Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 112

DALAM kediaman itu terdengar Mahesa Jenar bertanya, ”Penjawi atau Jaladri, tahukah engkau bagaimana bentuk tubuh orang yang tak kau kenal itu?”

Penjawi menggeleng, tetapi Jaladri menjawab, ”Sungguh tak tersangka bahwa orang itu mempunyai kesaktian yang mengaggumkan. Tubuhnya tidak lebih gagah dari seorang perempuan. Suaranyapun kecil, nyaring seperti suara perempuan.”

”Titis Anganten...” potong Mahesa Jenar cepat-cepat.

”Orang sakti dari Banyuwangi.”

”Titis Anganten...?” ulang Kebo Kanigara dan Arya Salaka hampir berbareng. ”Ya,” jawab Mahesa Jenar.

”Aku pernah ditolongnya pula dari terkaman Sima Rodra tua.”

”Aku pernah mendengar namanya,” gumam Kebo Kanigara, ”Ayah pernah menyebut-nyebutnya.”

”Ia datang tepat pada waktunya,” sahut Mahesa Jenar.

Lalu suasana menjadi sepi kembali. Masing-masing hanyut dalam angan-angan mereka sendiri. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka, ”Nah, kalian telah mendengar apa yang telah terjadi di Pamingit.”

Tak seorangpun yang menyahut. Mereka masih tetap dalam kediaman yang beku. Ketika tak seorangpun yang bersuara, bertanyalah Mahesa Jenar, ”Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya tidak segera menjawab. Ia memandang berkeliling, seolah-olah ia minta pertimbangan dari mereka. Meskipun demikian, otaknya yang cerdas segera menangkap maksud pertanyaan gurunya. Di dalam dadanya selalu berdentang pesan eyangnya kepada Jaladri: Aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit, dan seterusnya. Entahlah, apakah aku masih dapat bertemu dengan cucuku itu.-

Maka kemudian iapun berkata lantang, ”Nah, apa kata kalian? Bukankah dalam keadaan yang sulit itu, kita dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya? Hari ini kita akan dapat menghancurkan laskar Pamingit itu. Dengan demikian Banyubiru akan menjadi milik kita. Bahkan Pamingit pun kemudian akan kita duduki setelah kita berhasil menumpas laskar dari golongan hitam.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba terkejut mendengar kata-kata Arya Salaka. Meskipun mereka datang ke perbatasan untuk maksud itu, namun tiba-tiba terasa sesuatu keganjilan di dalam dada mereka.

”Kenapa kalian diam?” tanya Arya Salaka. ”Kesempatan ini tak akan berulang.”

Para pemimpin Banyubiru itu masih diam. Mereka tidak tahu perasaan apa yang bergolak di dalam dada mereka sendiri. Hanya Mahesa Jenar yang kemudian menjadi gelisah. Namun ia masih berdiam diri pula. Ia sedang meraba-raba maksud pertanyaan muridnya itu, dengan suatu kepercayaan yang penuh, bahwa muridnya adalah seorang yang berhati jantan, namun berotak cemerlang. Karena itu ia masih menanti maksud Arya Salaka.

Memang Arya Salaka benar-benar seorang pemuda yang cakap. Ia dapat melihat keadaan dengan cermat. Dalam saat yang pendek, ia dapat merasa bahwa hatinya bergolak ketika ia mendengar ceritera Panjawi dan Jaladri.

Demikian pula agaknya perasaan yang bergetar di dalam dada setiap pemimpin laskar Banyubiru itu. Bagaimanapun mereka membenci dan bahkan mereka telah berjanji untuk berjuang mati-matian mengusir orang-orang Pamingit dari Banyubiru, serta kalau perlu mereka akan saling membunuh untuk mempertahankan kesetiaan mereka, namun demikian, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang Pamingit mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam, timbullah perasaan yang lain di dalam diri mereka.

Sebab apapun yang terjadi di antara mereka, permusuhan yang bagaimanapun tajamnya, namun orang Banyubiru dan Pamingit adalah orang-orang dari cabang aliran darah yang sama. Mereka semula adalah orang-orang dari daerah perdikan Pangrantunan. Ayah-ayah mereka, kakek-kakek mereka telah bersama-sama bekerja untuk tanah ini. Banyubiru dan Pamingit.

Bagi orang Banyubiru, orang-orang Pamingit adalah orang-orang yang masih bersangkut paut dengan darah keturunan mereka. Di Pamingit tinggallah kemenakan-kemenakan mereka, atau sepupu mereka atau paman mereka. Demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian, apakah mereka akan merelakan darah mereka yang mengalir didalam tubuh saudara-saudara mereka itu memercik dari luka-luka mereka, karena pokal orang-orang golongan hitam? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, maka mereka masih tetap berdiam diri.

Agaknya Arya Salaka telah mengamati keadaan dengan tepatnya. Sekali lagi ia memandang gurunya. Demikian Mahesa Jenar memandang langsung mata muridnya, tahulah ia apa yang tersirat di hatinya. Karena itu iapun menjadi terharu.

Tetapi ia tidak berkata apapun, selain beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang terdengar kemudian adalah suara Arya Salaka. ”Paman-paman sekalian, pemimpin laskar Banyubiru yang setia. Agaknya aku tahu apa yang tersimpan di dalam dada kalian. Ketika aku ajukan beberapa pertanyaan kepada kalian, tetap berdiam diri, sebab kalian tidak menyakini apa yang bergolak didalam dada kalian. Karena itu, cobalah, biar aku menebaknya. Bukankah kalian merasa bahwa kalian tidak rela mendengar ceritera bahwa saudara-saudara kalian terpaksa mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam? Bukankah kalian tidak rela bahwa orang-orang hitam itu akan menguasai Pamingit? Gumpalan dari tanah perdikan Pangrantunan yang perkasa? Tanah Perdikan yang dengan susah payah dibangun oleh Eyang Sora Dipayana beserta kakek-kakek serta ayah-bunda kalian?”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu masih agak bingung. Mereka belum tahu benar arah pembicaraan Arya Salaka.

AKHIRNYA Arya Salaka berkata dengan terangnya, seperti terangnya matahari di siang yang panas itu. ”Nah, paman-paman sekalian. Yakinlah bahwa aku sependapat dengan kalian. Dengan pertanyaan-pertanyaanku yang pertama, sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan keyakinan akan hati nurani kalian. Apakah kalian masih marah dan mendendam kepada saudara-saudara kita dari Pamingit itu. Tetapi ternyata kalian telah menempuh pergolakan perasaan, yang membendung perasaan dendam itu. Memang kita seharusnya tidak mendendamnya, meskipun seandainya saudara-saudara kita dari Pamingit itu masih tetap berada di pendapa ini. Kita datang untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk melepaskan dendam kita.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba menegakkan kepala mereka. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. ”Kalau demikian...” Arya meneruskan, ”Paman-paman yang perkasa, tinggalkan pendapa ini segera. Kembalilah ke dalam pasukan kalian, dan siapkanlah mereka. Kita bawa separo dari seluruh laskar Banyubiru ke Pamingit. Kita tempatkan diri di bawah pimpinan Eyang Sora Dipayana untuk menumpas golongan hitam itu. Apakah kalian sependapat?”

”Pasti...!” teriak mereka serentak. ”Kami sependapat. Dan kami segera akan melaksanakannya.”

”Bagus,” potong Arya Salaka. ”Kita akan berangkat segera setelah separo dari laskar kita berkumpul di alun-alun.”

Arya tidak perlu mengulangi perintahnya kembali. Para pemimpin itu segera berdiri, dan berloncatan ke halaman. Segera mereka berada di atas punggung kuda masing-masing, untuk kemudian melesat seperti angin. Mereka ternyata masih menyala rasa kesetiakawanan yang mendalam. Mereka ternyata lebih mendendam kepada golongan hitam, daripada kepada orang-orang Pamingit. Dan sekarang perasaan itu diungkatnya kembali. Sepeninggal mereka, di pendapa itu masih duduk selain Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Endang Widuri, Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Parapat.

Kemudian kepada Mahesa Jenar, Arya Salaka berkata, ”Adakah kita yang berada di pendapa ini akan berangkat semuanya?”

”Jangan Arya,” jawab Mahesa Jenar. ”Kita harus berhati-hati. Bukankah tersebar berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten masih berada di Banyubiru? Kita dapat menduga bahwa kabar itu sengaja disiarkan untuk menimbulkan keributan, namun kita dapat menduga lain. Mungkin mereka benar-benar masih berpendapat bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru. Karena itu biarlah Kiai Wanamerta dan Sendang Parapat yang belum sembuh benar, tinggal di sini, didampingi oleh Kakang Mantingan dan Wirasaba. Selain itu biarlah Wilis tinggal di sini pula.” ”Dan bagaimanakah sebaiknya dengan Endang Widuri?” tanya Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara.

”Aku ikut dengan Paman Mahesa Jenar.” Endang Widuri menyahut sebelum ayahnya menjawab.

”Jangan Widuri,” potong ayahnya, ”Kali ini jangan. Kita menghadapi lawan yang tak terduga kekuatannya.”

”Aku telah dapat menduganya,” jawab Widuri, ”laskar Eyang Sora Dipayana hanya terpaut sedikit dari kekuatan Bugel Kaliki di hari pertama. Di hari kedua, kekuatan itu akan lebih banyak mengalami kegoncangan. Katakan bahwa laskar Pamingit mengalami kekalahan dua kali lipat dari hari pertama. Tetapi kekuatan Eyang Sora Dipayana masih lebih dari tigaperempat dari kekuatan lawan. Nah kalau demikian, mereka malam nanti pasti sudah mundur ke Pangrantunan. Dengan tambahan laskar Kakang Arya Salaka yang segar, kekuatan akan berimbang kembali. Lebih-lebih tokoh-tokohnya akan mampu lagi berbuat seenaknya. Dan apakah gunanya ayah ikut serta kalau ayah tidak mampu mengalahkan orang yang bernama Nagapasa, atau Sima Rodra atau Sura Sarunggi?”

”Jangan sesorah panjang-panjang, Widuri,” potong ayahnya. Sedang orang-orang yang mendengarkan terpaksa tersenyum-senyum. Namun di dalam hati mereka, terasa betapa mereka mengagumi gadis itu. Agaknya ia benar-benar dapat membuat gambaran dari medan di Pamingit dengan perhitungan yang baik. Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara meneruskan, ”Meskipun agaknya kau benar, namun kita harus berhati-hati. Mereka akan berbuat jauh lebih dahsyat daripada yang kau duga, sebab orang-orang dari golongan hitam itu membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bahkan cara-cara yang kadang-kadang melanggar hukum-hukum perikemanusiaan. Meski akan menakut-nakuti kau dengan cara-cara yang tak wajar.” ”Aku tidak takut,” jawab Widuri.

Kebo Kanigara menggelengkan kepalanya, katanya; "hanya prajurit yang baik yang dapat bertempur melawan golongan hitam."

"Aku prajurit yang baik," jawab Widuri.

"Prajurit yang baik akan selalu patuh kepada perintah. Nah dengarlah perintah pemimpin pasukan, Arya Salaka," sahut ayahnya. Endang Widuri mengerutkan keningnya. Beberapa orang terpaksa tertawa mendengarkan perdebatan itu. Dengan wajah cemberut gadis itu memandang Arya Salaka.

Arya Salaka sendiri menjadi bingung. Ia tahu maksud Kebo Kanigara akan tetapi didalam hati kecilnya ingin mengajak gadis itu serta. Entahlah, apa sebabnya. Tetapi diingatnya bahwa bahaya akan datang setiap waktu, maka iapun berpendapat, bahwa sebaiknya Endang Widuri tidak ikut serta. Apalagi Rara Wilispun tidak.

Tetapi sebelum ia sempat menjawab, terdengar Endang Widuri berkata: "baiklah, baiklah. Aku sudah tahu jawaban kakang Arya Salaka, ia pasti akan berpihak kepada ayah."

Arya Salaka tersenyum. Kemudian terdengar Widuri meneruskan: "Biarlah aku tinggal bersama bibi Wilis dan eyang Wanamerta. Bukankah begitu bibi?"

"Tentu, kau menemani aku disini," jawab Wilis. "Dan biarlah paman Mantingan nanti bercerita tentang Bharata Yudha, dan paman Wirasaba akan meniup seruling hingga beringin kurung itu nanti menari-nari bukan begitu paman?," Wilis meneruskan.

"Mudah-mudahan," sahut Wirasaba sambil tertawa. "Tetapi itu tidak penting, sebenarnya paman Mahesa Jenar yang paling berkeberatan aku ikut serta," Widuri meneruskan. "Kenapa aku?" sahut Mahesa Jenar. "Bukankah paman menghendaki aku tinggal, menunggu bibi Wilis, supaya bibi Wilis tidak hilang? Paman Mahesa Jenar takut kalau orang yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan datang menjemput bibi, dan....." Kata-kata Widuri terputus, ia memekik kecil ketika Rara Wilis mencubitnya. "Tobat bibi aduuuuh" Rara Wilis tiba-tiba menundukkan mukanya. Terasa rona merah yang panas menjalar ke pipinya. "Jangan nakal Widuri," ayahnya menasehatinya. "Tidak aku tidak nakal lagi, jangan jangan cubit dagingku akan terkupas. Bibi kalau mencubit sakitnya bukan main." Mau tidak mau Wilis terpaksa tersenyum. Memang WIduri benar-benar nakal. Ia tidak perduli berhadapan dengan siapapun, kalau teringat sesuatu yang menarik hatinya untuk menggoda, iapun berbuatlah. Sementara itu para pemimpin Banyu Biru telah sampai kepasukan masing-masing. Segera mereka mempersiapkan laskar mereka. Separo akan dibawa ke Pamingit. Mula-mula setiap orang didalam laskar Banyu Biru menjadi heran, mengapa tiba-tiba mereka harus membantu Pamingit. Namun setelah mendapat penjelasan dari para pemimpinnya, merekapun sadar akan tugas itu. Tugas yang harus dikedepankan. Menumpas setiap gerombolan yang menghianati kemanusiaan. Menghianati ketentraman hidup rakyat yang tinggal jauh disekitar daerah mereka. Bahkan tujuan jangka jauh yang telah mereka rintis. Mencari pusaka yang dapat membawa mereka kepada jabatan tertinggi di Demak. Yang tinggal di Banyubirupun segera mempersiapkan diri mereka pula. Mereka mengamati senjata-senjata mereka, apakah senjata mereka telah siap untuk melawan musuh yang berbahaya. Beberapa orang yang harus tinggal di Banyubiru menjadi kecewa. Sebenarnya mereka ingin turut didalam laskar yang kan pergi ke Pamingit tetapi merekapun sadar bahwa mereka mempunyai tugas yang penting pula di Banyubiru. Demikianlah ketika matahari telah memanjat lebih tinggi lagi diatas pucuk pohon sawo kecik di halaman Banyubiru itu, mulailah ujung laskar Banyubiru memasuki alun-alun. Kelompok demi kelompok. Dari wajah mereka tampaklah betapa besar hati mereka setelah berkesempatan untuk menginjakkan kaki mereka diatas tanah pusaka. Betapa mereka merasakan kenikmatan yang mengetuk ngetuk dada mereka, meskipun terasa bahwa tanah tercinta ini telah mengalami beberapa kemunduran. Tetapi telah beberapa tahun mereka mengasingkan diri, didalam masa-masa yang prihatin, akhirnya mereka dapat menginjakkan kaki mereka dibumi tercinta ini kembali. Disekitar alun-alun itupun kemudian berduyun duyun rakyat Banyubiru menyaksikan putera putera daerah mereka yang setia, yang selama ini menghilang dari kampung halaman karena tekanan tekanan orang Pamingit. Namun ternyata mereka sekarang datang kembali dengan senjata di tangan. Setelah pasukan itu semuanya memasuki alun-alun, maka berkumpulah setiap pimpinan kelompok laskar itu, dihadapan Arya Salaka. Dengan hati-hati Arya Salaka memberikan beberapa penjelasan kepada mereka apakah sebabnya mereka kini harus menempatkan diri dibawah pimpinan Ki Ageng Sora Dipayana. "Dalam keadaan seperti sekarang ini, ki Ageng Sora memang harus memegang seluruh pimpinan atas Banyubiru dan Pamingit. Tak ada orang lain yang lebih berhak daripadanya. Sedang Ki Ageng Sora Dipayana sekarang sedang berjuang melawan golongan hitam. Namun lawannya terlalu besar. Lawannya memiliki keunggulan yang tak dapat diatasinya. Nah apakah kalian, pewaris tanah perdikan Pangratunan yang kemudian bernama Banyubiru ini akan tinggal diam menyaksikan orang yang cikal bakal tanah ini mengalami bencana ?".

Terdengar jawaban mbata-rubuh. "Kami bela Ki Ageng Dipayana dengan segenap tenaga yang ada pada kita."

"Terimakasih, tentunya separo dari kalian akan kubawa ke Pamingit, separo tetap tinggal disini untuk menjaga kemungkinan yang tak kami harapkan di tanah ini. Kemudian, siang hari kalian kami perkenankan untuk beberapa saat meninggalkan pasukan, barangkali kalian inginmelihat sanak keluarga dan orang yang kalian rindukan. Nanti kalau matahari telah membuat bayanganmu sepanjang badan, kalian harus berkumpul kembali di alun alun ini. Aku mengharap, sedikit lewat tengah malam kalian harus sudah berada di Pangrantunan," kata Arya Salaka.

Ketika penjelasan Arya Salaka itu diberikankepada setiap kelompok oleh para pemimpin kelompok, bersoraklah mereka. Mereka menerima kebijaksanaan Artya dengan sepenuh hati, tidak saja sebagai lajimnya seorang prajurit yang baik. Namun karena ternyata Arya Salaka telah berfikir seperti apa yang mereka pikirkan. Arya tidak menutup mata atas kemungkinan yang ada didalam dada laskarnya. Sebab ia sendiri merasakan, betapa rindunya kepada halamannya, kepada setiap bunga yang berkembang, lebih lagi kepada bundanya. Tetapi sampai saat ini orang yang dirindukannya masih belum diketemukannya. Bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi atas ibunya di Pamingit. Apakah orang-orang dari golongan hitam itu tidak mengganggunya?. Tiba-tiba Arya menjadi tidak sabar lagi, namun ia sadar tidak bisa membawa laskarnya ke jurang ke kebinasaan, hanya karena dirinya merindukan ibunya. Karena itu, ia telah mencoba menekan perasaannya untuk mempertahankan keseimbangannya sebagai seorang pemimpin. Sesaat kemudian bubarlah barisan yang berada di alun-alun itu. Masing masing berjalan dengan tergesa-gesa, bertebaran ke segenap penjuru Banyubiru. Beberapa orang yang tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang lain, karena hampir seluruh keluarganya telah menyertainya ke Gedongsanga, ingin juga berjalan jalan berkeliling kota melihat-lihat perubahan yang timbul selama kota ini ditinggalkan.

Kadang mereka singgah juga ke rumah kenalan mereka. Namun kenalan mereka telah menerima mereka dengan ketakutan. Jangan jangan laskar Banyubiru ini akan mengganggunya seperti cerita yang selama ini selalu didengar tentang mereka, bahwa laskar Banyubiru tidak lebih dari gerombolan penyamun dan perampok yang hanya mampu membuat kacau dan bencana. Namun setelah mereka mengetahui apa yang telah dilakukan laskar Banyubiru itu yang dengan ramah menyapa mereka, mereka memberi salam gairah seperti dahulu. Sadarlah mereka bahwa laskar Banyubiru adalah laskar yang selama ini berjuang untuk kepentingan mereka. Sisa waktu mereka pergunakan untuk beristirahat. Di bawah pohon-pohon yang rindang, di gardu-gardu dan di tempat yang sejuk. Mereka tidak tahu apakah nanti mereka masih mempunyai waktu untuk beristirahat.

DI PERJALANAN, tak banyaklah yang dipersoalkan oleh Arya Salaka dengan gurunya serta Kebo Kanigara. Angan-angannya lebih banyak dicengkam oleh kegelisahan tentang nasib ibunya. Namun demikian ia tetap dalam keseimbangan yang baik. Dua orang telah diperintahkannya untuk berjalan berkuda mendahuluinya. Mereka harus mengetahui, apakah laskar Pamingit yang dipimpin oleh Wulungan dan Ki Ageng Sora Dipayana berada di Pangrantunan atau di Kepandak.

Untuk menghindari salah paham dengan laskar yang langsung dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, Arya Salaka menempuh jalan melingkar agak jauh di sebelah timur Pamingit, langsung menuju ke Pangrantunan. Apabila kemudian laskar itu akan menembus Pamingit, mereka akan datang dari arah tenggara. Ketika malam turun, laskar Arya Salaka telah menembus hutan-hutan yang tipis di sebelah timur Pamingit. Untuk beberapa saat laskar itu beristirahat. Mereka sekadar melepaskan lelah mereka dengan mempersegar tubuh mereka di sumber air yang mereka temui diperjalanan itu. Kemudian mereka masih sempat menikmati bekal yang mereka bawa. Ketupat sambal. Setelah beristirahat sejenak, kembali pasukan itu meneruskan perjalanan.

Bulan di langit separoh bulat telah naik tinggi di atas bukit-bukit yang membujur seperti raksasa yang lelap. Angin malam yang lemah bertiup dari utara mengusap pohon-pohon perdu yang dengan lembutnya. Sedang di kejauhan sayup-sayup terdengar anjing-anjing liar menggonggong berebut makanan. Di tempat yang telah ditentukan, dua orang berkuda, yang ditugaskan oleh Arya Salaka untuk mengamati keadaan, telah menunggu. ”Bagaimana?” tanya Arya kepada mereka.

”Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik pasukan ke Pangrantunan,” jawab orang itu. ”Sejak kapan?” tanya Arya Salaka. ”Baru malam ini. Semua tenaga telah dikerahkan. Setiap laki-laki di Pangrantunan telah memanggul senjata,” jawab orang itu. ”Adakah golongan hitam telah menyusul ke Pangrantunan pula?” tanya Arya Salaka lebih lanjut. ”Aku kurang jelas. Namun hal itu mungkin sekali,” jawab mereka. ”Bagaimana dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora?” ”Tak aku ketahui. Namun mereka belum sampai di Pangrantunan sore tadi. Tetapi seorang pengungsi mengatakan bahwa Sumber Panaspun telah dikosongkan.

Laskar Ki Ageng Lembu Sora terdesak hebat sampai mereka terpaksa meninggalkan garis perang dalam keadaan tak teratur.”

Arya menarik nafas panjang. Agaknya kekuatan golongan hitam betul-betul tak dapat dianggap ringan. Suatu gabungan dari sarang-sarang gerombolan yang mengerikan. Alas Mentaok, Nusakambangan, Gunung Tidar, Rawa Pening dan seorang hantu dari Lembah Gunung Cerme. Terbayanglah di dalam angan-angannya, bahwa Pamingit benar-benar sedang dilanda oleh taufan yang maha dahsyat.

Ki Ageng Lembu Sora, yang beberapa saat yang lampau dapat bekerja sama dengan mereka, akhirnya sampailah saatnya ia digilas oleh arus hitam yang mengerikan itu, karena orang-orang dari golongan hitam itu sadar, bahwa Lembu Sora adalah suatu usaha saling memperalat semata-mata. Bukan suatu kerja sama yang tulus. Tetapi kini golongan hitam itu benar-benar salah hitung. Mereka mengharap Ki Ageng Lembu Sora terpaksa membagi laskarnya. Sebagian menghadapi laskar hitam itu, dan sebagian menghadapi laskar Arya Salaka. Mereka mengharap bahwa dengan demikian, menggilas Pamingit akan sama mudahnya seperti menggilas ranti, untuk kemudian menghantam hancur sisa-sisa laskar Arya Salaka dan Lembu Sora yang parah di Banyubiru.

Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kejernihan dan ketulusan hati Arya Salaka merupakan badai yang berhembus dengan dahsyatnya, memporakporandakan rencana mereka. Arya Salaka kemudian memerintahkan laskarnya untuk mempercepat perjalanan. Hatinyapun menjadi semakin risau, apakah kira-kira yang telah terjadi di Pamingit dan apakah yang telah terjadi dengan ibunya? Ia menjadi cemas. Terbayanglah di dalam rongga matanya orang-orang seperti Pasingsingan, Sima Rodra dan sebagainya, dengan kasarnya memasuki setiap ruang rumah pamannya di Pamingit.

Apakah ibunya diketemukan di rumah itu pula oleh mereka? Mudah-mudahan Tuhan memberikan perlindungan kepadanya. Hampir tengah malam, laskar Arya Salaka telah mendekati Pangrantunan dari arah utara. Dari jauh mereka telah melihat beberapa kelompok perapian yang menyala di sekitar desa itu. Karena itu segera Arya Salaka menghentikan laskarnya untuk menghindari kesalah-pahaman. Kepada gurunya ia berkata, ”Paman, bukankah sebaiknya aku menghadap Eyang Sora Dipayana lebih dahulu?”

Mahesa Jenar mengangguk, jawabnya, ”Baik Arya, sebab di malam yang samar-samar demikian ini, akan mudah sekali timbul salah mengerti. Laskar eyangmu itu mungkin sama sekali tak akan menduga bahwa kau akan datang membantu mereka.”

Kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Arya Salaka berjalan mendahului, untuk melaporkan kehadirannya bersama laskarnya kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Beberapa tonggak dari Pangrantunan, segerombol pengawal menghentikan mereka. Dengan penuh kewaspadaan para pengawal itu menyapa mereka dengan pertanyaan sandi. ”Ke manakah mulut gua menghadap?”

Arya tidak tahu bagaimana harus menjawab, karena itu ia berkata terus terang, ”Aku bukan dari laskar Pamingit.” ”Dari golongan hitam?” bentak para pengawal itu, dan bersamaan dengan itu tombak-tombak mereka segera mengarah ke dada Arya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Arya menggeleng, jawabnya, ”Bukan Ki Sanak. Kalau aku dari golongan hitam, apakah agaknya aku akan bunuh diri?”

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya