Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 127
AGAKNYA orang bongkok dari lembah gunung Cerme itu telah kehilangan nafsunya untuk mencari Nagasasra dan Sabuk Inten. Atau barangkali justru mempunyai perhitungan lain. Dibiarkannya kawan-kawannya atau lawan-lawannya binasa. Kemudian ia akan dengan leluasa berbuat sendiri, menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Sementara itu golongan hitam telah kehilangan pemimpin-pemimpin mereka. ”Kalau Bugel Kaliki itu datang kemari...” kata Mahesa Jenar kemudian, ”Jangan layani. Biarlah ia berbuat sesuatu. Ia hanya memerlukan Nagasasra dan Sabuk Inten. Dahulu ia pun pernah mengaduk rumah ini, namun ia tidak menemukan apa-apa.”
Mantingan mendengarkan pesan Mahesa Jenar dengan baik. Demikian juga Wirasaba, Wanamerta dan Sendang Parapat. Namun dengan demikian terbayang juga di dalam hati mereka bahwa cahaya yang cerah telah mulai memancar di atas tanah perdikan Banyubiru.
Awan yang kelam perlahan-lahan hanyut dibawa oleh angin yang berhembus tak henti-hentinya. Mantingan jadi teringat pada ceritera-ceritera pewayangan yang sering dibawakannya apabila ia sedang duduk bersila di belakang layar putih. Bahwa betapapun kejahatan itu berkuasa, namun akhirnya kebenaranlah yang akan menang. Sebab kebenaran adalah pancaran dari kehendak Yang Maha Kuasa.
Ketika semua sudah siap, maka segera mereka naik ke punggung kuda. Wilis pun kini telah biasa naik kuda, sedang Widuri karena kenakalannya, ia tidak kalah tangkasnya dengan setiap laki-laki. Ia berani berbuat hal-hal yang aneh-aneh di atas punggung kuda. Bahkan kadang-kadang sampai gerak-gerak yang berbahaya. Tetapi ia tertawa saja apabila ayahnya memperingatkannya.
Demikianlah maka setelah sekali lagi mereka mohon diri kepada tetua tanah perdikan Banyubiru, Ki Wanamerta beserta Mantingan, Wirasaba dan Sendang Parapat, bergeraklah kuda-kuda itu meninggalkan halaman.
Tetapi ketika Arya Salaka hampir sampai di muka regol, tiba-tiba ia menarik kekang kudannya, sehingga kuda itupun berhenti.
”Ada apa Arya?” tanya gurunya, dan semua matapun memandang ke arahnya.
”Pisau,” jawab Arya sambil menunjuk ke pohon sawo yang tumbuh di samping regol. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas. Dua bilah pisau menancap di pohon itu. Kedua-duanya berwarna kuning kemilau.
”Kyai Suluh,” desis Mahesa Jenar, ”Ambillah Arya.”
Arya segera meloncat turun dari kudanya. Dengan cekatan, ia memanjat pohon sawo itu beberapa depa. Kemudian diambilnya kedua-duanya. Kedua pisau itu benar-benar mirip satu sama lain, sehingga Arya tak mampu membedakannya.
”Adakah Kyai Suluh itu lebih dari satu?” tanya Arya.
Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya.
”Entahlah,” jawabnya.
”Cobalah Arya,” pinta Kebo Kanigara.
Arya segera menyerahkan kedua pisau belati itu. Mantingan pun kemudian berdiri pula di samping Kebo Kanigara. Sebagai seorang dalang banyaklah diketahuinya mengenai batu-batuan dan biji-biji besi. Ia senang mempelajarinya. Juga perasaannya yang lembut, dengan mudahnya dapat menangkap setiap getaran yang memancar dari besi-besi aji.
Kanigara pun agaknya memiliki pengetahuan yang serupa, sehingga akhirnya ia berkata, ”Inilah yang asli.”
Mantingan mengangguk. ”Kakang benar. Aku juga menyangka demikian. Sedang yang lain adalah keturunannya, meskipun keturunannya itupun memiliki kekuatan-kekuatan yang mirip dengan aslinya.”
”Kyai Suluh adalah pusaka yang mempunyai daya kekuatan yang luar biasa.”
Kanigara meneruskan, ”Pengaruhnya atas ketabahan hati serta keberanian dapat diandalkan. Sayang, pengaruh itu pada Umbaran mendapat arah yang salah. Aku kagum akan ketabahan hati serta keberanian Umbaran, namun aku menyesalkan atas tujuan yang akan dicapainya.”
Tak seorangpun yang menyahut. Semua membenarkan kata-kata itu, Umbaran telah menyalahgunakan kekuatan yang tersimpan di dalam pusaka Pasingsingan itu.
”Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara, ”Siapakah yang berhak menerima pisau-pisau ini?”
”Paman Radite dan Anggara,” jawab Mahesa Jenar.
”Mereka tak memerlukan lagi,” sahut Kebo Kanigara, ”Ternyata mereka membiarkan kedua pusaka ini berada di halaman Banyubiru. Bukankan maksudnya untuk menyerahkan pusaka-pusaka ini kepada penguasa Banyubiru?”
”Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar. ”Setidak-tidaknya pusaka-pusaka itu dapat dipinjam. Apabila nanti diperlukan, biarlah keduanya dikembalikan.”
”Baiklah,” kata Kebo Kanigara, ”Agaknya Arya Salaka yang wajib menyimpannya.”
Mahesa Jenar menatap wajah Arya Salaka yang berdiri dua langkah di muka Kebo Kanigara. Wajah yang merah kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari di tengah-tengah perjalanan, di tengah-tengah sawah dan tegalan, di hutan dan di lautan. Namun dari wajah yang kasar itu memancar ketulusan serta kejujuran dan penderitaan murni. Anak yang hidup di tengah-tengah badai kesulitan dan penderitaan itu benar-benar memiliki kesederhanaan berpikir, meskipun otaknya cukup cerdas. Mendengar perkataan Kebo Kanigara itu Mahesa Jenar ikut bergembira, segembira Arya Salaka sendiri. Pusaka semacam itu adalah pusaka yang sulit dicari. Kini Arya akan menerimanya, meskipun belum pasti bahwa pusaka itu akan dimiliki untuk seterusnya.
”Arya...” terdengar Kebo Kanigara meneruskan, ”Simpanlah pusaka ini. Mudah-mudahan akan bermanfaat bagimu. Ketabahan serta keberanian akan memancar ke dalam hatimu. Namun apa yang telah terjadi dapatlah menjadi peringatan bagimu. Umbaran telah berusaha untuk mempergunakan pusaka itu dalam perjalanannya yang sesat.”
DADA Arya menjadi berdebar-debar. Ia maju selangkah, dan dengan tangan yang gemetar diterimanya Kiai Suluh dari tangan Kebo Kanigara, yang berkata pula, ”Kau telah memiliki salah satu dari kebesaran-kebesaran yang pernah dimiliki oleh Pasingsingan.”
”Aku akan selalu mengingatnya, Paman,” jawab Arya Salaka.
”Apa yang telah terjadi dengan Umbaran.” Tiba-tiba terdengar Widuri menyela, ”Ayah, aku juga punya cincin yang bermata merah menyala.”
”Kelabang Sayuta...” desis Mahesa Jenar.
”Ya,” jawab Widuri, ”Lawa Ijo menamakannya demikian.” ”Dari manakah kau mendapat cincin itu?” tanya ayahnya.
”Lawa Ijo,” sahut Widuri. Kemudian ia pun menceriterakan tentang Lawa Ijo. Tentang anak perempuannya yang mati dan tentang prangsangkanya yang salah terhadap istrinya.
Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Arya Salaka pun mendengarkan ceritera itu dengan seksama. Agaknya Lawa Ijo telah menjadi korban keadaan seperti Umbaran. Menjadi korban keadaan di sekitarnya. Keluarganya, ruang pergaulan dan sahabat-sahabatnya. Bahkan mungkin, selain mereka masih ada lagi berpuluh-puluh, malahan beratus-ratus orang yang menjadi korban seperti itu. Mungkin dalam pergaulan dengan sahabat-sahabatnya, mungkin dalam keadaan yang tak serasi di dalam rumah tangga dan orang tuanya atau mungkin keadaan yang sumbang di perguruannya. Sehingga untuk menjadi manusia yang baik diperlukan panilikan atas tiga daerah hidup manusia sejak masa kanak-kanaknya, yaitu keluarga, lingkungan pergaulan dan tempat mereka menempa diri, yaitu perguruan-perguruan.
Namun tiba-tiba di antara mereka terdengar suara Mantingan bergumam, ”Takdir telah menentukan atas kedua pusaka itu.”
Semua orang menoleh kepadanya. Di antara mereka ada yang bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi Mantingan tidak meneruskan kata-katanya. Hanya Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Wanamerta lah yang menangkap maksud kata-kata itu. Kata-kata yang terlanjur melontar demikian saja dari mulut Mantingan, sehingga dengan demikian Mantingan sendiri agak menyesal karenanya. Namun ketika dilihatnya Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tersenyum, Mantingan ikut tersenyum pula. Malahan Kiai Wanamerta berkata perlahan-lahan, ”Kami orang-orang tua hanya berdoa, semoga anak-anak muda mendapat jalan terang.”
Yang lain tak dapat mengerti apa yang mereka maksudkan. Arya Salaka Widuri, bahkan Rara Wilis menyangka bahwa Wanamerta sedang berdoa untuk kemenangan mereka melawan orang-orang dari golongan hitam. Namun sebagai seorang ayah, Kebo Kanigara berpikir, ”Apakah kedua pusaka, yang masing-masing berada di tangan Arya dan Endang Widuri itu akan menjadi perlambang dan menentukan jalan hidup mereka?”
Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Mahesa Jenar tidak berkata apa-apa. Malahan kemudian kembali mereka teringat kepada perjalanan yang akan mereka tempuh, sehingga dengan demikian kembali Mahesa Jenar mohon diri untuk meneruskan perjalanan itu. Maka merekapun segera berkemas. Kyai Suluh kini berada di pinggang Arya Salaka, sedang tangannya masih menggenggam tombak Banyubiru.
Sedang pusaka keturunan Kyai Suluh masih di bawa oleh Kebo Kanigara. Meskipun ia sendiri tidak memerlukannya, namun belum ada orang yang akan diserahinya untuk menyimpan pusaka itu. Di sepanjang perjalanan, Kebo Kanigara berusaha untuk dapat menasehati putrinya mengenai Kelabang Sayuta itu.
Seperti juga Kyai Suluh, Kelabang Sayuta adalah batu akik yang mempunyai pengaruh yang jelas kepada pemiliknya. Akik itu akan dapat mempengaruhi keuletan dan keterampilan berpikir. Demikianlah rombongan itu berjalan dengan kecepatan sedang. Paling depan tampak Arya Salaka di atas kuda hitam, kemudian Rara Wilis dan Endang Widuri yang menjajarinya. Di belakang mereka, berkuda berdua Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Mereka kini merasa bahwa sebagian dari pekerjaan mereka yang terberat sudah selesai.
Golongan hitam telah 8 dari 10 bagian hancur. Lebih dari itu, bagi Mahesa Jenar yang paling membesarkan hatinya, adalah sikap Lembu Sora. Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Agaknya orang itu telah menemukan jalan untuk kembali. Kembali kepada Tuhan, dan kembali kepada kesadaran diri atas segala ketamakan dan keserakahannya.
Matahari semakin lama menjadi semakin rendah, seakan-akan kini bola langit itu bertengger di atas pegunungan di sebelah barat. Sinarnya yang kemerah-merahan memancar ke segenap arah, ke wajah langit dan ke wajah bumi. Daun-daun yang hijau menjadi semburat merah. Namun cahaya merah itupun semakin lama semakin pudar. Akhirnya tinggal menyangkut di ujung-ujung daun hijau di lereng-lereng bukit, untuk seterusnya tenggelam di balik pegunungan. Di langit kini bermunculan bintang-bintang. Satu demi satu. Namun akhirnya jumlahnya tak terhitung lagi. Bintang-bintang berpencaran dari ujung langit ke ujung yang lain. Awan yang kelabu sehelai-helai mengalir ke utara.
Yang kemudian seakan-akan berkumpul menjadi satu. Awan-awan yang basah itu kemudian menjadi semakin tebal dan menjadilah lapisan mendung di langit yang luas.
Rombongan kecil itu mempercepat perjalanan mereka. Mereka takut kehujanan. Semalam, hampir seperempat malam mereka membiarkan diri mereka terbenam dalam hujan yang lebat. Kini mereka tidak ingin kedinginan lagi. Lebih baik berbaring di samping perapian sambil merebus ketela pohon daripada harus menempuh perjalanan di hujan yang dingin.
BEBERAPA saat kemudian tampaklah di kejauhan api yang menyala. Agaknya itu adalah perapian dari anak-anak Pamingit atau Banyubiru di Pangrantunan. Karena itu kuda mereka berlari semakin cepat. Perapian itu tampaknya hanya satu dua saja. Tidak seperti kemarin. Berpuluh-puluh di sekitar desa Pangrantunan. Ketika kuda Arya memasuki daerah itu, ia benar-benar terkejut. Yang dilihatnya hanyalah beberapa kelompok orang-orang yang sedang menghangatkan diri. Ke manakah laskar Pamingit dan Banyubiru yang banyak itu? Arya menarik kekang kudanya. Ia berhenti agak jauh dari desa. Wilis dan Widuri pun berhenti pula. Tetapi Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendahuluinya sampai ke tempat Arya Salaka berhenti.
”Kenapa sesepi ini, Paman...?” bisik Arya. Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar mengamati keadaan dengan seksama. Kata Mahesa Jenar, ”Apakah orang-orang itu orang-orang Pamingit atau Banyubiru...?”
”Entahlah,” jawab Arya. Kembali mereka berdiam diri. Dengan tajamnya Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mencoba untuk mengetahui apa yang sedang dihadapinya. Juga orang-orang yang kemudian berdiri di samping perapian itu. Apakah mereka kawan apakah lawan. Sedang orang-orang yang berada di perapian itu pun bersiaga ketika mereka mengetahui ada rombongan orang-orang berkuda datang ke dekat mereka.
Mahesa Jenar mendorong kudanya beberapa langkah maju. Dan orang-orang di tepi perapian itupun menyongsongnya dengan tombak yang tunduk.
”Siapakah kalian?” tanya salah seorang dari mereka. Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia membiarkan orang-orang itu menjadi semakin dekat. ”Siapakah kalian...?” terdengar kembali pertanyaan salah seorang dari mereka.
Kini Mahesa Jenar tidak ragu-ragu lagi. Menilik bayangan pakaian yang melekat di tubuh mereka, pastilah mereka bukan dari golongan hitam. Karena itu ia menyahut, ”Mahesa Jenar bersama Arya Salaka dan rombongan.”
”O....” sahut orang itu, dan tombak mereka menjadi semakin tunduk.
”Laskar manakah kau?” tanya Mahesa Jenar kemudian.
”Pamingit,” jawab orang itu, ”Kami mendapat tugas untuk menanti kedatangan Tuan.”
Mahesa Jenar menjadi berlega hati. Dengan isyarat tangan ia memanggil Arya, Wilis dan Widuri. Segera mereka pun mendekat.
”Kenapa sepi?” tanya Arya Salaka.
”Silahkanlah Tuan singgah sebentar. Kami mendapat tugas untuk menanti Tuan-tuan dan membawa Tuan-tuan ke induk pasukan,” jawab orang itu.
Namun nampaknya orang itu sedemikian tenang sehingga Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendapat kesan yang baik. Mahesa Jenar beserta rombongannya kemudian mengikuti orang yang mempersilahkan itu. Mereka dibawa ke pondok yang semula dipergunakan untuk Ki Ageng Sora Dipayana selagi memegang pimpinan pertempuran.
Ketika mereka memasuki halaman, muncullah seseorang di muka pintu pondok itu. Dengan bergegas dan hormat ia berkata, ”Silahkan Tuan-tuan.” Arya Salaka dan rombongan, telah mengenal orang itu, Wulungan.
Karena itu Arya Salaka menjadi semakin tenang dan tidak berprasangka. Maka segera mereka meloncat turun dari kuda-kuda mereka dan langsung masuk ke dalam pondok itu, duduk di atas bale-bale yang besar, hampir memenuhi ruangan.
”Sehari penuh kami menunggu Tuan-tuan,” kata Wulungan. ”Kami mengira bahwa Tuan akan datang pagi tadi. Karena itu, ketika Tuan-tuan tidak segera datang, kami menjadi cemas. Ki Ageng Sora Dipayana berpesan, apabila malam nanti Tuan-tuan tidak datang, kami harus menyusul bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana sendiri.”
”Atas pangestumu, kami selamat, Wulungan,” sahut Mahesa Jenar, kemudian ia bertanya, ”Kami terkejut ketika kami melihat daerah ini sedemikian sepi.
”Semuanya sudah selesai,” jawab Wulungan.
”Selesai...?” ulang Arya Salaka.
”Ya. Pekerjaan kami sudah selesai. Orang-orang dari golongan hitam telah meninggalkan seluruh daerah Pamingit. Mereka menghindarkan diri dari pertempuran kemarin. Ketika kami maju ke garis perang, pertahanan mereka telah kosong. Seorang pengawas melihat, sekelompok demi sekelompok, mereka meninggalkan daerah ini, namun pengawas itu belum yakin bahwa mereka seluruhnya telah pergi,” jawab Wulungan.
Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka menarik nafas. Namun Widuri nampak mengernyitkan alisnya, katanya, ”Jadi aku sudah terlambat?”
”Apa yang terlambat?” tanya ayahnya.
”Aku tidak dapat melihat pertempuran itu,” sahut Widuri. ”Beruntunglah kau,” kata ayahnya pula. ”Salah ayah. Kenapa aku tidak boleh berangkat dahulu bersama-sama dengan laskar Banyubiru beberapa hari yang lalu,” jawab Widuri.
”Beruntunglah kau,” ulang ayahnya, ”Kau akan ngeri melihat pertempuran itu. Kau akan melihat darah mengalir, melihat orang mengerang kesakitan karena terluka.”
”Beruntunglah aku, karena aku hampir mati ditelan Pasingsingan,” Widuri meneruskan. Kebo Kanigara tersenyum, Mahesa Jenar pun tersenyum.
”Tetapi bukankah kau masih utuh?” sambung ayahnya. Widuri tidak berkata-kata lagi. Yang lain pun untuk sesaat berdiam diri sehingga ruangan itu menjadi sepi.
”Nah, Tuan-tuan...” Wulungan memecah kesepian, ”Beristirahatlah. Besok pagi-pagi Tuan-tuan kami antar ke Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora dan tamu-tamu mereka menunggu Tuan-tuan.
”SIAPAKAH tamu-tamu itu?” tanya Arya.
”Bukan tamu baru. Ki Ageng Pandan Alas, Titis Anganten - jawab Wulungan. Kemudian Wulungan meninggalkan mereka untuk beristirahat. Awan yang basah di langit telah bersih disapu oleh angin. Tetapi udara terasa betapa panasnya.
Arya Salaka, yang tidak begitu tahan akan udara yang panas itu, bangkit berdiri. Maksudnya hanya untuk menyejukkan diri di luar pintu. Namun kemudian ia tertarik untuk berjalan-jalan di halaman. Di kejauhan, api masih tampak menyala-nyala. Agaknya laskar Pamingit itu masih merasa perlu untuk menghangatkan tubuh. Memang di udara yang terbuka, udara terasa lebih sejuk dan dingin daripada di dalam rumah. Selain itu, agaknya mereka sedang merebus jagung.
Arya berjalan saja tanpa tujuan. Ketika ia sampai di jalur-jalur jalan desa, ia pun mengikutinya. Kedua senjatanya ditinggalkan di pondoknya. Sebab ia mengira bahwa keadaan di Pangrantunan itu telah benar-benar aman. Dengan demikian ia berjalan saja seenaknya tanpa kecurigaan apa-apa. Namun yang tak diketahuinya, beberapa pasang mata sedang mengikutinya. Kemana ia berjalan, berpasang-pasang mata itupun lalu menyertainya. Mereka berlindung di balik pepohonan dan bayang-bayang gerumbul-gerumbul kecil di kiri-kanan jalan desa itu. Menilik gerak-gerik mereka, mereka bukanlah orang-orang yang dapat diabaikan. Ternyata telah sekian lama mereka mengikuti langkah Arya Salaka. Arya masih belum menyadarinya.
Sehingga dengan demikian, orang-orang itupun semakin lama menjadi semakin berani. Mereka kini lebih merapat lagi di belakang Arya Salaka yang sedang kehilangan kewaspadaan. Tetapi pancaindera Arya Salaka ternyata telah benar-benar terlatih. Meskipun ia tidak berprasangka apa-apa, namun didengarnya gemersik daun-daun kering di kiri-kanan jalan sempit itu. Dan gemersik itu selalu mengikutinya kemana ia pergi. Arya Salaka tidak segera menoleh atau mengamat-amati suara itu. Ia masih akan meyakinkan tanpa diketahui orang lain, bahkan seandainya ada orang yang mengikuti, orang itu pun tidak akan mengetahuinya bahwa Arya Salaka telah menyadari kehadiran mereka.
Kalau Arya Salaka mempercepat langkahnya, gemersik itupun menjadi semakin cepat, dan apabila Arya memperlambatnya dengan pura-pura memperhatikan sesuatu pada tubuhnya, gemersik itupun lambat pula. Akhirnya Arya berhenti, perlahan-lahan ia memutuar tubuhnya yang berjalan kembali lewat jalan itu pula.
Suara gemersik itupun berhenti dan berputar pula mengikutinya. Namun Arya telah berbuat sesuatu dengan perhitungan. Ia mengharap teka-teki itu segera dapat ditebaknya. Kalau orang itu akan menyerang atau berkepentingan dengan dirinya, maka orang itu pasti akan segera melakukannya, sebelum ia menjadi semakin dekat dengan pondoknya. Tetapi seandainya orang-orang itu hanya akan mengintainya, suara itu pasti akan lenyap dan berhenti. Dengan demikian menjadi kewajibannya untuk mengejar dan menangkap mereka atau salah satu dari mereka. Apa yang diharapkan Arya itupun terjadi. Agaknya orang yang mengikuti Arya Salaka itu tak membuang waktu, dan tak mau menunggu sampai Arya menjadi semakin dekat dengan pondoknya, di mana telah menunggu Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan beberapa orang lagi. Tiba-tiba Arya mendengar langkah yang menjadi semakin jelas, dan tiba-tiba seseorang telah meloncat tepat di belakangnya. Arya adalah seorang yang cukup memiliki bekal pengetahuan beladiri. Apalagi ia telah sengaja memancing orang itu keluar dari persembunyiannya. Karena itu, segera ia memutar diri menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang. Tetapi ketika ia melihat orang yang berdiri di hadapannya, ia menjadi terkejut bukan buatan. Bagaimanapun beraninya, namun dada Arya Salaka berdesir pula.
Di hadapannya kini berdiri seseorang berkerudung kain yang kehitam-hitaman dan bertopeng kulit kayu kasar.
”Pasingsingan,” desis Arya. Orang itu tertawa. Suaranya berat dan kasar. Katanya, ”Apakah hanya Pasingsingan yang memiliki topeng di dunia ini?"
Arya menyadari kesalahannya. Pasingsingan memiliki tanda-tanda khusus. Jubah abu-abu dan topeng kayu yang jelek dan kasar. Sedangkan orang yang berdiri di hadapannya itu berciri lain. Ia tidak mengenakan jubah, dan topengnya dibuat dari klika kayu yang sangat sederhana.
”Siapa kau?” tanya Arya Salaka. ”Aku kleyang kabur kanginan. Berkandang langit, berselimut mega,” jawabnya.
”Jangan banyak berputar-putar. Kalau kau sengaja menyembunyikan dirimu, apa maksudmu?” tanya Arya pula.
”Bukankah kau Arya Salaka...?” tanya orang bertopeng itu.
Ia pun menjawab dengan jujur, ”Ya, aku Arya Salaka.”
ORANG itu tertawa. ”Jadi kaulah yang mengaku anak kepala daerah perdikan Banyubiru?”
”Karena kau sangka aku mengaku-aku..?” sahut Arya Salaka. ”Aku tidak akan mengaku demikian seandainya ayahku bukan kepala daerah perdikan Banyubiru.”
Kembali orang itu tertawa. Suaranya sangat menyakitkan hati. Katanya ”Di mana ayahmu sekarang?” Pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hati Arya Salaka. Karena itu ia menjawab, ”Jangan banyak bicara. Apa maksudmu?”
”Ikut aku,” kata orang itu.
”Lalu...?” sela Arya.
”Jangan bertanya,” jawab orang itu.
”Adalah hakku untuk mengerti apa yang akan aku kerjakan,” kata Arya.
”Hanya ada dua pilihan bagimu. Mau atau tidak?” desak orang itu pula.
”Tidak,” jawab Arya tegas.
”Kalau begitu aku harus memaksamu. Dengan kekerasan. Kalau perlu akan aku bawa meskipun kau telah menjadi mayat,” kata orang itu. Arya masih sibuk berpikir. Siapakah orang ini. Apakah ia dari golongan hitam atau dari golongan lain yang tak menyukainya. Apakah hal ini ada hubungannya dengan kedudukannya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas tanah perdikan Banyubiru? Tetapi Arya tak berkesempatan untuk berpikir lebih lama. Sebab orang itu membentaknya, ”Bersiaplah!”
Arya tak sempat menjawab. Ia melihat orang itu meluncur dengan cepat menyerangnya. Namun Arya Salaka pun telah bersiap pula. Karena itu dengan tangkasnya ia mengelak, dan bahkan dengan lincahnya ia pun membalas menyerang lawannya.
Demikianlah maka segera terjadi perkelahian di antara mereka. Arya Salaka mula-mula masih meragukan lawannya. Namun ketika lawannya itu bertempur dengan kerasnya, maka ia pun tak mempunyai pilihan lain daripada melayaninya dengan sekuat tenaganya.
Orang bertopeng itu bertempur dengan gigih. Ia tidak banyak bergerak, namun serangan-serangannya yang datang tak ubahnya seperti gunung yang runtuh. Segumpal-segumpal beruntun berguguran. Namun Arya telah bertempur selincah kijang. Dengan cepat dan tangkas ia selalu berhasil menghindarkan diri dari setiap serangan yang datang. Bahkan serangan-serangannya pun datang seperti badai yang dahsyat. Mengalir tanpa berhenti. Gelombang demi gelombang. Karena itupun maka pertempuran itu menjadi semakin seru. Masing-masing telah bekerja sekuat tenaga untuk mengalahkan lawannya. Arya bertempur seperti banteng ketaton. Tetap, tangguh dan tanggon. Namun lawannya pun bertempur seperti seekor gajah yang demikian percaya pada kekuatan tubuhnya.
Demikianlah pertempuran itu berjalan semakin sengit. Arya Salaka ternyata memiliki ketangkasan yang cukup dapat mengimbangi lawannya. Namun meskipun demikian, ia selalu waspada. Tadi ia mendengar gemersik itu di kiri dan kanan jalan. Sehingga kesimpulannya, orang yang mengintainya tidak hanya seorang. Ia pasti mempunyai kawan. Dengan demikian ia harus selalu waspada, sebab setiap saat kawannya itu akan dapat muncul dan menyerangnya bersama-sama.
Tetapi meskipun sudah sekian lama Arya bertempur, orang yang lain belum muncul juga. Sehingga Arya menjadi curiga. Apakah mereka akan menyerangnya apabila ia telah benar-benar kelelahan. Karena itu, Arya menjadi marah, dengan lantang berkata, ”Hai, orang yang licik. Ayo keluarlah dari persembunyianmu. Kalau kalian akan bertempur bersama-sama, majulah bersama-sama. Jangan main sembunyi-sembunyian.”
Namun tak ada jawaban. Hanya seorang itu sajalah yang bertempur melawannya. Ketika ia mendengar Arya berkata dengan marah, ia pun menyahut, ”Jangan sombong, kau kira bahwa di dunia ini hanya ada seorang laki-laki yang bernama Arya Salaka...?”
”Aku tak berkata demikian,” jawab Arya sambil bertempur. ”Aku ingin kalian bertempur dengan jujur. Jangan mengambil kesempatan yang licik.”
”Aku bukan betina,” kata orang bertopeng sederhana itu. Namun dengan itu gerakannya menjadi semakin keras. Seperti angin pusakanya bergerak berputar-putar. Kini ia menjadi bertambah lincah dan bertambah garang. Tetapi Arya Salaka pun telah kehilangan kesabarannya, karena kemarahannya telah memuncak.
Arya tidak tahu dengan siapa ia berhadapan, namun agaknya lawannya benar-benar bertempur antara hidup dan mati. Karena itu ia pun bertempur mati-matian. Ia tidak mau menjadi korban dalam persoalan yang gelap. Pertempuran itu sudah berlangsung beberapa lama. Namun tak seorangpun yang tampak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua-duanya telah mengerahkan segenap tenaga yang mereka miliki, namun perlawanan merekapun menjadi semakin bertambah sengit. Tetapi lambat laun, Arya merasakan sesuatu yang aneh pada lawannya.
Seolah-olah ia pernah mengenal gerak-gerak yang demikian itu. Mula-mula lawannya mempergunakan tata berkelahi yang asing baginya. Aneh dan bercampur baur. Tetapi ketika Arya mendesak terus, lawannya itu tak mampu lagi mempergunakan tata gerak yang aneh-aneh dan bercampur baur. Sehingga akhirnya lawan Arya yang bertopeng itu terpaksa mempertahankan dirinya dengan ilmu yang sesungguhnya dimilikinya.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya