Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF
Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja
Seri 118
SATU-DUA orang mencoba menolong kawan-kawan mereka yang luka dan memapahnya. Tetapi kebanyakan dari mereka sama sekali tidak ambil pusing kepada mereka yang terpaksa berjalan sambil merintih-rintih, bahkan hampir merangkak-rangkak sekalipun. Apalagi mereka yang terluka dan parah terbaring di bekas daerah pertempuran itupun sama sekali tidak mendapat perhatian. Telah menjadi kebiasaan mereka, laskar golongan hitam, untuk menjaga diri masing-masing. Bahkan untuk kepentingan rahasia mereka, sama sekali mereka tidak segan membunuh kawan sendiri. Berbeda dengan laskar Pamingit dan Banyubiru. Segera mereka berkumpul dalam kelompok masing-masing.
Pemimpin-pemimpin kelompok yang tetap hidup segera menghitung laskar mereka, sedang yang terpaksa gugur atau terluka, segera ditunjuk gantinya. Mereka segera membentuk kelompok-kelompok yang mendapat tugas khusus, merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan gugur dimedan perjuangan menegakkan hak atas tanah mereka. Bahkan tugas mereka melimpah pula kepada kawan-kawan mereka yang parah. Merekapun berhak mendapat pertolongan dan pengobatan atas luka-luka mereka.
Demikianlah medan pertempuran itu segera menjadi sepi. Beberapa orang dengan obor di tangan menjalankan tugas mereka. Sedang orang-orang lain, dalam satu barisan yang tertib kembali ke perkemahan di Pangrantunan. Mereka harus mempergunakan waktu istirahat mereka sebaik-baiknya.
Besok mereka masih harus bertempur lagi. Mungkin mereka akan mendesak maju. Mereka merasa bahwa keseimbangan pertempuran telah berubah. Bahkan mungkin besok mereka telah dapat memasuki Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten, demikian pertempuran selesai, segera pergi bergegas-gegas menemui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.
Ketika mereka telah berdiri di hadapan kedua orang itu, tiba-tiba tanpa sengaja mereka mengangguk hormat. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi kaku karenanya. Merekapun segera menghormat tokoh-tokoh sakti yang sebaya dengan Ki Ageng Pengging Sepuh itu.
Namun segera terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Sungguh luar biasa. Angger Mahesa Jenar dan Angger Putut Karang Jati. Kami orang-orang tua ini, agaknya telah kehilangan daya pengamatan atas cahaya teja yang memancar dari tubuh Angger berdua. Sebagaimana terbukti, bahwa Angger telah melakukan sesuatu yang tak dapat kami duga sebelumnya karena rasa sombong di hati kami. Seolah-olah tak ada orang lain yang dapat menyamai kesaktian-kesaktian kami. Ternyata bahwa Angger berdua memiliki kesaktian jauh di atas kesaktian kami orang-orang tua yang tak tahu diri.”
Mahesa Jenar menjadi semakin kaku. Ia tidak pernah melihat sikap yang sedemikian merendahkan diri dari tokoh-tokoh tua itu. Karena itu ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Yang kemudian terdengar adalah jawab Kebo Kanigara, ”Ada kekuasaan di atas, kekuasaan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya pula. Kami tidak lebih hanyalah lantaran-lantaran yang ditunjuknya.”
Tokoh-tokoh sakti yang mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu langsung tersentuh hatinya. Sebagai orang-orang yang taat beribadah, mereka langsung dapat merasakan betapa Tuhan mengulurkan Tangan-Nya untuk menolong umatnya.
Sementara itu, mereka yang mendapat tugas di bekas medan pertempuran itu menjalankan pekerjaan mereka dengan tertib. Mereka berusaha meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka. Ki Ageng Sora Dipayana dan kawan-kawannyapun mendahului kembali ke perkemahan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang perjalanan itu. Namun di dalam dada tokoh-tokoh sakti itu masih tetap tersimpan berbagai pertanyaan mengenai Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Pagi tadi mereka masih menyangka bahwa kedua orang itu masih harus bertempur dalam perlindungan mereka dan laskar-laskar mereka. Tetapi tiba-tiba suatu kenyataan, kedua orang itu memiliki kesaktian melampaui kesaktian mereka sendiri.
Sampai perkemahan, segera Ki Ageng Sora Dipayana mengatur penjagaan dan pengawasan atas daerah perkemahan mereka dan pengawasan atas daerah lawan. Beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amati perkemahan dan setiap gerak-gerik dari laskar golongan hitam. Apapun yang mereka lakukan, para pengawas itu harus memberikan laporan setiap saat dengan tertib. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar pergi membersihkan diri, sambil mengambil air wudlu, dari celah-celah pintu rumah tempat peristirahatannya mereka melihat Lembu Sora sedang sembahyang.
Mahesa Jenar berhenti pula ketika tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berhenti. Orang tua itu melihat anaknya bersembahyang, seperti orang yang sedang mengagumi sesuatu. Mahesa Jenar menjadi heran. Bukankah sembahyang itu harus dilakukan setiap hari, bahkan lima kali dalam keadaan wajar? Bahkan orang tua itu kemudian bergumam, ”Tuhan telah menerangi hatinya.”
Mahesa Jenar menjadi semakin heran, maka bertanyalah ia, ”Bukankah sudah seharusnya dilakukan, Ki Ageng?”
Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, ”Aku hampir saja putus asa. Lembu Sora lebih senang mengadu ayam dan berjudi daripada mendekatkan diri kepada Tuhan. Beberapa tahun terakhir, ia seolah-olah sudah lupa sama sekali akan kewajiban itu. Syukurlah, kini ia telah menemukan jalannya. Tetapi...” kata-kata orang tua itu terputus oleh tarikan nafasnya. ”Tetapi...”
Tidak dengan sengaja Mahesa Jenar mengulangi kata itu.
KI AGENG Sora Dipayana memandangi wajah Mahesa Jenar dengan mata yang suram. Terasa ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana melangkah kembali untuk membersihkan dirinya. Mahesa Jenar pun tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengikuti saja langkah orang tua itu sambil berdiam diri.
Ketika mereka bertemu dengan Arya Salaka, Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, ”Dari mana kau Arya?”
Arya berhenti, kemudian ia menjawab, ”Sesuci Eyang.” Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, ”Bagus. Di mana adikmu Sawung Sariti?” Arya Salaka menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, ”Aku tidak melihatnya, Eyang. Barangkali ia bersama-sama Paman Lembu Sora.”
”Kalau kau bertemu dengan anak itu nanti, berilah ia beberapa petunjuk. Ajaklah ia kembali kepada Yang Maha Kuasa,” pinta orang tua itu.
”Baiklah Eyang,” jawab Arya. Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana dan Mahesa Jenar pergi pula ke pancuran dari sumber air di bawah pohon beringin tua.
”Angger Mahesa Jenar agaknya beruntung dapat membawa Arya Salaka ke jalan yang gemilang, lahir dan batin. Tanpa keseimbangan itu, maka yang terjadi adalah kekecewaan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itulah segera Mahesa Jenar mengerti, bahwa Ki Ageng Sora Dipayana sedang mencemaskan nasib cucunya, Sawung Sariti. Malam itu, ketika semuanya telah selesai, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka dengan nikmatnya menyuapi mulut masing-masing dengan nasi hangat dan serundeng kelapa seperti pagi tadi.
Namun meskipun demikian, karena letih dan lapar, maka terasa seolah-olah hidangan yang dimakannya itu adalah hidangan yang seenak-enaknya. Mereka duduk-duduk di antara laskar mereka, di sekeliling perapian untuk menghangatkan diri. Beberapa kali terdengar suara Bantaran, Penjawi, Jaladri dan beberapa orang lain tertawa ketika ia mendengar Sendang Papat berceritera.
Anak itu memang pandai berkelekar. Namun lambat laun suara tertawa merekapun semakin jarang dan lambat. Kemudian mereka tidak dapat menahan kantuk mereka. Diatas anyaman daun kelapa mereka merebahkan diri. Tidur sambil memeluk senjata masing-masing. Arya Salaka kemudian tertidur pula. Begitu nyenyaknya dibuai oleh mimpi yang segar. Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara akan merebahkan dirinya pula, mereka dikejutkan oleh langkah seseorang mendekati mereka.
Ketika mereka menoleh dilihatnya Lembu Sora datang kepada mereka. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bangkit, sambil mempersilahkan, ”Marilah Ki Ageng.”
Lembu Sora mengangguk hormat dengan tulusnya. Berbeda dengan saat-saat yang lampau. Kemudian merekapun duduk pula didekat perapian yang masih menyala-nyala itu. ”Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati...” Ki Ageng Lembu Sora mulai, ”Aku memerlukan datang kepada kalian berdua untuk memohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan, lebih-lebih kepada Adi Mahesa Jenar dan apabila aku masih sempat untuk bertemu karena kepalaku tidak terpenggal pedang Jaka Soka besok pagi, aku akan bersujud pula di bawah kaki Kakang Gajah Sora. Betapa besar dosa yang telah aku lakukan. Atas ayah Sora Dipayana, Kakang Gajah Sora dan lebih-lebih lagi atas Pamingit dan Banyubiru.”
Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar pengakuan itu, dan terasa betapa ikhlasnya Lembu Sora memandang kepada diri sendiri. Udara malam terasa dingin, namun kehangatan yang dilemparkan oleh perapian di samping mereka terasa betapa nyamannya. Sebelum Mahesa Jenar menjawab, Lembu Sora meneruskan, ”Dalam keadaan-keadaan yang sulit seperti apa yang aku alami sekarang, baru dapat aku lihat, betapa noda-noda telah melekat pada masa lampau itu. Mudah-mudahan aku belum terlambat.”
Lembu Sora diam sesaat menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. ”Tetapi Kakang, apabila besok aku terbunuh dalam mempertahankan tanah ini, biarlah Kakang menyampaikan rasa penyesalanku kepada Kakang Gajah Sora kelak.”
”Tak ada kelambatan untuk menyatakan kesalahan diri,” sahut Mahesa Jenar. ”Meskipun aku belum lama berkenalan, namun aku tahu bahwa dada Kakang Gajah Sora adalah seluas samodra. Karena itu, kalau Ki Ageng menyatakan penyesalan diri dengan ikhlas, maka Kakang Gajah Sora pun pasti akan memaafkannya.”
”Ya...” Lembu Sora menjawab, ”Aku tahu itu. Aku sadar betapa Kakang Gajah Sora memanjakan aku sejak masa kanak-kanak kami. Tetapi apa yang aku lakukan telah melampaui batas. Aku telah sampai pada usaha untuk membunuhnya atau meniadakannya. Bahkan membunuh anaknya yang tak mengetahui sama sekali persoalan di antara kami. Syukurlah bahwa Tuhan membebaskan aku dari pembunuhan-pembunuhan itu.”
”Hal itu tidak akan mengurangi kelapangan dada Kakang Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar seperti kepada anak-anak yang betapa miskin jiwanya dalam menanggapi hidup dan kehidupan.”
”Tetapi kalau aku tidak sempat karena aku terbunuh...?” Lembu Sora bertanya benar-benar seperti orang yang sedemikian bodohnya.
”Tidak,” jawab Mahesa Jenar, ”Meskipun hidup dan mati berada di tangan Tuhan, namun berdoalah agar Tuhan menyelamatkan Ki Ageng Lembu Sora. Saat ini Kakang berada di pihak yang benar. Karena itulah maka kami dan Arya Salaka bersedia berdiri di pihak Ki Ageng. Dan karena itu pula Tuhan akan melimpahkan rahmat-Nya.”
LEMBU SORA terdiam. Matanya yang muram, merenungi api yang sedang menjilat- jilat ke udara dengan lincahnya. Tetapi di dalam nyala yang seolah-olah menari- nari itu dilihatnya betapa kelam masa-masa lampau yang pernah dijalaninya. Ketamakan, kebencian, pemanjaan nafsu lahiriah, dan segala macam sifat-sifat yang tercela. Dilihatnya betapa dirinya duduk di atas singgasana Demak, dengan Kyai Nagasasra di tangan kanan dan Kyai Sabuk Inten di tangan kiri. Sedang kakinya beralaskan bangkai Ki Ageng Gajah Sora dan Arya Salaka, dan sekitarnya berserak-serakanlah bangkai-bangkai orang Banyubiru. Pandan Kuning, Sawungrana dan lain-lain.
Tiba-tiba ia menjadi ngeri pada gambaran cita-citanya waktu itu. Dengan tanpa disengaja maka kedua tangannya diangkatnya menutupi wajahnya. Akhirnya wajah itu tertunduk lesu.
Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengetahui betapa rasa penyesalan bergolak di dalam dada Ki Ageng Lembu Sora. Betapa ia mengutuki dirinya sendiri yang telah tersesat terlalu jauh. Untunglah bahwa akhirnya ditemukannya jalan kembali.
Untuk sesaat suasana dicekam oleh kesepian. Malam menjadi semakin dalam dan sepi. Namun terasa di sana sini para pengawas dan para penjaga bekerja dengan tekunnya. Di tangan mereka terletak tanggungjawab atas keselamatan perkemahan Pangrantunan. Sebab tidaklah mustahil laskar golongan hitam itu menyerang mereka pada malam hari ketika mereka sedang nyenyak tertidur.
Tiba-tiba Arya Salaka menggeliat. Ketika ia membuka matanya, ia melihat pamannya Lembu Sora duduk bersama-sama dengan gurunya dan Kebo Kanigara. Karena itu iapun segera bangkit dan duduk pula. Lembu Sora melihat Arya bangun dekat di sampingnya. Tiba-tiba terasa betapa hatinya bergelora. Dan tiba-tiba pula dengan serta merta diraihnya kepala anak muda itu seperti masa anak-anak dahulu.
”Arya...” desisnya, ”Maafkan pamanmu.” Arya pun merasa betapa hatinya bergetar mendengar kata-kata pamannya. Karena itulah maka mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Namun hatinya berkata, ”Aku akan berusaha melupakannya, Paman.” Kemudian ketika kepala itu dilepaskan, mata Arya menjadi panas. Seolah-olah ada yang berdesakan hendak meloncat keluar. Karena itulah maka ditengadahkan kepalanya ke langit. Sedang Ki Ageng Lembu Sora pun menarik nafas dalam-dalam.
Kembali suasana terlempar ke dalam heningnya malam. Dan kembali Lembu Sora berangan-angan. Kini yang bergolak di dalam hatinya adalah anaknya, Sawung Sariti. Ia menyesal telah membawa anak itu lewat jalan yang penuh dengan noda dan dosa. Apalagi ketika ia sadar bahwa sampai saat ini anak itu masih tetap dalam pendiriannya. Karena itu kemudian ia berkata, ”Arya, di manakah adikmu?”
Arya memalingkan kepalanya. Ia mendengar pertanyaan yang serupa dari eyangnya tadi. Maka iapun menjawab, ”Aku tidak tahu, Paman. Tadi eyangpun menanyakan Adi Sawung Sariti. Aku kira Adi bersama-sama dengan Paman.”
Kembali penyesalan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Pasti anak itu pergi dengan Galunggung. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai harga diri dan kesopanan dalam tata pergaulan manusia. Tetapi kembali Lembu Sora menimpakan kesalahan pada diri sendiri. ”Mudah-mudahan ia terbentur pada kenyataan ini seperti aku sendiri,” gumam Lembu Sora, lebih-lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
Kemudian kepada Arya Salaka ia berkata, ”Arya, adikmu telah terlampau jauh tersesat seperti aku. Namun aku masih dapat melihat kenyataan ini. Mudah-mudahan Sawung Sariti pun demikian. Dapatkah kau membantu aku membawanya kembali ke jalan yang benar?”
”Mudah-mudahan, Paman,” jawab Arya, meskipun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa adik sepupunya itu sedemikian membencinya, jauh lebih dalam daripada pamannya itu sendiri. Namun demikian ia berjanji untuk berusaha. Dalam pada itu, tiba-tiba datanglah Wulungan. Dengan heran ia melihat Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka masih enak-enak duduk di situ. Apakah ia belum mendengar laporan yang disampaikan oleh beberapa orang pengawas? Tetapi karena persoalannya sedemikian penting, maka Wulunganpun tidak segan- segan menanyakannya.
Maka iapun kemudian duduk pula di samping perapian itu sambil bertanya kepada Mahesa Jenar, ”Tuan, apakah Tuan telah mendengar laporan para pengawas?”
Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. ”Belum Wulungan,” jawabnya. ”Laporan tentang apa?” ”Ataukah laporan ini disampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana? Namun meskipun demikian, Ki Ageng Sora Dipayana pasti segera memberitahukan kepada Tuan dan Angger Arya Salaka,” sambung Wulungan.
”Penting sekalikah laporan itu?” tanya Arya.
”Ya, sangat penting bagi Angger,” jawab Wulungan. ”Kalau demikian...” ia melanjutkan, ”Biarlah aku panggil orang itu.”
Wulungan segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa. Yang ditinggalkan di tepi perapian itupun bertanya-tanya di dalam hati. Sesaat kemudian Wulungan kembali bersama seorang pengawas dari Pamingit.
Diajaknya orang itu duduk pula, dan berkatalah ia, ”Inilah orang yang menyampaikan laporan itu, Tuan.”
Lembu Sora memandangi orang itu dengan seksama. Kemudian berkatalah ia, ”Katakanlah apa yang kau lihat?”
Orang itupun mengingsar duduknya. Kepada Ki Ageng Lembu Sora ia berkata, ”Aku adalah salah seorang yang mendapat tugas untuk mengawasi perkemahan laskar golongan hitam. Aku telah melaporkan segala sesuatu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”
Wulungan tiba-tiba mengangkat dadanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Laporan itu tidak diteruskan kepada Arya Salaka, Mahesa Jenar atau Ki Ageng Sora Dipayana.
LEMBU SORA mengerutkan keningnya. Seperti Wulungan, ia dapat menduga kelicikan anaknya. Namun sekali lagi dadanya dihantam oleh kegelisahan, penyesalan yang tiada taranya. Seolah-olah terdengar suara berdesing ditelinganya. ”Kau jangan salah, Lembu Sora. Anak itu memang kau didik demikian.”
”Di mana Sawung Sariti dan Galunggung itu?” tanya Lembu Sora menggeram. ”Aku temui mereka di pojok teras. Mereka baru saja keluar dari rumah Kakang Badra Klenteng Pangrantunan,” sahut orang itu.
”Apa kerjanya di sana?” Tiba-tiba mata Lembu Sora terbelalak. Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Karena orang itu tidak menjawab, Lembu Sora mendesaknya, ”He, apa kerjanya di sana?”
Wulungan memalingkan wajahnya ke arah api yang memercik dengan riangnya. Kebenciannya kepada anak kepala daerah perdikannya itu tiba-tiba semakin menyala seperti nyala api yang dipandangnya itu. Badra Klenteng adalah orang yang sekotor-kotornya di Pangrantunan.
Di rumahnya ada dua tiga orang gadis. Bukan gadis, tetapi yang disebutnya gadis penari. Penari tayub yang terkenal. Bukan terkenal karena keindahannya menari, tetapi terkenal karena keberaniannya menari. Menari dalam tataran yang melanggar tata kesopanan dan kepribadian.
Kepala pengawas itupun menjadi semakin tunduk. Ia tahu apa yang harus dikatakan. Tetapi mulutnya terkunci. Sehingga dengan demikian ia tetap berdiam diri. Akhirnya terdengar Lembu Sora menggeram, ”Bagus, jangan kau katakan kepadaku sekarang apa yang dikerjakan oleh anak itu. Terkutuklah mereka. Aku tidak tahu kemana mukaku aku sembunyikan kalau Adi Mahesa Jenar, Kakang Putut Karang Jati dan Arya Salaka tahu apa yang dikerjakan di sana. Tetapi apakah laporan itu?”
”Belumkah Angger Sawung Sariti menyampaikannya?” tanya pengawas itu. Lembu Sora menggelengkan kepalanya.
”Belum.” ”Agak terlambat,” katanya. ”Aku telah melihat beberapa waktu yang lalu.”
”Ya, apakah itu?” desak Arya Salaka tidak sabar. ”Aku lihat serombongan kecil orang-orang berkuda meninggalkan perkemahan mereka. Mereka menuju ke utara,” jawabnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersentak. Mereka mendesak maju sambil bertanya, ”Siapakah mereka?”
”Tidak jelas. Tetapi mereka menuju ke jalan ke Banyubiru,” jawabnya.
”He...!” Arya hampir berteriak. ”Kau tahu benar?” ”Aku mengikuti beberapa langkah,” jawabnya. ”Karena itu aku yakin mereka pergi ke Banyubiru. Di simpang tiga Banjar Gede, mereka membelok ke timur.”
”Pasti ke Banyubiru,” desis Arya.
”Akupun pasti,” sahut pengawas itu, ”Tetapi aku tidak dapat mengikutinya terus. Ketika salah seekor kuda mereka berhenti, akupun berhenti pula. Agaknya salah seorang telah melihat aku. Sehingga ketika kudanya berputar, akupun memacu kudaku pula meninggalkan mereka. Untunglah kudaku agak lebih baik sehingga aku tak ditangkapnya. Sehingga akhirnya aku sampai pada gardu penjagaan. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan oleh pengejarku itu. Namun aku kemudian langsung melaporkan peristiwa itu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”
”Gila,” desah Lembu Sora. ”Sawung Sariti dan Galunggung tidak menyampaikan itu kepadaku, kepada ayah Sora Dipayana atau kepada Kakang Mahesa Jenar.”
”Wulungan...” tiba-tiba Lembu Sora berteriak, ”panggil mereka!”
Wulungan yang menjadi marah pula di dalam hati, segera bangkit. ”Baik Ki Ageng,” jawabnya. Dan iapun kemudian hilang di dalam gelap.
”Siapakah mereka itu?” tanya Arya Salaka.
”Aku tidak tahu,” jawab orang itu. ”Tetapi aku kira salah seorang di antaranya adalah orang yang berjubah abu-abu.”
”Pasingsingan...?” desis mereka bersamaan Tiba-tiba meloncatlah Arya Salaka dari tempat duduknya. Tanpa berkata apapun juga ia berlari kencang-kencang.
”Arya...” panggil Mahesa Jenar, ”Apa yang akan kau lakukan?”
”Kuda!” Hanya kata-kata itulah yang meloncat dari bibirnya. Mahesa Jenar yang tahu betapa watak muridnya itupun kemudian berdiri pula sambil berkata kepada Ki Ageng Lembu Sora, ”Adi, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, kami mendahului perintah supaya tidak terlalu lambat.”
Kebo Kanigara kemudian berdiri pula. Ia tidak sampai hati melepaskan Arya Salaka berdua dengan Mahesa Jenar saja. Kalau di dalam rombongan Pasingsingan itu ada Bugel Kaliki dan Sura Sarunggi, maka celakalah Arya Salaka.
Mahesa Jenar sendiri mungkin dapat mempertahankan dirinya beberapa lama meskipun ia harus berhadapan dengan dua tokoh hitam itu sekaligus, namun bagaimana dengan Arya? Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar, aku pergi bersamamu.”
”Baiklah Kakang,” jawab Mahesa Jenar singkat. Iapun sadar akan bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan muridnya. Justru pada taraf terakhir dari perjuangannya.
BANTARAN, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat telah terbangun pula. Dengan gelisah ia bertanya, ”Ada apa Tuan-tuan?”
”Aku akan pergi sebentar, Bantaran. Jagalah laskar baik-baik. Tempatkan dirimu langsung di bawah perintah Ki Ageng Sora Dipayana apabila besok pagi-pagi aku belum kembali,” kata Mahesa Jenar dengan tergesa-gesa. Ia tidak sempat memberi banyak penjelasan. ”Aku titipkan laskar Banyubiru kepadamu Ki Ageng,” katanya kepada Lembu Sora.
”Baik Adi,” jawab Lembu Sora. ”Tetapi tidakkah Adi perlu membawa pasukan?”
”Tidak,” sahut Mahesa Jenar, ”Di Banyubiru masih ada separo laskar Arya Salaka.” Lembu Sora mengangguk sambil berdiri. Ia tidak sempat berkata-kata lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dengan tergesa-gesa berjalan mengikuti jalan yang dilewati Arya tadi. Mereka tahu benar ke mana muridnya itu pergi. Arya pasti pergi ke tempat kuda-kuda dipersiapkan. Mereka masih dapat melihat Arya melarikan kudanya seperti angin. Dengan demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat ke punggung kuda-kuda yang mereka anggap cukup baik. Para penjaga kuda itu memandang mereka dengan heran.
Yang mereka dengar hanyalah kata-kata Arya tadi, ”Aku ambil seekor.” Lalu anak itu pergi dengan cepatnya. Sekarang mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun mengambil masing-masing kuda dengan tergesa-gesa. ”Apa yang terjadi Tuan?” tanya seorang penjaga. ”Tidak apa-apa,” jawab Mahesa Jenar, ”Kami sedang berlatih berpacu kuda.”
Penjaga itu tersenyum. Tetapi ia tidak percaya. Meskipun demikian ia tidak bertanya-tanya lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera memacu kudanya. Suara derap kakinya berdetak-detak memecah kesepian malam. Beberapa orang yang mendengar suara derap kaki kuda itupun terkejut.
Namun mereka tidak sempat bertanya, apakah dan kemanakah mereka pergi. Meskipun demikian, mereka terpaksa meraba-raba senjata-senjata mereka, kalau-kalau ada hal-hal yang penting akan terjadi di perkemahan itu.
Sementara itu dengan geram Lembu Sora berjalan ke tempat peristirahatan ayahnya. Ia benar-benar marah kepada Sawung Sariti dan Galunggung. Karena perbuatan mereka itu, telah membuka kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Sedangkan Bantaran, Jaladri, Penjawi dan Sendang Papat beserta beberapa orang Banyubiru yang lain bertanya-tanya dalam hati pula.
Mereka mendengar dari Ki Ageng Lembu Sora apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak diperkenankan meninggalkan laskar mereka. Karena itu merekapun menjadi gelisah. Apakah yang akan terjadi di Banyubiru. Namun mereka menjadi agak tenang ketika mereka sadar bahwa di Banyubiru masih ada Wanamerta, Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan separo dari laskar Banyubiru. Mudah-mudahan mereka dapat mengatasi kesulitan yang akan timbul.
Ketika Ki Ageng Lembu Sora sampai ke tempat Ki Ageng Sora Dipayana dilihatnya Sawung Sariti dan Galunggung telah berada di sana. Dengan wajah yang merah, ia masuk ke ruangan itu sambil menggeram, ”Apa kerjamu Sawung Sariti?”
Sawung Sariti menoleh kepada ayahnya. Ia terkejut. Belum pernah ia melihat mata ayahnya memancarkan sinar yang demikian kepadanya. ”Mungkin ayah sedang marah kepada seseorang,” pikirnya.
Tetapi ternyata Lembu Sora itu memandangnya terus seperti hendak menelannya hidup-hidup.
”Duduklah Lembu Sora,” ayahnya mempersilahkan. ”Sawung Sariti sedang menyampaikan kabar yang aku kira penting.”
Lembu Sora duduk di samping ayahnya, namun pandangan matanya masih saja melekat kepada anaknya.
”Terlambat,” geram Lembu Sora. ”Apa yang terlambat Lembu Sora?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kabar itu,” jawab Lembu Sora. ”Mungkin sesuatu telah terjadi sekarang di Banyubiru. Pembunuhan dan pembalasan dendam.”
”Sabarlah,” potong ayahnya, Apakah yang sebenarnya terjadi?”
”Apa yang disampaikan oleh Sawung Sariti?” Lembu Sora ganti bertanya. ”Tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam telah meninggalkan perkemahan mereka,” jawab ayahnya.
”Ke mana?” desak Lembu Sora.
”Ke mana...?” ulang Ki Ageng Sora Dipayana. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bingung.
Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah mengetahui apa yang terjadi. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka terkejut ketika Lembu Sora membentaknya sambil berdiri, ”Kemana? Tidakkah kau sampaikan laporan itu selengkapnya setelah kau ulur waktu hampir seperempat malam supaya segala sesuatu menjadi semakin jelek?”
Sawung Sariti menjadi bertambah bingung. Adakah ayahnya bersungguh-sungguh, ataukah ayahnya hanya ingin menghilangkan kesan bahwa ayahnya akan berterima kasih kepadanya. Tetapi tiba-tiba ayahnya bersikap lain.
Namun Sawung Sariti adalah anak yang cerdik. Ia tidak kehilangan akal. Karena itu ia menjawab, ”Aku belum selesai ayah. Aku baru menyampaikan sebagian.” ”Berapa lama kau perlukan waktu untuk menyampaikan laporan yang dapat kau ucapkan dengan beberapa kalimat saja?” bentak ayahnya.
”Sudahlah Lembu Sora.” Ki Ageng Sora menengahi, ”Biarlah anakmu meneruskan laporannya. Memang ia belum lama datang kepadaku.”
Tetapi kemarahan Lembu Sora telah memenuhi dadanya. Kemarahan yang bercampur-baur dengan penyesalan dan perasaan yang menekan hatinya. Karena itu ia berkata lagi, ”Jadi kau belum lama menghadap eyangmu?”
Sawung Sariti tidak tahu maksud ayahnya, karena itu ia menjawab, ”Ya ayah.”
”Ke mana kau selama ini?” desak Lembu Sora.
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya