpin oleh Penjawi dan Wirasaba.
Kelompok inipun telah memisahkan diri. Induk pasukan langsung berada di tangan Arya Salaka. Melihat keadaan itu, Endang Widuri menarik nafas. Ia menjadi berlega hati. Arya Salaka belum memberikan perintah bergerak kepada kedua sayap pasukan itu. Mudah-mudahan nanti malampun belum.
Ketika sebagian dari laskar itu telah beristirahat, kembali Arya Salaka teringat kepada orang-orang berkuda yang hilang ditelan cakrawala di ujung barat. Tiba-tiba ia ingin mendapat pertimbangan pendapat tentang orang berkuda itu dari Mahesa Jenar. Ia mendekati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang duduk di atas batang-batang ilalang kering bersama-sama dengan Rara Wilis.
”Paman...” katanya setelah ia pun duduk, ”Apakah tanggapan Paman Mahesa Jenar dan Paman Kebo Kanigara serta bibi Wilis tentang orang berkuda tadi?” Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, katanya, ”Apa katamu tentang itu...?” Mahesa Jenar bertanya pula.
Arya Salaka diam berpikir. Dilemparkan pandangan matanya ke arah orang berkuda tadi lenyap. Tetapi di sana sudah tidak dilihatnya apa-apa lagi. Debu yang mengepul itupun telah lenyap. Tiba-tiba iapun sadar, bahwa orang itu sama sekali bukan pengawas dari Pamingit. Sebab jurusan itu, jurusan yang ditempuh oleh orang berkuda itu, menjauhi Banyubiru.
”Ada dua kemungkinan menurut pikiran saya, Paman.” Arya menjawab. ”Orang itu mungkin pengawas paman Lembu Sora, tetapi mungkin juga bukan.”
”Kalau bukan...?” Mahesa Jenar ingin menjelaskan. ”Kalau bukan, ia adalah orang dari gerombolan hitam,” sahut Arya, ”Mungkin dari Nusakambangan, mungkin dari Gunung Tidar atau dari daerah sebelah timur Rawa Pening.”
Mahesa Jenar mengangguk-anggukan kepalanya, katanya perlahan-lahan, ”Mungkin ketiga-tiganya, ditambah orang-orang dari Alas Mentaok yang sudah dilengkapkan kembali.”
Arya Salaka mengangguk-angguk. ”Masukkan mereka dalam perhitunganmu, Arya,” Mahesa Jenar menasehati. Arya Salaka tidak menjawab, tetapi tampaklah ia berpikir keras. Sejak semula memang ia merasa betapa sulit pekerjaannya. Ditambah dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang kalangan hitam. Ia yakin bahwa gerombolan hitam dari Rawa Pening pasti mendendamnya. Apalagi kalau mereka akhirnya mengetahui bahwa dialah yang membunuh sepasang pemimpinnya, Uling Putih dan Uling Kuning. Disamping itu dendam yang tak ada taranya dari orang-orang Gunung Tidar terhadap Mahesa Jenar. Sima Rodra yang kehilangan anak dan menantunya yang dibunuh oleh Mahesa Jenar dan Rara Wilis, pasti akan mencoba menuntut balas. Demikian juga Pasingsingan yang mengalami kekalahan baru beberapa hari yang lalu. Persamaan kepentingan itu akan mereka padukan sebaik-baiknya. Mereka bersama-sama ingin membalas dendam. Juga mereka bersama-sama ingin memiliki keris-keris Kyai Nagasasradan Kyai Sabuk Inten. Mereka pulalah yang telah menyusun kekuatan untuk merebut Banyubiru dan Pamingit sebagai rintisan jalan menuju ke Demak.
MENURUT anggapan mereka, dengan keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, berlandaskan kekuatan laskar yang akan dihimpunnya kelak dari Banyubiru dan Pamingit, maka terbukalah pintu gerbang kekuasaan tertinggi. Demak. Meskipun di dalam dada mereka itu masih selalu terngiang pertanyaan-pertanyaan, ”Lalu siapakah orangnya yang akan memegang kekuasaan tertinggi diantara golongan hitam itu? Pasingsingan? Sima Rodra? Atau dari angkatan yang lebih muda? Lawa Ijo atau Jaka Soka atau yang lain lagi...?”
”Aku kira orang-orang dari golongan hitam itu akan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.” Terdengar Arya kemudian berkata. ”Mereka akan menggempur kita, apabila tenaga kita sudah jauh berkurang dalam pertempuran kita melawan orang-orang Pamingit.”
Mahesa Jenar mengangguk. Kembali Arya merenungkan kata-katanya sendiri. Alangkah jelasnya persoalan yang dihadapi. Tetapi ia telah melangkahkan kakinya karena itu ia pantang mundur. ”Akan aku bentuk pasukan-pasukan cadangan dari ketiga bagian laskarku,” katanya kemudian.
”Aku kira aku harus membuka di garis pertempuran. Pasukan-pasukan cadangan itu harus tetap segar untuk menghadapi laskar hitam yang akan datang kemudian.”
Kembali Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia bangga atas keterampilan Arya Salaka. Namun keterampilan itu adalah keterampilan pikiran anak muda yang masih berdarah panas dan berdada panas. Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak membantahnya. Ia mengharap, dalam ketenangan istirahatnya nanti Arya akan menemukan sendiri pemecahan masalah itu. Ia mengharap Arya akan mencoba menemui kakeknya. Memberitahukan persoalannya dan persoalan-persoalan lain. Diantaranya orang berkuda yang terang orang dari gerombolan hitam.
Kemudian mereka berdiam diri. Endang Widuri berjalan dengan langkah gontai ke arah mereka.
Dengan seenaknya ia menjatuhkan dirinya duduk, bersandar pada Rara Wilis.
”Dari mana kau Widuri?” tanya Rara Wilis.
”Aku melihat-lihat laskar ini. Baru saja aku bersama-sama dengan Paman Mantingan menangkap kelinci-kelinci liar,” jawabnya.
”Kau pergi ke sayap kiri?” potong Arya Salaka.
”Ya,” jawab Rara Wilis, ”Mereka sedang merebus air.” ”Jangan mondar-mandir Widuri.” Ayahnya mencoba memberi nasehat.
”Di gerumbul-gerumbul itu mungkin bersembunyi bahaya yang mengancam keselamatanmu.”
Widuri tersenyum. ”Bukankah aku sudah mempunyai cakra?”
”Jangan takabur dengan benda itu,” sahut ayahnya, ”Dengan demikian benda itu akan menyeretmu masuk ke dalam bahaya.”
”Jangan marah ayah,” jawab Widuri, ”Aku hanya bergurau.”
”Kau memang terlalu nakal.” Ayahnya melanjutkan. ”Sekali-kali aku masih ingin menarik kupingmu.” ”Jangan ayah,” potong Widuri, ”Bahkan mungkin Kakang Arya menganggap bahwa sekali-kali perlu juga aku mondar-mandir, sebab ada yang dapat aku lihat di ujung desa sebelah.”
”Apa...?” Arya tertarik pada keterangan itu.
”Cermin,” jawab Widuri.
”Cermin...?” Arya semakin tertarik, juga Mahesa Jenar.
Segera teringatlah ia pada saat Lembu Sora mencegat laskar Demak yang membawa Gajah Sora. Orang-orangnya memberikan tanda-tanda dengan benda yang berkilat-kilat.
”Aku lihat cahaya yang bersahut-sahutan. Dari desa itu dan dari desa yang jauh itu,” jawab Widuri.
Mendengar keterangan Widuri itu Arya mengangkat wajahnya, memandang jauh ke arah desa yang ditunjuk oleh Endang Widuri. Kabar yang dibawa gadis itu sangat menarik perhatian. Bahkan Mahesa Jenar kemudian berdiri tegak dan dengan cermatnya memandangi desa di hadapan laskar Banyubiru itu. Terbayanglah di dalam otaknya, pasukan yang pepat padat bersembunyi di sana. Sehingga seolah-olah pada setiap batang didalam desa itu, berdiri seorang laskar Lembu Sora, yang siap menanti kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.
Arya Salaka pun kemudian berdiri. Memanggil dua orang pembantunya, memberitahukan kepada kedua sayap laskarnya. Mereka harus di hadapan hidung mereka. Disamping itu mereka harus membentuk laskar cadangan, sebab ada kemungkinan, golongan hitam akan mengail di air yang sedang keruh.
Kedua orang itupun segera menyampaikan pesan Arya Salaka. Namun kedua orang itu masih belum membawa perintah kepada sayap-sayap pasukan itu untuk bergerak. Disamping kepada kedua orang itu, kepada Sendang Papat yang berada di dalam pasukan induk itu, Arya Salaka pun telah memerintahkan untuk memisahkan sebagian laskarnya yang harus tetap segera untuk menghadapi lawan baru yang setiap saat dapat mengancamnya. Tetapi keterangan yang diberikan kepada sayap-sayap laskarnya, sangat mempengaruhi dirinya sendiri. Golongan hitam akan mengail di air yang keruh. Kenapa ia mesti mengeruhkan airnya? Tidak, bukan dirinya, tetapi pamannya.
APA yang dilakukan Arya Salaka kini adalah akibat dari perbuatan pamannya. Kalau pamannya tidak melakukan pelanggaran atas ketetapan adat yang berlaku, maka iapun tidak akan melakukan perjuangan dengan kekerasan. Tegasnya, tanggungjawab dari keributan yang bakal terjadi adalah terletak di pundak pamannya.
Sekali lagi Arya menengokkan wajahnya ke langit. Matahari telah semakin rendah, dan sebentar lagi akan hilang dibalik bukit-bukit di sebelah barat. Burung-burung seriti dan manyar telah berterbangan berputar-putar untuk mencari tempat bermalam di atas pohon-pohon siwalan yang bertebaran di sana-sini.
”Baik, kami atau mereka, tidak akan mulai hari ini, Paman,” kata Arya Salaka kemudian. ”Sebentar lagi malam tiba.”
”Ya,” jawab Mahesa Jenar, ”Tetapi mungkin besok pagi-pagi benar sebelum pecah fajar, kau harus sudah bertempur.”
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba tangannya membelai tombaknya seperti membelai kepala adik kesayangannya. Adakah di dalam laskar pamannya nanti ikut pula orang-orang Banyubiru yang berdiri di pihak Pamingit. Dan adakah diantara mereka itu kawan-kawan sepermainan dahulu? Arya Salaka menjadi bersedih hati mengenang kemungkinan-kemungkinan itu. Tombaknya itu mungkin besok akan menusuk jantung kawan-kawannya sepermainan. Dan bukankah Sawung Sariti tidak hanya kawan sepermainannya, tetapi justru saudara sepupunya? Tetapi meskipun demikian pedang anak muda itu hampir saja menembus dadanya.
Mahesa Jenar melihat keragu-raguan yang membayang di wajah Arya Salaka, seperti ceritera tentang Arjuna yang ragu-ragu pula, pada saat Baratayuda mulai pecah. Tetapi apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan Kresna pada waktu itu. Mahesa Jenar untuk sementara membiarkan saja Arya Salaka diganggu oleh kegelisahannya.
”Sampai malam nanti...” pikir Mahesa Jenar. Yang dihadapi oleh Arya Salaka kini bukanlah pamannya itu sendiri. Inilah salah satu perbedaan dengan ceritera Baratayuda itu. Tetapi ada pihak ketiga yang tidak kalah berbahaya. Bahkan laskar hitam itu sama sekali tidak terikat pada suatu tata kesopanan ataupun kepercayaan yang dapat mengendalikan kebiadaban serta kekejaman mereka.
Ketika matahari kemudian terbenam, mereka masing-masing mencari tempat mereka sendiri-sendiri untuk beristirahat. Disana-sini bertebaran para petugas yang harus mengawasi keadaan, dengan senjata siap di tangan.
Sekali dua kali Arya Salaka mengadakan peninjauan atas kesiapan anak buahnya. Sedang di sana-sini tampak perapian menyala-nyala. Mereka kemudian seperti berpesta, ketika serombongan orang-orang yang bertugas membawa kiriman makan datang ke tempat itu.
Kepada pembawa kiriman itu Arya Salaka berpesan, ”Bawalah untuk besok pagi, sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya. Kedudukan-kedudukan baru akan segera kami beritahukan, apabila pertempuran sudah mulai.”
Kemudian keadaan menjadi sepi kembali. Masing-masing mencoba untuk mempergunakan waktu istirahat sebaik-baiknya. Namun di dalam dada Arya bergolaklah persoalan-persoalan yang rasa-rasanya semakin rumit. Sebenarnya ia sudah sampai pada waktunya untuk memerintahkan laskar di kedua sayapnya untuk bergerak. Dalam pada itu, Mahesa Jenar menjadi semakin cemas pula atas setiap keputusan yang diambil oleh Arya Salaka. Karena itu ia sama sekali tidak berani meninggalkan anak itu. Meskipun seolah-olah ia sama sekali tidak ikut campur pada setiap keputusan Arya Sakala, namun kehadirannya di samping anak muda itu ternyata sangat berpengaruh.
”Paman...” akhirnya Arya Salaka minta pertimbangan, ”Bagaimanakah kalau aku mulai melepaskan sayap-sayap laskarku?”
Mahesa Jenar pun telah merasa bahwa pada suatu ketika ia akan menghadapi pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Tetapi meskipun demikian ia masih belum melepaskan usahanya. Katanya, ”Adakah kau sudah menganggap cukup waktu?” Arya Salaka ragu. Karena itu ia bertanya, ”Kalau aku kehilangan waktu, apakah itu tidak membahayakan kedudukan kita ini Paman?”
Arya Salaka benar. Sedang orang-orang Pamingit itu telah siap di hadapannya. Mungkin mereka akan membuka gelar lebih dahulu, Supit Urang, atau Garuda Nglayang. Tetapi mereka tak akan dapat mengepung laskar ini, sebab Arya telah memisahkan kedua sayapnya agak jauh. Meskipun demikian orang-orang Pamingit dapat memotong sayap-sayap pasukan ini, untuk kemudian menyerang induk pasukan dengan gelar yang sempit. Cakra Byuha atau Dirada Meta atau Gedong Minep. Namun menilik watak Senapati yang akan memimpin laskar Pamingit itu, baik Sawung Sariti maupun Lembu Sora sendiri, pasti tidak akan mempergunakan gelar terakhir. Mereka pasti lebih senang memilih gelar Cakra Byuha atau Dirada Meta. Bahkan mungkin seperti apa yang pernah mereka lakukan terhadap pasukan Demak dengan jumlah yang sangat besar, Glatik Neba atau Samodra Rob.
Dalam menilai keadaan, Mahesa Jenar tidak dapat menutup kenyataan bahwa bukan salah Arya atau kalau Arya kini tertekad bulat untuk bertempur. Sebab kalau ia tidak melakukan itu, ia akan digilas oleh pasukan lawannya, yang barangkali saat ini sedang merayap-rayap untuk membentuk gelar perang yang berbahaya. Maka kemungkinan satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Arya, apabila ia akan menghadap eyangnya, adalah sekarang. Dan ia harus kembali sebelum tengah malam. Apabila keadaan tidak menguntungkan, sayap-sayapnya masih akan dapat mencapai tempat yang ditentukan sebelum fajar, dan memukul Banyubiru dari tiga jurusan. Tetapi adakah Arya bermaksud demikian?
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya