Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 129

WULUNGAN mengerutkan keningnya.

Nyala obor di muka rumah itu lamat-lamat mencapainya. Sehingga wajah Gajah Sora itupun dapat dilihatnya. Orang itu bertubuh gagah tegap, berdada bidang, meskipun agak kurus namun jelas betapa baik bentuk tubuhnya. Kumisnya lebat meskipun tidak sepanjang kumis Ki Ageng Lembu Sora.

Tiba-tiba Wulungan itupun menundukkan kepalanya. Demikian hormat sambil berkata, ”Selamat datang Ki Ageng Gajah Sora. Kedatangan Ki Ageng adalah sedemikian tiba-tiba. Salam baktiku untuk Ki Ageng.”

”Masih kau ingat bentuk tubuh yang kurus kering ini, Wulungan?” tanya Gajah Sora.

”Tidak. Ki Ageng tidak kurus kering. Ki Ageng cukup segar meskipun agak susut sedikit. Tetapi hampir tak ada perubahan sejak aku melihat untuk yang terakhir kali,” jawab Wulungan.

Ki Ageng Gajah Sora tersenyum. Kemudian merekapun melangkah masuk ke dalam pondok itu, dan duduk di bale-bale besar diruang depan. Sesaat kemudian beberapa orang telah siap merebus air dan jagung muda. Sambil menikmati hindangan itu maka berkatalah Mahesa Jenar, ”Kedatangan Kakang Gajah Sora sangat mengejutkan kami. Apalagi bersama-sama dengan Kakang, ikut serta adi Gajah Alit dan Adi Paningron. Apakah artinya ini?”

Gajah Sora menarik nafas panjang. Sekali wajahnya beredar di sekitar ruangan itu. Kemudian berhenti di wajah Arya Salaka. Sekali lagi ia menarik nafas. Katanya, ”Adi Mahesa Jenar. Anakku ini benar-benar mengejutkan hatiku. Sebelum aku berceritera, seharusnya aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Adi. Agaknya Adi Mahesa Jenar telah memenuhi permintaanku, mengasuh anak nakal ini, bahkan melampaui harapan yang aku khayalkan tentang dirinya.”

Mahesa Jenar tersenyum, jawabnya, ”Bukanlah aku yang telah menjadikannya anak yang cukup bekal untuk menjaga dirinya, tetapi darah yang mengalir di dalam tubuhnya, agaknya merupakan modal yang tak ternilai harganya.”

Arya menundukkan wajahnya. Ia malu ketika ia mendengarkan ayah serta gurunya sedang menilai dirinya. ”Modal yang tak ditangani oleh tangan yang baik, ia tidak akan berkembang, bahkan akan kehilangan nilai-nilainya,” jawab Gajah Sora pula.

Kemudian ia meneruskan, ”Aku pernah bertempur dengan Adi Mahesa Jenar di Gunung Tidar. Aku mengagumi betapa dahsyatnya ilmu dari perguruan Pengging. Ketika aku kemudian terpisah dari Adi lima-enam tahun yang lalu, dan kemudian aku mencoba untuk bertempur melawan anak asuhan Adi yang berilmu keturunan dari Pengging, aku merasa bahwa seakan-akan aku mengulangi pertempuran di Gunung Tidar itu. Arya Salaka benar-benar telah memiliki ilmu seperti yang Adi miliki pada saat itu. Dan ternyata bahwa Arya telah benar-benar mencerminkan Adi Mahesa Jenar sewaktu adi bertempur di Gunung Tidar itu.”

Mahesa Jenar tersenyum. Ia pun berbesar hati ketika ia mendengar sendiri bahwa Gajah Sora tidak kecewa melihat anaknya. Terbayang pula di dalam rongga mata Mahesa Jenar, bagaimana ia bertempur di mulut gua Sima Rodra di Gunung Tidar melawan Gajah Sora, sehingga akhirnya ia terpaksa melepaskan aji pemungkasnya, Sasra Birawa. Pada saat itu Gajah Sora tidak dapat berbuat lain daripada menyelamatkan dirinya dengan aji andalan perguruan Pangrantunan, Lebur Saketi.

Mahesa Jenar menjadi geli sendiri mengenangkan peristiwa itu, sehingga ia tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Tetapi sesaat kemudian senyum itu lenyap seperti awan disapu angin. Sasra Birawa dan Lebu Saketi tidak saja pernah berbenturan di atas Gunung Tidar dalam suatu peristiwa kesalahpahaman, namun kedua aji itupun pernah berbenturan di Gedangan, masing-masing dilontarkan oleh Arya Salaka yang mewarisi ilmu dari Pengging, melawan saudara sepupunya, Sawung Sariti, yang memiliki ilmu keturunan dari Pangrantunan. Tetapi benturan itu sama sekali bukan karena salahpaham, namun benar-benar karena kemarahan yang tak tertahankan. Kesengajaan karena nafsu kedengkian, ketamakan dan keserakahan.

Tetapi Mahesa Jenar kemudian tersadar dari lamunannya oleh suara Gajah Sora. ”Adi, mungkin Arya Salaka tidak akan menjadi anak seperti sekarang ini, seandainya aku sendiri yang mengasuhnya.”

Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Ia tersenyum tetapi ia tidak menjawab. Kemudian Gajah Sora meneruskan, ”Selain kekagumanku atas kemajuan yang pesat dari anakku, aku kira kalianpun menjadi heran, kenapa tiba-tiba aku berada di Pangrantunan.”

Mahesa Jenar mengangguk sambil menjawab, ”Ya. Tentu saja kami menjadi gembira atas pertemuan ini.”

”Tetapi kenapa aku dan Kakang Paningron hadir pula di sini? sela Gajah Alit sambil tersenyum. Mahesa Jenarpun tertawa.

”Ya,” jawabnya, ”Kenapa kalian datang pula?”

”Kakang Mahesa Jenar mempunyai prasangka kepada kami, Kakang,” kata Gajah Alit kepada Panigron. Paningron tersenyum. Memang ia tidak begitu banyak berbicara. (Bersambung)-c


662

PANINGRON lebih senang mendengarkan Gajah Alit berkelakar daripada berbicara sendiri. Mahesa Jenar sudah mengenal watak sahabatnya yang gemuk ini. Karena itu ia pun menjawab, ”Agaknya kau bertugas mengawal Kakang Gajah Sora, Adi. Kau sangka Kakang Gajah Sora akan melarikan diri seandainya Kakang mendapat kesempatan sehari dua hari menengok tanah perdikannya?”

Gajah Alit tertawa. Jawabnya, ”Tidak, aku tidak bertugas mengawal Kakang Gajah Sora, tetapi aku bertugas menangkap Kakang Mahesa Jenar.”

”Kalau begitu,” sahut Mahesa Jenar, ”Aku akan membantumu.”

Semuanya tertawa mendengar kelakar yang segar. Arya Salaka pun tertawa pula. ”Nah, bagaimanakah yang sebenarnya?” tanya Mahesa Jenar kemudian. Gajah Alit tidak segera menjawab pertanyaan Mahesa Jenar. Ditebarkannya pandangan matanya melingkari ruangan itu. Baru kemudian ia berkata, ”Biarlah Kakang Gajah Sora berceritera. Kakang pasti tidak akan percaya seandainya aku yang mengatakannya.”

”Kau terlalu sering berdusta,” sahut Mahesa Jenar. Sekali lagi semuanya tertawa. Tetapi tidak berkepanjangan, sebab kemudian Gajah Sora berkata, ”Apa yang dapat aku ceriterakan? Yang aku ketahui, Baginda memerintahkan lewat Adi Gajah Alit, bahwa aku diperkenankan kembali ke Banyubiru.”

”Tidak hanya itu,” sela Gajah Alit. ”Agaknya Adi Paningron lah yang paling tahu,” jawab Gajah Sora. Semua mata berkisar ke wajah Paningron. Wajah yang tenang dan padam. Namun sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

”Baiklah,” katanya, ”Kalau aku yang harus berceritera. Tetapi aku tidak dapat berceritera seperti Adi Gajah Alit.”

”Ah...” desis Gajah Alit.

”Demikianlah yang sebenarnya,” Paningron meneruskan, ”Kebetulan aku mengetahui beberapa persoalan. Setelah Baginda menganggap bahwa Kakang Gajah Sora benar-benar tidak bersalah, maka sebenarnya pada saat itu Kakang Gajah Sora sudah dapat dibebaskan. Sejak pertemuan kami di Rawa Pening, Baginda menjadi pasti bahwa Gajah Sora benar-benar tidak bersalah.

Aku dan Adi Gajah Alit telah meyakinkan Baginda. Namun Baginda menghendaki, agar usaha mencari kedua pusaka itu menjadi semakin gigih. Terutama Baginda mengharap ayah Kakang Gajah Sora dan sahabat-sahabatnya berjuang mati-matian, dengan harapan untuk dapat segera membebaskan Kakang Gajah Sora.

Tetapi keadaan berkembang ke arah yang tak dikehendaki. Beberapa saat, kami, di Demak kehilangan jejak atas perkembangan daerah perdikan Banyubiru. Baru beberapa saat kemudian kami ketahui bahwa Banyubiru berada dalam kesulitan. Mula-mula kami tidak pasti, apa yang menyebabkan. Tetapi terasa adanya ketegangan dalam pemerintahan rakyat Banyubiru seakan-akan kehilangan pegangan. Kehilangan kiblat.

Pada saat yang demikian itulah Baginda menganggap Gajah Sora harus kembali ketanahnya. Harus kembali kepada ayahnya yang sedang berjuang mati-matian untuk menegakkan kembali apa yang dimilikinya. Sora Dipayana telah berjuang hampir sepanjang umurnya untuk persatuan dan kemerdekaan tanah perdikan ini. Pada saat-saat yang demikian, kami ketahui pula, bahwa orang-orang dari golongan hitam telah memancing di air keruh. Dan inilah bahaya yang sebenarnya, yang akan mengancam Banyubiru, Pamingit dan bahkan Demak. Karena itu, akhirnya Gajah Sora akan diserahkan kembali, kembali kepada Ki Ageng Sora Dipayana.

Yang mempercepat tindakan Baginda adalah berita terakhir yang sampai di Demak, bahwa Banyubiru terancam perang saudara. Antara Arya Salaka dan Sawung Sariti. Perang yang telah lama dinanti-nantikan oleh golongan hitam. Perang yang akan menumpas seluruh kehidupan rakyat Banyubiru dan Pamingit. Perang yang akan memadamkan sama sekali nyala api yang pernah dikobarkan oleh Ki Ageng Sora Dipayana di atas tanah perdikan Pangrantunan."

Paningron diam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian tangannya meraih mangkuk, dan meneguk seteguk air jahe yang hangat.

”Agaknya kalangan istana sudah mengetahui semua yang terjadi di Banyubiru,” sela Mahesa Jenar. ”Tidak seluruhnya,” sahut Paningron, ”Utusan dan bahkan pejabat-pejabat rahasia dari Demak berkeliaran di Banyubiru dan Pamingit.”

Mahesa Jenar tersenyum. Seharusnya ia sudah memaklumi sebelumnya. Seharusnya ia kenal, bagaimana orang-orang seperti Paningron dan kawan-kawannya bekerja. Kadang-kadang mereka dijumpainya seperti penjual daun, penjual kayu dan sayur-sayuran. Kadang-kadang mereka ditemuinya sebagai seorang saudagar yang kaya raya, yang menjelajah kampung untuk mencari dagangan. Sejenak kemudian Paningron meneruskan, ”Tetapi hubungan antara Demak dan Banyubiru tidaklah semudah yang kita kehendaki. Itulah sebabnya, kadang-kadang kita terlambat berbuat sesuatu. Itu pulalah sebabnya kali ini kami terlambat juga. Untunglah bahwa pertempuran antara laskar Arya Salaka dan laskar Pamingit itu di Banyubiru dapat dihindarkan.”

"AKU yakin akan hal itu," potong Ki Ageng Gajah Sora, "Selama Arya masih berada di dekat adi Mahesa Jenar."

"Aku hampir tak berdaya," jawab Mahesa Jenar, "Pertempuran itu sudah berada di ujung hidung Arya Salaka. Untunglah Ki Ageng Sora Dipayana berusaha sekuat tenaga. Lebih dari itu agaknya Tuhan telah mengambil keputusan, bahwa Banyubiru dan Pamingit akan diselamatkan dari bencana kemusnahan."

"Kakang benar," sahut Gajah Alit, "Kalau pertempuran itu tak dapat dicegah, di atas bangkai rakyat Banyubiru dan Pamingit akan menari-nari rianglah tokoh-tokoh golongan hitam dari daerah yang berserak-serak itu. Dari Gunung Tidar, Nusakambangan, Rawa Pening, Mentaok dan Lembah Gunung Cermai."

Demikianlah kemudian pembicaraan mereka berkisar dari satu soal ke soal lain. Bahkan kemudian Paningron dan Gajah Alit tidak dapat menyembunyikan kekaguman mereka atas Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, katanya, "Tak seorang pun yang mampu membunuh Nagapasa dan Sima Rodra seorang diri. Namun Kakang Kebo Kanigara dan Kakang Mahesa Jenar telah melakukan hal itu."

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya.

"Adakah Adi melihat peristiwa itu?"

"Kami tidak," jawab Gajah Alit, "Tetapi orang-orang kami menyaksikan, setidak-tidaknya mendengar kabar tentang perisitwa itu. Juga kami telah mendengar, bahwa Arya Salaka telah mampu bertempur seorang melawan seorang dengan Lawa Ijo. Sungguh suatu kemajuan di luar dugaan ayahnya. Itulah agaknya yang mendorong Kakang Gajah Sora untuk menilai sendiri kemampuan Arya Salaka itu."

Mahesa Jenar tersenyum. Gajah Sora pun kemudian berceritera, bagaimana mereka bertiga bergegas untuk sampai ke Banyubiru, ketika mereka mendengar bahwa keadaan Banyubiru sudah sedemikian gawat. Namun mereka terlambat. Meskipun demikian mereka berlega hati. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran justru antara laskar Banyubiru bersama-sama dengan laskar Pamingit melawan laskar golongan hitam di Pamingit.

Mereka jumpai Banyubiru telah kosong. Karena itu merekapun segera pergi ke Pamingit. Namun pertempuran di Pamingit itupun telah selesai. Seorang petugas yang ditanam oleh Paningron melaporkan, bahwa Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka justru pergi ke Banyubiru, karena Pasingsingan mendahului mereka.

"Nah, Adi Mahesa Jenar..." tanya Gajah Sora kemudian, "Bagaimana dengan Pasingsingan?"

Kemudian Mahesa Jenar lah yang berceritera. Pasingsingan terbunuh oleh Pasingsingan.

"Ceritera tentang Pasingsingan itu panjang, Kakang," kata Mahesa Jenar kemudian, "Lain kali akan aku ceriterakan selengkapnya. Kepada Kakang, kepada Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten, dan yang lain-lain."

"Mereka juga belum mengetahui?" tanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya.

"Belum. Belum seorangpun yang tahu."

Sejenak merekapun berdiam diri. Dalam saat-saat yang demikian, Mahesa Jenar mengamat-amati pakaian yang dikenakan oleh Gajah Alit dan Paningron. Ia menarik nafas panjang. Pakaiannya seperti yang dipakai Gajah Alit itupun pernah dipakainya. Pakaian perwira pengawal raja. Beskap hitam, sabuk kuning keemasan dan ikat kepala biru. Kain panjang, sapit urang, celana hitam berpelisir kuning. Sebilah keris berwarangka emas terselip di pinggangnya. Sedang Paningron pun memakai pakaian kebesarannya. Mirip dengan pakaian Gajah Alit, tetapi ia tidak berikat pinggang kuning, stagennya agak berwarna emas dengan permata yang berkilat-kilat. Juga di pinggang Paningron terselip sebilah keris dengan warangka gayaman.

Tetapi ketika Mahesa Jenar sedang berangan-angan, berkatalah Gajah Sora, "Adi Mahesa Jenar, banyak yang ingin aku ketahui, dan banyak yang ingin aku dengarkan, tetapi baiklah lain kali kami lanjutkan. Aku sudah rindu menyampaikan sujud kepada Ayah, Sora Dipayana."

Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Jawabnya, "Aku kira demikian sebaiknya. Wulungan akan bersama-sama dengan kita."

"Meskipun demikian..." Gajah Sora meneruskan, "Adi Paningron mempunyai satu kepentingan lain, yang barangkali Adi Mahesa Jenar mengetahuinya."

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, ia bertanya, "Apakah itu?"

"Tidak begitu penting," sahut Paningron. Mahesa Jenar mengangguk-angguk kecil. Ia menunggu persoalan apa pula yang dibawa oleh Paningron ini. Apakah tentang dirinya, atau yang lain? Paningron memandang kepada Gajah Alit. Belum lagi mendengar sepatah kata pun, ia telah mengangguk-angguk. Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, "Tidak penting, Kakang."
MAHESA JENAR menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Kemudian berkatalah Paningron, ”Ada dua masalah yang akan aku katakan. Sengaja aku simpan sampai aku berhadapan dengan Kakang Mahesa Jenar. Hal ini Kakang Gajah Sora sendiri pun belum mengetahuinya.”

”Apakah soalnya?” sela Mahesa Jenar.

”Yang pertama,” sahut Paningron, ”Adalah Kakang Mahesa Jenar dapat mengatakan kepada kami, bagaimanakah bentuknya orang yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

Mahesa Jenar menjadi ragu. Ia sekarang tahu pasti siapakah orang yang mengambil pusaka-pusaka itu. Tetapi sebelum menjawab, terdengar Gajah Sora berkata, ”Telah aku katakan. Orang itu berjubah abu-abu.”

”Adakah orang itu berhubungan dengan ceritera Pasingsingan yang terbunuh oleh Pasingsingan?” tanya Paningron pula. Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Akhirnya ia menjawab, ”Tidak. Pasingsingan yang membunuh Pasingsingan bukanlah orang itu.”

Paningron mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia memandang kawannya yang gemuk bulat. Katanya, ”Soal itu perlu juga aku sampaikan.”

”Silahkan Kakang,” jawab Gajah Alit sambil tersenyum.

”Adakah orang lain di rumah ini?” tanya Paningron. Mahesa Jenar memandang berkeliling. Rara Wilis dan Endang Widuri tidak nampak sejak tadi. Wulungan yang mengerti maksud Mahesa Jenar, berkata, ”Mereka sudah tidur sejak tadi.”

”Siapa?” sahut Paningron. ”Anakku,” jawab Kebo Kanigara.

”O, tak apalah.” Paningron meneruskan, ”Aku akan berkata tentang Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Tetapi ia berhenti. Dengan sudut matanya ia memandang ke arah Wulungan.

”Berkatalah,” desak Mahesa Jenar, ”Orang itu bisa kita percaya.”

”Sebelum ceriteraku sampai pada masalah yang kedua,” kata Paningron, ”Kami mengetahui sesuatu tentang pusaka-pusaka itu.”

Gajah Sora dan Mahesa Jenar mengerutkan alisnya, sedang Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. ”Ini juga salah satu sebab yang menentukan, bahwa Baginda benar-benar yakin, bahwa Kakang Gajah Sora tidak menyimpan pusaka-pusaka itu."

Paningron meneruskan, ”Pada suatu saat, Kakang Arya Palindih melihat seseorang membawa kedua pusaka itu.”

Gajah Sora terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar.

”Siapakah orang itu?” tanya Gajah Sora.

”Seperti yang kau katakan,” jawab Paningron, ”Berjubah abu-abu. Orang itu datang kepada Arya Palindih, berkata kepadanya, apakah Kakang Palindih pernah melihat benda-benda yang dibawanya. Ternyata benda-benda itu adalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.”

”Hem...” Gajah Sora berdesis. ”Tentu saja Kakang Arya Palindih bertanya kepadanya, darimana pusaka-pusaka itu didapatnya. Dan orang itu berkata terus terang bahwa keduanya diambil dari Banyubiru,” Paningron meneruskan.

”Tetapi ketika kedua pusaka itu diminta oleh Kakang Palindih, orang itu berkeberatan. Sehingga akhirnya terpaksa Kakang Palindih mencoba memaksanya. Tetapi orang itu luar biasa. Kakang Palindih tak mampu melawannya. Dan kedua pusaka itu lenyap kembali.”

Gajah Sora menggeram. Namun Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berpikir, ”Pasti, tak seorangpun mampu menangkapnya.”

”Tetapi...” kata Paningron, ”Bahwa Kakang Gajah Sora terbukti tidak bersalah, Kakang Palindih menjadi yakin karenanya. Dan ini adalah salah satu sebab pula yang meyakinkan Baginda.”

PANINGRON berhenti sejenak. Diteguknya wedang jahe di mangkuknya.

Kemudian ia meneruskan, "Tetapi kemudian orang itu muncul kembali."

"Kapan?"

"Dan inilah ceritera yang kedua," sahut Paningron, "Ketika seorang prajurit diusir dari istana, maka beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amatinya sampai beberapa saat. Kalau-kalau orang baru itu berbuat sesuatu."

"Kenapa diusir?" tanya Mahesa Jenar.

"Seorang anak muda yang perkasa," jawab Paningron. "Tak seorangpun seangkatannya yang dapat menyamai keperwiraannya. Ia diketemukan oleh Baginda di halaman masjid, ketika Baginda hendak bersembahyang. Anak muda itu sedemikian tergesa-gesa, sehingga ia dapat meloncat mundur sambil berjongkok melampaui sendang di halaman masjid itu."

Berdebarlah dada Kebo Kanigara mendengar ceritera itu. Ia tahu bahwa kecakapan yang demikian itu jarang-jarang dimiliki oleh seseorang. Namun ia tidak bertanya.

"Karena kecakapannya..." Paningron melanjutkan, "Dalam waktu yang singkat, ia telah diangkat menjadi pimpinan kelompok Wira Tamtama dengan anugrah pangkat Lurah. Tetapi sayang, bahwa ia kemudian berbuat suatu kesalahan."

"Apakah kesalahannya?" tanya Mahesa Jenar.

"Ia telah membunuh seseorang yang bernama Dadung Ngawuk," jawab Paningron.

"Membunuh orang?" tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, "Apa soalnya?"

"Orang baru, yang mencoba memasuki Wira Tamtama. Namun orang itu terlalu sombong. Maka anak muda itupun marah dan dibunuhnya Dadung Ngawuk dengan sadak kinang," jawab Paningron.

Mendengar jawaban itu Gajah Alit tertawa. Bahkan ia hampir tak dapat menahan suara tertawanya itu. Mula-mula yang melihat Gajah Alit itu tertawa, menjadi heran, namun akhirnya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Gajah Sora mengetahuinya, "Membunuh dengan sadak kinang."

Paningron tersenyum, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersenyum pula.

Namun Arya Salaka menjadi tegang. Ia tak tahu kenapa mereka tertawa karenanya. Tetapi tiba-tiba Gajah Alit berhenti tertawa. Alisnya berkerut dan wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Tanpa disengajanya ia memandang Kebo Kanigara tanpa berkedip. Paningron dan Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi tegang.

Tetapi sesaat kemudian, juga Paningron seperti orang yang tersentak dari mimpinya. Bahkan terlontar dari mulutnya, "Oh!"

Kebo Kanigara menggelengkan kepalanya. Katanya, "Tak apa-apa Adi. Aku sudah menduga, bahwa anak itu akan kambuh kembali."

Mahesa Jenar masih belum tahu apa yang terjadi, apalagi Arya Salaka dan Wulungan. Sehingga akhirnya Kebo Kanigara bertanya, "Bukankah anak muda itu bernama Mas Karebet?"

Mahesa Jenar dan Arya Salaka terkejut. Namun tanggapan mereka berbeda-beda.

Arya Salaka terkejut, karena sahabatnya itu terpaksa membunuh seseorang tanpa dipikirkan akibatnya. Sehingga ia terpaksa diusir dari istana. Sedang Mahesa Jenar terkejut karena Mas Karebet telah membunuh Dadung Ngawuk dengan sadak kinang.

Ia mengurai lebih jauh keterangan itu. Sehingga Baginda mengusirnya dari istana. Akhirnya Paningron berkata, "Maafkan kakang Kebo Kanigara, aku tadi lupa bahwa Mas Karebet, yang disebut juga Jaka Tingkir adalah putra Ki Kebo Kenanga, dan bukankah kakang Kebo Kanigara itu kakak Kebo Kenanga?"

"Tak apalah. Justru aku berterima kasih kepada adi berdua. Dengan demikian aku tahu apa yang dilakukan oleh anak itu," kata Kebo Kanigara.

"Siapakah Dadung Ngawuk itu?" ia bertanya.

Paningron memandang Arya sesaat, kemudian ia menjawab perlahan-lahan, "Simpanan Baginda."

"Hem..." Kebo Kanigara menggeram. Namun Arya Salaka menjadi semakin bingung. "Bukankah Dadung Ngawuk itu seorang yang sombong, yang melamar menjadi seorang Wira Tamtama?"

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Ia tidak berkata sepatah katapun. Dengan sudut matanya, ia melihat Kebo Kanigara menjadi pucat dan pada dahinya mengalirlah keringat dingin.

"Tetapi," Paningron meneruskan, "Bukan seluruhnya kesalahan Jaka Tingkir. Dadung Ngawuk lah yang memancing-mancing keonaran. Memang Jaka Tingkir terlalu tampan. Dan Baginda terlalu kasih dan percaya kepada Lurah Wira Tamtama yang baru itu. Bahkan lebih daripada Nara Manggala seperti Adi Gajah Alit itu."

Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, "Kemudian apakah yang ingin adi berdua ketahui dari kami?"

"Kami mendengar berita terakhir, Mas Karebet berada di Banyubiru," jawab Paningron.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya