Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 134
Bagi Sawung Sariti semuanya itu seakan-akan merupakan ejekan atas kekalahannya.
Didorong oleh harga diri dan dilambari oleh nafsu yang melonjak lonjak, maka Sawung Sariti telah lupa pada segalanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada darahnya yang bersumber dari saluran yang sama dengan Arya Salaka. Lupa akan sifat kepribadian yang sejak lama mencekam tata kehidupan daerah ini. Ia sudah tidak memperdulikan lagi segala galanya.
Dengan suara nyaring ia berkata "Laki laki tidak mengenal darah yang menetes dari luka. Ayo kakang Arya Salaka, bersiaplah. Kita bertempur antara hidup dan mati."
Dada Arya bergetar mendengar tantangan ini, ia tidak menghendaki hal demikian terjadi. Namun terasa pula bahwa dendam yang membara didada adiknya itu tak akan padam. Karena itu ia menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan? Ia menyesal mengapa tidak mengajak gurunya atau ayahnya menjemput ibunya. Kalau demikian keadaannya mungkin berbeda. Tetapi didalam hatinya melontarlah kata-kata "kalau Sawung Sariti tidak melakukannya sekarang, maka akan akan datanglah saatnya pertentangan yang memuncak. bara api yang tersimpan didalam dada anak itu bagai bara api yang tersembunyi didalam sekam. Setiap saat akan berkobar membakar dirinya."
Dalam pada itu Karang Tunggalpun menjadi kecewa. Sawung Sariti ternyata tidak berjiwa besar. Karena itu akhirnya ia berkata "kenapa kau mengingkari janji ?".
"Aku tidak pernah berjanji. Dan aku sudah berkata, melawan atau tidak, aku akan bunuh kakang Arya Salaka," jawab anak muda yang mata gelap itu.
Suasana dibawah pohon nyamplung kini benar benar dicekam oleh ketegangan yang memuncak. Gemersik daun daunnya yang rimbun terdengar seperti lagu maut yang membelai hati ketiga anak-anak muda yang sedang berdiri mematung dibawahnya. Arya Salaka masih berdiri dalam kebimbangan hati. Apa yang harus dilakukan?
Tiba-tiba terdengar Sawung Sariti berkata seperti guruh dimulai hujan." Jangan tegak seperti patung. Aku ulangi, melawan atau tidak, aku akan membunuhmu. Bersiaplah. Aku akan mulai."
"Tunggu dulu," sahut Arya Salaka.
Tetapi Sawung Sariti sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia telah meloncat seperti seekor serigala lapar menerkam mangsanya. Demikian cepat dan tiba-tiba sehingga Arya dan Karang Tunggal menjadi terkejut karenanya. Arya sama sekali tidak menduga Sawung benar-benar akan mengancam jiwanya pada saat ia sedang mencoba mencegah perkelahian. Karena itu ia agak gugup. Ia melihat pedang adik sepupunya yang besar dan panjang tiba-tiba saja terjulur kedadanya.
Dengan segala kemampuan yang ada padanya ia mencoba memukul pedang tersebut.
Namun terlambat. pedang Sawung berhasil mematuk dadanya.
Kemudian sebuah goresan yang panjang membekas menyilang. Perasaan pedih menjalar menyusur segenap sarafnya. Arya berdesis perlahan. Untunglah ia tangkas, sehingga goresannya tidak dalam. Namun demikian darah yang mengalir dari luka itu, seakan akan minyak yang akan menyiram api kemarahan anak muda dari Banyubiru.
Arya Salaka bukan anak dewa ataupun malaikat dari langit. Demikian akhirnya Arya telah kehilangan semua kesabaran serta kelunakan hati. Yang didalam dadanya kini adalah kemarahan yang menyala nyala seperti api membakar hutan kering di lereng bukit dalam arus angin yang kencang.
Karena itulah maka sambil menggeram keras Arya meloncat dengan tangkasnya, kemudian seperti badai ia menyerang Sawung Sariti.
Namun Sawung telah bertekad bulat untuk bertempur mati-matian. Kakak sepupunya atau ia yang harus mati. Maka terulang kembali pertempuran sengit dibawah pohon nyamplung. Pertempuran antara dua anak muda yang darahnya sedang mendidih sampai kekepala.
Karang Tunggal kini berdiri seperti tonggak. Ia benar-benar menjadi kecewa. Ia kini tidak bisa berharap bahwa dendam diantara keduanya akan terhapus karena ucapan jantan. Karena itulah ia melangkah perlahan-lahan menepi dan duduk ditepi jalan bersandar pokok pohon nyamplung.
UNTUK menghilangkan kejengkelan hatinya, tiba-tiba Karang Tunggal berteriak keras-keras, ”Aku tidak peduli lagi dengan kalian. Apa yang terjadi kemudian, aku tidak turut campur. Juga seandainya kalian mati bersama-sama, aku akan berdendang lagu Kinanti, sama sekali bukan Megatruh!”
Meskipun kata-kata Karang Tunggal itu bergetar memenuhi udara, namun Sawung Sariti dan Arya Salaka tak mendengarnya. Perhatian mereka sepenuhnya telah tertumpah pada perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup masing-masing.
Pertempuran kali inipun semakin lama menjadi semakin memuncak. Masing-masing telah melepaskan segenap ilmu pedang mereka. Ilmu pedang dari perguruan Pengging melawan ilmu pedang dari perguruan Pangrantunan. Dua ilmu yang seimbang dan dimiliki oleh dua orang anak muda dalam tataran yang seimbang pula. Sekali lagi nampak, betapa kekuatan jasmaniah Arya Salaka berada selapis lebih dari Sawung Sariti. Itulah sebabnya maka Sawung Sariti berusaha mempergunakan kelincahannya untuk memukul lawannya. Namun agaknya Sawung Sariti tidak akan berhasil. Sebab Arya Salaka pun mampu bertempur dalam kelincahan yang mengagumkan. Bahkan kemudian keduanya seakan-akan berubah menjadi bayangan yang melayang-layang secepat sikatan menyambar belalang.
Pedang Sawung Sariti bergerak dalam bidang-bidang yang mendatar, mematuk dan kemudian berputar seperti baling-baling. Sedangkan pedang Arya Salaka mengambil garis-garis silang untuk mematahkan serangan Sawung Sariti dan kemudian bergerak melingkari dirinya, untuk kemudian dengan dahsyatnya, sedahsyat angin pusaran, pedang itu melibat lawannya. Dalam benturan-benturan yang terjadi, semakin jelas, betapa kekuatan tubuh Arya Salaka melampaui kekuatan lawannya. Maka ketika Arya Salaka tidak lagi dapat mengendalikan diri, pedangnya menyambar dengan cepat dan kerasnya ke arah lehar lawannya. Namun kelincahan Sawung Sariti pun tidak kalah daripada lawannya. Cepat ia merendahkan diri dan pedangnya menyilang, melindungi tubuhnya. Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Seperti bunga api menghambur di udara. Dalam benturan itu, Arya telah mengerahkan segenap kekuatannya, bahkan ia telah mempergunakan ayunan pedangnya serta berat badannya untuk memperkuat serangannya. Dengan demikian, kekuatan yang menghantam pedang Sawung Sariti jauh melampaui kekuatan Sawung Sariti. Dengan demikian, ia terlontar mundur, sedang pedangnya bergetar cepat.
Terasa jari-jarinya menjadi panas dan nyeri. Cepat ia berusaha untuk memperbaiki keadaannya, namun secepat itu pula sekali lagi pedang Arya Salaka memukul pedang Sawung Sariti. Kali ini Sawung Sariti tak dapat lagi menyelamatkan pedangnya. Dengan kerasnya pedangnya terpukul jatuh ditanah. Sawung Sariti menggeram keras karena terkejut dan nyeri-nyeri ditangannya. Dengan cepatnya ia melontar mundur sejauh-jauhnya. Namun Arya pun mampu bergerak secepat itu, sehingga ketika Sawung Sariti berjejak di atas tanah, ujung pedang Arya seakan-akan telah melekat di dadanya. Sekali lagi ia mencoba menjauhkan diri dari ujung pedang itu, namun Arya Salaka pun melontar maju dengan kecepatan yang sama.
Akhirnya Sawung Sariti berhenti. Tangannya bergetar, namun tak sesuatu dapat dilakukan. Sedang ujung pedang Arya masih saja menekan dadanya. Melihat keadaan kedua anak muda yang bertempur itu, Karang Tunggal menjadi tegang. Tanpa sesadarnya, ia meloncat berdiri dengan wajah tegang menanti apa yang akan terjadi. Pada saat itu, Arya benar-benar telah menguasai lawannya. Dengan satu gerakan yang sederhana, ujung pedangnya akan menembus dada adik sepupunya itu.
Namun tiba-tiba tatit dari ujung langit memancar di udara. Seleret sinar jatuh di wajah adiknya yang tegang kaku. Bergetarlah dada anak muda dari Banyubiru itu. Ia pernah melihat wajah yang sedemikian itu di Gedangan, beberapa tahun lampau. Kalau ia mau, pada saat itu Sawung Sariti telah terbunuh dengan ujung tombak pusakanya. Tetapi pada saat itu ia tidak dapat membunuhnya. Perasaannya dirisaukan oleh kenangan masa-masa silam. Masa kanak-kanak dan masa-masa mereka bergaul sebagai saudara. Seperti juga pada saat yang serupa, kini tangan Arya Salaka yang memegang pedang itu bergetar, bergetar karena getaran di dalam jiwanya. Getaran perasaan seorang kakak. Betapa pun kemarahan telah membakar dadanya, namun Arya masih sadar, bahwa Sawung Sariti adalah adik sepupunya.
Dalam kerisauan itu tiba-tiba terdengar suara Sawung Sariti lantang, seperti apa yang dikatakan beberapa tahun yang lampau, ”Kakang Arya Salaka. Bunuhlah aku.”
Arya Salaka memandang wajah adiknya. Tangannya masih bergetar. Namun mulutnya tiba-tiba seperti terkunci. Bahkan kemudian kembali terdengar Sawung Sariti berkata, ”Kali ini bunuhlah aku, supaya aku tidak membunuhmu kelak.”
NAFAS Arya Salaka berjalan semakin cepat. Bukan karena kelelahan, tetapi karena perasaannya yang bergolak demikian dahsyatnya. Bergolakan perasaan yang telah menggoncangkan nalarnya. Dengan mata yang suram ia mengamat-amati wajah adiknya dengan seksama. Wajah yang masih memancarkan perasaan dendam dan benci.
Namun karena itulah maka Arya Salaka menjadi kasihan melihatnya. Ia menangkap getaran perasaan adiknya. Betapa ia tidak rela menerima keadaan itu.
Karena itu tiba-tiba terdengarlah suaranya gemetar, ”Adi Sawung Sariti. Berjanjilah demi Tuhan Yang Maha Tahu, bahwa kau akan melupakan gegayuhan yang sesat itu. Kemudian biarlah kita menikmati hidup tenang. Lepas dari rasa dendam dan prasangka.”
”Kakang,” jawab Sawung Sariti, ”Aku sudah berkata, kau atau aku yang harus lenyap. Kita tak akan dapat hidup bersama di bawah cahaya matahari yang sama.”
Arya Salaka mengangkat alisnya. Dadanya berdentang keras mendengar jawaban Sawung Sariti.
Karebet pun menjadi heran melihat peristiwa itu. Alangkah bersih jiwa Arya Salaka. Sebaliknya, betapa keras kepala adik sepupunya itu. Dengan demikian, Karang Tunggal pun terpaksa menahan nafasnya, menanti apa yang kira-kira akan terjadi. Di dalam lumpur yang becek, Galunggung masih duduk dengan mulut ternganga. Pertempuran yang terjadi benar-benar telah merampas segenap kesadarannya. Dan kini ia melihat Sawung Sariti dalam bahaya.
Arya Salaka masih tegak di tempatnya. Pedangnya masih melekat di dada adiknya dengan gemetar. Secepat getaran di dadanya sendiri. Bahkan tiba-tiba tangannya menjadi lemas, dan karena itu pedangnyapun semakin tunduk ke tanah.
Sawung Sariti melihat keadaan kakaknya. Ia melihat pedang itu semakin renggang dan tunduk. Mula-mula ia merasa aneh, kenapa kakaknya itu tidak membunuhnya, seperti beberapa tahun yang lalu, meskipun ia telah mengancamnya. Kemudian ia merasakan sesuatu yang tak dapat dimengerti sendiri menjalar di hatinya. Perasaan segan dan lebih dari itu.
Mskipun demikian Sawung Sariti tidak mau dipengaruhi oleh perasaannya. Ia tidak mau disebut sebagai seorang pengecut, yang takut menentang maut. Karena itu ia masih mencoba berkata, ”Jangan menjadi laki-laki cengeng. Aku telah mengangkat dadaku. Bunuhlah aku.”
Namun suara Sawung Sariti sudah tidak selantang tadi. Bahkan suara itu terasa bergetar dan ragu.
”Hem!” Arya Salaka menggeram. Kini pedangnya sudah benar-benar terkulai. Dengan mata yang sayu ia berkata, ”Adi Sawung Sariti, masihkah hatimu segelap itu?”
Kembali terasa sesuatu berdesir di dada Sawung Sariti. Kakaknya itu benar-benar tak mau membunuhnya. Tetapi ia berkata tidak seperti getaran-getaran di hatinya, ”Apa pedulimu tentang hatiku? Kalau kau sobek dadaku, akan kau lihat warna hati itu.”
Arya menjadi kecewa. Seperti Karang Tunggal juga menjadi sangat kecewa. Karena itu Arya berkata putus asa, ”Baiklah Adi. Ambillah pedangmu. Kita tentukan sekali lagi. Siapakah yang akan mati di antara kita.”
Sekali lagi dada Sawung Sariti bergoncang. Kesempatan itu masih didapatnya. Aneh. Apakah Arya Salaka tidak melihat kemungkinan dadanya sendiri, akan tembus oleh pedangnya, atau barangkali kakaknya itu yakin bahwa ia tak akan dapat mengalahkannya? Namun bagaimanapun juga, kesempatan itu benar-benar mengacaukan perasaannya. Dan karena itulah ia tidak segera bergerak memungut pedangnya. Malahan matanya dengan penuh pertanyaan memandang Arya dan Karebet berganti-ganti.
Getaran di dalam dadanya semakin lama menjadi semakin keras. Akhirnya terdengarlah suara lamat-lamat jauh dari dalam relung hatinya berbisik, ”Sawung Sariti, alangkah luasnya hati Arya Salaka, seluas lautan yang sanggup menampung air dari mana pun datangnya.”
Dan karena itulah maka ia masih berdiri mematung.
Dalam kesepian yang mencekam itu, tiba-tiba terdengarlah dari balik gerumbul-gerumbul di tepi parit, seseorang berkata, ”Persetan kalian, perempuan-perempuan cengeng.”
Semua yang mendengar suara itu terkejut. Serentak mereka menoleh ke arahnya. Dan tampaklah sebuah bayangan yang bergerak-gerak di balik gerumbul-gerumbul di tepi parit. Dan suara itu berkata lagi, ”Aku telah mencoba menyabarkan diri, menunggu kalian saling membunuh. Tetapi aku tidak telaten. Kalian berperasaan seperti perempuan cengeng. Kenapa kalian tidak bertempur dan membunuh secara jantan?”
Dada ketiga anak muda yang berdiri di bawah pohon nyamplung itu menjadi semakin berdebar-debar, dan bayangan itu masih saja berada di sana sambil meneruskan kata-katanya, ”Aku telah menunggu untuk mengurangi darah yang melumuri tanganku. Setidak-tidaknya aku hanya tinggal membunuh dua di antara kalian bertiga atau satu, apabila kalian laki-laki dan bertempur seperti laki-laki. Tetapi tidaklah demikian. Karena itu maka kalian telah memberatkan pekerjaanku. Membunuh kalian bertiga dengan tanganku.”
TIDAK seorang pun dari ketiga orang dibawah pohon nyamplung itu yang bergerak.
Semua berdiri mematung dengan hati yang tegang. Mereka menunggu untuk mengetahui siapakah yang berbicara itu. Berdesirlah dada mereka, dan darah mereka seakan-akan membeku ketika mereka melihat bayangan di belakang gerumbul itu meloncat dengan tangkasnya, melangkahi pohon-pohon perdu seperti seekor burung gagak yang berwarna kelam di malam yang gelap. Mereka menjadi semakin terkejut lagi ketika bayangan itu telah berdiri di antara mereka, di bawah pohon nyamplung itu.
Ternyata bayangan itu adalah seorang yang bertubuh bongkok dan berwajah mengerikan, seperti wajah hantu.
”Bugel Kaliki,” desis Sawung Sariti.
Orang bongkok dari lembah Gunung Cerme itu tertawa berderai.
Katanya, ”Kau pasti mengenal aku dengan baik.”
Dada Arya Salaka berdesir mendengar kata-kata itu. Kemudian hantu bongkok itu berkata pula, ”Nah, aku juga ingin melihat bahwa kau dan anak murid Mahesa Jenar ini laki-laki. Tetapi aku kecewa. Karena itu biarlah aku yang membunuhmu. Dan yang seorang ini aku tidak tahu, apakah hubunganmu dengan kedua anak ini. Namun karena kau hadir juga di sini, maka kau pun akan aku binasakan.”
Karang Tunggal pun pernah mendengar tentang Bugel Kaliki. Ia tahu benar bahwa Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari golongan hitam seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Sura Sarunggi dan sebagainya. Namun terdorong oleh jiwa kejantanannya yang meluap-luap dalam dadanya, seperti sifat-sifatnya yang melonjak-lonjak dipenuhi oleh daya hidupnya, maka ia pun marah bukan buatan. Dengan berdiri tegak dan bertolak pinggang, ia berkata lantang, ”Hai Bugel Kaliki, kalau kau belum mengenal aku, akulah yang bernama Karang Tunggal, yang disebut juga Mas Karebet dalam panggilan Jaka Tingkir.”
Bugel Kaliki mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran melihat sikap anak muda yang seakan-akan tak mengenal takut kepadanya itu. Maka katanya, ”Sudahkah kau kenal nama Bugel Kaliki dengan baik?”
”Aku sudah cukup mengenal,” jawab Karebet, ”Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari lembah Gunung Cerme.”
Bugel Kaliki tertawa. Katanya di antara derai tertawanya, ”Bagus, kau telah mengenal namaku. Tetapi kenapa kau berani bertolak pinggang di hadapanku?”
Kemarahan Karebet menjadi semakin memuncak. Jawabnya, ”Aku tidak mau kau hinakan dengan kata-katamu. Apakah kau kira membunuh kami bertiga ini semudah membunuh cacing?”
Sekali lagi Bugel Kaliki tertawa, lebih keras dari semula, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
”Diam!” bentak Karebet, ”Aku muak melihat tampangmu. Apalagi kalau kau sedang tertawa.”
Bugel Kaliki terkejut, sehingga tertawanya berhenti. Bukan main. Anak itu berani membentak-bentaknya. Karena itu matanya mejadi buram dan redup. Dipandangnya Karang Tunggal dengan seksama. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah anak muda itu.
Arya Salaka dan Sawung Sariti tiba-tiba menjadi tegang. Apakah ia harus berdiri membiarkan Karang Tunggal mengalami bencana. Tiba-tiba terasa pula perasaan dendam di antara mereka. Mereka merasa bahwa kini nasib mereka serupa. Mereka bersama-sama akan mengalami bencana, apabila Bugel Kaliki benar-benar bertindak atas mereka. Apalagi di dalam relung hati Sawung Sariti telah memancar sepercik api yang menerangi kegelapan hatinya itu.
Maka ketika mereka melihat Bugel Kaliki melangkah perlahan-lahan mendekati Karang Tunggal, tanpa mereka sengaja, Arya dan Sawung Sariti pun melangkah maju.
MELIHAT kedua anak muda yang lain bergerak, Bugel Kaliki berhenti.
Pandangan matanya yang buas berganti-ganti hinggap diwajah Arya dan Sawung Sariti. Kedua anak muda inipun ternyata tidak gentar menghadapinya. Sehingga dengan demikian Bugel Kaliki menjadi semakin marah.
Dan terdengarlah ia berteriak, ”Apakah kalian bertiga tidak takut menghadapi aku, Bugel Kaliki dari Gunung Cerme?”
”Selama kami berpijak pada kebenaran, tak ada yang kami takuti,” jawab Arya Salaka.
”Gila!” geram Bugel Kaliki, ”Kau berdua telah terluka. Membunuh kalian akan sama mudahnya dengan membunuh semut.”
”Aku sudah siap untuk mati sejak tadi,” sahut Sawung Sariti, ”Namun jangan mimpi, kami akan menyerahkan leher kami tanpa perlawanan. Dan kalau aku mati karena tanganmu, maka aku akan mendapat penghormatan sebagai seorang laki-laki dari Pamingit. Bukan karena pertentangan antara keluarga sendiri. Aku sekarang menyesal bahwa aku telah melawan kakang Arya Salaka.”
Arya Salaka dan Karang Tunggal bergetar hatinya mendengar pengakuan yang tiba-tiba itu. Ketika mereka memandangi wajah Sawung Sariti, tampaklah betapa ia berkata dari dasar hatinya. Karena itu didalam dada Arya Salaka terdengar suara berbisik, ”Terimakasih adikku. Mudah-mudahan kau mendapat sinar terang dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Dalam pada itu Bugel Kaliki menjadi bertambah-tambah marah juga. Ia mengharap bahwa seharusnya ketiga anak muda itu menjadi ketakutan, menggigil dan berjongkok minta ampun. Tetapi ternyata mereka telah menengadahkan dada mereka. Bahkan anak yang bernama Karang Tunggal itu masih saja berdiri bertolak pinggang.
Karena kemarahannya itu tiba-tiba Bugel Kaliki berkata nyaring - Hai tikus-tikus yang tak tahu diri. Kalian telah berbuat kesalahan pada akhir hayat kalian.Hem. Alangkah menyenangkan apabila aku melihat kalian meronta-ronta dan menderita sakit pada saat ajal tiba.
Kata-kata itu diucapkan oleh seorang iblis yang mengerikan. Karena itu, maka dada ketiga anak muda itu pun berdesir pula. Namun mereka bukanlah tikus-tikus seperti yang dikatakan oleh orang bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, meskipun desiran didada mereka terasa seperti menggores jantung, namun mereka tidak menjadi gentar.
Terdengarlah Karang Tunggal menjawab, ”Omong kosong. Kau ingin menakut-nakuti kami, supaya kami menjadi menggigil dan kehilangan nafsu perlawanan kami.”
Jawaban itu benar-benar membakar hati Bugel Kaliki. Seperti tatit ia meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal.
Gerakan Bugel Kaliki benar-benar demikian cepatnya dan tidak terduga-duga sehingga tak seorang pun mampu mencegahnya, bahkan Karang Tunggal pun tak mampu mengelakkan. Namun gerakan Bugel Kaliki bukanlah serangan yang sebenarnya. Ia menampar saja karena marah, meskipun demikian tangan Bugel Kaliki adalah tangan hantu yang seakan-akan gumpalan timah yang keras. Karena itulah maka tamparan itu pun seolah-olah seperti ayunan bandul timah yang berat, menghantam pipi Karang Tunggal.
Meskipun Karang Tunggal mencoba mengelak, namun kecepatannya bergerak tidak dapat memadai kecepatan Bugel Kaliki, sehingga karena itu maka tangan Bugel Kaliki itu pun tak dapat dihindari.
Namun demikian, Jaka Tingkir itu tak terpelanting dan terbanting jatuh. Kepalanya hanya tergeser sedikit dan ia terdorong mundur beberapa langkah. Bugel Kaliki melihat kenyataan itu. Ia sudah mengatur kekuatan geraknya. Menurut dugaannya anak yang sombong itu akan terpelanting dan jatuh berguling ditanah. Tetapi Karebet ternyata tidak demikian. Bahkan terasa seolah-olah ada lambaran yang membatasi tangannya dan tubuh anak itu. Karena itu, maka Bugel Kaliki menjadi berdebar-debar.
Dengan pandangan mata yang buas ia memandang Karebet seperti hendak ditelannya hidup-hidup. Dari mulutnya tiba-tiba terlontar kata-katanya, ”Setan, dari mana kau miliki aji Lembu Sekilan itu?”
Karebet kini telah tegak kembali. Ia telah mengetrapkan ilmunya sejak ia melihat kedatangan hantu yang dapat bergerak secepat tatit itu. Memang ia sudah menyangka, bahwa Bugel Kaliki pada suatu saat akan bergerak secepat itu. Karena itu, ia pun selalu bersiaga.
Namun ia tidak menjawab pertanyaan hantu bongkok itu.
Arya Salaka pun tergetar melihat peristiwa itu. Sejak pertemuannya yang pertama dengan Karang Tunggal, ia telah mengagumi ketangguhan dan ketangkasannya. Kini ia menyaksikan betapa Karebet berhasil mempertahankan keseimbangannya dari dorongan tangan Bugel Kaliki.
Apalagi Sawung Sariti. Dadanya bergoncang ketika ia mendengar Bugel Kaliki berkata, bahwa anak muda yang bernama Karang Tunggal itu memiliki aji Lembu Sekilan.
”Kalau demikian ia tidak bersungguh-sungguh ketika melawan aku. Alangkah bodohnya aku ini. Kalau ia terapkan Lembu Sekilan, maka aku pasti sudah binasa karena pedangnya. Sebab aku tak dapat mengenalinya, dan ia dapat sekehendak hatinya menusuk dadaku dari arah yang disukainya,” pikirnya.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya