Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 142
MAHESA JENAR menarik nafas dalam-dalam. Baru sekarang dilihatnya kesayuan yang membayang di wajah yang cantik itu. Betapa gadis itu mengorbankan remajanya untuk memberinya kesempatan melakukan pengabdian mutlak kepada sesama dan kepada Tuhannya. Dua pengabdian yang tak mungkin dipisah-pisahkan. Mungkin pada saat-saat mendatang bukan berarti bahwa ia akan dapat mengabdikan pengabdian itu, namun ia sudah mempunyai waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Mahesa Jenar menjadi iba kepada gadis itu. Ia merasa bahwa sudah terlalu lama ia membiarkan gadis itu menahan hatinya, tanpa mendapat perhatiannya sama sekali. Telah terlalu lama ia membiarkan gadis itu merasa betapa sepi hidupnya. Tiba-tiba ia ingin menjelaskan kepada gadis itu, mengapa ia bersikap demikian. Perlahan-lahan terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Wilis, kalau sampai sedemikian lama aku berdiam diri, itu karena aku ingin hidup kelak tidak terganggu oleh kesanggupan dan janji diri. Aku ingin hidup tentram setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku harap kau dapat mengerti, bahwa apa yang aku lakukan adalah demi kebahagiaan kita kelak, bukan semata-mata aku membiarkan diriku melakukan pekerjaan yang aku senangi tanpa mempertimbangkan pendapatmu. Sebab ...”
”Kakang!” potong Rara Wilis. Gadis itu mengangkat wajahnya dan memandang Mahesa Jenar tidak kalah tajamnya. Katanya meneruskan, ”Kenapa Kakang berkata demikian? Apakah aku pernah menyatakan penyesalan atas semua yang pernah terjadi selama ini berjuang untuk suatu pengabdian, untuk memenuhi kewajiban yang Kakang letakkan di pundak Kakang? Sampai sekarang pun aku telah berusaha untuk membantu Kakang, setidak-tidaknya membesarkan hati Kakang agar Kakang dapat melakukan kuwajiban itu dengan tenang. Tentang diriku sendiri? Aku telah lama melupakan kepentingan itu. Aku telah biasa hidup dalam kesepian. Sejak ibuku meninggal dunia.”
Rara Wilis tak dapat meneruskan kata-katanya. Air matanya menjadi semakin deras mengair dan tangannya menjadi sibuk untuk mengusapnya.
”Maafkan aku Wilis,” desis Mahesa Jenar. Ia menyesal telah mengatakan apa yang tersimpan didalam hatinya. Ia menyesal bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak dikehendaki oleh Rara Wilis.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berkata, ”Wilis, sekarang semua kewajiban itu sudah selesai.”
Rara Wilis terkejut. Ia mengangkat wajahnya yang basah. Seakan-akan ia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.
”Pekerjaanku telah selesai,” ulang Mahesa Jenar meyakinkan.
”Bagaimana dengan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?” tanya Rara Wilis.
”Keris itu sudah aku ketemukan,” jawab Mahesa Jenar.
”Sudah Kakang ketemukan?” Wajah Rara Wilis tiba-tiba menjadi cerah. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi suram kembali. Katanya, ”Kakang hanya ingin menyenangkan hatiku. Atau hati Kakang menjadi patah dan tidak mau mencari kedua keris itu lagi?”
Cepat-cepat Mahesa Jenar menyahut, ”Tidak, tidak Wilis. Aku sama sekali tidak akan menghentikan usahaku seandainya kedua pusaka itu belum dapat diketemukan. Tetapi kini kedua keris itu benar-benar telah dapat diketemukan.”
Perlahan-lahan wajah Rara Wilis menjadi cerah kembali. Namun dari kedua biji matanya yang hitam bulat masih memancar berbagai pertanyaan. Meskipun pertanyaan-pertanyaan itu tak terucapkan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengartikan. Karena itu ia berkata, ”Wilis, kau tak perlu bercemas hati tentang kedua keris itu. Sudah sejak lama aku mengetahui, di mana kedua keris itu berada. Namun sampai saat ini belum tiba masanya kedua pusaka itu kembali ke istana.”
”Di manakah kedua keris itu?” tiba-tiba Rara Wilis bertanya. Mahesa Jenar ragu sejenak. Karena itu maka Rara Wilis segera berkata, ”Maafkan, barangkali aku tidak perlu mengetahuinya.”
”Tidak apa Wilis,” sahut Mahesa Jenar cepat-cepat. ”Kau boleh mengetahui beberapa bagian. Keris itu kini ada dalam simpanan Panembahan Ismaya.”
”Panembahan Ismaya?” Rara Wilis terkejut.
”Ya. Panembahan itulah yang telah mengambil kedua keris itu dari Banyubiru,” sahut Mahesa Jenar, ”Namun apa yang dilakukan itu benar-benar tanpa pamrih. Panembahan hanya ingin menyelamatkannya dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk lagi. Kemungkinan kedua pusaka itu jatuh di tangan orang-orang seperti Sima Rodra, Bugel Kaliki dan sebagainya.”
”Darimana Kakang tahu?” tanya Rara Wilis.
”Dari Panembahan Ismaya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.
Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Tiba tiba saja persoalan yang seakan menghimpit dadanya seberat gunung Anakan terasa berguguran. Sebab selama ini kedua keris itu masih menjadi teka teki, iapun ikut serta merasakan betapa berat penanggungan hati Mahesa Jenar. Meskipun ia tidak tahu menhapa Mahesa Jenar tidak segera menyerahkan keris itu ke Demak namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Sebab persoalannya telah menjadi jelas dan Mahesa Jenar tidak perlu lagi merantau dan berjuang mati-matian untuk mencarinya.
Rara Wilis kemudian berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolaklah angan- angan seorang gadis. Seorang gadis yang telah berdiri di ambang pintu idaman. Yang berbicara kemudian adalah Mahesa Jenar, ”Karena itu Wilis. Kita telah mempunyai waktu untuk berbicara tentang diri kita.”
Wajah Rara Wilis menjadi merah. Dadanya serasa berdesir. Waktu yang ditunggu- tunggu akhirnya akan datang. Namun ia tidak menjawab. ”Segala kesulitan telah kita lampaui,” Mahesa Jenar meneruskan, ”Mudah-mudahan kita tidak terlalu tua untuk mulai dengan suatu kehidupan baru.”
Betapa menyenangkan kata-kata itu. Namun Rara Wilis telah melampaui masa pergolakan jiwa. Karena itu ia dapat menanggapinya dengan wajar, dengan hati yang mengendap. Katanya, ”Tidak Kakang. Tidak semua kesulitan telah selesai. Dalam hidup yang baru itu, kesulitan-kesulitan lain justru baru akan mulai. Kesulitan-kesulitan yang sekarang belum dapat kita bayangkan.”
Mahesa Jenar tersenyum. Senyum yang memancar dari hatinya yang cerah. ”Kau benar Wilis.”
Kemudian keduanya berdiam diri. Angan-angan mereka terbang mengawang bersama mega-mega putih di langit. Tanpa dirasa, hari telah menjadi gelap. Bintang- bintang telah berhamburan menggantung di sisi bulan yang masih muda. Jarak mereka berdua pun telah menjadi semakin jauh dari Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara.
Maka berkatalah Mahesa Jenar kemudian, ”Marilah kita susul mereka.”
Mereka mempercepat langkah kuda-kuda mereka. Ketika mereka telah berada tepat di belakang Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara, mereka melihat Endang Widuri pun telah memperlambat kudanya dan kemudian berhenti di tepi jalan menunggu kawan-kawan seperjuangannya. Angin malam berdesir menggerakkan daun-daun dan ujung batang-batang ilalang. Suara angup dan belalang saling bersahutan, menggores sepi malam. Rombongan itu berjalan dengan tenangnya. Sekali-sekali mendaki dan sekali-kali menurun.
”Kita belum melampaui laskar yang mendahului kita?” tanya Endang Widuri.
”Mereka telah sampai atau setidak-tidaknya hampir memasuki Banyubiru,” jawab Arya Salaka. ”Bukankah kita juga hampir sampai?” tanya gadis itu pula.
”Ya!” jawab Arya, ”Dari balik bukit di hadapan kita itu kita akan dapat melihat dataran di hadapan bukit Telamaya dan Rawa Pening.”
Widuri tidak berkata-kata lagi. Ia mengharap agar perjalanan itu lekas berakhir. Malam nanti ia dapat beristirahat dengan tenang. Dan besok pagi, mulailah masa istirahatnya. Ia akan dapat menikmati lembah di sekitar Rawa Pening dengan tenang tanpa suatu kegelisahan apapun. Ia tidak perlu berpikir tentang Uling Putih dan Uling Kuning, Nagapasa, Lawa Ijo dan sebagainya. Dengan getek ia dapat bermain-main di Rawa itu, sambil mengail. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika rombongan itu sampai di punggung bukit. Sebentar lagi akan tampaklah nyala-nyala lampu yang memancar dari lubang-lubang pintu. Atau obor-obor di simpang-simpang jalan yang gelap.
Karena itu tiba-tiba ia mempercepat jalan kudanya, kembali mendahului rombongan itu. Namun tiba-tiba ketika ia mencapai punggung bukit itu, ia terkejut. Di hadapannya, di lereng bukit Telamaya, dilihatnya api menjilat ke udara. Bukan obor, tetapi seperti beribu-ribu obor. Melihat nyala api itu, Endang Widuri tertegun. Tiba-tiba ia berteriak nyaring, ”Kebakaran!”
Mendengar teriakan Widuri, Arya Salaka terkejut. Tanpa sesadarnya kakinya menyentuh perut kudanya, sehingga kuda itu berlari mendahului kawan-kawannya, menyusul Endang Widuri. Kemudian Arya Salaka pun melihat api itu pula. Sambil mengerutkan keningnya ia berpikir, Aneh. Api itu terlalu besar. Akhirnya yang lain-lain pun sampai ke dekat mereka pula. Mereka pun kemudian melihat api yang menjilat-jilat ke udara seperti akan menggapai bintang-bintang di langit.
Sesaat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara saling berpandangan. Kemudian terdengar Mahesa Jenar berdesis, "Kebakaran."
Belum lagi ngiang suara hilang, terdengarlah lamat-lamat suara kentongan dilereng bukit Telamaya. Tiga-tiga ganda.
"Kebakaran?," Ki Ageng Gajah Sora mengulang.
Tampaklah wajahnya menjadi merah dan giginya gemeretak. Katanya melanjutkan "Inilah sambutan tanah kelahiranku atas kedatanganku? Atau tanah ini sudah tidak mau menerima aku kembali?"
"Jangan berfikir terlalu jauh ngger," potong Ki Ageng Pandan Alas, "ada bermacam-maca sebab yang menimbulkan kebakaran. Sebaiknya angger melihatnya."
Ki Ageng GajahSora menoleh kepada isterinya. Ia ingin memacu kudanya, namun bagaimana dengan Nyai Ageng itu.
Ki Ageng Pandan Alas yang sudah tua memaklumi. Katanya "pergilah angger sekalian mendahului . Lihatlah apa yang terjadi. Mungkin ada bahaya yang datang, tetapi mungkin juga karena kelengahan sendiri. Biarlah aku mengawani Nyai Ageng Gajah Sora dalam perjalanan yang tinggal beberapa langkah ini."
Sekali lagi Gajah Sora memandang isterinya. Ketika isterinya mengangguk, maka berkatalah Gajah Sora, "aku mendahului paman."
Gajah Sora tidak berkata-kata lagi. Disendalnya kendali kudanya dan sesaat kemudian kudanya menghambur seperti angin, disusul oleh Arya Salaka yang tak terpaut dua langkah dibelakang kuda ayahnya. Kemudian dibelakang mereka Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Wilis dan Widuri. Bahkan kemudian dengan gembiranya Widuri berpacu meskipun malam menjadi semakin gelap.
"Hati-hatilah Widuri," ayahnya berteriak memperingatkan Widuri menoleh sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Derap kuda itu seperti akan memecahkan selaput telinga. Berdetak-detak diatas tanah liat yang berbatu-batu. Meskipun jalan itu tidak terlalu lebar dan naik turun menggelombang dilereng bukit, namun kuda-kuda itu berlari seperti dikejar hantu. Untunglah di langit ada bulan sehingga malam tidak terlalu pekat. Hanya kadang pohon-pohonan liar dipinggir jalan melindungi cahayanya yang kuning lemah.
Ketika mereka semakin dekat dengan Banyu Biru, tampaklah dihadapan mereka debu yang mengepul tinggi seperti awan tipis menyaput langit.
"Itulah mereka," desis Arya Salaka ketika dilihatnya barisan dimuka perjalanannya.
Kuda Gajah Sora berlari kencang sekali. Dibelakang barisan BanyuBiru yang ternyata juga telah hampir sampai itu ia berteriak, "beri aku jalan."
Barisan itu menepi. Beberapa ekor kuda berlari dengan kencangnya melampaui mereka. Terdengarlah kemudian Gajah Sora berkata, "api. kalian dengar kentongan tiga-tiga ganda?."
"Ya," sahut Bantaran berteriak, "kami mempercepat perjalanan kami."
Ki Ageng Gajah Sora telah lampau. Yang menjawab adalah Arya Salaka, "Bagus. Mungkin orang yang sedang berputus asa mencari bela."
Aryapun tidak sempat menungu jawaban mereka. Barisan BanyuBiru hanya melihat bayangan yang terbang disamping mereka. Kemudian bersama dengan lenyapnya gema suara telapak kaki kuda mereka, bayangan itupun telah lenyap pula ditelan oleh lindungan batang batang pohon dan ilalang.
Suara kentongan semakin nyaring. Dan penuhlah lembah Telamaya dengan bunyi Tiga-Tiga Ganda. Dan karena itu pula kuda GajahSora berlari semakin kencang menuju ke arah alun-alun Banyu Biru.
BanyuBiru menjadi ribut karena api yang tiba-tiba saja membakar hutan-hutan perdu dan alang-alang. Kalau api tidak segera dikuasai, maka api akan menjalar terus mendaki tebing. Apalagi sekali api menjilat hutan-hutan getah maka hutan itupun akan terbakar, dan lereng Bukit Telamaya akan menjadi lautan api.
Bukit itu sendiri akan segera menyala, dan hancurlah kehidupan diatasnya. Tegal-tegal, sawah sawah dan pohon buah-buahan dihutan-hutan peliharaan akan musnah.
Di alun-alun tampaklah beberapa orang sedang sibuk. Beratus-ratus orang telah keluar dari rumah mereka. Tidak saja orang lelaki, tetapi perempuan dan anak-anak. Mereka telah siap membawa lodong-lodong bambu untuk mencari air serta canting-canting besar dari pelepah batang upih. Namun dengan alat itu, mereka tidak akan dapat menguasai api yang membakar batang ilalang. Angin yang bertiup dari lembah seperti membantu mendorong api itu naik dilereng bukit yang damai itu.
Mantingan dan Wirasaba berusaha membantu Wanamerta yang tua. Mereka telah siap diatas punggung-punggung kuda. Yang terdengar adalah suara Wanamerta yang lantang, "Putuskan daerah ilalang. Tebang semua pohon-pohon perdu. Pisahkan daerah api dengan daerah yang masih selamat. Sekarang !"
Orang-orang itupun berlari-larian. Mereka melemparkan lodong-lodong bambu di tangan mereka. Sedang mereka berlari-lari pulang mengambil sabit, pedang, pacul dan senjata-senjata tajam mereka untuk menebang hutan-hutan perdu dan batang-batang ilalang. Rakyat Banyubiru menjadi kacau seperti gabah dalam tampian. Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta berusaha untuk menenangkan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka memberi petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan.
"Jangan bingung !" terdengar suara Mantingan gemuruh, "Semua pergi ke lereng. Tebang batang-batang ilalang yang belum termakan api supaya api tidak terus menjalar ke atas."
Di sebelah lain Wirasaba berteriak tinggi, "Nah, yang sudah bersenjata di tangan masing-masing pergi sekarang juga. Jangan menunggu api api mendatangi kalian. Kalian harus menyerbu ke daerah api itu." Wirasaba sendiri mendahului pergi ke lereng bukit Telamaya. Dengan kapak raksasanya ia menebas pohon-pohon perdu seperti menebas rumput-rumput saja. Tenaga raksasanya benar-benar dimanfaatkan untuk menyelamatkan hutan ilalang yang masih mungkin di selamatkan demi keselamatan Banyubiru.
Rakyat Banyubiru pun segera menggulung lengan baju mereka atau melepas baju mereka sama sekali. Dengan pedang, cangkul dan apa saja di tangan mereka, mereka berusaha untuk membuat antara yang dapat membatasi menjalarnya api.
Tetapi lereng itu sangat panjang. Api yang menyala-nyala itu tidak saja merambat ke atas, tetapi juga merambat ke samping membuat garis yang panjang, untuk kemudian perlahan-lahan mendaki tebing.
Gajah Sora sampai di alun-alun ketika rakyat Banyubiru sudah mulai berlari-larian meninggalkan alun-alun itu. Dilihatnya Wanamerta tua sedang sibuk memberi aba-aba kepada mereka. Dengan lantang Ki Ageng Gajah Sora berteriak, "Apa yang sudah Paman kerjakan ?"
Wanamerta terkejut. Suara itu telah agak lama tak didengarnya. Kini dalam keributan itu suara didengarnya kembali. Dengan lantang pula ia menjawab "Aku mencoba memisahkan daerah yang terbakar itu dengan yang lain, supaya api dapat di batasi."
"Bagus," sahut Gajah Sora. "Aku akan pergi ke lereng."
Wanamerta tidak sempat berbuat lain. Dan dalam kesibukan itu, seakan-akan kehadiran Gajah Sora adalah kehadiran yang wajar. Seperti waktu lima enam tahun yang lampau itu, hanya sekejap mata saja. Seperti Gajah Sora tak pernah meninggalkan Banyubiru. Seolah-olah Kepala Tanah Perdikan itu baru saja keluar dari rumahnya di samping alun-alun itu. Gajah Sora memacu kudanya ke lereng. Ia melihat rakyat Banyubiru sedang berjuang untuk menyelamatkan tanah dan pedukuhan mereka dari kemusnahan.
Laki-laki, perempuan dan anak-anak. Namun api itu menjalar terus.
Sejenak kemudian datanglah laskar Banyubiru yang lain. Mereka tidak sempat menjenguk keluarga mereka. Mereka tidak sempat menyatakan keselamatan diri mereka kepada keluarga mereka. Karena mereka pun segera ikut serta berjuang menebang pohon-pohon dan ilalang. Alangkah lambatnya pekerjaan itu. Beratus-ratus orang telah bekerja dengan dengan segenap tenaga, namun seakan-akan pekerjaan mereka tidak maju-maju.
Gajah Sora menjadi cemas. Tiba-tiba saja ia berteriak, "Pecahkan tangki yang mengatur air dari Sendang Muncul. Airnya akan tumpah dan mengalir kemari. Bantulah membuat jalur-jalur, supaya airnya segera sampai ke daerah api. Mudah-mudahan ada pengaruhnya."
Beberapa orang segera berlari-larian ketempat penyimpanan air. Air itu tampak menggenang tenang. Dalam dan cukup luas. Rakyat Banyubiru mempergunakan untuk mengairi sawah-sawah mereka di musim kering yang panjang. Tetapi kini mereka terpaksa memecahkan tangkis blumbang itu, untuk menyelamatkan bukit Telamaya dari kehancuran yang lebih besar, meskipun kemudian mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya, dan dengan demikian akan berarti pula bahwa mereka kehilangan kesempatan satu panen padi, dan harus menenaminya dengan palawija saja. Namun apa yang harus dilakukan sekarang ternyata tak dapat lain daripada mengalirkan air itu ke daerah yang terbakar.
Dengan cangkul, mereka berusaha memecahkan tangksi batu itu. Satu-satu mereka mendongkelnya dengan linggis dan kapak. Alangkah lambatnya.
Arya menjadi tidak telaten. Segera iapun berlari ke tempat itu, sambil berteriak nyaring ia meloncat di antara mereka yang sedang sibuk menyobek tangkis batu itu. "Semua minggir. Cepat."
Orang-orang yang sedang sibuk itu menjadi heran. Kenapa harus minggir. Bukankah mereka harus memecahkan tangkis batu itu ?
Tetapi segera mereka berloncatan ketika mereka melihat Arya Salaka berdiri tegak di atas satu kakinya, kakinya yang lain diangkatnya ke depan, satu tangannya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi seperti api yang menjilat-jilat ke udara itu. Dengan penuh tenaga dan kemampuannya, Arya berteriak nyaring sambil meloncat maju. Tangannya itu diayunkankan keras sekali. Dan, terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat.
Aji Sasra Birawa menghantam tangkis itu. Maka pecahlah beberapa batu dan terlontar berserakan. Air dalam waduk itu bergolak, kemudian terlontar keluar lewat lubang yang dibuat oleh Arya Salaka. Suaranya bergemuruh seperti pasukan yang berbaris menyerbu musuh. Arya segera meloncat menghindari air itu. Demikian juga beberapa orang yang berdiri keheran-heranan melihat tandang anak muda itu.
Diantara mereka yang menjadi keheran-heranan adalah Ki Ageng Gajah Sora sendiri. Disamping harapannya yang tumbuh karena air yang melimpah itu, sehingga akan dapat mempengaruhi api yang sedang menyala-nyala itu, ia pun menjadi heran melihat tandang anaknya itu. Benar-benar diluar dugaannya. Sasra Birawa itu benar-benar mencengangkan.
Agaknya Arya dapat menerapkan ilmunya tidak saja untuk melawan musuh dan membinasakannya, namun kini mempergunakannya untuk keselamatan daerah Banyubiru dari bahaya api.
Air itu mengalir seperti seekor naga. Dengan cepatnya meluncur ke lerang. Beberapa orang sibuk membuat jalur-jalur untuk mengatur arahnya, sehingga dapat mencapai api yang sedang berkobar itu.
Lereng bukit Telamaya itu menjadi semakin ribut. Orang-orang berlarian kian kemari. Anak-anak yang ikut menebas batang-batang ilalang sudah menjadi ketakutan, karena api seakan siap untuk menerkam mereka. Namun air yang mengalir dari blumbang akan sekedar membantu mereka.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun ikut sibuk pula membantu mereka. Mereka berloncatan dengan pedang ditangan mereka, menebangi pohon-pohon perdu. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar tertarik pada asap yang mengepul di udara. Dilihatnya asap yang bergulung-gulung kehitam-hitaman. Sesaat ia berdiri tegak mengamat-amati asap itu. Ketika ia menoleh ke arah Kebo Kanigara, maka Kebo Kanigara pun mengangguk. Dengan berlari-lari Mahesa Jenar pergi mendekatinya sambil berbisik, "Kakang, aku melihat asap minyak. Entahlah, apakah minyak kelapa, jarak atau minyak kelenteng. Tetapi aku melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya."
"Aku berpikir demikian sejak tadi," jawab Kebo Kanigara.
"Marilah kita lihat." Jawab Mahesa Jenar.
"Aku ikut !" tiba-tiba suara kecil menyahut dibelakang mereka. Ketika mereka menoleh, mereka melihat Endang Widuri tersenyum. Sedang disampingnya berdiri Rara Wilis.
Sekali lagi Mahesa Jenar memandang berkeliling. Beratus-ratus orang sibuk bekerja dengan penuh tenaga.
"Tenaga kami tak sebrapa membantu disini, kakang." Kata Mahesa Jenar, "Bagi kami, lebih penting melihat sumber kebakaran ini."
Kebo Kanigara tidak menjawab. Denga tergesa-gesa ia melangkah ke arah kuda-kuda mereka tertambat. Mahesa Jenar, Endang Widuri dan Rara Wilis segera mengikutinya rapat dibelakangnya.
Sesaat kemudian empat ekor kuda menderu dengan lajunya. Tak seorangpun yang menaruh perhatian atas kuda-kuda itu, karena mereka sedang tenggelam dalam usaha menarik garis pemisah antara api dan tanah mereka.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya