Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 168
Panembahan Ismaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Kenapa Sultan Trenggana itu tidak saja menghendaki gadis yang lain?”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin heran mendengar tanggapan Panembahan Ismaya itu. Panembahan Ismaya sama sekali tidak menyesalkan tindakan Karebet atau ketergesa-gesaan Kebo Kanigara, tetapi yang mula-mula disesalkan adalah Sultan Trenggana.
Apalagi ketika Panembahan itu berkata, “Adalah wajar sekali kalau Kebo Kanigara menjadi marah."
“Tetapi kemarahan kakang Kebo Kanigara berlebih-lebihan Panembahan. Apakah kakang Kebo Kanigara tidak dapat mengambil cara lain, sehingga pertumpahan darah itu tidak terjadi. Arya Salaka yang merasa kehilangan pula, mungkin akan dapat reda, apabila Kakang Kebo Kanigara mencoba menempuh cara yang lain.”
Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Sekali lagi jawabnya mengejutkan Mahesa Jenar. "Mungkin Kebo Kanigara dan Arya Salaka memperhitungkan juga harga diri mereka, sehingga mereka tidak akan dapat datang kepada Trenggana dan mohon belas kasihan kepada Sultan itu.”
Mahesa Jenar kini benar-benar menjadi bingung. Apakah dirinya sendirilah yang kini telah kehilangan kejantanannya sehingga ia memandang persoalan itu sebagai persoalan yang harus diselesaikan tanpa pertumpahan darah? Ataukah karena ia sudah terdorong kepada suatu keinginan untuk berumah tangga, sehingga penyelesaian yang diangankannya itu benar-benar sebagai suatu tindakan yang terlalu lemah dan bahkan telah mengorbankan harga dirinya?
“Apakah aku telah berubah?” pertanyaan itu timbul didalam hatinya. Meskipun demikian maka ia mencoba berkata pula. "Panembahan, mungkin kakang Kebo Kanigara tidak mau mengorbankan harga dirinya, mungkin pula karena sebab-sebab lain, sebab-sebab yang tidak dapat aku mengerti. Tetapi bagaimanakah kalau permohonan itu dilakukan oleh orang lain? Oleh Panembahan misalnya. Bahkan Pangeran Buntara masih juga mempunyai sangkut paut yang dekat dengan Sultan Trenggana?”
“Jangan sebut nama itu lagi Mahesa Jenar,” sahut Panembahan itu.
“Pangeran Buntara telah tidak ada lagi. Yang ada sekarang Panembahan Ismaya.”
“Apakah Pasingsingan yang sakti juga tidak dapat berbuat sesuatu untuk meredakan pertentangan ini? Misalnya dengan mengambil Karebet dan dengan pengaruhnya memaksa Karebet menyerahkan Widuri kembali?”
“Dengan demikian soalnya juga tidak akan selesai, Mahesa Jenar. Seandainya Karebet dapat menyerahkan Widuri kembali, sedang Sultan Trenggana masih menghendakinya, maka kau juga akan dapat membayangkan akibatnya.”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengerti keadaan itu. Hampir saja Mahesa Jenar melihat kesalahan itu pada dirinya sendiri. Pada keruntuhan yang dialami.
Hampir-hampir ia mengambil kesimpulan, bahwa ia tidak dapat mengerti sikap Kebo Kanigara dan Arya Salaka karena ia telah kehilangan kejantanannya. Namun berkali-kali terngiang di dalam hatinya. “Tidak. Aku tidak akan membiarkan pertumpahan darah itu terjadi.”
Karena itu maka tiba-tiba Mahesa Jenar itu memberanikan diri berkata, “Panembahan. Baiklah aku mencoba sekali lagi. Kalau kakang Kebo Kanigara dan Panembahan ternyata berpendapat bahwa Sultan Trenggana yang bersalah, karena menghendaki Endang Widuri itu, maka biarlah aku mencoba. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana pada suatu pilihan. Mudah-mudahan dengan demikian terhindarlah segala bencana.”
“Apakah yang akan kau lakukan?” bertanya Panembahan Ismaya.
“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian dengan takzimnya. “Bukan maksudku untuk menjual jasa. Baik kepada Sultan Trenggana maupun kepada siapa pun juga. Maafkan aku, kalau ternyata kemudian tidak berkenan di hati Panembahan. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana kepada suatu pilihan. Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang sampai sekarang belum kembali ke istana, atau Endang Widuri.”
“Mahesa Jenar,” potong Panembahan Ismaya. Wajahnya sesaat menjadi tegang. Namun kemudian wajah itu menjadi tenang kembali.
Perlahan-lahan Panembahan itu berkata, “Apakah maksudmu?”
“Panembahan. Kalau berkenan di hati Panembahan, maka apakah Panembahan sendiri, apakah kakang Kebo Kanigara apakah Arya Salaka, biarlah salah seorang daripadanya menghadap Sultan, memohon untuk menukar Endang Widuri dengan pusaka-pusaka itu.”
“Mahesa Jenar,” berkata Panembahan. “Kedua pusaka itu adalah hakmu. Biarlah kau miliki hak itu. Kau akan mendapat tempat tersendiri dengan mengembalikan keris-keris itu ke istana. Kalau keris-keris itu diserahkan untuk keperluan yang lain, maka kau akan kehilangan hak itu. Keris itu akan kembali, dan Endang Widuri akan kembali pula. Seakan-akan telah terjadi jual beli di antara mereka, sehingga usahamu selama ini akan tidak mendapat penghargaan apapun juga. Sebab tukar menukar itu telah berlangsung.”
“PANEMBAHAN,” jawab Mahesa Jenar. “Aku sama sekali tidak memimpikan penghargaan apapun juga. Biarlah seandainya dengan demikian aku tidak mendapat apapun. Memang aku tidak mengharapkan apapun itu. Namun dengan demikian, maka terhindarlah kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan. Apakah artinya jasa yang dapat aku persembahkan kepada Demak, apabila Demak akan mengalami bencana? Apakah artinya penghargaan yang akan aku terima, kalau Demak mengalami cidera. Panembahan, biarlah aku dilupakan, tetapi Demak akan tetap dalam keadaannya sekarang. Mudah-mudahan justru karena itu, Demak akan menjadi semakin jaya. Karena itu, biarlah kedua keris itu, Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten kembali ke istana, kembali ke gedung perbendaharaan. Tidak perlu Mahesa Jenar yang menyerahkannya. Tidak perlu Mahesa Jenar yang dianggap berjasa menemukannya.”
Panembahan Ismaya menundukkan wajahnya. Tampaklah wajah itu berkerut-kerut. Terasa betapa Panembahan tua itu menahan perasaan yang meluap-luap di dalam dadanya. Sekali ia mengangkat wajahnya, namun kembali wajah itu ditundukkannya.
Sesaat ruangan itu menjadi sepi.
Mahesa Jenar menunggu dengan hati yang sangat berdebar-debar, apakah Panembahan Ismaya akan mengijinkannya. Karena keris-keris itu sekarang berada di tangan Panembahan itulah, maka Mahesa Jenar menggantungkan keadaan kepadanya.
Tetapi alangkah kecewanya Mahesa Jenar itu. Alangkah pahitnya perasaannya ketika ia melihat Panembahan Ismaya itu menggelengkan kepalanya sambil berkata lirih. “Jangan Mahesa Jenar. Jangan. Biarlah orang lain menyelesaikan persoalannya sendiri. Biarlah kau nanti membawa persoalanmu sendiri pula.”
“Panembahan,” suara Mahesa Jenar menjadi parau karena hatinya yang pedih. “Aku benar-benar tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang akan menimpa Demak di saat-saat terakhir ini. Aku telah mencoba menghubungi Kakang Kebo Kanigara, namun aku tidak mendapat tanggapan yang sewajarnya. Kini aku mencoba menghadap Panembahan dan bahkan aku ingin mencoba mempergunakan kedua pusaka-pusaka Istana itu. Namun aku menjumpai pendirian yang sama sekali tidak dapat aku mengerti Panembahan, apakah benar-benar aku telah berubah menjadi seorang pengecut yang takut melihat darah tertumpah. Apakah aku kini sudah tidak pantas lagi ikut serta mempersoalkan perkara-perkara yang rumit seperti sekarang? Kalau demikian Panembahan, maka biarlah aku menyingkir. Meskipun umurku belum terlalu tua, tetapi pendiriankulah yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kini.”
Dada Panembahan Ismaya itu benar-benar bergelora. Tetapi tak dapat ia berbuat lain. Sehingga karena itu, maka tampaklah alangkah ia menjadi gelisah.
“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian, “Apabila demikian keadaannya, maka baiklah aku mohon diri. Aku tidak melihat peristiwa itu terjadi. Biarlah aku langsung menunju ke Gunungkidul. Biarlah aku kini menjadi seorang yang tidak berarti apa-apa lagi. Dan apabila sampai saatnya pun aku tidak akan bersedia menyerahkan keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Biarlah orang lain melakukannya.”
“Jangan. Jangan Mahesa Jenar. Aku dapat merasakan betapa hatimu seakan-akan terpecah karenanya. Tetapi jangan mengasingkan dirimu seperti itu. Mungkin aku dapat memberi kau petunjuk dalam persoalan yang kau hadapi sekarang. Meskipun sebenarnya tidak seharusnya aku katakan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat kau menjadi kehilangan kepercayaan pada dirimu dan pendirianmu. Usahamu menghindarkan pertumpahan darah seharusnya dihargai. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jangan bertanya lagi kepadaku dan kepada Kebo Kanigara. Pergilah ke Banyubiru kembali. Temuilah Ki Buyut Banyubiru. Ki Lemah Telasih. Mungkin kau akan mendapat sedikit penjelasan yang kau perlukan.”
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia melihat lebih jelas lagi. Bahwa sebenarnya ia berada dalam suatu lingkaran yang sangat asing baginya. Ternyata bahwa jalur-jalur yang dipasang oleh Kebo Kanigara dalam menghadapi Panembahan Ismaya telah pula terlibat dalam persiapan yang dilakukan oleh Kebo Kanigara. Tetapi yang masih gelap baginya, apakah sebenarnya yang akan terjadi?
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Lemah Telasih. Ia harus pergi kepada orang itu. Apa pun yang akan dilakukan, maka usaha itu masih belum dilepaskannya. Saat itu pula Mahesa Jenar dan Rara Wilis mohon diri kepada Panembahan Ismaya.
Meskipun Panembahan Ismaya minta mereka berdua untuk bermalam, namun Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat memenuhinya. “Nanti Panembahan. Pada saat Purnama naik, aku akan menghadap Panembahan.”
Panembahan itu berpikir sejenak. Tampak ia menjadi ragu-ragu. Katanya bertanya, “Bukankah pada saat Purnama naik Banyubiru akan mengalami ketegangan?”
“Ya Panembahan,” sahut Mahesa Jenar.
“Kenapa kau akan meninggalkan tempat itu untuk datang kemari?”
“Lebih baik aku tidak menyaksikan peristiwa itu. Biarlah aku disini menenangkan hati bersama Panembahan.”
PANEMBAHAN TUA itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mengangguk-anggukkan kepalanya, gumamnya.
“Sejak dahulu aku sudah mengatakan kepadamu Mahesa Jenar, bahwa wawasanmu benar-benar tajam. Biarlah aku katakan terus terang, bahwa nanti pada saat purnama naik aku tidak ada di Padepokan ini. Bukankah itu yang akan kau katakan kepadaku? Ternyata kau benar. Dan sebahagiaan dari dugaan-dugaanmu yang lain pun aku kira benar pula."
Mahesa Jenar tidak dapat menanyakan lagi, atau memancingnya dengan persoalan-persoalan lain. Sehingga karena itu, maka ia pun segera bermohon diri untuk meninggalkan Padepokan itu.
Ketika Mahesa Jenar menuntun kudanya meninggalkan pondok itu, dilihatnya Panembahan Ismaya benar-benar menjadi gelisah. Terasa ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun ditahannya kuat-kuat. Sehingga Mahesa Jenar pun merasakan ketegangan di dalam dada Panembahan Ismaya. Tetapi ketegangan itu langsung mempengaruhinya pula, sehingga dadanya pun menjadi tegang.
Namun Mahesa Jenar berjalan terus menuntun kudanya bersama Rara Wilis.
Demikian mereka melampaui pagar halaman, segera mereka berdua itu pun berlari menuruni tebing bukit Telamaya.
Beberapa lama Panembahan Ismaya masih tegak di ambang pintu. Wajahnya yang tua tampaknya menjadi semakin tua. Perlahan-lahan dianggukkannya kepalanya dan terdengar ia bergumam. “Kalian masih seperti dahulu. Kalian masih dalam pengabdian yang luhur.”
Tiba-tiba Panembahan itu pun segera masuk ke dalam pondoknya. Dipanggilnya seorang cantrik dan kemudian katanya. “Aku akan berada di dalam sanggar. Jangan bangunkan aku sampai tiga hari setelah purnama naik.”
“Baik Panembahan,” sahut cantrik itu.
Panembahan itu pun segera mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam sanggarnya.
Mahesa Jenar dan Rara Wilis yang meninggalkan bukit Karang Tumaritis berkuda dengan kecepatan sedang. Sekali-kali Rara Wilis menanyakan beberapa soal kepada Mahesa Jenar, namun Mahesa Jenar sendiri masih belum mampu mengambil kesimpulan apa-apa.
Semalam sebelum purnama naik, hutan Prawata telah sibuk dengan persiapan perkemahan yang akan dipakai oleh Baginda. Besok pagi-pagi Baginda akan sampai di hutan itu untuk suatu masa perburuan yang akan memakan waktu sepekan sampai sepuluh hari. Beberapa orang yang mendahului Baginda telah mendapat tugas membangun beberapa buah perkemahan untuk para pengikut Baginda. Namun agaknya kali ini Baginda tidak membawa banyak pengikut.
Beberapa perwira Wira Tamtama, akan beberapa orang lagi dari kesatuan-kesatuan lain, di bawah pengawalan kesatuan Nara Manggala. Hutan yang sepi itu tiba-tiba menjadi ramai dan riuh. Di malam hari sebelum Purnama naik, lampu-lampu obor telah menyala bertebaran di sekitar perkemahan, yang di bangun di sebuah lapangan rumput yang agak luas di tengah-tengah hutan itu.
Sementara itu, Banyubiru pun menjadi ramah. Namun penuh dengan ketegangan. Laskar dari Pamingit telah siap pula di alun-aun Banyubiru, sedang laskar Banyubiru sendiri dengan penuh tekad telah menggenggam senjata masing-masing di tangan mereka.
Arya Salaka telah memerintahkan kepada mereka, bahwa apabila nanti saatnya matahari tenggelam, laskar itu harus mulai bergerak. Malam itu mereka akan merayap mendekati hutan Prawata dan besok malam pada saat Purnama naik, mereka harus sudah mengepung perkemahan Baginda.
Arya Salaka sendiri akan memimpin seluruh laskar Banyubiru dan Pamingit. Telah bulat tekad di dalam dadanya. Kalau Baginda menerima Endang Widuri dari Karebet, maka apapun yang akan terjadi. Widuri akan direbutnya dengan kekerasan. Kalau tidak dan Karebet sendiri ingin bertahan dengan pasukan Wira Tamtama yang dipimpinnya, maka Arya Salaka akan sanggup menghancurkannya, seandainya Karebet tidak bersedia menyerahkan Widuri. Laskar yang dibawanya pasti akan berpengaruh atas tuntutannya. Kalau ia datang tanpa kekuatan, maka ia pasti akan diabaikan. Tetapi dengan kekuatan dibelakangnya, maka mau tidak mau permintaannya untuk menerima kembali Widuri pasti akan dipertimbangkan.
Dengan gelisahnya Arya Salaka menunggu matahari terbenam di kaki langit. Sekali-kali ia berjalan mondar-mandir di halaman rumahnya. Sekali-kali dilayangkan pandangannya ke pada laskar yang sudah bersedia sepenuhnya di alun-alun. Dipendapa rumahnya dilihatnya telah siap dalam kesigapan tempur, pamannya, Lembu Sora, Kebo Kanigara, dan ayahnya. Namun tampaklah Ki Ageng Sora menjadi pucat dan gemetar. Terasa sesuatu bergelora di dalam dadanya. Ia sendiri tidak mampu bertempur melawan laskar Demak yang memadai Gula Kelapa. Apalagi kini. Di antara mereka terdapat Baginda sendiri.
MAHESA JENAR dan Rara Wilis duduk pula di pendapa itu bersama Ki Ageng Pandan Alas. Meskipun dilambung Wilis tergantung sebilah pedang, namun kebimbangan yang besar tampak membayang di wajahnya.
Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tampaklah mulutnya bergerak- gerak. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Sedang Mahesa Jenar duduk termenung memandang langit dikejauhan yang semakin lama menjadi semakin suram. Sesuram hati Arya Salaka.
Arya Salaka yang kemudian duduk pula di tangga pendapa itu, menunggu dengan dada yang bergolak. Terbayang di dalam angan-angannya, apakah kira-kira yang telah terjadi dengan Endang Widuri. Kenapa seorang gadis yang memiliki ilmu tata bela diri itu tidak sempat membebaskan dirinya dari Karebet? Dan sebenarnyalah Endang Widuri telah berusaha sekuat-kuat tenaganya. Tanpa dilihat oleh seorang pun maka Widuri itu telah bertempur dengan gigihnya.
Pagi itu Widuri sedang mencuci pakaiannya di belumbang, ketika tiba-tiba saja Karebet muncul disampingnya. Gadis itu terkejut bukan buatan. Tetapi ketika dilihatnya yang datang itu Karebet ,, maka ia menjadi gembira.
Namun kembali Widuri itu terkejut, ketika Karebet tiba-tiba mengajaknya pergi ke Demak. “Kenapa ke Demak?” bertanya Widuri.
Karebet memandangi wajah Widuri dengan pandangan yang aneh. Katanya sambil tersenyum-senyum. “Buat apa kau tinggal di pedukuhan yang sepi ini? Ikutlah aku ke Demak. Kau akan mukti disana.”
“Apakah kau sudah menjadi gila, kakang” bentak Widuri.
Namun Karebet masih juga tersenyum-senyum, sehingga Widuri itu pun menjadi takut pula karenanya. Tetapi Widuri tidak sempat berbuat apa-apa. Meskipun kemudian Widuri berusaha membela diri, namun Karebet bukanlah lawannya.
Widuri tidak dapat bertahan, sehingga akhirnya dapat dilumpuhkan. Dalam keadaan pingsan maka gadis itu dibawa menghilang, masuk ke dalam semak-semak.
Kini Arya Salaka sudah siap untuk merebutnya dengan segenap kekuatan yang mungkin dikerahkannya. Demikianlah, maka ketika matahari telah hilang dibalik cakrawala, maka segera Arya Salaka bersiap.
Dengan langkah yang tetap ia berjalan ke alun-alun dihadapan rumahnya. Diberikannya beberapa perintah, dan para pemimpin laskar Banyubiru dan Pamingit segera memahaminya. Laskar Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran sedang laskar Pamingit berada di bawah pimpinan Wulungan.
Dibelakang Arya Salaka berdiri beberapa orang yang akan menjadi kekuatan laskar Banyubiru dan Pamingit itu. Gajah Sora, Lembu Sora, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis.
Namun tak seorang pun yang tahu di antara mereka, apakah yang tersimpan di dalam dada masing-masing. Meskipun mereka berdiri berjajar dalam barisan yang sama, namun barisan Arya Salaka kali ini adalah barisan yang penuh menyimpan berbagai persoalan di setiap dada mereka.
Persoalan yang satu sama lain berbeda-beda dan satu sama lain bertolak dari kepentingan yang berbeda pula. Tetapi yang tampak, yang kasat mata, mereka kemudian berjalan beriringan di belakang laskar Banyubiru dan Pamingit yang dengan tekad yang menyala di dalam dada mereka, pergi menuju ke hutan Prawata.
Tepat pada saat purnama naik, maka hutan Prawata benar-benar menjadi sangat ramainya. Di dalam setiap barak kini sudah terpancang obor-obor dan di hampir setiap sudut-sudutnya pun diterangi dengan nyala-nyala lampu obor pula. Di pinggir lapangan rumput dibuat orang sebuah perapian yang besar.
Nyalanya seakan-akan menggelepar menggapai daun-daun pepohonan yang berjuntai di atasnya. Cahaya yang kemerah-merahan terlempar jauh menusuk ke dalam sela-sela daun-daun yang tidak begitu rimbun.
BAGINDA kini telah berada di dalam barak yang terbesar di tengah-tengah barak- barak yang lain. Sebagai seorang pemburu, maka Baginda dapat hidup di dalam lingkungan yang sangat sederhana. Barak dari batang ilalang dan dedaunan. Pembaringan yang dibuat dari kulit-kulit kayu dan bambu, serta segala macam peralatan yang sederhana. Hidup yang sedemikian merupakan selingan yang menggembirakan bagi Baginda yang kadang-kadang menjadi terlalu jemu dengan isi istana.
Di dinding-dinding barak itu, kini tergantung busur dan anak panah. Pedang, tombak dan segala macam senjata. Bukan saja senjata-senjata untuk berburu, namun juga senjata-senjata untuk berperang dari para pengawal Baginda.
Malam yang demikian akan menjadi sangat menyenangkan bagi para prajurit dan Baginda sendiri.
Biasanya Baginda mulai berburu pada malam pertama. Pada malam bulan sedang bulat sebulat-bulatnya. Seperti malam itu, dimana langit bersih dan bintang-bintang bertaburan. Sinar bulan yang cemerlang menyusup ke dalam rimba yang tidak begitu pepat, menari-nari di atas tanah yang lembab.
Tetapi malam ini keadaan Baginda tidak sedemikian gembira seperti biasanya. Tampaklah Baginda menjadi muram dan gelisah. Sekali-kali Baginda memandangi busur-busur yang tergantung di dinding barak. Serta pusakanya, sebilah keris, tidak juga dilepaskannya. Terasa sesuatu yang selalu membayangi kegembiraan Baginda.
Ketika seorang perwira masuk ke dalam biliknya beserta seorang prajurit, maka segera Baginda memanggilnya duduk dekat-dekat di hadapannya. “Jangan hiraukan lagi subasita. Kita sekarang sama-sama seorang pemburu.”
“Tidak Baginda,” perwira itu menyembah. “Ternyata kita belum sempat untuk berburu malam ini atau malam besok.”
“Bagaimana dengan kabar itu?”
“Hamba telah menyaksikan sendiri. Perkemahan ini telah dikepung rapat-rapat.”
Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada perwira itu. “Paningron. Apakah kau dapat menduga kekuatannya?”
“Tidak secara cepat Baginda. Tetapi kira-kira dua tiga kali lipat kekuatan kita disini.”
Baginda terdiam sesaat. Perwira itu, yang tidak lain adalah Paningron, menunggu apakah yang harus dikerjakannya. Pasukan yang ikut serta dengan Baginda memang tidak begitu banyak, sebab Baginda hanya sekadar ingin berburu. Namun tiba-tiba kini Baginda Sultan telah berhadapan dengan sepasukan laskar yang sedemikian kuatnya, sehingga Baginda harus berhati-hati menghadapinya.
Sejenak kemudian baginda itu pun berdiri. Dilepaskannya baju keprajuritan yang dikenakannya. Kemudian kepada prajurit yang duduk disampingnya Baginda berkata.
“Berikan bajumu.” Prajurit itu menjadi terheran-heran. Namun sekali lagi Baginda itu berkata, “Berikan baju dan kelengkapanmu.”
Prajurit itu menjadi terheran-heran. Dibukanya bajunya dan diserahkannya kepada Sultan, yang segera dipakainya.
“Terlalu kecil,” gumam Sultan.
“Ya” sahut Paningron yang segera dapat mengetahui maksud Sultan.
“Apakah baju ini tidak pernah kau cuci?” bertanya Baginda sambil tersenyum. “Baju itu hamba pakai sejak hamba mempersiapkan diri semalam Baginda,” sahut prajurit itu.
“Pantas?” “Baunya,” jawab Baginda sambil tersenyum Prajurit itu tersenyum pula.
Tetapi ia tidak dapat tersenyum lagi ketika Baginda berkata, “Kau tinggal di dalam barak ini. Kalau ada orang yang ingin masuk, jangan kau beri kesempatan. Jawabnya seperti aku menjawab, “Jangan ganggu aku.”
“Tetapi suara hamba Baginda,” jawab prajurit itu. Baginda berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Baik, kalau begitu tutup pintu. Jangan kau bukakan apabila aku tidak memanggil namamu.”
“Hamba Baginda.” Baginda dan Paningron segera meninggalkan bilik itu yang kemudian segera ditutupnya. Penjaga yang melihat mereka keluar dalam keremangan bulan Purnama, tidak menyangka bahwa orang itu adalah Baginda sendiri.
Ternyata Baginda membawa Paningron untuk melihat sendiri kekuatan orang-orang yang telah mengepung mereka dengan rapatnya. Hampir di setiap pohon bersandar seorang yang bersenjata. Di sela-sela pepohonan Baginda melihat cahaya perapian yang menyala-nyala. Dan karena itulah maka Baginda kadang-kadang dapat melihat bayangan orang yang berjalan hilir mudik.
“Kau benar Paningron,” berkata Baginda. “Kekuatan itu benar-bebar tidak dapat diabaikan.” “Hamba telah meneliti tuanku.”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya