Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 120
DUA orang penjaga berdiri menahan kantuknya di regol halaman. Sedang beberapa orang lain duduk di gardu dengan mata yang redup. Sekali-kali Wanamerta yang masih duduk di pendapa bersama Ki Dalang Mantingan tampak menguap.
”Beristirahatlah Paman.”
Terdengar suara Mantingan lemah. ”Malam terlalu dingin,” gumam orang tua itu.
”Ya,” sahut Mantingan. ”Tetapi hatiku gelisah.” Orang tua itu meneruskan.
Mantingan tidak menjawab. Tetapi pandangan matanya terlempar ke halaman, menembus kelam. Perlahan-lahan Mantingan menarik nafas dalam. ”Apakah Angger Wilis dan cucuku Widuri telah tidur?” tanya Wanamerta.
”Mungkin,” jawab Mantingan. ”Baru saja aku selesai berceritera. Anak itu minta aku berceritera tentang Gatotkaca, Pergiwa dan Pergiwati.” Wanamerta tersenyum. Tetapi ia berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah suara seruling. Sayup-sayup dibawa angin. Namun suaranya demikian merdu. Seirama dengan heningnya malam. ”Seruling Kakang Wirasaba,” desis Mantingan. ”Pantaslah ia bergelar Seruling Gading,” sahut Wanamerta.
Sebagai biasa Wirasaba berlagu melampaui batas gending-gending yang ada. Lagunya seperti lagu angin malam. Hening sepi, namun penuh kemesraan hati manusia. ”Di manakah Angger Wirasaba?” tanya Wanamerta. ”Di gardu belakang. Bersama-sama Sendang Parapat,” jawab Mantingan. Wanamerta mengangguk-angguk. Namun kegelisahan di hatinya semakin terasa. Sebagai orang tua, firasatnya bertambah hari bertambah tajam. Ia terkejut ketika tiba-tiba daun-daun sawo di halaman bergoyang ditiup angin yang bertambah kencang. Mantingan mengikuti arah pandangan Wanamerta. Tetapi yang dilihatnya pun hanyalah daun sawo yang bergerak-gerak.
”Aneh,” gumam Wanamerta. ”Apakah yang aneh?” tanya Mantingan. ”Aku tidak tahu. Tetapi aku menjadi gelisah seperti daun-daun sawo di halaman itu,” jawab Wanamerta. Mantingan mengerutkan keningnya. Terasa pula hatinya berdesir halus.
”Sepi yang menggelisahkan,” sahutnya. Suara seruling Wirasaba pun tiba-tiba berubah. Nadanya menjadi bertambah tinggi. Terasa betapa hatinya menjadi gelisah. Namun betapa merdunya suara seruling itu. Tetapi sesaat kemudian suara seruling itu berhenti. Mantingan mengangkat wajahnya. ”Berhenti,” desisnya.
”Ya,” sahut Wanamerta, ”Agaknya Angger Wirasaba kedinginan.”
Mantingan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya matanya yang kembali beredar mondar-mandir di halaman. Karena hatinya yang gelisah, pandangannya pun menjadi gelisah. Mantingan mencoba mengamati setiap benda yang ada di halaman. Pohon sawo, pohon jambu, dinding-dinding halaman, pohon-pohon kelapa. Semuanya diam beku. Yang bergerak-gerak hanyalah para penjaga yang berjalan hilir mudik di luar regol.
Tiba-tiba keduanya terkejut ketika terdengar langkah naik ke pendapa. Ketika menoleh, dilihatnya Ki Wirasaba berjalan dengan malasnya menjinjing kapaknya. Di belakangnya berjalan Sedang Parapat yang telah hampir sembuh. Mantingan dan Wanamerta menarik nafas panjang.
”Ah....” gumam Wanamerta. ”Kenapa aku berubah menjadi penakut?” ”Kenapa...?” tanya Wirasaba sambil duduk di samping mereka. ”Aku terkejut mendengar langkah Angger seperti mendengar langkah hantu,” jawab Wanamerta.
Wirasaba mengangguk-angguk lemah. Hatinya pun dirayapi perasaan-perasaan aneh. Serulingnya terselip di ikat pinggangnya, sedang tangannya menggenggam kapaknya. Tiba-tiba mata Mantingan sekali lagi menatap daun-daun sawo yang bergerak-gerak ditiup angin malam. Kemudian matanya menatap daun-daun jambu di sebelahnya. Aneh. Daun jambu itu tidak bergoyang terlalu keras seperti daun- daun sawo itu. Karena itu ia menjadi curiga.
Ketika sekali lagi ia melihat daun itu bergerak-gerak, dengan serta merta ia berdiri dengan trisulanya di tangan, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat sambil berkata lantang, ”Siapakah yang mencoba membuat permainan itu?” Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat pun terkejut ketika mereka melihat Mantingan meloncat. Mereka masih belum tahu apa yang dimaksudnya. Tetapi ketika pandangan mereka mengikuti arah pandangan mata Mantingan, merekapun melihat bahwa daun-daun sawo itu bergoyang-goyang.
Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan dari pohon sawo itu. Suara yang sudah mereka kenal baik-baik. Para penjaga dan para pengawalpun terkejut pula. Bahkan Mantingan terpaksa menghentikan langkahnya. ”Lawa Ijo,” gumamnya.
Sesaat kemudian dilihatnya bayangan yang melontar turun dari pohon sawo di halaman itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada tegak. Sekali lagi Mantingan terkejut melihat orang itu. Bukan Lawa Ijo, tetapi agaknya ia pernah melihatnya. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. Bukankah Watu Gunung telah dibinasakan oleh Mahesa Jenar? Apakah ia dapat hidup kembali...? Namun sebelum ia sempat bertanya terdengar Wirasaba menggeram, ”Hem, kau Wadas Gunung.”
MANTINGAN menoleh ke arah Wirasaba. Ia mengulang perlahan, "Wadas Gunung. Siapakah dia?" "Adik seperguruan Lawa Ijo," jawab Wirasaba.
"Watu Gunung yang kau maksud...?" Ia bertanya pula. Wirasaba menggeleng. "Bukan. Saudara kembarnya. Orang ini pernah bertempur melawan Adi Mahesa Jenar di Pliridan bersama-sama dengan 20 orang kawannya."
Sementara itu Wadas Gunung telah berjalan beberapa langkah maju. Sambil tertawa pendek ia berkata, "Nah, kau orang berkapak yang membantu Mahesa Jenar di Pliridan dahulu? Kau masih mengenal aku dengan baik."
Wirasaba juga maju. "Kau datang pula ke Gedong Songo beberapa hari yang lalu," pikirnya.
Dan kapaknya tiba-tiba bergetar di tangannya. Ketika ia hampir meloncat menyerbu, terdengar Wanamerta yang tua itu berbisik, "Hati-hatilah Angger. Ia pasti tidak datang sendiri."
Belum lagi Wanamerta selesai berkata, terdengarlah suara kentongan bertalu-talu tiga kali berturut-turut. "Kebakaran," desis Wanamerta. Sekali lagi Wadas Gunung tertawa. Katanya, "Kebakaran. Jangan terkejut. Banyubiru telah dikepung."
Wajah Sendang Parapat menjadi merah. Ia harus segera menggerakkan segenap laskar cadangan yang ada. Tetapi ketika ia melangkah ke gardu penjagaan, sebelum turun dari pendapa, muncullah seorang lagi di hadapannya.
Sendang tertegun. Ia belum pernah melihat orang itu. Seorang yang berwajah tampan, berkulit kuning dan berpakaian rapi. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat warna hitam. "Siapakah kau...?" Tiba-tiba Sendang Parapat bertanya.
Orang itu tersenyum. Senyumnya tampak aneh. Katanya, "Jangan risaukan siapa aku." Sendang Parapat menjadi marah. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan. Karena itu ia berteriak saja dari pendapa, "Bunyikan tanda, gerakkan segenap laskar cadangan."
Sesaat kemudian, orang-orang di gardu penjagaan menjadi sadar akan bahaya yang datang. Seseorang kemudian meloncat memukul kentongan titir. Tetapi suara titir itu terputus ketika tiba-tiba pemukul kentongan itu terpelanting jatuh. Sendang Parapat terkejut. Karena itu ia menjadi semakin marah. Untunglah bahwa suara titir yang pendek itu telah terdengar dari gardu di luar halaman yang terdekat, sehingga suara titir itupun segera bersambut. Apalagi ketika seorang yang lain segera merebut pemukul kentongan dari tangan orang pertama. Kemudian dengan tanpa takut-takut iapun mengulang memukul kentongan itu dengan irama yang sama, titir. Namun orang kedua inipun kemudian terjatuh pula dengan luka di kepalanya.
Sebuah batu telah membenturnya. Tetapi suara titir telah menjalar ke segenap penjuru Banyubiru. Banyubiru yang sedang tidur lelap itu menjadi terbangun dengan tiba-tiba. Suara kentongan tiga kali berturut-turut telah mengejutkan hati mereka. Apalagi kemudian terdengar bunyi titir yang merayap-rayap di seluruh lereng bukit itu. Laskar Banyubiru pun menjadi terkejut. Untunglah bahwa mereka telah terlatih dengan baik. Sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ketika terdengar suara titir bersahutan, sadarlah mereka bahwa bahaya yang besar telah datang.
Para pemimpin kelompok itupun segera tahu apa yang harus dilakukan. Sebagian dari laskar itu segera berangkat dengan tergesa-gesa ke tempat kebakaran. Orang yang berwajah tampan itupun mengangkat wajahnya ketika suara titir telah menjalar ke segenap arah.
Ia mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Sendang Parapat, "Jangan berdiri saja di situ, pergilah supaya umurmu panjang." Betapa marahnya Sendang Parapat. Segera ia menarik pedangnya.
Dengan penuh nafsu ia berhasrat menyerang orang itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika terdengar suara halus di belakangnya, "Sendang, jangan tergesa-gesa. Ia bukan lawanmu."
Sendang Parapat menghentikan langkahnya. Iapun segera menoleh. Bahkan semua orang memandang ke arah suara itu.
Ternyata Rara Wilis telah berdiri di ambang pintu. Mula-mula ia menjadi ngeri melihat kehadiran Jaka Soka. Bukan karena ia takut seandainya ia harus bertempur. Tetapi sebagai seorang gadis, ia merasa bahwa Jaka Soka adalah orang yang pernah menjadi gila karena dirinya. Ketika Jaka Soka melihat gadis itu, hatinya bergetar cepat. Ia masih belum dapat melupakan, betapa wajah gadis itu selalu terbayang.
Karena itu tiba-tiba kembali ia tersenyum. Senyum yang aneh. Tiba-tiba saja Jaka Soka merasakan adanya suatu kurnia bagi dirinya. Kalau ia turut ke Banyubiru bersama beberapa orang dan laskar golongan hitam, adalah karena dendamnya yang meluap-luap. Ia ingin membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya, sebagai ganti kematian gurunya.
Tetapi tiba-tiba ia bertemu dengan gadis ini. Matanya yang redup itupun menjadi bersinar-sinar. Dan pandangan mata yang demikian itulah yang menyebabkan seluruh bulu tengkuk Wilis berdiri. Namun, kemudian gadis itu merasa, bahwa menjadi kewajibannya untuk turut serta mengamankan rumah ini, sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.
Karena itu iapun melangkah maju sambil berkata, "Jaka Soka, apakah kerjamu di sini? Apakah pekerjaanmu di Pamingit sudah selesai...?"
Wadas Gunung pun menjadi keheran-heranan. Apakah yang dilakukan oleh Jaka Soka itu? Dimanakah ia berkenalan dengan gadis manis yang menyapanya - Hem, agaknya kau mendapat pekerjaan baru di sini Jaka Soka. -
JAKA SOKA tersenyum, jawabnya, "Bukan Wadas Gunung. Bukan pekerjaan baru. Aku sudah berjanji akan datang kepadanya beberapa tahun yang lampau. Dan agaknya iapun tetap menanti."
Wajah Rara Wilis menjadi merah. Sekali dilayangkan pandangannya sekeliling pendapa itu. Di situ masih berdiri Mantingan, Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat. Sedang di bawah tangga berdiri Wadas Gunung dan di sebelah lain Jaka Soka. Ketika ia melihat para penjaga yang berdiri tidak lebih dari lima orang itupun telah bersiap pula. Ia menarik nafas panjang. Kalau hanya kedua orang itu saja, mungkin masih akan dapat diatasi.
Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara yang seram dari dalam gelap. Lebih seram dari suara Wadas Gunung. Kemudian disusul dengan bayangan yang remang-remang semakin lama semakin jelas. Lawa Ijo. Mantingan menarik nafas. Agaknya bahaya yang mendatang benar-benar menggetarkan dadanya. Lawa IJo itu kemudian berdiri saja disamping Jaka Soka. Sambil tertawa pendek ia berkata, "Jaka Soka. Apa kau masih mengharapkan gadis itu?"
"Ia tetap menanti aku dengan setia," jawab Jaka Soka. Lawa Ijo menjadi marah.
Namun gadis itu tidak menjawab. Yang menjawab adalah suara gadis lain, Endang Widuri. Katanya, "Benar Paman Soka. Bibi Wilis menantimu. Sebab sepeninggalmu, kuda-kuda kami menjadi kekurangan rumput."
Jaka Soka mengerutkan keningnya. Ia memandang gadis yang berdiri di pintu itu dengan sinar mata yang seram.
Tetapi Lawa Ijo tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, "Ha, dengar. Apa yang dikatakan gadis nakal itu. Dan barangkali memang sepantasnya kau menjadi pekatiknya, mencari rumput bagi kuda-kudanya."
Jaka Soka pernah bertempur dengan Widuri di Gedangan. Pada saat itu ia benar-benar keheranan, bahwa gadis sebesar itu telah mampu bertempur sedemikian hebatnya. Dan kini tiba-tiba gadis itu muncul kembali. Karena itu Jaka Soka menjadi tak senang sama sekali, katanya, "He monyet kecil. Jangan ganggu aku lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu."
Ketika mendengar kata-kata itu, Widuri menjadi tertawa, sedang Lawa Ijopun tertawa pula.
Terdengar Lawa Ijo menyahut, "Jangan marah kepada gadis kecil itu Soka. Ia berkata sebenarnya."
Mata Jaka Soka menjadi semakin seram. Dengan tajamnya ia memandang gadis kecil yang nakal itu.
Namun ia tidak bisa meloncat saja kepadanya. Di hadapannya berdiri Rara Wilis. Kalau saja Rara Wilis lima enam tahun yang lampau, mungkin ia tidak perlu memperhitungkan dalam tindakan-tindakannya.
Tetapi Rara Wilis yang berdiri di hadapannya dengan pedang yang tergantung di lambungnya, adalah Rara Wilis yang telah berhasil membunuh istri Sima Rodra. Karena itu Jaka Soka masih berdiri saja di tempatnya.
Sedangkan Endang Widuri, betapapun nakalnya, namun ia tahu juga bahwa keadaan pendapa Banyubiru itu benar-benar dalam bahaya. Karena itu rantainya sudah tidak tergantung lagi di lehernya, tetapi dengan jari-jarinya yang kecil, ia bermain-main dengan senjata itu. Bahkan cakranya pun telah melekat di ujungnya. Benda yang berkiliat-kilat, berbentuk bulat bergerigi itu tidak lepas dari perhatian Jaka Soka.
Senjata yang demikian benar-benar berbahaya. Tetapi ia percaya kepada tongkat hitamnya serta pedang yang terselip di dalamnya. Namun sesaat kemudian kembali pendapa itu digetarkan oleh dua bayangan yang datang memasuki regol halaman. Ketika penjaga-penjaga di regol halaman itu berusaha mencegahnya, mereka terpelanting jatuh, dan tidak bangun kembali. Para penjaga yang lain pun terkejut.
Tetapi mereka terpaku di tempatnya ketika mereka melihat orang yang datang itu.
Yang seorang berjubah abu-abu bertopeng jelek, dan seorang bertubuh tinggi besar dan berkepala besar pula. Mereka adalah Pasingsingan dan Sura Sarunggi. Kedua orang itu berjalan seenaknya ke pendapa. Tetapi kemudian terdengar suaranya menggeram. "Lawa Ijo. Permainan apa yang sedang kau lakukan? Kau masih berdiri saja mengagumi kecantikan gadis-gadis itu? Waktu kita tidak banyak. Aku telah memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana laskarmu menghindari orang-orang Banyubiru yang sudah menjadi gila di tempat kebakaran. Waktu kita tidak banyak."
Lawa Ijo sadar, bahwa seseorang telah melihat mereka di Pamingit. Sehingga dengan demikian ada kemungkinan mereka menyusul ke Banyubiru. Karena itu ia berkata, "Baiklah Guru. Dan apakah yang akan Guru lakukan sekarang?"
"Bunuhlah orang-orang ini semuanya. Kecuali kalau Jaka Soka masih menghendaki gadis itu. Tetapi buatlah ia tidak berdaya. Aku akan melihat isi rumah, apakah Nagasasra dan Sabuk Inten benar-benar masih ada di sini."
Terdengar Mantingan dan Wirasaba menggeram. Namun ia sadar betapa dahsyatnya kekuatan yang datang itu. Ia sadar pula, bahwa kebakaran di ujung kota adalah suatu cara untuk memancing laskar Banyubiru. Pasingsingan dan Sura Sarunggi itu tidak memperhatikan apa-apa lagi. Mereka langsung berjalan naik pendapa dengan seenaknya.
KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis sudah melekat di hulu pedangnya, ia pun tidak berbuat apa-apa. Kali ini Widuri pun tidak berani bermain-main. Ia telah pernah melihat hantu berjubah dan bertopeng kasar itu bertempur melawan Mahesa Jenar di Gedong Songo. Karena itu ketika kedua orang itu berjalan ke pintu, Widuri menggeser diri.
Sesaat Pasingsingan berhenti pula dan memandangi wajah gadis yang jernih itu. Tanpa disengaja ia kemudian menoleh kepada Lawa Ijo. Tetapi kembali ia tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya. Dengan Sura Sarunggi, Pasingsingan segera memasuki rumah untuk mencari pusaka-pusaka yang menggemparkan itu. Ketika kedua orang sakti itu telah lenyap ditelan pintu, mulailah Lawa Ijo menggeram. Kemudian terdengar ia berkata, "Jaka Soka, jangan terlalu lama bermain-main. Waktu kita tidak terlalu banyak."
Jaka Soka tersenyum. Dengan mata redup ia melangkah maju, dan dengan satu loncatan ia naik ke pendapa. Pada saat yang bersamaan Rara Wilis telah menyambut pedangnya. Ia sadar bahwa Ular Laut itu pasti akan menyerangnya. Sekali lagi hatinya meremang, ketika teringat peristiwa-peristiwa di hutan Tambakbaya. Tetapi sekarang ia harus menghadapi bajak laut itu dengan senjata di tangan, tidak untuk bunuh diri, tetapi untuk membunuh lawannya itu. Yang terjadi di sebelah lain, Wirasaba dengan garangnya meloncat ke arah Wadas Gunung. Kapaknya yang besar itu berputar dengan dahsyatnya. Sedang Wadas Gunung pun menerima serangan Wirasaba dengan penuh gairah.
Di kedua belah tangannya telah tergenggam dua buah pisau belati panjang. Sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Kedua-duanya bertubuh tinggi, besar dan berkekuatan luar biasa. Keduanya memiliki kelincahan dan kecepatan bergerak. Wirasaba kini telah memiliki seluruh ketangkasannya. Kakinya sudah benar-benar pulih kembali, tidak seperti pada saat ia menyusul Mahesa Jenar ke Pliridan beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Banturan-benturan senjata mereka berdentang-dentang menyobek sepi malam. Demikian kerasnya sehingga berloncatlah bunga api keudara, memercik berhamburan.
Mantingan melihat Wirasaba telah mulai, dan Rara Wilis telah berhadapan dengan orang yang berwajah tampan itu. Yang masih berdiri tanpa lawan adalah Lawa Ijo. Lawa Ijo itu tidak dapat dikalahkan, namun apapun yang terjadi adalah menjadi kewajiban Mantingan. Karena itu segera Mantingan meloncat menyerang Lawa Ijo.
Terdengarlah Lawa Ijo tertawa. Sesaat kemudian di tangannya telah berkilat-kilat pisau belati panjang. Dengan tangkasnya ia menyongsong serangan trisula Mantingan. Maka sesaat kemudian mereka telah terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit. Keduanya bertempur mati-matian. Untuk segera dapat mengakhiri pertempuran, Lawa Ijo yang garang itu meloncat dengan dahsyatnya, sedangkan Mantingan pun tidak kalah lincahnya. Karena ia sudah mengenal Lawa Ijo, maka dalam pertempuran itu, segera ia mempergunakan ilmu gerak yang dinamainya Pacar Wutah. Dalam saat-saat berikutnya, trisulanya bergerak-gerak dengan cepatnya menyerang tubuh lawannya dari segala arah.
Tetapi Lawa Ijo pun telah mengenal ilmu itu. Di Gedong Sanga, ia gagal membunuh dalang Mantingan itu. Sekarang ia akan menebus kegagalannya. Dahulu Dalang Mantingan berhasil diselamatkan oleh Arya Salaka. Dan sekarang tak ada orang yang akan menyelamatkannya. Karena itu, maka Lawa Ijo yakin bahwa kali ini ia akan berhasil.
Wirasaba yang bertempur dengan Wadas Gunung pun telah mengerahkan segenap kekuatannya. Ia ingat apa yang pernah terjadi di Gedong Sanga, waktu itu pun Wadas Gunung ikut serta. Sehingga dengan demikian, sejak perkelahiannya di Pliridan, ia pernah melihat tandang Wadas Gunung di Gedong Sanga, meskipun tidak sedemikian jelas, karena kesempatan yang sempit. Sebab pada saat itu ia harus bertempur melawan dua orang dari kawanan Alas Mentaok. Tetapi kini ia harus bertempur melawan orang kedua sesudah Lawa Ijo. Karena itu ia harus berjuang mati-matian.
Namun Wirasaba, yang terkenal dengan nama Seruling Gading itupun mempunyai sifat-sifat yang khusus. Sebagai seorang pengembala yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain dengan bekal seruling dan kapaknya itu, maka ia telah memiliki pengalaman yang tak kalah luasnya dari lawannya, penjahat ulung yang bernama Wadas Gunung itu. Dengan demikian maka kekuatan keduanya tak dapat diselisihkan. Masing-masing memiliki kekhususannya yang cukup berbahaya. Wadas Gunung dengan kedua pisau belati panjangnya menyerang dengan ganasnya. Bertubi-tubi seperti beribu-ribu pisau belati yang melontar-lontar ke tubuh Wirasaba. Namun kapak Wirasaba itu seakan-akan dapat berubah menjadi dinding baja yang membatasinya. Sehingga dengan demikian ujung pisau lawannya sama sekali tak berhasil menyentuh pakaiannya.
Endang Widuri sementara itu masih berdiri tegak di samping pintu. Ia melihat bagaimana Wirasaba bertempur dengan dahsyatnya. Dilihatnya pula Ki Dalang Mantingan bertempur mati-matian. Ia melihat betapa lincahnya Dalang Mantingan itu, dan bagaimana dahsyatnya trisulanya menyambar-nyambar.
Namun dilihatnya pula betapa dahsyatnya Lawa Ijo itu bertempur. Karena itu hatinyapun menjadi tegang. Yang belum mulai, di antara mereka adalah Jaka Soka. Ia masih saja berdiri dengan senyumnya yang aneh. Sekali-kali ia memandang berkeliling, melihat bagaimana Wadas Gunung menghadapi lawannya, dan di saat lain dipandangnya dengan seksama pertempuran antara Lawa Ijo dan Dalang Mantingan. (Bersambung)-c
SEBAGAI seorang yang cukup berilmu, segera Jaka Soka melihat bahwa Mantingan telah sampai pada puncak perjuangannya, sedang Lawa Ijo masih mungkin untuk melepaskan ilmu-ilmu pamungkasnya. Karena itu ia tersenyum. Sebentar lagi ia akan melihat lawan Lawa Ijo itu terbelah dadanya. Karena itu untuk menakut-nakuti lawannya ia berkata, "Wilis, lihatlah. Sebentar lagi kawanmu yang bernama Mantingan itu akan terpenggal lehernya, atau terbelah dadanya."
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Ia melihat pula apa yang terjadi. Di Gedong Sanga, Rara Wilis telah mengetahui pula, bahwa ilmu Mantingan masih belum dapat menyamai Lawa Ijo. Meskipun demikian ia mencoba untuk tidak terpengaruh karenanya.
Sebab apabila demikian, Ular Laut itu akan dengan mudahnya menangkapnya. Seandainya ia terbunuh dalam pertempuran itu, ia tidak akan menyesal. Sebab dengan demikian ia telah mengorbankan dirinya untuk ikut serta mempertahankan hak atas Banyubiru dan atas Keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten yang tak begitu dimengertinya, sebab Mahesa Jenar tidak begitu banyak menceritakan pusaka-pusaka itu kepadanya. Namun hal yang sedemikian telah diduganya sejak semula.
Sejak ia menjatuhkan pilihannya atas Mahesa Jenar daripada Sarayuda. Pada saat itu ia sadar, bahwa Mahesa Jenar mempunyai masalah yang jauh lebih banyak daripada Demang Gunungkidul yang kaya raya itu.
Kalau Sarayuda seolah-olah telah menyelesaikan perjuangannya untuk merebut keadaannya kini, sehingga dengan demikian Sarayuda tinggal menikmati hasil jerih payahnya, maka Mahesa Jenar masih harus berjuang terus. Tetapi Rara Wilis melihat hakekat dari perjuangan kedua orang itu. Sarayuda berjuang untuk menempatkan dirinya pada tempat yang sebaik-baiknya, meskipun ia sama sekali tidak merugikan orang lain, tetapi Mahesa Jenar berjuang untuk kepentingan yang lebih luas, yang justru mengorbankan dirinya sendiri, kepentingannya sendiri. Seperti halnya usahanya menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamukten yang akan diharapkan.
Mahesa Jenar benar-benar berjuang tanpa pamrih, selain pengabdian diri pada tanah kelahiran, pada kemanusiaan. Sebab apabila keris-keris itu benar-benar jatuh di tangan golongan hitam, akan musnahlah tata kehidupan manusia, akan musnahlah sendi-sendi pergaulan manusia. Dan akan lenyap pulalah kesempatan untuk menjalankan ibadah mereka, memanjatkan bakti kepada Tuhan. Dan jadilah Demak suatu negara yang bertata pergaulan rimba. Siapakah yang kuat, merekalah yang berkuasa, tanpa menghiraukan hukum-hukum yang ada.
Juga usaha Mahesa Jenar untuk meletakkan kembali Arya Salaka pada tempatnya, sama sekali adalah perjuangan tanpa pamrih. Ia sekadar melakukan kewajibannya sebagai manusia yang melihat kebenaran terinjak-injak. Dengan demikian, sebagai seorang yang telah menyatakan dirinya bersedia berjuang di samping Mahesa Jenar, Rara Wilis sama sekali tidak gentar melihat ujung senjata. Jiwanya, raganya, bulat-bulat diserahkan dalam pengabdian seperti apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, orang yang dikaguminya sejak pertemuannya yang pertama. Tetapi ia menjadi ngeri, kalau Ular Laut akan berhasil menangkapnya, dan membawanya ke Nusakambangan, seperti yang diidam-idamkannya sejak lama. Ia menjadi ngeri atas kehadiran tokoh-tokoh Pasingsingan di tempat itu, jangan-jangan ia akan membantu Ular Laut itu, membuatnya tidak berdaya. Namun karena itu, ia berkeputusan untuk melawan mati-matian. Kalau ia gagal, lebih baik ia mati di pendapa Banyubiru itu.
Dengan demikian, Rara Wilis segera mengangkat pedangnya mengarah ke dada Jaka Soka sambil berkata, "Jaka Soka, jangan menakut-nakuti aku. Aku sekarang bukan lagi gadis yang ketakutan melihat senyum yang aneh serta matamu yang redup. Nah, marilah kita bermain-main dengan pedang. Kau atau aku yang mati karenanya."
Jaka Soka menggigit bibirnya. Tetapi Rara Wilis itu berkata sungguh-sungguh. "Cabutlah pedangmu," desis Rara Wilis, "Supaya aku tidak membunuh orang yang tidak bersenjata." Pedang Rara Wilis terjulur beberapa jengkal ke arah leher Jaka Soka, sehingga Jaka Soka terpaksa bergeser mundur. "Wilis..." katanya, "Aku tidak akan melukai kulitmu. Apakah yang kau tunggu di sini? Mahesa Jenar tidak akan kembali kepadamu, karena ia telah terbunuh di Pamingit."
Dada Rara Wilis berdesir, tetapi kemudian ia menjadi tenang kembali. Katanya, "Siapakah yang telah membunuhnya?"
"Paman Pasingsingan," jawab Jaka Soka. Rara Wilis tertawa. Tetapi Endang Widuri tertawa lebih keras.
Katanya, "Pasingsingan tak akan mampu melawan Paman Mahesa Jenar. Kau salah hitung, Jaka Soka. Lain kali kau perlu mempelajari keadaan sebelum kau mencoba berbohong."
Mata Jaka Soka menjadi semakin redup. Tetapi ia sudah tidak tersenyum lagi. Sekali lagi ia melihat Wadas Gunung yang menggeram keras sekali untuk melepaskan marahnya, karena Wirasaba dapat melawannya dengan baik. Saat yang lain, Jaka Soka memandang ke arah Lawa Ijo yang nampak makin baik keadaannya. Meskipun demikian Ki Dalang Mantingan berjuang dengan gigihnya.
Kemudian Jaka Soka sendiri meloncat selangkah ke belakang dan dalam sekejap tongkatnya telah terurai. Di tangan kanan, digenggamnya sebuah pedang yang lentur, sedang di tangan kirinya adalah warangkanya, berupa sebuah tongkat yang berwarna hitam. Rara Wilis tidak menunggu lebih lama lagi. Ia meloncat ke depan dengan tangan terjulur lurus. Pedangnya mengarah kedada lawannya.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya