Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Pelangi di Langit Singasari oleh S.H. Mintardja
Seri 14
Kl BUYUT PANAWIJEN mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih juga bersedih atas bendungan yang pecah itu, tetapi ia berbesar hati pula, bahwa anak-anak muda di padukuhannya kini telah bangkit untuk menyelamatkan padukuhannya.
Maka sejenak kemudian. Orang-orang Panawijen yang berdiri mengitari Mahisa Agni itu pun semakin lama semakin susut.
Satu demi satu mereka meninggalkan tepian dan bendungan yang telah pecah itu. Sekali-sekali mereka berpaling, dan sekali-sekali mereka masih juga tergetar hatinya. Bendungan yang selama ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena lekatan kasihnya, puteri satu-satunya itu hilang. Puteri yang baginya sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.
Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri. perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi diamat-amatinya bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah menghunjam semakin dalam.
“Memang tak mungkin,“ gumamnya, “tak mungkin dibangun bendungan di tempat ini.”
Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering, namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benar-benar tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung. Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan kekacauan diantara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan mengucapkan ipat-ipat.
Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.
Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya, mengeluh dan berputus-asa. Ia baru saja berbicara dihadapan orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa? Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam segi-segi yang berbeda.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebat. Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya. Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandangi bendungan itu dengan kepala tunduk. pecahnya bendungan itu baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak boleh menghindarinya, melarikan diri dari kuwajiban seperti yang dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.
Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya menjawab tantangan itu.
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan meninggalkan bendungan itu pula.
“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang mengerikan,“ desis Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan pekerjaanya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga diantaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.
Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni. Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan pengenalan atas tempat dimana bendungan itu akan dibangun, alat dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda Panawijen.
Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat. Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan tempat yang mereka cari.
Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan. Tetapi bagi ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan memerlukan ketrampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala. Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang menyenangkan.
“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti akan menjadi tanah yang subur,“ jawab Agni.
“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu.”
“Kau terlambat,“ sahut Agni sambil tertawa, “ hantu itu telah pergi.”
Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri, bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”
Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah seorang dari padanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu dengan hantu itu.”
“Ya.”
“Dan kau masih tetap hidup?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak akan marah.”
Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya. Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni. Bukankah hantu sering menipu orang.”
“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah lagi terdengar berita tentang hantu itu. Bukankah hantu itu menepati janjinya.”
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu dengan hantu itu lagi Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan mungkin juga hilangnya adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu, sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”
Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu. Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu sudah berjanji kepadaku.”
“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,“ bertanya kawannya yang lain.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila benar-benar hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken Arok. Tetapi siapa?”
Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab, “Ah, mungkin berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya hantu Karautan itu datang kembali.”
“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang mendengar langsung ceritera seseorang yang mengalami sendiri.”
“Apa katanya?”
“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel, setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba dipadang ia bertemu dengan hantu itu.”
“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”
“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang penjahat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya dari Tumapel itu dirampasnya.”
“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa daripadanya. Tetapi orang itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Aneh. Hantu yang dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja sampai pingsan.”
“Aneh,“ desisnya tanpa disengajanya.
“Apa yang aneh,“ bertanya seorang kawannya.
“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja sekehendaknya.”
“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar bahwa korhan hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”
“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”
Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan, apakah kira-kira yang telah terjadi dipadang Karautan itu. Tetapi dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok apalagi membunuh.
Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat segera mempercayainya, bahwa dipadang rumput itu kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali.
Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk menindas perasaannya.
“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”
Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya gurunya akan kembali ke padang rumput ini.”
“Gila,“ desisnya.
Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling, dan salah seorang dari padanya bertanya, “Apa Agni.”
Agni lah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Hantu itu.”
“Kenapa?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar suaranya sendiri melengking, “Tidak. Itu tidak mungkin, betapa guru kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri. Katanya di dalam hati, “Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”
Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari pedukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka segera menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam. Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi. Tumbuh-tumbuhan liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daun-daunnya yang rimbun.
“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin lagi untuk membangun bendungan.”
“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”
Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat dengan padang rumput Karautan.
“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,“ berkata salah seorang dari mereka.
“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki padang rumput itu.”
“Tetapi hantu itu?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”
“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat melihat juga kehadiran kita dipadang rumput ini, dan hantu itu dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”
Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu kawan-kawannya menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu tidak mempercayainya.
“Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan hantu itu.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa Agni tidak mempercayai ceritera mereka, atau seandainya anak muda itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya. Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.
Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan tubuh-tubuh mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai ke udik. Burung-burung liar tampak berterbangan di udara, dan awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara.
Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka seolah-olah terperas dari tubuh-tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian mereka menjadi basah kuyup.
“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni mengeluh.
“Ya,” sahut yang lain.
Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di Panawijen.
“Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput terkapar dihadapan mereka. Di sana sini mereka melihat gerumbul-gerumbul liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan.
Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam hati mereka.
“Jangan cemas,“ desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang Karautan.”
Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.
Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anak-anak itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.
“Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut sebesar menir.”
Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka dihadapan Kuda Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang belum pasti adanya.
Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.
“Kalian lihat,“ berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk bendungan.”
“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”
“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama Agni,“ berkata kawannya yang lain.
“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan bahan-bahannya sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari kebutuhan.”
“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,“ berkata yang lain pula.
“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga berkata Bendungan ini kita buat bersama-sama. Lebih bangga daripada, Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan merubah padang rumput kekuasaannya.
Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka, sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu. Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah kita berempat.”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar.
Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun ke Barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit.
Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah kita berjalan terus Agni.”
“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”
“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”
“Ah. Itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan hantu Karautan.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan perjalanan kita di siang hari?”
“He,“ mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya, “bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat ini pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan mengulangi perjalanan ini setiap hari.”
Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa pendapatnya itu menggelikan.
Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan mereka sedang mandi.
“Apakah kalian lelah,“ bertanya Mahisa Agni.
Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku lelah sejak tadi.”
“Baiklah kita beristirahat,“ ajak Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama. Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman dipadang rumput itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah dan lapar.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”
Seorang, kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari padang rumput Karautan itu?”
“Kita sudah berada dipadang rumput Karautan,” jawab Agni.
Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya, terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah berada dipadang yang mereka takuti.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Batas antara padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada dipadang rumput yang bernama Karautan.”
Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benar-benar menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan selalu mengintai mereka, dan menerkam mereka setiap saat. Hanya karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan mengabaikannya.
Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah gerumbul dan katanya kemudian, “Marilah kita buka bekal kita. Kita makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”
Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu. Hanya Mahisa Agni lah yang seolah-olah tidak mempedulikan apa saja di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.
“Marilah,“ katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu. Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.
Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti kita bermalam dipadang ini.”
Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka belum bertanya.
“Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita cari.”
Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat lain dari pada mengikut saja kemana Mahisa Agni pergi. Untuk kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung saja kepada Mahisa Agni.
Tetapi ada juga diantara mereka yang menjadi semakin cemas karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini dengan peristiwa di bendungan. Jangan-angan Mahisa Agni marah kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.
Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar. Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan makanan mereka.
Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang lain dari pada beristirahat.
“Kita tidak tergesa-gesa,“ katanya, “sebab bagaimanapun juga kita pasti akan kemalaman dan bermalam dipadang ini. Karena itu lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan hati-hati memilih tempat.”
Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu. Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada keinginan mereka untuk mengucapkan satu katapun, apabila tidak terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh hantu Karautan.
Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu. Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan, istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya, “Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan, jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu aku lagi.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.
“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah Timur, di tepi jalan Sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali ini.”
Mahisa Agni tidak menunggu jawaban ketiga kawannya. Segera ia membenahi bekalnya. Kawan-kawannya yang melihat itu pun segera berbuat serupa. Mereka takut Mahisa Agni akan meninggalkan mereka di tengah-tengah padang yang mengerikan itu.
Kembali mereka berempat berjalan menyusur sungai. Di perjalanan itu Mahisa Agni selalu berusaha untuk melupakan ketakutan dengan menilai setiap lekuk liku sungai itu. Tetapi jawaban yang didengarnya dari kawan-kawannya terlalu pendek.
“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berbicara terus tentang sungai itu.
Semakin jauh mereka berjalan, matahari pun menjadi semakin rendah. Kini mereka pun benar-benar telah berada dipadang yang luas dan mengerikan. Di sana sini yang mereka lihat hanyalah gerumbul-gerumbul liar dan batu-batu padas yang menjorok diantaranya.
Ketika kemudian malam membayang di langit, maka Mahisa Agni pun berhenti. Ia harus mendapatkan tempat yang baik untuk bermalam bersama kawan-kawannya.
Diamat-amatinya tempat di sekitarnya. Gerumbul-gerumbul liar dan rerumputan.
“Kita bermalam disini,“ bertanya Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.
Perasaan ngeri dan cemas semakin menghunjam ke dalam jantung ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu. Demikian cemasnya sehingga salah seorang daripada mereka, yang tidak dapat menahan diri lagi, telah kehilangan perasaan malunya, sehingga dengan gemetar ia berkata, “Apakah kita bermalam dipadang ini Agni?”
“Ya. Bukankah sebentar lagi hari akan malam?”
“Apakah tidak lebih baik kita berjalan?”
“Tidak. Lebih baik kita berhenti. Kalau kita berjalan di malam hari, maka kita akan tidak dapat melihat sungai itu. Kita akan mengetahui, apakah kita sudah sampai pada tebing yang rendah.”
Kawannya itu terdiam. Tetapi bukan berarti bahwa ia telah kehilangan kecemasannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian berkata pula, “Disinilah. Di atas rumput kering ini kita akan bermalam. Kita harus berganti-gantian bangun, supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin ada binatang yang berbahaya.”
Bulu-bulu kuduk ketiga kawan Mahisa Agni meremang. Meskipun mereka membawa senjata, namun senjata itu hampir-hampir tak berarti bagi mereka.
Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mahisa Agni itu kemudian meletakkan dirinya duduk di atas rumput-rumput liar yang kering. Tempat itu adalah tempat yang tidak menjadi rimbun karena batang-batang ilalang, karena tanah dibawahnya adalah tanah yang berbatu padas.
Dengan dada yang berdebar-debar ketiga kawan-kawannya pun duduk pula dekat-dekat di samping Mahisa Agni. Sekali-sekali mereka memandang daerah sekeliling mereka dengan hati yang kecut. Seakan-akan di sekeliling mereka, di belakang gerumbul-gerumbul liar, di balik batang-batang ilalang, bersembunyi berpuluh-puluh hantu dan binatang-binatang buas yang siap menerkam, dan menyobek kulit daging mereka. Tetapi mereka mengumpat-umpat tak habis-habisnya di dalam hati, apabila mereka melihat, Mahisa Agni hampir acuh tak acuh saja terhadap keadaan di sekelilingnya.
“Marilah kita bentangkan tikar,“ berkata Mahisa Agni.
Kawannya yang membawa tikar, tidak menjawab. Tetapi dengan dada dan tangan yang gemetar, ia membuka ikatan sehelai tikar dan dengan hati-hati ia membentangkannya.
Demikian tikar itu terbentang, demikian Mahisa Agni merebahkan dirinya sambil bergumam, “Ah, alangkah enaknya. Setelah seharian berjalan, kita dapat beristirahat di bawah selimut mega yang putih dan langit yang biru bersih.”
Kawan-kawannya sama sekai tidak dapat ikut merasakannya. Mereka sama sekali tidak merasa lelah, apalagi keinginan untuk berbaring seperti Mahisa Agni. Mereka tidak juga melihat helaian awan putih yang berterbangan di langit dan warna yang biru bersih di atas kepala mereka. Yang ada di dalam hati mereka, adalah bayangan-bayangan yang mengerikan.
Tiba-tiba Mahisa Agni yang berbaring itu bangkit. Katanya, “Kita akan membuat api.”
“He,“ kawan-kawannya terkejut mendengarnya. Berkata salah seorang dari mereka, “Api akan menunjukkan, bahwa disini ada seseorang.”
“Apa salahnya?” sahut Mahisa Agni, “kita tidak akan beku kedinginan. Apalagi kalau kita sempat menangkap binatang buruan. Maka malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kalian lupakan.”
Mahisa Agni tidak menunggu kawan-kawannya menjawab. Dalam keremangan ujung malam, Agni segera bangkit dan mencari dahan-dahan dari gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Kemudian dengan seonggok rumput kering, Agni segera membuat api dengan batu yang dibawanya. Sepotong batu yang digosoknya keras-keras dengan sepotong kecil kepingan baja. Lontaran bunga apinya dapat membakar gelugut aren yang sudah dikeringkan. Dengan api itulah Agni membakar onggokan rumput kering.
Sesaat kemudian api telah menyala. Lidahnya yang menjulur naik, seakan-akan ingin menjilat langit.
“Hangat,“ gumamnya, “biarlah api ini bertahan sampai pagi. Jangan sampai padam. Meskipun hanya baranya.”
Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun semakin besar api itu menyala, hatinya menjadi semakin kecut. Namun api itu segera menjadi susut. Dilemparkannya oleh Mahisa Agni beberapa potong kayu, supaya apabila api itu padam, maka akan masih tinggal baranya yang dapat dipakainya untuk memanaskan tubuh.
“Biarlah nyala itu padam,“ berkata Agni, “tetapi jagalah supaya masih ada bara yang tertinggal. Supaya apabila malam nanti kita kedinginan, kita dapat melemparkan rumput-rumput kering ke atasnya dan api akan menyala kembali.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka seakan-akan menjadi beku. Mereka melihat Mahisa Agni kemudian menumpuk beberapa potong kayu lagi di atas api dan membiarkan api itu menjadi bertambah kecil, ketika dalam sesaat rumput-rumput yang kering telah habis terbakar.
Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mata mereka menghunjam ke pusat api yang sudah tidak lagi menjalar ke udara. Malam pun semakin lama menjadi semakin gelap, dan bintang-bintang di langit menjadi semakin banyak menggantung dengan cerahnya.
“Kita perlu air,“ tiba-tiba Agni memecah kesepian.
Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka memang merasa haus, tetapi mereka tidak menjawab.
“Siapa yang akan mengambil air ke sungai?”
Tak ada yang menjawab. Sehingga Agni meneruskannya, “Kalau demikian, aku akan pergi.”
“Lalu, bagaimana dengan kami,“ bertanya seorang kawannya.
“Tinggallah kalian disini sebentar. Hanya sebentar.”
Sejenak ketiga kawan-kawannya itu menjadi saling berpandangan. Mulut-mulut mereka ternganga namun hati mereka berkerut.
Ketika kemudian mereka melihat Mahisa Agni bergerak menyambar bumbung yang sudah kosong, salah seorang dari mereka berkata, “Jangan tinggalkan kami disini Agni.”
Mahisa Agni tertegun sejenak. Ditatapnya ketiga kawan-kawannya yang gemetar. Katanya, “Kenapa? Kenapa kalian tidak berani tinggal disini bertiga?”
Dengan nanar mereka memandang berkeliling. Padang rumput ini adalah padang rumput Karautan. Tetapi mulut-mulut mereka tidak berani mengucapkannya.
“Aku haus,“ berkata Mahisa Agni, “karena itu aku perlu air. Kalau ada diantara kalian yang mau mengambilnya untuk kita berempat, aku akan tinggal disini.”
“Kita mengambil bersama-sama,” minta salah seorang dari padanya.
“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Jangan. Tungguilah bekal-bekal kita, kalau-kalau ada anjing liar. Apakah kalian takut kepada anjing-anjing liar itu? Bukankah kalian laki-laki yang di lambung kalian tergantung pedang? Apakah gunanya pedang itu?”
Tanpa mereka sadari, tangan-tangan mereka meraba hulu-hulu pedang yang tergantung di lambung masing-masing. Ada juga ketenteraman yang menjalari di hati mereka. Pedang itu akan dapat membantu mereka melindungi diri mereka. Tetapi Mereka bukan seorang yang cakap bermain-main dengan pedang.
Mereka hanya sekedar dapat menggerakkannya dan sedikit memutar dan mengayunkan. Tetapi apabila yang datang-benar-benar hanya anjing-anjing liar, maka tiga bilah pedang itu sudah berlebihan.
“Atau, kalian dapat menyalakan api itu kembali supaya binatang-binatang buas menjadi ketakutan dan tidak mendekati kalian.
Kawan-kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi hati mereka serasa membeku.
“Nah, bagaimana? “ bertanya Mahisa Agni, “aku membawa kalian untuk kawan di perjalanan bukan sebagai momongan.”
Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati mereka. Sehingga dengan demikian tumbuh kembali rasa harga diri mereka sebagai laki-laki. Bagaimanapun mereka bercemas hati, namun ketika sekali lagi Mahisa Agni bertanya, terdengar mereka menjawab, “Baiklah Agni, kami bertiga tinggal disini. Tetapi jangan terlalu lama, dan jangan terlalu jauh, sehingga apabila kami memanggilmu, kau akan dapat mendengarnya.”
“Baiklah,” sahut Agni sambil berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah tebing sungai. Sekali-sekali ia berpaling melihat ketiga kawannya yang duduk hampir berdesak-desakan. Pedang mereka telah tidak lagi tergantung di lambung mereka, tetapi pedang itu telah siap di pangkuan.
Ketika Mahisa Agni melangkah terus, dilihatnya bayangan tubuhnya di bawah kakinya. Memanjang ke barat. Ketika ia berpaling dilihatnya bulan yang telah tidak bulat lagi mengambang di langit yang biru.
Tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Dilihatnya bulan, dataran rumput yang luas, diseling oleh gerumbul dan padas yang menjorok, awan yang putih dan bintang yang berdesakan di langit.
Mahisa Agni menarik nafas. Di wajahnya seakan-akan terbayang seluruh bumi. Keindahan bulan, rumput-rumput liar, hati yang bulat untuk melakukan sesuatu, tetapi diliputi oleh kecemasan dan ketakutan, seperti kawan-kawannya yang duduk melipat diri, kelelawar yang bebas di udara, namun juga kelinci yang hidupnya selalu terancam oleh kekerasan binatang-binatang yang lebih besar dan buas.
Mahisa Agni itu pun kemudian menundukkan kepalanya. Terbayang di mata hatinya, betapa besar kekuasaan Yang Maha Agung yang telah menjadikan semuanya itu.
Selangkah Mahisa Agni berjalan terus. Semakin lama semakin dekat ke tebing sungai yang dalam. Tetapi beruntunglah bahwa bulan telah membantunya menunjukkan jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni tebing.
Meskipun demikian, Mahisa Agni melangkah dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak takut kepada hantu Karautan yang akan mencegatnya di tepian, atau harimau yang bersembunyi di dalam rimbunnya belukar menunggu rusa mencari minum, atau binatang-binatang buas yang lain, tetapi yang menjadi perhatian Mahisa Agni adalah ular dan sebangsanya. Meskipun ia masih mempunyai ramuan obat penawar bisa, tetapi baginya lebih baik tidak usah mempergunakannya, daripada ia harus digigit ular. Apalagi ular yang bisanya sangat tajam, maka meskipun ia akan dapat menawarkannya, namun ia pasti akan mengalami demam.
Perlahan-lahan Mahisa Agni merayapi tebing yang curam, turun ke bawah. Telah didengarnya gemercik air sungai yang mengalir dibawahnya. Sekali-sekali ia melihat kilatan pantulan cahaya bulan pada wajah air yang beriak kecil. Di lambungkanannya tergantung bumbung tempat air, dan di lambung kiri tergantung pedangnya. Adalah jarang sekali Mahisa Agni menyandang pedang atau senjata apapun. Tetapi karena perjalanannya yang penting kali ini, maka ia pun bersenjata pula seperti ketiga kawan-kawannya. Mungkin senjata itu berguna tidak saja untuk berkelahi, tetapi untuk menebas pepohonan dan kayu-kayuan apabila diperlukan.
Dalam pada itu ketiga kawannya masih duduk mematung, seakan-akan mereka sama sekali tidak berani bergerak. Hanya sekali-sekali mereka memandang jauh ke tempat Mahisa Agni menghilang. Tetapi sekali-sekali mereka juga sempat melihat bulan yang jernih. Namun tak seorang pun dari mereka yang mulai bercakap-cakap.
Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi pucat. Ketika ia memandang bulan yang kekuning-kuningan, tiba-tiba di bawah bayangan cahaya bulan ia melihat sesuatu yang bergerak. Mula-mula ia hanya menyangka, bahwa itu adalah daun-daun yang di sentuh angin. Tetapi gerak itu ternyata terlalu jauh bergeser. Dengan tangan yang gemetar digamitnya kawan-kawannya dan dengan dagunya ia menunjuk ke arah bayangan itu.
Kawan-kawan-nya yang kemudian berpaling pula, merasa seperti disengat lebah ditengkuknya. Mereka terkejut bukan kepalang. Bayangan itu bergerak cepat sekali seperti hantu yang terbang di atas padang rumput Karautan tanpa menyentuh tanah.
Tubuh mereka itu pun menjadi gemetar. Hampir seluruh sendi-sendi tulang mereka serasa terlepas. Tiba-tiba merayaplah di dalam dada mereka anggapan bahwa sebenarnya hantu itu dapat bergerak cepat sekali tanpa menyentuh tanah.
Pedang-pedang yang berada di pangkuan mereka itu sama sekali sudah tidak mereka ingat lagi. Apalagi untuk berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat duduk membeku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun.
Meskipun demikian, mereka mencoba juga untuk melihat bayangan itu bergerak-gerak. Sekali-sekali cepat, namun kemudian lambat, berkisar dari satu garis ke garis yang lain.
Dalam pada itu yang dapat dilakukan oleh ketiga kawan Mahisa Agni hanyalah berdoa, semoga hantu itu tidak datang kepada mereka. Dengan dada bergetar dan tubuh gemetar, mulut mereka berkumat kumit.
Tetapi bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun mereka melihat bayangan itu berada pada garis yang menyilang dihadapan mereka, sehingga mereka mengharap, bahwa bayangan itu tidak berbelok lurus ke arah mereka.
Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan gerak bayangan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan bayangan itu berhenti. Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali bergerak berputar. Mereka melihat gerak itu menjadi lebih lambat dan yang hampir menjadikan mereka pingsan, bayangan itu berjalan ke arah mereka bertiga, seolah-olah mereka bertiga itu sudah dilihatnya.
Ketakutan yang bergolak di dalam dada mereka itu pun menjadi semakin memuncak. Tiba-tiba terdengar salah seorang berdesis dengan gemetar, “Menuju kemari.”
Kawan-kawan-nya menyahut, “Ya.”
Mereka itu kemudian melihat bayangan itu sudah semakin dekat. Di belakang bayangan itu mereka melihat selapis asap yang bergulung-gulung. Asap putih yang tipis.
“Hantu itu berasap,“ gumam mereka di dalam hati. Karena itulah maka mereka menjadi semakin ketakutan.
Namun telinga mereka kini telah mendengar derap kehadiran bayangan itu. Derap itu seperti derap seekor kuda.
“Suara kuda,“ desis salah seorang dari mereka.
“Hantu itu naik kuda semberani,” sahut yang lain.
Hati mereka semakin lama menjadi semakin kalut, sehingga akhirnya mereka sampai ke puncak kecemasan.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Lari.”
“Kemana,” sahut yang lain.
“Kemana saja.”
“Tetapi kita tidak dapat berlari secepat kuda semberani.”
Sesaat mereka terdiam. Mereka memang tidak dapat berlari secepat kuda semberani. Karena itu mereka menjadi semakin bingung, sedang bayangan itu semakin lama semakin dekat dengan mereka.
“Bersembunyi,“ desis yang lain.
Mereka segera mencoba mencari tempat untuk bersembunyi. Yang ada di dekat mereka adalah sebuah gerumbul yang cukup lebat, sehingga dengan serta merta kedua kawannya menyambut, “Ya, kita bersembunyi.”
Serentak mereka bertiga merangkak cepat-cepat memasuki gerumbul yang ada di samping mereka. Dengan tersuruk-suruk mereka menyibak daun-daun perdu dan menyusup kedalamnya. Sama sekali tidak mereka rasakan, goresan-goresan duri yang tajam pada tubuh mereka.
Demikian mereka hilang di dalam belukar, maka segera mereka mendengar derap kuda semakin dekat. Dan sesaat kemudian mereka mendengar derap kuda itu berhenti.
Dari celah-celah rimbun dedaunan yang melindungi mereka, mereka dapat melihat seekor kuda yang tegar kuat. Di punggungnya duduk seorang dalam pakaian yang aneh. Pakaian yang tidak teratur dan memakai tutup di wajahnya. Sesobek kain melingkar di bawah mata dan diikat di bagian belakang kepalanya, di bawah gelungnya yang tidak terpelihara.
Melihat kuda dan penunggangnya itu, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar tidak lagi bergerak. Bernafas pun rasa-rasanya menjadi sangat sulit. Gambarannya tentang hantu itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, ketakutannya menjadi bertambah-tambah. Wajah hantu itu tidak sedahsyat yang disangkanya. Namun tidak juga tampan seperti ceritera-ceritera yang pernah didengarnya, bahwa hantu Karautan adalah hantu yang tampan, meskipun liar. Tetapi kali ini hantu itu mencoba menutupi wajahnya, sehingga wajah itu sama sekali tidak dapat mereka kenal.
“Apakah mulut hantu itu seperti mulut raksasa dalam ceritera-ceritera itu,“ pikir mereka.
Perasaan ketiga orang itu benar-benar menjadi kacau. Campur baur antara ceritera yang pernah mereka dengar tentang hantu yang tampan berambut liar, gambaran-gambaran mereka tentang hantu yang berkepala besar dan bermata merah, dan kenyataan yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, mereka masih menduga bahwa sebenarnya hantu itu adalah hantu yang tampan.
Hati mereka benar-benar membeku ketika mereka melihat hantu itu turun dari kudanya. Mereka seakan-akan berusaha mengkerutkan tubuh-tubuh mereka sekecil mungkin, supaya hantu itu tidak dapat melihatnya Meskipun demikian, mereka merasa bahwa mereka telah berada di ujung ubun-ubun.
Satu-satunya harapan mereka adalah, menunggu Mahisa Agni datang. Tetapi kalau hantu itu, melihatnya sebelum Agni datang, maka mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Mereka kemudian melihat hantu itu perlahan-lahan berjalan mendekati perapian dan memperhatikan setiap benda yang ada di sekitar perapian itu.
Dengan kakinya hantu itu menyentuh benda-benda yang berserakan. Sebungkus bekal dan makanan. Beberapa macam alat-alat, bumbung-bumbung kecil dan mangkok. Dan yang terakhir adalah pedang-pedang kawan-kawan Mahisa Agni itu.
Terdengar hantu itu menggeram. Suaranya mengerikan seperti suara sangkakala Dewa Maut. Perlahan-lahan, namun dalam menusuk pusat jantung.
Ketiga kawan Mahisa Agni benar-benar berkerut seperti tikus dihadapan seekor kucing yang garang. Hanya bibir-bibir mereka sajalah yang bergerak-gerak. Namun seluruh tubuh mereka menggigil seperti orang kedinginan.
Tiba-tiba hantu itu tertawa perlahan-lahan. Diputarnya tubuhnya dan sambil menunjuk ke dalam gerumbul itu terdengar suara bergumam, seakan-akan melingkar-lingkar saja di dalam perutnya.
Dada ketiga kawan Mahisa Agni itu benar-benar hampir meledak karena kecemasan melihat sikap hantu itu. Seakan-akan hantu itu telah menunjuk hidung mereka masing-masing, dan suara tertawanya adalah pertanda, bahwa maut telah siap untuk menerkamnya.
“Siapa bersembunyi di sana?“ terdengar suara hantu itu berat.
Pertanyaan itu benar-benar seperti ledakan petir di dalam kepala kawan-kawan Mahisa Agni itu. Tulang-tulang mereka serasa benar-benar telah terlepas dari kulit daging mereka. Dan karena itulah maka mereka dengan lemahnya terkulai di tanah, di dalam gerumbul yang rimbun. Seandainya sebilah pisau menyentuh kulit mereka, maka seakan-akan dari kulit itu tidak akan menetes darah yang merah. Demikian takut dan cemas mereka, sehingga tubuh-tubuh mereka menjadi putih seperti mayat, dan dingin membeku seperti air embun yang menetes di malam hari.
Sejenak hantu itu tegak berdiri dengan garangnya. Di tunggunya jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun. Apalagi menjawab pertanyaannya hantu itu.
“He,” teriak hantu itu lebih keras, “siapa bersembunyi dalam gerumbul itu?”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Bahkan hati mereka menjadi semakin membeku.
“Hem,“ hantu itu menggeram lagi, “jangan menghina aku. Jawab siapa kalian?”
Angin malam berhembus dengan lemahnya menggerakkan daun gerumbul itu. Di langit bulan masih tergantung diantara bintang-bintang yang bertaburan. Tetapi betapa kecutnya hati ketiga orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Mulut mereka benar-benar serasa terkunci.
Selangkah hantu itu maju mendekati gerumbul itu, ternyata di lambungnya tergantung sebilah pedang yang panjang. Terjuntai hampir menyentuh tanah.
Pedang itu semakin menggoncangkan dada mereka yang sedang bersembunyi. Mula-mula mereka heran melihat pedang itu. Tetapi kemudian terasa dada mereka menjadi pedih, seakan-akan ujung pedang itu telah menghunjam menembus tulang-tulang iganya.
Hantu itu rupa-rupanya menjadi marah ketika pertanyaan-pertanyaannya tidak berjawab. Dengan lantang diulanginya pertanyaan, “He, siapa yang bersembunyi di situ. Aku minta kalian menjawab pertanyaanku.”
Suara itu lepas, selepas angin yang bertiup dipadang rumput. Hilang tanpa kesan dan jawaban.
Dengan demikian maka hantu itu menjadi semakin marah. Selangkah lagi ia maju. Dan kali ini ia mengancam, “Aku sudah mengucapkan beberapa kali pertanyaan. Tetapi kalian tidak menjawab. Kalau kalian tidak mempedulikan kehadiranku disini, maka kalian akan mengalami nasib yang malang. Sekarang jawab pertanyaanku, siapakah kalian?”
Ketiga orang yang bersembunyi itu benar-benar menjadi ketakutan. Mereka harus menjawab pertanyaan hantu itu supaya hantu itu tidak menjadi semakin marah. Tetapi tak seorang pun yang mampu mengucapkan jawaban. Karena itu, hantu itu hanya mendengar desah nafas yang berkejar-kejaran.
“He,” geram hantu itu pula. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Keluar. Keluar dari gerumbul itu Kalau tidak, maka gerumbul ini akan aku bakar.”
Mereka yang bersembunyi di dalam gerumbul itu menggigil semakin cepat. Tubuh mereka seakan-akan tidak lagi dapat mereka kuasai. Meskipun mereka mendengar dan melihat, namun seakan-akan mata mereka dan telinga mereka itu tidak lagi ada hubungannya dengan anggauta badan mereka yang lain. Meskipun telinga dan mata mereka mempengaruhi kehendak mereka untuk merangkak keluar karena ancaman hantu itu, namun anggauta badan mereka seolah-olah telah terlepas satu sama lain, sehingga tidak lagi mampu bergerak.
Hantu itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Kakinya merenggang dan dadanya menengadah. Terasa kesabarannya semakin tipis, dan dengan penuh luapan kemarahan ia berteriak, “Keluar. Keluar. Sekali lagi aku peringatan Kalau tidak, kalian akan mati terbakar di dalam gerumbul ini.”
Ketakutan ketiga orang itu sudah memuncak. Apalagi ketika mereka melihat hantu itu kemudian melangkah ke perapian. Diambilnya seonggok rumput-rumput kering yang sudah mereka kumpulkan. Kemudian rumput-rumput kering itu diletakkannya di sisi gerumbul itu. Agaknya hantu itu benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya.
Karena itu, maka ketiga orang yang bersembunyi itu menjadi bingung. Demikian bingungnya sehingga seolah-olah mereka telah menjadi gila. Meskipun demikian, dengan sisa-sisa kekuatan dan keberanian yang terakhir, mereka masih mencoba menghindarkan diri dari kemungkinan terbakar hangus di dalam gerumbul itu. Seperti orang berjanji, mereka saling berpandangan. Dan dengan tersuruk-suruk mereka merangkak keluar dari gerumbul itu.
Ketiga hantu itu melihat mereka muncul dari gerumbul itu, terdengarlah derai tertawanya, seakan-akan memecahkan telinga.
Suara tertawa itu benar-benar telah menggoncangkan dada ketiga anak-anak muda Panawijen. Mereka merasa seakan-akan dada mereka bergelora. Sehingga tubuh-tubuh mereka itu menjadi semakin gemetar karenanya.
“Hem,“ geram hantu itu, “ternyata di dalam gerumbul itu bersembunyi kelinci-kelinci. Nah, bukankah dugaanku benar. Tiga ekor kelinci.”
Ketiga anak muda itu sama sekali tidak berani memandang wajah hantu yang bertutup sesobek kain. Mereka duduk dengan lemahnya, sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
“Kemari,“ bentak hantu itu.
Ketika anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Mereka seakan-akan tidak mampu lagi untuk bergerak maju.
“Kemari,” teriak hantu padang itu.
Suara itu menggelegar seperti petir menyambar di langit. Kembali mereka tersuruk-suruk merangkak mendekati hantu yang berdiri bertolak pinggang dan kaki renggang.
Ketiga anak muda itu seakan-akan seorang hamba yang sedang menghadap tuannya. Duduk dengan kepala tunduk dan hati yang bergolak penuh kecemasan, ketakutan dan kengerian.
Rupa-rupanya sikap mereka benar-benar menyenangkan hantu padang itu. Sekali lagi terdengar hantu itu tertawa berderai.
Suaranya bergulung-gulung melontar ke segenap sudut padang Karautan.
Tetapi ketika ketiga anak muda Panawijen itu semakin dekat, maka tiba-tiba suara tertawa itu berhenti. Dengan mata terbelalak hantu itu memandangi anak-anak muda yang duduk di hadapannya. Bahkan kemudian tanpa sesadarnya hantu itu berdesis, “Anak-anak Panawijen. Bukankah kalian anak-anak Panawijen?”
Ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin kecut. Wajahnya semakin pucat karena mereka mendengar hantu itu menyebut mereka dengan tepat sebagai anak-anak muda Panawijen.
Namun sesaat kemudian hantu itu sudah tertawa lagi. Dengan nyaring ia berkata, “Hai anak-anak Panawijen. Jangan heran. Aku tahu siapa kalian. Adalah suatu kesenangan yang sukar dicari di kesempatan lain.”
Hantu itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Jangan ingkar. Bukankah kalian anak-anak muda Panawijen?”
Ketiga anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Mereka benar-benar telah membeku. Sehingga hantu itu terpaksa membentak keras, “Ayo jawab. Kalau tidak aku cekik kalian sampai mati.”
Ngeri. Dan kengerian itu telah memaksa salah seorang dari ketiga anak muda itu menjawab dengan suara parau gemetar.
“Ya.“ Mereka sama sekali tidak berani mengingkari, sebab menurut dugaan mereka, hantu dapat melihat apa saja dan mengerti apa saja.
“Bagus,” sahut hantu itu. Dan tiba-tiba hantu itu semakin mengejutkan dan menakutkan. Suaranya menjadi semakin kasar. Dengan tajamnya hantu itu berkata, “Aku mempunyai dendam yang dalam terhadap anak-anak muda Panawijen.”
Mendengar kata-kata terakhir dari hantu itu, maka nyawa-nyawa mereka serasa telah bergerak ke ubun-ubun. Dengan satu sentuhan dari hantu itu, maka nyawa-nyawa itu sudah akan terlepas dari tubuh-tubuh mereka. Sehingga sedemikian ketakutan itu mencengkam hati mereka, ialah seorang dari mereka, terpaksa mencoba berkata, “Kenapa tuan mendendam kami?”
Kembali terdengar derai tertawa hantu itu. Jawabnya, “Aku mendendam setiap orang yang berani menginjakkan kakinya dipadang ini. Tetapi lebih-lebih lagi anak-anak muda Panawijen, apalagi yang datang dengan membawa senjata. Nah, apakah kalian ingin melawan aku dengan senjatamu itu? Ambillah. Lawan aku oleh kalian bertiga bersama-sama.”
“Tidak. Tidak,“ cepat-cepat salah seorang mereka berdesis, “kami tidak berani melawan tuan. Pedang-pedang kami hanya sekedar untuk menjaga diri kami dari sergapan binatang buas dan untuk menebas pepohonan.”
“Apa? Jadi kalian ingin membunuh binatang-binatang peliharaanku dipadang ini he. Jinan, Patalan dan Sinung Sari?” bentak hantu itu.
Hampir pingsan mereka bertiga, ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebutkan Benar-benar diluar kemampuan berpikir mereka. Dan dengan demikian telah mempertebal kepercayaan mereka, bahwa hantu itu dapat mengetahui apa saja dan dapat mengerti apa saja, sampai nama-nama mereka pun dikenal pula oleh hantu itu.
“Jangan terkejut kalau aku mengenal nama-nama kalian. Aku dapat mengenal setiap nama orang-orang yang lewat dipadang ini meskipun baru untuk pertama kali. Aku dapat mengenal tempat mereka dan mengenal orang tua mereka.”
“Ternyata nasibmu memang lagi malang. Jangan menyesal bahwa kalian telah bertemu dengan hantu padang Karautan ini.”
“Tetapi,“ berkata salah seorang dari mereka tergagap-gagap. “tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu.”
“Jangan ribut,“ teriak hantu itu, “aku mendendam Panawijen. Semua anak-anak muda Panawijen. Termasuk kalian.”
Tubuh-tubuh itu kini, sudah semakin lemah. Mereka benar-benar telah kehilangan harapan untuk dapat melepaskan diri dari tangan hantu itu. Yang dapat mereka lakukan adalah duduk bertelekan tangan mereka yang lemah dan memohon kemurahan hantu itu.”
“Ampun tuan. Aku minta ampun.”
Hantu itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Tidak ada maaf untuk kalian dan untuk semua anak-anak muda yang berani menyentuh padang ini. Apalagi kalian telah berusaha membunuh binatang peliharaanku, tebusannya adalah nyawa-nyawamu.”
Kini ketiga anak muda itu telah terlempar dalam suatu suasana yang tidak dimengertinya. Dada mereka seolah-olah tidak lagi mampu bergerak untuk menarik nafas dan darah mereka serasa telah berhenti mengalir.
Mereka masih dapat melihat hantu itu bertolak pinggang dan kemudian melangkah maju, tetapi mereka sudah tidak mampu berbuat apa saja.
Mereka sama sekali tidak dapat lagi berusaha untuk menghindarkan diri dari bencana yang semakin lama semakin mendekati mereka.
Sejenak kemudian mereka masih mendengar hantu itu berkata, “Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Apakah kalian tidak akan mencoba melawan untuk memperpanjang umurmu?”
Ketiga anak-anak muda itu sama sekali benar-benar sudah tidak berdaya. Yang terloncat dari mulut mereka adalah suatu keluhan, “Ampun. Ampunkan kami tuan. Kami tidak akan mengganggu padang rumput ini lagi.”
“Persetan,” sahut hantu itu, “aku harus melepaskan dendamku. Karena kalian tidak melawan, maka kalian akan aku bunuh dengan senjata, supaya kalian tidak tersiksa oleh penderitaan sebelum kematian kalian.”
“Ampun, ampun tuan,“ ketiga anak-anak muda itu merangkak-rangkak dan bahkan kemudian mereka bertiarap di bawah kaki hantu itu.
Tetapi yang mereka dengar jawaban hantu itu, “Hanya ada dua kemungkinan bagi kalian. Melawan, namun kalian akan mengalami penderitaan di saat-saat terakhir, atau menurut kehendakku dan kalian akan mengalami saat-saat yang menyenangkan menjelang kematian kalian.”
Ketiga anak muda itu sudah tidak mampu menjawab. Tubuh mereka menggigil ketakutan dan nyawa mereka benar-benar terasa telah terlepas dari tubuh-tubuh mereka.
Hantu itu kini sudah berdiri tepat dihadapan ketiga anak-anak Panawijen yang menggigil. Tampaklah matanya membayangkan dendam dan kepuasaan. Hantu itu agaknya senang sekali melihat sikap ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan dan hampir pingsan karenanya. Semakin menggigil anak-anak muda itu, semakin senang hati hantu itu. Dan karena itulah maka hantu itu ingin berbuat hal-hal yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan kesan-kesan yang mengerikan. Ia ingin menyebarkan berita bahwa sebenarnya hantu Karautan telah timbul kembali. Bahkan semakin menakutkan dan semakin mengerikan dari tabiat hantu itu dahulu sebelum menghilang beberapa lama.
Karena itu maka terdengar hantu itu berkata, “He anak-anak muda Panawijen. Karena belas kasihanku kepada kalian maka aku ingin salah seorang dari kalian yang akan tetap hidup untuk mengabarkan apa yang telah terjadi disini. Tetapi yang hidup itu akan mengalami cacat sepanjang umurnya. Aku ingin memotong kedua pergelangan tangannya dan melepaskannya pergi. Nah, siapakah yang ingin hidup diantara kalian?”
Hati ketiga anak muda yang sudah terguncang-guncang itu semakin ngeri mendengar pertanyaan itu. Namun mereka benar-benar hampir menjadi pingsan sebelum hantu itu menyentuh tubuh mereka.
“Siapa?” terdengar hantu itu berteriak, “beberapa hari yang lalu aku juga menangkap seorang yang lewat dipadang ini. Aku pukuli dia, tetapi aku tidak membunuhnya, sebab aku ingin berita itu tersebar. Tetapi orang itu pun pasti cacat sepanjang umurnya. Karena ia ingin melawan, maka aku patahkan tulang punggungnya. Dengan demikian ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya. Nah, sekarang pilihlah diantara kalian, siapakah yang masih ingin hidup dan mengabarkan ceritera ini kepada segenap penduduk Panawijen?”
Ketiga anak muda itu sama sekali tidak mampu untuk menentukan pilihan yang mengerikan itu. Mereka kini benar-benar telah berputus asa, dan mereka tinggal menunggu saat-saat yang dahsyat itu tiba.
Sejenak suasana padang rumput itu menjadi hening. Hantu itu masih saja berdiri memandangi ketiga korbannya yang ketakutan. Agaknya ia sedang memilih, siapakah yang akan dihidupinya. Karena itu, dengan kakinya ia meraba-raba ketiga-tiganya pada punggungnya. Namun, sentuhan-sentuhan itu terasa seakan-akan ujung jari Dewa Maut telah meraba-raba mereka.
Tetapi dalam ketakutan, kecemasan dan kengerian itu, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara tertawa melengking di belakang gerumbul yang tidak sedemikian jauhnya dari mereka. Suara itu melonjak dalam kesepian malam dipadang rumput Karautan dalam nada yang parau dan liar.
Bukan saja ketiga anak-anak muda yang berputus asa itu, tetapi hantu itu pun terkejut pula, sehingga dengan serta merta ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.
Dalam keremangan cahaya bulan, mereka melihat sebuah bayangan muncul dari balik gerumbul itu. Sebuah bayangan yang melonjak-lonjak seperti bayangan seorang gila yang sedang menari-nari. Semakin lama semakin dekat.
Ketika bayangan itu menjadi semakin jelas, maka sekali lagi dada anak-anak muda Panawijen dan bahkan hantu yang berdiri di sampingnya itu berdesir. Bayangan itu adalah bayangan sesosok tubuh yang menakutkan. Ternyata seseorang telah menghampiri mereka dalam pakaian yang liar. Orang itu sama sekali tidak mengenakan sepotong kain pun, kecuali sebuah celana yang dibeliti oleh daun-daun dan sulur-sulur perdu. Orang ini pun mempergunakan secarik kain untuk menutup wajahnya seperti hantu yang telah berdiri di samping ketiga anak muda Panawijen itu, namun orang yang datang itu rambutnya dengan liar terurai sama sekali.
Semakin dekat, tampaklah gerak-gerik orang itu benar-benar menakutkan. Sekali-sekali meloncat-loncat namun kemudian merunduk sambil tertawa seperti orang gila.
Terdengar hantu yang berdiri di samping Sinung Sari dan kawannya itu menggeram, “He, siapakah kau orang gila?”
Yang disebut orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan nada suaranya yang melengking menjawab, “He, akulah hantu Karautan. Aku sudah lama menghilang dari padang ini. Tetapi tiba-tiba ada orang yang menamakan diri hantu Karautan. Nah, kini kita bertemu. Dengar, akulah hantu Karautan itu.”
Yang mendengar jawaban itu benar-benar menjadi pening. Apalagi ketiga anak muda Panawijen itu. Dadanya terguncang-guncang tak menentu sehingga hampir-hampir pecah karenanya.
Hantu yang datang pertama-tama di atas punggung kuda itu pun tidak kurang gelisahnya. Ditatapnya hantu yang datang kemudian dengan saksama. Kemarahannya merayap membakar seluruh tubuhnya, sehingga tubuh itu bergetar karenanya.
“Jangan mencoba mengacaukan rencanaku,“ bentak hantu yang datang berkuda, “atau kau yang pertama-tama aku bunuh?”
Hantu yang mirip orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya terguncang dan dengan langkah-langkah kecil ia meloncat-loncat. Sahutnya dalam nada yang tinggi. “O, o. Kau akan membunuh aku. Pernahkah kau mendengar ceritera tentang hantu Karautan yang sebenarnya? Bukan hantu seperti tampangmu? Hantu Karautan tidak bisa mati. Hantu Karautan akan tetap hidup untuk seterusnya.”
Api kemarahan yang memancar dari mata hantu yang datang pertama-tama menjadi semakin menyala. Kini ia maju setapak dan suaranya menggelegar, “Kalau benar kau hantu Karautan, kau pasti tahu, siapakah ketiga anak-anak muda yang ketakutan ini?”
“O, o, o,“ teriak hantu gila itu mengerikan, “kenapa kau tanyakan nama-nama mereka?”
“Hantu tahu segala-galanya. Aku tahu namanya, rumahnya dan orang tuanya. Nah, kalau kau benar-benar hantu Karautan, sebutlah namanya.”
“Baik. Baik Aku akan menyebut namanya. Tetapi aku ingin melihat wajahnya dengan jelas.“ hantu yang mirip orang gila itu melangkah kecil-kecil mendekati ketiga anak muda Panawijen yang ketakutan. Satu-satu dirabanya tengkuk anak-anak muda itu. Dan dengan nyaring ia berkata, “Hantu Karautan membunuh korbannya dengan luka di lehernya. Aku suka menghisap darah. Apalagi darah-darah anak muda semuda anak-anak ini. Alangkah segarnya. Dan apabila darah mereka bertiga belum cukup, maka darahmu akan aku hisap pula. Darah orang yang mengaku dirinya hantu Karautan.”
“Diam,“ bentak hantu berkuda, “sebutkan namanya, sebelum kepalamu terpancung.”
“Hantu tidak pernah memancung kepala korbannya,“ jawab hantu yang lain, “dan aku belum perah sekalipun naik kuda. Aku dapat berlari melampaui kecepatan kuda dengan kakiku.”
“Persetan. Tetapi kau tidak mampu menyebut nama anak-anak muda itu.”
“O o. o,“ suaranya melengking-lengking, “Baik. Baik aku sebut namanya satu-satu.“ Kemudian hantu itu menyentuh ketiga anak muda itu satu demi satu. “Yang ini bernama Jinan. He. Bukankah aku tahu. Yang ini Patalan dan yang satu lagi Sinung Sari.”
Terdengar hantu berkuda itu menggeram. Dengan lantang ia berkata, “Kau mendengar aku menyebut namanya.”
“O, maaf. Aku mendengar dan melihat apa yang kau lakukan. Mengintai di kejauhan. Melihat apa yang menyala disini. Kemudian kau datang ke arah api itu, begitu? Kau kemudian menakut-nakuti mereka dengan menamakan dirimu hantu Karautan.”
“Cukup.“ hantu berkuda itu menjadi marah sekali. Selangkah ia maju mendekati hantu yang mirip orang gila itu.
Dalam luapan kemarahan ia berkata, “Jangan banyak bicara. Sekarang kita tentukan, siapakah yang berhak menguasai padang ini dengan kekuatan.”
“O, o, o. Bagus, Bagus,” jawab hantu yang mirip orang gila itu, “taruhannya adalah ketiga anak-anak muda itu. Siapa yang menang berhak memilikinya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Alangkah segar darahnya dan darahmu sekali.”
“Tutup mulutmu bersiagalah,“ bentak hantu berkuda itu. Dan tiba-tiba saja pedangnya telah ditariknya dari wrangkanya.
“Eh, kau akan bertempur dengan pedang?”
“Cepat, bersiagalah.”
“Baik. Baik. Aku juga akan bertempur dengan pedang. Hantu mampu bertempur dengan apa saja. Bahkan dengan batu dan pasir.“ Hantu gila itu kemudian berjalan-jalan tersuruk-suruk memungut pedang Patalan yang terletak di samping perapian. Katanya kepada Patalan, “Aku pinjam pedangmu. Mudah-mudahan aku menang, sehingga kau akan mati dengan nikmat. Aku akan menghisap darahmu perlahan-lahan. Aku tidak sekejam hantu berkuda ini.”
Tetapi hantu berkuda itu sama sekali tidak sabar lagi. Cepat ia meloncat dengan pedang terjulur, langsung mengarah ke dada hantu yang lain. Namun hantu yang lain itu pun cepat menghindar ke samping dan dengan tangkas pula ia menggerakkan pedangnya. Demikianlah mereka berdua terlibat dalam perkelahian dengan pedang. Ternyata masing-masing dapat menggerakkan pedangnya dengan tangkas dan cepat. Kelincahan mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar mampu bertempur dengan pedang di tangan.
Hantu berkuda itu bergerak dengan mantap. Langkahnya tetap dan berat Ayunan pedangnya mencampakkan angin yang kencang dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sedang hantu yang lain bergerak dengan lincahnya. Langkahnya pendek-pendek dan melonjak-lonjak. Pedangnya pun bergerak dengan ayunan yang kecil-kecil. Sekali mendatar, namun kemudian mematuk-matuk.
Ketiga anak-anak Panawijen melihat perkelahian itu. Mereka masih juga mendengar apa saja yang dipercakapkan oleh hantu-hantu itu, dan apa yang dibicarakannya. Bahkan mereka masih juga mendengar hantu yang datang kemudian itu membuat taruhan atas mereka. Dan mereka juga mendengar betapa hantu yang gila itu mengatakan alangkah segarnya darah mereka.
Tetapi seakan-akan mereka telah mati sejak lama, seakan-akan mereka sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa atas tubuh mereka sendiri. Kehendak yang ada di dalam hati mereka, tidak mampu lagi untuk menggerakkan tubuh mereka. Sebenarnya mereka kini tidak lebih dari seonggok tanah mati. Pertanda bahwa mereka masih hidup adalah matanya yang berkedip-kedip meskipun memancarkan sinar yang aneh. Beku. Serta arus nafas mereka yang tersendat-sendat. Sehingga apapun yang terjadi di hadapan wajah-wajah mereka, namun mereka sudah tidak mampu untuk membuat tanggapan apapun atas semua kejadian itu. Seperti juga mereka kini melihat kedua hantu itu bertempur. Tetapi hati mereka telah beku.
Dengan demikian ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekai tidak beranjak dari tempatnya. Duduk bersimpuh dengan nafas yang hampir-hampir terputus. Dalam keremangan cahaya bulan mereka dipaksa melihat perkelahian yang semakin lama semakin dahsyat tanpa dapat berbuat sesuatu dan bahkan apa yang tampak itu seolah-olah bayangan saja di dalam mimpi yang menakutkan. Dan apa yang terjadi atas dirinya seperti juga di dalam mimpi, sama sekali tidak dapat dikendalikannya sendiri.
Perkelahian diantara kedua bayangan yang mengaku diri masing-masing hantu Karautan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing telah bergerak dalam tata perkelahian yang aneh yang lain daripada tata perkelahian yang biasa. Mereka mengayunkan pedang-pedang mereka diiringi oleh teriakan nyaring dan pekik yang melengking-lengking.
Hantu yang datang berkuda benar-benar mampu bergerak dengan langkah-langkah yang penuh melontarkan tenaga, namun hantu yang lain mampu menyusup dalam setiap gerak lawannya dengan patukan-patukan pedang yang sangat berbahaya.
Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin sengit. Seperti dua ekor ayam jantan yang berlaga. Ketika tubuh-tubuh mereka telah dibasahi oleh keringat, maka tenaga mereka pun menjadi semakin dahsyat. Desak mendesak, dorong mendorong dalam kekuatan yang seimbang.
Ketiga anak muda Panawijen sama sekali tidak dapat menilai, bagaimanakah perkelahian itu terjadi. Mereka hanya melihat saja gerak yang liar dan kasar. Lontar melontar dalam sikap yang ganas dan buas, seperti binatang buas yang berlaga berebut mangsa. Keduanya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan apa saja yang sedang mereka lakukan untuk mengalahkan lawannya.
Sesaat perkelahian itu menjadi semakin jelas karena tiba-tiba onggokan kayu di atas bara di perapian menyala dengan sendirinya. Menyalanya tidak begitu besar, namun cukup melontarkan sinar yang kemerah-merahan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka yang sedang bertempur, sehingga tubuh-tubuh yang basah oleh keringat itu seolah-olah berlapis tembaga yang merah mengkilap.
Namun sesuatu yang tidak diketahui oleh ketiga anak-anak muda Panawijen itu adalah perkembangan dari perkelahian itu. Perkelahian yang kasar dan liar itu justru semakin lama menjadi semakin teratur. Ketika tenaga mereka telah menjadi semakin susut, maka mulailah mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memusnahkan lawan-lawan mereka. Karena itulah maka kemudian mereka lelah didorong dalam suatu keadaan yang memaksa. Mereka tidak dapat lagi bergerak-gerak dengan liar dan asal saja mengayunkan pedang-pedang mereka. Bagaimanapun juga, maka akhirnya, mereka akan sampai pada tata gerak perkelahian yang sebenarnya.
Ketika kedua belah pihak telah merasa jemu dengan segala macam tingkah laku yang gila itu, tanpa mereka sadari, maka mulailah perkelahian itu meningkat dalam perkelahian yang sebenarnya. Hantu yang berkuda benar-benar telah kehilangan kesabarannya melawan hantu gila yang memekik-mekik dan melonjak-lonjak seperti monyet kepanasan, sehingga lambat laun, maka tata geraknya pun berubah pula. Semakin mantap dan semakin tenang. Hantu itu tidak lagi menyambar-nyambar dengan lontaran-lontaran yang panjang dan gerak-gerak yang dahsyat. Justru semakin lama geraknya semakin dibatasi dan semakin mapan.
Ternyata lawannya pun mengimbanginya. Hantu gila itu kini sudah tidak memekik-mekik lagi. Meskipun mula-mula ia masih mencoba melawan hantu berkuda itu dengan cara yang gila, namun lambat laun hantu itu pun dipaksa untuk merubah tata gerak perkelahiannya. Karena hantu berkuda itu menjadi semakin tenang dan mapan, maka hantu yang gila itu pun menjadi semakin tenang pula. Berbareng dengan itu, maka teriakan-teriakan dan pekik yang melengking-lengking itu pun berkurang pulalah.
Kini mereka bertempur semakin wajar. Hantu berkuda itu dengan tangkasnya memutar senjatanya dalam arah-arah yang berbahaya dan mengerikan. Ujung pedangnya tidak lagi asal menyambar-nyambar dengan dahsyatnya seperti orang menakut-nakut burung di sawah. Demikian pula hantu yang gila itu. Pedangnya seakan-akan menjadi semakin tenang pula. Meskipun kadang-kadang pedang itu berputar seperti baling-baling dan mematuk dari segenap arah, tetapi semuanya telah diperhitungkan dengan cermat
Hantu-hantu itu sendiri semakin lama semakin menyadari kedudukannya pula. Mereka tidak lagi dapat membuat dirinya berbuat aneh-aneh lagi. Kini mereka telah tenggelam dalam pertempuran antara hidup dan mati dengan ilmu-ilmu mereka yang semakin lama semakin wajar.
Namun sekali-sekali masih terdengar hantu yang datang berkuda itu mengumpat-umpat dalam bahasa yang kasar. Seakan-akan ia sama sekali tidak rela menghadapi lawan yang mampu mengimbanginya. Dan bahkan ternyata semakin lama hantu yang gila itu semakin menggelisahkannya. Ketika pertempuran itu kemudian mencapai puncaknya, maka menggeramlah hantu yang gila itu. Dengan sinar mata yang menyala-nyala ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, sehingga beberapa kali hantu yang datang berkuda itu melangkah surut. Namun hantu yang datang berkuda itu pun tidak kurang marahnya. Dicobanya untuk memeras segenap kemampuan yang ada padanya, dan dicobanya untuk segera membinasakan lawannya dengan pedangnya yang berkilat-kilat memantulkan cahaya api kemerah-merahan.
Akhirnya mereka sampai pada saat-saat yang akan menentukan perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga mereka habis-habisan. Kini mereka tidak lagi bertempur dengan kasar dan liar. Tetapi mereka seakan-akan dua panglima perang yang bertemu dalam satu pertempuran atau antara dua orang kesatria yang sedang berkelahi untuk mempertaruhkan kebesaran nama masing-masing.
Dalam pada itu angin malam masih juga berhembus perlahan. Daun-daun perdu di gerumbul-gerumbul di sekitar perkelahian itu bergerak-gerak dalam belaian malam yang lembut. Suaranya gemercik memilukan, seakan-akan mereka sedang merintih melihat perkelahian antara hidup mati dari dua orang yang menamakan diri masing-masing hantu padang Karautan.
Dalam saat-saat terakhir itu, mereka tidak dapat lagi menyembunyikan kedahsyatan ilmu-ilmu mereka masing-masing. Ilmu-ilmu itu tanpa mereka kehendaki, telah melancar dalam kedahsyatan perkelahian, karena keadaan mereka yang semakin lama menjadi semakin sulit. Libatan-libatan serangan lawan telah memaksa mereka masing-masing untuk mempergunakan ilmu puncak yang mereka miliki.
Dengan demikian, maka mereka tidak lagi sekedar bertempur karena mereka masing-masing ingin mempertahankan gelar yang mereka perebutkan. Hantu Karautan. Namun mereka telah benar-benar dibakar oleh nyala dendam di dalam hati mereka masing-masing.
Dalam pada itu, api di perapian semakin lama menjadi semakin besar juga. Onggokan kayu yang begitu saja ditimbun di atasnya kini telah menyala seluruhnya, sehingga tempat di sekitar perkelahian itu menjadi semakin terang.
Api itu ternyata tidak saja menerangi tempat di sekitarnya, namun nyalanya lepas sampai ke tempat yang jauh. Seperti juga hantu berkuda itu melihat api dari kejauhan dan mendekatinya, maka tiba-tiba orang-orang yang berada di dekat perapian itu sekali lagi terkejut. Kedua hantu yang sedang bertempur itu pun terkejut pula, sedang ketiga anak-anak muda Panawijen hampir tidak tahu apakah yang dirasakannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian. Dalam keremangan cahaya bulan, dan disela-sela dering senjata beradu, sekali lagi bergemalah suara derap kaki kuda. Mau tidak mau hantu yang sedang bertempur itu berusaha untuk melihat siapakah yang datang mengganggu perkelahian itu.
Sebenarnyalah dari kejauhan mereka melihat seekor kuda berpacu cepat sekali mendatangi mereka. Debu yang putih melontar naik ke udara. Rupa-rupanya api yang menyala itu telah menarik perhatian penunggangnya.
Tanpa dikehendaki sendiri, maka pertempuran itu mengendor sesaat. Mereka bersama-sama ingin melihat siapakah yang baru datang itu. Apakah orang itu juga akan mengaku hantu padang Karautan dan akan turut serta bertempur diantara mereka, atau orang lain yang hanya tertarik oleh nyala api itu saja.
Demikian penunggang kuda itu semakin dekat, maka dada kedua hantu yang bertempur itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang berkuda, itu adalah seorang yang berpakaian lengkap sebagai seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Pelayan Dalam itu agaknya terkejut pula melihat perkelahian dipadang rumput Karautan. Karena itu, maka segera ia memacu kudanya semakin cepat.
Ketika Pelayan Dalam istana itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar salah seorang hantu itu melengking, “He, apa kerjamu disini?”
Pelayan Dalam itu tidak segera menjawab. Demikian sampai di tempat itu, maka segera ia menarik kekang kudanya dan mengamat-amati daerah di sekitarnya dengan saksama. Ia melihat kemudian tiga anak-anak muda yang duduk membeku. Dilihatnya pula beberapa alat dan perlengkapan yang berserakan di dekat perapian. Dan dilihatnya pula kedua hantu yang berpakaian aneh-aneh.
Kehadiran penunggang kuda itu benar mempengaruhi perasaan kedua hantu yang sedang bertempur itu. Namun hantu gila tiba-tiba berteriak sambil meluncurkan ujung pedangnya. Jangan hiraukan kehadirannya. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Akulah hantu padang Karautan.
Hantu yang datang berkuda terkejut. Namun segera ia berhasil menguasai dirinya. Dengan cepatnya ia menghindari serangan itu, dan dengan cepatnya pula ia telah melibatkan diri dalam perkelahian yang semakin sengit.
Senjata-senjata mereka berputar dengan dahsyatnya, melontarkan udara maut. Dari mata mereka memancar dendam yang tiada taranya satu sama lain, sehingga seakan-akan hanya mautlah yang dapat menghentikan perkelahian itu.
Penunggang kuda yang berpakaian seorang Pelayan Dalam itu, melihat perkelahian kedua hantu itu dengan saksama.
Sekali-sekali tampak keningnya berkerut, namun sekali tampak wajah itu menjadi tegang. perlahan-lahan ia meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati titik perkelahian itu. Sebuah pedang yang besar tergantung di sisi tubuhnya dalam sarungnya yang putih gemerlap.
Hantu yang gila itu tiba-tiba berteriak nyaring, “He, pedang kalian berdua mirip benar bentuk dan sarungnya.”
Hantu berkuda itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sedang penunggang kuda yang datang itu mengerutkan keningnya.
Dicobanya untuk menangkap setiap gerak yang terlontar dan setiap ilmu yang memancar dari kedua hantu itu.
Tetapi orang itu belum berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang tampak tangannya meraba-raba hulu pedangnya. Tetapi kembali kedua tangannya tergantung lepas di sisi tubuhnya.
Namun ketika sekali lagi terpandang olehnya ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu, maka kembali dahinya berkerut-kerut. perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya sambil bertanya, “He, siapakah kalian bertiga?”
Ketiga anak-anak muda itu memandanginya dengan wajah kosong. Tetapi ketika tampak olehnya bahwa orang itu sama sekali bukan sejenis kedua hantu yang bertempur, maka tiba-tiba di sudut hatinya memancar kembali harapan betapapun kecilnya. Karena itu, maka dengan penuh ketakutan salah seorang dari mereka menjawab, “Kami anak-anak Panawijen tuan.”
“Kenapa kalian berada di tempat ini?”
Pertanyaan itu telah mengingatkannya kepada tugas yang menyeretnya ke tempat terkutuk itu. Maka dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Kami datang bersama Mahisa Agni tuan. Kami ingin mencari tempat untuk membuat bendungan.”
Penunggang Kuda yang berpakaian Pelayan Dalam istana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Dimana Mahisa Agni sekarang?”
“Ke sungai tuan. Mencari air,” jawab Sinung Sari.
Pelayan Dalam itu mengangguk-angguk, desisnya, “Jangan takut. Aku akan mengatasi keadaan.”
Harapan yang tumbuh di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu menjadi semakin berkembang. Sekali lagi dicobanya untuk menatap wajah Pelayan Dalam yang tegap, tampan dan meyakinkan. Bahkan terdengar Jinan berkata, “Tuan, hantu-hantu itu telah menakutkan kami. Mereka akan membunuh kami.”
Pelayan Dalam itu berpaling. Dilihatnya kedua hantu itu masih bertempur dengan sengitnya. Terdengar ia berkata, “Keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Siapakah mereka?”
“Kami tidak tahu tuan,“ sahut Sinung Sari, “mereka menamakan diri mereka hantu Padang rumput Karautan.”
Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia berdiri tegak dengan kaki renggang. Sebagai seorang petugas Istana maka ia memiliki keberanian untuk menghadapi setiap kemungkinan. Juga terhadap sepasang hantu yang sedang bertempur itu.
Sinung Sari yang masih gemetar itu tiba-tiba berkata, “Apakah tuan dapat mengusir mereka berdua?”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menjawab. Tetapi dicobanya untuk melihat pertempuran itu dengan saksama.
“Bagaimana tuan,” desak Patalan, “apakah tuan dapat mengusir hantu-hantu itu?”
“Hantu-hantu itu benar-benar menakutkan,“ desisnya, “tetapi jangan takut. Mudah-mudahan ia tidak akan berbahaya bagiku.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi agak tenang. Setidak-tidaknya mereka akan mendapat perlindungan dari Pelayan Dalam ini. Sebagai seorang pejabat Istana, maka ia pasti akan berbuat sesuatu. Bukankah ia seorang yang perkasa menilik sikap dan ketenangannya? Sementara itu, ketiga anak-anak muda itu masih mengharap kehadiran Mahisa Agni. Mungkin bersama-sama Mahisa Agni, maka Pelayan Dalam itu akan dapat mengalahkan kedua hantu itu. Atau salah satu diantaranya sesudah yang lain dikalahkan oleh hantu itu sendiri.
Sekali-sekali ketiga anak muda itu memandangi tebing sungai yang kelam dan ditutupi oleh rimbunnya dedaunan. Di sana tadi Mahisa Agni menghilang. Dan dari sana pula mereka mengharap Mahisa Agni akan muncul.
Tetapi Mahisa Agni itu tidak segera datang kembali. Sungai itu tebingnya terlalu curam. Memang agak terlalu sulit untuk menuruni dan kemudian mendaki tebing itu dimalam hari. Namun beruntunglah ketiga anak-anak muda itu, bahwa tiba-tiba hadir dipadang rumput ini seorang pejabat dari Istana.
Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak melonjak-lonjak lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara. Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata masing-masing.
Namun semakin lama Pelayan Dalam itu melihat, bahwa hantu yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya mampu bertahan dan menghindar.
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan Dalam itu tersenyum.
Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun seperti pengamatan Pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya.
Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu diluar dugaan. Diluar dugaan Pelayan Dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan diluar dugaan hantu yang mirip orang gila.
Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah berdebu di bawah kakinya diarahkan ke wajah lawannya. Segumpal tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup matanya supaya tidak kemasukan debu.
Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu. Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan meloncat ke punggung kudanya. Dengan satu sentakan kuda itu melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian, hantu gila dan Pelayan Dalam yang berdiri keheranan. Namun dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda Pelayan Dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak melingkar-lingkar.
“Gila,” gerutu Pelayan Dalam itu sambil berusaha menenangkan kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun kuda itu dapat ditenangkannya. Namun hantu berkuda yang akan dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput. Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi Pelayan Dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh.
Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu. Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.
Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”
Pelayan Dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang lagi. Ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga tidak mengejarnya?”
“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.
“Apakah hantu memerlukan kuda?” Sahut Pelayan Dalam.
Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya Pelayan Dalam yang berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di lambungnya.
“Apa kerjamu di sini,“ bertanya hantu itu.
“Melihat hantu-hantu berkelahi,“ jawabnya.
“Hanya ada satu hantu dipadang Karautan. Kau lihat, orang yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”
“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”
Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Pelayan dalam itu dengan saksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking, “Aku. Akulah hantu Karautan.”
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang menamakan hantu itu pergi?”
Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram.
Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada Pelayan Dalam yang perkasa dan meyakinkan itu.
Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan buatan ketika hantu itu menjawab, “Aku kini akan menikmati kemenanganku.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”
“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban hantu Karautan.”
Sekali lagi Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”
“Tuan,“ terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah ketiga anak-anak muda yang ketakutan.
Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar Pelayan Dalam itu berkata, “Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah kalian bertiga tidak berani melawannya?”
Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”
“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap darahmu lewat tengkukmu. Dan kepada Pelayan Dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu kebiasaan hantu-hantu. Menghisab darah lewat tengkuk korbannya yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”
Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang Karautan.
Tanpa dikehendakinya Pelayan Dalam itu pun tersenyum. Tetapi segera ia membentak, “He, kenapa kau tertawa?”
Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”
“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku adalah korban yang terakhir.”
“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu dahulu.”
“Tuan,“ Patalan menjerit, “tolonglah kami tuan. Bukankah tuan telah sanggup?”
“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya satu ini,“ bertanya Pelayan Dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan bersenjata?”
“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”
“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau kau ingin memakai senjataku?”
“Tidak tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”
“Baik Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian ternyata tidak mampu, biarlah aku melawannya.”
Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon belas kasihan Pelayan Dalam yang perkasa itu.
“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.
Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu.
Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya kepada Pelayan Dalam itu. “Tuan Kami mempunyai seorang kawan lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap, bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu tuan, kami mengharap tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau maksud?”
“Mahisa Agni tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami katakan.”
“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”
“Pasti tuan. Ia akan segera datang.”
Pelayan Dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya sudah kau hisap pula?”
Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata, “Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu Karautan.”
Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi wajahnya.”
“Bagaimana,” desak Pelayan Dalam itu, “bagaimana dengan Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu Karautan.”
Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia menggeram, “Bagaimana sebaiknya,“ katanya kepada Pelayan dalam itu, “apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut Pelayan dalam itu.
“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,” jawab hantu itu.
“Jangan mengigau,“ bentak Pelayan Dalam itu, tetapi kemudian ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.
Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata, “Lalu, bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”
Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan Pelayan Dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian Pelayan Dalam itu hantu pula yang sedang menyamar?”
Dalam ketakutan itu ia mendengar Pelayan Dalam berkata, “Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab kepadanya.”
Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa Agni akan datang kemari?”
Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan datang kemari.”
“Omong kosong,” teriak hantu itu.
“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti akan datang.”
Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin menakut-nakuti aku.”
“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”
Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak takut terhadap siapapun, namun aku tak mau bertengkar dengan Mahisa Agni itu.“ kemudian kepada Pelayan Dalam itu ia berkata lantang, “Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut kepada siapapun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan kepada Mahisa Agni?”
“Gila,“ gumam Pelayan Dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian menghilang di balik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran dipadang itu.
Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak akan mau menemui dan bertengkar dengannya.
Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi gelisah pula karena Pelayan Dalam yang aneh itu. Apakah benar dimalam hari yang sepi ada seorang Pelayan Dalam berkeliaran dipadang Karautan ini? Apakah Pelayan Dalam ini bukan sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada lebih dari satu hantu dipadang ini, seperti hantu yang dikatakan oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada dipadang ini, namun ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.
Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat Pelayan Dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyum-senyum. Meskipun Pelayan Dalam itu tersenyum, namun senyumnya itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti ketika ia baru datang.
Tiba-tiba Pelayan Dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal hantu padang Karautan?”
Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka. Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum tuan. Baru kali ini aku melihat mereka berdua bertempur.”
Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi sangat ketakutan?”
“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”
“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang tegap dan gagah?”
“Tetapi hantu-hantu adalah mahluk yang sakti.”
“Kau percaya?”
Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena itulah maka orang yang berpakaian Pelayan Dalam itu tertawa terbahak-bahak.
“Terlalu,“ katanya, “kalian adalah penakut-penakut yang sama sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian berusaha untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.”
Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti ketika tiba-tiba mereka mendengar Pelayan Dalam itu berkata lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”
Orang yang berpakaian lenglap sebagai seorang hamba istana itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung, dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi pingsan.
“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,“ berkata orang itu lebih lanjut.
Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah yang berkejaran semakin cepat.
Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul dihadapan mereka, sekali lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama semakin dekat menjinjing bumbung bambu.
Dengan serta merta hampir bersamaan, ketiga anak muda Panawijen itu berdesis, “Agni. Mahisa Agni telah datang.”
Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa? Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”
“Ya. Mahisa Agni telah datang,“ jawab mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan timbul kembali di dalam dada mereka.
Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni.
Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu Karautan pula itu pun berpaling. Ia pun segera melihat Mahisa Agni berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,“ geram Pelayan Dalam itu.
“Ya.”
Pelayan Dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya sosok tubuh yang semakin dekat itu.
Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai pula diantara anak muda Panawijen yang masih menggigil ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah mereka, sehingga kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian menggigil seperti orang kedinginan.”
Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”
“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya terbungkam.
Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di lambungnya.
“Benarkah kau hantu padang Karautan,“ bertanya Mahisa Agni.
Pelayan Dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya Akulah hantu Karautan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan. Duduklah.”
Pelayan Dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di samping perapian, diantara barang-barangnya yang berserakan.
“Duduklah,“ ia mempersilahkan sekali lagi.
Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.
“He, kemarilah.” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini. Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai Pelayan Dalam istana Tumapel.”
Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah, hantu ini sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”
Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.
“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti atau menaku-akuti kalian.”
Ketiga anak muda itu menggeleng.
“Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekali tidak menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri, bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji Asmara Bangun.”
“Ah,“ desis hantu itu sambil tersenyum.
Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata, “Agni. Kalau yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu dipadang Karautan ini.”
“He,“ Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”
“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul disini. Mengitari perapian itu.”
“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”
Sinung Sari memandang hantu berpakaian Pelayan Dalam itu dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah kepadanya.”
“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Kepada hantu itu,“ sahut Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus, karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.
“Apakah kalian tidak haus?“ sekali lagi Mahisa Agni bertanya.
Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah Pelayan Dalam yang seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput Karautan.
Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar sebagai Pelayan Dalam itu, bahkan ia bertanya, “Jadi menurut kata kalian, disini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”
Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan berkata, “Ya, bertiga. Satu diantaranya adalah yang masih tinggal itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah yang mereka kerjakan disini?” bertanya Agni pula.
“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,“ sahut Jinan.
“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih disini,” gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.
Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Bagaimana Agni. Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang lain itu?”
Mahisa Agni mengangguk, “Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar nama hantu yang satu ini?”
Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka serentak mereka menyahut, “Ya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”
“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan hantu-hantu yang lain-lain.”
“Sekehendakmulah,” sahut Pelayan Dalam itu.
“Nah, dengarlah,“ berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka. Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula disini menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah pergi.”
Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar. Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.
Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun namanya itu masih asing bagi mereka.
Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan apapun lagi.
Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok. Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau Kebo Ijo atau siapapun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan terkejut sekali.
Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya. Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan, sebelum ia bersembunyi dipadang Karautan. Dan menyebut dirinya dan disebut orang hantu padang Karautan.
“Bukankah sekarang telah kalian saksikan sendiri,“ berkata Mahisa Agni, “bahwa hantu Karautan adalah hantu yang baik hati. Dan seandainya ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu yang lain dan jahat itu sama sekali bukan hantu Karautan.”
“Siapakah mereka itu,“ perlahan-lahan terdengar Sinung Sari bertanya.
“Hantu tiruan,“ sahut Agni cepat-cepat, “dan bukankah nyata bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan hantu ini?”
Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk.
“Hantu ini pun kini telah menjelma menjadi seorang manusia biasa. Ia sama sekali tidak sedang menyamar sebagai Pelayan Dalam Istana Tumapel. Tetapi ia benar-benar menjadi Pelayan Dalam.”
Ketiga anak-anak muda itu menjadi beragu sejenak. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana seorang Pelayan Dalam Istana itu sebenarnya adalah hantu.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan, “Jangan ragu-ragu akan keteranganku. Ken Arok bukan hantu. Ia adalah seorang manusia biasa. Hantu Karautan itu sama sekali tidak ada.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi bingung. Sekali-sekali mereka saling berpandangan, namun sekali-sekali mata mereka berpindah-pindah dari Mahisa Agni kepada Ken Arok berganti-ganti.
Apalagi ketika Mahisa Agni itu berkata seterusnya, “Yang dua, yang bertempur itu pun sama sekali bukan hantu. Mereka hanya ingin menakut-nakuti kalian dan menamakan diri mereka hantu padang Karautan.”
“Jadi siapakah mereka itu, “sela Patalan.
Mahisa Agni diam sesaat. Ditatapnya wajah ketiga kawan-kawannya berganti-ganti dan sesaat kemudian ditatapnya wajah Ken Arok yang duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah ketiga kawannya itu menjadi tegang karena kebingungan yang semakin mendesak di dalam dada mereka.
Baru sesaat kemudian Mahisa Agni berkata, “Apakah kau juga ingin tahu siapakah yang datang berkuda dan menamakan dirinya hantu Karautan itu?”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Orang itulah yang telah membuat bencana selama ini,“ desis Mahisa Agni. “Pasti orang itu pula yang telah melakukan pencegatan dipadang rumput Karautan beberapa hari yang lalu seperti berita yang kau katakan pada saat kita akan memasuki padang ini.”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Seharusnya kau mengenalnya,“ berkata Mahisa Agni pula, “seperti hantu jadi-jadian itu mengenal namamu. Bukankah hantu itu mengenalmu, mengenal namamu satu persatu?”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mengangguk, tetapi mereka menjadi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat mengenal nama hantu itu, meskipun hantu jadi-jadian sekalipun?”
Namun mereka hampir menjadi pingsan ketika Mahisa Agni benar-benar menyebut nama hantu itu, katanya, “Nah, ketahuilah, hantu itu bernama Kuda Sempana.”
“Kuda Sempana,“ berbareng ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengulangi nama itu.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Ya, hantu itulah Kuda Sempana.”
Sesaat ketiga anak muda itu diam mematung. Sesaat mereka tenggelam dalam perasaan yang aneh. Kuda Sempana. Bagaimana mungkin anak itu berada dipadang rumput dalam pakaian yang tak teratur dan kusut. Bukankah anak muda itu berada di Istana.
Dengan penuh kebimbangan Sinung Sari bertanya, “Mahisa Agni. Apakah mungkin terjadi, Kuda Sempana yang perkasa itu berada dipadang ini? Bukankah ia berada di Tumapel?”
“Orang itu sebenarnya Kuda Sempana,” jawab Mahisa Agni. Tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya ia berada di padang ini. Mungkin Ken Arok dapat menjawab pertanyaan itu, dan mungkin Ken Arok pun akan dapat mengatakan, kenapa ia sendiri pun berada dipadang ini pula.”
Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Mungkin aku dapat mengatakan kepada kalian, kenapa Kuda Sempana berada dipadang rumput ini, meskipun apa yang aku ketahui pun tidak terlalu banyak. Yang paling aku ketahui tentang diriku sendiri, kenapa aku berada dipadang rumput ini.”
“Ya. Juga tentang dirimu,” sahut Agni.
“Aku datang kembali ke padang rumput ini karena aku juga mendengar bahwa hantu Padang Karautan telah timbul kembali,“ berkata Ken Arok, “adalah benar-benar menyinggung perasaanku, bahwa hantu yang telah hilang itu datang kembali dipadang ini untuk melakukan pekerjaannya. Karena itulah, maka aku minta ijin kepada atasanku untuk berusaha menangkap hantu itu.”
Mahisa Agni tertawa mendengar keterangan Ken Arok, katanya, “Bukankah kau merasa bahwa pekerjaanmu disaingi?”
Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Orang masih akan tetap menyangka bahwa hantu yang dahulu itu pulalah yang datang kemudian.”
“Apakah pemimpinmu tahu, bahwa hantu yang dahulu bernama Ken Arok?”
“Tidak seorang pun tahu, selain Empu Purwa bersama muridnya. Dan kini, karena kau, ketiga kawan-kawanmu itu tahu pula.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kau mendapat ijin itu agaknya. Tetapi kau belum berhasil menangkap hantu itu.”
“Ya. Tetapi aku sudah melihat hantu itu dan aku dapat mengenalnya pula, setelah beberapa malam aku berkeliaran dipadang ini.”
“Tetapi kenapa kau tertarik ke tempat ini? Bukankah daerah perburuan hantu-hantu itu tidak disini?”
“Aku melihat api. Barangkali karena api itu pula, maka hantu itu datang kemari.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling kepada kawan-kawannya. Katanya, “Nah, sekarang kau dengar serba sedikit ceritera tentang hantu Karautan. Sekarang kau akan percaya bahwa hantu itu bernama Kuda Sempana?”
Ketiga kawannya pun mengangguk-angguk pula. Tetapi tiba-tiba Patalan bertanya, “Tetapi hantu itu ada dua.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Dua?“ ia mengulang.
“Ya. Dua,“ sahut Sinung Sari, “yang satu yang kau sebut bernama Kuda Sempana itu. Ia datang berkuda dan menakut-nakuti kami. Hantu itu akan membunuh kami berdua, dan membiarkan salah seorang dari kami tetap hidup, namun tubuhnya akan dijadikan cacat. Kemudian datang hantu yang kedua. Hantu yang aku sangka orang gila. Keduanya bertempur sampai hantu yang ketiga itu datang.”
“Itu bukan hantu,“ potong Mahisa Agni, “sudah aku katakan ia memang bekas hantu. Tetapi sekarang tidak.”
Ken Arok tersenyum, dan Sinung Sari membetulkan kata-katanya, “Ya. Maksudku tuan yang bernama Ken Arok itu datang. Dan tuan itu pun tahu, bahwa memang ada hantu yang lain selain Kuda Sempana.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali seakan-akan ia mencoba untuk mengetahui dengan pasti kata-kata Sinung Sari itu, bahwa ada hantu lain yang telah datang di tempat ini. hantu yang menurut Sinung Sari adalah hantu yang mirip dengan orang gila.
Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan kawannya itu. Bahkan kemudian ditatapnya gerumbul-gerumbul di kejauhan dan kemudian ditatapnya pula bulan yang berwarna kekuning-kuningan, di belakang awan tipis yang mengalir dengan lesu ke tenggara.
Suasana dipadang rumput itu sejenak dicengkam oleh kesenyapan. Masing-masing terdiam sambil memandang api di perapian yang telah padam. Hanya bara-bara kayunya sajalah yang masih memancar kemerahan.
Yang terdengar kemudian adalah Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdiri mengambil beberapa potong bekal makanannya dan kemudian ditaruhkan dihadapan Ken Arok, katanya. “Apakah kau juga mau makan makanan padesan seperti ini?”
Ken Arok tersenyum. Diambilnya sepotong makanan dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.
Jinan, Patalan dan Sinung Sari memandangi mereka berdua dengan penuh kebimbangan. Seakan-akan ada sesuatu yang tersimpan di dalam diri mereka. Sebuah rahasia yang tidak mereka mengerti. Demikian desakan keinginan mereka untuk mengetahui, maka sekali lagi Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Agni. Kau belum menjawab pertanyaanku.”
Mahisa Agni berpaling. Tampaklah keningnya berkerut. Jawabnya, “Tak ada yang menarik yang dapat kau ketahui dari hantu-hantuan itu. Yang perlu kau ketahui sudah aku katakan. Yang ada disini sekarang inilah yang dahulu bernama hantu Karautan, meskipun itu pun hanya hantu jadi-jadian. Ia adalah seorang manusia biasa, seperti aku, seperti kalian. Dan hantu yang datang berkuda itu adalah Kuda Sempana. Juga seorang manusia biasa. Seperti aku, seperti kalian. Itulah yang penting. Yang lain-lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan kalian pasti tidak akan mengenalnya.”
Patalan mengerutkan dahinya. Mungkin ia belum mengenal hantu yang gila itu. Tetapi ia masih juga berkeinginan untuk mendengar serba sedikit tentang hantu-hantuan itu. Maka katanya, “Tetapi ia datang juga kemari dan menamakan dirinya hantu Padang Karautan, bahkan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Atau barangkali tuan sudah mengenalnya,“ bertanya Patalan kepada Ken Arok.
“Sudah,“ sahut Ken Arok sambil tersenyum, “aku mengenalnya menilik caranya memutar pedang dan melontarkan kakinya.”
“Ah,“ desah Mahisa Agni, “terlalu banyak yang ingin kau ketahui Patalan. Jangan menyebut-nyebut tentang dirinya. Mungkin ia akan datang lagi dan mengganggu kalian.”
“Bukankah sekarang kau ada disini dan tuan Ken Arok, yang berhak mendapat sebutan hantu Karautan itu ada pula?”
“Sebenarnya aku sama sekali tidak berbangga atas sebutan itu,“ sahut Ken Arok.
“Oh, maafkan kami,“ potong Patalan cepat-cepat.
“Aku tidak apa-apa. Tetapi mungkin sebutan itu akan sangat menyenangkan bagi hantu-hantuan itu.”
“Tetapi siapakah dia,” desak Sinung Sari pula.
Sekali lagi Ken Arok tersenyum. Senyum yang memancarkan rahasia yang justru menjadikan ketiga anak-anak muda Panawijen semakin ingin tahu.
“Hantu yang satu itu,“ berkata Ken Arok, “adalah yang lebih dekat dari kalian. Ia adalah Bahu Reksa Panawijen.”
Ketika anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. “Bahu Reksa Panawijen. Apakah artinya?”
Ken Arok kini tertawa kecil. Dipandanginya wajah Agni yang berkerut. Bahkan Ken Arok itu berkata pula, “Kau tahu Bahu Reksa Panawijen. Ia lebih dahsyat dari hantu Karautan.”
Sinung Sari mengangguk-angguk. Tetapi ia melihat Ken Arok masih tertawa, sehingga katanya, “Bagaimanakah sebenarnya?”
Ken Arok itu kemudian bertanya kepada Patahan, “He, dimana pedangmu?”
Patalan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan serta merta ia menjawab, “Diambil hantu yang mirip dengan orang gila itu.”
Ken Arok mengangguk-angguk. Kemudian ia beringsut beberapa langkah maju. Ketika ia meraih sesuatu dihadapan Mahisa Agni, maka katanya, “Apakah ini pedangmu?”
Patalan menjadi heran. Pedang itu sudah berada di dekat perapian, “Ya,“ katanya.
Ken Arok meneruskan, “Kau lihat siapakah yang membawa pedang ini kembali?”
Patalan menjadi bingung. Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika Mahisa Agni datang, ia menjinjing pedang. Bukan pedangnya sendiri, karena pedang itu masih berada di dalam sarungnya.
“Agni,” teriak Patalan, “kau yang membawa pedangku kembali?”
“Ya,” jawab Agni. “aku berjumpa dengan hantu itu. Dan menitipkannya pedang itu kepadaku.”
Ken Arok kini tertawa keras? Hampir-hampir tak dapat ditahannya lagi. Disela-sela derai tertawanya terdengar ia berkata, “Kenapa hantu itu tidak memakai kain dan memakai daun perdu untuk menutupi celananya? He? Untunglah tidak ada yang gatal pada daun-daun itu. Kalau ada kalian akan cepat mengetahui siapakah yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya itulah hantu gila itu.”
Ketiga anak-anak Panawijen itu semakin bingung. Tetapi lamat-lamat mereka dapat menangkap maksud Ken Arok itu. Apalagi ketika Ken Arok itu menjelaskan. Kalian pasti pernah melihat, siapakah yang pernah mengalahkan Kuda Sempana? Nah itulah. Hantu-hantuan yang datang berkuda itu kembali dikalahkan oleh hantu-hantuan Bahu Reksa Panawijen.
Sinung Sari beringsut maju sambil berkata, “Agni. Apakah demikian?”
Agni tersenyum.
“Jadi kaukah hantu-hantu jadi-jadian yang aku sangka orang gila itu?” Agni mengangguk.
“Gila kau Agni,” teriak Jinan, “kenapa kau menakut-nakuti kami. Kenapa kau tidak saja datang dalam keadaanmu yang sewajarnya?”
Agni kini tertawa, seperti juga Ken Arok tertawa. Maka jawab Mahisa Agni, “Ah. Sebuah permainan yang menyenangkan. Aku ingin tahu, siapakah sebenarnya hantu Karautan yang baru itu. Aku ingin mengetahuinya tanpa ia mengetahui aku, sebab aku yakin bahwa hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Bukan hantu yang lama.”
Wajah ketiga anak-anak muda Panawijen tiba-tiba menjadi merah. Mereka merasa malu sekali pada diri mereka sendiri. Mereka merasa betapa mereka benar-benar seorang penakut.
“Tetapi Agni,“ berkata Sinung Sari,“ bukankah kau akan dapat mengenalnya juga seandainya kau datang dengan wajar. Bukankah orang berkuda itu lari sebelum membuka tutup mukanya?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin. Tetapi apabila ia telah mengenal aku sebelumnya, mungkin ia akan segera lari sebelum kami sempat bertempur.”
“Apakah yang kau dapat dari pertempuran itu?“ bertanya Patalan.
“Dari pertempuran itulah aku dapat mengenalnya.”
“Apanya yang dapat kau kenal?“ desak Sinung Sari.
Mahisa Agni dan Ken Arok tersenyum. Jawab Mahisa Agni, “Ken Arok mengenal aku dan Kuda Sempana sesudah ia melihat kami bertempur. Ken Arok mengenal aku sejak aku masih menjadi orang gila itu. Karena itu, ia tidak bersikap melindungi kalian, karena ia tahu benar bahwa hantu itu tidak berbahaya bagi kalian.”
“Tetapi apakah yang dapat menunjukkan bahwa orang itu bernama kuda Sempana dan yang lain Mahisa Agni?”
Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Gerak kami. Sifat dan watak-watak dari gerak kami masing-masing.
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pengenalan itu berada diluar kemampuannya, karena mereka sama sekali tidak mengenal ilmu gerak. Meskipun demikian Sunung Sari masih saja menggerutu dengan jengkelnya, “Tetapi Agni, setelah Kuda Sempana pergi, kau masih juga menakut-nakuti kami. Apakah maksudmu?”
Mahisa Agni tertawa semakin keras. Jawabnya, “Aneh. Seharusnya kalian tidak takut. Seperti kata Ken Arok itu. Bukankah kalian bertiga dan membawa senjata? Seandainya benar-benar kami bertemu dengan bahaya yang tidak dapat aku atasi seorang diri, apakah kalian akan membiarkan aku sendiri? Nah, sekarang renungi diri kalian sendiri. Manakah yang lebih baik. Mengangkat senjata menghadapi keadaan seperti itu, atau membiarkan diri kalian dihisap darah kalian lewat tengkuk kalian. Ingat, bahwa Kuda Sempana benar-benar akan dapat berbuat demikian atas tanah yang akan kita bangunkan nanti. Kalau kalian tidak dapat melindungi diri kalian dan tanah kalian, maka apa yang akan kalian capai dengan susah payah, akan merupakan tanah sadapan yang menyenangkan bagi orang lain. Orang lain akan dapat menghisap darah dan di jalur-jalur nadi penghidupan kampung halamanmu. karena itu, tengadahkan wajahmu dalam menghadapi setiap persoalan. Jawablah semua tantangan. Asal kau yakin, bahwa kau sedang mempertahankan hakmu, bukan sedang melanggar hak orang lain.”
Jinan, Patalan dan Sindung Sari menundukkan kepalanya. Kembali wajah-wajah mereka dijalari oleh warna-warna merah karena sindiran-sindiran yang tepat itu. Mau tidak mau mereka harus mengakui kebenaran kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan sendiri.
Kembali untuk sesaat mereka terbenam dalam kesepian. Mahisa Agni sejenak berdiam diri sambil memandangi bulan yang semakin jauh dari cakrawala. Kini bulan itu telah hampir sampai ke ujung langit. Namun malam telah melampaui pusatnya.
Dibiarkannya ketiga kawan-kawannya merenungkan kata-katanya. Mahisa Agni merasa, mungkin kata-katanya akan menjadikan kawan-kawannya malu kepadanya dan kepada diri sendiri. Namun ia mengharap, bahwa dengan demikian, maka akan timbul perubahan di dalam kehidupan anak-anak muda Panawijen yang terlalu lama tenggelam dalam suasana yang terlampau tenang dan diam. Tak ada perubahan, tak ada gerak dan nyala di dalam kehidupan orang-orangnya. Jebolnya bendungan itu pun ternyata dapat dicari manfaatnya di samping bencana yang telah melanda Panawijen. Ternyata dengan jebolnya bendungan itu, anak-anak muda Panawijen mendapat pelajaran untuk mencoba mengatasi kesulitan yang menimpa diri sendiri tanpa menggantungkan kepada orang lain.
Namun yang pertama-tama memecah kesepian itu adalah Mahisa Agni pula. Bukan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di padang Karautan, tetapi ia benar-benar ingin tahu, kenapa Kuda Sempana telah mencoba hidup dipadang yang sepi ini. Apakah anak muda itu merasa bahwa ia memerlukan harta benda menjelang hari-hari dimana ia hidup dalam satu keluarga. Mungkin Kuda Sempana merasa perlu untuk membuat isterinya bahagia dengan menyimpan harta benda yang berlebihan sebagai imbangan cara yang ditempuhnya sewaktu mengambil isterinya itu. Atau barangkali Ken Dedes mempunyai permintaan-permintaan sehingga Kuda Sempana terpaksa berbuat demikian merampok dan menyamun?”
“Ken Arok,“ bertanya Mahisa Agni kemudian, “kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran dipadang ini? Bukankah kau sekarang menjadi kawan selingkungannya di istana?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu persoalan seluruhnya. Tetapi sebagian aku akan dapat menceriterakan sebabnya.”
“Biarlah yang sebagian itu aku dengar dahulu,” sahut Mahisa Agni.
Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Nasib anak itu tidak terlalu baik.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia memotong, “Bagaimanakah dengan Ken Dedes? Bukankah Ia sehat walafiat?”
Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Gadis itu sehat-sehat saja.”
“Dimanakah gadis itu sekarang?”
“Di istana Tumapel.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa di istana. Apakah Kuda Sempana tinggal di istana pula?”
“Itulah sebagian yang aku ketahui. Tentang gadis itu dan tentang Kuda Sempana.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Baginya terdengar aneh, bahwa Ken Dedes berada di istana Tumapel, “Ah,“ desahnya di dalam hati, “ternyata Tunggul Ametung benar-benar berusaha melindungi Kuda Sempana. Disembunyikannya Ken Dedes itu di istana sampai mereka melahirkan anaknya yang pertama, untuk menghindarkan Kuda Sempana dari setiap kemungkinan yang berbahaya. Sesudah itu, maka semuanya akan menjadi baik bagi Kuda Sempana. Tetapi kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran disini dalam keadaan yang kusut?”
Pertanyaan itu ternyata semakin menyentuh hatinya, sehingga sekali lagi ia berkata, “Katakanlah Ken Arok. Katakanlah apa yang kau ketahui itu tentang Kuda Sempana dan Ken Dedes.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tampak keningnya berkerut-kerut. Terbayanglah di wajahnya perasaannya yang gelisah. Menurut pengetahuannya. Mahisa Agni adalah kakak Ken Dedes, sehingga ia menjadi ragu-ragu sejenak untuk mengatakan apa yang telah terjadi atas adiknya itu. Tetapi karena Mahisa Agni selalu mendesaknya, maka terloncat pulalah ceritera tentang Ken Dedes di Tumapel. Ceritera sejak Ken Dedes sampai di istana, sejak mereka berdua, Ken Arok dan Witantra dipanggil menghadap Akuwu, tentang Witantra yang harus masuk ke dalam arena atas nama Tunggul Ametung. Namun dengan kecewa Ken Arok itu kemudian berkata, “Tetapi sayang. Ternyata Tunggul Ametung itu mempunyai pamrih sendiri. Adikmu diambilnya.”
Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Mahisa Agni. Ia bersyukur bahwa Ken Dedes telah terlepas dari tangan kuda Sempana. Namun ia tidak tahu, perasaan apa yang berdentang-dentang di dalam dadanya itu, setelah ia mendengar bahwa Ken Dedes kini berada di istana bukan sebagai isteri Kuda Sempana, namun karena gadis itu dikehendaki oleh Tunggul Ametung sendiri.
Dalam pada itu, terdengar Ken Arok berkata, “Untunglah bahwa Akuwu mengambilnya sebagai permaisurinya. Bukan sekedar sebagai seorang selir.”
Mahisa Agni terperanjat juga mendengar keterangan itu. Ken Dedes, seorang gadis padesan, telah diangkat menjadi permaisuri seorang Akuwu yang besar dari Tumapel. Tetapi masih saja bergelora perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Ia bergembira bahwa Ken Dedes menemukan tempat yang baik, namun ada juga kekecewaan yang dalam menusuk jantungnya. ia sebenarnya mengharap Ken Dedes kembali ke Panawijen.
“Tetapi ia akan menjumpai kepahitan di Panawijen,” gumamnya di dalam hati, “ayahnya telah pergi, dan orang yang dicintainya telah pergi pula untuk selama-lamanya.”
Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Direnunginya tanah yang kering di bawah kakinya yang bersilang.
Dikais-kaisnya tanah itu dengan jari-jarinya seolah-olah ia ingin mengetahui, apakah tanah itu cukup subur untuk daerah pertanian. Namun hatinya bergumul dalam keadaan yang tidak menentu. Kebanggaan, kekecewaan harapan dan putus asa, bergulat menjadi satu.
Mahisa Agni itu mengangkat. wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok bertanya kepadanya, “Bagaimana Agni. Apakah kau menjadi berbangga hati bahwa adikmu kini menjadi seorang permaisuri Akuwu Tumapel?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Adalah kanugrahan yang tiada taranya bagi seorang gadis dari padepokan Panawijen. Adalah suatu kebanggaan buat keluarganya. Pahit getir yang dialami oleh orang tuanya, keprihatinan dan ketekunan pengabdiannya kepada sesama dan kebaktiannya yang tulus kepada Yang Maha Agung telah menempatkan puteri tunggal itu dalam kedudukan yang baik. Tetapi jauh di sudut hatinya, Mahisa Agni masih mendengar jerit yang pedih dari perasaannya sendiri. Meskipun demikian perlahan-lahan ia menjawab, “Aku berbangga Ken Arok.”
“Ya,“ sahut Ken Arok, “adalah wajar bahwa kau dan keluargamu akan berbangga hati.”
Tetapi wajah Mahisa Agni sama sekali tidak membayangkan kebanggaan yang dikatakannya itu. Apalagi ketika diingatnya sumpah kutukan Empu Purwa, maka dadanya pun berdesir. Demikian marahnya orang tua itu, sehingga disumpahnya mereka yang telah ikut serta mengambil anaknya. Disumpahnya mereka bahwa mereka akan terbunuh dengan keris.”
Wajah Mahisa Agni menjadi semakin suram. Seandainya Ken Dedes dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang Permaisuri, tetapi seandainya sumpah Empu Purwa itu pun akan berlaku, maka akan putus pulalah kebahagiaan itu. Tunggul Ametung adalah salah seorang dari mereka yang turut mengambil Ken Dedes, sehingga akan matilah ia ditusuk dengan keris.
Tetapi kecemasan dan kegelisahan itu disimpannya di dalam hatinya, sehingga hati itu telah dipenuhi oleh berbagai perasaan yang tak dapat dilahirkannya. Perasaan yang mencengkamnya tentang gadis puteri gurunya, tentang kekhawatirannya atas nasib gadis itu kemudian, dan atas banyak hal lagi yang tertimbun.
Bahkan yang terucapkan dari mulutnya adalah, “Betapa besar terima kasihku kepada kalian. Kepada Witantra dan kepadamu. Betapa kalian telah berusaha menolong adikku itu dari lembah penderitaan di sepanjang hidupnya. Penderitaan yang tidak akan ada habis-habisnya.”
“Tetapi kami tidak berhasil mengembalikannya kepadamu,“ sahut Ken Arok, “kami telah gagal sebagian dari maksud kami memisahkannya dari Kuda Sempana. Karena Tunggul Ametung sendiri ternyata menghendakinya.”
“Mudah-mudahan nasibnya akan menjadi lebih baik,“ gumam Mahisa Agni.
“Mudah-mudahan,“ sahut Ken Arok, “menurut pendengaranku, Tunggul Ametung akan datang kepada ayah gadis itu untuk memintanya.”
Mahisa Agni terkejut. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi suram. Jauh lebih suram dari wajah itu sebelumnya. Dari antara giginya terdengar ia berdesis, kemudian menggelengkan kepala sambil berkata, “Tak ada gunanya.”
Ken Arok mengerutkan dahinya, Kini ialah yang menjadi terkejut mendengar desis Mahisa Agni itu, sehingga ia bertanya, “Kenapa?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sorot matanya jauh menembus ke dalam keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.
“Ayah gadis itu tidak ada lagi di padepokannya.”
“Apakah ia belum kembali?“ bertanya Ken Arok, “pada saat gadis itu diambil oleh Kuda Sempana, ayahnya memang tidak tampak di rumahnya.”
“Sudah. Orang tua itu sudah kembali,” jawab Mahisa Agni, “tetapi setelah ia mendengar bahwa anaknya itu hilang, anak yang dikasihinya melampaui segala isi dunia ini yang lain, maka orang tua itu mengalami kegoncangan perasaan yang tak terkendali.”
“Apakah syarafnya terganggu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Gila?”
“Tidak sejauh itu. Ia adalah seorang pendeta yang taat-taat kepada kuwajibannya,“ berkata Mahisa Agni dalam nada yang rendah. “Hanya karena ketebalan hatinyalah maka orang tua itu tidak menjadi gila. Ia pasti akan dapat menemukan ketenangannya kembali dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Tetapi kejutan pertama dari berita itu telah mendorongnya untuk meninggalkan padepokannya. Ia ingin melupakan segala-galanya. Kepahitan yang paling pahit dalam hidupnya.”
Ken Arok menganggukkan kepalanya, gumamnya, “Kasihan orang tua itu. Untunglah ia dapat menemukan penghibur dalam dirinya sendiri. Kalau tidak, ia pasti tidak akan hanya sekedar menyingkir dari padepokannya. Bukankah ia sekaligus gurumu?”
Mahisa Agni mengangguk. “Kalau orang tua itu marah, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang mengerikan.”
“Pasti tidak akan dilakukan.”
Ken Arok terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Aku mengharap kau akan dapat mewakilinya. Bukankah kau muridnya, tetapi juga puteranya?”
Mahisa Agni menggeleng.
“Bukankah gadis itu adikmu? Atau saudara sepupu?”
Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga Ken Arok mendesaknya, “Bagaimana? Kau akan dapat mewakili ayahmu. Menerima Akuwu itu sebagai wakil orang tuanya, merestui perkawinan adikmu.”
“Jangan. Jangan,“ sahut Mahisa Agni serta merta. Tetapi kemudian ia terdiam kembali. Tarasa luka di hatinya yang perlahan-lahan hampir dapat dilupakan itu, seakan-akan kembali menggores tajam. Terasa hatinya menjadi pedih. Ia harus melihat kenyataan itu. Namun dengan sekuat tenaganya ia mencoba menghilangkan segala macam kesan yang dapat membayangkan perasaannya yang sedang bergolak.
Ken Arok masih memandangi wajah anak muda yang muram itu. Namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang bergolak di dalam dadanya. Ia hanya dapat menyangka betapa sedihnya anak muda yang merasa kehilangan adiknya itu. Meskipun seandainya bukan adik sekandung, tetapi adik sepupu.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali, tidak mau menjelaskan hubungan apakah yang ada antara dirinya dan Ken Dedes. Ketika Ken Arok mendesaknya sekali lagi maka jawabnya, “Tidak. Jangan datang kepadaku. Biarlah Ken Dedes menentukan kehendaknya sendiri. Kalau ia bersedia biarlah perkawinan itu berlangsung, tetapi kalau tidak, jangan dipaksa.”
Ken Arok menciutkan keningnya. Katanya, “Ya. Terserahlah kepadamu. Tetapi aku sendiri kecewa melihat sikap Akuwu itu.”
Daftar seri | Sebelumnya | SesudahnyaSeri 14
MAHISA AGNI memandangi wajah Ken Arok tajam-tajam. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun dari wajah itu. Ken Arok itu ternyata berkata demikian saja tanpa ungkapan yang mendalam, sehingga Mahisa Agni pun tidak dapat menangkap perasaan lain daripada kekecewaan itu.
“Kenapa kau kecewa,“ bertanya Mahisa Agni.
“Aku ingin mengembalikan kepadamu untuk menebus kebodohanku. Aku sama sekali tidak mencoba menghalangi perbuatan Tunggul Ametung dan Kuda Sempana, pada saat mereka mengambil gadis itu. Ternyata sikap Witantra jauh lebih baik dari padaku. Tetapi kini ternyata Witantra menyetujui sikap Tunggul Ametung, meskipun alasannya dapat aku mengerti. Maksudnya adalah, untuk mengurangi penderitaan yang menimpa perasaan gadis itu.”
Mahisa Agni kembali memandang ke kejauhan, menembus keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.
Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kuda Sempana itu tiba-tiba berkeliaran disini?”
“Mungkin ia menjadi kecewa,“ sahut Ken Arok.
“Aku sudah menyangka, tetapi sampai sejauh itu? Bukankah dengan demikian ia telah melakukan pemberontakan terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”
Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Ya. Anak itu benar-benar telah memberontak. Tetapi kemungkinan itu memang akan terjadi. Hukuman atasnya memang terlalu berat baginya.
“Hukuman atas kesalahannya mengambil Ken Dedes?”
Ken Arok mengangguk.
“Aneh. Bukankah Akuwu sendiri ikut serta?”
“Itulah keanehan yang dapat saja terjadi. Akuwu sendiri turut melakukan kesalahan itu. Tetapi ternyata ia ingin memperbaiki kesalahannya dengan mengorbankan Kuda Sempana. Kau tahu, apakah hukuman itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu,“ sahut Agni.
“Hukuman itu benar-benar aneh. Hukuman itu semula sama sekali bukan atas kehendak Tunggul Ametung sendiri. Tetapi atas kehendak gadis yang dilarikannya itu,“ berkata Ken Arok seterusnya.
Mendengar kata itu Mahisa Agni terperanjat. Tanpa disengaja ditatapnya wajah ketiga kawannya yang mendengarkan pembicaraannya dengan keheran-heranan.
Ken Arok melihat keheranan yang membayang di wajah Mahisa Agni. Maka katanya, “Ya. Demikianlah. Hukuman itu sebenarnya datang dari adikmu itu.”
“Bagaimana hal itu dapat terjadi?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia melihat kudanya yang makan dengan asyiknya, dan sekali ditatapnya wajah ketiga kawan Mahisa Agni.
Baru sesaat kemudian katanya, “Ternyata adikmu menerima lamaran Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka dan bahkan ia berdoa mudah-mudahan dengan demikian Ken Dedes, merasa terhibur atas hilangnya dua orang yang dicintainya sekaligus. Ayahnya dan Wiraprana. Namun di dalam sudut hatinya yang paling dalam luka hatinya serasa seolah-olah meneteskan darah.
Meskipun demikian ia bertanya, “Bagaimana mungkin gadis itu menerima lamaran Tunggul Ametung. Ia mencintai Wiraprana lebih dari semua orang selain ayahnya. Apakah gadis itu sudah mendengar kabar tentang bakal suaminya.”
Ken Arok mengangguk. Katanya, “Emban tua, pemomongnya telah menyampaikan kabar itu. Sebelumnya kami pun telah mengatakannya, tetapi ia lebih percaya kepada embannya.”
Mahisa Agni berdesir mendengar Ken Arok menyebut pemomong Ken Dedes. Tak seorang pun tahu bahwa orang itu adalah ibunya. Ken Dedes juga tidak.
“Tetapi bagaimana Ken Dedes dapat menghukum kuda Sempana itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian.
“Mudah sekali baginya,” sahut Ken Arok, “Tunggul Ametung itu akhirnya tergila-gila kepadanya. Apa yang diucapkannya akan terjadi.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Desir di dadanya menjadi semakin tajam. Ada semacam pergolakan yang terjadi dalam dirinya. Meskipun ia merasa bahwa Ken Dedes akan menemukan sekedar penghibur atas segala dukanya, tetapi apakah ia dapat mendengar bahwa seseorang tergila-gila kepadanya?”
Tetapi Mahisa Agni tidak berkata sepatah katapun. Dan Ken Arok lah yang berkata pula, “Dan salah satu dari permintaan Ken Dedes ternyata adalah pelepasan dendamnya kepada Kuda Sempana itu.”
Mahisa Agni masih diam mematung. Ia mendengar Ken Arok meneruskan, “Nah, apa yang diminta oleh ken Dedes itu atas Kuda Sempana? Aneh sekali Adikmu itu minta Kuda Sempana mendapat hukuman atas kesalahannya apabila Akuwu benar-benar menghendakinya. Hukuman itu adalah, Kuda Sempana harus menjadi pelayan yang paling rendah baginya. Membersihkan lantai, mencuci pakaian dan waktu selebihnya, duduk di bawah tangga di serambi di belakang biliknya.”
Mahisa Agni terperanjat mendengarnya. Benar-benar terperanjat. Apalagi ketika Ken Arok meneruskan, “Agaknya Ken Dedes itu ingin membalas sakit hatinya dengan penghinaan atas Kuda Sempana. Hina yang sehina-hinanya.”
“Ken Arok,“ potong Mahisa Agni, “apakah benar Ken Dedes menghendakinya?”
Ken Arok mengangguk, “Ya, sebenarnyalah bahwa Ken Dedes menghendakinya. Dan Ken Dedes mempunyai cukup pengaruh atas Tunggul Ametung. Ketahuilah, bahwa Tunggul Ametung yang garang itu seakan-akan benar-benar telah bersimpuh di bawah kaki adikmu.”
Darah Mahisa Agni tersirap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ken Dedes dapat berlaku sekasar itu. Dendam yang betapapun dalamnya, namun penghinaan itu telah terlampau jauh.
Dan didengarnya kemudian Ken Arok meneruskan, “Itulah keadaan adikmu dan Kuda Sempana yang aku dengar. Itu pulalah sebabnya, kenapa Kuda Sempana kemudian melarikan diri dari istana yang menjadi tempat yang sehinanya baginya. Sebagai seseorang yang masih mempunyai harga diri, maka sudah tentu ia tidak menelan penghinaan itu begitu saja.
Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Terdengar ia berdesis. Dadanya semakin terasa menghentak-hentak. Ia sama sekali tidak dapat mengerti, perubahan-bahan yang tajam telah terjadi atas Ken Dedes itu. Ledakan-akan di dalam jantung gadis itu telah menyeretnya dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni.
“Ken Arok,“ terdengar suara Mahisa Agni dengan nada yang rendah, “apakah aku dapat minta tolong kepadamu?”
Ken Arok menarik nafasnya. Katanya bertanya, “Apakah yang harus aku lakukan?”
“Sampaikan pesanku kepada gadis itu,“ berkata Mahisa Agni yang pertama kali adalah kabar keselamatan.”
Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat Ken Arok menggeleng, “Aku kini jarang sekali masuk ke istana selain di tempat-tempat tugasku. Hampir aku tak pernah melihat adikmu itu setelah aku ikut Akuwu mengambilnya dari Panawijen. Sampai kini aku belum begitu mengenal wajahnya. Apalagi kini Ken Dedes telah benar-benar sebagai seorang permaisuri meskipun ketetapannya dan upacaranya masih akan menyusul, sehingga aku tak akan sempat menemuinya.”
Kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya terbayang di dalam kepalanya, Ken Dedes kini telah menjadi seorang permaisuri. Menjadi seorang yang berada dalam lingkungan kebesaran dan kebahagiaan. Namun ia masih tetap tidak dapat mengerti, bahwa di dalam diri gadis itu timbul perubahan sikap dan watak yang terlampau tajam. “Mungkin keparahan hati yang tak tertanggungkan telah mendorongnya ke dalam suatu sikap yang berlebih-lebihan sebagai imbangan,“ gumamnya di dalam hati.
“Kalau begitu,” sambung Mahisa Agni kemudian, “apakah kau pernah bertemu dengan emban pemomongnya itu?”
Ken Arok menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Aku sering bertemu Pemomong Ken Dedes itu tinggal di rumah Witantra beberapa hari sebelum diijinkan menemui momongannya.”
“Apakah orang tua itu sekarang masih berada di rumah Witantra?”
“Tidak,” jawab Ken Arok, “perempuan tua itu kini telah berada di istana atas permintaan Ken Dedes.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau demikian, aku minta tolong kepadamu. Sampaikanlah kepada perempuan tua itu.”
“Pesan?”
“Ya. Pesan untuknya dan untuk Ken Dedes.”
“Akan aku coba.”
“Terima kasih,“ Mahisa Agni berhenti sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan pesannya kepada Ken Arok. Ia belum tahu pasti, bagaimanakah sikap Ken Dedes kini terhadapnya. Meskipun demikian akhirnya ia berkata, “Ken Arok. Kalau kau bertemu dengan perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, sampaikan baktiku kepadanya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah seorang pemomong, namun agaknya Mahisa Agni memang suka merendahkan dirinya, sehingga ia menyampaikan bakti kepada seorang emban. Tetapi Ken Arok tidak berkeberatan apa pun terhadap sikap itu, sehingga sahutnya, “Baik. Aku sampaikan baktimu apabila aku bertemu nanti di istana.”
“Terima kasih,“ Mahisa Agni meneruskan, “kemudian kalau emban itu dapat menyampaikan kepada Ken Dedes, yang sekarang sudah berada di istana itu, kecuali kabar keselamatan adalah pesan, supaya gadis itu tidak melupakan dirinya, asalnya dan segenap keadaan masa lampaunya sebagai imbangan berpikir untuk menentukan hari-hari mendatangnya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya, katanya, “Kenapa pesanmu berbunyi demikian?”
“Tidak apa-apa,” sahut Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, supaya ia tidak tenggelam dalam dunia yang asing baginya, sehingga ia kehilangan dasar tempat berpijak. Ia adalah seorang gadis padesan yang biasa hidup di padesan. Ia adalah seorang puteri dari seorang pendeta yang hidup prasaja dan penuh ketekunan dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Ia kemudian adalah seorang gadis yang mengalami kepahitan yang menghunjam terlalu dalam di hatinya. Nah, semua peristiwa-peristiwa itu akan dapat menggoncangkan keseimbangan antara perasaan dan pikirannya. Yang kini dapat kita lihat adalah sikapnya terhadap Kuda Sempana. Bagaimana pun juga dendam tersimpan di dadanya, namun dengan penghinaan yang berlebih-lebihan itu, Ken Dedes telah melakukan kesalahan menurut penilaianku.”
Ken Arok menganggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pesan itu. Dan ia dapat membenarkannya. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana, namun Ken Arok heran juga melihat hukuman yang dijatuhkan atas anak muda itu. Lebih baik Kuda Sempana digantung di alun-alun, atau diranjap dengan panah daripada dihinakan sedemikian rendah. Karena itu, adalah sudah sewajarnya apabila anak muda itu meninggalkan istana.
Tetapi Tunggul Ametung tidak dapat mempertimbangkannya lagi. Ia sedang dilanda oleh perasaan yang meluap-luap. Apa pun yang dikehendaki oleh Ken Dedes, selagi Tunggul Ametung dapat memberikannya, pasti akan dipenuhinya. Apalagi hanya seorang Kuda Sempana, bahkan Tumapel sekalipun sudah diserahkannya.
Dada Ken Arok berdesir. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada Mahisa Agni, “Agni keberuntungan adikmu tidak saja sejauh itu. Tetapi lebih daripada itu. Menurut pendengaranku, di istana telah menjalar kabar, bahwa bukan saja Kuda Sempana telah dikorbankan, tetapi kepada gadis itu telah diserahkan hak atas pemerintahan Tumapel.”
Alangkah terkejutnya Mahisa Agni mendengar kabar itu, sehingga ia beringsut maju. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Benarkah kabar yang kau dengar itu?”
“Aku benar-benar mendengar kabar itu,“ sahut Ken Arok, “tetapi kebenaran atas kabar itulah yang aku tidak tahu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, kalau kabar itu benar-benar terjadi, maka alangkah besar karunia atas gadis itu. Karunia yang diterimanya lewat kepahitan dan kedukaan.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun luka di hatinya serasa menjadi semakin dalam.
Dalam nada yang rendah ia berkata, “Berbahagialah anak itu. Mudah-mudahan ia menemukan masa depan yang baik. Kalau benar kabar yang kau dengar Ken Arok, bukankah berarti bahwa Ken Dedes akan mendapat kesempatan menurunkan Akuwu-Akuwu berikutnya?”
Ken Arok mengangguk, “Ya. Itulah adalah suatu karunia yang tiada taranya.”
Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat. Kembali bergelut di dalam dada Mahisa Agni berbagai perasaan. Bangga, gembira, sedih, dan kecewa. Ia bersyukur kepada Yang Maha Agung atas karunia itu, namun ia menjadi cemas, apakah kebahagiaan itu akan dapat kekal sepanjang umur Ken Dedes, di samping perasaannya sendiri yang masih saja menyentuh-nyentuh hati. Perasaan seorang lelaki terhadap seorang perempuan.
Namun baik Mahisa Agni maupun Ken Arok tidak mengetahui, apakah yang telah mendorong Tunggul Ametung terbenam dalam keadaannya itu. Tunggul Ametung telah disilaukan oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Padepokan Panawijen itu. Cahaya yang hanya dapat dilihatnya sendiri.
Akuwu itu kemudian ternyata dengan diam-diam menemui seorang ahli nujum yang meramalkan, bahwa seorang gadis yang bercahaya dari dalam tubuhnya itu, kelak akan dapat menurunkan bukan saja Akuwu-Akuwu seperti Tunggul Ametung, tetapi gadis itu akan dapat menurunkan Raja-raja yang akan berkuasa melampaui kekuasaan Akuwu, dan bahkan akan melampaui kekuasaan Raja di Kediri.
Ramalan itulah yang mendorong Tunggul Ametung untuk berbuat seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap patah kata yang diucapkan oleh Ken Dedes pasti akan berlaku baginya, melampaui semua Undang-undang dan peraturan yang telah ada.
Kembali untuk sejenak mereka terbenam dalam kediaman. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh mereka yang basah karena keringat. Daun-daun perdu berdesir seperti sedang melagukan lagu yang rawan.
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Di dalam dadanya bergetar berbagai persoalan yang saling membelit. Namun kemudian ia tidak sampai hati untuk berpesan kepada Ken Arok, bahwa Empu Purwa telah menghilang dari Panawijen. Ada banyak pertimbangan yang mengurungkan niatnya untuk mengucapkan pesan itu. Ia tidak sampai hati untuk membuat luka di hati ken Dedes menjadi semakin parah, dan ia tidak sampai hati pula untuk mengganggu ketentraman dan kebahagiaan yang sedang berada di ambang pintu hati gadis itu.
Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketiga Ken Arok itu berdiri. Katanya, “Aku tidak akan terlalu lama tinggal disini.”
“Apakah kau akan kembali ke Tumapel?”
Ken Arok mengangguk, “Ya,“ jawabnya perkerjaanku sebagian sudah selesai. Aku sudah tahu, siapakah yang menamakan dirinya hantu Karautan itu kini.”
“Hanya cukup mengetahui saja.”
Ken Arok tersenyum, “Tentu tidak,” katanya, “bukankah kau juga tidak akan membiarkannya.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula ia pun kemudian berdiri dan berkata, “Tetapi Akuwu Tumapel tidak akan membiarkan pemberontakan ini meluas. Hantu Karautan itu ternyata bukan saja seorang hantu, tetapi ia adalah seorang pemberontak.”
“Salahnya sendiri. Nafsunya terhadap gadis itu terlampau berlebih-lebihan. Sehingga akhirnya ia sendiri terjerumus dalam kesulitan karenanya.”
“Tetapi akibatnya tidak hanya melihat diri Kuda Sempana. Tetapi padang ini akan menjadi daerah yang menakutkan kembali.”
“Mudah-mudahan tidak berlangsung terlalu lama. Aku akan mengadakan perondaan di daerah ini apabila Akuwu mengijinkan beberapa orang prajurit. Mungkin Witantra akan menaruh perhatian pula atas hantu Karautan ini.”
“Mudah-mudahan,“ desis Mahisa Agni. Namun angan-angannya telah menjorok jauh meliputi rencana pembuatan bendungan ini. Kuda Sempana adalah seorang yang perkasa. Ia tidak akan dapat menjadi sedemikian kuatnya dengan tiba-tiba. Ia pasti mempunyai seorang guru, dan bahkan saudara seperguruan yang telah pernah dikenalnya dalam perjalanannya dari Lereng Gunung Semeru. Apakah mereka akan membiarkan kuda Sempana hidup dalam keadaannya itu, meskipun gurunya adalah seorang guru upahan? Apakah Kuda Sempana tidak dapat menjanjikan sesuatu kepada guru serta saudara-saudara seperguruannya untuk bantuan mereka kepadanya. Yang pertama-tama akan mengalami kesulitan adalah dirinya dan rencana bendungannya. Kemudian apabila Kuda Sempana berhasil mengumpulkan murid-murid dari saudara-saudara seperguruannya, yang memakai cara yang sama dengan gurunya sendiri dalam mendapatkan ilmunya, maka Kuda Sempana tidak dapat diabaikan dalam-dalam tata pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.
Mahisa Agni itu pun kemudian mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Agni, aku akan kembali ke Tumapel. Sudah tentu aku akan menyampaikan apa yang kau ketahui tentang hantu Karautan ini kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku kemudian akan menjalankan perintahnya. Apakah aku akan mendapat perintah untuk menangkapnya, atau aku hanya sekedar menjadi penunjuk jalan bagi prajuritnya yang akan menangkap Kuda Sempana itu.”
“Bukankah kau berkepentingan langsung Ken Arok? Sebab nama hantu Karautan itu pasti akan menyangkut namamu.”
“Tak seorang pun yang tahu bahwa hantu Karautan itu pernah berganti.”
Mahisa Agni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, meskipun senyumnya muram.
“Sudahlah,“ berkata Ken Arok, “pergilah ke Tumapel kalau kau ingin bertemu dengan adikmu. Mungkin Akuwu tidak akan berkeberatan.”
“Terima kasih,“ sahut Mahisa Agni. Namun hatinya berkata, “Tak akan ada artinya. Pertemuan yang demikian itu hanya akan menambah parah perasaanku.”
Ken Arok itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan sambil menyentuh perut kudanya dengan tumitnya ia berkata, “Sampai bertemu Agni.“ Kepada ketiga kawan Mahisa Agni Ken Arok berkata sambil tertawa, “Jangan takut terhadap hantu Karautan. Hantu itu sekarang sudah jinak.”
Ketiga kawan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Terdengar Sinung Sari berkata, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”
Ken Arok tertawa. Sementara itu kudanya sudah mulai bergerak maju menusuk keremangan malam. Mahisa Agni masih melihat anak muda yang gagah itu melambaikan tangannya, kemudian kudanya meluncur semakin cepat. Debu yang putih menghambur di belakang derap kaki kuda itu bergulung-gulung semakin lama semakin jauh.
Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Baru ketika kuda itu telah semakin kecil dan semakin kabur, ia berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Katanya, “Itulah hantu Karautan yang sebenarnya. Tetapi ia tidak senang apabila hal itu diketahui oleh orang lain. Karena kalian telah terlanjur mengetahuinya, maka aku minta apa yang kalian ketahui itu harus kalian rahasiakan.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk. Yang terdengar adalah desis Patalan, “Kalau demikian, benar kata orang, bahwa hantu Karautan sebenarnya adalah hantu yang tampan.”
“Tidak saja tampan, tetapi hantu itu sangat sakti pula. Namun kini hantu itu sudah tidak ada lagi. Apakah kau percaya kepadaku? Hantu itu kini benar-benar sudah menjadi seorang Pelayan Dalam di istana Tumapel.”
Ketiga kawan-kawannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka, siapa pun yang menjadi hantu, namun hati mereka tidak akan dapat tenteram. Meskipun hantu itu bernama Kuda Sempana.
Betapa sempitnya pengetahuan mereka, namun mereka tahu pula, bahwa Kuda Sempana menyimpan dendam kepada Mahisa Agni, kepada Ken Dedes dan dendam itu akan dapat melimpah kepada seluruh penduduk Panawijen. Kuda Sempana itu kelak akan dapat merupakan bahaya bagi mereka, bagi orang-orang Panawijen yang sedang membuat bendungan.
Kalau Kuda Sempana itu datang seorang diri maka soalnya tidak akan terlalu sulit. Ternyata sampai saat ini Mahisa Agni masih dapat mengatasinya. Tetapi bagaimana kalau Kuda Sempana itu kemudian mendapat kawan dalam penumpahan dendamnya? Dalam keadaannya maka Kuda Sempana tidak akan memilih kawan. Mungkin para penjahat, para perompak dan para penyamun. Mungkin orang-orang jahat yang sedang menjadi buruan. Dan hati mereka, kawan-kawan Mahisa Agni itu, pasti akan menjadi semakin kecut apabila mereka mengetahui, apa yang sedang diperhitungkan oleh Mahisa Agni, yaitu kawan-kawan seperguruan Kuda Sempana beserta murid-muridnya dan bahkan gurunya pula.
Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada ketiga kawan-kawannya itu. Ia menyadari akibatnya apabila kawan-kawannya mengetahui tentang Kuda Sempana beserta perguruannya.
Bahkan kemudan ia berkata, “Nah. Sekarang kalian telah melihat sendiri, bahwa yang menamakan diri hantu Karautan itu tidak lebih dari Kuda Sempana. Karena itu jangan takut. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya apabila ia mencoba mengganggu pekerjaan kita.”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk. Tetapi tampaklah wajahnya tidak meyakinkan. Sehingga Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana? Apakah masih ada yang kalian cemaskan?”
Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Baru sejenak kemudian Sinung Sari berkata, “Bagaimana dengan Kuda Sempana itu?”
“Ia tidak berbahaya,” sahut Agni.
“Kalau ia seorang diri,“ sambung Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Aku juga tidak seorang diri. Bukankah aku akan melakukan pekerjaan yang berat itu bersama-sama seluruh rakyat Panawijen? Seandainya Kuda Sempana akan datang kembali bersama kawannya, maka aku pun akan siap menyambutnya bersama-sama kawan-kawanku. Anak-anak muda Panawijen yang lain, diantaranya kalian bertiga.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu terdiam. Mereka sebenarnya masih ingin menjelaskan bahwa mungkin Kuda Sempana mendapat kawan-kawan yang berbahaya. Sedang anak-anak muda Panawijen bukanlah orang-orang yang siap bertempur seperti Mahisa Agni. Tetapi mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka malu, bahwa mereka sama sekali tidak mampu berbuat apapun dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Dalam pada itu, maka merayaplah perasaan yang lain di dalam diri ketiga anak-anak muda itu. Tumbuhlah pertanyaan di dalam diri mereka sendiri, kenapa mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu? Apakah mereka masih juga akan tetap berdiam diri seandainya kelak datang Kuda Sempana bersama para penyamun, penjahat dan perampok mencelakai Mahisa Agni? Apakah mereka akan tetap berdiam diri sebagai penonton yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali?”
Mereka berempat kini duduk berdiam diri. Masing-masing terbenam dalam angan-angan yang berbeda-beda. Mahisa Agni dengan gambaran-gambaran tentang bendungan, Kuda Sempana, saudara-saudara seperguruannya, sedang ketiga kawannya sedang mencoba melihat ke diri mereka masing-masing. Namun terasa bahwa mereka kini menjadi sangat malu kepada diri mereka sendiri, kepada Mahisa Agni dan kepada Ken Arok. Juga kepada Kuda Sempana.
Tiba-tiba menyalalah di dalam hati mereka, suatu tekad yang belum pernah dimilikinya sejak. mereka menyadari diri mereka, sejak mereka masih kanak-kanak. “Kita harus berbuat sesuatu apabila bahaya datang menimpa kita kembali. Kita tidak boleh menyerahkan diri kita kepada orang lain, kepada pertolongan yang belum pasti akan datang pada waktunya. Kita tidak boleh menggantungkan diri kepada kekuatan diluar diri kita sendiri. Diri pribadi kita, dan diri kita dalam satu kesatuan. Rakyat Panawijen.
Angin malam masih berhembus mengusap tubuh mereka. Semakin lama semakin terasa, dingin malam menyentuh-nyentuh. Embun yang sejuk turun perlahan, hinggap di dedaunan dan pada batang-batang rumput kering. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih melas asih, seperti ratapan biyung yang kehilangan anaknya.
Bulu kuduk kawan-kawan Mahisa Agni meremang. Bunyi burung kedasih mempunyai kesan yang khusus. Terasa malam menjadi semakin muram.
Ketika mereka menyadari diri kembali, dan mereka melihat Mahisa Agni duduk merenungi bara api yang sudah semakin muram pula, sekali lagi perasaan malu hinggap di sudut hati mereka. Bunyi burung kedasih adalah bunyi yang dikenalnya sejak kecil. Dan burung itu tidak akan dapat mengucapkan bunyi yang lain dari pada bunyi itu. Bahkan jantung mereka pasti akan berhenti berdegup apabila mereka mengetahui, bahwa seekor burung kedasih bersiul dengan nada suara burung kutilang.
Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara membelah sepi malam, “Aku sudah mengantuk.”
Ketiga kawannya menarik nafas, “Hem,“ Patalan mengeluh, “kau mengejutkan kami Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ah, kalian membuat bayangan-bayangan yang aneh di dalam hati kalian, sehingga kalian menjadi sangat mudah terkejut.”
Kawan-kawan-nya tidak menjawab. Mahisa Agni telah menebak dengan tepat.
“Nah, sekarang marilah kita tidur.”
“Bersama-sama?” bertanya Jinan.
“Ya. Kenapa?”
“Bagaimana kalau ada bahaya yang mendatang selagi kita tidur?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bagus, marilah kita bergantian. Aku dan dua diantara kalian akan tidur dahulu. Siapa yang pertama bangun?”
“Berdua-dua,“ sahut Sinung Sari, “supaya ada kawan bercakap-cakap.”
“Baik,“ jawab Agni, “siapa yang tidur kemudian atau dahulu bersama aku.”
“Aku,“ jawab ketiganya hampir bersamaan.
Mahisa Agni menarik nafas panjang sekali. Ternyata mereka masih saja dikuasai oleh kecemasan. Karena itu maka katanya, “Jadi apakah kalian bertiga berjaga bersama aku dahulu, kemudian kalian bertiga berjaga lagi sesudah itu bersama aku pula? Sehingga dengan demikian kita semuanya tidak jadi beristirahat bergantian?”
Ketiga kawan Mahisa Agni menundukkan kepalanya, mereka masing-masing ingin mendapat giliran bersama Mahisa Agni. Namun mereka tertawa juga di dalam hati mendengar kata-kata Mahisa Agni itu.
Tetapi tiba-tiba mereka mendengar Mahisa Agni itu berkata, “Tidak perlu berjaga-jaga bergantian.”
“Kenapa?” bertanya Sinung Sari.
“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan melihat matahari terbit.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi yang menakutkan.
“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang mengerikan.”
Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah, “Ya, kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusur sungai ini.”
Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir, “Kita meneruskan perjalanan,“ bertanya Sinung Sari.
“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,“ bertanya Mahisa Agni kembali.
Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya dipadang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum memiliki keberanian untuk itu.
Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan tenggelam dalam kegelapan.”
Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni, tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian mereka.
Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang. Cahaya yang kemerah-merahan di Timur, semakin lama menjadi sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai menampakkan dirinya di punggung bukit.
“Kalian lihat matahari,“ bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerah-merahan tercurah ke wajah-wajah mereka.
“Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin makan atau minum lebih dahulu.”
Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan makanan yang mereka bawa ke atas api itu.
Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan beberapa macam barang yang lain.
Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen, maka hati mereka menjadi besar kembali.
Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan bahan-bahan yang melintang bujur dihadapan mereka, dibeliti oleh tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.
“Tebing ini semakin tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
“Ya,“ sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”
“Belum tentu,“ jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan menemukan dasar sungai itu naik pula.”
Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus.
Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk membuat bendungan.
Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya. Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni.
Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai menjadi semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keragu-raguan.
Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh. Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni.
Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik mengalir di antara batu-batu yang berserakan.
Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta merta ia berkata kepada kawannya, “Kau lihat, disini batu berserakan melimpah-limpah.
Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing disini terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi disini batu terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar kepala kucing.
“Tetapi tebing terlampau tinggi,“ gumam Mahisa Agni.
Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi dan curam.”
“Marilah kita berjalan terus. Mudahan batu-batu itu akan terdapat di sepanjang sungai ini.”
“Apakah kita akan berjalan lagi,“ sela Jinan.
“Ya,“ Mahisa Agni mengangguk.
Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi dipadang ini.”
“Tidak,“ jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita ketemukan kita segera kembali.”
“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari seperti kita datang.”
“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu lagi melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat meneruskan perjalanan.”
“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.
“Ya,“ sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita akan lelah sekali.”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi. Meskipun perjalanan ini sama sekali, tak berarti dibandingkan dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya, maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya, namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya benar-benar telah kelelahan.
Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata, “Kita mencoba sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas ini sungai menjadi semakin tinggi.”
Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang membantah.
“Apakah kita akan beristirahat dulu?”
Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada kebimbangan, kecemasan dan hampir keputus-asaan. Kalau mereka kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan bermalam dua malam lagi dipadang rumput ini sebelum mereka sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah.
Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan tempat itu, kita akan beristirahat.”
Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuang-buang waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita menemukan tempat itu.”
“Kita tidak akan berhasil,“ potong Patalan, “bukankah tempat ini menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan. Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat ini.”
“Tidak,“ bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Disini kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat berunjung-berunjung bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang dapat kita lakukan di bekas bendungan itu. Kita harus membuat brunjung, kita isi dengan sampah dan dedaunan diantara batu-batu yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air. Berapa banyak daunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali itu pula kita harus menambahnya.”
Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka benar-benar telah kehilangan gairah.
“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?“ bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah persawahan yang baru?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni kemudian berkata, “Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kami ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa, bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka aku persilahkan kalian berjalan kembali. Aku akan berjalan kembali. Aku akan berjalan terus.
Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak akan kembali.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak akan memilih,“ gumam Mahisa Agni di dalam hatinya, Ia tahu benar bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh perjalanan kembali tanpa dirinya.
Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa usaha ini akan berhasil?”
“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang besar untuk menemukan tempat yang kita cari,“ sahut Jinan dengan wajah yang pucat.
Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan kembali.”
Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati masing-masing. Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.
Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”
Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di sampingnya.
Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan. Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbung-bumbung mereka telah menjadi kering kembali
“Kita perlu air,“ desis Mahisa Agni.
Ketiga kawannya mengangguk serentak, “Ya,“ sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”
Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras karena batu padas yang basah.
“Tebing ini sangat curam dan licin,“ gumam Mahisa Agni.
Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum merayap ke wajah-wajah itu.
Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat. Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu, lehernya serasa terbakar karena kehausan.
“Hem,“ desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan kembali. Mudahan kita segera mendapatkan tebing yang dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”
Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruk-suruk di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama, kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus.
Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil mengeluh di dalam hati, “Apakah aku akan mati dipadang rumput ini?”
Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya dari pada Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya menjadi kering dan lehernya menjadi lekat.
Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki mereka, terdengar gemericik air yang bening.
“Agni,“ desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus sekali.”
Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya.
Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap turun.
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga kawan-kawannya.
Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga kawannya itu benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi bingung.
“Bagaimana Agni,“ terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah kau dapat mengambil air untuk kita?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “Tebing itu terlalu curam,“ desahnya.
“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan lesunya di atas rerumputan kering.
“Berteduhlah di bawah perdu itu,“ berkata Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.
“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”
“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin rasa haus itu pun akan berkurang.”
“Tidak. Kami perlu air.”
Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan kawan yang baik untuk menghadapi kesulian dan mencoba mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.
Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa akar-akarnya mampu untuk menahan berat tubuhnya.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri sejenak, maka katanya lantang, “Kalian mau menolong aku turun?”
“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.
“Lepaslah kain panjangmu.
Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik, adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus menukar air itu dengan kain kami?”
Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik itu.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh perasaan haus yang mencengkam mereka.
“Aku memang memerlukan kain-kain itu,“ berkata Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku pakai aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya mencapai dasar.
Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing dimalam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita sudah terbelah.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan ingin membakar seluruh bola bumi.
Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka. Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.
“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan disini. Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian bertiga harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar ingin minum.”
Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti. Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang.
Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisa-sisa kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi bertambah-tambah kuatnya.
Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata diantara batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan berat badannya.
Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara batu-batu yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya menelengkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan.
Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momongan-momongan yang hanya dapat mengganggu saja.
Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga kawan-kawannya itu.
Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening jernih. Suaranya gemericik diantara batu-batu yang berserakan besar kecil.
Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah jalur perak yang putih diantara sepasang dinding baja yang tegak sebelah menyebelah.
Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah beku. Jauh dihadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan, dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.
Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya.
Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar, “Agni. Apakah kau menunggu aku mati?”
Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya. Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung. Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.
“Agni,“ teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.
Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia sedang terbangun dari sebuah mimpi.
“Agni, cepat sebelum aku mati.”
Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”
“He,“ sahut Patalan.
“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang sungai ini.”
“Apa,“ teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati karena leherku tersekat kering.”
“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”
“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”
“Apakah kalian tidak melihat,“ sahut Agni seperti orang yang dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.”
Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan mereka menjadi bingung.
“He,“ teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”
“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab kawan-kawannya.
“Dan tidak mendengar?”
“Tidak.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun lamat-lamat.”
“Kau mendengar apa?“ bertanya Sinung Sari.
“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”
“Ya, tapi kemana dan kenapa?”
“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat apakah kita dapat membuat bendungan di atasnya.”
Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh. Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuas-puasnya. Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang diinginkan, akan terpenuhi.
Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang kadang-kadang tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting. Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar, bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.
Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian itulah, yang lajim disebut kekuatan-kekuatan cadangan. Kekuatan-kekuatan yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya akan timbul dalam saat-saat tertentu justru diluar kehendak wajar dan kesadaran.
Demikian mereka bertiga berlari seperti sedang berpacu, berkejar-kejaran. Sedang jauh dibawa dinding tebing sungai itu Mahisa Agni pun berlari jauh lebih kencang dari mereka bertiga, sehingga Mahisa Agni yang pertama-tama sampai ke bawah jeram-jeram itu. Namun Mahisa Agni sama sekali tidak puas melihat jeram-jeram itu dari bawah. Tidak puas mendapat siraman air sejuk dingin yang gemercik jatuh di atas batu-batu. Yang telah memantulkan sinar matahari dalam tujuh warna seperti, warna pelangi. Ingatlah Mahisa Agni saat itu sedang terpancang pada bendungan. Karena itu, maka segera ia berusaha mencari kemungkinan untuk memanjat tebing yang kini tidak securam tebing-tebing di sepanjang yang pernah dilaluinya.
Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu yang serupa atau pada akar-akar perdu.
Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.
Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung Semeru. Merayap masuk ke dalam goa di lereng gunung itu. Meskipun apa yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih rendah dari lereng goa di kaki Gunung itu. Karena itu, meskipun tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawan-kawannya, namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat. Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen. Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni adalah, “Terpujilah Yang Maha Agung. Disini kita akan membangun bendungan itu.”
Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti. Betapa ia merasakan kurnia tiada taranya, karena ia telah dituntun untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun bendungan seperti yang diimpikannya.
“Hem,“ gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Dipadang ini kita akan dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula. Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu. Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain itu dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.
Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin sekali mereka akan minum terlalu banyak.
Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”
Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera mereka berlari semakin kencang.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.
Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik. Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak pernah dapat dicapainya.
“Berhenti,“ teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian. Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun mereka kini terlentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.
“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam air.“ minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan tangan.”
Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka. Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut mereka langsung ke dalam air.
Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju dihadapan mereka, tepat di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam air. Dengan serta merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan wajah-wajah mereka.
Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebar-debar dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air. Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja dihadapan hidung mereka.
“Duduk,“ terdengar perintah Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni berhasil memaksa mereka untuk duduk.
“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati justru ketika kalian menemukan air.“ minta Agni, “ambillah air dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi sedikit.”
Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesa-gesa mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung mereka.
“Cukup,“ bentak Agni sesaat kemudian.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi, “Cukup.”
Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka. Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya, “Apakah artinya ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”
“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.
“Hanya seteguk.”
“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”
“Ya. Kami masih terlalu haus,“ sahut Patalan.
“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”
“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama. Minumlah dan biarlah kami minum.”
“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih juga akan minum, maka aku bunuh kalian disini.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin membunuh mereka?”
Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-teguk. Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan berpaling kepada kawan-kawannya.
Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan dalam hati mereka.
“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi sepuas-puasnya. Air ini tidak akan habis.”
“Kenapa nanti?”
“Supaya kalian tidak mati.”
Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya tetesan hampir melekat karena kekeringan.
Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi tenang, barulah mereka berkata, “Terima kasih Agni. Kau telah mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena perasaan haus yang tak tertahankan.”
Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu. Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”
“Ya,” jawab mereka serentak.
“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai ini.”
“He,“ ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka. “Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan mudah. Agni, disini kita dapat membuat bendungan itu.”
Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah, kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera, selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”
Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri. Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak, sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.
“Agni,“ berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat baiknya?”
“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat segera membangun bendungan itu disini.”
Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil. Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang, tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab dihadapan mereka, air yang jernih mengalir melimpah-limpah.
Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.
“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera kembali?“ bertanya Jinan.
“Apakah kalian tidak lelah?“ bertanya Agni.
Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas dan takut kembali merayap di hatinya.
“Kita bermalam disini,“ berkata Agni, “jangan takut. Bukankah hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun telah terusir?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini benar-benar dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih payahnya adalah berlipat-lipat.
Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun bahkan kemudian tertidur lelap. Meskipun celananya masih basah dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan lumpur.
Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka. Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah berterbangan pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan Mahisa Agni.
Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan kemudian bangkit duduk di samping mereka.
“Senja,“ desisnya.
“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.
“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin tidur?”
“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat tidur bersama-sama.”
“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”
Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berdiri, serentak mereka bertanya, “Kemana Agni?”
“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”
“Untuk apa?”
“Perapian.”
“Jangan,“ teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa kawan-kawannya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya, “Hem. Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”
Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin senja menyentuh tubuhnya terasa alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia berdiri.
“Kemana Agni,“ serentak kawan-kawannya pun bertanya kembali.
“Kain panjang kita,“ sahut Agni.
Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi compang-camping. Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan dingin. Ketiga kawan-kawan nya pun berbuat serupa. Hanya karena itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.
Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga, namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam.
Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.
Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat tenteram. Dikejauhan kembali terdengar suara burung kedasih sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati diantara desir angin yang lembut.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati. Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang mengerikan.
Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap rongga dada mereka.
Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadang-kadang menjadi semakin jelas.
Tetapi tiba-tiba diantara keluh burung kedasih itu, terdengar suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan akan teratur. Semakin lama semakin jelas.
Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar ketiga kawan Agni itu berkata parau, “Kuda. Derap kuda.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya. Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab, “Ya. Derap kaki kuda.”
“O,“ desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama kawan-kawannya.”
Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor kuda.”
“Kenapa hanya seekor,“ bertanya Sinung Sari.
Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu, “Kenapa?“ ulangnya, “ya kenapa?”
“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap kaki seekor kuda?“ Sinung Sari menjelaskan.
“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”
Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam. Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.
“Kali ini jangan memperbodoh diri,“ berkata Mahisa Agni kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, di penggal atau memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang? Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya. Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati dipadang rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap tantangan untuk diatasi. Jangan menyerah.”
Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah bertempur melawan apapun. Ada juga diantara mereka di masa kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya, “Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati, apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah usaha.”
Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.
Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha menyelamatkan diri.
Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawan-kawannya segera dapat mengetahuinya, bahwa Kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah menjadi semakin dekat.
“Kita bersembunyi,“ bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya, “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”
Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka, apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu, karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya menyangkut ranting-ranting kecil
Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula di balik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat.
Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam, sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.
Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan sekali-sekali berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya.
Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya, beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah bungkusan bekal makanan.
“Hem,“ Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya. Sebenarnya ia ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan yang demikian akan dihindirinya sejauh mungkin.
Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian dengan saksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan itu.
Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada di balik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan, meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang terserak-serak itu.
Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa langkah, orang itu bergumam, “Pasti disini. Di sekitar tempat ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia pernah mengenal orang yang baru datang itu.
Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar dengus nafas berdesah semakin cepat.
“Ha,“ katanya, “di situ kalian bersembunyi.”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun, sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang mereka itu.
“Kenapa kalian bersembunyi,“ terdengar orang itu bertanya sambil berjalan beberapa langkah maju. Sedang nafas di dalam gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang hidung mereka.
Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di belakangnya, “Disini aku. Bukan di situ.”
Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya.
Tetapi Mahisa Agni lah yang kemudian terkejut mendengar orang itu menyebut namanya, “Mahisa Agni.”
“Ya.”
Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat, “Kau telah mengenal namaku,“ bertanya Mahisa Agni.
“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan saksama. Ketika orang itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata, “Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami disini.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken Arok telah berceritera kepadaku, bahwa kau berada dipadang Karautan bersama tiga orang yang aneh.”
“Di situlah mereka,“ sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.
“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”
“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni, “Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”
Kembali ketiga kawan Mahisa Agni itu tersuruk-suruk keluar dari tempat persembunyian mereka. Dengan agak malu-malu mereka berjalan mendekati.
“Inilah mereka,“ berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawan-kawannya.
“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.
Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”
“Oh,“ desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. jawabnya, “Ya. Akulah yang menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri. Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”
Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin tunduk dalam-dalam.
Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar ceritera tentang ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat mengetahui sifat-sifat mereka.
Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah Mahisa Agni, “Mari, Mahendra, duduklah.”
Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya.
Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara burung kedasih menggetarkan sepi malam.
“Mahendra,“ terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”
Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya. menggerakkan bibirnya. “Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu maksud itu aku urungkan.”
“Lalu apakah keperluanmu berada dipadang ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”
“Apa katanya?”
“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.”
Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih tertarik pada ceritera Ken Arok yang lain”
“Ceritera yang manakah itu?”
“Mahisa Agni,“ berkata Mahendra dengan nada yang lain. Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?”
“Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”
Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”
“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”
“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu itu?”
Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih juga akan terasa betapa sakitnya.
Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya.
Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada siapapun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua, ayah Ken Dedes.
Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin dingin sampai menggigit tulang.
Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata, “Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu Tumapel. Tetapi menurut kakang Witantra, Akuwu Tunggul Ametung menjadi kecewa sedalam-dalam terhadap perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, kakang Witantra telah berhasil memisahkan Ken Dedes daripada Kuda Sempana. Bahkan kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus kepada Ken Dedes.”
Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja dilihatnya Mahisa Agni menunduk.
Maka berkatalah ia seterusnya, “Agni. Secara jujur aku katakan, bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”
“Hem,“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus, “Agni, Akuwu telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya, mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”
“Tetapi itu tidak lajim, Agni.”
“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”
Kini Mahendra lah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat dirubahnya. Meskipun demikian ia masih mencobanya, “Agni. Witantra minta dengan sangat kau merubah pendirianmu. Sebab dengan demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri. Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.”
Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni menggeleng sekali lagi.
“Kau tetap pada pendirianmu Agni?”
“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung. Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu selesai tanpa aku pula.”
“Agni. Kau terlalu perasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.
Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya, sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis yang disangka adiknya.
“Agni,“ berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari keluarganya.”
Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri.
Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masing-masing terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan Akuwu? Bukankah suatu kurnia tiada taranya, gadis sedesanya dapat menjadi seorang Permaisuri, dan gadis itu adalah saudara Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa. Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau dengan demikian mereka berbuat kesalahan.
Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah, lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal yang lain.” Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil berkata lantang, “Lihat, disini aku akan membuat bendungan. Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga padang ini akan menjadi tanah persawahan.”
Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung.
Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni, “Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula, maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering di Panawijen,“ Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan, “Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”
Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun.
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata kepadanya, “Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku sampaikan kepada kakang Witantra?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintang-bintang di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.
“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya apa yang baik untuknya.”
“Hem,“ Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau berkenan di hati atau sebaliknya?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam keadaan yang tidak aku kehendaki.”
“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”
Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu. Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat pula kemungkinan itu,” tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku akan selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat bendungan disini?”
Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu.
Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir dalam gelap malam itu.
Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana? Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk membangun bendungan?”
Dengan serta merta, diluar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya. Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”
Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak mendesaknya lagi.
Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayup-sayup terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawan-kawannya, semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara gerojogan jeram-jeram di sebelah.
Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata. “He, Mahendra, darimana kau tahu bahwa aku berada di tempat ini?”
Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab pendek, “Dari Ken Arok.”
“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak disini.”
“Kau menelusur sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat demikian menurut petunjuk Ken Arok.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia mencoba melepaskan tekanan perasaan itu, “Kenapa kau berjalan sendiri? Dimana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”
“Ia kini bekerja di istana.”
“He, apakah yang dikerjakannya?”
“Seperti kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan kakang Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil mengganggu gadis-gadis.”
“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.
Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apalagi, sehingga kembali suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu menyentuh-nyentuh sepinya malam.
Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara yang lain-lain. Bukan suara gemericik air, dan bukan pula suara jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas … semakin jelas.
Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka.
Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi pasti orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap maksudnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah.
Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik itu kini telah berdiam diri.
Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan. Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba menangkap setiap suara yang betapa pun lemahnya, menyentuh telinga mereka.
Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang menggetarkan udara malam.
Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing, sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa menyakitkan telinga itu.
“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,“ terdengar suara dari balik-balik gerumbul di pinggir sungai.
“Ya,“ jawab suara yang lain.
“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,“ berkata suara yang pertama.
Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya.
Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi seorang yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana datang dengan kawan-kawannya.
Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik, “Kuda Sempana. Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan dipadang ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri. Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam ini ia terpaksa berada dipadang Karautan. Karena itu, maka Mahisa Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.
Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah dikenalnya.
Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung Semeru. Pedukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya. Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benar-benar datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana ia mendendamnya, Kuda Sempana.
Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya, seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?”
Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah dihadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang tua itu bertanya, “Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni itu?”
Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun, tentang anak muda itu.
Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya terdengar parau diantara suara tertawanya yang menyakitkan hati, “He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.
Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi. Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”
Warna merah menjalar ke wajah Mahisa Agni mendengar kata-kata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku disini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan dendamku.”
Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar selain suara gemeretak giginya.
Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolah-olah ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini. “Jangan membual. Siapa kau?”
Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”
Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaanya, malahan ia bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra membentak, “Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap wajahnya yang kasar, “Kau ingin tahu namaku?“ katanya.
Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan menjilat wajah itu.
Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati ia berkata, “Inikah cucurut yang bernama Ken Arok itu?”
Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”
“O,“ orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula, “Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”
“Namanya Mahendra,“ jawab Kuda Sempana.
“Nama yang bagus,“ sahut orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”
Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya, sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.
“He, apakah kau tidak mendengar?”
Mahendra masih berdiam diri.
“Kedua-duanya menjadi bisu,“ teriak orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan saksama. Kemudian katanya, “Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan diriku, dan barangkali ada diantara kalian berdua yang belum mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki Bahu Reksa Kali Elo,“ orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.
Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “kuda Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”
“Ya,“ sahut Kuda Sempana.
Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat memuakkan.”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu. Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa, seakan-akan mereka telah benar-benar mati.
“Sekarang,“ berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”
Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah gurunya.
Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut, “Ketahuilah, akulah guru kedua anak-anak ini.”
Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula. Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan terhadap guru Kuda Sempana itu?”
Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut. Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut dan mohon belas kasihannya.
Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni, Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga disini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak sebanyak Mahisa Agni.”
Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun kata-kata itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu. justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram, “Hem. Ternyata Kuda Sempana dan Setan itu sama sekali tidak berani menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab. “Demit busuk. Ayo, sekarang kau masih juga mencoba menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah kau bertemu aku dipadang Karautan.”
“Jangan banyak bicara,“ potong Mahisa Agni, “apa maumu?”
Cundaka itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ia pernah dikalahkan oleh Mahisa Agni. Sedang apa yang dicapainya selama ini, setelah ia berjanji untuk lain kesempatan bertemu kembali, hampir tidak ada sama sekali. Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain mencari apa saja yang dapat dimilikinya. Bahkan ia telah pula kembali ke Kajar mencari Pasik. Tetapi Pasik telah menghilang. Karena itulah maka dendamnya kepada Mahisa Agni menjadi semakin bertambah-tambah Seandainya Pasik masih ada padanya, maka ia akan dapat dipergunakannya untuk memungut bulu bekti di daerah kaki Gunung Semeru yang jauh itu. Sedang apabila ia sendiri harus pergi ke sana setiap kali, maka rasanya ia tidak akan sanggup.
Untuk sesaat Cundaka itu berdiam diri. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Mahendra berganti-ganti. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangannya.
Kuda Sempana itu pun mengumpat di dalam hatinya. Ia membawa saudara seperguruannya untuk melepaskan sakit hatinya atas Mahisa Agni itu, seperti juga Cundaka ingin melepaskan sakit hatinya. Namun tiba-tiba di tempat itu hadir pula Mahendra. Karena itu maka ia pun menjadi ragu-ragu.
Namun diantara mereka, hadir pula guru mereka. Empu Sada. Apakah gurunya itu akan membiarkan mereka dalam kebimbangan?”
Ternyata Empu Sada itu pun tersinggung pula mendengar kata-kata Mahisa Agni. Meskipun ia tidak menganggap murid-muridnya sebagai saluran cita-citanya, bahkan murid-muridnya baginya tidak lebih dari sapi perahan untuk mendapatkan kekayaan, namun ketika ia langsung melihat dihadapannya, muridnya seakan-akan menjadi kecut, mau tidak mau harga diri perguruan Empu Sada pun tidak dapat membiarkannya.
Sejenak kemudian ketika kedua muridnya seakan-akan terdiam membeku, maka terdengar ia berkata, “Kuda Sempana dan Cundaka. Bagaimana dengan rencana kalian. Bukankah kalian berdua ingin mengikat Mahisa Agni dan menarik di belakang kuda kalian ke arah yang berlawanan?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. “Gila,” geramnya di dalam dadanya. Bahkan Mahendra pun terdengar menggeretakkan giginya.
“Ya guru,“ jawab Kuda Sempana, tetapi jawaban itu sama sekali kurang meyakinkan.
“Kenapa kau sekarang menjadi ragu-ragu,“ bertanya gurunya, “apakah kau menjadi iba setelah kau melihat wajahnya yang pucat seperti mayat itu.”
“Tidak,“ sahut Cundaka lantang, “aku akan melakukan rencanaku. Bukan begitu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana mengangguk. Tetapi ia cukup mengenal Mahendra. Dan apakah Mahendra akan tetap berdiam diri?”
“Nah, apakah yang kalian tunggu?” bertanya gurunya.
Kuda Sempana menggeram. Ditatapnya wajah Mahendra yang tegang setegang wajahnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar Mahendra itu berkata, “Kuda Sempana. Dendammu itulah yang kelak pasti akan menghancurkan dirimu sendiri. Agaknya kau tidak mau melihat kenyataan.”
“Tutup mulutmu Mahendra. Kau tidak bersangkut paut dengan urusanku.”
“Kau pasti telah pernah mendengar pula apa yang terjadi atasku. Aku hampir gila seperti kau pula ketika aku tidak berhasil mendapat gadis Panawijen itu. Tetapi kemudian aku menyadari keadaan. Aku melihat kenyataan. Karena itu aku tidak menjadi gila seperti kau.”
“Persetan dengan bicaramu. Kalau kau ingin selamat tinggalkan tempat ini.”
“Jangan mengancam. Tak ada gunanya. Aku sudah dapat mengukur sampai dimana kemampuanmu Kuda Sempana. Kau tidak mampu mengalahkan Witantra. Meskipun aku adik seperguruannya, namun aku pasti akan mampu pula melawan ajimu Kala Bama yang tidak berarti itu.”
Wajah Kuda Sempana menjadi merah padam mendengar tantangan Mahendra itu. Namun bukan saja Mahendra tetapi juga Cundaka merasa tersinggung karena anggapan yang menyakitkan hati atas Kala Bama, ilmu yang dibanggakan. Apalagi guru Kuda Sempana itu. Betapapun juga, ia adalah sumber dari ilmu itu. Ia adalah guru yang telah menurunkan ilmu itu, sehingga kata-kata Mahendra itu benar-benar menyinggung perasaannya.
Karena itu maka orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu maju selangkah. Ditatapnya wajah Mahendra baik-baik. Kemudian katanya sambil memiringkan kepalanya, “He, anak muda. Apakah kau sadari kata-katamu. Kau menghina perguruanku.”
“Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusan ini,“ sahut Mahendra dengan beraninya. Sebab ia merasa bahwa ia sudah terjerumus dalam pertentangan yang mendalam dengan perguruan Empu Sada, karena ia telah terlanjur menghinakan ilmunya. Tetapi sebagai laki-laki Mahendra tidak juga beranjak surut.
Tiba-tiba guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada itu tertawa. Suara tertawanya benar-benar menyakitkan telinga. Katanya, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Biarlah aku turut dalam permainan ini. Semula aku hanya ingin melihat anak muda yang bernama Mahisa Agni itu, tetapi tiba-tiba aku ingin menangkap kelinci dipadang ini. Kini, teruskan rencanamu. Kau berdua harus dapat menangkap Mahisa Agni. Ikat ia dengan kedua kuda kalian dan paculah ke arah yang berbeda. Aku akan mengikat anak ini pada kudaku, nanti aku akan melihatnya terkelupas seperti pisang.“ Kembali terdengar suara tertawa menyakitkan hati berkepanjangan memenuhi padang Karautan itu.
Terasa dada Mahisa Agni dan Mahendra bergetar mendengar kata-kata itu. Menurut penilaian Mahisa Agni dan Mahendra, maka Empu Sada itu pasti tidak sekedar bergurau dan mengancam. Menilik sikap dan nada tertawanya, ia pasti akan dapat melakukannya seperti yang dikatakannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian menduga, bahwa mereka pasti telah menyembunyikan kuda mereka, atau sengaja mereka menuntun kuda-kuda mereka, sebelum mereka menemukan tempatnya. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang kuda. Ia kini harus bersikap menghadapi hantu-hantu yang melampaui kebiadaban hantu Karautan yang pernah menggemparkan seluruh Tumapel.
Yang terdengar kemudian adalah sisa-sisa nada tertawa Empu Sada. Kemudian katanya pula, “Sebenarnya aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu Mahendra, bahwa dengan mengikutimu, ternyata kau telah menunjukkan kepada kami, dimana Mahisa Agni bersembunyi. Nah, karena kau telah menghina perguruanku, maka sekarang aku terpaksa berbuat sesuatu atasmu. Karena itu, supaya aku tidak merubah rencanaku dengan rencana lain yang lebih dahsyat, marilah ikuti aku ke tempat kudaku aku tambatkan, sebelum aku mengikutimu dengan berjalan kaki. Sebab menurut perhitunganku, Agni yang mimpi membuat bendungan itu pasti akan tertarik perhatiannya pada jeram-jeram ini. Ternyata perhitunganku benar, sehingga aku tidak menyimpan kuda itu terlampau jauh.”
Sekali lagi Mahendra menggeram. Kata-kata itu benar-benar merupakan penghinaan baginya. Karena itu jawabnya lantang, “Jangan banyak bicara tikus tua. Kalau kau mau membunuh Mahendra, bunuhlah dengan cara yang kau sukai. Tetapi jangan mencoba menakut-nakuti aku dengan segala macam kata-kata yang bagiku tak akan berarti.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Tampaklah alisnya yang tebal bergerak-gerak. Sekali-sekali ia mengerling kepada Mahisa Agni, namun kemudian kembali ditatapnya wajah Mahendra, “Huh, kau terlampau kasar. Seharusnya kau mati dengan cara lain.”
Empu Sada itu kini sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian katanya kasar kepada kedua muridnya, “Ayo, apa yang kalian tunggu. Tangkap Mahisa Agni. Biarlah anak ini aku selesaikan.”
Kedua murid Empu Sada itu terkejut, dan dada Mahisa Agni pun berdesir. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus melawan dengan segenap kekuatan yang ada padanya.
Untuk menghadapi kedua lawannya Mahisa Agni tidak boleh kehilangan waktu. Sebab kecuali mereka hadir pula guru mereka, Empu Sada yang pasti memiliki banyak kelebihan dari kedua muridnya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membiarkan Mahendra mengalami bencana pula. Karena itu, maka tidak ada pertimbangan lain, dari pada segera membinasakan lawan-lawannya.
Demikianlah maka diam-diam Mahisa Agni memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Tanpa bersikap disusunnya getaran-getaran di dalam dadanya. Dialirkannya segenap kekuatannya ke dalam telapak tangannya.
Sementara itu ia mendengar Cundaka tertawa. Meskipun tidak setajam suara gurunya namun suara itu pun benar-benar telah menyakitkan hati Mahisa Agni.
“Kuda Sempana,“ berkata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, “kali ini jangan lepas lagi. Kita akan dapat melepaskan dendam kita sekehendak hati. Kalau anak itu telah kami ikat kaki dan tangannya, maka kita akan mendapatkan permainan yang mengasyikkan.”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Tetapi mulut pada wajahnya yang selalu gelap itu sama sekali tidak tertawa. Tersenyum pun tidak. Namun ialah yang mendekat lebih dahulu sambil bergeremang, “Agni. Beberapa kali kau menggagalkan rencanaku untuk dapat memiliki Ken Dedes. Kalau bukan kau yang selalu menghalangi, maka aku tidak akan mengalami nasib sejelek sekarang ini. Aku tidak perlu menyangkutkan kepentinganku dengan Akuwu yang ternyata curang. Ternyata Akuwu sendiri mempunyai pamrih atas gadis itu. Nah, jangan menyesal sekarang. Sudah jauh terlambat. Terimalah nasibmu yang jelek sebagaimana nasibku sendiri.”
Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Ketika dengan sudut matanya, ia memandangi wajah Mahendra, dilihatnya wajah anak muda itu menjadi tegang. Ternyata Mahendra sama sekali tidak memperhatikan dirinya sendiri dan Empu Sada. Perhatiannya sama sekali tercurah pada Mahisa Agni.
Sekali lagi terdengar gigi Mahisa Agni gemeretak. Ketika ia melihat Kuda Sempana bergerak, maka dituntaskannya segenap getaran di dalam dadanya. Kini ia tinggal memerlukan dorongan untuk melepaskan puncak kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya, sebab ia sudah tidak melihat kemungkinan lain. Dengan demikian ia mengharap segera dapat mengurangi satu lawannya untuk kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dari padanya.
Meskipun sesaat Mahisa Agni menjadi bimbang untuk dengan tiba-tiba saja mempergunakan puncak ilmu pada gerak yang pertama, namun diamatinya perjuangannya yang akan menjadi jauh lebih berat dari setiap perjuangan yang pernah dilakukan. Melawan Empu Sada.
Kuda Sempana dan Cundaka pun kemudian berjalan semakin dekat. Kedua wajah itu bagaikan bumi dan langit. Kuda Sempana memandang Mahisa Agni dengan penuh dendam dan gejolak kemarahan, sedang orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu masih saja tertawa penuh hinaan. Namun keduanya bagaikan wajah-wajah hantu yang haus melihat maut.
Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana dan Cundaka tertegun. Sesaat mereka justru diam mematung. Baru kemudian disadarinya, bahwa bahaya maut justru telah mengancam mereka.
Dalam gerak yang cepat secepat tatit, mereka melihat Mahisa Agni menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Hanya sesaat sebagai unsur daya penggerak dan pelontar kekuatannya.
Sesaat kemudian, anak muda itu telah meloncat dengan dahsyatnya sambil mengayunkan tangannya dalam gerak pelepasan kekuatan puncaknya, Aji Gundala Sasra, mengarah kepala Kuda Sempana.
Bukan main terkejut Kuda Sempana dan Cundaka. Loncatan itu sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali tak memberi mereka waktu untuk berbuat sesuatu. Apalagi Kuda Sempana, Ia melihat Mahisa Agni seolah-olah anak panah yang meluncur seperti tatit menyambarnya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Tak ada waktu baginya untuk membangunkan kekuatan Aji Kala Bama untuk mengimbangi kekuatan Aji lawannya. Meskipun seandainya kekuatan kedua aji itu kurang seimbang, namun ia pasti tidak akan dapat dilumatkan oleh lawannya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan itu. Satu-satunya usaha yang dapat dilakukan adalah mengelak dan meloncat jauh-jauh. Namun Mahisa Agni pasti akan memburunya, dan kemudian memukul tengkuknya sehingga tulang lehernya akan terpatahkan.
Meskipun demikian, Kuda Sempana masih juga berusaha. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia melontar ke samping, untuk mencoba menghindarkan diri dari sambaran maut di tangan Mahisa Agni.
Mahisa Agni melihat gerak lawannya. Cepat ia menggeliatkan dan sekali lagi menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga geraknya pun berubah arah. Ia benar-benar ingin membinasakan Kuda Sempana untuk segera dapat melakukan perlawanannya atas lawan-lawannya yang tinggal dan yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri meskipun berdua dengan Mahendra.
Kuda Sempana terkejut melihat perubahan sikap Mahisa Agni. Sekali lagi ia melihat maut menyambarnya. Karena itu, maka sekali lagi ia terpaksa menghindar. Kuda Sempana itu kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali menjauhi Mahisa Agni.
Namun yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika sekali lagi Mahisa Agni menjejakkan kakinya di tanah dan melontarkan diri mengejar Kuda Sempana, ia melihat sebuah bayangan yang melontar cepat sekali dihadapannya. Demikian cepatnya sehingga Mahisa Agni tidak sempat menghentikan dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Mahisa Agni dengan menghentakkan giginya, menyambar bayangan itu dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang telah dipenuhinya dengan kekuatan yang disebutnya Gundala Sasra.
Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Bayangan itu tergetar. Namun tetap tegak di tempatnya. Sedang Mahisa Agni sendiri terpental surut beberapa langkah. Terdengar tubuhnya terbanting jatuh di tanah. Dan terdengar pula ia mengeluh tertahan.
Ternyata ayunan tangan Mahisa Agni itu telah membentur tubuh Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Betapapun juga ia tidak dapat melihat muridnya dihancur lumatkan dihadapan hidungnya. Meskipun ia sekedar seorang guru upahan, yang mengajar muridnya bukan karena keyakinannya, namun hubungan yang telah terjalin sedemikian lamanya, antara dirinya dan muridnya itu, telah mendorongnya untuk mencoba menyelamatkannya.
Ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri saja seperti patung melihat wajahnya yang tegang, melihat cahaya matanya yang bergetar dan dadanya yang menggelombang, maka Empu Sada yang sudah kenyang melihat hitam putihnya berbagai macam ilmu, segera menyadari bahaya yang sedang disusun oleh anak muda itu. Karena itu maka ia tidak melepaskan kesiagaan seandainya muridnya menjadi lengah. Dan ternyata hal itu terjadi. Muridnya hampir saja dapat dibinasakan oleh anak muda yang akan ditangkapnya, karena itu, maka ia tidak dapat membiarkannya. Segera ia meloncat memotong gerakan Mahisa Agni yang sedang mengejar Kuda Sempana yang mencoba menghindari lawannya sambil berguling-guling di tanah.
Benturan yang terjadi itulah yang kemudian telah melemparkan Mahisa Agni. Betapa dahsyat ilmunya, namun ia masih belum mampu melawan keteguhan ilmu Empu Sada. Meskipun Empu Sada tidak menyerangnya, namun benturan itu telah menghentakkan kekuatan Mahisa Agni sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk menjaga keseimbangannya. Bahkan dadanya seakan-akan diketuk oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga terasa sesaat nafasnya menjadi sesak.
Mahendra melihat apa yang terjadi itu dengan getaran yang dahsyat di dadanya. Sesaat ia hanya dapat mengikuti peristiwa yang terjadi sedemikian cepatnya itu dengan matanya. Tubuhnya sendiri seolah-olah terpaku sehingga untuk sesaat ia tetap berdiri saja mematung.
Baru kemudian setelah ia melihat Mahisa Agni berguling di tanah disadarinya apa yang terjadi. Ia melihat bahaya tidak saja mengancam Mahisa Agni, tetapi akan mengancam dirinya sendiri. Karena itu, maka segera ia bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia ingin berbuat seperti Mahisa Agni. Langsung menyiapkan ilmu puncak di tangannya, sehingga setiap waktu ia akan dapat mempergunakannya. Meskipun ilmu itu belum dikuasai sesempurnanya, namun ia sudah mampu mempergunakan untuk menjaga dirinya.
Tetapi apa yang dilihatnya telah menggetarkan dadanya. Ketika ia sedang mencoba menyusun ilmunya, tiba-tiba ia mendengar Empu Sada tertawa dengan nada yang tinggi menyakitkan hati. Namun yang lebih mencemaskannya, adalah, tiba-tiba saja orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang melihat Mahisa Agni terbanting di tanah dan belum mampu bangkit berdiri, segera ingin mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepatnya ia meloncat menyerang Mahisa Agni yang masih terbaring di tanah.
Mahendra tidak dapat membiarkannya terjadi, cepat ia mengambil sikap. Ia mengurungkan niatnya, untuk membangkitkan ilmunya, tetapi segera iapun meloncat secepat Cundaka meloncat. Langsung dengan kakinya ia melontarkan serangan ke arah lambung Bahu Reksa Kali Elo.
Cundaka terkejut melihat kesiagaan Mahendra. Karena itu, segera ia menggeliat, dan mencoba menghindari serangan itu. Dengan sebuah hentakan di tanah. Cundaka berhasil melontarkan ke samping menghindari serangan Mahendra yang meluncur secepat kilat di sampingnya.
Demikian kaki Mahendra berjejak di atas tanah, cepat-cepat ia memutar tubuhnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ternyata Cundaka belum menyusulnya dengan sebuah serangan balasan. Meskipun Mahendra melihat sikap orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sebagai suatu sikap yang berbahaya, namun ia masih berada di tempatnya.
Ternyata gurunya, Empu Sada lah yang telah mencegahnya. Kini yang terdengar adalah suara tertawanya yang melengking menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata, “Hem, anak-anak muda yang perkasa. Meskipun kalian tidak berasal dari satu perguruan, namun kalian ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk saling bekerja bersama-sama.
Mahendra tidak menjawab. Ia menarik nafas ketika ia melihat Mahisa Agni telah berdiri. Sekali-sekali dikibaskannya tangannya dan diaturnya pernafasannya. Agaknya Mahisa Agni telah berhasil mengurangi perasaan sakitnya dan perlahan-lahan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya telah mampu untuk bangkit kembali.
Empu Sada itu masih tertawa, meskipun semakin lama semakin perlahan-lahan. Kemudian katanya pula, “Anak-anak muda, aku telah mengenal berbagai macam ilmu dari berbagai macam perguruan. Meskipun aku tidak bergaul dengan orang-orang sakti itu, namun sedikit-sedikit aku dapat mengenal nama mereka. Ternyata kalian adalah murid dari orang-orang sakti yang disegani. Namun nasib kalian agaknya memang kurang baik. Kalian telah melakukan pekerjaan yang berbahaya di tempat yang berbahaya. Karena itu untuk menghilangkan setiap usaha pembalasan dendam, maka kalian harus binasa. Kalau kalian masih hidup, maka kalian akan menyampaikan peristiwa ini kepada guru-guru kalian sehingga mereka pasti tidak akan tinggal diam. Nah, mudah-mudahan guru-guru kalian tidak bermimpi buruk di rumah malam ini.
Kemudian kepada ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni yang seakan-akan membeku orang tua bertongkat hampir panjang tubuhnya itu berkata, “Sayang. Kalian pun harus mati untuk melenyapkan saksi-saksi yang akan mungkin menyebar luaskan berita tentang peristiwa ini. Tetapi jangan takut, kalian akan mati dengan cara yang baik. Kalian akan ditusuk langsung di arah jantung, sehingga kalian tidak akan mengalami derita. Kematian yang demikian itulah yang dicari oleh hampir setiap orang. Mati tanpa menderita. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka akan mati dengan cara yang lain sebab mereka telah berani melawan Empu Sada dan murid-muridnya.
Suasana segera meningkat semakin tegang. Kini Mahisa Agni telah hampir menguasai segenap kekuatannya kembali. Dengan gigi gemeretak ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Beberapa langkah dari padanya, Mahendra pun telah siap untuk menghadapi segenap kemungkinan.
“Nah, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan kau dekati Mahisa Agni dalam kewajaran. Siapkan aji Kala Bama. Hantamkan kepadanya bersama-sama apabila seorang-seorang dari pada kalian belum dapat memadainya. Ia akan jatuh sekali lagi. Tetapi ia cukup tahan untuk tidak mati. Nah, kemudian kalian akan dapat menangkapnya dan menariknya di belakang kuda-kuda kalian selagi ia masih hidup. Sedang yang satu ini serahkan kepadaku. Bukankah kalian tidak berurusan dengan anak muda yang bersama Mahendra ini?”
Tak seorang pun yang menyahut kata-kata itu. Tetapi mereka kemudian segera memusatkan kekuatan lahir dan batin. tanpa berjanji, keempat anak muda itu telah membangunkan kekuatan puncaknya. Kuda Sempana dan Cundaka telah menyusun Aji Kala Bama, Mahendra dengan Aji Bajra Pati seperti yang dimiliki oleh Witantra dan Mahisa Agni telah memperbaharui kekuatannya dalam ilmunya, Aji Gundala Sasra.
Dalam ketegangan yang memuncak itu kembali terdengar suara tertawa Empu Sada sambil berkata, “Lucu. Aku melihat kelucuan disini. Kalian, keempat anak-anak muda, sedang membangkitkan ilmu kepercayaan masing-masing. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan itu telah siap berbenturan. Namun apakah gunanya kau melawan Mahisa Agni? Dan apa pula gunanya kau mempersiapkan permainan yang buruk itu. Mahendra? Melihat sikapnya, aku menyangka bahwa kau sedang mempersiapkan kekuatan yang dinamai oleh penyusunnya, Aji Bajra Pati. Kau sudah melihat Gundala Sasra tak berarti apa-apa bagiku. Karena itu, lebih baik kalian menyerah. Kalian akan segera diikat dan ditarik di belakang kuda. Bukankah semakin cepat semakin baik?”
“Tutup mulutmu,“ bentak Mahendra tanpa mengenal takut, justru setelah ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menghindar lagi dari bahaya maut, “Ayo, jangan banyak bicara. Kalau aku tak mampu membunuhmu, biarlah aku mati dipadang Karautan.”
Orang tua itu menarik nafas. Pandangan matanya kini menjadi semakin buas, seperti burung elang yang melihat anak ayam di plataran. “Hem,“ desahnya, “kau memang berani. Tetapi kau sedang membuat dirimu sendiri sengsara.”
“Kau hanya mampu berbicara,“ potong Mahendra. “tetapi kau tidak mampu berbuat apa-apa.”
Orang tua itu agaknya menjadi marah sekali. Sebelum Mahendra dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ia merasa sebuah tamparan di pipinya. Tamparan tangan orang tua bertongkat itu. Gerak itu sedemikian cepatnya sehingga Mahendra seakan-akan tidak lebih dari sebuah patung. Terasa pipi Mahendra disengat oleh perasaan pedih. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai keseimbangannya.
“Anak gila,“ terdengar suara Empu Sada berat parau, “Nah, kau lihat apa yang dapat aku lakukan. Meskipun kau tengah membangun aji yang kau bangga-banggakan namun kau tidak berdaya melawan sebuah pukulan yang sangat sederhana. Apa katamu sekarang?”
Mahendra menggeram. Namun ia masih menjawab, “persetan. Kau mulai dengan curang sebelum aku bersiap.”
Dada Empu Sada benar-benar terbakar oleh jawaban itu. karena itu maka katanya, “Aku memang tidak mempunyai banyak waktu.”
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bersiap dengan Aji Gundala Sasra itu pun tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia mengerling ke arah Kuda Sempana yang sedang dengan asyiknya melihat gurunya yang sedang marah itu.
Mahisa Agni masih tetap dalam pendiriannya, bahwa ia harus segera dapat mengurangi jumlah lawan-lawannya. Tetapi anak muda itu mengumpat di dalam hatinya ketika ia mendengar Empu Sada memperingatkan muridnya, “Kuda Sempana jangan tidur. Sekali lagi kau akan diserang oleh Gundala Sasra. Jangan kau lawan seorang diri. Lawanlah bersama-sama. Kalian akan mendapatkan Mahisa Agni itu seperti seonggok sampah. Nah, kau akan dapat berbuat apa saja atasnya.”
Kini tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni daripada melawan kedua orang itu bersama-sama. Karena itu, maka segera Mahisa Agni mengambil sikap. Ia harus berusaha mendapatkan arah, yang memungkinkan ia melawan kedua lawannya itu satu demi satu. Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati.
Dalam pada itu Empu Sada pun telah melangkah maju mendekati Mahendra. Perlahan-lahan sekali, seperti seekor kucing sedang menakut-nakuti seekor tikus yang kecil. Namun dalam pada itu ia masih berkata kepada murid-muridnya, “Hati-hatilah. Meskipun musuhmu itu hanya seorang, tetapi ia cerdik seperti demit.”
Mahisa Agni menggeram. Kedua lawannya selalu mendapat peringatan dari gurunya. Namun ia tidak dapat mengeluh saja di dalam hatinya. Ia harus menghadapi bahaya itu, dan ia harus melawan sekuat tenaga yang ada di dalam dirinya. Ia sama sekali tidak akan dapat minta bantuan kepada ketiga kawan-kawannya yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Dan Mahisa Agni pun sama sekali tidak menyesali mereka. Sebab apapun yang mereka lakukan sama sekali akan tak berarti.
Ketika Kuda Sempana dan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu melangkah semakin dekat, serta keduanya kemudian mengambil jarak yang cukup untuk memecah perhatian Mahisa Agni, maka terdengar suara Cundaka menggeram, “Mampus kau kerbau gila. Sebut nama ayah bundamu. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya sebelum kau memeluk bumi. Supaya kau tidak menyesal di dalam alam lain kelak.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Ia benar-benar telah bersiap menghadapi sepasang kekuatan Aji Kala Bama.
Tetapi ketika kedua lawannya itu melangkah semakin dekat, terjadilah sesuatu yang sama sekali diluar perhitungan mereka. Tiba-tiba meluncurlah sebuah batu dari arah ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang duduk membeku. Demikian kerasnya dan langsung mengenai dada Cundaka sehingga terdengar orang itu mengaduh pendek.
“Gila,“ ia mengumpat keras-keras, “he, kelinci betina. Apakah kau akan ikut campur dalam persoalan ini sehingga kau akan ikut aku ikat di belakang kudaku?”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar telah membeku sehingga mereka sama sekali tidak dapat menjawab. Bahkan tubuh mereka menjadi semakin gemetar dan tulang-tulang mereka seperti dilolosi.
“Kalau sekali lagi kalian berbuat gila, maka kalianlah yang akan mengalami nasib yang paling mengerikan.”
Tak ada jawaban sama sekali. Ketiganya masih saja duduk seperti patung batu. Diam kaku.
Empu Sada pun melihat sesuatu terbang dari arah ketiga anak-anak muda itu. Ia mengetahui pula, bahwa salah seorang muridnya telah terkena lemparan batu. Namun ia tidak melihat salah seorang dari ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu bergerak. Karena itu, timbullah kecurigaannya, sehingga ia berkata, “He, Cundaka, apakah kau dapat dikenainya?”
“Ya guru, batu sebesar telur merpati. Tepat mengenai dadaku. Alangkah sakitnya.”
“Batu sebesar telur merpati dapat membuat kau kesakitan selagi kau mateg Aji Kala Bama?”
“Ya guru.”
“Setan,“ geram Empu Sada. Kemudian kepada ketiga anak muda itu ia berteriak, “He, apabila ada diantara kalian seorang yang sakti, yang mampu melempar tanpa menggerakkan tangan, bahkan mampu menyakiti muridku, kenapa kalian atau salah satu dari kalian berpura-pura takut? Sungguh tidak jujur. Ayo, kalau salah satu dari kalian ternyata mampu berbuat demikian, sebutlah namamu dan tampillah ke dalam arena.”
Ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni itu mendengar kata-kata Empu Sada. Namun mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya, sehingga justru dada mereka seolah-olah telah tersobek-sobek oleh pedang di lambung Kuda Sempana, atau berlubang ditusuk tongkat orang tua itu.
Tetapi Empu Sada masih saja berkata kepada mereka. “Ayo, jangan curang. Jangan menyerang sambil bersembunyi dalam selubung ketakutan. Kalau salah seorang dari kalian tidak ada yang mengaku, maka kalian bertigalah yang akan aku binasakan dengan cara yang tidak pernah dapat kalian bayangkan. Sebab aku akan dapat memotong setiap anggauta badanmu perlahan-lahan, dari yang paling tidak berbahaya dan yang terakhir adalah lehermu. Ayo cepat katakan.”
Tubuh-tubuh itu kini benar-benar telah menjadi lemas. Demikian takutnya, sehingga dengan tangan gemetar mereka menutupi wajah-wajah mereka sendiri. Bahkan Jinan sudah menangis seperti kanak-kanak yang ditinggalkan ibunya seorang diri digelapnya malam.
“Ha,“ berkata Empu Sada lantang, “kau pura-pura menangis? Mungkin kaulah yang telah melakukan keajaiban itu. Melempar sedemikian kerasnya tanpa menggerakkan tanganmu. Kini kau pura-pura menangis melolong-lolong. Apakah kau akan menyerang muridku dengan Aji yang dapat kau lontarkan lewat lolonganmu?”
Jinan menjadi semakin ketakutan. Karena itu maka tangisnya menjadi semakin pedih. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbuat apa-apa, tetapi suaranya tersekat di kerongkongannya karena ketakutan yang mencengkam dadanya.
Empu Sada yang marah bukan buatan itu tidak sabar lagi. Selangkah ia mendekati ketiga anak-anak muda itu. Namun kini, bukan Cundaka yang akan terkena lemparan batu, tetapi batu itu mengarah kepada dirinya. Namun ia adalah seorang yang cukup sakti, sehingga ketika butiran batu itu menyambarnya, ia masih mampu memukulnya dengan tongkatnya.
Namun ketika tongkatnya membentur batu kecil itu, Empu Sada terkejut dan mengumpat, “He. Demit buruk. Siapa kau?”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya