Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 153

Karena itu ketika ia melihat kepuasan yang membayang di wajah Tumenggung Prabasemi, anak muda itu menjadi geli. Lenyaplah segala kemarahannya, dan bahkan kini seakan-akan anak muda itu diberi kesempatan untuk bermain. Karena itu tiba-tiba ia tersenyum, senyum yang aneh

"Tidak Prabasemi, aku tidak menyangka engkau sedang bermain-main," jawab Karebet.

"He, apa katamu?, kau hanya njangkar saja menyebut namaku?"

Karebet itu kini tidak hanya sekedar tersenyum. Penyakitnya benar-benar telah kambuh. Karena itu ia tertawa tergelak-gelak, sehingga Tumenggung Prabasemi menjadi sedemikian herannya.

"Apakah anak ini menjadi gila karena ketakutan?," katanya didalam hati. Namun ternyata jawaban Karebet meyakinkannya bahwa anak itu tidak gila.

"Prabasemi. Aku kini telah menjalani hukumanku. Karena itu aku bukan Wira Tamtama lagi. Sekarang aku bukan lagi berada dibawah pimpinanmu, sehingga antara Karebet dan Prabasemi tidak ada lagi tataran yang mengharuskan aku menghormatimu. Kalau kau sebut namaku begitu saja, maka akupun berhak memanggilmu tanpa sebutan apapun. Prabasemi, begitu saja. Ya Prabasemi. Prabasemi, kau dengar ?"

"Setan," geram Prabasemi. Kini ia tidak saja dipenuhi dendam didadanya, tetapi kemarahannyapun telah melonjak ke ubun-ubun. Dengan parau ia berkata, "He Karebet, apakah kau sudah gila. Sudah kukatakan kepadamu, bahwa aku memberi kesempatan kepadamu untuk memilih cara yang sebaik-baiknya untuk mati. Sekarang kau menumbuhkan kemarahanku, sehingga kesempatan itu aku cabut kembali. Sekarang dengarlah, aku akan membunuhmu seperti saat aku membunuh Bahu dari Tunggul. Kau ingat? jangan melawan, supaya aku tidak menjadi marah."

Betapapun juga, bulu roma Karebet meremang. Prabasemi pernah membunuh Bahu dari Tunggul dengan cara mengerikan karena Bahu melawan perintahnya. Dianggapnya Bahu memberontak terhadap Demak. Karena itu, maka orang itu dipergunakannya sebagai contoh bagi mereka yang memberontak terhadap raja. Dibunuhnya Bahu dengan cara yang mengerikan. Digores-goreskannya kulit Bahu dengan duri setelah diikat pada sebatang pohon. Dan dibiarkannya mati sehari setelah itu.

Prabasemi melihat perubahan di wajah Karebet. karena itu timbul kegembiraannya. Katanya, "Aku dapat berbuat lebih daripada itu Karebet. Dan jangan sekali-kali mencoba mengandalkan kemudaanmu. Aku memang kagum melihat kau bertempur dalam setiap pertempuran, namun pertempuran yang kau alami adalah pertempuran kecil tak berarti. Karena itu jangan berbangga hati karenanya. Tapi kau sekarang berhadapan dengan Tumenggung Prabasemi. Ya Tumenggung Prabasemi. Ingatlah bahwa Prabsemi adalah seorang yang ditakuti."

"Tutup mulutmu!," bentak Prabasemi yang kembali kemarahannya memuncak. Kini ia benar-benar telah kehilangan kesabaran. Setapak ia melangkah maju sambil menggeram, "Kau benar-benar sedang sekarat. Kini sebutlah nama ibu dan bapakmu sebelum ajalmu tiba."

"Bapak ibuku telah mendahului aku. Kalau aku sebut namanya, ia tidak akan dapat bangkit dari kuburnya."

"Gila!," teriak Prabasemi. "Mampus kau anak gila."
Prabasemi itu menconcat dengan garangnya menyerang Karebet langsung mengarah kedadanya. Prabasemi benar-benar ingin melumpuhkan anak muda itu sebelum membunuhnya. Karebet benar-benar akan dibunuhnya dengan cara yang pernah dilakukannya itu.

Tetapi Karebet ternyata dapat bergerak dengan lincahnya. Dengan sekali menggeliat ia telah berhasil membebaskan dirinya dari serangan Prabasemi. Bahkan ia sempat berkata, "Kiai Tumenggung, bukankah pernah memberi aku nasehat, sebagai seorang Wira Tamtama seharusnya pantang menyerah. Sekali ia maju bertempur, maka ia akan maju terus. Hanya kematianlah yang dapat menghentikan gerak maju itu. Nah bukankah kini aku sedang memenuhi nasehat Ki Tumenggung itu untuk melawan Prabasemi."

"Tutup mulutmu, atau aku harus menyobeknya."

"Terserahlah, bukankah kita telah bertempur. Sobeklah kalau kau ingin."

"Anak Setan," geram Prabasemi.

Sebuah tendangan mendatar mengarah ke lambung kiri Karebet. Namun sekali ini Karebet cukup cekatan untuk menghindarinya. Sifat-sifatnya yang aneh kini telah menguasai otaknya, sehingga betapapun ia terkejut mengalami serangan yang sedemikian cepatnya, namun sempat juga ia berkata, "Prabasemi, kita bertempur untuk satu taruhan yang ternilai harganya. Kalau aku mati, kau akan menjadi menantu Sultan Trenggana. Sedangkan kalau kau yang mati, maka aku akan mendapatkan dua kesempatan. Menggantikan kau sebagai Tumenggung dan mendapatkan puteri yang cantik itu. Bukankah begitu? Tetapi bagaimanapun juga Prabasemi, ternyata kau gila juga seperti aku. Ingatlah apabila puteri itu kelak menjadi isterimu dan kau diangkat menjadi adipati, kesempatan yang pertama menerima hati puteri itu adalah aku, Karebet, anak gembala yang dipungut Sultan Trenggana dari tepi belumbang Mesjid Demak."

"Tutup mulutmu," Prabasemi berteriak keras keras. Dan suaranya bergemna bersahut-sahutan didalam rimba itu. Meskipun demikian, Tumenggung yang garang itu terkejut bukan kepalang. Ternyata Wira Tamtama yang masih muda ini benar-benar tangkas. Sehingga ia mampu mengelakserangannya sampai dua kali tanpa tersentuh sama sekali. Karena itu kemarahan Tumenggung semakin menyala-nyala seakan membakar dadanya. Dengan gigi gemeretak, sekali lagi dikerahkannya tenaganya untuk menyerang lawannya. Sedemikian dahsyatnya, seperti burung Rajawali yang menyambar mangsanya.

Karebet mengerutkan keningnya. Serangan ini benar-benar berbahaya sehingga dengan demikian maka ia tidak dapat lagi tertawa-tawa. Kini dipusatkannya perhatiannya kepada perkelahian itu. Sekali terbersit juga kekagumannya atas lawannya yang mampu bergerak sedemikian cepatnya. namun Karebet mampu mengimbanginya. Sambaran burung Rajawali dapat dielakkannya, bahkan kini serangannyapun datang seperti badai diudara.

Demikianlah pertempuran itu menjadi sangat serunya. karena itu daerah sekitar perkelahian seakan akan timbul angin pusaran. daun-daun bergerak berputaran dan daun-daun kering berguguran ditanah. Ranting ranting yang tersambar tangan mereka berderak-derak patah berserakan. Tanah sekitar mereka seakan telah dibajak, dan tumbuhan perdu dan batang-batang kecil telah roboh terinjak kaki mereka.

Perkelahianpun semakin lama menjadi semakin seru. Masing-masing menjadi kagum akan keprigelan lawannya. Lebih-lebih Prabasemi. Ia pernah mendengar kelebihan Karenet dari kawan-kawannya, namun tidak disangkanya anak itu mampu melawannya. Karena itu maka Tumenggung benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Yang ada diotaknya adalah membunuh.

Karebet harus dibunuh dengan cara apapun.

Sedang Karebetpun sebenarnya mengagumi ketangkasan Prabasemi. Tumenggung yang masih agak lebih tua daripadanya namun ketangkasannya telah sedemikian tinggi sehingga karena itulah maka sepantasnya bahwa Prabasemi cepat menanjak ketempatnya sekarang.

Namun sayang, Tumenggung sakti ini mempunyai sifat kejam. Terlalu bernafsukan harga diri dan kebanggaan atas prestasi yang pernah dicapainya. Apalagi kini ia semakin gila lagi dengan harapan yang tumbuh didalam dirinya tentang puteri Sultan Trenggana.

Tetapi kemudian Karebetpun berkata didalam hatinya, "Apakah aku juga tidak gila seperti Tumenggung itu?"

Karebet tersenyum.

Tetapi tiba-tiba senyumnya lenyap seperti awan disapu angin ketika serangan Prabasemi hampir mematahkan lengannya. Sebuah pukulan gebangan yang dahsyat mengarah kepergelangannya.

Untunglah cepat ia menyadari keadaannya sehingga ia masih sempat menarik tangannya itu bahkan ia masih mampu berputar diatas tumitnya dan dengan tumit yang lain menyambar perut Prabasemi.

Tetapi Prabasemi tidak membiarkan perutnya menjadi sakit. Cepat ia menggeliat, dan kaki Karebet lewat beberapa jari dari perutnya yang buncit.

Perkelahian itu berjalan semakin sengit. Prabasemi benar-benar sudah sampai puncak kemarahannya dan Karebetpun melayani dengan sepenuh tenaga.

Tetapi kemudian ternyata bahwa keadaan mereka agak berbeda.
Prabasemi adalah seorang Tumenggung yang menjadi sakti karena ketekunannya berlatih. Kedahsyatannya tumbuh didalam ruang latihan dalam keadaan yang cukup baik. Namun Karebet adalah seorang yang aneh. Ia tidak pernah berlatih secara teratur, namun ia tidak kalah tekunnya dari Prabasemi. Tubuhnya seakan ditempa sekitarnya. Panas dingin dan segala macam pekerjaan yang harus dilakukannya. Berkelahi dengan penjahat dan berjuang melindungi kawan gembala dari segala sergapan para pencuri ternak. Pengalaman yang diperolehnya di Karang Tumaritis bersama pamannya dan kemudian Arya Salaka, disamping Endang Widuri. Semuanya itu telah menempa tubuh Karebet menjadi sekeras tembaga, tulangnya sekeras besi dan ototnya seliat jalur baja.

Itulah sebabnya semakinlama pertempuran itu menjadi semakin nyata, bahwa tidak saja kelincahan dan kecepatan bergerak, namun ketahanan jasmaninyapun Prabasemi tidak dapat menyamai Karebet.

Prabasemipun akhirnya merasakan keadaan itu. Karebet, betapapun jantungnya bergejolak dengan dahsyat. Kemarahannya yang telah memuncak itu benar-benar telah membakar darahnya sehingga seakan-akan mendidih.

Telah dikerahkan segenap tenaga dan kecepatannya untuk mengalahkan lawannya, namun Karebet ternyata memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Prabasemi menggeram. Ia kini benar-benar menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Karena itu setelah ia yakin bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan lawannya, maka tidak ada jalan lain kecuali menyelesaikan perkelahian itu dengan ilmunya yang terakhir. Sebenarnya malu juga Tumenggung melawan anak-anak yang selama ini menjadi reh-rehannya, masih harus menggunakan ilmu simpanan yang jarang-jarang sekali dipergunakannya. Namun ia tidak mempunyai jalan lain kecuali mengeluarkan ilmu Aji Sapu Angin. Sebenarnyalah apabila ilmu itu dipergunakannya, maka gerak Prabasemi benar-benar seperti menghalau angin.

Demikianlah ketika tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan untuk menebus kepahitan yang telah ditimbulkan oleh Karebet, maka secepat kilat ditrapkannya ilmu gerak itu. Dijulurkannya kedua tangannya kedepan kemudian dengan gerakan menyentak, kedua lututnya ditarik serta ditekuknya. Kedua tangannya mengepal dan menelentang dilambungnya. Itulah pertanda gerakan pertama dari Aji Sapu Angin.

Karebet terkejut melihat sikap itu. Tetapi ia segera menyadari bahwa lawannya pasti mempergunakan ilmu tertingginya. Tetapi setelah bertempur beberapa lama melawan Prabasemi, sedang tenaganya seakan tidak berkurang, tahulah Karebet sampai dimana tingkat ilmu Tumenggung itu. Betapapun ia kagum akan kecepatan bergerak serta tenaganya, namun ternyata masih belum dapat menyamainya. Karena itu, ketika ia melihat Tumenggung Prabasemi mempergunakan ajinya, maka Karebet tidak perlu tergesa-gesa mempergunakan aji Rog-Rog Asem. Yang kini dipergunakannya adalah ilmu pertahanannya yang sudah jarang dimiliki orang. Lembu Sekilan. Bahkan dalam pada itu, masih sempat juga Karebet berkata, "Ait apakah kira-kira yang akan kau lakukan Prabasemi? Agaknya kau telah terpaksa menggunakan aji pamungkasmu?."

"Mampus kau," bentak Prabasemi dengan marahnya. Tubuhnya melontar seperti tatit menyambar Karebet.

Karebet terkejut melihat gerak itu, karena terlalu cepat baginya. Itulah Aji Sapu Angin sehingga kali ini Karebet benar benar tak mampu menghindari. Karena itulah maka serangan Prabasemi kali ini tepat mengenai dada kiri Karebet. Sambaran tangan Prabasemi yang dilambari ilmu gerak itu benar-benar terasa menghentak tulang iga, sehingga karena itulah maka Karebet terdorong beberapa langkah.

Ketika Prabasemi merasakan bahwa serangannya mengenai korban, maka ia berteriak, "Tataplah langit, peluklah bumi, Karebet. Jangan rindukan lagi matahari esok pagi."

Tetapi alangkah terkejutnya Tumenggung ketika ia melihat Karebet terlempar beberapa langkah surut, terbanting ditanah dan bergulingan beberapa kali. Namun kemudian dengan tangkas melenting berdiri diatas kedua kakinya yang meregang. Sesekali ia menyeringai kesakitan namun kemudian terdengar tertawa lirih. "Hem, alangkah dahsyatnya ilmumu Prabasemi, apa namanya?."

Prabasemi menggigil karena marahnya. Betapa ia melihat Karebet masih tegak dengan mulut tertawa.

"Anak setan, gendruwo, tetekan," Tumenggung itu mengumpat tak habis-habisnya.

Karebet masih berada ditempatnya. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata, "Alangkah dahsyatnya ilmumu itu. Kalau tidak, maka ia tidak akan mampu menembus Aji Lembu Sekilan."

"Lembu Sekilan?," tanpa sadar Prabasemi mengulangi kata-kata itu. Hampir-hampir ia tidak percaya kalau tidak mengalaminya sendiri. Sentuhan ajinya yang selama ini dibanggakan, ternyata tidak mampu menembus pertahanan Lembu Sekilan. Ajinya hanya mampu mendorong Karebet jatuh, namun anak itu tetap segar. Bahkan masih tertawa lirih memandanginya dengan tenangnya.

Karebet masih berdiri ditempatnya. Ketika ia melihat Tumenggung itu menjadi tegang, ia mengejek, "apakah kau sudah siap dengan cara yang sama seperti kau membunuh Bahu dari Tunggul?."

Prabasemi memggeram, hatinya panas mendengar ejekan itu. Dengan suara gemetar ia menjawab, "aku akan melakukannya lebih daripada itu!."

"Bagaimana kalau sebaliknya?," balas Karebet.

Dada Prabasemi hampir meledak karenanya. Karena itu maka sekali lagi ia tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Dengan cepat ia meloncat melontarkan pukulan kewajah Karebet.

Kali inipun Karebet kalah cepat dari Sapu Angin, sekali lagi ia terdorong surut beberapa langkah meskipun tidak sampai terbanting jatuh. Meskipun demikian wajahnya terasa panas dan kepalanya sedikit pening. Karena itu ia mengumpat dalam hatinya, "Gila juga Aji orang ini."

Namun Prabasemi ternyata tidak memberinya kesempatan. Sekali lagi ia meloncat, dan serangannya kini mengarah ke perut Karebet.

Karebet yang percaya benar kepada aji Lembu Sekilannya segera memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu. Kali ini Karebet benar benar telah dapat menguasai keseimbangan antara kekuatan lawannya dan kemampuan Ajinya. Akibatnya sekalipun serangan Prabasemi membenturnya namun Karebet tidak lagi terdorong karenanya. Bahkan kemudian anak muda aneh itu melawan sejadi-jadinya. Dikerahkannya segenap kemampuan yang setinggi-tingginya. Namun ia sama sekali belum mempergunakan Aji Rog-Rog Asemnya.

Meskipun demikian ternyata Karebet tidak segera dapat dikuasai lawannya. Meskipun serangan-serangan Karebet tidak begitu berbahaya dalam benturan dengan ajian lawannya, namun karena Lembu Sekilan, maka Karebet tidak merasakan bahwa lawan telah mencurahkan segenap kemampuan yang ada padanya, bahkan sudah sampai pada tahap ilmu yang terakhir.

Prabasemi semakin lama semakin cemas dan bingung. Benar-benar tak disangka-sangkanya bahwa Karebet memiliki kemampuan sedemikian tingginya. Semula disangkanya bahwa lurah Wira Tamtama muda ini tidak lebih jauh terpaut dari kawan-kawannya. Tetapi Karebet benar-benar seperti anak setan.

Karebetpun semakin lama semakin menyadari akan kemampuannya. Betapapun Prabasemi mengerahkan Aji Sapu Angin, namun Lembu Sekilan masih mampu mengatasinya sehingga dengan demikian maka seakan-akan Prabasemi sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melawan. Meskipun ajinya juga mampu mengurangi tekanan tangan Karebet yang menyentuh tubuhnya, namun sebenarnya terasa oleh Prabasemi, bahwa Karebet telah mampu melampauinya.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ia tidak dapat menarik lagi ucapannya. Ia sudah berkata bahwa ia akan membunuh Karebet itu. Maksud itu tak akan diurungkan. Dan anak muda itupun berkata bahwa mereka berkelahi untuk satu taruhan.

Karena itu, maka tidak ada satupun jalan untuk menghindarkan diri dari perkelahian itu. Dan terbayanglah diwajah Tumenggung, bahwa saat-saat terakhirnya telah tiba. Ia sama sekali tidak akan dapat membunuh Karebet, tetapi justru Karebet yang mampu membunuhnya.
PRABASEMI bukanlah seorang penakut. Ia adalah seorang Tumenggung Wira Tamtama, yang sudah berpuluh kali berjuang melawan maut. Telah berpuluh kali ia membunuh lawannya, dan bahwa suatu ketika salah seorang lawannya akan membunuhnya, benar-benar sudah diramalkannya. Karena itu, apabila ia kali ini mati dalam perkelahian, maka ia tidak akan menjadi gentar. Meskipun demikian, ada juga suatu yang bergetar di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak takut mati. Namun mati karena anak muda yang aneh itu rasa-rasanya tidak senang juga. Walaupun demikian, Prabasemi harus menyadari keadaannya.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin seru pula. Aji Sapu Angin adalah Aji yang cukup dahsyat, sehingga apabila Aji itu menyentuh dahan-dahan kayu di sekitar perkelahian itu maka terdengarlah suaranya berderak-derak patah. Pohon-pohon muda dan cabang-cabang pepohonan. Karena itu, maka di daerah perkelahian itu seakan-akan telah tertiup angin prahara yang menggoncangkan pepohonan serta menggugurkan pepohonan serta menggugurkan daun-daunnya.

Apabila pertempuran itu terjadi di siang hari, maka dari kejauhan akan nampaklah daun-daun yang berguncang-guncang dan akan tampak pulalah dahan-dahan yang patah berhamburan, karena kedahsyatan Aji Sapu Angin.

Tetapi karena Aji Sapu Angin itu tidak mampu menembus sampai keintinya Aji Lembu Sekilan, maka kesempatan Karebet untuk mengenai lawannya, jauh lebih banyak dari Prabasemi. Berkali-kali Prabasemi terpaksa menyeringai kesakitan dan berkali-kali ia terpaksa menyeringai pula karena kekecewaan. Serangannya telah benar-benar mengenai sasarannya, tetapi Karebet seolah-olah telah menjadi kebal.

Namun kemudian ternyata, betapa dahsyatnya Aji Sapu Angin itu, tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan jasmaniah Tumenggung Prabasemi itu terbatas. Setelah ia memeras tenaganya dalam kekuatan Aji Sapi Angin, maka terasalah getaran-getaran ilmu di dalam dadanya menjadi susut. Sejalan pula dengan itu, maka kegarangan Tumenggung Wira Tamtama itu menjadi susut pula.

Baik Prabasemi sendiri, maupun Karebet, segera melihat apa yang sebenarnya terjadi. Prabasemi kemudian merasa peluh dingin memancar dari segenap tubuhnya, bukan karena ia takut mati, tetapi sebenarnya ia menjadi sangat malu atas kekalahannya itu. Kekalahan yang tak pernah dibayangkannya. Kekalahan dari seorang anak yang lebih muda daripadanya dan reh-rehannya pula dalam keprajuritan. Anak itu tidak lebih dari seorang lurah Wira Tamtama.

“Apa boleh buat” desisnya, “Kalau mungkin, biarlah kita mati bersama”, katanya dalam hati.

Kini Karebet mendapat kesempatan lebih banyak lagi dari beberapa saat sebelumnya. Dan ternyata pula, karena kemuakannya atas Tumenggung itu, maka kesempatan itu pun dipergunakan sebaik-baiknya. Dengan lincahnya ia bergerak-gerak menyerang dengan dahsyatnya. Tangannya yang sepasang itu bergerak-gerak dari segenap arah, menyerang hampir ke setiap permukaan tubuh Prabasemi. Dan terasalah ujung tangan itu menyengat-nyengat seperti kerumunan beribu-ribu lebah. Meskipun demikian Prabasemi sama sekali tidak menyerahkan dirinya ditelan oleh kegarangan lawannya. Dipergunakannya setiap kesempatan yang masih ada. Namun kembali ia kecewa, Ajinya tidak dapat menembus Lembu Sekilan sampai keintinya, sehingga Karebet, seakan-akan hanya bergetar sedikit, untuk kemudian meloncat maju dengan garangnya.

Demikianlah, maka lambat laun, tenaga Tumenggung Prabasemi itu pun terperas habis. Tubuhnya menjadi semakin lama semakin lemah, dan serangan-serangan Karebet semakin menekannya. Akhirnya Prabasemi yang garang itu benar-benar kehabisan tenaga. Ketika ia sempat menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna semburat merah membayang dilangit yang biru.

“Hampir fajar”, keluhnya. “Fajar terakhir”.

Prabasemi itu sudah tidak dapat mengeluh lagi. Dengan dahsyatnya Karebet meloncat menyambar wajahnya dengan sisi telapak tangannya.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya