Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 171
“MAHESA JENAR,” potong Kebo Kanigara.
“Jangan.”
“Aku tidak sampai hati melihat Arya Salaka dan aku tidak sampai hati melihat Kakang Kebo Kanigara kehilangan anaknya satu-satunya,” berkata Mahesa Jenar.
“Tetapi,” Kebo Kanigara menjadi gelisah. Ketika ia memandang kelapangan, dilihatnya Baginda berjalan ke arena. Dibelakangnya berjalan seorang tua dalam pakaian kepangeran. “Kau lihat orang tua itu?” bertanya Kebo Kanigara.
“Ya, aku lihat. Pangeran Buntara, yang bergelar Panembahan Ismaya dan pernah menggemparkan Demak sebagai seorang yang bernama Pasingsingan.”
“Ya,” sahut Kebo Kanigara.
“Apa peduliku.”
“Mahesa Jenar,” Kebo Kanigara menjadi bertambah gelisah. Tetapi tiba-tiba ia melihat Mahesa Jenar tertawa. Aneh sekali. Gajah Sora pun menjadi sangat heran karenanya. Dan mereka mendengar Mahesa Jenar itu berkata, “Aku telah bertemu di Lemah Telasih. Ki Buyut Banyubiru telah mengatakan kepadaku semuanya.”
“Oh,” Kebo Kanigara berdesah.
“Kau mencemaskan aku.”
“Kakang pun telah mencemaskan aku pula.”
Gajah Sora memandang mereka dengan penuh pertanyaan. Namun tiba-tiba mereka melihat Paningron melambaikan kepada mereka.
“Marilah kakang,” ajak Mahesa Jenar. Kita menghadapi Baginda.”
Baginda pun kemudian melihat mereka datang. Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Gajah Sora. Dengan tersenyum Baginda menerima mereka, sambil berkata, “Eyang Buntara. Apakah mereka akan kami bahwa masuk ke dalam perkemahan?”
“Ya cucunda Baginda.”
“Bawalah,” perintah Baginda kepada Paningron. Baginda itu memandang Arya Salaka sesaat. Kemudian dihampirinya anak yang masih menyeraingai itu. Ditepuknya pundaknya sambil berkata, “Kau pun anak luar biasa. Mari, masuklah ke dalam kemahku.”
Terasa sesuatu yang aneh di dalam dada Arya Salaka. Perlahan-lahan ia menyembah, dan kemudian diikutinya Baginda masuk ke dalam perkemahan.
Di dalam perkemahan itu duduk Baginda Sultan Trenggana, Pangeran Buntara dan Paningron, dihadap oleh Karebet, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora, Lembu Sora, Arya Salaka dan Bantaran.
Dengan wajah yang terang Baginda itu memberi kesempatan kepada Pangeran Buntara untuk berceritera, apa saja sebenarnya yang telah mereka lakukan.
“Oh,” Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. “Jadi semuanya ini hanyalah sebuah permainan saja? Permainan yang berbahaya.”
“Ya,” jawab Pangeran Buntara.
“Namun dengan demikian Baginda akan menjadi tenang menghadapi masa-masa depan. Baginda tidak akan lagi diganggu oleh prajurit yang selalu bersedih hati, dan menyebabkan permaisuri bersedih pula.”
Baginda mengangguk-anggukkan kepala. Dan Gajah Sora pun berkata. “Wajarlah kalau selama ini Kakang Kebo Kanigara tidak tampak bersungguh-sungguh berduka. Rupa-rupanya Karebet telah mendapat ijin daripadanya."
Karebet tersenyum. Tetapi ia menjadi ngeri pula kalau dikenangnya cara-cara yang ditempuhnya itu. Apalagi ketika pada suatu malam ia dikejar oleh Arya Salaka ketika ia berusaha menemui Kebo Kanigara di halaman rumah Gajah Sora.
Tetapi bukan itu saja. Tiba-tiba Pangeran Buntara itu pun berkata.“Baginda, hari ini adalah dapat memanggil kembali Karebet, maka Baginda akan mendapatkan kembali pusaka-pusaka Baginda itu. Selain Sangkelat yang telah diserahkan lewat Karebet kemarin, dan Baginda sendiri melihat bahwa keris itu agaknya telah luluh dalam diri Karebet, sehingga meyakinkan Baginda akan berhasilnya cara ini, maka kini perkenankan Mahesa Jenar menyerahkan pula keris-keris yang selama ini dicarinya, Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.”
Alangkah terkejutnya Baginda. Sehingga dengan serta merta Baginda berkata, “Jadi keris-keris itu telah kau ketemukan?”
Mahesa Jenar menyembah dengan takzimnya. Jawabnya penuh haru.
“Hamba Baginda.”
“Dimanakah pusaka-pusaka itu kau simpan.”
MAHESA JENAR tidak menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Pangeran Buntara yang tua itu. Sehingga Pangeran itu pun berkata, "Kedua keris itu aku simpan Baginda."
"Oh," Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian. "Mahesa Jenar, kecuali Karebet, maka kaupun akan kembali ke istana. Pekerjaan yang kau pilih telah selesai. Sekarang teruskanlah pekerjaanmu yang lama. Tenagamu sangat aku perlukan."
Mahesa Jenar menyembah dengan penuh hormat. Ia tidak dapat menolak perintah itu. Dan karena itulah maka ia menjawab. "Hamba Baginda. Hamba hanya akan tunduk pada perintah Baginda."
Baginda itu pun menarik nafas panjang-panjang. Panjang sekali. Seakan-akan semua mendung yang meliputi Demak kini telah terbuka. Ketika Baginda diperkenalkan satu demi satu dengan orang-orang yang menghadap, maka Baginda berkata. "Jadi gadis ini adalah bakal isterimu Mahesa Jenar?"
"Hamba Baginda," jawab Mahesa Jenar sambil tersipu-sipu.
"Dengan pedang dilambungnya?"
"Hamba Baginda," sekali lagi Mahesa Jenar menyahut sambil menyembah.
"Yang ini, kakeknya?"
"Hamba Baginda. Gadis itu telah tidak berayah dan beribu."
"Oh," Baginda menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba Baginda itupun berkata. "Ki Ageng Pandan Alas. Biarlah aku melamar cucumu untuk Mahesa Jenar. Kau terima lamaran itu? Sebenarnya aku telah mendengar sebagian dari kisah hubungan Mahesa Jenar dan cucumu yang tertunda-tunda itu. Dan kini pekerjaan Mahesa Jenar itu sudah selesai."
"Ampun Baginda," sembah orang tua itu. Betapa ia menjadi sangat gembira. Cucunya telah mendapat sangkutan yang diidamkannya. Karena itu maka matanya pun menjadi basah. Jawabnya, "Bukan main anugerah yang hamba terima."
"Jangan tunggu umurnya bertambah tua, Mahesa Jenar. Bulan ini biarlah kakek itu merayakan peralatan perkawinannya. Bukankah semalam purnama sedang naik. Masih ada waktu setengah bulan."
Mereka berpaling ketika mereka mendengar isak Rara Wilis yang tak dapat ditahannya. Hari yang ditunggu-tunggu kini benar-benar telah mambayang di pelupuk matanya. Akhirnya hari itu akan sampai pula kepadanya.
Arya Salaka pun kemudian mendapat pengukuhan kembali atas tanah perdikannya. Dan dengan sebuah senyuman Baginda berkata, "Bagaimanakah tuntutanmu atas gadis putera Kebo Kanigara itu?"
Arya Salaka tidak menjawab. Namun ia masih menyeringai kesakitan. Dadanya masih nyeri karena Ajinya yang membentur Aji Lembu Sekilan.
"Gadis itu tidak berada disini," berkata Baginda. "Tetapi besok akan segera kau jumpai di Banyubiru."
Hari itu adalah hari yang menentukan bagi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Juga hari yang menentukan bagi Karebet. Meskipun para prajurit Demak dan laskar Banyubiru masih bingung melihat perkembangan keadaan, namun mereka menjadi lega, ketika mereka melihat para pemimpin mereka menjadi gembira. Pertentangan itu benar-benar telah berakhir.
Namun dalam pada itu Baginda terkejut melihat Arya Penangsang sudah siap di atas punggung kudanya. Dengan lantang ia berteriak. "Aku akan pergi berburu sendiri paman. Aku dapat berbuat itu tanpa orang lain. Biarlah Karebet menemui paman dan adinda puteri bungsu."
Baginda terkejut. Tetapi Arya Penangsang telah pergi diiringi oleh Tumenggung Prabasemi.
Angin pegunungan bertiup semakin kencang mengguncang daun-daun rimba. Semua persoalan yang dihadapi Baginda terasa seakan-akan telah dihancurkan pula oleh angin itu. Persoalan-persoalan yang mengganggunya selama ini dalam tugasnya menyatukan tanah tumpah darah.
Tetapi kembali Baginda diganggu oleh sebuah persoalan yang baru saja tumbuh. Agaknya Arya Penangsang, kemanakannya itu tidak senang melihat hubungan Karebet dengan puterinya. "Tentu pokal Prabasemi," pikir Baginda.
Namun ketika Penangsang kembali, Prabasemi tidak turut serta, Tumenggung itu tiba-tiba menghilang. Disadarinya bahwa Karebet telah merebut kemenangannya, dan ia akan mendapat kesusahan karena itu. Tetapi persoalan itu tidak akan segera memerlukan tangan Baginda untuk menyelesaikan. Persoalan itu masih akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang.
Ketika awan yang putih berarak ke utara, maka Mahesa Jenar menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit cerah secara hatinya. Dan ia menjadi semakin gembira ketika dilihatnya kemudian Arya Salaka dan Karebet bersendaugurau dengan gembiranya. Tetapi lebih-lebih lagi ketika ia melihat seorang gadis yang berpedang dilambungnya tersenyum kepadanya sambil berbisik. "Kakang, hari itu akan segara datang."
"Ya Wilis. Segara akan datang. Semoga."
Keduanya pun kemudian menundukkan wajah-wajah mereka. Sedang hati mereka memanjatkan perasaan terima kasih serta do'a kepada Tuhan yang Maha Esa, semoga mereka akan sampai pada saat-saat yang ditunggu-tunggu itu.
-----
T A M A T
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya