Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 102
DADA para pemimpin itupun menjadi semakin bergelora. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu. Ke Banyubiru sekarang juga. Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, ”Karena itu, bersiaplah kalian. Aku akan pergi ke Banyubiru sekarang juga dengan Arya Salaka.”
Ketika Mahesa Jenar berhenti berbicara, tampaklah para pemimpin Banyubiru itu saling berpandangan.
Mereka tidak begitu mengerti maksud kata-kata Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Penjawi bertanya, ”Apakah Tuan dan Adi Arya Salaka saja yang akan pergi ke Banyubiru?” Mahesa Jenar menarik alisnya. Hati-hati ia menjawab, ”Tidak. Kalian semua juga akan pergi. Tetapi baiklah aku mendahului.”
Penjawi segera mengetahui maksud Mahesa Jenar. Mahesa Jenar agaknya masih akan mempergunakan cara damainya, yang menurut dugaannya sama sekali tak akan berhasil. Karena itu terdengarlah ia menyahut, ”Tuan dan Adi Salaka, di belakang Tuan berdua adalah kami sekalian. Seluruh laskar Banyubiru ini.”
Mahesa Jenar sekali lagi menarik alisnya. Dengan ragu-ragu ia memandang Kebo Kanigara, seolah-olah minta pertimbangan. Kebo Kanigara pun mengetahui betapa sulitnya mengendalikan perasaan sekian banyak orang yang sedang marah. Tetapi sama sekali kurang bijaksana kalau ia turut campur dalam pembicaraan itu. Sebab laskar Banyubiru itu lebih banyak mengenal Mahesa Jenar daripada dirinya. Dengan demikian Penjawi hanya dapat menganguk-anggukkan kepalanya dan mencoba mengetahui perasaan Arya Salaka. Kalau saja Arya Salaka dapat ditenangkan, maka ada harapan untuk menenangkan seluruh laskar Banyubiru itu. Tetapi ketika terpandang wajah anak muda itu, baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara hanya dapat menekan dada mereka. Sebab dari mata anak itu memancarkan api kemarahannya yang menyala-nyala sehingga dalam mata itu seolah-olah membayangkan cahaya api yang bergelora. Apalagi ketika kemudian terdengar anak muda itu berkata, ”Paman, matahari masih belum tinggi di puncak langit. Kalau Paman memerintahkan, sekarang juga kita akan berangkat.”
Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Namun di dalam hatinya berkecamuk kecemasan yang gemuruh. Kalau ia menuruti perasaan marah yang meluap-luap dari pemimpin laskar Banyubiru itu, maka akibatnya adalah di luar kemauannya. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang mengerikan antara sesama keluarga. Antara orang-orang Banyubiru melawan orang-orang Pamingit yang pasti akan dibantu oleh sebagian kecil orang-orang Banyubiru juga. Banyubiru dan Pamingit adalah ibarat daun sirih. Wajah dan punggungnya. Meskipun berbeda ujudnya, namun apabila digigit, akan sama rasanya. Sebab keduanya adalah belahan dari tanah perdikan yang tunggal, tanah perdikan Pangrantunan.
Karena itulah maka Mahesa Jenar mencoba untuk mencegahnya. Dengan sangat hati-hati pula ia berkata, ”Tentu. Aku tentu akan segera minta kalian untuk berangkat. Tetapi kau adalah kunci persoalan itu, Arya. Mestikah kita memilih jalan yang pahit lebih dahulu sebelum kita coba jalan yang licin?”
”Masih adakah jalan yang licin itu, Paman?” tanya Arya Salaka. ”Kemungkinan masih selalu ada, Arya. Apalagi kakekmu Ki Ageng Sora Dipayana telah meminta agar kau datang kepadanya,” jawab Mahesa Jenar.
Arya Salaka diam sesaat. Tetapi ketika ia melihat Sendang Parapat terbaring, menyala kembalilah hatinya. Karena itu ia menjawab, ”Kalau Eyang Sora Dipayana mampu mencegahnya, maka peristiwa ini tak akan berlarut-larut.”
Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Agaknya Arya telah hampir tidak sabar lagi. Meskipun ia dapat mengetahui perasaan apakah yang telah mendorong anak muda itu, namun apa yang diucapkan itu adalah pertanda betapa sakit luka hati yang dideritanya. Didorong pula oleh sifat kepemimpinan yang dimilikinya, maka ia merasa bertanggungjawab atas keselamatan rakyat Banyubiru.
Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar merasa bahwa usahanya bertambah sulit. Namun demikian ia menjawab, ”Arya, persoalan yang dihadapi oleh eyangmu adalah terlalu sulit. Bukan sekadar mencegah tindakan-tindakan pamanmu saja. Tetapi ada persoalan-persoalan lain yang memaksanya untuk berbuat bijaksana.”
Arya Salaka kurang dapat memahami cara berpikir gurunya. Namun sebagai seorang murid yang selama ini merasakan betapa gurunya itu mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab, maka Arya Salaka tidak berani lagi untuk membantahnya.
Di sudut hatinya, Arya Salaka pun menaruh kepercayan yang kuat terhadap gurunya itu. Kepercayaan yang sedikit terdesak oleh kemarahan yang meluap-luap. Ia tahu pasti, bahwa seperti bisanya gurunya akan membawanya lewat jalan yang paling bersih dari kemungkinan noda-noda yang dapat memercik pada dirinya. Tetapi disamping itu, ketidaksabarannya telah memukul-mukul dadanya, seolah-olah akan pecah. Mahesa Jenar pun tahu, bahwa kalau kemudian Arya Salaka itu diam, bukanlah karena ia dapat meyakini kata-katanya. Kediaman anak itu baginya, seperti api yang tertutup sekam. Namun api itu tetap menyala di dalam. Karena itulah Mahesa Jenar harus dapat mengambil sikap yang sebijaksana mungkin. Ia harus tidak mematahkan anak-anak Banyubiru, namun ia pun tidak dapat membiarkan anak-anak Banyubiru itu menjadi korban ketergesa-gesaan mereka. Setelah berpikir sesaat terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Arya Salaka, siapkanlah laskarmu. Kita berangkat bersama-sama.”
Sambutan atas ucapan itu, terdengar seperti gunung meledak. Laskar Banyubiru itupun bersorak dengan riuhnya. Tiba-tiba di dalam ruangan itu menari-narilah ujung-ujung senjata, seperti anak-anak yang riang berloncat-loncatan. Berkilat-kilat ujung-ujung pedang, tombak, keris dan sebagainya. Diiringi oleh janji setia yang diucapkan tak teratur berebut keras.
PARA pemimpin laskar Banyubiru itupun kemudian berpencaran ke pasukan masing-masing. Sesaat kemudian riuhlah perkemahan itu. Arya Salaka mempunyai daya tarik yang tak ternilai besarnya, disamping perasaan keadilannya yang terinjak-injak. Karena itu, tanpa dikehendakinya, iapun melompat ke luar dari ruangan itu. Dengan wajah berseri ia melihat laskarnya mempersiapkan diri. Ia berjalan dari satu kemah ke kemah yang lain. Ia melihat kelompok demi kelompok, seolah-olah ia ingin mengetahui segenap kekuatan yang ada dalam laskarnya.
Namun dalam pada itu, di dalam kemahnya, Mahesa Jenar duduk termenung. Ia tidak dapat pergi meninggalkan laskar Banyubiru dalam keadaan yang demikian. Sebab di luar pengawasannya, dapat saja mereka melakukan hal-hal yang justru merugikan nama baik mereka dan bertentangan dengan tujuan mereka. Tetapi untuk membawa mereka serta agaknya juga akan menjadi persoalan. Bagaimana sebaik-baiknya menghentikan mereka, dan memberi kesempatan kepadanya untuk menemui Ki Ageng Sora Dipayana bersama-sama dengan Arya Salaka. Ia masih mengharap kewibawaan orangtua itu atas putra serta cucunya.
Kebo Kanigara pun agaknya menemui kesulitan dalam persoalan ini. Perlahan-lahan ia berkata, ”Mahesa Jenar, tipislah harapan kita, untuk menempuh jalan lain, kecuali bertempur. Sebab laskar Banyubiru sudah sedemikian lama menahan diri. Dan Arya Salaka sendiri tampaknya tidak sabar lagi.”
Mahesa Jenar mengangguk-angguk. Ia masih mempunyai harapan untuk menghentikan pasukan itu di tengah jalan, dan membiarkan mereka menunggu sesaat. Tetapi bagaimanakah caranya, sehingga tidak menimbulkan kejengkelan pada laskar yang setia itu?
”Kalau Arya dapat kau tenangkan, Mahesa Jenar, mungkin seluruh laskar inipun akan tunduk pada perintahnya. Sebab api didalam dada mereka itupun semakin berkobar ketika Arya Salaka berada di antara mereka,” lanjut Kebo Kanigara.
”Tak ada jalan untuk berbuat demikian Kakang. Arya telah waringuten. Agaknya ia tak dapat diajak berunding lagi. Meskipun seandainya ia diam, namun kediamannya itu justru berbahaya bagi dirinya,” jawab Mahesa Jenar.
Tiba-tiba dalam kesenyapan itu terdengar Rara Wilis berkata kepada Endang Widuri, ”Endang, bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah kau bergembira pula seperti Arya Salaka?” Widuri tidak tahu arah persoalannya. Meskipun ia mendengar pembicaraan ayahnya dan Mahesa Jenar, namun sebenarnya ia lebih setuju dengan pendapat Arya Salaka. Kenapa Banyubiru itu tidak digempur saja.
Karena itu iapun menjawab, ”Aku bergembira seperti Kakang Arya Salaka. Aku kagum pada sikap jantan yang dimilikinya.”
Rara Wilis mengangguk-angguk. ”Kaupun bersikap jantan,” katanya. ”Kenapa aku...?” sahutnya.
”Aku hanya sekadar bergembira melihat sikapnya.” Rara Wilis tersenyum. Seperti bergumam ia berkata kepada diri sendiri, ”Aku teringat pada cerita Purwa, pada saat menjelang Baratayuda. Orang-orang Pandawa pun menjadi ragu-ragu. Apakah mereka harus berjuang melawan sanak kadang mereka sendiri. Tetapi akhirnya pertempuran itupun tak dapat dihindari. Tak dapat dihindari, meskipun segala usaha damai telah dicoba. Prabu Duryudana lebih senang mendengar nasihat Durna daripada pamannya sendiri. Diantaranya Resi Bima, seorang Resi yang bijaksana, dan Prabu Salya, mertua Prabu Duryudana sendiri.
Yang mendengar ceritera itupun berdiam diri. Masing-masing dengan tanggapannya sendiri. Namun tak seorangpun yang memotong cerita itu.
”Ketika Bisma gugur...” lanjut Wilis, ”Para kadang Pandawa masih sempat menghadap Resi yang dipundhi-pundhi itu. Mereka masih sempat minta maaf dan minta pangestu kepadanya. Demikian juga sebelum Prabu Salya gugur. Nakula dan Sadewa sempat mengharap orang tua yang sakti itu. Dengan air mata mereka berdua minta agar mereka dijauhkan dari dosa mereka, karena mereka harus bertempur melawan saudara-saudara mereka yang lebih tua.”
Sekali lagi Rara Wilis diam sesaat. Widuri mendengarkan dengan penuh minat. Tetapi wajahnya telah berubah dari semula. ”Ketika kedua junjungan para darah Barata itu gugur, menyesallah kedua belah pihak. Tetapi lebih menyesal lagi mereka, seandainya mereka tidak sempat menghadap sebelumnya. Mohon maaf segala kekhilafan lahir batin. Dan akan lebih menyesal pulalah mereka, seandainya sebelum Baratayuda itu mulai, mereka belum bersimpuh di hadapan para junjungan itu.”
Wilis meneruskan. Widuri menarik nafas. Otaknya memang benar-benar cemerlang seperti bintang pagi. Sebelum Rara Wilis meneruskan, Widuri berkata perlahan-lahan, ”Bukankah Arya Salaka mampunyai junjungan pula di Banyubiru? Bukankah eyang Arya Salaka itu berada di sana, dan mungkin akan gugur pula dalam bentrokan ini?”
Rara Wilis mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan perlahan-lahan pula ia menjawab, ”Tak seorangpun yang mampu menyampaikan kekhilafan ini kepada Arya Salaka. Bukankah kau mau menolongnya, supaya ia tidak akan menyesal sepanjang hidupnya kelak?”
Widuri memandang ayahnya, Mahesa Jenar, Wilis dan orang-orang lain di dalam ruangan itu dengan senyum yang kecil. Tiba-tiba ia merasa berbahagia menerima tugas itu. ”Tidak adakah orang lain yang dapat berbuat demikian...?” bisik hatinya.
”Akan aku coba,” katanya, ”Supaya Kakang Arya Salaka tidak berbuat kesalahan. Bukankah maksud bibi sebaiknya Arya Salaka sowan eyang Ki Ageng Sora Dipayana? Bukankah dengan demikian Paman Mahesa Jenar dapat melaksanakan rencananya? Namun apabila rencana itu gagal, Arya Salaka tidak akan menyesal seandainya eyangnya itu gugur seperti Resi Bisma. Sebab ia telah bersujud di bawah kakinya.
SEMUA yang mendengar percakapan itu menarik nafas dalam-dalam. Mahesa Jenar mengucap syukur dalam hati atas kelincahan perasaan Rara Wilis. Sebagai seorang gadis, ia mempunyai tanggapan yang lebih halus terhadap pergaulan Arya Salaka dan Endang Widuri.
Tanpa disengaja, ia mengamat-amati gadis itu seperti belum pernah melihat sebelumnya. Dalam keadaan yang sedemikian, Mahesa Jenar sempat juga sekali lagi mengagumi gadis itu. Namun di dalam hatinya, Rara Wilis bukanlah gadis belasan tahun lagi. Bahkan ia sudah melampaui dunia remaja, yang tak pernah dinikmatinya seperti gadis-gadis yang lain. Hidupnya penuh dengan persoalan-persoalan yang rumit, yang menuntut ketabahan hati dan malahan akhirnya menjadikan gadis itu tidak saja berhati tabah, tetapi juga bertubuh kuat dan berilmu cukup tinggi. Meskipun demikian ia tidak dapat menerima uluran tangan saudara tua seperguruannya, untuk menikmati kelimpahan raja brana, sebagai seorang isteri Demang yang kaya raya. Ia lebih senang menunggunya, seorang kleyang kabur kanginan. Bahkan ikut serta dengan dirinya, menempuh penghidupan yang penuh dengan bahaya dalam pengabdiannya kepada Tuhan, manusia serta kemanusiaan. Memancarkan cinta kasih abadi dari sumbernya yang tertinggi.
Disamping itu, iapun mengagumi ketangkasan berpikir Endang Widuri. Gadis itu agaknya mempunyai keistimewaan yang tak dapat diduga-duga. Dalam pada itu, Mahesa Jenar pun tidak heran, bahwa Endang Widuri adalah tetesan darah Pengging. Anak Kebo Kanigara. Widuri kemudian tidak menunggu terlalu lama. Iapun segera berlari ke luar. Ia sudah bertekad untuk melakukan tugasnya sebaik-baiknya.
Dengan berlari-lari kecil ia mencari Arya Salaka diantara keributan para anggota laskar Banyubiru itu. Widuri menemukan Arya Salaka di ujung perkemahan itu. Anak muda itu sedang berdiri tegak di atas sebuah batu yang besar. Seperti sebuah tonggak ia tak bergerak, memandang ke arah pegunungan yang terbujur di hadapannya. Telamaya. Ketika Arya Salaka mendengar langkah-langkah kecil berjalan ke arahnya, iapun menoleh.
Sambil tersenyum ia menyapa halus, ”Siapakah yang kau cari Widuri?”
”Tidak ada,” jawab gadis itu singkat. Namun kemudian gadis itupun dengan lincahnya meloncat ke atas batu itu. Ia ingin menyampaikan pesan bibi Wilis itu perlahan-lahan, supaya Arya Salaka dapat menangkap urutan maksudnya.
Tetapi sebelum ia mulai berceritera terdengarlah Arya Salaka berkata, ”Sebentar lagi aku akan pergi ke bukit itu.”
”Ya,” jawab Widuri singkat.
”Tak seorangpun akan dapat menghalangi. Malang-malang putung, rawe-rawe rantas." Arya melanjutkan.
”Ya,” jawab Widuri.
”Di sana akan kita jumpai reruntuhan dari gedung yang dibangun sejak Eyang Sora Dipayana, sampai ayah Gajah Sora. Tugas kita adalah membangun reruntuhan itu, menjadikan gedung yang megah dan kuat. Kalau mungkin melampaui masa-masa yang lewat.”
”Ya.”
”Banyubiru harus dapat memancarkan kecemerlangannya kembali. Api yang menyala di jantungnya, yang telah hampir padam karena pokal Paman Lembu Sora, harus aku nyalakan kembali sebesar-besarnya.”
”Ya.”
Widuri mulai gelisah. Agaknya ia tidak akan dapat kesempatan untuk menyampaikan ceriteranya. Apalagi ketika ia sudah nekad untuk memotong angan-angan Arya Salaka itu, tiba-tiba terdengarlah sangkalala berbunyi.
Wajah Arya bertambah gembira.
”Kau dengar itu...?”
”Ya,” sahut Widuri, yang benar-benar menjadi gelisah dan cemas.
”Marilah kita bersiap,” ajak Arya. Arya tidak menunggu jawaban Endang Widuri. Dengan serta merta ditangkapnya gadis itu dan ditariknya menghambur ke arah bunyi sangkalala yang menjadi semakin nyaring. Suaranya menyusup lembah-lembah, menghantam bukit-bukit, meraung-raung seperti suara Naga Raja yang marah menuntut balas.
Ketika mereka sampai di perkemahan, mereka melihat laskar Banyubiru itu telah hampir siap. Mantingan, Wirasaba, Bantaran dan Penjawi telah mengenakan pakaian tempur, sambil menjinjing perisai yang belum diterapkan.
Melihat pelengkapan itu, dada Arya Salaka berdesir. Ia jarang melihat orang bertempur dengan perisai. Sekarang ia melihat perlengkapan yang luar biasa. Perisai, tombak larakan yang panjangnya lebih dari dua depa. Panah dan bandil. Tanpa diketahuinya, merayaplah suatu perasaan yang aneh di dalam dadanya.
Ia sudah pernah berkelahi diantara hidup dan mati. Ia pernah membunuh dua bersaudara, Uling Putih dan Uling Kuning. Tetapi ketika ia melihat persiapan terakhir dari prajurit yang berangkat berperang ia menjadi berdebar-debar.
Ketika laskarnya ini meninggalkan Candi Gedong Sanga, Arya Salaka tidak melihat perlengkapan yang demikian mengerikan. Saat itu ia melihat laskar Banyubiru itu memanggul senjata mereka, disamping perlengkapan-perlengkapan perkemahan, dan bahan makanan. Tetapi sekarang ia hanya melihat ujung-ujung senjata. Ia tidak melihat peralatan dan perlengkapan lain kecuali alat-alat penyebar maut itu.
Pada saat yang demikian itu teringatlah Salaka kepada ayahnya. Pada saat ayahnya siap untuk bertempur melawan Prajurit Demak. Pada saat itu ia melihat perlengkapan seperti itu. Dari tempat yang agak tinggi ia melihat barisan Banyubiru seperti padang ilalang yang berdaun baja. Runcing dan tajam.
Sekarang pemandangan yang mengerikan itu dilihatnya pula. Satu-satu ia memandang wajah yang riang di dalam barisan itu. Seolah-olah mereka tidak mengerti bahwa dalam perjalanan mereka, maut dapat saja menghampirinya.
MAHESA JENAR kemudian keluar dari kemahnya. Di belakangnya berjalan Kebo Kanigara dan Rara Wilis. Mereka tetap saja seperti biasa. Mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian tempur. Tidak membawa perisai dan bahkan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sama sekali tidak bersenjata. Sedang di pinggang Rara Wilis tergantung pedang tipisnya.
Ketika Mahesa Jenar melihat Arya Salaka dan Endang Widuri masih berdiri diam, iapun berkata, ”Arya bersiaplah. Bawalah tombakmu Kyai Bancak.”
Arya tersadar dari lamunannya. Segera ia meloncat berlari ke kemahnya untuk mengambil tombak Kyai Bancak. Tombak itu baginya bukan saja senjata yang telah dikenalnya baik-baik. Senjata yang seolah-olah telah merupakan satu jiwa dengan dirinya, namun senjata itu juga merupakan tanda kebesaran kepala daerah perdikan Banyubiru. Ketika Arya Salaka meninggalkan Endang Widuri sendirian, Widuri pun segera berjalan ke tempat Rara Wilis berdiri.
Perlahan-lahan terdengarlah Rara Wilis berbisik, ”Bagaimana? Sudahkah berceritera kepada Arya Salaka?”
Sambil bersungut-sungut Endang Widuri menjawab, ”Belum. Aku belum sempat berkata sepatahpun. Ketika aku menemuinya, aku hanya boleh mendengarkan ia berceritera. Tak ada putus-putusnya.”
Meskipun Rara Wilis agak kecewa seperti Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, namun mereka tersenyum.
”Belum terlambat benar,” kata Rara Wilis.
”Di perjalanan kau masih mempunyai kesempatan.”
”Aku akan coba,” sahut gadis itu.
”Kau akan ikut serta dalam barisan ini?” tanya Kebo Kanigara, meskipun ia tahu bahwa gadisnya itu tak mungkin mau ditinggalkan. Kembali Widuri bersungguh-sungguh, jawabnya, ”Apakah aku harus tinggal di sini?”
”Ya,” sahut ayahnya.
”Tidak mau,” jawab Widuri. Yang mendengar jawaban itu, terpaksa tersenyum pula.
”Perjalanan ini adalah bukan perjalanan tamasya,” ayah Widuri menerangkan. ”Aku tahu. Tetapi bukankah aku mempunyai tugas yang penting dalam perjalanan ini?” bantah Widuri.
”Menurut bibi Wilis tak ada orang yang dapat melakukannya kecuali aku.”
Kebo Kanigara tidak mau menggodanya lagi. Sebab kalau gadisnya itu jengkel, ia akan berteriak sesukanya. Meskipun demikian ia perlu memperingatkan putrinya itu.
”Kalau kau akan ikut serta, berhiaslah dahulu.” Widuri pun sadar, bahwa ia belum siap untuk mengikuti perjalanan yang berbahaya. Karena itu ia segera berlari ke kemahnya, untuk melepas kain panjangnya, mengenakan celana latihannya. Kain pendek di luar, dan yang tak dilupakannya adalah rantai peraknya.
Di kalungkan rantai itu melingkari lehernya, sedang ujungnya berjuntai dan dikaitkan pada ikat pinggangnya.
Ketika ia telah siap, segera iapun meloncat dengan lincahnya, dan menempatkan dirinya di belakang ayahnya. Arya Salaka pun telah berdiri di sana, di samping Mahesa Jenar, dengan tombak Kyai Bancak di tangannya. Di hadapan mereka, berbarislah dalam kelompok-kelompok, laskar Banyubiru. Hampir seluruhnya ikut serta, selain yang bertugas menyiapkan makan, dan yang harus menyampaikan setiap hari ke garis terdepan. Sebab mereka tidak tahu, berapa lama mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka.
Ketika mereka, laskar Banyubiru itu, telah bersiap, terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada mereka, ”Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang menentukan. Kalau kita terpaksa bertempur, maka setiap orang diantara kalian, mempunyai kemungkinan untuk gugur. Karena itu, siapa yang belum bersiap untuk berkorban dengan milik kalian yang paling berharga, yaitu jiwa kalian, aku persilahkan meninggalkan berisan.”
Terdengarlah suara bergumam di dalam barisan. Namun tak seorangpun yang meninggalkan barisan.
Dengan semangat yang menyala-nyala mereka tetap tegak di tempat mereka berdiri.
”Terima kasih.” Mahesa jenar meneruskan, ”Ternyata kalian telah merelakan jiwa raga kalian dalam pengabdian yang luhur ini. Namun, meskipun demikian, dengarkanlah keterangan ini. Bahwa tujuan kalian yang terutama bukanlah bertempur.”
Kembali terdengar suara bergumam di dalam barisan itu. Bahkan Arya Salaka pun sampai menoleh kepadanya. Mahesa Jenar melihat tanggapan itu, segera meneruskan, ”Tujuan kalian yang terutama adalah menempatkan kebenaran dan keadilan di atas pemerintahan Banyubiru. Bukankah demikian? Bertempur adalah cara yang terakhir. Tetapi bukanlah tujuan. Jangan dilupakan ini. Sehingga seandainya pemerintahan Banyubiru dapat dikembalikan pada keadaan yang seharusnya tanpa bertempur, tanpa setetes darahpun yang harus mengalir dari tubuh kalian, janganlah kalian mencari perkara.”
MAHESA JENAR diam sejenak. Ia melihat kebimbangan di sebagian wajah-wajah di hadapannya. Kemudian ia menyambungnya, ”Tetapi, perhitungan kita adalah perhitungan yang paling mahal. Menembus benteng pertahanan orang-orang Pamingit dengan ujung senjata. Sudahkah kalian siap?”
Terdengarlah jawaban serentak mengguruh. Bahkan ada diantara mereka yang mencabut senjata, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti akan menusuk langit, sambil berteriak-teriak. ”Kami telah bersedia. Hidup mati kami, kami serahkan untuk tanah tercinta.” Mahesa Jenar membiarkan mereka berteriak sepuas-puas mereka. Kemudian ia mengangkat tangannya. Suara yang mengguruh itu pun semakin menurun dan akhirnya diam. Terdengarlah Mahesa Jenar berkata, ”Tanahmu adalah tanah pusaka. Tanah yang dikurniakan Tuhan kepadamu. Karena itu cintailah tanah itu. Sedangkan hidup matimu adalah di tangan Tuhanmu. Mudah-mudahan Tuhan bersama kita.”
Darah orang-orang Banyubiru itu serasa mendidih. Namun demikian di dalam dada mereka, sekali-kali terngiang pula kata-kata Mahesa Jenar, ”Bertempur adalah cara yang terakhir. Tetapi bukan tujuan.”
Juga di dalam dada Arya Salaka, kata-kata itu berulang kali mengumandang. Sesaat kemudian Mahesa Jenar berkata kepada Arya Salaka, ”Arya, semuanya sudah siap. Berilah tanda supaya laskarmu berangkat.”
Dari Mahesa Jenar, Arya telah banyak mendapat petunjuk dan tuntunan tentang tata keprajuritan. Karena itu, ketika Mahesa Jenar memberinya kesempatan untuk memimpin laskarnya, iapun tahu apa yang harus dikerjakannya. Maka Arya Salaka pun melangkah maju. Dengan isyarat, ia minta Wanamerta berdiri di sampingnya. Wanamerta adalah tetua tanah perdikan Banyubiru. Ia menjadi emban kepala daerah perdikan sejak eyangnya Ki Ageng Sora Dipayana masih memegang jabatan itu. Ayahnya diembaninya. Sekarang Arya Salaka tidak mau meninggalkannya. Ketika Wanamerta telah berdiri di sampingnya, Arya Salaka segera mengangkat tombak pusakanya. Terdengarlah kemudian sebuah tengara, suara bende yang pertama. Suatu pertanda, bahwa barisan itu harus berkemas. Setiap orang segera memeriksa diri mereka sendiri. Apakah yang kurang dan apakah yang ketinggalan. Senjata mereka, pakaian mereka. Sebentar kemudian Arya Salaka mengangkat tombaknya untuk yang kedua kali. Suara bende itupun berkumandang untuk kedua kalinya. Suatu pertanda bahwa barisan itu harus segera bersiaga penuh. Mereka tinggal menunggu bunyi bende untuk yang ketiga kalinya, yang memberi perintah kepada seluruh barisan itu untuk segera berangkat.
Sebelum Arya mengangkat tombaknya untuk yang ketiga, sekali lagi ia melayangkan pandangannya kepada seluruh barisan itu. Ia melihat beberapa orang kepercayaan laskar Banyubiru itu berdiri di baris pertama dengan umbul-umbul kecil di tangan. Jauh lebih kecil dari umbul-umbul yang pernah dilihatnya di Banyubiru dahulu, ketika ayahnya hampir saja terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Demak.
Namun meskipun demikian, umbul-umbul inipun memberinya kesan yang menggetarkan. Di tengah-tengah deretan umbul-umbul itu dilihatnya panji-panji kebanggaan tanah perdikannya, Dirata Sakti. Apalagi ketika matanya tertumbuk pada panji-panji pepunden seluruh rakyat Demak, hatinya bergetar deras. Panji-panji itu pulalah yang memaksa ayahnya dahulu untuk mengurungkan niatnya, melawan kekuasaan tertinggi. Warna Gula Kelapa itu pulalah yang menyebabkan ayahnya tak berdaya untuk menolak pertanggungjawaban atas hilangnya keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten dari rumahnya. Dan kali ini Gula Kelapa itu menyertai laskar Banyubiru menuntut haknya, yang selama ini dilanggar dan dihinakan oleh orang-orang Pamingit.
Melihat kesiapan laskarnya, Arya menarik nafas dalam-dalam. Sesekali ia menengadahkan wajahnya ke langit. Tampaklah bibirnya bergerak-gerak, dan terdengarlah suara perlahan sekali, yang hanya dapat didengarnya sendiri. ”Ya Allah, yang memerintah langit dan bumi. Aku serahkan diriku dan laskarku ke dalam tangan-Mu, ke dalam bimbingan-Mu. Jauhkanlah kami dari kesalahan-kesalahan, serta berilah cahaya di dalam hati kami. Berlakulah segala kehendak-Mu atas diri kami, sebab segala kehendak-Mu pasti berlaku. Kami adalah domba-domba yang menggantungkan nasib kami kepada penggembalanya yang Maha Pengasih dan Pengampun.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba Arya Salaka merasa mendapat kekuatan yang luar biasa. Sebagai seorang pemuda yang perkasa, ia cukup mempunyai bekal lahir dan batin dalam pekerjaan yang dilakukannya kali ini. Namun karena jiwanya yang pasrah kepada Sumber Hidup-nya, ia menjadi semakin yakin kepada tindakannya. Kemudian dengan tidak usah menunggu lebih lama lagi, diangkatnya tombaknya tinggi-tinggi.
Dan sesaat kemudian menggemalah suara bende yang ketiga kalinya, mengaum seperti jerit harimau lapar. Belum lagi gema bunyi bende itu berhenti, menyautlah suara sangkalala dan seruling, melagukan lagu yang gemuruh, seirama dengan gemuruhnya darah laskar Banyubiru itu. Berbareng dengan itu, bergeraklah Arya Salaka dan Wanamerta di ujung berisannya, diikuti oleh Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri. Sedang Mantingan dan Wirasaba mendapat tugas untuk mengamat-amati barisan itu.
Ketika barisan itu sudah mulai bergerak, berbisiklah Endang Widuri kepada Rara Wilis, ”Akan aku coba, Bibi, sebelum barisan itu sampai di kaki bukit Telamaya itu.”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya