Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 110

WANAMERTA kembali melanjutkan kata-katanya, ”Kau agaknya telah terjerumus ke dalam kekuasaan nafsu duniawi. Tetapi kau tak akan pernah merasa bahagia karenanya. Bahagia yang abadi. Kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan pengabdian kepada titah yang dikasihi-Nya, manusia. Dengan demikian hidupmu akan menjadi terasing. Terasing dari rasa kasih. Kasih antara manusia dan kasih yang dilimpahkan Tuhan kepadamu. Karena itulah maka kau semakin dalam membenamkan dirimu ke dalam timbunan benda-benda serupa itu.”

Sontani merasa seolah-olah terlempar ke dalam suatu keadaan yang tak dikenalnya. Hitam dan kelam. Tetapi di titik yang sangat jauh tampaklah cahaya yang terang menyorot langsung ke dalam jiwanya. Cahaya itu semakin lama menjadi semakin tenang, bahkan kemudian ia menjadi silau karenanya.

Akhirnya sekali lagi ia bertiarap di hadapan kaki Wanamerta. Kali ini ia benar-benar tak dapat menahan keharuannya. Sontani, yang pernah menjabat Bahu pedukuhan Lemah Abang, yang pernah dengan kekerasan mendesak kedudukan Kiai Bakung itu, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dengan keduabelah tangannya ia menutup wajahnya. Ia menjadi sangat malu karena usahanya untuk menyuap Wanamerta. Wanamerta sadar bahwa kata-katanya tepat menyentuh perasaan Sontani, maka ia meneruskan, ”Sontani. Pulanglah. Bawalah benda-benda yang sama sekali tidak berarti bagiku itu. Kembalikan mereka kepada yang berhak dengan bijaksana. Cepatlah sebelum Arya Salaka datang dan melihat caramu yang sama sekali tidak disukainya itu. Ia masih terlalu muda untuk dapat berbuat seperti aku.”

Sontani perlahan-lahan bangkit dan duduk bersila di hadapan orang tua itu. Anak-istrinya yang gelisah, memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam kepalanya. Ketika detak jantung Sontani telah menjadi tenang kembali, maka hatinya menjadi tenang. Tiba-tiba ia menjadi tidak takut lagi kepada Wanamerta, juga kepada Arya Salaka. Tidak takut untuk menerima dendamnya. Di dalam dadanya, kini tersimpanlah suatu tekad untuk menebus nodanya. Meskipun seandainya ia harus digantung di tengah-tengah beringin kurung. ”Kiai...” katanya kemudian, ”Aku akan pulang ke Lemah Abang. Aku akan coba untuk memenuhi pesan Kiai Wanamerta. Menyerahkan kembali barang-barang ini kepada yang berhak. Seterusnya, seandainya Anakmas Arya Salaka datang, dan menghendaki hukuman atas pengkhianatanku, aku tidak akan membela diri. Apapun yang akan ditimpakan atasku, akan aku jalani dengan ikhlas, meskipun seandainya aku akan dihukum mati.”

Wanamerta menggeleng. Jawabnya, ”Percayalah Sontani. Darah Banyubiru bukanlah darah yang haus akan pembalasan dendam dan pembunuh. Mungkin kau akan terbunuh oleh pedang yang bersarang di dalam dadamu, seandainya kau tetap pada pendirianmu. Tetapi kau telah menemukan jalan kembali. Kembalilah. Tuhan Maha Pengampun.”

Sekali lagi Sontani bersujud di hadapan Wanamerta. Tetapi Wanamerta menahannya, dan dengan ramah ia berkata, ”Jangan bersujud kepadaku. Duduklah bersama anak dan istrimu, aku akan duduk bersama-sama dengan kalian.”

Tetapi Sontani menolaknya. Ia akan meninggalkan pendapa itu sebelum Arya Salaka datang seperti yang dinasihatkan oleh Wanamerta. Sehingga dengan demikian iapun segera minta diri beserta anak-istrinya yang sama sekali tidak mengerti persoalan yang bergolak di dada suaminya.

Sepeninggal Sontani, kembali Wanamerta membaringkan dirinya untuk beristirahat. Terbayanglah betapa kemunduran lahir dan batin dari tanah perdikan ini. Sontani adalah salah satu dari sekitar banyak orang yang kehilangan kepribadiannya. Mungkin masih banyak orang lain yang justru lebih parah daripadanya.

Ketika kemudian ia tertidur karena lelahnya, mendadak ia terbangun oleh derap kaki kuda. Cepat ia bangkit dan meloncat ke pintu. Ia masih sempat melihat seekor kuda lari dengan kencangnya memasuki halaman. Kemudian seorang pengawal meloncat turun dan langsung datang kepadanya. Dengan tergesa-gesa pengawal itu berkata, ”Kiai, laskar di perbatasan bergerak mendekati kota.”

Wanamerta tidak terkejut karenanya. Ia tahu persis, laskar Arya Salaka yang akan membantu mengamankan kota. Karena itu ia bertanya, ”Semua...?”

”Tidak Kiai,” jawab orang itu. ”Hanya sebagian.”

” Kau tahu, siapa pemimpinnya?” tanya Wanamerta pula.

”Entahlah,” jawab orang itu sambil menggeleng.

”Jemputlah mereka, dan bawalah mereka kemari,” kata Wanamerta kemudian.

Orang itu ragu sebentar, tetapi kemudian iapun segera berangkat melakukan perintah itu. Di sepanjang jalan, hatinya diliputi oleh kecemasan, seperti pada saat ia melihat laskar Pamingit meninggalkan kota.

Apakah yang akan dilakukan oleh laskar di perbatasan itu atasnya, dan atas orang-orang Banyubiru yang lain, yang ikut serta dalam kelaskaran Lembu Sora...? Ketika ia melewati gardu penjagaan kedua, tiga orang yang bertugas di gardu itu telah menghilang. Pengawal berkuda itu tahu bahwa mereka akan berusaha menyembunyikan diri mereka, karena mereka takut akan pembalasan. Dengan demikian pengawal itu menjadi semakin ragu. Dalam keraguan itu kudanya berlari terus. Maka sebelum ia mengambil keputusan, pengawal itu telah sampai di gardu pertama. Ia menjadi berlega hati ketika di gardu itu, masih dilihatnya empat orang berjaga-jaga.

Untuk meyakinkan pendiriannya, pengawal itu berhenti sejenak.

Kepada orang-orang di gardu itu ia berkata, ”Gardu kedua telah kosong.”

”Kosong?” tanya orang-orang di gardu pertama itu.

”Kenapa?”

”Aku kira mereka takut,” jawab pengawal berkuda itu.

”Takut apa?” tanya orang-orang di gardu.

”Kalau laskar Arya Salaka itu datang, ada kemungkinan mereka akan ditangkap dan dihukum. Juga kita semua,” jawabnya.

TIBA-TIBA salah seorang dari mereka berempat itu tertawa. Dengan lantang ia berkata, ”Jangan takut. Mereka tidak akan berbuat apa-apa selama mereka masih berada di bawah pimpinan Arya Salaka.”

”Kau yakin?” tanya pengawal berkuda itu.
”Jangankan kita, orang-orang Banyubiru. Terhadap orang Pamingit pun Arya Salaka tidak berbuat sesuatu.

Pimpinan gardu ini semalam telah mengalami perlakuan yang tak disangka-sangka dari Arya Salaka. Meskipun orang itu dibawa serta, namun ia akhirnya kembali dengan selamat, justru pada saat kita telah memukul tanda bahaya untuk menangkap anak muda itu.” Pengawal yang masih duduk di atas kudanya itu masih ragu-ragu juga. Ia mendatangi orang yang berceritera itu, yang tidak lain adalah Ira, dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Sehingga terdengar Ira menjelaskan, ”Aku menjadi jaminan bagi kalian. Kalau orang-orang yang ikut serta dalam laskar Arya Salaka itu mendendam kalian, akulah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan.”

Orang yang bertugas untuk menjemput laskar yang semakin lama semakin dekat itupun menjadi percaya, meskipun hatinya masih gelisah.

”Baiklah...” katanya, ”Mudah-mudahan katamu benar.”

Kemudian ia memacu kudanya kembali, ke arah kepulan debu putih di depan mereka. Kuda itupun melemparkan debu yang putih pula, yang kemudian lenyap dihembus angin pegunungan. Semakin dekat orang berkuda itu dengan barisan yang mendatang, hatinya menjadi semakin gelisah. Ketika kudanya telah berada beberapa ratus langkah lagi, ia menghentikannya. Kembali ia menjadi ragu-ragu. Jangan-jangan orang-orang yang berada di dalam barisan itu akan bersama-sama menyerangnya dan beramai-ramai mencincangnya sebagai seorang pengkhianat.

Tetapi kalau diingatnya kata-kata Ira, ia menjadi agak tenang. Demikianlah ketika barisan yang mendatang itu sudah semakin dekat, orang itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia tidak sedang menggenggam senjata. Di ujung barisan itu, seorang anak muda yang duduk di atas punggung kuda mengangkat tangannya pula. Melihat anak muda itu, dada pengawal itu berdesir.

Ia tidak salah lagi. Pasti anak muda itulah Arya Salaka. Dengan demikian ia menjadi berdebar-debar. Di samping anak muda itu, dilihatnya seorang gadis yang juga duduk di punggung kuda. Tetapi ketika ia melihat seorang yang berjalan dibelakangnya, kembali ia menjadi gelisah. Orang itu adalah Bantaran. Ketika barisan itu sudah semakin dekat lagi, meloncatlah ia turun dari kuda, dan dengan hormatnya ia membungkukkan dirinya. Arya memandang orang itu dengan seksama. Ia pun mengangguk.

”Tuan...” kata pengawal itu dengan hormatnya, ”Aku menjalankan perintah Kiai Wanamerta untuk menjemput Tuan, dan membawa Tuan ke halaman rumah Ki Ageng Lembu Sora.”

Arya menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Haruskah aku pergi ke Pamingit?” Pengawal itu menjadi heran, jawabnya, ”Tidak Tuan. Rumah Ki Ageng Lembu Sora di Banyubiru.”

”Adakah Ki Ageng Lembu Sora mempunyai rumah di Banyubiru?” tanya Arya.

”Ada Tuan, di sebelah alun-alun,” jawab pengawal itu. Ia menjadi bingung oleh pertanyaan Arya. ”Rumah itu adalah rumahku. Bukan rumah Ki Ageng Lembu Sora,” jawab Arya.

Berdentanglah jawaban Arya Salaka itu ditelinganya. Benar, rumah itu memang milik rumah Ki Ageng Gajah Sora. Maka dengan cepatnya ia membetulkan kata-katanya, ”Tuan benar. Kiai Wanamerta menunggu Tuan di rumah Tuan sendiri.”

”Apakah kau dari laskar Paman Lembu Sora?” tanya Arya. Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi itu adalah karena kesalahannya. Sebab selama ini ia memang menganggap bahwa rumah itu adalah rumah Ki Ageng Lembu Sora. Pengawal itu menjadi gelisah. Badannya mulai dialiri oleh keringat dingin dari punggungnya. Ternyata dalam keadaan yang sulit itu ia kurang berhati-hati. Ia merasa bahwa ia telah menggali lubang untuk dirinya sendiri. Akhirnya ketika ia tak dapat berbuat lain maka iapun menjawab, ”Ya, Tuan.” Suaranya gemetar.

Kini ia tinggal menunggu apakah yang akan dilakukan oleh anak muda itu, atau oleh orang yang berdiri di belakangnya, atau oleh seluruh barisan itu. Mungkin mereka akan melemparinya dengan batu sampai mati, atau mungkin mengikatnya di belakang kuda itu dan menariknya sepanjang jalan. Tetapi kalau demikian, ia tidak berteriak di gardu pertama, bahwa Ira-lah yang pertama-tama akan naik ke tiang gantungan. Ketika untuk beberapa saat Arya Salaka masih berdiam diri, ia menjadi semakin tegang dan gelisah. Sekali-kali ia mencuri pendang ke arah wajah anak muda itu, namun ia tidak dapat mengetahuinya, apakah yang tersirat di wajahnya itu.

Tiba-tiba di dalam kegelisahannya ia mendengar jawaban yang mengejutkan, bahkan hampir tak dipercayainya.

”Marilah. Naiklah ke punggung kudamu. Berjalanlah di depan.” Untuk sesaat ia terpaku. Dengan termangu-manggu ia memandang Arya Salaka yang masih duduk di atas kudanya dengan tenang. Ketika tampak wajah anak muda itu tanpa berkesan kemarahan, barulah ia percaya pada telinganya.

Perlahan-lahan ia mendekati kudanya, dan meloncat ke atasnya. Karena getar kakinya, maka barulah loncatan kedua ia berhasil duduk di punggung kudanya. Kemudian perlahan-lahan pula ia memutar kuda itu dan berjalan mendahuluinya. Kembali barisan itu berjalan maju mendekati kota. Akhirnya mereka sampai juga di gardu pertama. Keempat penjaganya berdiri berjajar dengan tegak. Ira lah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka, sehingga meskipun dengan gemetar mereka tidak melarikan diri.

Arya melihat keempat orang itu. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia segera dapat mengenal Ira. Dengan tersenyum ia berkata, ”Ira, tidakkah kau ikut Paman Lembu Sora ke Pamingit?”

IRA membungkuk hormat.

Lalu jawabnya, ”Tidak Tuan. Aku lebih senang menunggu kedatangan Tuan di sini.”

”Terima kasih,” jawab Arya, ”Agaknya Paman Lembu Sora memang tak memerlukan kau.”

”Aku bersenang hati kalau demikian,” jawab Ira.

”Tetapi kau tidak akan bersenang hati kalau itu terjadi kemarin atau lusa,” sahut Arya Salaka.

Ira diam. Memang ia tidak akan bersenang hati. Sebab dengan demikian berarti ia kehilangan mata pencahariannya. Sungguh lucu. Tetapi ia diam saja. Ia tidak berkata apa-apa ketika Arya menjadi bertambah jauh. Ia melihat di belakang Arya Salaka itu seorang yang baginya sangat menakutkan. Bantaran. Mudah-mudahan Bantaran pun tidak mendendamnya. Akhirnya barisan itu sampai juga di halaman rumah kepala perdikan Banyubiru.

Wanamerta menerima mereka dengan perasaan lega. Kalau ada apa-apa kini, ia tidak cemas lagi.

Segera dipersilakannya Arya Salaka naik ke pendapa. Di samping Arya Salaka, duduk dengan wajah yang cerah, putri Kebo Kanigara, Endang Widuri. Ia mendapat izin dari ayahnya untuk mengikuti anak muda itu mengantarkan laskarnya ke Banyubiru.

Kemudian Bantaran duduk bersama mereka. Sesudah mereka mengadakan pembicaraan singkat, segera Bantaran membagi pekerjaan kepada laskarnya yang berjumlah 100 orang itu. Mereka disebar di seluruh kota dengan pesan, pekerjaan mereka adalah mengamankan dan melindungi rakyat Banyubiru. Bukan menakut-nakuti.

Terhadap laskar Banyubiru yang ditinggalkan oleh Lembu Sora, mereka harus bersikap baik. Dengan demikian mereka harus memberi kesan, bahwa kehadiran mereka benar-benar memberikan suasana baru. Suasana yang tenang, tentram dan damai.

”Kalian kali ini adalah tenaga-tenaga suka rela untuk membantu Ki Ageng Lembu Sora menjaga ketentraman tanah ini. Namun kalian harus menunjukkan bahwa kalian mempunyai tanggungjawab atas pekerjaan kalian. Kalian harus membuktikan bahwa jiwa kalian berbeda dengan jiwa laskar Ki Ageng Lembu Sora sendiri. Junjung tinggi namamu dan nama pemimpinmu.”

Arya Salaka menekankan setiap kata kepada laskarnya. Ketika laskar itu mulai berpencaran, terdengarlah suara riuh hampir di seluruh jalan-jalan di dalam kota. Rakyat Banyubiru menyambut kedatangan laskar itu dengan keriangan yang bergelora. Mereka melihat laskar yang berjalan dalam kelompok-kelompok kecil itu sebagai pelindung mereka. Kecuali laskar yang diserahkan kepada Wanamerta, yang dipimpin langsung oleh Bantaran, Arya Salaka telah menugaskan Penjawi dan Jaladri untuk pergi ke Pamingit. Mereka mendapat tugas untuk mengetahui, sampai di mana kekuatan golongan hitam. Mereka harus menyaksikan pertempuran yang terjadi antara laskar Lembu Sora dan laskar hitam, dan kemudian kembali kepada Arya Salaka untuk melaporkan hasilnya.

Malam itu Arya dan Endang Widuri bermalam di rumah Arya yang telah ditinggalkan hampir enam tahun. Banyaklah yang dapat diceriterakan kepada gadis itu tentang rumah ini. Ia dapat menunjukkan di mana ia pada saat itu berhasil membunuh seorang yang akan mengambil pusaka-pusaka simpanan ayahnya, namun ia sendiri terpukul dan pingsan karenanya. Ia dapat menunjukkan pula, ke mana ia melarikan diri ketika tiba-tiba rumah ini diserang oleh laskar yang tak dikenalnya. Ketika ia telah berhasil membunuh salah seorang dari mereka, tiba-tiba ia dikeroyoknya. Untunglah Penjawi datang tepat pada saatnya.

Widuri mendengarkan ceritera itu, dengan penuh minat. Ia menjadi terharu mendengarkan ceritera pengalaman yang pernah dijalani oleh Arya Salaka pada umurnya yang masih sangat muda.

”Kalau malam ini mereka datang kembali...” kata Arya Salaka, ”Aku tak perlu berlari-lari lagi.”

”Kau telah merasa dirimu tak terkalahkan? sahut Widuri.

”Tidak,” jawab Arya. ”Sebab sekarang ada kau. Bukankah kalungmu itu menakutkan orang?” Widuri mencibirkan bibirnya, katanya kepada Wanamerta yang duduk bersama mereka, ”Apakah Eyang takut juga kepada kalungku ini?”

Wanamerta tertawa. Jawabnya, ”Aku tidak. Sebab aku tak bermaksud jelek. Entahlah cucu Arya Salaka.”

”Ah...” Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah. Ia tidak tahu apa sebabnya. Sedang Arya pun tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ketika keadaan menjadi sepi, terdengarlah di kejauhan gonggong anjing liar yang berkeliaran di lereng-lereng pegunungan. Dari selatan mengalirlah angin pegunungan membawa udara yang sejuk.

”Cucu Widuri...” kata Wanamerta kepada gadis lincah itu, ”Aku persilakan Cucu beristirahat di ruang sebelah. Biarlah aku dan Cucu Arya Salaka berjaga-jaga di sini.”

WIDURI memang sudah ngantuk. Karena itu segera iapun berdiri dan masuk ke ruang di dalam rumah itu. Ia sama sekali tidak takut, karena di luar berjaga-jaga Arya Salaka, Wanamerta dan Bantaran. Sedang di halaman belakang pun ada beberapa orang yang mengawal. Sementara itu di perbatasan, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba dan para pemimpin laskar Banyubiru yang lain sedang sibuk menyalakan api untuk mematangkan kijang hasil buruan mereka.

Tidak jauh dari perapian itu, Rara Wilis bertiduran di atas rumput-rumput kering sambil menganyam angan-angan. Sekali-kali angan-angannya itu membumbung tinggi, membelit di antara bintang-bintang di langit, namun sekali-kali ia terlempar kembali ke dunianya kini. Berbaring di antara batang-batang ilalang. Di antara laskar yang bersiaga penuh untuk bertempur. Entah besok, entah lusa. Kemudian apakah sesudah pertempuran itu berakhir ia masih dapat menikmati gemerlapnya bintang di langit...?

Atau kalau Tuhan masih mengurniakan umur panjang kepadanya, apakah ia masih dapat bertemu dengan Mahesa Jenar...? Rara Wilis tiba-tiba tersentak karena angan-angannya sendiri. Tidak sengaja ia memandang ke perapian. Dilihatnya di antara mereka, seorang yang selama ini mengikat hatinya. Tetapi laki-laki itu tidak menoleh kepadanya. Bahkan ia masih asyik menikmati daging kijang yang kadang-kadang diselingi oleh tertawanya yang riang.

Agaknya Ki Dalang Mantingan adalah orang yang cukup jenaka, sehingga mereka tertawa-tawa karena kelucuannya. Rara Wilis menarik nafas panjang. Sebagai seorang gadis ia kadang-kadang ditakut-takuti oleh umurnya yang bertambah-tambah dari hari ke hari. Apakah ia harus berjalan dari satu padang rumput ke padang rumput yang lain? Dari satu perkelahian ke perkelahian yang lain sepanjang hidupnya...? Tidakkah pada suatu saat ia akan dihadapkan kepada suatu kuwajiban yang seharusnya dijalani oleh setiap wanita...?

Rara Wilis pada suatu saat pasti ingin melepaskan pedang dari pinggangnya dan menggantinya dengan pisau dapur yang sederhana. Ia pada suatu saat pasti ingin melepaskan ikat pinggang kulitnya, yang kasar, dimana pedangnya selalu menggantung, dan menggantinya dengan selendang yang halus untuk mengemban bayinya.

Ya. Ia rindukan masa yang berbahagia. Masa ia tidak bermain-main dengan nyawanya, tetapi bermain-main dengan anaknya. Akhirnya, sebagai seorang manusia yang lemah, ia hanya dapat memanjatkan doa kepada Kekuasaan Yang Tertinggi, mudah-mudahan sampailah ia pada saatnya, diperkenankan menikmati hidup ini sebagai manusia biasa, sebagai wanita biasa.

Ketika sekali lagi ia memandang ke perapian, ia masih melihat mereka yang duduk melingkari perapian itu bersenda-gurau. Karena itu iapun terbawa pula oleh suasana yang gembira itu. Sehingga kemudian ketika ia mendengar Ki Dalang Mantingan berjenaka, ia pun tersenyum sendiri.

Di langit, bintang gemintang satu-satu berjalan di dalam garis edarnya. Sedang mega putih yang membayang di selatan, sebagai selimut yang putih, menaburi punggung bukit Telamaya. Malam itu berjalan setapak demi setapak menjelang pagi. Baik yang berada di Banyubiru maupun yang berserak-serak di perbatasan. Meskipun tidak meninggalkan kewaspadaan, namun mereka dapat menikmati istirahat malam itu dengan baiknya. Mereka sadar bahwa bahaya pasti tidak akan datang. Baik dari laskar Lembu Sora maupun dari laskar golongan hitam. Sebab mereka selambat-lambatnya petang tadi, pasti sudah saling berhadapan. Bahkan mungkin bagian-bagian dari laskar mereka sudah terlibat dalam bentrokan-bentrokan.

Perhitungan mereka itupun benar. Tak ada apapun yang terjadi sampai matahari muncul di timur, diantar oleh kicauan burung-burung liar yang hinggap di cabang-cabang pohon perdu.

Ketika Mahesa Jenar membuka matanya, setelah beberapa saat ia tertidur dalam kehangatan perapiannya, ia terkejut melihat sesosok tubuh yang berdiri tidak jauh darinya. Dalam keremangan cahaya pagi, dilihatnya bayangan itu menggeliat dengan nyamannya, kemudian tampaklah dadanya yang segar menggelombang dalam tarikan nafas pagi.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar bangkit. Seperti terpaku ia melihat bayang-bayang yang mengesampingkannya. Ia menjadi heran sendiri. Seperti kisah dalam mimpi, bahwa di tengah-tengah padang ilalang itu, dapat ditemuinya keindahan yang sempurna menurut selera hatinya. Ketika bayangan itu perlahan-lahan melangkahkan kakinya, Mahesa Jenar bangkit berdiri. Agaknya bayangan itu mendengar desis kakinya sehingga terputarlah wajahnya, memandang Mahesa Jenar yang berjalan perlahan-lahan mengikutinya.

”Bintang pagi masih bersinar di tenggara,” tegur Mahesa Jenar dalam nada yang rendah. Rara Wilis tersenyum.

”Tetapi matahari telah meninggalkan peraduannya.” Mahesa Jenar menengadahkan wajahnya, memandang matahari pagi yang masih kemerah-merahan. Sambil tersenyum pula ia berkata, ”Ia akan datang pada saat ia harus datang.”

”Dan ia akan pergi pada saat ia harus pergi,” sahut Wilis.

”Peredaran jinantra alam yang tak terkendalikan oleh kekuatan apapun, selain oleh Maha Penciptanya,” kata Mahesa Jenar.

”Karena itu, milikilah yang harus kau miliki,” potong Wilis.

”Matahari...?” tanya Mahesa Jenar sambil tersenyum. ”Ya,” jawab Wilis ”Matahariku adalah mataharimu,” kata Mahesa Jenar pula. Keduanya tersenyum. Hanya mereka berdualah yang dapat merasakan betapa indahnya senyum mereka masing-masing. Seindah bintang pagi di tenggara, seindah matahari pagi di puncak bukit.

”Aku akan mencuci muka di mata air sebelah,” kata Rara Wilis kemudian. ”Pergilah. Aku akan menyiapkan api,” jawab Mahesa Jenar.

RARA WILIS berjalan semakin cepat. Di pinggangnya masih tergantung pedang tipisnya. Mahesa Jenar memandangi bayangan itu sampai hilang di balik sebuah batu padas. Disanalah Rara Wilis mendapatkan mata air yang kecil.

Hari itupun tak mereka jumpai persoalan-persoalan yang penting. Bahkan mereka dapat hilir-mudik dari perbatasan masuk ke dalam kota. Kebo Kanigara telah menjemput puterinya, sedang Mahesa Jenar dan Arya Salaka malam berikutnya bermalam di Banyubiru. Seperti malam kemarin. Malam inipun berlalu begitu saja. Namun mereka mengharap bahwa hari berikutnya Penjawi dan Jaladri telah dapat datang kembali dengan keterangan-keterangan yang mereka perlukan.

Sebelum fajar menyingsing di pagi yang dingin, datanglah orang yang mereka harap-harapkan itu. Derap dua ekor kuda yang lari dengan kencangnya, memukul-mukul jalan yang berbatu-batu menuju ke rumah kepala daerah perdikan Banyubiru. Para pengawal perbatasan segera berloncatan dari gardu mereka yang bersiaga. Tetapi ketika mereka melihat Penjawi dan Jaladri yang duduk di punggung-punggung kuda itu, maka mereka biarkan berlalu. Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki kuda itu seperti tumbuh dari dalam tanah, sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh di dalam dada para pengawal itu.

Kabar apakah yang dibawa oleh Penjawi dan Jaladri...?

Arya Salaka dan Mahesa Jenar pun kemudian mendengar derap kuda yang semakin dekat. Segera mereka bangkit dari pembaringan mereka sambil menebak-nebak, siapakah orang-orang yang berkuda di pagi-pagi buta ini. Demikian juga Wanamerta dan Bantaran yang berada di pendapa pun segera bersiaga. Kalau-kalau ada sesuatu yang tak mereka harapkan terjadi. Tetapi hati mereka menjadi kendor kembali setelah mereka melihat Penjawi dan Jaladri masuk ke halaman. Demikian ketika kuda-kuda itu berhenti, berloncatanlah mereka turun dan langsung naik ke pendapa. Tampaklah wajah-wajah mereka yang kotor karena debu yang tak sempat mereka usap. Sedang di punggung membekaslah keringat mereka yang mengalir deras. Namun demikian tampaklah senyum mereka membayang di bibir mereka.

Wanamerta menerima mereka dengan tergopoh-gopoh. Dipersilahkanlah mereka duduk, dan kepada seorang pelayan, Wanamerta minta untuk segera disediakan bagi mereka, minum yang hangat.

”Terima kasih Kiai,” kata Penjawi di antara desah nafasnya yang mengalir cepat.

”Selamatkah kalian?” tanya Wanamerta kemudian. ”Baik Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan. ”Syukurlah,” sambung Wanamerta. Bersamaan dengan itu muncullah Mahesa Jenar dan Arya Salaka lewat pintu pringgitan. Mereka langsung duduk di hadapan Penjawi dan Jaladri. Dari wajah-wajah kedua orang itu, Mahesa Jenar dan Arya Salaka mendapat kesan, bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang berat. Merekapun kemudian menanyakan keselamatan kedua orang itu.

”Perjalanan yang menyenangkan.”

Namun terdengarlah suara itu amat perlahan-lahan. Dengan senyum lucu Jaladri memandang Penjawi, sambil menyebut, ”Cemasnya yang tak terduga-duga.” Yang mendengar ikut tersenyum pula. ”Kalian tentu punya ceritera yang panjang,” kata Arya Salaka. ”Tetapi aku lihat kalian tak sempat mandi di perjalanan. Karena itu, apabila keadaan tidak mendesak, mandilah kalian dahulu. Kemudian setelah makan pagi, biarlah kalian berceritera panjang lebar. Akan aku panggil semua pimpinan laskar Banyubiru, Paman Kebo Kanigara, Bibi Wilis dan Endang Widuri. Aku kira mereka akan senang pula mendengar ceriteramu.”

”Baiklah,” jawab Penjawi.

”Kami akan mandi dahulu, makan pagi, lalu kami akan berceritera, supaya ceritera kami tidak terlalu banyak tertinggal.” Jaladri tertawa, sambungnya, ”Urutan yang bijaksana,” Kemudian setelah minum teh hangat dengan gula aren, Penjawi dan Jaladri segera turun ke mata air di sebelah rumah itu. Mereka mendapat pinjaman beberapa potong pakaian untuk mengganti pakaian yang telah basah oleh keringat, dan kotor oleh debu tebal.
Dalam kesempatan itu, Arya Salaka telah memerintahkan untuk menjemput para pemimpin laskar Banyubiru yang berada di perbatasan, termasuk Mantingan dan Wirasaba. Ketika matahari telah naik di ujung cemara, pendapa Banyubiru itupun telah dipenuhi oleh para pemimpin laskar Banyubiru. Mereka semua mengharap dapat mendengarkan langsung ceritera Penjawi dan Jaladri. Meskipun masih agak payah, di pendapa itu hadir juga Sendang Parapat. Penjawi dan Jaladri duduk berjajar di samping Arya Salaka. Kemudian duduk pula Wanamerta, Bantaran, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Mantingan, Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri.

”Nah...” kata Arya Salaka kemudian, ”Mulailah dengan kisah cemasmu.”

Penjawi membetulkan letak duduknya, sambil menarik nafas ia berkata, ”Baiklah. Setelah perutku kenyang, ingatanku menjadi baik, sehingga banyaklah yang akan aku ceriterakan kepada kalian.” Yang hadir di pendapa itu telah siap untuk mendengar apakah yang telah terjadi di Pamingit.

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya