Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 122

LAWA IJO yang lemah itu kemudian berusaha untuk melemparkan senjata-senjatanya. Pisau belati yang selama ini menjadi ciri-ciri kekejamannya, yang kadang-kadang diikatnya dengan kain bergambar kelelawar hijau berkepala serigala.

Endang Widuri melihat semuanya dengan jantung yang berdentangan. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ada sesuatu yang mendesak-desaknya untuk memenuhi panggilan Lawa Ijo itu. Tiba-tiba ia bergerak-gerak maju. Bersamaan dengan itu, Rara Wilis pun meloncat ke arahnya, sambil berkata, ”Widuri.”

Kembali langkah Widuri terhenti. Ia menoleh kepada Rara Wilis. Nafas Rara Wilis pun kemudian menjadi sesak oleh ketegangan yang memuncak. Lawa Ijo yang sudah hampir sampai pada akhir hayatnya melihat Rara Wilis berusaha mencegah gadis kecil itu. Maka perlahan-lahan ia berkata, ”Aku adalah manusia seperti kalian, meskipun apa yang aku lakukan selama ini tidak ubahnya seperti binatang. Aku tidak tahu apa yang akan aku alami, sesudah aku menginjak alam lain, namun di perbatasan ini aku tidak akan menambah dosa.”

Tiba-tiba hati Rara Wilis tersentuh pula. Sebagai seorang gadis, perasaannya tidaklah sekeras baja. Ketika Widuri memandangnya, tanpa sesadarnya ia mengangguk. Sehingga Widuri kemudian perlahan-lahan melangkah maju mendekati hantu dari Alas Mentaok yang hampir sampai ajalnya itu. ”Senjatamu benar-benar ampuh, melampaui senjata yang pernah aku kenal,” desis Lawa Ijo.

”Namun ia akan bertambah ampuh kalau kau lekatkan akik ini di lingkaran bergerigi itu.” Widuri tidak menjawab. Ia berdiri tegak di samping Lawa Ijo yang masih memegang rantai beserta cakranya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan Lawa Ijo itu. Lawa Ijo kemudian menarik sesuatu di jari-jarinya. Cincin dengan mata akik yang berwarna merah menyala.

”Lawa Ijo...!” Pasingsingan berkata lantang. ”Apakah yang kau berikan itu?”

”Kelabang Sayuta,” jawab Lawa Ijo lemah.

”Gila, jangan kau lakukan,” sahut Pasingsingan. ”Akik Kelabang Sayuta adalah ciri Pasingsingan yang hanya aku pinjamkan kepadamu.”

”Biarlah Guru. Aku berikan akik itu kepada anakku,” bantah Lawa Ijo dengan suara gemetar. Pasingsingan menahan dirinya untuk tidak melukai hati muridnya yang hampir mati itu. Namun dengan demikian, tanpa dikehendaki, Lawa Ijo justru menanamkan bahaya dalam tubuh Endang Widuri. Sebab tiba-tiba Pasingsingan mendapat pemecahan yang mengerikan.

”Biarlah akik itu diberikan, namun gadis itu tidak akan mampu melepaskan diri dari tangannya.” Kemudian Pasingsingan tidak mencegahnya ketika Lawa Ijo menyerahkan cincin beserta rantai Widuri sendiri kepada gadis itu. Widuri pun seperti orang yang kehilangan dirinya. Ia bergerak saja tanpa sesadarnya menerima pemberian Lawa Ijo itu. Hanya Rara Wilis yang bagaimanapun juga, tidak dapat melepaskan Widuri seorang diri berhadapan dengan hantu itu. Karena itu iapun mendekatinya dengan pedang terhunus di tangannya.

”Kutuk anakku itu telah sampai pada suatu kenyataan.” Terdengar suara Lawa Ijo gemetar. ”Mudah-mudahan aku dapat mengurangi beban pada saat kematianku. Setelah kau menerima cincin itu, terasa betapa lapang jalan yang akan aku tempuh. Hati-hatilah dengan cincin itu. Setiap goresannya, pasti berakibat maut, kecuali Mahesa Jenar. Aku tidak tahu kenapa ia berhasil membebaskan dirinya. Pergunakan akik itu menurut jalan hidupmu. Kalau kau benci kepada kejahatan, mudah-mudahan ia dapat menolongmu.” Lawa Ijo berhenti.

Nafasnya menjadi semakin sesak. Tiba-tiba ia menggeliat dan terdengar ia mengeluh. Widuri yang masih berdiri di samping Lawa Ijo itupun tiba-tiba berjongkok. Kalau mula-mula ia ngeri melihat wajah yang keras dan kejam itu, maka kini perasaan itu telah hilang.

”Widuri...” bisiknya. ”Bukankah namamu Widuri?” Widuri mengangguk. ”Aku telah membunuh anakku tanpa aku sengaja. Ketika aku menyangka ibunya berbuat sedheng dengan laki-laki lain, aku bunuh laki-laki itu. Kemudian aku bunuh pula istriku. Namun tanpa aku ketahui anak gadisku satu-satunya yang masih kecil, memeluk kaki ibunya, sehingga ketika aku dengan membabi buta menusuk tubuh perempuan itu, sebuah goresan melukai anakku itu. Goresan yang dalam di lehernya, sehingga gadis itu kemudian mati pula dua hari setelah mayat ibunya aku lempar ke sungai.”

Lawa Ijo berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin tak teratur. Sekali-kali ia menggeliat lemah. Kemudian berbisik kembali perlahan-lahan. ”Tetapi ternyata aku salah sangka.” Kembali Lawa Ijo berhenti. Ia masih berusaha untuk membuka matanya, lalu meneruskan, ”Istriku tidak berbuat sedheng. Tetapi lelaki itu yang berbuat bengis. Berbuat di luar batas perikemanusiaan, sedang istriku adalah korban nafsu kebinatangannya. Namun istriku itu telah mati tersia-sia. Aku jadi menyesal. Apalagi ketika satu-satunya anakku itu mati pula. Akhirnya aku kehilangan keseimbangan. Dan jadilah aku seekor binatang pula. Tetapi aku tidak mau mendekatkan diri kepada perempuan. Perempuan yang bagaimanapun juga. Aku hanya ingin membunuh, berkelahi dan membuat orang lain menjadi putus asa dan menderita. Kadang-kadang aku rampas harta bendanya, pusaka-pusakanya dan kadang-kadang aku bunuh keluarganya, anak-anaknya yang tak berdosa. Akhirnya aku namakan diriku Lawa Ijo setelah aku berguru kepada Bapa Pasingsingan.”

Pasingsingan menggeram. Ia tidak senang mendengar penyesalan itu, sebagai suatu perbuatan cengeng. Seharusnya Lawa Ijo mati dengan janji seorang pemimpin dari golongan hitam. Tetapi ia berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolak nafsunya yang mendidih. ”Matilah segera Lawa Ijo,” kata hatinya. (Bersambung)-b

PASINGSINGAN sudah tidak mempunyai harapan untuk menyembuhkan luka-luka muridnya. ”Sesudah itu aku akan membunuh setiap orang di sini. Mantingan,Wirasaba, Rara Wilis dan gadis yang telah meruntuhkan kejantanan Lawa Ijo di matanya untuk mendapatkan akiknya kembali. Mengikat mereka di belakang kuda dan dipacunya ke Pamingit untuk meruntuhkan keberanian dan ketahanan perlawanan orang-orang Banyubiru,” kata hatinya kemudian.

Sesaat kemudian Lawa Ijo memejamkan matanya. Nafasnya satu-satu masih mengalir lewat hidungnya. Tetapi sesaat kemudian ia berusaha untuk tersenyum. Bersamaan dengan itu, dadanya terangkat dan melontarlah nafasnya yang terakhir.

Rara Wilis menjadi terkulai karenanya. Hatinya terketuk oleh kata-kata terakhir Lawa Ijo. Agaknya orang ini telah kehilangan masa depannya, karena ia salah duga terhadap istrinya. Sifat-sifat kekerasan dan kekerasan yang memang telah dimiliki, menjadi berkembang dengan pesatnya, sehingga menemukan bentuk puncaknya.

Endang Widuri masih berjongkok di samping Lawa Ijo. Terasa matanya menjadi panas. Kematian lawannya itu ternyata mempengaruhi jiwanya pula. Tanpa sesadarnya ia mengamat-amati benda pemberian Lawa Ijo itu. Cincin bermata batu akik yang merah menyala. Kelabang Sayuta.

Tetapi ia menjadi terkejut ketika terdengar Pasingsingan berkata dengan suara yang seperti bergulung-gulung di dalam perutnya. ”Widuri, agaknya kau telah berhasil merebut hati muridku pada saat-saat terakhirnya. Karena kenangannya yang melambung pada masa lampaunya, pada almarhum istri dan anaknya itulah, maka sejak di Gedong Sanga ia selalu berpesan untuk membebaskan kau dari tanganku. Sebelum mati ia pun berpesan demikian pula untuk tidak mengganggumu. Tetapi Lawa Ijo sekarang sudah tidak ada lagi. Pesannya akan hilang bersama hilangnya nyawamu. Sekarang aku akan melakukan rencanaku. Mengikat kalian di belakang kuda, dan mengantarkan kuda-kuda itu ke Pamingit.”

Setiap hati yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi bergetar cepat. Mereka menjadi seperti tersadar dari mimpinya. Ketika mereka mendengar kata-kata terakhir Lawa Ijo, mereka seolah-olah terlempar ke dalam satu dunia yang asing. Namun sekarang kembali mereka berdiri di atas tanah. Mereka berhadapan dengan iblis bertopeng dari Alas Mentaok. Mantingan tiba-tiba meloncat dengan cepatnya, meraih trisulanya yang masih menggeletak di samping Lawa Ijo setelah berhasil menyobek dada pemimpin gerombolan yang kehilangan masa depannya itu. Pedang Rara Wilis juga diangkatnya kembali. Widuri yang masih berjongkok disamping Lawa Ijo pun berdiri. Dengan hati-hati ia mengenakan cincin pemberian Lawa Ijo di jarinya, meskipun agak terlalu longgar, namun karena tangannya kemudian menggenggam ujung rantainya, maka cincin itu tidak akan lari karenanya.

Wirasaba yang berdiri tegak agak jauh dari mereka, juga segera membelai kapaknya, seolah-olah ia ingin menanyakan kepada senjata itu, apakah yang dapat dilakukan untuk melawan orang yang bernama Pasingsingan itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sura Sarunggi, disamping gelaknya yang riuh. ”Aku menjadi geli melihat kelinci-kelinci ini mempersiapkan senjata-senjata mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka sedang menduga-duga kekuatanmu, Pasingsingan?”

Pasingsingan tidak menjawab. Malahan ia berkata kepada Jaka Soka, ”Soka, masihkah kau perlukan perempuan itu?”

Jaka Soka terkejut. Selama itu ia pun seperti orang yang kehilangan kesadaran. Namun akhirnya ia menjawab, ”Perempuan itu sangat berbahaya, Paman.”

Pasingsingan tertawa. ”Lalu...?” ia bertanya pula. Jaka Soka menggeleng, jawabnya, ”Selama ia masih seperti sekarang, aku tidak memerlukan lagi.”

”Bagus,” sahut Pasingsingan, ”Perempuan itulah yang pertama-tama akan aku ikat di belakang kuda bersama-sama dengan gadis yang bernama Widuri itu. Seorang laskar akan memacu kuda itu dan melepaskannya di Pamingit.”

Tiba-tiba terdengar Jaka Soka bergumam, ”Sayang.” Tetapi Pasingsingan sudah tidak mendengarnya lagi.

Topengnya tiba-tiba tampak menjadi liar. Dipandangnya satu demi satu, Mantingan, Wilis, Widuri kemudian Wirasaba. Yang terakhir adalah mayat muridnya. ”Ia mati di luar lingkungan kami,” desisnya.

”Ya,” sahut Sura Sarunggi. ”Ia mati setelah menanggalkan kejantanan golongan kami. Aku tidak tahu bagaimana kedua muridku mati. Mudah-mudahan mereka mati sebagai Uling Rawa Pening.”

”Persetan semuanya!” Tiba-tiba Pasingsingan berteriak. ”Aku tidak punya banyak waktu.”

Kata-kata Pasingsingan itu merupakan aba-aba bagi Mantingan dan kawan-kawannya. Tanpa berjanji, mereka segera berloncatan merapatkan diri dengan senjata masing-masing yang siap di tangan. Trisula, pedang tipis ditangan Rara Wilis, kapak raksasa dan rantai bercakra pemberian Kebo Kanigara. Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lain, betapa dapat dikalahkan. Keempat senjata itu dalam satu gabungan, merupakan kekuatan yang dahsyat.

Namun bagi Pasingsingan, senjata-senjata itu tak akan banyak berarti. Meskipun demikian, ia pun berhati-hati. ”Mulailah Pasingsingan,” kata Sura Sarunggi, ”Mungkin orang-orang Pamingit akan segera menyusul kita. Bukankah pekerjaan utama kita belum selesai?”

”Ya,” jawab Pasingsingan. ”Aku menduga kalau keris-keris itu disembunyikan oleh Gajah Sora. Tetapi jangan takut mengenai orang-orang Pamingit atau Banyubiru yang akan menyusul kita. Aku telah meletakan beberapa penjaga untuk memberikan tanda-tanda dengan kentongan apabila mereka terpancing oleh api di sana.”

SURA SARUNGGI menyahut, ”Tetapi jangan membuang-buang waktu.”

”Aku senang melihat mereka ketakutan,” jawab Pasingsingan.

Sura Sarunggi pun kemudian tertawa sambil berkata, ”Kau benar-benar iblis. Tetapi memang benar-benar menyenangkan. Meskipun demikian jangan terlalu lama. Apakah aku harus membantu? Kau akan kecewa kalau mereka mati ketakutan sebelum terseret oleh kuda-kuda kita.”

”Bagus,” kata Pasingsingan pula.

”Aku akan dengan mudah membunuh mereka bersama-sama. Tetapi aku akan menemui kesulitan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Bantulah supaya pekerjaanku segera selesai.”

Sura Sarunggi tertawa. Ia melangkah maju mendekati empat orang yang berdiri dalam satu lingkaran beradu punggung.

Pasingsingan pun melangkah dari arah lain. Udara di halaman Pendapa Banyubiru itu kemudian diliputi oleh ketegangan. Masing-masing seakan-akan tidak berani menarik nafas dengan leluasa. Mantingan, Rara Wilis, Endang Widuri dan Wirasaba telah bertekad untuk bertempur mati-matian.

Mereka lebih baik mati dalam perkelahian itu, daripada harus terserat di belakang kaki kuda di sepanjang jalan ke Pamingit. ”Mahesa Jenar dan sahabatnya di Pamingit akan berterima kasih atas hadiah-hadiah kita ini, Sarunggi,” desis Pasingsingan.

”Hadiah yang tak ternilai,” jawab Sura Sarunggi.

Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sura Sarunggi yang tinggal beberapa langkah dari korbannya, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Demikian pula Pasingsingan.

”Hem....” geram Pasingsingan, ”Apakah ini?” Mata Sura Sarunggi menjadi liar. Mantingan dan kawan-kawannya yang telah hampir kehilangan harapan untuk dapat menyaksikan matahari terbit di balik bukit-bukit besok pagi, menjadi heran. Apakah yang mengganggu mereka. Ketika mereka melihat berkeliling, mereka tidak melihat apapun juga. Yang mereka lihat di langit yang kelam, mendung mulai mengalir dari arah utara. Satu-satu bintang-bintang yang gemerlapan itu tertelan dan hilang di belakang tabir yang kelabu.

Angin yang basah bertiup semakin lama semakin keras. Dan udara di atas Banyubiru menjadi semakin dingin.

Tetapi Pasingsingan dan Sura Sarunggi masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian Jaka Soka pun menjadi heran. Apakah yang ditunggu lagi? Tak seorangpun yang akan dapat menghalang-halangi mereka. Apa yang akan mereka perlakukan...?

Sendang Parapat, Wanamerta yang kaku seperti tonggak, para penjaga di gardu, tak ada yang mampu berbuat apapun. Meskipun Sendang Parapat dan Wanamerta tak akan tinggal diam. Ternyata dengan senjata-senjata di tangan mereka. Namun mereka sadar, bahwa terhadap Jaka Soka itupun mereka tak akan mampu melawan.

Tiba-tiba Sura Sarunggi dan Pasingsingan menjadi tegang. Sesaat kemudian terdengar Sura Sarunggi berkata, ”Jangan bersembunyi. Siapakah kau? Mahesa Jenar, Pandan Alas, Titis Anganten atau Sura Dipayana?”

Mendengar nama-nama itu, tergetarlah dada orang Banyubiru. Mantingan dan kawan-kawannya. Bahkan Widuri terpekik kecil, ”Ayah barangkali?”

Tetapi tak ada jawaban. Karena itu kembali Mantingan dan kawan-kawannya menjadi tegang. Seperti Sura Sarunggi dan Pasingsingan pun bertambah tegang. Mahesa Jenar, sahabatnya yang berhasil membunuh Nagapasa, Pandan Alas atau orang-orang lain pasti tidak akan membiarkan anak-anak mereka, atau sahabat-sahabat mereka itu menjadi ketakutan. Mereka pasti akan segera menampakkan diri. Bahkan mereka pasti datang dengan tergesa-gesa di atas kuda yang derap kakinya akan memberitahukan kehadiran mereka.

”Tetapi siapakah selain mereka?” bisik Sura Sarunggi di dalam hatinya. Namun Pasingsingan menjadi gelisah. Ia pernah bertemu dengan orang-orang aneh itu beberapa saat lampau di Rawa Pening. Ketika ia hampir saja membunuh Mahesa Jenar beserta empat kawannya. Yang seorang adalah Dalang Mantingan itu. Dua orang aneh itu berhasil membebaskan mereka. Sekarang, ketika Mantingan berada di ujung maut, terasa sesuatu yang aneh di halaman itu.

Tiba-tiba halaman itu seolah-olah bergetar dengan dahsyatnya.

Dari dalam gelap terdengar suara perlahan-lahan.

”Akulah yang datang.”

”Siapa?” teriak Pasingsingan.

”Pasingsingan,” jawab suara itu. Berdesirlah setiap dada yang mendengar jawaban itu. Pasingsingan...?

”Ah, orang itu pasti berolok-olok saja,” pikir mereka. Namun suara itu bergulung-gulung di dalam perut, seperti suara Pasingsingan. Ketika kemudian kilat memancar di langit, maka kembali di halaman itu seakan-akan menjadi runtuh karena setiap orang terkejut karenanya. Dari arah suara itu, di dalam cahaya kilat yang hanya sesaat tampaklah seorang yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan bertopeng yang kasar di wajahnya.

Melihat orang itu, Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. Terdengar ia berteriak nyaring, ”Siapakah kau? Apakah kau sudah bernyawa rangkap, berani mengenakan pakaian khusus Pasingsingan?”

”Aku Pasingsingan,” jawab suara itu.

”Tak ada dua Pasingsingan di dunia ini,” teriak Pasingsingan. ”Aku satu-satunya.”

”Kau salah!” Tiba-tiba terdengar suara itu di arah lain. ”Aku juga Pasingsingan.”

KETIKA semua orang menoleh ke arah suara itu, dalam keremangan cahaya obor, tampaklah seseorang lagi yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajahnya, sehingga serasa akan meledaklah dada mereka.

Dua orang yang sama-sama mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajah mereka. Pasingsingan menjadi marah sekali karenanya, sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan pandangan liar ia mengawasi kedua orang yang mirip dengan dirinya itu berganti-ganti. Kemudian sambil menggeram ia berkata, ”Apakah kalian tidak sadar, bahwa permainan kalian itu akan berakibat maut?”

Kedua orang yang menamakan diri mereka Pasingsingan itu tidak menjawab, tetapi perlahan-lahan mereka melangkah mendekat. Seorang di antaranya berdiri di samping Mantingan dan kawan-kawannya, sedang seorang yang lain berdiri bertentang pandang dengan Sura Sarunggi.

Namun kemudian terdengar suara Sura Sarunggi tertawa. Katanya, ”Suatu permainan yang bagus, Pasingsingan. Tetapi dengan mengenakan jubah abu-abu dan topeng yang jelek itu, bukankah permainan terakhir bagi kalian? Sebab kalian pasti akan mengambil keputusan untuk membuktikan bahwa Pasingsingan memang hanya satu. Kalau sekarang tiba-tiba ada tiga, atau barangkali nanti muncul yang lain, empat, lima, enam, sepuluh, maka nanti akhirnya Pasingsingan benar-benar akan tinggal satu.”

”Kau benar,” sahut Pasingsingan.

”Aku muak melihat mereka dengan ciri-ciri khusus Pasingsingan itu. Karena itu mereka harus mati.”

”Kematian seseorang tidak terletak di tangan orang lain.”

Terdengar salah seorang dari kedua orang itu menjawab.

”Tetapi terletak di tangan Yang Maha Agung. Tak seorangpun dapat meramalkan, apakah satu dari sekian banyak Pasingsingan itu adalah kau. Tak seorangpun yang tahu, apakah kau dibenarkan untuk tetap hidup. Apakah aku atau orang itu yang juga menamakan dirinya Pasingsingan.”

Pasingsingan tertawa. Suaranya nyaring mengerikan seperti rintihan hantu. Yang mendengar suara itu menjadi bergetar, seolah-olah dadanya terhimpit batu sebesar anak gajah. Sehingga mereka terpaksa memusatkan kekuatan batin mereka untuk menahan kesadaran mereka tidak runtuh. Namun beberapa orang penjaga telah terduduk karenanya. Sendang Parapat yang belum sembuh benar itupun tidak kuat menahan getaran yang memukul dadanya, sehingga dengan demikian, iapun terpaksa menyandarkan diri pada tiang pendapa. Meskipun demikian akhirnya iapun terduduk pula. Sedang Wanamerta terpaksa berpegangan tiang erat-erat. Namun kesadarannya telah melayap-layap seperti orang yang sedang hanyut menjelang tidur.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri masih dapat bertahan diri, berdiri tegak dalam lingkaran beradu punggung. Meskipun demikian mereka harus berjuang mati-matian agar mereka tetap dalam kesadaran. Sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tiga orang yang masing-masing menamakan diri mereka Pasingsingan. Apakah Pasingsingan yang lain itu tidak kalah jahatnya dengan Pasingsingan yang pertama. Apakah justru kedua orang yang lain itu lebih berbahaya bagi mereka. Pasingsingan masih terus tertawa dengan nyaringnya. Beberapa orang penjaga, bahkan Sendang Parapat, telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka menjadi seperti orang yang terlepas dari keadaan sekitarnya. Dan karena itu mereka menjadi terbaring lemah tanpa daya. Hatinya menjadi nyeri dan pedih. Mantingan dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

Sadarlah mereka bahwa Pasingsingan telah melepaskan ajiannya Gelap Ngampar. Bahkan Jaka Soka sendiripun menjadi gelisah. Semakin lama ia semakin pucat dan gemetar. Sura Sarunggi berdiri tegak sambil mengangkat dadanya. Sebagai orang sakti ia tidak banyak terpengaruh oleh aji sahabatnya itu.

Bahkan akhirnya ia tersenyum dan berkata, ”Gelap Ngampar adalah ilmu ajaib. Pasingsingan yang lain pun mampu berbuat demikian?”

Namun kedua Pasingsingan yang lain itu tidak menjawab. Mereka tegak seperti patung saja di tempatnya. Tetapi tiba-tiba terasa udara yang aneh bertiup di halaman itu. Perlahan-lahan hanyut di sela-sela arus angin basah dari lembah. Pasingsingan yang berdiri dekat Mantingan itu tampak melipat tangan di dadanya. Sejalan dengan arus udara yang aneh itu, terasa sesuatu merayap-rayap di dada Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri. Seakan-akan mereka menemukan kesegaran baru di dalam dirinya.

Perasaan nyeri dan pedih yang ditusukkan oleh aji Gelap Ngampar di dalam tubuh mereka perlahan-lahan menjadi berkurang. Dan angin masih mengalir mengusap tubuh mereka membawakan ketenangan dalam diri. Bagaimanapun juga Mantingan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup. Ia adalah seorang dalang yang banyak mempelajari keajaiban dan kekuatan- kekuatan yang tersembunyi di balik alam yang kasatmata. Karena itu tergetarlah hatinya.

Sehingga tak sesadarnya ia berbisik, ”Alangkah dahsyatnya. Pertempuran ilmu dari orang-orang sakti.”

WIDURI, Wilis dan Wirasaba mendengar bisikan itu. Karena itu mereka menjadi gelisah. Dua raksasa dapat bertempur tanpa luka pada kulit mereka, namun kelinci-kelinci dapat terinjak mati di tengahnya.

”Dahsyat...!” Tiba-tiba terdengar Sura Suranggi berteriak. ”Aku merasa Pasingsingan yang lain mampu melawan Aji Gelap Ngampar. Setidak-tidaknya ia mampu membebaskan dirinya. Bahkan perlawanannya telah berhasil mempengaruhi orang lain seperti aji Gelap Ngampar itu sendiri, merata ke segenap arah. Tetapi kekuatan perlawanan ini bukan ciri Pasingsingan. Pasingsingan-lah yang memiliki aji Gelap Ngampar.”

Pasingsingan menggeram. Tertawanya kini sudah berhenti ketika ia merasa perlawanan yang kuat. Bahkan telah membebaskan orang-orang di sekitarnya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Sambil menunjuk ke arah topeng kasar dari orang yang berdiri di samping Mantingan yang melipat tangan di dada itu, ia berkata, ”Setan. Agaknya kau mampu mengimbangi aji Gelap Ngampar. Tetapi itu bukan suatu bukti bahwa kau berhak menamakan dirimu Pasingsingan. Sebab Pasingsingan tidak saja mampu melawan, namun mampu melepaskan. Kalau kau menamakan dirimu Pasingsingan, dapatkah kau melepaskan aji Gelap Ngampar?”

”Hem...” geram orang berjubah yang menyilangkan tangannya. ”Kau masih tidak percaya bahwa aku bernama Pasingsingan.”

”Setiap orang dapat menyebut dirinya Pasingsingan. Mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar. Namun aji Gelap Ngampar tak dimiliki oleh setiap orang,” sahut Pasingsingan hampir berteriak. Orang yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang berdiri di samping Mantingan sambil melipat tangannya itu, mengangkat wajahnya. Terdengar ia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Pasingsingan yang seorang lagi.

”Kau juga bernama Pasingsingan? Orang itu bertanya dengan suara yang dalam. ”Akulah Pasingsingan itu,” jawab orang itu.

Pasingsingan menjadi semakin marah. Katanya lantang, ”Aku tidak peduli apakah kau menyebut dirimu Pasingsingan atau Setan Belang. Tetapi selama kau tak mampu menunjukkan ciri-ciri Pasingsingan, maka kau hanya akan ditertawakan orang sebelum kau terbunuh olehku.”

Namun Sura Sarunggi terpaksa berpikir. Orang-orang itu berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh Gelap Ngampar, sehingga dengan demikian orang-orang itu bukanlah kelinci-kelinci seperti Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri. Apalagi Wanamerta dan Sendang Parapat yang kini benar-benar seperti orang yang tak tahu keadaan diri.

”Aji Gelap Ngampar adalah aji yang dahsyat,” kata orang yang berjubah abu-abu yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi itu. ”Tetapi aji Gelap Ngampar adalah aji yang kurang sempurna. Aji yang tak akan dapat dipergunakan dalam pertempuran besar, dimana dalam pertempuran itu terdapat kawan dan lawan. Sebab demikian aji itu dilontarkan, maka tidak saja lawan-lawan kita yang terbunuh, namun kawan sendiripun akan menderita karenanya.”

”Jangan mencoba mengajari aku,” bentak Pasingsingan.

”Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, apa yang dapat kau lakukan dengan Gelap Ngampar sekarang ini? Kalau kau akan membunuh aku, misalnya, dapatkah kau pergunakan Gelap Ngampar? Dengan aji itu, kau hanya mampu membunuh orang-orang ini, yang berkerumun ketakutan melihat topeng-topeng kita yang kasar.”

Kembali Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. ”Jangan banyak bicara. Aku berkata tentang kebenaran dan kenyataan tentang Pasingsingan.” Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi itu bertawa terkekeh-kekeh dibalik topengnya yang jelek, jawabnya, ”Kau mengigau tentang kebenaran dan kenyataan Pasingsingan? Aku tidak tahu kebenaran dan kenyataan yang kau maksudkan. Bahkan cara berpikir yang demikian itulah yang menyebabkan dunia ini selalu bergoncang. Kebenaran yang terpancar dari kedengkian diri serta kenyataan yang ditabiri oleh pamrih dan nafsu. Kalau setiap orang berpikir demikian, tak ada ukuran tata pergaulan manusia. Kebenaran akan bertentangan dengan kebenaran yang lain, menurut kepentingan diri sendiri.”

”Huh...” potong Pasingsingan, ”Tak ada orang yang berbuat sesuatu tanpa pamrih. Dunia ini terbentang di hadapan kita untuk kita nikmati. Kalau kita tidak berbuat sesuatu adalah salah kita sendiri. Karena itu sudah sewajarnya kalau kita teguk airnya sepuas-puasnya, dan kita makan pala gumantung dan pala kependhem sekenyang-kenyangnya. Nah, aku sekarang sedang menikmati pala keduanya kini. Jangan melintang di jalan yang akan aku lewati. Aku sedang mendaki puncak kebesaran. Apakah kau kira kenikmatan dan kebesaran hanya dapat dimiliki oleh seseorang? Huh. Akupun berhak. Dan agaknya kaupun sedang berusaha.”

”Apa yang sedang kau usahakan?” tanya Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Jangan berpura-pura,” jawab Pasingsingan.

”Hem...” desah orang yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi. ”Apakah kau sedang mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

”Bukankah kau juga sedang mencarinya?” potong Pasingsingan. ”Apakah yang kalian perdebatkan?” sahut Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten? Kalau itu yang kaucari, tak akan kau ketemukan di sini. Kalau itu yang dimaksud dengan kebesaran yang setiap orang berhak menikmatinya, bukankah dengan demikian kau bermaksud merajai Demak?”

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya