Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Api di Bukit Menoreh oleh S.H. Mintardja
Seri 69
“AKU kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.”
“Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengang¬guk-angguk.
“Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang se¬mula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian.
Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada seorang penyamun yang menyerah ia bertanya, ”Apakah benar bahwa kadang-kadang ada peronda dari Ma¬taram yang nganglang sampai ke mulut lorong itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Aku bertanya, menurut pengetahuanmu. Apakah se¬lama kau menyamun kau pernah melihat, mendengar atau bahkan menjumpai peronda-peronda dari Mataram yang sampai ke lorong itu.”
Penyamun itu merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, ”Tidak. Tidak pernah ada.”
“Benar? Tidak pernah ada?”
“Ya, memang tidak pernah ada.”
Swandaru pun kemudian mendekatinya. Katanya seakan-akan bergumam kepada diri sendiri, ”Lebih baik mereka disembelih, atau digantung dibatang pohon dengan kepala dibawah supaya seekor harimau meraihnya dan melobangi wajahnya dengan kukunya.”
“Swandaru?” ayahnya memanggil.
Tetapi Swandaru melangkah terus. Bahkan gurunya berkata, ”Baiklah Swandaru. Ikat saja mereka di pepohonan. Kami tidak memerlukan mereka lagi.”
“Jangan, jangan,” orang itu memohon seperti yang merengek melihat ayahnya membawa sehelai cambuk.
Ki Demang menjadi bingung. Namun Agung Sedayu menggamitnya sambil berbisik, ”Biarkan saja Ki Demang. Swandaru tidak akan berbuat apa-apa.”
Semakin dekat juntai ujung cambuk Swandaru, semakin takutlah orang yang sudah menyerah itu. Sekali lagi ia memohon, ”Jangan diikat aku pada sebatang pohon.”
“Kenapa tidak? Tentu kami tidak akan dapat membawa kalian ke Menoreh, karena kami akan mengunjungi Ki Gede Menoreh sebagai tamu yang terhormat.”
“Kami tidak perlu dibawa ke Menoreh?”
“Dan kami tidak dapat melepaskan kau dihutan. Kau akan sangat berbahaya.”
“Jangan dilepaskan kami, asal kami jangan dibunuh dan jangan diikat pada sebatang pohon, karena hutan ini memang banyak dihuni harimau loreng.”
“Lalu kami harus menunggui kalian disini?”
Penyamun itu tertunduk.
“Jika kalian membuat kami bingung, maka jalan satu-satunya memang membunuh kalian.”
“Tidak, tidak,” tiba-tiba yang lain berteriak, ”ada pra¬jurit yang sering meronda dijalan itu. Ada pusat-pusat perondaan di tengah-tengah hutan. Pengawal-pengawal dari Mataram yang kuat berada digardu-gardu. Bahkan bersama beberapa orang pemim¬pinnya.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, sementara Swandaru menarik nafas dalam-dalam.
Namun dengan demikian mereka mengerti, bahwa Mataram tidak tinggal diam menghadapi persoalan ini. Mereka agaknya menyadari bahwa orang-orang yang telah mengganggu ketenteraman daerah yang sedang tumbuh ini adalah orang-orang yang kuat, sehingga mereka terpaksa menempatkan bebe¬rapa buah gardu ditengah-tengah hutan.
Ki Demang yang kemudian menangkap maksud anak¬nya itu pun mengumpat didalam hati. Bahkan sambil ter¬senyum ia berbisik kepada Agung Sedayu, ”Aku memang terlalu bodoh.”
Agung Sedayu pun tersenyum. Katanya, ”Bukan, tetapi Ki Demang kurang terbiasa bersikap seperti kami. Apalagi Swandaru, ia segera dapat menyesuaikan diri dengan sikap Guru.”
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, sementara ia mende¬ngar Kiai Gringsing berkata, “Kita kembali lewat jalan yang biasa dilalui orang. Kita bawa semua orang yang tertawan,” lalu kepada orang-orang yang semula menjadi keta¬kutan Kiai Gringsing itu pun bertanya, ”lalu bagaimana dengan kalian?”
“Kami memang akan pergi ke Mataram.”
“Ikutlah kami.”
Mereka pun segera berkemas. Tawanan-tawanan yang tidak da¬pat berjalan tegak lagi mereka taruh diatas punggung kuda. Sementara Agung Sedayu dan Swandaru berjalan meng¬iringinya bersama dengan orang-orang yang semula menjadi putus asa. Diantara mereka yang terluka pun mendapat kesempatan pula mempergunakan kuda Kiai Gringsing dan Sumangkar.
Iring-iringan itu pun kemudian mengambil jalan yang sudah mereka lalui. Mereka berputar lagi menuju lorong yang bia¬sa dilalui orang, karena jalan yang sedang terbentang di bawah kaki mereka itu adalah jalan jebakan.
Sebelum mereka sampai ke tanah pategalan, ternyata mereka masih menemukan seorang kawan dari orang-orang yang berjalan lebih dahulu dan hampir saja dibinasakan oleh para perampok itu. Tetapi demikian hatinya dicengkam oleh ketakutan, maka untuk beberapa lama ia tidak mau keluar dari gerumbul tempatnya bersembunyi. Namun de¬mikian desah nafasnya serta kadang keluhan-keluhan yang terta¬han telah menunjukkan dimana ia berada.
Tetapi akhirnya, atas bujukan kawan-kawannya ia mau keluar juga dari persembunyiannya yang tidak tersembunyi itu. Perlahan-lahan kepercayaannya atas tanggapan inderanya mulai timbul kembali.
Demikianlah, akhirnya Iring-iringan itu pun sampai ke warung yang kini sudah kosong. Gardu yang kosong dan mulut lorong yang sepi. Meskipun demikian di warung itu masih terdapat beberapa jenis makanan yang dijajakan. Namun Kiai Grhigsing tetap mencurigai jenis makanan itu, meskipun ia pun berpendapat bahwa tidak semua makanan berisi jebakan racun yang lemah, karena ternyata tidak semua orang telah diberinya racun itu. Hanya mereka yang menurut dugaannya orang-orang yang berbahaya sajalah yang telah dicobanya untuk diracun, seperti Kiai Gringsing, Su¬mangkar, Ki Demang beserta kedua anak-anak muda itu.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah melintasi hutan Tambak Baya yang lebat. Tetapi karena jalur jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sering disentuh kaki manusia, maka jalan itu agaknya memang tidak begitu sulit.
Didalam perjalanan itu Kiai Gringsing masih juga sempat bertanya kepada para penyamun yang ditawannya. Katanya, ”Apakah jalan ini masih sering dilalui orang, maksudku, orang yang dengan sengaja kalian lepaskan?”
Para penyamun itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, ”Hanya kadang-kadang. Jika kebetulan para prajurit Mataram meronda sampai ke ujung lorong, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Orang-orang yang akan lewat jalan ini pun lewatlah bersama para prajurit itu.”
“Apakah pemimpinmu itu tidak dapat membinasakan hanya sekelompok prajurit?”
“Tentu. Tetapi dengan demikian kami akan mengun¬dang kesiagaan yang lebih tinggi lagi dari para prajuri Mataram, sehingga barangkali justru dimulut lorong itu berinya gardu penjaga.”
“Dimana gardu penjaga yang pertama?”
“Tidak begitu jauh lagi.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya pada keterangan itu. Gardu itu tentu tidak begitu jauh. Jika tidak demikian, maka para penyamun itu tidak perlu menyesatkan calon-calon korbannya ke jalur jalan jebakan itu.
Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, ”Siapakah pemimpinmu itu?”
Penyamun itu mengerutkan keningnya.
“Siapa?”
“Kami tidak mengenalnya lebih jauh selain yang kami lihat sehari-hari.”
“Siapa? Siapa namanya?”
Penyamun itu menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian, “Kami memanggilnya Kiai Wedung. Hanya itulah yang kami ketahui tentang dirinya.”
“Kenapa kau ikut orang yang kau sebut Kiai Wedung itu?”
“Kami tidak mempunyai pilihan lain.”
“Aku tidak tahu maksudmu. Kenapa kau tidak mem¬punyai pilihan lain? Apakah yang kau kerjakan sebelum kau menjadi penyamun?”
Orang itu masih ragu-ragu.
“Apakah kau memang ditugaskan untuk menyamun sebagai tabir saja dari usaha Kiai Wedung membatasi orang-orang yang masuk ke Mataram?”
“Tidak. Kami memang penyamun sejak lama. Tetapi kami dikalahkan oleh Kiai Wedung dan orang-orangnya. Akhir¬nya mereka memaksakan suatu kerja sama. Kami diperke¬nankan merampas semua milik orang-orang yang lewat, dan membunuhnya. Hanya sebagian kecil saja yang harus kami serahkan kepadanya, sementara semua tanggung jawab diambil alih oleh Kiai Wedung.”
Kiai Gringsing memandang Sumangkar sejenak. Tetapi Sumangkar tidak memberikan tanggapan apapun. Sehingga Kiai Gringsing pun bertanya pula, ”Apakah kau pernah mendengar tentang seorang Panembahan didaerah hutan ini?”
“Panembahan? Maksudmu Panembahan siapa?”
“Bukan siapapun. Tetapi apakah kau pernah mende¬ngar seorang Panembahan disebuah padepokan disekitar Alas Tambak Baya ini atau disekitar Alas Mentaok?”
Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Aku mengenal seorang Demang yang mempunyai pengaruh yang besar dikalangan Demang-demang yang lain. Agaknya ia menaruh perhatian juga terhadap Alas Mentaok.”
“Siapa?”
”Demang di telatah Mangir.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sedang Sumangkar memandanginya dengan sorot mata yang aneh.
Tetapi menurut dugaan Kiai Gringsing, Demang telatah Mangir itu tentu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Panembahan yang tidak bernama itu.
Namun demikian, bahwa seorang Demang dari telatah Mangir telah tertarik pada perkembangan Alas Mentaok itu pun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan mungkin bukan hanya Demang di telalah Mangir itu saja, seorang Panembahan yang mengaku tidak bernama itu. Tetapi mung¬kin masih ada juga beberapa orang yang berkepentingan dengan Alas Mentaok. Bahkan mungkin juga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.
Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya pula ke penyamun itu, ”Kenapa kau sebut Demang di telatah Mangir itu, he? Apakah kebetulan saja kau mengetahuinya bahwa Demang itu dengan penuh minat mengikuti perkembangan Mataram atau kau mendengar bahwa ia pernah berkata, bahwa ia tertarik sekali kepada Mataram atau dengan cara yang lain lagi?”
Orang itu menjadi termangu-mangu.
“Bagaimana kau dapat mengatakan hal itu?”
“Aku tidak mendengar sendiri atau melihat sikap itu.”
“Lalu kenapa kau dapat mengatakannya?”
“Menurut Kiai Wedung. Kiai Wedunglah yang mengetahui hal itu.”
Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, mudian ia menggeram, ”Itukah ajaran pemimpmmu yang licik itu? Dengan demikian mulutmu akan menjadi racun yang paling berbisa, yang dapat menumbuhkah pertentang¬an tanpa sebab. Pemimpinmu yang gila itu tentu mengajarimu untuk menumbuhkan pertentangan antara telatah Mangir dengan Mataram. Jika kau menyebutnya hal itu hadapan orang-orang Mataram, yang ternyata mereka buta orang-orang yang bodoh, maka mulutmu pasti akan disumbat. Mungkin dengan sabut kelapa, tetapi mungkin juga dengan tangkai pedang.”.
Orang itu tidak menyahut lagi. Tetapi dadanya menjai berdebar-debar. Memang menurut gambarannya orang-orang Mata¬ram yang sedang berjuang membuka tanah dan berjuang melawan alam yang keras, apalagi gangguan-gangguan yang tidak ada habis-habisnya itu bukannya orang-orang yang lembut dan ra¬mah tamah. Mereka pasti orang-orang yang berwajah keras dan berhati keras.
Demikianlah maka iring-iringan itu pun semakin lama sema¬kin dalam menusuk kedalam Alas Tambak Baya. Meskipun hutan ini sudah menjadi kian sempit, tetapi jantungnya masih merupakan hutan yang lebat sekali.
Jalur jalan yang mereka lalui itu meskipun merupakan jalur yang sering dilewati, namun kadang-kadang mereka masih menjumpai gerumbul yang liar dan sulur-sulur berduri.
Sejenak kemudian, maka jalan yane mereka lewati itu¬ pun menjadi semakin baik. Bagi mereka yang lewat, hal ini merupakan pertanda bahwa daerah ini adalah daerah yang lebih sering dijamah kaki. Dan mereka pun menduga bahwa mereka telah berada dekat dengan gardu penjaga.
“Apakah kita sudah dekat?” bertanya Kiai Gring¬sing kepada penyamun itu.
Penyamun itu menjadi termangu-mangu. Namun ia pun ke¬mudian menganggukkan kepalanya sambil menyahut, ”Ya. Kita sudah dekat dengan gardu penjaga.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Kini angan-angannya justru sedang memba¬yangkan, siapakah prajurit-prajurit yang ada digardu itu. Apakah mereka akan mempercayainya atau tidak, karena para pe¬nyamun itu pun akan dapat berkata lain.
“Tetapi ke delapan orang ini pun akan dapat mengiakan keteranganku,” berkata Kiai Gringsing didalam hati¬nya.
Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka pun sudah dapat melihat sebuah barak kecil ditengah-tengah hutan itu. Namun agaknya para prajurit yang bertugas didalam barak itu cukup berhati-hati, karena ternyata pepohonan disekitar barak itu sudah dibersihkan.
“Itulah,” desis Agung Sedayu.
Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kesan yang didapatnya adalah bahwa didaerah sekitar tempat ini memang dianggap daerah yang gawat, ternyata bahwa yang disebut gardu penjaga itu adalah sebuah barak yang tentu berisi lebih dari sepuluh orang.
Ternyata prajurit yang sedang bertugas mengawasi barak itu pun segera melihat kehadiran iring-iringan itu, dan segera ia memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.
Dalam waktu yang singkat, maka disekitar barak itu telah siap menyambut kedatangan mereka lebih dari sepuluh orang prajurit. Mereka telah bersiaga dengan senjata telanjang, karena iring-iringan itu adalah iring-iringan yang mencurigakan.
“Siapakah kalian?” bertanya prajurit yang sedang bertugas, ”berhenti disitu.”
Kiai Gringsing pun kemudian memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti.
”Kemarilah satu atau dua orang yang dapat memberikan keterangan tentang kalian,” perintah pengawal itu pula.
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”Siapakah yang akan pergi bersamaku? Ki Demang atau Adi Sumangkar.”
“Silahkan Ki Demang,” berkata Sumangkar.
Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian kata-nya, ”Ki Sumangkar sajalah. Aku tinggal disini.”
Ki Sumangkarlah yang kemudian pergi bersama Kiai Gringsing ke barak itu menemui para pengawal yang sedang bertugas ditengah-tengah hutan.
“Siapakah kau?” bertanya prajurit yang bertugas.
“Kami datang dari Sangkal Putung Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing.
Prajurit itu memandang Kiai Gringsing sejenak, lalu dipandanginya pula Ki Sumangkar. Bahkan kemudian di tebarkannya tatapan matanya kepada orang-orang yang berdiri agak jauh dari mereka.
“Apakah kalian semuanya datang dari Sangkal Putung?”
“Tidak, tidak semua.”
Prajurit-prajurit yang ada disekitar barak itu pun tertarik ke¬pada beberapa orang yang ternyata telah terluka, sehingga salah seorang dari mereka melangkah mendekat sampai beberapa depa.
“Kenapa kawan-kawanmu terluka,” bertanya pengawal yang sedang berbicara dengan Kiai Gringsing itu.
“Kami membawa ceritera yang panjang,” berkata Kiai Gringsing, lalu, ”sedang iring-iringan ini terdiri dari ti¬ga rombongan.”
“Tiga rombongan?”
“Ya. Yang pertama adalah rombongan kami dari Sangkal Putung. Yang kedua adalah rombongan yang da¬tang, lebih dahulu dari kami, dan yang ketiga adalah penyamun-penyamun.”
“Penyamun?” para pengawal yang mendengar ke¬terangan itu menjadi heran.
Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya tentang penyamun-penyamun itu kepada para penga¬wal, dan maksudnya untuk menyerahkan mereka kepada para pengawal.
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemu¬dian ia melangkah mendekat sambil bertanya, ”Apakah kau berkata sebenarnya?”
“Ya, silahkan bertanya kepada orang-orang yang dating sebelum kami dan yang hampir saja binasa oleh para pe¬nyamun itu.”
“Kenapa kalian tidak dibinasakan sama sekali, mak¬sudku siapakah sebenarnya kalian sehingga kalian dapat membebaskan diri dari para penyamun itu dan bahkan menawannya?”
Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Dipandanginya Ki Sumangkar dan kemudian ia pun berpaling pula kepada Ki Demang di Sangkal Putung.
“Kami memerlukan keterangan yang selengkap-lengkapnya,” berkata pengawal itu. ”Kami tidak mengenalmu dan tidak mengenal orang-orang yang kau sebut penyamun itu. Juga kami tidak mengenal orang-orang yang datang lebih da¬hulu daripadamu dan hampir saja dibinasakan oleh penyamun-penyamun itu.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kecurigaan para pengawal itu.
“Kau dapat memutar balikkan ceritera yang sebenarnya,” berkata prajurit itu kemudian, ”yang hitam kau katakan putih dan yang putih kau katakan hitam karena kebetulan kau dapat menguasai mereka dengan kekerasan.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berpikir, lalu katanya, ”Salah seorang saksi yang dapat dibuktikan adalah Ki Demang di Sangkal Putung. Jika diperlukan maka dapat dibuktikan bahwa ia benar-benar Demang di Sangkal Putung. Ia dapat memberikan kesaksian apa yang telah terjadi.”
“Apakah bedanya Demang Sangkal Putung dan orang-orang yang lain? Jika kau mengancamnya bahwa ia harus berkata seperti yang kau kehendaki, maka ia akan berka¬ta seperti itu.”
Meskipun Swandaru berdiri agak jauh, tetapi ia dapat mendengar kata-kata itu sehingga tiba-tiba saja ia menyahut. ”Aku adalah anak Ki Demang Sangkal Putung. Aku pun sanggup memberikan kesaksian tanpa dipaksa dan bahkan dengan mengucapkan sumpah.”
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu, ”Apakah aku dapat mempercayaimu bahwa kau adalah anak Ki Demang Sangkal Putung.”
“Kalian dapat datang ke Sangkal Putung dan ber¬tanya kepada setiap orang. Terlebih-lebih kepada isteri Ki De¬mang Sangkal Putung itu.”
“Kau sangat yakin bahwa kami tidak akan melaku¬kan pembuktian itu, sehingga kau dapat mengucapkannya dengan sangat lancar.”
Swandaru mendengarkan jawaban itu dengan dada yang berdebaran, sehingga hampir diluar sadarnya ia ber¬kata, ”Jadi bagaimana kami harus membuktikan bahwa kami benar-benar telah melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu?”
“Kiai Gringsing?” ulang pengawal itu, ”yang ma¬na yang kau sebut dengan Kiai Gringsing itu?”
Swandaru tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Gurunya sendiri belum mengucapkan namanya, dan kini ia telah menyebutkannya. Namun karena hal itu sudah terlanjur maka ia tidak akan dapat menariknya kembali.
“Itulah,” katanya, ”yang berbicara dengan Ki Sa¬nak.”
Pengawal itu memandang Kiai Gringsing dengan sak¬sama Namun sekali lagi ia berkata, ”Aku belum pernah mengenalnya.”
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Bahkan ia sudah menjadi agak jengkel karenanya, sehingga dengan suara datar ia bergumam, ”Lalu apa yang harus kami kerjakan? Apa?”
Dalam pada itu, selagi Swandaru dan rombongannya menjadi bingung untuk membuktikan kebenaran keterang¬annya, maka tiba-tiba penyamun yang duduk dipunggung ku¬da karena lukanya itu pun berkata dengan suara parau dan terputus-putus, ”Tuan, bukankah Tuan pengawal Tanah Mataram? Tolonglah kami Kami adalah petani-petani dari Cupu Watu. Kami tidak tahu apakah maksud orang-orang ini mem¬bawa kami dan menyiksanya disepanjang jalan ini.”
Kata-kata itu telah mengejutkan semua orang yang men¬dengarnya. Para prajurit, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya, orang-orang yang telah diselamatkannya dan bahkan penyamun-penyamun yang lain pun terkejut pula. Namun mereka pun segera mengerti maksud keterangan itu, sehingga seorang penyamun yang lain pun segera menyambung, ”Ya Tuan. Kami mohon perlindungan. Kami sama sekali tidak mengerti apa kesalahan kami. Apakah karena kami tidak mau pergi da¬ri Cupu Watu seperti yang mereka kehendaki, atau ada sebab-sebab lain.”
Prajurit yang sedang bertugas itu menjadi tegang. Dan tiba-tiba saja ia berkata lantang, ”Nah, kau dengar kata-kata itu? Jika aku tergesa-gesa mempercayai keteranganmu, maka aku pasti akan terjerumus kedalam kesulitan. Nah, ternya¬ta dengan kekuatan kau ingin menentukan sesuatu yang pasti akan mengganggu ketenangan tanah yang baru dibu¬ka ini. Kau tentu telah mengancam orang-orang itu untuk me¬ngatakan seperti yang kau kehendaki, termasuk Ki Demang Sangkal Putung.”
“Tidak Ki Sanak,” sahut Ki Demang Sangkal Pu¬tung sambil melangkah maju, ”aku bebas menentukan sikap dan kata-kataku. Aku masih bersenjata dan senjataku bernoda darah. Jika seseorang dan siapapun juga ingin me¬maksakan kehendaknya dengan menakut-nakuti aku, maka aku akan menentangnya sampai ujung umurku.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, ”Aku menjadi saksi apa yang telah terjadi. Dan aku telah membunuh seorang dari para pe¬nyamun yang menyerang aku.”
Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum salah seorang dari mereka memberikan tanggapan¬nya, Swandaru tiba-tiba saja tertawa. Katanya disela-sela derai tertawanya, ”Ki Sanak memang aneh.”
“Kenapa kau tertawa,” para pengawal Tanah Mata¬ram itu menjadi heran.
“Mungkin kalian adalah pengawal baru yang terbentuk di Mataram. Jika kalian pengawal-pengawal yang dibentuk da¬ri bekas prajurit-prajurit Pajang, mungkin kalian akan berpikir lain.”
“Gila kau,” bentak seorang pengawal, ”aku bekas prajurit Pajang. Aku datang kemari karena sebuah cita-cita. Aku bukan orang yang pantas kau tertawakan.”
“Hampir kami semuanya pernah menjadi prajurit di Pajang,” berkata yang lain, ”jangan menghina kami.”
Dan pengawal yang berdiri dengan tegangnya ditengah-tengah mereka itu pun membentak keras-keras, ”Kenapa kau tertawa he?”
Swandaru berusaha menghentikan suara tertawanya. Ia melihat sekilas Kiai Gringsing pun ikut menjadi tegang. Namun ia berkata, ”Jika demikian aku keliru. Tetapi ten¬tu bukan semuanya bekas prajurit. Aku bahkan menyang¬ka hanya ada seorang dua saja. Tetapi sekali lagi, aku ke-liru.”
“Apakah sebenarnya maksudmu?” bentak prajurit yang sedang memeriksa Kiai Gringsing.
Swandaru melangkah maju. Tetapi seorang pengawal membentaknya, ”Kau tetap disitu.”
“Baik, baik. Aku akan tetap disini.” Swandaru ber¬diri ditempatnya sambil berpaling. Dipandanginya orang-orang yang ada didalam rombongannya termasuk para penya¬mun. Katanya kemudian, ”Jika kami membawa orang-orang ini dengan paksa tanpa salah, apakah kira-kira kami akan datang kemari dan menyerahkan orang-orang ini kepada para pengawal disini? Kami menganggap bahwa orang-orang ini semula tidak akan pernah mempunyai niat untuk memutar balikkan ke¬adaan. Tetapi kecurigaan Ki Sanak yang berterus terang itu memang menimbulkan suatu ilham kepada mereka, untuk memutar balikkan keadaan seperti yang dikatakan¬nya.”
Para prajurit itu mengerutkan keningnya.
“Nah, apakah keuntungan kami dengan membawa orang-orang Cupu Watu ini kemari dalam keadaan luka dan pa¬yah, dan kemudian menyerahkannya kepada kalian? Jika kami ingin membinasakan mereka, kami pasti sudah mela¬kukannya.”
Keterangan Swandaru itu memang masuk akal. Satu dua orang dari mereka mulai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi prajurit yang sudah terlanjur membentak-bentak itu ma¬sih juga berkata, ”Itu pun omong kosong. Kalian tentu dapat mengambil keuntungan dengan melakukan hal yang gila itu. Kalian dapat melepaskan tanggung jawab kalian. Dan kalian mengharap bahwa kami akan dengan begitu sa¬ja memberikan hukuman kepada orang-orang yang kau sebut penyamun itu tanpa memeriksanya dengan teliti.”
Tetapi Swandaru masih tersenyum. Katanya, ”Semu¬la aku memang bingung, bagaimana mengatakan yang se¬benarnya kepada kalian. Kalian tidak percaya kepada Kiai Gringsing, tidak pula percaya kepada ayahku, Ki Demang di SangKal Putung. Namun tentu aku mempunyai suatu bukti yang dapat kalian lihat. Tidak begitu jauh dari tem¬pat ini. Kami baru saja bertempur. Disana masih ada beberapa sosok mayat yang tergolek yang sebenarnya akan kami serahkan pula kepada kalian disini untuk mendapat perawatan yang sewajarnya.”
“Mayat siapa?” bertanya prajurit itu.
“Para penyamun dan seorang lagi adalah seorang da¬ri antara orang yang akan melintasi Alas Tambak Baya ini. Jika benar kami membawa orang-orang ini dari Cupu Wa¬tu, maka bekas pertempuran itu pasti tidak ada. Jika ka¬lian melihat tempat itu, maka kalian akan dapat mengam¬bil kesimpulan. Bukan saja perkelahian itu sendiri, teta¬pi lebih dalam daripada itu adalah latar belakang dari pertempuran yang terjadi itu, dan kenapa para penyamun berusaha untuk menutup jalan menuju ke Mataram. Bukan saja jalan perdagangan, tetapi juga arus orang yang ingin menetap di telalah yang kini sedang tumbuh itu.”
Para prajurit itu mendengarkan keterangan Swandaru dengan dahi yang berkerut merut. Mereka mulai memper¬cayai keterangan orang-orang yang mereka curigai itu. Bahkan prajurit yang mula-mula menyangkal keterangan Kiai Gring¬sing itu pun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dalam pada itu, selagi persoalan yang timbul pada me¬reka itu masih belum terpecahkan sepenuhnya, mereka mendengar derap kaki-kaki kuda didalam lebatnya Alas Mentaok. Gemanya seakan-akan bergulung-gulung datang dari segala arah. Namun bagi mereka yang memiliki pendengaran yang tajam segera mengerti, dari manakah kuda-kuda itu datang.
Sejenak kemudian sebuah iring-iringan prajurit memasuki halaman barak itu. Agaknya yang berkuda paling depan adalah pemimpin dari prajurit-prajurit itu.
“Nah, ia dating,” berkata prajurit yang langsung minta keterangan kepada Kiai Gringsing, ”ialah yang akan menentukan apakah kita dapat mempercayai kalian.”
Kiai Gringsing pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Na¬mun ia pun kemudian tersenyum ketika orang yang berku¬da di paling depan itu terkejut melihatnya. Kemudian dengan bergegas-gegas ia meloncat turun dan berkata, ”Kiai, kaukah itu Kiai Truna Podang, eh, Kiai Gringsing.”
“Ki Wanakerti,” desis Kiai Gringsing, ”aku dan murid-muridku bersama Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung sedang mengalami pemeriksaan yang teliti. Aku senang melihat ketelitian para prajurit Mataram.”
Ki Wanakerti pun kemudian menyambut tangan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Dengan wajah yang cerah ia memandang kepada Agung Sedayu dan Swandaru, ”Kalian benar-benar memenuhi undanganku.”
Agung Sedayu dan Swandaru pun menganggukkan ke¬pala mereka. Sambil tersenyum Agung Sedayu yang selama itu hanya mendengarkan perdebatan adik seperguruannya itu berkata, ”Kami datang ke barak ini tidak dengan kami sengaja.”
“Kenapa?” Ki Wanakerti mengerutkan keningnya.
Sambil menunjuk orang-orang yang ada disekitarnya ia ber-kata, ”Kami mengantarkan mereka ini.”
Ki Wanakerti memandangi mereka dan kemudian para prajurit. Dilihatnya wajah para prajurit yang disekitarnya menjadi berkerut-merut.
“Apa yang sudah terjadi?” ia bertanya.
Para prajurit itu tidak segera menyahut, sehingga Kiai Gringsinglah yang berkata, ”Tidak terjadi apa-apa disini. Aku baru saja datang.”
Ki Wanakerti memandang Kiai Gringsing sejenak, kemudian kembali kepada wajah para prajurit yang tunduk.
“Apakah telah terjadi salah paham?” Ki Wana¬kerti bertanya.
“Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Aku baru akan mulai menceriterakan apa yang terjadi.”
Para prajurit itu terdiam bagaikan patung yang mem¬beku, sedang penyamun yang telah berusaha memutar ba¬likkan keadaan itu menjadi semakin gemetar. Ia merasa bersalah dua kali lipat, sehingga karena itu, tubuhnya yang lemah menjadi semakin lemah.
“Marilah, aku persilahkan kalian masuk ke dalam gardu yang jelek ini,” berkata Wanakerti kemudian.
“Tetapi gardu ini jauh lebih baik dari gardumu di Alas Mentaok, didaerah yang berhantu itu.”
Ki Wanakerti tertawa. ”Marilah,” sekali lagi mempersilahkan.
“Maaf Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing, ”aku datang bersama beberapa orang dalam kedudukan yang berbeda-beda.”
“O, siapa?”
Kiai Gringsing memandang orang-orang yang ada disebelah menyebelah Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung. Kemudian katanya, ”Aku mempunyai ceritera yang menarik tentang mereka.”
“Tetapi marilah, kami persilahkan kalian duduk. Ma¬rilah aku persilahkan Ki Demang di Sangkal Putung.”
Mereka pun saling berpandangan. Dan Kiai Gringsing pun kemudian berkata, ”Marilah. Marilah Ki Demang,” namun kemudian ia berkata kepada Ki Wanakerti, ”Ki Wanakerti, kami akan memenuhinya, tetapi bagaimana dengan tawanan kami ini?”
“Tawanan?”
“Mereka adalah para penyamun yang telah mencoba menghentikan perjalanan kami.”
Para penyamun itu menjadi semakin gemetar. Kini me¬reka tidak berani lagi membuat ceritera palsu itu, karena agaknya Ki Wanakerti sudah mengenal orang bercambuk itu dengan baik.
“Jadi kalian menawan penyamun sekian banyaknya?” bertanya Wanakerti kemudian.
”Bukan semuanya. Yang lain adalah korban-korban mere¬ka yang belum sempat mereka binasakan.”
Ki Wanakerti memandang penyamun-penyamun itu dengan tajamnya. Lalu katanya kepada prajurit-prajuritnya, ”Awasi mere¬ka. Bawa mereka keserambi dan biarlah yang lain beristirahat.”
Para prajurit itu mengangguk. Katanya, ”Baiklah. Kami akan mengurusnya.”
Demikianlah maka Kiai Gringsing dan rombongannya kemudian dipersilahkan masuk kedalam gubug itu. Setelah saling bertanya tentang keadaan masing-masing sejenak, maka Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan tentang orang orang yang telah ditawannya itu.
Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber-kata, ”Baiklah, aku memang mendapat tanggung jawab didaerah ini. Kami akan mengurusnya sebaik-baiknya.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Demiki¬an pula diluar sadarnya yang lain pun mengangguk-angguk pula.
“Ada beberapa orang terpaksa terbunuh didalam per¬kelahian. Tetapi sayang, bahwa kami tidak dapat menang¬kap puncak dari kekuatan mereka,” berkata Kiai Gringsing kemudian.
“Siapakah orang itu?” bertanya Wanakerti.
“Akulah yang ingin bertanya, apakah didaerah ini ada seseorang yang menyebut dirinya seorang Panembah¬an.”
“Panembahan siapa?”
“Ia menyebut dirinya Panembahan tidak bernama.”
Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, ”Aku belum pernah mendengar.”
“Tentu namanya yang sebenarnya tidak disebutkan nya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.
“Tetapi, apakah orang itu dapat lolos dari tangan Kiai dan kawan-kawan Kiai ini?”
“Ya.”
Ki Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Tentu bukan orang kebanyakan jika ia dapat melepaskan diri da¬ri tangan Kiai.”
Kiai Gringsing mengangguk. Katanya, ”Orang itu memang perlu mendapat perhatian. Aku sudah mencoba mendengarkan keterangan tawanan-tawanan itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakan sesuatu tentang Panem¬bahan tidak bernama itu.”
“Baiklah. Kami akan mencoba mendapat keterangan dari mereka, meskipun sudah tentu keterangan itu tidak akan memuaskan.”
“Tetapi hal itu dapat kau pergunakan sebagai bahan yang cukup penting didaerah tugasmu sekarang ini.”
“Ya. Jika orang itu dapat lolos dari tangan Kiai, maka kami disini, para prajurit, perlu mempertimbangkan. Mungkin pada suatu saat ia akan datang dan melepaskan dendamnya terhadap para prajurit. Karena itu, kami harus bersiap menghadapinya, meskipun akan terlampaui berat.”
“Ada suatu hal yang dapat kau jadikan dasar per¬hitungan menurut pengamatanku Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”meskipun ada satu dua orang yang menonjol diantara mereka, namun kekuatan mereka sama sekali tidak seimbang yang seorang dengan yang lain. Ada diantara mereka yang mampu meloloskan diri dari tangan kami, tetapi ada yang hampir tidak berarti. Justru kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kasar yang tidak mempunyai dasar ilmu apapun selain kekasarannya itu. Sedangkan para prajurit, meskipun diantaranya tidak ada yang mampu mengimbangi Ki Gede Pemanahan, namun hampir semuanya memiliki kemampuan dan ilmu yang sejajar, sehingga apabila terpaksa kalian harus berhadapan dengan mereka, maka kalian dapat membentuk kelompok-kelompok yang kuat.”
Ki Wanakerti mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku harus sudah menyusunnya. Dan kelompok-kelompok itu harus meyakin¬kan. Jika kita meronda disekitar tempat ini dan dijalari menuju keluar, kami harus melepaskan kelompok-kelompok itu.”
“Ya,” sahut Kiai Gringsing, lalu ia pun bertanya, ”sampai kemana saja para pengawal tanah Mataram ini meronda?”
“Kami tidak keluar terlalu jauh dari Alas Tambak Baya. Sebenarnya kami tidak ingin memasuki hutan ini karena hutan ini dapat menlmbulkan persoalan. Hutan ini bukan bagian tersendiri dari Alas Mentaok. Tetapi hutan ini adalah hutan yang terpisah dan berdiri sendiri. Orang-orang Pajang akan dapat mempersoalkannya jika mereka menyadari akan hal ini. Tetapi kami terpaksa memasuki hutan ini karena para penyamun dan orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang berusaha untuk menghentikan arus manusia yang dapat membuat Mataram menjadi semakin ramai. Bahkan jalur-jalur perdagangan hampir berhenti sama sekali. Karena itu, kami mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi hutan ini, dan saat ini kebetulan akulah yang sedang bertugas disini,” Ki Wanakerti berhenti sejenak, lalu, ”tetapi tugas kami be¬lum memenuhi keinginan kami. Ternyata arus manusia dan arus perdagangan masih belum dapat pulih kembali. Setiap kali masih saja ada orang yang hiang dan peda¬gang yang mengalami perampokan.”
“Dan sekarang Ki Wanakerti mengetahui, bahwa orang-orang yang berada dimulut lorong ini sebenarnya adalah mereka itu. Orang-orang yang berjualan dan beberapa orang yang tampaknya sebagai petani-petani yang sedang beristirahat itu.”
“Itulah kebodohan kami. Kami sama sekali tidak memperhitungkan mereka. Apalagi penjual makanan itu.”
“Ialah pemimpin dari setiap perampokan itu. Dan orang itu pulalah yang menyebut dirinya Panembahan tidak bernama itu.”
Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Kiai Gringsing menceriterakan para penyamun itu lebih jauh lagi.
“Sokurlah. Aku baru saja datang dari meronda didaerah Barat sambil mengantarkan tiga orang pedagang sam¬pai ke daerah peronda gardu berikutnya dipintu Alas Tam¬bak Baya. Jika saat itu akulah yang berjumpa dengan Pa¬nembahan tidak bernama itu, maka aku dan sekelompok pasukanku akan binasa. Tetapi kini aku akan membentuk kelompok-kelompok yang Kiai maksudkan itu.”
“Ya, hati-hatilah. Mungkin kekalahannya kali ini akan merangsang orang itu untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh lagi.”
“Tetapi kami dapat tidur nyenyak selama Kiai ada disini.”
“Aku tidak akan berhenti disini. Aku sedang mengan¬tar Ki Demang Sangkal Putung ke Menoreh.”
Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Gringsing dan kawan-kawannya dengan heran.
“Jadi Kiai tidak sedang pergi ke Mataram?” ber¬tanya Ki Wanakerti.
Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Tidak. Kali ini kami akan pergi ke Menoreh.”
“Kenapa Kiai tidak singgah sebentar dan menemui Raden Sutawijaya. Ia tentu senang sekali menerima kunju¬ngan Kiai disaat seperti ini. Sebenarnyalah bahwa Kiai dan kedua murid Kiai itu sudah ditunggu.”
Kiai Gringsmg tersenyum. Katanya, ”Pada suatu saat kami akan singgah. Mungkin setelah kami kembali dengan selamat dari Menoreh. Apabila kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik, maka kami akan mendapat kesem¬patan barang sehari dua hari untuk singgah.”
Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya pula, ”Berapa hari Kiai berada di Menoreh?”
“Kami tidak dapat mengatakannya. Tetapi kami harus secepatnya kembali ke Sangkal Putung. Ki Demang tidak dapat meninggalkan tugasnya terlampau lama ber¬sama-sama dengan anak laki-lakinya sekaligus.”
Wanakerti masih mengangguk-angguk.
“Nah, salamku kepada Raden Sutawijaya dan kepa¬da Ki Lurah Branjangan.”
“Ki Lurah Branjangan?”
“Ya. Aku bertemu dengan Ki Lurah pada peralatan perkawinan Untara.”
“O. Ia memang mendapat tugas untuk datang saat itu.”
“Dan ia pun mengalami sesuatu yang dapat dijadi¬kan bahan pembicaraan dengan Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan. Sedang kini, kau disini menghadapi hal yang hampir serupa.”
Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Aku sudah mendengar ceritera Ki Lurah Branjangan.”
“Dan kini Ki Lurah Branjangan harus mendengar pula ceriteramu.”
“Ya,” sahut Ki Wanakerti, ”semua pemimpin dari tanah Mataram harus mendengarnya. Tetapi ada satu yang sama dari ceriteraku dan ceritera Ki Lurah Branjangan.”
“Apa?”
“Bahwa baik peristiwa di Jati Anom dan Banyu Asri itu, maupun peristiwa di Alas Tambak Baya, bahkan di Alas Mentaok ketika Kiai Damar dan Kiai Tapak Jalak masih merajalela, selalu muncul beberapa orang bercam¬buk dan seorang yang bersenjata Trisula yang aneh. Kini orang itu muncul pula disini. Malahan bersama Ki De¬mang Sangkal Putung.”
“Ah,” desah Kiai Gringsing, ”itu hanya suatu ke¬betulan. Tentu ada berpuluh-puluh peristiwa yang telah terjadi dan ditangani sendiri oleh Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”
“Tentu. Tetapi justru peristiwa yang tidak kalah besar telah dengan kebetulan kalian selesaikan. Dan sudah barang tentu Ki Gede Pemanahan akan mengucapkan terima kasih kepada kalian.”
“Lain kali kami akan singgah. Tetapi kali ini kami terpaksa sekali meneruskan perjalanan, karena perjalanan kami kali ini adalah perjalanan yang sangat penting bagi kami dan terutama bagi Swandaru.”
Ki Wanakerti tidak dapat menahan lebih lama lagi. Kiai Gringsing dan kawan-kawannya tidak mau tinggal lebih lama lagi di gardu itu. Tetapi alasan mereka dapat dimengerti oleh Ki Wanakerti, sehingga Ki Wanakerti tidak menahan lebih lama lagi.
“Kami mengucapkan selamat jalan. Tetapi yang telah terjadi merupakan peringatan bagi kami. Ternyata bahwa di hutan ini ada kekuatan yang tidak dapat kami anggap ringan. Bahkan yang sebenarnya adalah jauh lebih besar dari kekuatan kami seorang demi seorang.”
“Ingat Ki Wanakerti. Berapa orang yang mempunyai kekuatan yang tidak terduga itu. Kiai Damar, Kiai Tela¬pak Jalak, orang-orang yang menyerang Jati Anom dan sekarang dua orang lagi. Meskipun dari yang dua itu seorang telah terbunuh, namun masih ada seorang lagi yang mungkin dapat mencari kawan baru yang memiliki kekuatan seru¬pa. Tetapi mungkin juga orang yang menyebut dirinya Panembahan tidak bernama itu justru termasuk orang ter¬penting dari lingkungan yang masih merupakan rahasia bagi Mataram.”
“Ya. Aku segera menyampaikannya kepada Ki Ge¬de Pemanahan. Segera setelah kami menyadari, kami akan membentuk beberapa kelompok pengawal untuk mengha¬dapi setiap kemungkinan.”
“Baiklah. Kami akan segera mohon diri. Terserahlah orang-orang yang datang bersama kami. Baik para penyamun maupun orang-orang yang sebenarnya ingin pergi ke Mataram itu. Selebihnya kami serahkan juga mayat-mayat yang masih berserakan di hutan itu. Kami harap mayat-mayat itu dapat disele¬nggarakan seperlunya.”
“Baik Kiai. Kami mengucapkan terima kasih, tentu Raden Sutawijaya menunggu kedatangan kalian Mataram.”
Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun segera minta diri bersama Ki Sumangkar, kedua murid-muridnya dan Ki Demang Sangkal Putung. Mereka ingin segera sampai ketempat tujuan, setelah perjalanan mereka terganggu beberapa lamanya. Dan mereka pun menyadadari bahwa mereka akan bermalam diperjalanan.
Tetapi bagi mereka, bermalam dimana pun juga bukan merupakan persoalan lagi, karena mereka sudah membiasakan diri bertualang, selain Ki Demang Sangkal Putung.
Demikianlah, maka Kiai Gringsing bersama rombongan kecilnya itu pun segera meninggalkan gardu yang ter¬nyata dipimpin oleh Ki Wmakerti itu. Beberapa orang pengawal memandang mereka dengan hati yang berdebar-debar. Hampir saja timbul salah paham diantara mereka. Jika terjadi sesuatu, maka Ki Wanakerti tentu akan sangat marah kepada mereka
Tetapi ketika Ki Wanakerti sempat berceritera tentang Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya, maka para pe¬ngawal itu hanya dapat mengusap dadanya. Nama Kiai Gringsing memang pernah mereka dengar. Tetapi mereka tidak berpikir jauh. Seandainya terjadi sesuatu, bukan Ki Wanakerti marah kepada mereka, tetapi Ki Wanakerti akan merenungi mayat-mayat mereka yang berserakan seperti mayat penyamun itu.
“Jadi mereka itulah yang disebut orang-orang bercambuk itu Ki Wanakerti?” bertanya seorang pengawal.
“Ya. Bukankah kalian melihat senjata orang-orang itu adalah hanya sehelai cambuk.”
“Tetapi cambuk itu mampu membunuh. Mampu membelah lambung.”
“Itulah keahlian mereka. Cambuk itu berkarah besi baja yang tipis, hampir tidak terlihat. Jika mereka meng¬hendaki, maka tarikan yang khusus dari permainan cam¬buknya akan menyobek daging. Tetapi jika mereka tidak menghendaki, maka dengan cara yang hanya dapat dipelajari dalam waktu yang lama, maka bekas lukanya pun seakan-akan tidak lebih parah dari lecutan cambuk gembala kam¬bing.”
Para prajurit Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah agaknya yang membuat luka-luka yang berbeda-beda pada para penyamun itu pada tubuh mereka. Ternyata bahwa Kiai Gringsing dan kedua muridnya benar-benar menguasai permainan cambuk mereka dengan baik.
Dalam pada itu, maka Ki Wanakerti pun segera memerintahkan pengawal-pengawal itu untuk menyelenggarakan mayat para penyamun yang terbunuh. Tetapi sehubungan dengan keterangan Kiai Gringsing bahwa masih ada seorang yang perlu mendapat perhatian, orang yang menyebut dirinya Panembahan tidak bernama itu, maka Ki Wanakerti pun telah membagi anak buahnya menjadi dua kelompok. Yang separo tinggal digardu dan yang lain pergi ke bekas arena perkelahian itu untuk mengubur mayat-mayat yang masih ber¬hamburan.
Sementara itu, Kiai Gringsing bersama kedua murid¬nya, Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Sumangkar, telah menjadi semakin jauh terbenam kedalam hutan yang lebat meskipun tidak begitu luas. Namun mereka masih harus melintasi hutan yang lebih besar lagi, yaitu Alas Mentaok yang sedang dibuka untuk menjadi suatu daerah yang ra¬mai dan dinamai Mataram dibawah pimpinan Raden Sutawijaya.
Tetapi pembukaan hutan itu tidak dapat berlangsung secepat dikehendaki oleh orang-orang Mataram. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun satu demi satu rintangan-rintangan itu dapat diatasinya.
Demikianlah ketika malam tiba, Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya masih belum menyeberangi Kali Praga. Mereka sengaja bermalam disebelah Timur sungai di sebuah padang perdu tidak begitu jauh lagi dari tepian.
Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka mereka pun mencari tempat yang baik dan tidak berbahaya, karena kadang-kadang ular banyak berkeliaran di padang perdu. Tetapi karena didekat Kali Praga, tanahnya berpasir, maka agak¬nya ular tidak begitu senang tinggal didaerah itu.
“Bagaimana kita besok menyeberang?” bertanya Swandaru kepada Kiai Gringsing.
“Kita bergeser sedikit ke Selatan. Di jalur jalan per¬dagangan antara sebelah Barat dan sebelah Timur sungai itu pasti terdapat tempat penyeberangan.“
“Jalur jalan yang mana yang Guru maksud?” ber¬tanya Swandaru pula.
“Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, hubungan antara daerah di sebelah Barat dan disebelah Timur ber¬langsung dengan ramainya. Meskipun pada waktu-waktu yang lampau, pusat perdagangan disebelah Timur Kali Praga ber¬pusat diujung Selatan, didaerah Kademangan Mangir dan sekitarnya. Kemudian daerah Pliridan yang lewat jalur yang agak sulit menghubungkan daerah itu dengan daerah Prambanan lewat jalan Selatan, dan yang akhir-akhir ini mu¬lai ramai pula jalan tembus di Hutan Tambak Baya dan Hutan Mentaok. Namun yang kemudian terhenti karena para penyamun itu.”
Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Agung Sedayu pun bertanya, ”Apakah hanya ada sebuah tempat penyeberangan?”
“Tentu tidak. Dimusim kering, kita dapat menyebe¬rang tanpa perahu meskipun agak berbahaya di daerah yang agak ke Utara. Tetapi lebih baik kita menyeberang didaerah penyeberangan itu dengan getek. Apalagi kini kita membawa beberapa ekor kuda.”
Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagi Sumangkar, jalan ke Menoreh itu sama sekali tidak menjadi persoalan. Ia sudah sering menyeberangi sungai-sungai yang besar di sebelah Timur, dan ia pun pernah juga menyeberangi Sungai Praga bersama Sekar Mirah seperti juga Agung Sedayu dan Swandaru. Namun pada saat itu mereka memang tidak membawa kuda.
Namun bagi Ki Demang, menyeberangi Kali Praga itu masih juga menjadi pikirannya. Tetapi untunglah bahwa bukan musimnya Kali Praga menjadi besar dan apalagi banjir.
Demikianlah, maka malam itu mereka bermalam disebelah Kali Praga. Ternyata tempat itu merupakan tempat yang tenang dan tidak berbahaya sama sekali.
Meskipun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspa¬daan. Ber-ganti-ganti mereka berjaga-jaga. Meskipun tampaknya tempat itu tidak berbahaya, tetapi tidak seorangpun yang mengetahui apa yang tersembunyi dibalik dedaunan dan pepohonan.
Di setengah malam pertama, Kiai Gringsing mendapat giliran bersama Swandaru, sedang di setengah malam ke¬dua Ki Sumangkar berjaga-jaga bersama Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung.
Demikianlah, ketika fajar menyingsing di Timur, mereka pun segera berkemas. Mereka membersihkan diri di Kali Praga dan kemudian menyusur ke Selatan.
Semakin dekat dengan laut Selatan, maka Kali Praga itu tampaknya menjadi semakin lebar dan dalam. Airnya tidak mengalir deras lagi. Tetapi rasa-rasanya sungai itu men¬jadi bertambah garang.
Karena masih terlampau pagi, maka belum banyak orang yang menyeberang di seberangan Kali Praga itu. Te¬tapi sudah ada satu dua getek yang menyusur tepian se¬belah menyebelah.
Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun kemudian memanggil sebuah getek untuk menyeberang. Mereka berlima dan kuda-kuda mereka.
Mula-mula pemilik getek itu dan seorang kawannya tampak ragu-ragu. Bahkan kawannya itu hampir saja tidak bersedia. Namun Kiai Gringsing dengan hati-hati mencoba memberikan kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan yang jauh.
“Apakah tidak pernah ada orang berkuda menyebe¬rang sungai ini?” bertanya Kiai Gringsing.
”Ada juga Ki Sanak. Tetapi akhir-akhir ini kami melihat kesibukan yang meningkat di Mataram. Para pengawal menjadi terlampau sibuk. Beberapa orang kadang-kadang tampak mengawasi tempat ini. Bahkan kadang-kadang mereka duduk hampir sehari penuh ditepian.”
“Apakah salahnya?”
“Tidak apa-apa Ki Sanak. Tetapi jika kami menyusur sungai ini lebih ke Selatan. Maka kami melihat kesibukan yang serupa. Tetapi bukan pengawai dari Mataram. Me¬reka adalah pengawal dari Kademangan di telatah Mangir.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Apakah ter¬jadi sedikit ketegangan antara Mataram yang sedang tum¬buh ini dengan Mangir?
Tetapi Kiai Gringsing tidak bertanya lebih lanjut. Ia pura-pura tidak memperhatikan persoalan pengawal dari Mata¬ram dan pengawal-peengawal Kademangan Mangir.
“Ki Sanak,” berkata pemilik getek itu, ”ternyata bukan saja disebelah Timur sungai. Tetapi di sebelah Ba¬rat sungai ini pun tampak kegiatan para pengawal yang meningkat. Sebelumnya kami hampir tidak pernah melihat seorang pengawal pun dari Tanah Perdikan Menoreh yang sampai ketepian Kali Praga. Tetapi kini sekali dua kali ka¬mi melihat pengawal-pengawal berkuda seakan-akan mengawasi daerah penyeberangan ini.
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa hatinya berdebaran, namun sama sekali tidak berkesan apapun diwajahnya. Bahkan ia masih juga bertanya, ”Ja¬di disebelah Barat sungai ini, sudah termasuk daerah ke¬kuasaan Tanah Menoreh.”
“Ya. Tanah Perdikan Menoreh terbentang dari ujung Selatan sampai ke Utara. Agak panjang, meskipun tidak terlampau melebar ke Barat. Namun Tanah Perdikan Me¬noreh, termasuk daerah yang luas. Tetapi didalam daerah yang luas itu, beberapa bagian terdiri dari bukit-bukit yang tan¬dus, meskipun bagian yang lain adalah dataran yang su¬bur.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sebenarnya sudah memahami daerah Tanah Perdikan Menoreh itu. Bukit-bukit yang keras membentang ke Utara. Namun disebelah Timur dari bukit-bukit padas itu adalah tanah yang subur.
“Ki Sanak,” bertanya Kiai Gringsing kemudian, ”apakah dengan demikian berarti kegiatan perdagangan le¬wat daerah penyeberangan ini menjadi susut?”
“Tidak,” pemilik getek itu menggeleng, ”tetapi aku kenal hampir semua pedagang yang sering lewat daerah ini. Aku mengenal mereka seorang demi seorang dengan baik. Dan kami memang agak ragu-ragu melihat Ki Sanak se¬rombongan kecil ini, karena Ki Sanak bukan pedagang-pedagang yang kami kenal itu. Apalagi ujud dan sikap kalian me¬mang bukan sikap yang sering kami jumpai didalam penye¬berangan ini.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata para pemilik getek didaerah penyeberangan ini mempunyai pandangan yang tajam terhadap orang-orang yang lewat.
“Mereka setiap hari melihat orang-orang yang kemudian mereka kenal itu menyeberang. Bahkan sikap dan kebiasaan mereka. Mungkin barang-barang yang mereka bawa,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.
“Ki Sanak,” katanya kemudian, ”sebaiknya Ki Sanak tidak ragu-ragu. Kami memang orang-orang yang jarang se¬kali lewat daerah ini. Tetapi bukan berarti bahwa kami tidak pernah sama sekali lewat. Mungkin kecurigaan Ki Sanak atas kami beralasan. Namun sebenarnyalah kami adalah orang-orang yang ingin berkunjung kepada sanak sau¬dara kami yang kebetulan tinggal di Menoreh. Di Tanah Perdikan Menoreh.”
Pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seje¬nak mereka merenung. Namun kemudian pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ”Baiklah. Marilah Ki Sanak naik.”
Kiai Gringsing dan kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian naik keatas getek bersama dengan kuda-kuda mereka. Sejenak kemudian maka getek itu pun mulai bergerak dan melintas arus Kali Praga yang tidak begitu deras.
Di tengah-tengah sungai, Kiai Gringsing masih sempat juga bertanya, ”Apakah Ki Sanak pernah mendapat kesulitan dari orang-orang yang menyeberang?”
Tukang getek itu tidak segera menyahut. Dipandangi¬nya wajah kawan-kawannya sejenak. Tampaklah keragu-raguan membayang di tatapan mata mereka.
Namun pemilik getek itu akhirnya menjawab, ”Pada umumnya tidak Ki Sanak.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian katanya pu¬la, ”Aku dapat menangkap keteranganmu. Pada umum¬nya memang tidak. Tetapi dengan demikian kadang-kadang kau pernah juga mendapat kesulitan itu.”
Dengan ragu-ragu orang itu mengangguk.
“Apakah yang pernah terjadi?” bertanya Kiai Gringsing pula, ”jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku ingin mendengar ceritera dan pengalaman Ki Sanak sela¬ma menjadi tukang getek ini.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak se¬gera menjawab.
“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, ”aku me¬mang orang yang jarang sekali menyeberang. Karena itu aku dan kawan-kawanku ingin berhati-hati, barangkali tiba-tiba saja kami dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak kami duga-duga sebelumnya.”
Tukang satang itu menelan ludahnya. Namun kemu¬dian katanya, ”Tidak banyak kesulitan yang pernah aku alami disini. Hanya memang pernah terjadi, seorang penum¬pang getek ini berbuat kasar terhadap penumpang yang lain. Bahkan merampas segala barang-barang yang mereka ba¬wa.”
“O, mereka adalah penyamun.”
“Ya. Mereka telah menyamun semua barang-barang milik para penumpang. Bahkan salah seorang telah mereka lukainya.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dan Ki Sumangkar yang selama itu mendengarkan ceritera itu pun bertanya, ”Ki Sanak saat itu menyeberangkan para penumpang itu dari sisi Timur ke Barat atau sebaliknya.”
“Aku membawa mereka dari sisi Barat ke Timur. Be¬gitu getek kami merapat ditepian, orang itu pun segera me¬loncat dan lari menghilang didalam semak-semak. Kami sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi orang itu ber¬senjata.”
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Agung Sedayu masih bertanya, ”Apa¬kah penyamun itu hanya seorang? Dan berapa orangkah yang telah dirampas barangnya?”
“Ya. Penyamun itu hanya seorang. Waktu itu semua penumpang getek ini adalah enam orang.”
“Semuanya laki-laki?”
“Ya, Semuanya laki-laki. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang yang lambat memberikan barang-barangnya telah dilukainya dengan senjatanya itu.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi menurut dugaannya orang itu adalah penyamun biasa. Bukan golongan orang-orang yang mendapat tugas untuk memagari Mataram. Meskipun demikian kemungkinan itu pun dapat juga terja¬di, betapapun kecilnya.
Sejenak kemudian mereka pun tidak lagi berbicara un¬tuk beberapa saat. Swandaru duduk dibibir getek sambil memandangi air yang berwarna coklat keputih-putihan. Sekali-sekali tanpa disadarinya tangannya menyentuh air yang agak keruh itu.
Namun tiba-tiba saja terasa bulu-bulunya meremang ketika ia melihat sesuatu yang hanyut didalam air yang keruh itu. Tidak terlalu cepat, karena arus air Kali Praga sema¬kin dekat dengan muaranya menjadi semakin lamban, sekali-sekali tampak sesuatu itu mengambang diatas air, namun sekali-sekali hilang dibawah permukaan.
“Guru,” terdengar suaranya bergetar, ”Lihat.”
Semua orang berpaling kearahnya.
“Lihat,” ia mengulangi sambil menunjuk kepada benda yang terapung itu.
“Uh,” Ki Demang berdesah, sementara Agung Sedayu mengerutkan keningnya.
“Apakah hal itu sering terjadi?” bertanya Kiai Gringsing kepada tukang getek itu.
Tetapi wajah tukang getek itu pun menjadi tegang. Jawabnya, ”Akhir-akhir ini kadang-kadang memang terdapat mayat yang nanyut di Kali Praga. Dua hari yang lalu, kami melihatnya pula.”
“Sebelum dua hari yang lalu, apakah hal yang serupa pernah terjadi?”
Tukang getek itu menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata, ”hampir sebulan yang lalu. Tetapi aku tidak melihatnya sendiri.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi berbagai pertanyaan menyentuh dasar hatinya.
“Apakah mungkin pula penyamun seperti yang per¬nah terjadi disini?” desis Agung Sedayu. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, ”Apakah di sebelah Utara terdapat pula tempat penyeberangan?”
“Ya, tetapi agak jauh.”
“Apakah mungkin mayat-mayat itu hanyut dari tempat itu?”
Pemilik getek itu tidak menyahut. Tetapi dilayang¬kannya tatapan matanya menyusur sungai yang panjang dan luas itu.
“Jika pada suatu ketika hal itu menjalar kemari,” tukang getek yang lain bergumam, ”kami akan kehilang¬an mata pencaharian, karena tidak ada lagi orang yang mau menyeberang.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, ”Apakah mayat itu dibiarkannya saja hanyut?”
“Apakah yang dapat kita lakukan?”
“Apakah tidak ada yang mengambilnya dan mengu¬burkannya baik-baik.”
Pemilik getek itu merenung sejenak, lalu, ”Ada juga niat kami melakukannya. Tetapi kami tidak tahu sebab kematian orang itu. Bagaimana jika ada penyakit yang me¬nular?”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan Swandaru pun ikut mengangguk-angguk pula. Ternyata para tu¬kang getek di Kali Praga itu pun sudah mempunyai per¬timbangan yang jauh.
Sambil memandangi mayat yang terapung-apung itu, Agung Sedayu berkata pula, ”Memang ada juga bahayanya jika terjadi ada penyakit menular di padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah sungai ini. Tetapi apakah mungkin seseorang yang meninggal karena penyakit menular dilemparkan be¬gitu saja kedalam sungai?”
”Tentu kami tidak mengetahui dengan pasti. Teta¬pi kemungkinan itu memang ada. Orang-orang yang terkena pe¬nyakit menular kadang-kadang diasingkan sehingga tidak ada orang yang mengurusinya. Mungkin ia mati selagi ia berada ditepi sungai ini, atau sebab-sebab yang lain, sehingga ia ter¬jerumus masuk ke dalamnya.”
Agung Sedayu masih mengangguk-angguk meskipun rasa-rasanya masih saja ia ingin mendengar penjelasan orang itu. Namun demikian ia tidak bertanya lagi.
Tetapi dalam pada itu Kiai Gringsinglah yang berta¬nya, ”Ki Sanak. Memang mungkin penyakit menular itu menghantui kalian disini. Tetapi apakah ada alasan lain daripada penyakit menular itu?”
Pemilik getek itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Tidak ada alasan apapun.”
Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, la¬lu, ”Ki Sanak. Aku minta maaf kalau kali ini aku salah menebak. Tetapi menurut dugaanku, memang ada perso¬alan lain yang membuat kalian disini ragu-ragu untuk meng¬ambil mayat-mayat itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “menurut dugaanku, kalian selain takut akan kemung¬kinan penyakit menular itu kalian juga takut terlibat pada suatu tindakan kejahatan apabila kalian mengambil mayat itu, karena kalian menduga bahwa dibagian atas dari padukuhan dipinggir sungai ini telah terjadi keru¬suhan. Agar kalian tidak terseret dalam suatu persoalan yang kalian tidak tahu menahu, maka kalian lebih baik sama sekali tidak campur tangan. Bukankah begitu?”
Pemilik getek itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia diam mematung. Namun sejenak kemudian ia berkata de¬ngan suara gemetar, ”Tidak. Tidak. Aku tidak mengata¬kan begitu.”
“Tetapi apakah kau menganggap bahwa tidak ada perasaan itu didalam hatimu?”
Pemilik getek itu tidak segera menyahut. Namun ke¬mudian ia berkata, ”Kita sudah sampai.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Mereka me¬mang sudah sampai diseberang.
“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing, ”kami akan melakukan perjalanan didaerah Menoreh. Tetapi beritahukan kepada kami, apakah pernah kau lihat sesuatu terjadi didaerah ini? Misalnya kekerasan dan semacamnya yang dapat kau lihat dari getekmu?”
Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Ti¬dak.”
“Benar?”
Orang itu memandang kesekitarnya. Rasa-rasanya ada se¬suatu yang membayangi perasaannya. Namun kemudian ia berkata, ”Tidak. Tidak ada sesuatu yang pernah terjadi. Daerah itu diawasi dengan saksama oleh para pengawal Tanah Perankan Menoreh. Seperti yang aku katakan, setiap kali ada peronda yang lewat didaerah ini.”
“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing.
Setelah memberikan upah penyeberangannya, maka mereka berlima pun naik ketepian sebelah Barat sambil me¬nuntun kuda mereka. Kemudian setelah mereka berada ditempai yang datar, mereka pun segera melanjutkan per¬jalanan mereka diatas punggung kuda.
Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang rata. Ber¬beda dengan perjalanan mereka selama dihutan Tambak Baya dan Mentaok, mereka pun tidak menemui hambatan-hambatan. Kuda-kuda mereka dapat berlari meskipun tidak terlalu kencang karena berbagai macam pertimbangan. Agar tidak menumbuhkan kecurigaan mereka berusaha un¬tuk tidak menarik perhatian dan berbuat sesuatu yang asing.
“Daerah ini masih tetap subur dan tenang,” berka¬ta Swandaru.
“Ya. Seperti ketika kita meninggalkannya,” sahut Agung Sedayu.
“Tetapi ada juga bedanya,” berkata Kiai Gring¬sing, ”ternyata Menoreh menganggap perlu meningkat¬kan pengawasannya disepanjang Kali Praga. Tentu hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan.”
Ki Sumangkarlah yang menyahut, ”Ya. Tentu ada alasannya. Tetapi menurut pendapatku, hal itu bukan tim¬bul karena persoalan yang terjadi di Menoreh sendiri.”
“Ya, Aku sesuai. Menoreh tidak mau menjadi tem¬pat pelarian, atau alas dan sarang dari orang-orang yang men¬jadi buruan di Mataram dengan berbagai alasan,” sahut Kiai Gringsing.
“Itulah alasan yang tepat,” Ki Demang yang sela¬ma itu berdiam diri itu menyahut, ”aku pun sama sekali tidak akan membiarkan daerahku menjadi tempat persembunyian orang-orang buruan dari telatah disekitar Sangkal Putung.”
“Yang menjadi persoalan kemudian,” berkata Kiai Gringsing, ”apakah Menoreh sudah mencium persoalan orang-orang yang berusaha memagari Mataram, atau Menoreh sendiri tidak senang melihat Mataram berkembang.”
“Tentu bukan,” Swandarulah yang menyahut, ”Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian.”
Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, ”Tentu. Ki Gede Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian. Ki Gede Menoreh adalah orang yang berjiwa besar. Apalagi ia yakin akan perkembangan daerahnya sendiri. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak berdiri sendiri.”
“Maksud Guru orang-orang yang ada disekitarnya? Pem¬bantunya atau pelaksana dipadukuhan-padukuhan apalagi yang jauh dari padukuhan induk?”
Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Kemu¬dian kepalanya terangguk kecil sambil menjawab, ”Se¬muanya baru merupakan dugaan. Mungkin benar dan mungkin sama sekali tidak benar. Seperti di Pajang, ada perwira-perwira yang dengan keras menentang perkembangan Mataram, sedang yang lain masih dapat menilai keadaan dengan tenang.”
Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, ”Memang mungkin.”
“Orang-orang disebelah sungai ini mempunyai kepenting¬an langsung dengan perkembangan Mataram,” berkata Ki Sumangkar kemudian, ”ada yang merasa beruntung apabila diseberang Timur sungai menjadi ramai. Tetapi ada yang merasa disaingi. Semula orang-orang disebelah Sela¬tan Alas Mentaok mengambil bahan-bahan keperluan sehari-hari di sebelah Barat Kali Praga. Tetapi jika Alas Mentaok sudah menjadi ramai dan menjadi sumber bahan-bahan yang serupa, maka hal itu akan menjadi persaingan yang berat bagi daerah seberang sungai. Orang-orang disekitar Alas Mentaok tidak perlu lagi menyeberangi Kali Praga untuk mendapat bahan keperluannya yang sebelumnya harus dibelinya dari daerah Menoreh.”
“Tetapi tentu bukan atas persetujuan Ki Gede Me¬noreh,” sahut Swandaru.
“Tentu tidak,” berkata Sumangkar selanjutnya, ”dan sikap itu adalah sikap yang mencerminkan kekerdil¬an pikiran. Tetapi ada saja orang yang berpikiran kerdil serupa itu.”
Swandaru merenung sejenak. Tetapi ia tidak segera menjawab.
“Tetapi,” Kiai Gringsinglah yang berbicara kemu¬dian. ”Orang-orang yang mempunyai pandangan jauh justru akan menyambut perkembangan Mataram dengan senang hati, karena perkembangan Mataram tentu akan menum¬buhkan kemungkinan-kemungkinan baru meskipun ada juga persaing¬an yang akan timbul. Tetapi Mataram pasti memerlukan banyak hal yang tidak dapat dihidupinya sendiri, sehingga harus ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan daerah disekitarnya. Jika Mataram akan membuka tanah pertanian yang luas, sehingga mereka ti¬dak memerlukan padi dari Menoreh, namun Mataram harus mengambil ternak dan barangkali barang pecah belah jembangan, kendi, mangkuk dan gerabah lainnya.”
Swandaru mengangguk-angguk. Bahkan Agung Sedayu dan Ki Demang pun mengangguk-angguk pula. Mereka dapat menger¬ti, bahwa goncangan yang dapat timbul karena lahirnya daerah baru itu, apabila tidak dilandasi dengan prasangka, akan tidak menumbuhkan pengaruh buruk. Bahkan apabi¬la kedua belah pihak berbuat dengan jujur, maka akan da¬pat menimbulkan hubungan yang menguntungkan.
“Tetapi apakah hubungan yang demikian dapat dija¬lin antara Mataram dengan Menoreh,” pertanyaan itu masih iuga sering timbul. Apalagi pertanyaan yang serupa, “Bagaimana dengan Pajang?”
Sejenak kelima orang berkuda itu saling berdiam diri. Matahari yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang cerah dilangit yang bersih. Dihadapan mereka terbentang tanah persawahan yang subur dan luas. Tetapi sebentar lagi, diseberang Kali Praga itu pun akan terdapat tanah persawahan yang serupa.
Dalam pada itu, ternyata perjalanan mereka telah me¬narik perhatian beberapa orang petani yang sedang beker¬ja disawah. Meskipun mereka sering juga melihat orang-orang berkuda yang lewat jalan itu, tetapi kelima orang berkuda yang lewat itu pasti bukan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.
Meskipun demikian, para petani itu segera tidak menghiraukannya lagi. Bukan hal yang aneh jika orang-orang itu adalah orang-orang yang sekedar melintas atau seandainya mereka ingin berkunjung kepada sanak kadangnya yang ting¬gal di Menoreh pun bukannya suatu hal yang mengheran¬kan.
Namun demikian, rasa-rasanya ada juga pertanyaan yang tumbuh dihati mereka sehubungan dengan perkembangan keadaan terakhir. Terutama diseberang Kali Praga yang sedang tumbuh menjadi suatu negeri yang ramai.
Demikianlah Kiai Gringsing bersama rombongan ke¬cilnya berkuda disepanjang bulak yang panjang. Meskipun tidak terlalu cepat tetapi kuda mereka itu pun berlari, se¬hingga mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu la¬ma untuk mencapai Kademangan induk Tanah Perdikan Menoreh.
“Apakah perjalanan ini masih panjang?” bertanya Ki Demang.
“Kita mengharap sebelum tengah hari kita sudah akan sampai,” jawab Kiai Gringsing, ”asal tidak ada gangguan apapun diperjalanan.”
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu, ia pun memperhatikan daerah yang masih agak asing baginya, meskipun ia pernah lewat sepintas ketika ia ma¬sih muda. Hanya lewat daerah ini ketika ia sedang menem¬puh perjalanan yang jauh bersama ayahnya dahulu, ketika ayahnya mengunjungi orang yang sangat dihormati disebelah Barat pegunungan Menoreh. Orang itu adalah kakek ayahnya yang tinggal dilingkungan keluarga neneknya. Karena itulah ia hampir tidak dapat mengenali lagi tlatah Menoreh yang berkembang dengan pesatnya itu. Hutan-hutan menjadi semakin sempit dan jarang. Sedang sawah dan petegalan menjadi semakin luas.
Tetapi Menoreh sekarang rasa-rasanya menjadi semakin cantik dengan tanamannya yang hijau terbentang sampai kekaki pebukitan.
Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan rombongan kecil¬nya maju terus. Semakin lama semakin dekat dengan padukuhan induk. Disepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara tentang apapun juga. Bahkan tentang perjalan¬an itu sendiri.
Semakin dekat dengan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh, Swandarulah yang menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang terlontar pertanyaan didalam ha¬tinya, ”Apakah Pandan Wangi masih ingat kepadanya?”
“Tentu,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, ”se¬bagai seorang yang setia, ia tidak boleh mengingkari jan¬ji yang pernah diucapkannya,” ia merenung sejenak, lalu, ”kecuali jika Ki Gede Menoreh tidak telaten lagi menung¬gu karena justru Ki Gedelah yang menganggap aku telah ingkar.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Dan dipersalahkannya dirinya sendiri. Bahkan gurunya. Ia terlalu lama ber¬ada di Alas Mentaok, melayani hantu-hantu yang berkeliaran. Kemudian perkawinan Untara dan segala macam persoal¬an yang menghambat perjalalannya. Meskipun ia hanya terhambat beberapa saat saja, rasa-rasanya ia benar-benar tergang¬gu.
Bukan hanya Swandaru sajalah yang menjadi cemas. Bahkan Kiai Gringsing pun mulai berpikir juga. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang mekar. Jika ia mengang¬gap Swandaru terlalu lama melupakannya, dan bahkan ia menganggap bahwa Swandaru tidak akan datang kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka ia pun tidak terikat lagi.
“Apakah yang akan terjadi jika kini Pandan Wangi telah bersuami?” pertanyaan itu pun tumbuh pula didalam hati Kiai Gringsing.
Namun demikian mereka berjalan terus. Mereka harus membuktikannya lebih dahulu, apakah memang demikian, atau hal itu hanyalah semata-mata angan-angan mereka saja.
Kelima orang itu menjadi termangu-mangu ketika mereka melihat debu yang mengepul dijalan berbatu-batu dihadapan mereka. Beberapa ekor kuda berlari-lari berlawanan arah dengan rombongan kecil itu.
“Para pengawal,” desis Kiai Gringsing.
“Apakah mereka dapat menghalangi perjalanan kita?” bertanya Ki Demang.
“Mungkin tidak. Kita akan berkata berterus terang.”
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia ti¬dak mengatakan sesuatu lagi. Meskipun demikian kening¬nya berkerut juga ketika para pengawal Tanah Perdikan itu menjadi semakin dekat.
Dugaan mereka tentang orang-orang berkuda itu ternyata tepat. Yang datang itu adalah beberapa orang pengawal berkuda. Empat orang. Mereka adalah anak muda yang belum pernah dikenal oleh Kiai Gringsing dan kedua muridnya.
Ketika kuda-kuda itu menjadi semakin dekat, seorang pe¬ngawal yang ada dipaling depan mengangkat tangannya dan sekaligus menarik kekang kudanya, sehingga keempat pengawal itu pun segera berhenti. Demikian pula Kiai Gringsing dan iring-iringan kecilnya pun telah berhenti pula.
Anak muda yang agaknya memimpin ke empat penga¬wal itu maju beberapa langkah. Kemudian dengan nada datar ia bertanya, ”Siapakah kalian?”
Kiai Gringsinglah yang menjawab, “Kami adalah orang-orang Sangkal Putung.”
“Sangkal Putung?” pemimpin pengawal itu meng¬ulang. Agaknya ia belum pernah mendengar nama Sang¬kal Putung.
“Ya. Sangkal Putung,” sahut Ki Demang, ”apa¬kah Ki Sanak belum pernah mendengarnya.“
Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Aku belum pernah mendengar.”
“Sangkal Putung adalah sebuah Kademangan di se¬belah Timur Alas Tambak Baya. Masih agak jauh. Masih melintasi daerah Prambanan dan menyeberangi Kali Wedi.”
Anak muda itu menggelengkan kepalanya. Namun kemudian ia berdesis, ”Diseberang Alas Tambak Baya. Bu¬kankah Alas Tambak Baya itu terletak disebelah Timur Alas Mentaok.”
“Ya,” sahut Swandaru.
“Jadi kalian datang dari jauh?”
“Ya. Kami datang dari jauh.”
“Apakah keperluan kalian.”
Kiai Gringsinglah yang kemudian menyahut, ”Kami akan menghadap Ki Gede Menoreh.”
“Menghadap Ki Gede?” bertanya pemimpin penga¬wal itu hampir diluar sadarnya.
“Ya, kami adalah sahabat-sahabat Ki Gede Menoreh. Sudah lama kami tidak bertemu. Itulah sebabnya dari jauh kami perlukan datang kepadanya.”
Pemimpin pengawal itu menjadi ragu-ragu. Sejenak ia berpikir. Lalu dengan nada yang masih tetap ragu-ragu ia ber¬tanya, ”Siapakah nama Ki Sanak?”
“Namaku Kiai Gringsing,”jawabnya. Kemudian sambil menunjuk Ki Sumangkar ia pun memperkenalkan¬nya, ”Ini Ki Sumangkar. Kami berdua pernah tinggal di Tanah Perdikan Menoreh beberapa lama bersama kedua anak-anak kami ini. Sedang yang seorang ini adalah Ki De¬mang di Sangkal Putung.”
“O,” pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Na¬mun sebelum ia berkata sesuatu, salah seorang dari penga¬wal yang masih muda itu mendesak maju sambil berkata, ”Jadi Ki Sanak ini Agung Sedayu dan Swandaru? Dan Kiai ini adalah Kiai Gringsing?”
Kiai Gringsing memandang anak muda itu sejenak. Tetapi ia belum mengenalnya. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu dan Swandaru, kedua muridnya itu pun menggelengkan kepalanya.
“Tentu kalian tidak mengenal aku,” berkata pengawal yang masih muda itu, ”aku hanya seorang dari an¬tara sekian banyaknya anak-anak muda Menoreh yang waktu itu ikut bertempur melawan pasukan Sidanti dan guru¬nya.”
“O,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “saat itu kau sudah ikut?” bertanya Kiai Gringsing ke¬mudian.
“Ya. Aku sudah ikut berlari-lari sambil membawa senjata meskipun dipaling belakang. Aku ikut bersama pasu¬kan Ki Gede Menoreh menyingkir dari induk Tanah Perdikan ini. Tentu aku dan orang-orang yang waktu itu ikut didalam pasukan pengawal Ki Gede Menoreh mengenal Kiai.”
“Tidak semua,” sahut pemimpin pengawal itu, “aku belum begitu mengenalnya.”
“Kau tidak berada di induk pasukan waktu itu. Kau berjuang di tempat lain dalam kelompok-kelompok kecil.”
Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Ya. Kami agak terpisah dari induk pasukan dan kami waktu itu harus mengambil sikap sendiri menghadapi Sidanti. Tetapi karena Ki Gede Menoreh tetap ber¬tempur, kami pun tetap berjuang.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya pula sam¬bil berkata, ”Dan kita sekarang bertemu lagi. Sudah cu¬kup lama kami tidak menginjakan kaki kami di atas Ta¬nah Perdikan ini. Itulah sebabnya kami memerlukan da¬tang untuk sekedar menengok Ki Gede Menoreh.”
Para pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, ”Jika benar kalian adalah orang-orang yang pernah membantu perjuangan Ki Gede, maka kedatangan kalian pasti akan sangat menyenangkah hatinya di saat-saat seperti ini.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan sebelum ia bertanya Swandaru telah mendahului, ”Kenapa dengan saat seperti ini?”
Pemimpin pengawal itu memandang Swandaru. Seje¬nak. Lalu jawabnya, ”Sejak pertempuran yang menentu¬kan itu, dan sejak Ki Gede menjadi cacat, kesehatannya berangsur-angsur turun. Meskipun hasrat Ki Gede untuk tetap melaksanakan tugasnya terlampau besar, namun agaknya pertempuran yang terjadi disaat terakhir itu mempunyai akibat yang parah dibagian dalam tubuhnya, sehingga lam¬bat laun, kesehatannya menjadi semakin buruk.”
“O,” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, ”jadi bagaimana dengan Ki Gede sekarang?”
“Ki Gede masih tetap melakukan tugasnya. Tetapi sebenarnyalah ia sudah harus beristirahat,” pengawal itu berkata selanjutnya, ”selain keadaan kesehatannya, sebenarnyalah usia Ki Gede memang sudah menjadi sema¬kin tua.”
“Belum terlalu tua,” sahut Kiai Gringsing, ”umur¬nya kira-kira sebaya dengan umurku. Tetapi benturan keku¬atan yang terjadi disaat terakhir melawan Ki Tambak Wedi memang sangat berpengaruh. Ternyata Ki Gede tidak dapat sembuh sepenuhnya.”
Pengawal itu mengangguk-angguk. Suaranya menjadi dalam, ”Ya. Dan kedatangan kalian akan membuatnya gembira.”
“Tetapi,” tiba-tiba saja Swandaru menyela, ”apakah tidak ada orang lain yang dapat membantunya?”
“Setiap orang dengan sepenuh hati membantunya. Tetapi, tidak semua orang harus bertanggung jawab atas Tanah Perdikan ini.”
“Maksudku apakah tidak ada anggauta keluarganya yang ikut memikul beban tanggung jawab itu. Ki Argajaya misalnya.”
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Justru mereka menjadi semakin percaya kepada Kiai Gringsing dan rom¬bongan kecilnya karena ternyata Swandaru mengenal Ki Argajaya pula.
“Tentu Ki Argajaya membantunya,” jawab pengawal itu kemudian, ”tetapi Ki Gedelah yang harus memper¬tanggung jawabkannya. Dan ia masih tetap melakukannya.”
“Apakah Ki Argajaya benar-benar sudah baik?”
Pengawal itu memandang Swandaru sejenak. Lalu, ”Ya. Ki Argajaya benar-benar sudah menjadi baik. Ia benar-benar me¬nyadari kesalahannya diwaktu lampau. Dan kini ia menebus kesalahannya itu dengan kerja, ia telah membuat bendung¬an dan memperbaiki saluran air hampir diseluruh daerah Tanah Perdikan ini.”
“Sokurlah,” Kiai Gringsing pun berdesis.
“Nah,” tiba-tiba suara pengawal itu meninggi, ”mari¬lah. Kita tidak akan berbicara ditengah jalan begini sampai sehari penuh. Marilah, kami antar kalian menghadap Ki Gede. Akhir-akhir ini Ki Gede jarang keluar.”
“Marilah,” jawab Kiai Gringsing, ”aku pun ingin segera bertemu dengan Ki Gede.”
Demikianlah kuda-kuda mereka pun segera bergerak. Tetapi sebenarnya masih ada satu soal yang tersangkut dihati Swandaru. Pengawal-pengawal itu sama sekan tidak menyebut anak gadis Ki Gede Menoreh.
“Kenapa?” bertanya Swandaru kepada diri sendiri, ”mungkin pengawal itu lupa saja menyebut bahwa gadis itu mampu juga membantu ayahnya didalam menjalankan tugasnya. Karena ia memiliki kelebihan dari gadis-gadis keba¬nyakan. Atau barangkali gadis itu sudah tidak ada di Tanah Perdikan ini dan pergi mengikuti seseorang ditempat yang lain?”
Dada Swandaru menjadi berdebar-debar. Tetapi ia agak ma¬lu untuk menanyakannya. Dan ia mengumpat-umpat didalam hatinya, kenapa Agung Sedayu juga tidak bertanya sesuatu, apalagi tentang Pandan Wangi.
Tetapi Agung Sedayu benar-benar tidak menanyakan tentang sesuatu. Sekali ia memandang wajah Swandaru yang tegang. Namun kemudian ia pun memandang kekejauhan, meman¬dang pepohonan yang hijau dan burung yang beterbang¬an dilangit.
Swandaru pun kemudian mendekatinya sambil meng¬gamit Agung Sedayu ia bertanya, ”He, apakah kau tidak ingin mengetahui tentang sesuatu di Menoreh ini?”
Agung Sedayu memandang Swandaru sesaat. Namun ia pun kemudian mengerti apa yang dimaksudkan oleh anak yang gemuk itu. Sorot matanya yang bagaikan menyala dan wajahnya yang tegang penuh keragu-raguan, namun agak kemerah-merahan.
Karena itu justru ia ingin mengganggunya. Sambil menggeleng Agung Sedayu menyahut acuh tidak acuh, ”Tidak. Aku tidak ingin mengetahui apapun tentang Tanah perdikan Menoreh.”
Swandaru menggeram. Sementara itu kuda-kuda mereka berjalan terus mendekati induk Tanah Perdikan Menoreh.
“Kau tidak ingin bertanya tentang keadaan Ki Gede Menoreh, atau Ki Argajaya atau anak laki-lakinya itu, atau apapun lainnya?”
Sekali lagi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya masih dengan acuh tidak acuh, “Tidak ada yang menarik perha¬tianku di Menoreh. Aku sudah mendengar ceritera tentang Ki Gede, tentang adiknya dan tentang orang-orang disekitarnya. Apalagi yang ingin aku tanyakan.”
“O, kau memang pemimpi. Ternyata kau tertidur di perjalanan. Kau tidak tahu apa yang sedang terjadi seka¬rang. Dan kau masih saja terkantuk-kantuk diatas punggung ku¬da,” Swandaru berhenti sejenak, lalu, ”Bangun, bangun¬lah Kakang Sedayu. Lihat, kita berada diatas Tanah Per¬dikan Menoreh.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Ya. Aku tahu bahwa kita berada diatas Tanah Perdikan Meno¬reh. Aku mendengar seluruh percakapan Guru dengan anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan itu, aku mendengar semua¬nya. Justru karena itu aku tidak perlu bertanya lagi. Kaulah yang agaknya tertidur diperjalanan. Dan jika ada yang ingin kau tanyakan kenapa kau tidak bertanya sendiri?”
“Persetan,” Swandaiu masih saja menggeram. Teta¬pi ia tidak menyahut. Namun ketika ia melihat Agung Se¬dayu tersenyum maka ia pun mendekat semakin rapat dan berbisik, ”Awas jika kelak kita kembali ke Sangkal Putung. Kau akan mengalami nasib yang jelek.”
Agung Sedayu tidak dapat menahan hati lagi. Betapa¬pun juga ia menahan, namun ia pun tertawa pula.
Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Demang berpa¬ling mendengar suara tertawa Agung Sedayu yang tertahan-tahan. Sekilas mereka melihat wajah Swandaru yang buram, namun mereka tidak bertanya sesuatu karena mereka tahu bahwa Agung Sedayu sedang mengganggu Swandaru.
Demikianlah, mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sedang hati Swandaru pun menjadi semakin berdebar-debar karenanya.
Ketika mereka lewat dijalan berdebu tidak jauh dari sebuah hutan sempit yang menjadi salah satu daerah per¬buruan, hati Swandaru bergetar. Bahkan diluar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, ”Apakah Pandan Wangi masih sering berburu. Dihutan itulah ia kadang-kadang berburu. Tetapi kadang-kadang dihutan yang membujur di ujung Selatan dari Ta-nah Perdikan ini. Jika ia berburu dihutan itu, dan kebetul¬an melihat iring-iringan ini, ia pasti akan mendekat.”
Tetapi ternyata tidak ada seorangpun yang tampak ke¬luar dari hutan itu. Pepohonan yang hijau bagaikan mem¬beku. Bahkan angina pun seolah-olah telah berhenti bertiup.
“Sepi,” desah Swandaru didalam hatinya. Namun, katanya kemudian, ”Hutan itu tidak hanya seluas sepatok sawah. Jika ia berada ditengah-tengah atau bahkan disisi sebe¬rang, ia tentu tidak akan melihat iring-iringan ini.”
Tetapi Swandaru tidak mengatakannya kepada siapa pun. Ketika ia melihat Agung Sedayu memandang kekejauhan tanpa berkedip, ia pun mengumpat didalam hatinya.
Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia me¬ngagumi perkembangan Tanah Perdikan Menoreh. Yang dilihatnya kini jalur-jalur air yang lebih baik dari yang pernah dilihatnya dahulu. Sawah pun rasa-rasanya menjadi semakin subur dan luas. Ia tidak melihat lagi padang perdu yang kering dipinggir hutan. Namun padang perdu itu telah men-jadi tanah pategalan dan padang-padang alang-alang pun sudah men¬jadi sawah. Hutan rasanya menjadi sempit, dan lereng pegunungan menjadi hijau.
Ternyata Tanah Perdikan ini menyimpan banyak sekali kemungkinan. Jika Mataram kelak berkembang, daerah ini pun akan berkembang juga. Mataram dan Menoreh akan dapat saling mencukupi kebutuhan. Betapapun juga, Mata¬ram akan menjadi negeri yeng ramai, yang memerlukan banyak sekali kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dicukupinya sendiri. Tanah perluasan dari Alas Mentaok yang ditebanginya tentu tidak akan dapat menjadi tanah persawahan yang cukup luas untuk menampung kebutuhan orang-orang yang mengalir membanjiri negeri itu. Kebutuhan akan ter¬nak, kain tenun dan alat-alat kebutuhan sehari-hari pasti harus didatangkan dari daerah disekitarnya. Dan Menoreh akan dapat menampung kebutuhan-kebutuhan itu, disamping daerah-daerah yang lain. Kademangan Mangir, Prambanan dan bahkan mungkin sampai juga ke daerah Jati Anom dan Sangkal Putung.
Agung Sedayu terkejut ketika terasa pundaknya diga¬mit oleh Swandaru. Ketika ia berpaling, Swandaru berkata, ”Apakah kau masih ingat bahwa hutan itu merupakan hutan perburuan?”
“Ya,” sahut Agung Sedayu.
Swandaru mengerutkan keningnya. Jawab Agung Seda¬yu ternyata terlampau pendek. Karena itu maka Swandarulah yang kemudian berkata pula, ”Orang-orang Menoreh senang sekali berburu.”
“Ya. Orang-orang Menoreh suka sekali berburu,” jawab Agung Sedayu pendek.
Swandaru menggeram. Tetapi ia tidak berkata apapun juga. Ia tahu Agung .Sedayu sengaja mengganggunya. Meskipun Agung Sedayu tahu bahwa Swandaru ingin memper¬cakapkan seorang gadis Menoreh yang suka berburu, tetapi Agung Sedayu dengan sengaja tidak menanggapinya.
Swandaru pun kemudian terdiam. Tetapi sekali-sekali ia ma¬sih memandang wajah Agung Sedayu. Wajah yang sangat menjengkelkan sekali, karena terbayang senyum kecil di bibirnya.
Tetapi Swandaru pun pura-pura tidak menghiraukannya lagi. Dipercepatnya kudanya meninggalkan Agung Sedayu, me¬lampaui gurunya dan Ki Sumangkar serta Ki Demang Sangkal Putung. Katanya, ”Aku ingin berbicara dengan para pengawal yang didepan itu.”
Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya sambil menyahut, ”Berbicaralah. Kau tentu akan banyak bertanya tentang tanah ini.”
Swandaru tersenyum. Tetapi ketika ia berpaling dan di lihatnya Agung Sedayu tertawa, maka senyumnya pun se¬gera lenyap dari bibirnya.
Sejenak kemudian Swandaru telah berkuda diantara para pengawal yang masih sangat muda itu. Mereka asyik berbicara tentang Tanah Perdikan Menoreh. Tentang Ki Gede dan keluarganya. Tetapi seperti ketika ia bercakap-cakap dengan Agung Sedayu, maka para pengawal itu pun sama sekali tidak menyinggung Pandan Wangi.
“Kenapa sebenarnya dengan Pandan Wangi?” ber¬tanya Swandaru didalam hatinya, ”tidak seorang pun yang menyebutkan namanya. Apakah ia sudah tidak berada di Tanah Perdikan ini lagi?”
Tetapi ia masih tetap malu untuk bertanya tentang gadis itu.
Demikianlah mereka menjadi semakin dekat, dan dada Swandaru pun menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kemu¬dian timbul kecemasan didalam hatinya bahwa kunjungan¬nya bersama ayahnya kali ini justru akan menumbuhkan kekecewaan yang amat sangat.
Ketika mereka memasuki daerah induk Tanah Perdikan, maka Swandaru telah berada disamping Agung Sedayu. Sekali-sekali dilihatnya orang-orang Menoreh yang bekerja disawah dan ladang, berhenti bekerja sejenak untuk memperhatikan iring-iringan itu. Tetapi karena tampaknya bahwa para penga¬wal tidak bersiaga, mereka pun tidak mencurigai orang-orang ber¬kuda yang memasuki induk tanah mereka.
Sebenarnya bukan saja Swandaru yang menjadi ber¬debar-debar ketika mereka memasuki induk Tanah Perdikan. Kiai Gringsing dan Sumangkar pun menjadi berdebar-debar pula. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dengan Ki Gede Menoreh yang ketika ditinggalkan dalam keadaan yang masih belum pulih kembali.
Ki Demang pun menjadi berdebar-debar justru karena ia belum pernah bertemu dengan Ki Gede Menoreh dan ketika sekali ia datang, ia telah membawa suatu keperluan yang penting.
Sebagai seorang pemimpin didaerahnya, Ki Demang me¬rasa kagum juga melihat tata susunan Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun Sangkal Putung tidak kalah subur dan hijau, namun Menoreh memiliki ragam yang lebih banyak, dari Sangkal Putung. Menoreh masih mempunyai daerah hutan yang lebat di lereng-lereng bukit, tetapi juga hutan-hutan per¬buruan yang lebih kecil. Pegunungan yang seakan-akan mema¬gari Tanah Perdikan yang besar ini. Lebih besar dari Sang¬kal Putung, meskipun sebagian merupakan daerah yang tandus dan berbatu-batu padas.
Ki Demang mengerutkan keningnya ketika ia melintasi regol induk Kademangan. Dilihatnya beberapa orang Meno¬reh yang berada didalam halaman rumah masing-masing berdiri memandangi iring-iringan itu. Mereka menjadi bertanya-tanya pula, siapakah orang-orang yang datang diantar oleh para pengawal itu.
Seorang anak muda yang berdiri disimpang tiga meman¬dang iring-iringan itu dengan saksama. Bahkan kemudian ia menggamit seorang yang sudah setengah umur yang ber¬diri disampingnya sambil memanggul cangkul, ”He Pa¬man. Apakah Paman masih mengenal orang itu?”
”Siapa?” bertanya orang setengah umur itu.
“Ketika daerah ini dikacaukan oleh Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Bukankah orang-orang itu pada saat itu ada di Ta¬nah Perdikan ini pula. Bukankah gembala itulah yang telah membantu Ki Gede membinasakan Ki Tambak Wedi dan pasukannya.”
Orang setengah umur itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, ”Ya. Aku ingat sekarang. Orang itu dengan ke¬dua anak-anaknya. O, mereka datang kembali. Ki Gede tentu senang sekali menyambut kedatangan mereka.”
Anak muda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Lalu katanya, ”Aku akan memberitahukan kepada kawan-kawanku yang dahulu ikut bersama pasukan Ki Gede Menoreh. Mereka tentu senang mendengar kedatangan anak-anak muda itu. He, siapakah nama anak-anak muda itu?”
Orang setengah umur itu menggelengkan kepalanya. Lalu katanya, ”Kedatangannya memang menyenangkan sekali. Mereka sempat melihat Menoreh bangkit kembali, se¬telah dilanda oleh badai yang hampir saja menghanguskan Tanah Perdikan ini.”
Anak muda kawannya berbicara itu masih mengang¬guk-angguk. Ditatapnya iring-iringan itu sampai hilang diketok jalan. Kemudian ia pun berdesis, ”Ya. Ia ikut memadam¬kan api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh. Dan kini ia melihat Menoreh menjadi hijau kembali.”
Anak muda itu tidak menunggu jawaban, ia pun segera meloncat berlari-lari mencari kawan-kawannya. Ia ingin mengabar¬kan bahwa anak-anak muda yang dahulu ikut bertempur dipihak mereka melawan Sidanti dan Ki Tambak Wedi, kini datang lagi ke Menoreh bersama beberapa orang.
Dalam pada itu, iring-iringan itu telah menyusuri jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka lewat didepan banjar Kademagan, Kiai Gringsing dan ke¬dua murid-muridnya tersentuh juga hatinya.
Sejenak kemudian maka regol halaman rumah Ki Gede Menoreh pun sudah tampak dihadapan mereka. Mereka tidak lagi melihat orang-orang bersenjata berkeliaran. Yang mereka lihat adalah orang-orang yang berjalan tergesa-gesa memanggul cangkul atau alat-alat pertanian yang lain. Seorang anak muda memanggul bajak dipundaknya dan memegangi tali pengikat dua ekor lembu yang berjalan berlawanan arah. Anak muda itn hanya memandangi iring-iringan itu sejenak. Namun ia pun tidak memperhatikannya lagi.
Kiai Gringsing memandang pagar-pagar batu disebelah menyebelah jalan. Pagar batu itu sudah ada sejak ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi pagar-pagar itu agaknya baru saja diperbaharui.
“Tanah ini tampaknya tenang sekali,” berkata Kiai Gringsing kepada para pengawal.
“Ya. Tanah ini memang tenang,” jawab pengawal itu, ”diinduk Tanah Perdikan ini tidak terasa adanya gejolak yang menyentuh daerah dipinggir Kali Praga, mes¬kipun satu dua orang mempercakapkan juga.”
“O,” sahut Kiai Gringsing, ”sebenarnya aku ingin mendengar ceritera tentang Kali Praga itu.”
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, ”Biarlah Ki Gede sajalah yang menceriterakan.”
Kiai Gringsing tidak bertanya lagi. Kini mereka benar-benar telah berada diregol halaman rumah Ki Gede Menoreh.
Yang ada diregol itu hanyalah seorang penjaga yang duduk digardu sambil terkantuk-kantuk. Seorang pengawal Tanah Perdikan yang juga masih muda.
“Baru sejak beberapa hari regol ini ditunggui oleh seorang pengawal,” berkata pengawal berkuda itu, ”sebe¬lumnya tidak seorang pun yang menjaga halaman ini, kare¬na memang tidak pernah terjadi sesuatu.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Siapa?” bertanya penjaga regol itu.
Seorang pengawal berkuda menyahut, ”Apakah kalian tidak mengenal mereka lagi?”
Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia memang tidak segera ingat, siapakah orang-orang yang disebut itu.
“Kau sudah ikut didalam pergolakan beberapa wak¬tu yang lampau melawan Sidanti?”
“O, aku ingat sekarang. Ya, aku ingat. Marilah silahkan. Kebetulan sekali, Ki Gede ada dirumah sekarang. Baru saja Ki Gede pulang dari daerah sebelah Utara yang baru saja longsor.”
“He,” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.
“Tidak apa-apa. Hanya sebuah guguran padas yang tidak seberapa. Yang agak mengganggu adalah karena longsoran batu-batu padas itu telah menutup sebuah jalur air yang agak besar, sehingga beberapa kotak sawah diancam oleh bahaya kekurangan air. Tetapi untunglah bahwa ke¬sulitan itu segera dapat diatasi.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
“Apakah Ki Gede Menoreh pergi bersama anak ga¬disnya?” bertanya Swandaru, tetapi hanya didalam hatinya.
Demikianlah maka para pengawal dan iring-iringan kecil itu pun segera turun dari kuda mereka ketika mereka telah memasuki halaman.
“Sampaikan kepada Ki Gede, bahwa ada serombong¬an tamu dari seberang Kali Praga,” berkata salah seo¬rang pengawal berkuda itu kepada penjaga regol.
Penjaga itu pun segera bergegas pergi kebelakang lewat longkangan gandok. Disampaikannya kabar kedatangan Kiai Gringsing itu kepada seorang pelayan yang melangsung¬kannya kepada Ki Gede Menoreh.
“Siapa?” bertanya Ki Gede Menoreh.
“Tamu dari seberang Kali Praga.”
Ki Gede Menoreh termangu-mangu sejenak. Menurut peng-ertiannya seberang Kali Praga kini lahir sebuah daerah baru yang memulai ramai, dan disebut Mataram.
Karena itu, ia pun menjadi berdebar-debar, justru dalam keadaan terakhir yang meragukan itu.
“Silahkan mereka duduk dipendapa,” berkata Ki Gede, ”sebentar lagi aku akan menemuinya.”
Pelayan itu pun kemudian dengan tergesa-gesa mempersilahkan Kiai Gringsing dan kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung duduk dipendapa, sementara Ki Gede Menoreh sedang membenahi pakaian¬nya, memperbaiki lipatan ikat kepalanya dan membetul¬kan kamusnya yang agak miring.
Dengan hati yang berdebar-debar ia melangkah kepintu depan. Ia tidak banyak berhubungan dengan Mataram yang baru tumbuh selama ini.
Perlahan-lahan Ki Gede Menoreh membuka pintu penda¬pa. Dari sela-sela daun pintu ia melihat beberapa orang du¬duk diatas sehelai tikar pandan.
Dada Ki Gede Menoreh berdesir. Ketika seorang tua yang duduk diantara mereka berpaling oleh derit pintu, maka Ki Gede Menoreh yang berdiri bertelekan sebuah tongkat itu berkata lantang diluar sadarnya, ”Kiai, kau¬kah itu Kiai?”
Kiai Gringsing pun berlonjak berdiri. Bergegas-gegas ia mendapatkan Ki Gede Menoreh dengan wajah yang cerah. Seakan-akan dua orang sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.
Dengan senyum yang lebar Kiai Gringsing mengguncang-guncang tangan Ki Gede Menoreh sambil berkata, ”Ki Argapati, kau tampak semakin sehat dan muda.”
Ki Gede Menoreh tertawa. Jawabnya, ”Aku menjadi semakin tua dan lemah. Tetapi aku gembira sekali Kiai datang ke Tanah perdikan ini. Tanah Perdikan yang se¬makin lama semakin tidak terurus.”
Keduanya pun kemudian melangkah ke pendapa kemba¬li. Kiai Gringsing membimbing Ki Gede Menoreh yang berjalan bertelekan tongkatnya, sedang yang lain-lain pun te¬lah berdiri pula.
Sejenak Ki Gede Menoreh memandang Swandaru dan Agung Sedayu sejenak sambil masih saja tersenyum. Ke¬mudian Ki Sumangkar pun menganggukkan kepalanya sam¬bil berkata, “Akhirnya kami datang juga Ki Gede.”
“Tentu, tentu. Aku yakin bahwa kalian tentu akan datang,” Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ketika tatapan matanya bertemu dengan pandangan Ki Demang, ia mengerutkan keningnya. Seakan-akan ia bertanya, siapa¬kah orang yang masih belum dikenalnya ini.
Kiai Gringsing yang menyadarinya segera berkata, “Ki Argapati, inilah Ki Demang di Sangkal Putung.”
“O,” kening Ki Gede Menoreh berkerut. Namun kemudian ia pun mengulurkan tangannya sambil berkata, ”Aku senang sekali Ki Demang datang berkunjung ke Tanah Perdikan ini. Aku mengucapkan selamat datang.”
“Terima kasih Ki Gede,” jawab Ki Demang, ”ka¬mi memang memerlukan datang mengunjungi Ki Gede. Aku sudah banyak mendengar tentang Ki Gede, tetapi aku belum pernah bertemu muka. Itulah sebabnya, maka pada suatu kesempatan aku ingin sekali dapat menghadap Ki Gede Menoreh.”
“Ah,” Ki Gede berdesah, “kini, setelah Ki Demang melihat orangnya, tentu Ki Demang menjadi kecewa. Orangnya tidak lebih dari orang cacat seperti ini.”
“Ah, tentu tidak Ki Gede. Aku bangga dapat ber¬temu dengan Ki Gede Menoreh, dan aku pun kagum melihat Tanah Perdikan ini. Tanah Perdikan yang luas dan subur, dipagari oleh pegunungan. Sawah yang luas dihi¬asi dengan hutan-hutan yang masih membuka kesempatan perkembangan baru diatas Tanah Perdikan ini.”
Ki Gede Menoreh tertawa. Katanya kemudian, ”Te¬rima kasih. Dan sekarang kami persilahkan kalian duduk.”
Mereka pun duduk kembali diatas tikar pandan yang putih. Sambil memandang Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti, maka Ki Gede Menoreh pun bertanya, ”Bagai¬mana aku harus memanggil kalian? Gupala dan Gupita atau nama yang lain itu?”
Kedua anak-anak muda itu tersenyum. Katanya, ”Terserahlah kepada Ki Gede.”
Ki Gede Menoreh tertawa. Katanya, ”Nama mana yang kau pilih? Atau kau sudah membuat nama lain lagi?”
Keduanya tertawa. Tetapi keduanya tidak menjawab.
Demikianlah mereka duduk kembali dalam satu ling¬karan. Mereka membicarakan tentang keselamatan mereka masing-masing. Kemudian mulailah Ki Gede Menoreh menceriterakan perkembangan Tanah Perdikannya.
“Atas pertolongan Kiai dan murid-murid Kiai itu, kini Tanah ini menjadi semakin baik.“
“Kenapa pertolonganku?” bertanya Kiai Gring¬sing, “Ki Argapatilah yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dalam waktu yang terhitung singkat, Tanah ini te¬lah menjadi pulih kembali.”
“Bukan pekerjaan yang sulit. Jika saat itu, Tanah ini benar-benar hangus dibakar oleh api pertentangan yang memalukan diantara keluarga sendiri itu, maka tidak ada orang yang akan mampu membangun Menoreh. Siapapun. Dan sekarang, ternyata kami disini masih mendapat ke¬sempatan itu. Meskipun demikian, aku yang menjadi semakin tua dan lemah, hampir tidak dapat berbuat apa-apa.”
Kiai Gringsing tertawa. Katanya, ”Jika seperti ini, Ki Argapati masih menyebut tidak dapat berbuat apa-apa, tentu Ki Argapati mempunyai cita-cita yang jauh lebih tinggi dari yang kita lihat ini. Mudah-mudahan dimasa mendatang, angkatan yang bakal menggantikan para pemimpin di Ta¬nah Perdikan ini mampu membangun Menoreh lebih baik lagi.”
Ki Argapati tertawa. Katanya, ”Tentu Kiai. Cita-cita pada umumnya mendahului ujud pencapaian kita. Dan kami memang bercita-cita. Tentu bukan kami, juga Kiai dan setiap orang bercita-cita.”
“Aku sudah tua.”
“Ah,” Ki Gede Menoreh tertawa, ”aku pun sudah tua. Tetapi apakah cita-cita kita dapat dibatasi oleh ketuaan kita?” lalu sambil berpaling kepada Ki Demang, ”Bu¬kankah begitu Ki Demang?”
Ki Demang tertawa pula. Katanya, ”Ya. Cita-cita kita mengatasi umur kita sendiri karena angkatan yang bakal datang akan melanjutkan dan mewujudkan cita-cita itu. Cita-cita kita ternyata akan berkembang terus. Apalagi mengenai suatu daerah seperti Tanah Perdikan Menoreh. Dari ang¬katan yang satu kepada angkatan yang kemudian.”
Kiai Gringsing tertawa. Dipandanginya kedua muridnya sejenak. Lalu katanya, ”Ki Demang benar. Cita-cita kita adalah cita-cita buat masa depan angkatan sesudah kita. Tentu kita tidak sekedar hidup untuk kita sendiri. Jika kita memanjakan kamukten buat diri kita sendiri, memanjakan segala macam nafsu badani, kita memang akan kehilangan masa depan anak-anak kita.”
Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Argapati pun tersenyum pula, katanya, ”Demikianlah berusaha membuat Menoreh menjadi harapan bagi masa mendatang.”
Hampir diluar sadarnya Agung Sedayu berpaling pada Swandaru. Sedang ketika Swandaru pun memandanginya, maka cepat-cepat ia memalingkan wajahnya sambil mencibirkan bibirnya. Namun dalam pada itu, Swandaru masih saja digelut oleh pertanyaan, dimana Pandan Wa-ngi?
Apalagi ketika beberapa saat kemudian, setelah mereka berbicara kian kemari, seorang pelayan perempuan menghidangkan minum dan makanan buat tamu-tamu Ki Gede Menoreh itu. Yang menghidangkan minum dan makanan itu sama sekali bukan Pandan Wangi.
Diluar kebiasaan yang pernah dilihat oleh Swandaru. Apabila ada tamu yang dihormati, maka biasanya adalah Pandan Wangi sendiri yang menghidangkan suguhan bagi mereka. Namun yang menghidangkan adalah seorang pelayan saja.
Dengan wajah yang berkerut, Swandaru mencoba memandang kehalaman disekitar pendapa itu. Tetapi ia tidak melihat seorangpun kecuali beberapa orang pekerja yang lewat melintasi halaman itu.
Ternyata orang-orang tua yang sedang bercakap-cakap tentang berbagai masalah itu seakan-akan tidak teringat lagi kepada anak-anak muda itu. Mereka mempunyai keasyikan. sendiri, hingga seolah-olah Swandaru yang gelisah dan Agung Sedayu itu tidak ada diantara mereka.
Agung Sedayu dan Swandaru terkejut ketika mereka melihat seorang anak yang masih sangat muda melintas diatas punggung kuda dihalaman. Ketika ia melihat be¬berapa orang tamu di pendapa, maka ia pun dengan tergesa-gesa menarik kekang kudanya dan meloncat turun. Ke¬mudian dengan tergesa-gesa pula dituntunnya kudanya kebelakang.
Swandaru mengerutkan keningnya melihat anak muda yang tampan itu. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika Agung Sedayu berbisik ditelinganya, “Bukankah itu anak Ki Argajaya.”
Swandaru menarik nafas dalam-dalam, ”ya, ia adalah putera Ki Argajaya.”
Swandaru itu tiba-tiba bergeser setapak maju. Agung Sedayu tersenyum melihat wajahnya yang tegang. Sekilas Swandaru yang kebetulan tidak mendengarkan percakapan orang-orang tua itu karena kuda yang melintas dihalaman, men¬dengar Ki Argapati menyebut nama anak gadisnya, Pandan Wangi.
“Apa yang dikatakannya?” bisik Swandaru kepada agung Sedayu.
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia bertanya kembali, ”Tentang apa?”
“Tadi, baru saja.”
“O, tentang kuda itu.”
”Bukan tentang kuda.”
“Tentang apa?”
“Sesudah membicarakan masalah kuda.”
“Ah, aku tidak mendengarnya. Aku baru memperha¬tikan kuda yang melintas dihalaman itu.”
“Ah kau,” Swandaru menggeram. Namun sekali lagi ia mendengar Ki Argapati menyebut nama Pandan Wangi.
“Ia sedang berburu,” berkata Ki Argapati, ”ia mengantarkan seorang tamu pula.”
Swandaru tertarik sekali kepada pembicaraan itu. Dan apalagi ketika Argapati mengatakan, ”Sebenarnya masih ada sangkut pautnya juga. Anak muda itu masih kadang sendiri. Tetapi sudah agak jauh. Ia adalah salah seorang pada garis keluarga ibu Pandan Wangi.”
Kiai Gringsing ternyata menaruh perhatian juga kepa¬da ceritera itu. Maka ia pun bertanya, ”Jadi, Ki Gede se¬karang sedang menerima tamu juga dirumah ini?”
“Ya. Kadang sendiri. Dan bukan dari jauh.”
“Dari mana?”
“Dari daerah Tempuran.”
“Tempuran?”
“Ya, sebuah daerah kecil disebelah Utara Tanah Perdikan ini.”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Ki Sumangkarlah yang kemudian bertanya, ”Apakah tamu Ki Gede itu juga baru saja datang?”
“Tidak. Sudah dua malam mereka bermalam di tempat ini. Ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang sekarang sedang pergi berburu bersama Pandan Wangi.”
Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya seperti juga Kiai Gringsing. Tanpa dikehendakinya sendiri ia memalingkan wajahnya memandang Swandaru. Ternyata wajah Swandaru menegang. Ada sesuatu yang bergetar didalam hatinya. Jika yang pergi berburu bersama Pandan Wangi itu meskipun masih keluarga tetapi sudah jauh, maka dapat tumbuh persoalan yang dapat mengganggu perasaannya.
Tetapi Swandaru tidak dapat mengatakannya kepada siapapun bahkan ia berusaha sejauh-jauhnya menyimpan perasaan itu didalam sudut hatinya yang paling dalam. Bahkan apabila mungkin menghilangkan sama sekali kesan yang dapat timbul diwajahnya.
Selain Swandaru, sebenarnya Agung Sedayu pun menjadi tegang pula. Meskipun ia tidak langsung tersangkut, tetapi rasa-rasanya adalah juga keberatannya mendengar keterangan Ki Gede Menoreh.
“Siapakah sebenarnya anak muda itu,” Agung Sedayu bertanya kepada diri sendiri.
Ada berbagai dugaan yang melintas dibenaknya. bahkan ia sudah membayangkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.
“Mungkin kami terlalu lama membiarkan Ki Argapati menunggu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya pula.
Demikianlah, selagi gambaran yang beraneka ragam mengganggu orang-orang yang sedang dijamu oleh Ki Argapati itu, terutama Swandaru, Ki Demang dan Kiai Gringsing, di hutan perburuan, Pandan Wangi berpacu diatas punggung kudanya mengikuti jejak seekor rusa. Dengan susah payah ia menunggu tidak begitu jauh dari sebuah sumber air yang menurut dugaannya menjadi tempat minum binatang-binatang buruannya. Tetapi agaknya arus angin tidak menguntungkan ketika tiba-tiba saja angin berubah arah. Ketika seekor rusa sedang berjalan perlahan-lahan mendekati sumber air itu, maka oleh angin yang berganti arah itu, dihanyutkannya bau manusia, sehingga rusa itu pun segera lari terbirit-birit.
Betapa kuda Pandan Wangi berlari kencang, namun kuda itu sudah tidak akan mungkin lagi dapat menyusul rusa itu, karena rusa itu segera pula menghilang diantara gerumbul-gerumbul perdu.
Alangkah kecewanya Pandan Wangi. Buruannya ter¬nyata sama sekali tidak dapat ditangkapnya.
Dalam pada itu, kawannya berburu, selain beberapa orang pengiring, adalah masih ada sangkut paut kekeluar¬gaan meskipun agak jauh. Tetapi ternyata anak muda itu tidak dapat membantu sama sekali. Justru kadang-kadang ia telah mengganggu Pandan Wangi. Setiap kali ia berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya dan Pandan Wangi.
“Sayang sekali,” desis Pandan Wangi. Ia masih maju beberapa puluh langkah lagi dengan kudanya. Namun keti¬ka ia kemudian berpaling, ia sudah tidak melihat saudara¬nya itu.
“Kemana ia pergi?” bertanya Pandan Wangi dida¬lam hatinya.
Dan sejenak kemudian Pandan Wangipun mendengar suaranya bergema, ”Pandan Wangi, Pandan Wangi, di mana kau?”
Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Dengan kesal ia berbalik untuk mengambil anak muda yang berteriak-teriak di dalam hutan, meskipun sekedar hutan buruan. Namun di dalam hutan buruan itu benar-benar masih terdapat beberapa ekor harimau.
Ketika Pandan Wangi mendekat, ia masih sempat se¬orang pengawal berkata, ”Marilah, kita menusulnya.”
“Jangan terlampau cepat.”
“Pandan Wangi memburu seekor rusa. Jika kita tidak cepat, kita akan kehilangan jejak.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, ia melihat Pandan Wangi datang me¬nyongsongnya.
”Pandan Wangi, kenapa kau selalu meninggalkan aku?”
“Kita berburu dihutan,“ jawab Pandan Wangi.
“Aku belum pernah berburu seperti caramu.“
“O, kau pernah juga berburu?”
“Tidak, maksudku aku tidak pernah berburu dihutan begini. Kadang-kadang aku memang pergi menyumpit. Tetapi ha¬nya sekedar mencari burung-burung kecil. Burung tilang, podang dan sebagainya.”
Pandan Wangi tersenyum. Tetapi ia pun berkata, ”Tidak ada bedanya. Kau dengan sumpit, aku memakai panah. Sedang yang aku kejar berlari kencang sekali, yang kau kejar tidak.”
“O, kau sangka kecepatan terbang burung podang kalah cepat dengan lari seekor rusa.”
“Tidak, memang tidak. Tetapi kau tidak pernah me¬nyumpit burung yang sedang terbang. Sedang berburu di hutan, kadang-kadang ia harus memanah buruannya yang sedang berlari.”
“Memanah sambil naik kuda?” bertanya anak mu¬da itu.
“Ya, berkuda sambil melepaskan anak panah.”
“Bagaimana mungkin. Dengan tangan kirimu kau memegang busur, sedang tangan kananmu menarik anak panahnya.”
“Maksudmu kendali?”
“Ya.”
“Aku sering melepaskan kendali sama sekali karena kudaku ini sudah terlampau jinak dan penurut. Tetapi ka¬dang-kadang aku menjepitnya dengan lutut.”
“Berbahaya sekali.”
“Tidak. Mungkin apabila kita naik seekor kuda yang nakal. Tetapi kudaku sangat baik kepadaku.”
Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun bertanya, ”Kau dapatkan rusa itu?”
“Tidak,” sahut Pandan Wangi.
“Kita membuang-buang waktu.”
“O, kau tidak senang berburu dihutan yang sejuk ini?”
Anak muda itu ragu-ragu sejenak, lalu, ”Senang, senang sekali.”
Pandan Wangi menjadi heran. Anak muda itulah yang mengajaknya berburu. Tetapi ternyata ia tidak begitu ter¬tarik pada perburuan lagi ketika mereka sudah berada di hutan.
“Rusa itu terkejut mendengar suaramu berteriak-teriak itu,” berkata Pandan Wangi kemudian, ”kita harus diam, supaya seekor binatang tidak segera melarikan diri sebelum kita sempat membidiknya.”
Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi nafasnya menjadi terengah-engah. Agaknya berburu dihutan dengan naik dipunggung kuda kurang menyenangkan. Mes¬kipun demikian ia tidak mau mengatakan berterus terang.
Pandan Wangi agaknya dapat membaca isi hatinya. Karena itu maka ia pun berkata, ”Apakah perburuan ini kita akhiri sekian saja?”
“Jangan. Berburulah sehingga kita mendapatkan se¬ekor binatang buruan.”
“Dan kau akan tetap berteriak-teriak mengusir binatang yang sedang aku bidik?”
“Tidak. Aku akan diam saja.”
Pandan Wangi termenung sejenak Tetapi kegairahan¬nya untuk berburu terus telah turun sama sekali.
“Teruskanlah Pandan Wangi,” berkata anak muda itu selanjutnya. ”Kenapa kau termenung.”
“Aku tidak bernafsu lagi. Marilah kita kembali ke rumahku. Ayah sudah menunggu.”
“Bukankah ayahmu sudah mengetahui bahwa kau berburu bersama aku? Ia tidak akan mencarimu. Agaknya ia percaya kepadaku.”
“Maksudmu?” bertanya Pandan Wangi.
“Maksudku, ayahmu tidak akan mencemaskan kau selama kau pergi bersamaku. Aku akan melindungimu dan membawamu pulang dengan selamat.”
“O,” suara Pandan Wangi bernada tinggi, namun kemudian merendah, ”ya. Tentu Ayah akan percaya bah¬wa aku akan selamat sampai dirumah.”
“Karena itu jangan tergesa-gesa pulang. Kita teruskan perburuan ini, aku tidak akan memanggilmu lagi,” tetapi kemudian, ”meskipun demikian, aku harus selalu menga¬wasimu karena aku harus melindungimu.”
“Aku sudah lelah sekali,” berkata Pandan Wangi, ”aku ingin keluar dari hutan ini.”
“Tidak. Kita akan berburu bersama-sama.”
Pandan Wangi menjadi agak bingung menanggapi sikap anak muda itu, tetapi sambil tersenyum ia berkata, ”Mari¬lah kita keluar dahulu dari hutan ini. Jika kita akan ber¬buru lagi, kita akan melakukannya.”
Pandan Wangi tidak menunggu jawabannya. Ia pun kemudian menggerakkan kudanya mendahului menuju keluar hutan.
Anak muda itu tidak dapat berbuat lain daripada mengikutinya bersama beberapa orang pengiring Pandan Wangi. Meskipun ia agak kecewa, karena Pandan Wangi nampak¬nya tidak lagi berminat meneruskan perburuan ini karena sikapnya.
Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kepinggir hutan. Rasa-rasanya seperti seseorang yang baru saja muncul dari dalam goa yang lembab, terasa betapa sejuknya udara terbuka diluar hutan perbmuan itu, meskipun juga terasa panas matahari yang bagaikan menyengat wajah dedaunan yang hijau segar.
Tetapi angin yang lemah membuat udara dipinggir hu¬tan itu tetap sejuk. Suara gemerisik yang menyentuh teli¬nga, membuat hati bagaikan dibelai oleh bisikan-bisikan yang lembut.
Belum lagi Pandan Wangi turun dari kudanya, dilihat¬nya debu yang mengepul dikejauhan, dilemparkan oleh kaki beberapa ekor kuda yang berlari disepanjang jalan berdebu.
Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia pun segera mengerti bahwa mereka adalah beberapa orang peronda yang sedang nganglang disepanjang jalan Tanah Perdikan Menoreh yang terutama dibagian Selatan dan Timur, mulai tersentuh oleh persoalan-persoalan yang dapat menimbulkan kegeli¬sahan rakyatnya.
Para peronda berkuda yang berlari disepanjang jalan itu pun agaknya dapat melihat Pandan Wangi. Sejenak mere¬ka berbicara diantara mereka. Namun kemudian salah se¬orang dari mereka mengacu-acukan tangannya.
Pandan Wangi memandangi mereka dengan heran. Ia tidak segera mengerti maksudnya. Namun ia pun tidak sege¬ra berbuat sesuatu.
Ternyata beberapa ekor kuda itu pun berhenti sejenak. Kemudian mereka berbelok ke arah Pandan Wangi yang memandangi mereka dengan hati yang berdebar-debar.
“Pandan Wangi,” salah seorang dari para peronda itu berkata meskipun ia belum dekat benar, ”apakah kau tidak ingin segera pulang?”
Pandan Wangi tidak segera menjawab. Ditunggunya orang itu menjadi semakin dekat dan baru kemudian ia bertanya, ”Kenapa tergesa-gesa pulang?”
Para peronda itu pun kemudian berhenti beberapa lang¬kah dari Pandan Wangi. Wajahnya tampak aneh dan tanpa sebab orang itu tersenyum-senyum sendiri.
“Ada apa?” Pandan Wangi bertanya pula.
“Seharusnya kau pulang.”
“Ya, ada apa?” gadis itu menjadi jengkel.
“Ada tamu dirumahmu.”
“Ah, apa salahnya ada tamu. Ayah terlalu sering menerima tamu darimana saja.”
“Tetapi sekali ini tamu ayahmu agak lain. Tamu yang tentu tidak kau duga akan datang hari ini.”
Pandan Wangi memandang orang itu dengan heran. Dan sekali lagi ia mendesak, ”Siapakah tamu Ayah kali ini?”
“Tamu Ki Gede datang dari seberang Kali Opak. Bah¬kan dari seberang Alas Mentaok, dari seberang Alas Tambak Baya.”
“Siapa, siapa?”
“Dari seberang Candi Prambanan. He, kau pernah lihat candi itu? Candi yang sangat indah?”
Pandan Wangi tidak segera menangkap maksud para pengawal itu. Karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu. Sedang para pengawal itu masih saja tersenyum-senyum.
“Apakah kalian mendapat perintah dari Ayah untuk menyusul aku?”
“Tidak. Tidak,” jawab para pengawal itu, ”aku ha¬nya melihat tamu-tamu itu, dan kebetulan aku melihat kau di sini.”
“Siapakah sebenarnya tamu itu?” Pandan Wangi menjadi jengkel.
Tetapi para pengawal itu masih saja tersenyum-senyum. Se¬dangkan Pandan Wangi menjadi semakin jengkel karena¬nya, sehingga ia berkata, ”Jika kalian tidak segera menga¬takan siapa tamu itu, aku akan mengejutkan kuda kalian dan kalian akan dibawanya berlari sambil melonjak-lonjak. Jika ada diantara kalian yang terlempar karenanya, itu bukan salahku.”
“Jangan, Jangan,” para pengawal itu hampir ber¬bareng menyahut.
“Jika demikian, sebut tamu itu.”
“Tamu itu datang dari Sangkal Putung. Ki Demang Sangkal Putung bersama puteranya yang gemuk itu. Kau sudah mengenalnya bukan?”
“He,” sekilas teroancar kegembiraan dimata Pan¬dan Wangi. Namun kemudian ia berusaha menghapus kesan itu dan berkata, ”Aku tidak kenal mereka.”
“He,” salah seorang pengawal itu pun menyahut, ”kau tidak kenal mereka? Dua anak muda yang pernah ber¬ada di Tanah Perdikan ini pada saat tanah ini dibakar oleh api kedengkian dan iri hati?”
“Cukup.”
“Maaf Pandan Wangi. Bukan maksudku mengingat¬kan pertentangan yang pernah terjadi. Tetapi aku ingin mengingatkan kau pada kedua anak-anak muda itu. Yang seorang gemuk namun tampan. Dengan wajah yang agak ke kanak-kanakan. Sedang yang lain sedang dan agak lebih bersungguh-sungguh.”
“Aku tidak ingat mereka lagi. Dan aku tidak sem¬pat mengingatnya,” lalu ia pun berpaling kepada anak muda yang diajaknya berburu, ”marilah apakah kau masih ingin berburu?”
Anak muda itu meniadi heran. Ia tidak mengerti perubahan sikap yang tiba-tiba saja. Karena itu ia tidak segera menjawab.
“Katakan, apa keinginanmu sekarang?” bertanya Pandan Wangi.
Anak muda itu tidak mengerti maksud Pandan Wangi yang sebenarnya. Sekenanya saja ia menjawab, ”Apakah kita sebaiknya pulang saja?”
“Ah,” Pandan Wangi berdesah, ”jika kita harus pulang, sama sekali bukan karena ada tamu itu. Tetapi karena kaulah yang ingin pulang.”
Anak muda itu menjadi semakin bingung, sedang pa¬ra pengawal itu pun masih saja tersenyum-senyum.
“Pergilah. Jika kalian mempunyai kewajiban, laku¬kanlah. Jangan mengganggu aku lagi. Aku masih ingin berburu dan masih ingin berbuat apa saja sebelum aku pulang, dan kapan aku akan pulang tergantung kepadaku. Ada atau tidak ada tamu.”
“Baiklah,” jawab peronda itu sambil mengangguk¬kan kepalanya. Lalu katanya, ”Kami memang akan me¬lanjutkan tugas kami mengelilingi daerah Selatan ini sam¬pai ke Kali Praga. Dan aku pun tidak mendapat perintah dari Ki Gede agar menjemputmu. Aku tidak tahu, pem¬bicaraan apakah yang sedang berlangsung, tetapi aku meli¬hat wajah-wajah yang buram. Mula-mula Ki Gede akan memerintah¬kan adikmu sepupu untuk menjemputmu, tetapi tiba-tiba niat itu dibatalkan. Adikmu sepupu telah ada diregol ketika Ki Gede berteriak dengan nada yang tinggi.”
Wajah Pandan Wangi menegang. Lalu dengan cemas ia bertanya, ”Apa yang dikatakan Ayah ?”
“Aku tidak tahu. Mungkin adikmu itu berbuat kesalahan, atau apapun. Tetapi Ki Gede agaknya marah sekali.”
Wajah Pandan Wangi menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia berkata, ”Aku akan pulang.”
“Ki Gede tidak menunggu kau. Justru sebaiknya kau menunggu perintahnya.”
“Sudah aku katakan. Terserah kepadaku. Apakah aku akan pulang atau tidak.”
“Baik, baik.”
“Pergi. Cepat pergi.”
Para peronda itu pun kemudian meninggalkan Pan¬dan Wangi. Tetapi mereka masih saja tersenyum-senyum. Namun salah seorang dari mereka berkata, ”Kau sudah keterlaluan. Bagaimana jika Pandan Wangi tergesa-gesa pulang dan bertanya tentang ceriteramu itu kepada Prastawa.”
“Tidak apa-apa. Prastawa akan menjadi kebingungan. Tetapi Pandan Wangi akan segera tahu, bahwa kita ber¬bohong.”
“Dan besok jika kita bertemu dengan gadis itu, kita akan dilabraknya.”
“Besok ia pasti sudah lupa. Anak yang gemuk itu akan sangat menarik perhatiannya.”
“Tetapi jika ia masih ingat akan kelakarmu ini, terserahlah kepadamu. Mungkin kepalamu akan dikerawunya dengan ampas kelapa.”
Kawannya justru tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus ketika ia mendengar derap kuda berlari kencang. Ketika ia berpaling dilihatnya Pandan Wangi dan tamunya itu berpacu pulang diikuti oleh beberapa orang pengiring.
“Tentu ia menyangka sesuatu telah terjadi. Ia pasti mengira bahwa terjadi perselisihan antara tamunya dan ayahnya tentang dirinya.”
Kawannya tersenyum. Lalu, ”Kita memang harus berhati-hati besok, jika ia masih mengingatnya.”
Para pengawal itu melanjutkan perjalanan mereka. Namun mulailah mereka merasa cemas. Jika tiba-tiba saja Pandan Wangi berbuat sesuatu dirumahnya, siapakah yang harus bertanggung jawab? Dan hampir diluar sadarnya pengawal yang mencoba mengganggu Pandan Wangi itu berkata hampir kepada diri sendiri, ”Tetapi, jika Pandan Wangi langsung marah-marah dirumahnya dan berbuat diluar dugaan karena sifatnya yang keras, dan agak seperti se¬orang laki-laki itu, siapakah yang dapat dipersalahkan?”
“Kau, kau,” kawannya menudingnya, ”kau me¬mang kurang berhati-hati. Kau kurang menempatkan diri apabila kau berhasrat bergurau. Persoalan ini bagi Pandan Wangi bukan persoalan kecil. Sekian lamanya ia menung¬gu, tiba-tiba saja ia dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak diinginkannya.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa tentang anak muda Sangkal Putung itu.”
“Tetapi kau sengaja memberikan gambaran yang salah pada Pandan Wangi.”
“Dan kau tidak mencegahnya. Sekarang kau me¬nyalahkan aku pula.”
Kawannya tidak menjawab. Ia menjadi kasihan juga melihat wajah pengawal yang merasa terdorong terlampau jauh itu.
“Aku akan kembali. Mungkin sesuatu akan terjadi.”
Tetapi kawannya menggeleng, ”kami sedang menja¬lankan tugas. Jika selama kita diperjalanan kembali terjadi sesuatu disini, dosa kita akan bertambah-tambah. Bukankan kadang-kadang didaerah ini timbul sesuatu yang tidak dapat kita mengerti, yang sampai saat ini masih merupakan teka-teki? Meskipun kita mengetahuinya bahwa persoalan yang sebenarnya tidak terjadi di Menoreh, tetapi didaerah diseberang Kali Praga, namun sentuhan peristiwa itu didaerah Menoreh tidak dikehendaki oleh Ki Gede. Dan jika kita tidak bertindak tegas sejak permulaan, maka semakin lama persoalannya akan menjadi semakin sulit dipecahkan dan semakín sulit diatasi.”
Pengawal yang merasa menyesal atas kelakarnya yang berbahaya itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, ”Aku menjadi gelisan sekarang.”
“Salahmu.”
“Bagaimana jika aku kembali seorang diri, dan ka¬lian meneruskan tugas kita.”
“Terserah kepadamu.”
Orang itu merenung sejenak, lalu, ”Biarlah aku terus bersama kalian. Mudahkan tidak terjadi apa-apa. Tolong bantulah aku berdoa.”
Kawan-kawannyalah yang kemudian tersenyum. Tetapi karena mereka tidak sampai hati melihat kegelisahan dan kecemasan yang mencengkam jantung kawannya itu, hampir berbareng kawan-kawannya menjawab, ”Baiklan. Kami akan berdoa, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.”
Pengawal yang sedang menyesal itu memandangi wajah kawan-kawannya berganti-ganti. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sementara itu, Pandan Wangi berpacu kembali ke induk Tanah Perdikan Menoreh. Tiba-tiba saja hatinya menjadi gelisah. Ia memang dicemaskan oleh ceritera pengawai itu, seakan-akan telah terjadi sesuatu dirumahnya. Seolah-olah kedatangan tamu-tamu ayahnya dari Sangkal Putung itu membawa persoalan yang kurang menyenangkan.
Karena itu, ia hampir tidak menghiraukan lagi anak muda yang berburu bersamanya, yang masih ada hubungan darah dengan keluarganya meskipun sudah agak jauh.
“Pandan Wangi,” anak muda itu memanggilnya, “jangan terlalu cepat.”
Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Ia masih saja berpacu lewat jalan berdebu.
Beberapa orang petani yang melihat Pandan Wangi bergegas pulang itu mengerutkan keningnya. Namun se¬orang anak muda yang lewat dipematang berkata kepada petani itu, ”Pandan Wangi tergesa-gesa pulang karena ada tamu dirumahnya. He, apakah Paman tidak melihat iring-iringan orang berkuda lewat Jalan disebelah Utara itu? Mereka datang dari Sangkal Putung.”
Petani itu menggeleng.
“O, jika Paman melihatnya, Paman tidak akan heran lagi. Tamu itu adalah anak muda yang beberapa saat yang lalu ada di Tanah ini, ketika Tanah ini dibakar oleh pertentangan antara Ki Argapati dan Ki Argajaya bersama Sidanti.”
“O,” petani itu mengangguk-angguk.
“Bukankah Paman ikut dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi saat itu?”
“Ya. Pertentangan itu kini sudah kita lupakan.”
“Tentu. Tetapi bahwa anak muda itu pernah disini itulah yang aku ingat. Dan anak muda itu memang mem¬punyai persoalan tersendiri dengan Pandan Wangi.”
Petani itu tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepa¬lanya ia berkata, “Pantas Pandan Wangi tidak sabar lagi.”
Dan ketika petani itu mengangkat wajahnya, dilihat¬nya debu yang meloncat ke udara dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari kencang.
Diregol padukuhan induk, Pandan Wangi mengurangi kecepatan derap kudanya. Bahkan sejenak ia menjadi ra¬gu-ragu. Apakah ia akan langsung pulang kerumahnya atau akan singgah dahulu dimanapun juga untuk menge¬tahui keadaan dirumahnya. Apakah benar tamu-tamunya itu datang dari Sangkal Putung, atau pengawal itu keliru menjawabnya.
Pandan Wangi mengerutkan keningnya ketika seorang anak muda diregol padukuhannya tertawa tanpa alasan sambil memandanginya.
“He, kenapa kau tertawa?” bertanya Pandan Wa¬ngi.
“Tidak apa-apa. Tetapi pulanglah. Ada tamu yang membawa oleh-oleh yang sangat menarik.”
Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia sadar bahwa anak muda itu sengaja mengganggunya. Karena itu maka ia pun berpura-pura tidak mengetahuinya dan bertanya lebih lanjut, ”Siapa tamu itu?”
“Aku kurang tahu. Tetapi yang aku ketahui mere¬ka datang dari jauh dan membawa oleh-oleh buatmu. Khusus buatmu.”
“Terima kasih. Aku akan melihat tamu yang mem¬bawa oleh-oleh itu.”
Anak muda diregol pedukuhan itu tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja Pandan Wangi yang maju per¬lahan oleh keragu-raguan.
“He, siapakah sebenarnya orang yang selalu disebut-sebut itu Pandan Wangi?” bertanya anak muda yang berburu bersama Pandan Wangi itu.
“Aku tidak tahu,” jawab Pandan Wangi.
“Mustahil. Aku menangkap kesan yang aneh pada setiap orang yang memberitahukan tentang tamu itu. Me¬reka tertawa-tawa seperti orang kesurupan, dan bahkan ada yang mirip-mirip dengan orang gila,” anak muda itu berhenti sejenak, lalu, ”dan sikapmu sendiri menjadi aneh. Tentu kau sudah tahu siapakah tamumu itu.”
“Aku tidak tahu.”
“Setidak-tidaknya kau dapat menduga, siapakah tamumu, yang oleh anak muda diregol ini disebut membawa oleh-oleh yang sangat menarik buatmu.”
Pandan Wangi tidak menyahut.
“Tentu kau tidak berkeberatan mengatakan kepada¬ku, siapakah tamumu itu. Apakah yang mereka maksudkan adalah keluargaku?”
Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Tentu tidak. Kau tidak datang hari ini. Kau sudah ada dirumahku. Dan mereka tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganmu, karena tetangga-tetanggaku belum mengenalmu dengan baik.”
“Aku pernah datang kerumahmu sebelumnya.”
“Tetapi sudah lama sekali.”
Anak muda itu tidak menyahut lagi. Tampaklah ke¬ningnya berkerut-merut. Ia mencoba untuk mengetahui siapakah tamu Ki Gede Menoreh kali ini, yang agaknya le¬bih penting dari dirinya sendiri. Tetapi tidak seorangpun yang dapat memberitahukan kepadanya. Karena Pandan Wangi sendiri tidak mau menyebut tamunya, maka para pengiringnya pun tentu tidak akan mau mengatakannya.
“Aku akan langsung pulang,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berdesis.
Anak muda yang bersamanya itu tidak mengerti mak¬sudnya. Kenapa Pandan Wangi harus berkata demikian. Jika ia tidak pulang ke rumah, maka kemana saja ia akan pergi.
Demikianlah maka mereka pun langsung menyelusur jalan induk Tanah Perdikan Menoreh.
Meskipun masih juga ragu-ragu, namun Pandan Wangi langsung menuju keregol rumahnya. Ketika ia akan me¬masuki regol itu, tiba-tiba saja berkata, ”Kemarilah.”
Anak muda yang berburu bersamanya itu menjadi he¬ran. Tetapi Pandan Wangi berkata sekali lagi, ”Mari¬lah kita bersama memasuki regol itu. Jangan terlalu lam¬bat. Kita langsung masuk ke longkangan samping dan ber¬henti dibelakang.”
“Kenapa?”
“Ikut kataku.”
Anak muda itu tidak sempat bertanya lagi. Pandan Wa¬ngi sudah mempercepat lagi derap kudanya dan memberi isyarat agar anak muda itu berkuda disampingnya.
Sambil menengadahkan wajahnya Pandan Wangi memasuki halaman rumahnya bersama anak muda itu. Sama sekali tidak berpaling ke pendapa dan langsung menuju ke longkangan samping.
“Itulah Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati.
“Ya,” jawab Kiai Grmgsing.
Tetapi orang-orang yang berada dipendapa itu menjadi heran. Pandan Wangi berpaling pun tidak.
“Tentu ia belum tahu bahwa ada tamu dipendapa ini.”
Kiai Grlngsing, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sang¬kal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun dalam pada itu, terasa sesuatu berdesir didada Swandaru. Ia belum mengenal anak muda itu. Meskipun ia sudah mendengar bahwa anak muda itu masih ada sangkut¬an darah pada garis keturunan ibu Pandan Wangi. Namun sikapnya agak memanaskan hatinya. Apalagi Pandan Wangi sendiri sama sekali tidak berpaling dan tidak menghirau-kan kehadirannya.
Tetapi ia pun mencoba menghibur dirinya sendiri dengan kalimat yang dikatakan oleh Ki Argapati, ”Tentu ia belum tahu bahwa ada tamu dipendapa ini.”
“Tetapi anak muda yang lebih dahulu berpacu me¬lintasi halaman ini melihat bahwa kami duduk disini dan dengan tergesa-gesa turun,” berkata Swandaru didalam hati¬nya pula.
Tidak ada yang dapat dimintainya pertimbangan. Agung Sedayu tentu hanya akan mengganggunya saja.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun menjadi heran melihat sikap Pandan Wangi. Apakah mungkin Pandan Wangi tidak melihat tamu-tamu yang ada dipendapa, ini atau ia memang mengalami perubahan selama ini?
Namun sikap itu memang menimbulkan berbagai pertanyaan dihati anak-anak muda yang sedang duduk dipendapa itu bersama Ki Gede Menoreh.
Dalam pada itu Pandan Wangi yang terus saja mem¬bawa kudanya kelongkangan langsung pergi ke belakang rumahnya. Dengan tenangnya ia meloncat turun dan me¬nambatkan kudanya pada sebatang pohon. Tanpa menghi¬raukan apapun juga, maka Pandan Wangi pun langsung masuk ke bagian belakang rumahnya itu.
Anak muda yang pergi berburu bersamanya itu pun mengikutinya saja. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Pandan Wangi. Sedang ia masih belum mendapat kesem¬patan untuk bertanya lebih lanjut.
Dibagian belakang dari rumahnya itu Pandan Wangi bertemu dengan adik sepupunya, dan langsung saja ia bertanya, ”Kenapa Ayah marah?”
Prastawa memandang Pandan Wangi dengan heran. Tetapi sebelum ia menjawab Pandan Wangi mendesaknya, ”Kenapa? Apakah tamu-tamu dipendapa itu membawa berita buruk atau penghinaan terhadap kita disini?”
“Aku tidak mengerti,“ Prastawa terheran-heran.
“Kenapa Ayah marah? Kenapa?”
“Paman Argapati sama sekali tidak marah.”
“He?” Pandan Wangi mengerutkan keningnya, lalu, ”tetapi kenapa kau dipanggilnya setelah kau sampai di regol halaman pada saat kau akan memanggil aku pulang?”
“Aku tidak mengerti. Aku tidak akan memanggil kau pulang. Kami disini mengetahui bahwa kau tidak akan ber¬buru terlalu lama. Karena itu, kami sama sekali tidak ber¬maksud memanggil kau pulang.”
Pandan Wangi menjadi agak bingung. Tetapi ia masih mendesaknya, ”Aku tidak peduli, tetapi kenapa Ayah marah dan pembicaraan antara Ayah dan tamu-tamu dipendapa itu tidak berlangsung dengan baik?”
“Tidak ada yang marah. Mereka berbicara dengan baik. Ketika kami menghidangkan makanan dan minuman, semuanya tertawa-tawa dengan cerah. Tidak ada apa-apa. Sung¬guh, tidak ada apa-apa dengan tamu-tamu itu.”
“Jadi, kau tidak dipanggil Ayah ketika kau akan me¬manggil aku pulang?”
“Aku tidak akan memanggil kau pulang.”
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Dicobanya meng¬ingat wajah para pengawal itu. Dan tiba-tiba ia menggeram, ”Gila, Mereka pasti membohongi aku. Mereka sengaja meng¬gangguku. Awas, jika besok aku bertemu lagi, aku pilin telinganya sampai putus. Jika tidak ada orang gila itu, aku tentu masih belum pulang saat ini.”
Prastawa memandang Pandan Wangi dengan heran. Lalu ia pun bertanya, ”Apakah sebenarnya yang telah ter¬jadi?”
“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”
Pandan Wangi pun kemudian membanting dirinya duduk diatas sebuah amben bambu. Dipandanginya adik sepupu¬nya itu sejenak namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, menyesali ketergesa-gesaannya. Bahkan kemudian ia berkata didalam hati, ”Tentu orang-orang menyangka, bahwa aku tergesa-gesa pulang karena tamu-tamu itu.”
Dalam pada itu, anak muda yang pergi berburu ber¬samanya menjadi sangat heran akan tingkah laku Pandan Wangi. Karena itu, setelah Pandan Wangi agak tenang dan duduk diamben bambu ia mencoba bertanya, ”Pandan Wangi, apakah yang sebenarnya telah terjadi?”
Pandan Wangi memandanginya sejenak, lalu, ”Tidak ada apa-apa yang terjadi.”
“Tetapi tampaknya kau menjadi bingung.”
Pandan Wangi mengangguk kecil, lalu, ”Ya, aku menjadi bingung karena para pengawal itu telah memperolok-olokkan aku. Awas, jika aku bertemu mereka besok.”
Anak muda itu masih tetap tidak mengerti. Dan tanpa disadarinya ia telah bertanya, ”Siapakah tamu-tamu itu Pan¬dan Wangi?”
Pandan Wangi memandang anak muda itu sejenak, lalu, ”Bertanyalah kepada Prastawa.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Sambil meng¬anggukkan kepalanya ia meninggalkan Pandan Wangi dan mendekati Prastawa yang masih juga heran melihat sikap Pandan Wangi.
“Siapakah tamu-tamu itu?”
Prastawa ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, ”Bertanyalah kepada Pandan Wangi.”
“He?” anak muda itu menjadi termangu-mangu pula. Katanya, ”Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Dan siapakah sebenarnya orang dipendapa itu? Aku bertanya kepada Pandan Wangi, disuruhnya aku bertanya kepada¬mu. Sekarang aku bertanya kepadamu, kau suruh aku bertanya kepada Pandan Wangi.”
“O, apakah Pandan Wangi menyuruhmu bertanya kepadaku?”
“Ya.”
Prastawa masih ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab, ”Mereka datang dari seberang Alas Tambak Baya, bah¬kan dari seberang candi Prambanan.”
“Jauh?”
“Ya. Cukup jauh. Salah seorang dari mereka adalah Demang di Sangkal Putung.”
“Demang di Sangkal Putung,” anak muda itu me¬ngulangi.
“Ya, Demang di Sangkal Putung. Sedang anak-anak mu¬da yang ada diantara mereka adalah anak-anak muda yang pernah tinggal di rumah ini.”
“Tinggal dirumah ini? Kenapa?”
Prastawa menjadi berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Peristiwa yang pernah terjadi diatas Tanah Perdikan Menoreh merupakan goresan yang tajam dihatinya. Ia ingin melupakannya sama sekali. Karena itu, maka ia tidak dapat menjawab sebenarnya. Katanya, ”Mereka berada di sini untuk beberapa lamanya. Mereka adalah perantau yg berkeliling dari satu daerah kedaerah lain tanpa tujuan.”
“Perantau? Apakah mereka tidak mempunyai tem¬pat tinggal untuk menetap.”
Prastawa tidak segera menyahut. Dipandanginya anak muda itu sejenak, seakan-akan ingin mengetahui alasan pertanyaan-pertanyaannya itu.
Dan anak muda itu mendesaknya, ”Jadi mereka ti¬dak mempunyai rumah?”
Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Tentu. Su¬dah aku katakan, mereka berasal dari Sangkal Putung. Mereka merantau karena panggilan hatinya, bukan karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Yang seorang dari mereka itu adalah Demang Sangkal Putung Dan su¬dah barang tentu Ki Demang itu bukan perantau seperti yang lain, karena ia mempunyai tugas tertentu dirumahnya.”
Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya lagi, ”Kenapa mereka datang kemari?”
“Mereka adalah sahabat-sahabat Ki Gede. Dan anak-anak muda yang ada diantara mereka adalah sahabat anak-anak muda Menoreh.”
“Sahabat anak-anak muda Menoreh. Bagaimana mungkin?”
“Ceritera panjang sekali. Tetapi yang penting kau ketahui adalah bahwa anak muda yang gemuk itu adalah putera Ki Demang di Sangka Putung. Tentu mereka mem¬punyai kepentingan khusus karena mereka datang dari ja¬rak yang jauh.”
“Apakah kepentingan khusus itu?
“Bertanyalah kepada Pandan Wangi.”
“Tentu ia tidak akan menjawab. Tentu ia akan menyuruhku bertanya kepadamu lagi. Ternyata kalian memperolok-olokkan aku sehingga aku menjadi bingung.”
“Semua orang merasa dirinya diperolok-olokkan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus melayani kalian. Sudahlah. Nanti kalian akan tahu juga apa kepentingan mereka da¬tang kemari.”
Anak muda itu tidak bertanya lagi. Sebenarnya ia memang ingin bertanya kepada Pandan Wangi. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya Pandan Wangi sudah berdiri dan melangkah masuk ke ruang dalam, dan langsung ke dalam biliknya.
Setelah menutup pintu rapat-rapat, maka Pandan Wangi pun merebahkan dirinya dipembaringan. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari perasaan yang sebenarnya bergejolak didalam hatinya.
Sudah terlalu lama ia menunggu. Bahkan hampir saja ia menjadi berputus asa. Seakan-akan ia sedang menunggu terbitnya bulan dimusim hujan. Setiap kali ia menengadahkan wajahnya, maka langit selalu gelap disaput olen hawa yang kelabu.
Namun tiba-tiba saja kini yang ditunggunya itu dating, ”Apakah mereka datang untuk memenuhi upacara seperti yang lajim, melamar dengan resmi atau justru sebaliknya?” pertanyaan itu masih juga mengganggunya. Untuk menenangkan dirinya sendiri. Pandan Wangi berka¬ta didalam hati, ”Jika tidak demikian, aku kira mereka tidak akan datang. Sejauh-jauhnya mereka akan menyuruh seseorang untuk menyampaikannya kepada Ayah.”
Terasa sesuatu bergejolak didalam hati Pandan Wangi. Ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya sedang diha¬dapi. Tetapi harapan yang selama ini rasa-rasanya menjadi semakin pudar itu pun tumbuh kembali.
Diluar sadarnya Pandan Wangi pun kemudian bangkit perlahan-lahan. Diamat-amatinya jari-jari tangannya yang lentik teta¬pi tidak sehalus tangan gadis pingitan, karena tangannya itu sering tersentuh tangkai pedang atau menggenggam busur dan anak panah, kadang-kadang memegangi kendali kuda.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya