Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Nagasasra dan Sabukinten oleh S.H. Mintardja

Seri 105

MEREKA diam seperti patung. Ternyata di dalam rombongan itu terdapat orang-orang yang bagi mereka hanya pernah mereka kenal sebagai tokoh-tokoh dalam ceritera-ceritera kepahlawanan yang sakti tiada taranya.

Hanya pemimpin rombongan pengawal itu sajalah yang benar-benar menyaksikan betapa Kebo Kanigara bertempur melawan mereka. Karena itu nafsu perlawanan merekapun menjadi lenyap.

Mereka memang dapat memukul tanda bahaya, dan mengundang kawan-kawan mereka dengan tanda-tanda itu. Namun melawan tokoh-tokoh sakti yang seolah-olah sudah bukan manusia biasa lagi, mereka agaknya menjadi segan, sebab sebelum kawan-kawan mereka datang, nyawa mereka pasti sudah beterbangan.

Arya Salaka merasakan betapa dalam pengaruh kata-katanya itu. Karena itu segera ia mempergunakan kesempatan. Katanya, ”Ki Sanak. Marilah antarkan aku sampai ke rumah Paman Lembu Sora. Bukankah sudah tidak begitu jauh lagi? Setidak-tidaknya untuk melampaui gardu penjagaan dan tempat-tempat pemusatan laskar Pamingit itu.”

Pemimpin rombongan itu menggeram. Ia menjadi marah sekali. Tetapi tak satupun yang dapat dilakukan. Sebab ia tahu benar, bahwa tombak anak muda itu setiap saat dapat menembus jantungnya. ”Marilah...” kata Arya, ”Berkuda bersama-sama dengan aku.”

Sungguh suatu pekerjaan yang tak menyenangkan. Tetapi ia masih ingin dapat melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit biru. Karena itu ia tidak membantah. Selagi ia masih hidup, ia masih mempunyai harapan untuk melepaskan diri. Dengan langkah yang kosong pemimpin pengawal itu didorong oleh Arya Salaka ke kudanya untuk kemudian meloncat ke punggung kuda itu dan menaikinya bersama-sama. Kemudian kuda-kuda itupun bergerak.

”Kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk menyelamatkan jiwamu?” bisik Arya kepada orang Pamingit itu. Orang itu tidak menjawab. Tetapi kupingnya serasa tersentuh api.

Meskipun demikian ia berkata, ”Jangan berbuat sesuatu, supaya aku tidak memecatmu.”

”Padamkan obor,” perintah Arya seterusnya. Ketika obor-obor mereka telah padam, mereka meneruskan perjalanan mereka yang penuh dengan bahaya. Sebab mereka sama sekali tidak menduga bahwa telah diundangkan suatu hadiah yang menarik untuk menangkap Arya Salaka. Hal itu akan sangat mempengaruhi cara berpikir orang-orang Pamingit dan orang-orang Banyubiru yang berhati goyah.

Sementara itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memuji di dalam hati mereka. Ternyata Arya memiliki ketangkasan berpikir yang cukup. Dalam keadaan yang demikian, ia dapat mengatasinya tanpa banyak keributan. ”Pandai juga anak itu menghemat tenaga,” bisik Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar tersenyum sambil mengangguk, jawabnya, ”Agaknya ia tidak mau merepotkan orang-orang tua ini.”

Kemudian mereka berdiam diri, Wanamerta berada rapat di belakang Arya Salaka. Dua orang yang membawa obor itupun kemudian dipanggilnya mendekat.

”Sediakan titikanmu,” perintah Wanamerta. ”Setiap saat kita perlukan api. Kalau keadaan memburuk harus kita kirimkan tanda-tanda dengan panah sendaren dan panah api.”

Orang itupun segera menyediakan titikan, emput dan dimik belerang. Supaya dalam keadaan yang tergesa-gesa mereka dapat segera menyalakan tanda-tanda apabila diperlukan.

”Kalau terjadi perkelahian jangan hiraukan lawan-lawan kita, tugasmu menyalakan api.” Wanamerta meneruskan.

”Baik Kiai,” jawab orang itu. Perjalanan menyusur tepi desa itu semakin lama semakin dalam masuk kota Banyubiru. Meski demikian alangkah sepinya. Tak ada nyala api sama sekali dalam rumah-rumah di tepi jalan. Agaknya mereka dalam ketakutan yang sangat. Atau barangkali rumah-rumah di tepi jalan itu sudah tidak berpenghuni. Barangkali mereka telah mengungsi jauh-jauh untuk menghindarkan diri dari rumah-rumah mereka yang mungkin akan menjadi ajang perang yang mengerikan.

Orang-orang Pamingit ternyata tidak mempunyai kebesaran tekad seperti orang-orang Banyubiru. Mereka sedikit banyak menggantungkan pekerjaan yang dilakukan pada upah yang mereka terima. Mereka bekerja pada Lembu Sora bukanlah karena jiwa pengabdian mereka kepada tanah kelahiran mereka, atau kepada suatu keyakinan mereka terhadap kebenaran yang dapat diperjuangkan oleh para pemimpinnya.

Mereka bekerja bukan semata-mata karena para pemimpinnya, tetapi mereka bekerja semata-mata karena mereka menerima upah. Itulah sebabnya orang Pamingit yang berkuda bersama-sama dengan Arya itupun lebih senang memelihara hidupnya daripada melakukan tugasnya dengan jantan. Ia masih mengharap untuk dapat hidup dan melepaskan diri. Pekerjaannya kemudian hanyalah mereka-reka alasan untuk membebaskan dirinya dari kemarahan atasannya.

Ketika kuda-kuda itu menjadi semakin dekat dengan gardu penjagaan, hati orang itupun menjadi semakin gelisah. Apakah yang akan dikatakan kepada mereka kalau orang-orang di gardu penjagaan itu menghentikan rombongan ini. Sedang kalau mereka akhirnya tahu, bahwa rombongan ini terdiri dari Arya Salaka dan kawan-kawannya, maka mereka pasti akan mengambil tindakan. Dengan demikian, maka jiwanyapun terancam pula oleh ujung tombak Arya Salaka.

Karena itu,demi keselamatan diri, ia berkata perlahan-lahan, ”Kita ambil jalan simpang.”

”Jangan menjebak kami,” sahut Arya Salaka.

”Aku belum gila,” bantah orang itu.

”Apakah yang akan kau katakan di hadapan gardu itu nanti kalau kita melewatinya?”

"Itu bukan urusanku tetapi urusanmu kalau kau masih ingin hidup seterusnya," jawab Arya

"Karena itu, kita lewat jalan simpang yang sempit disamping pohon Wregu itu," sahut orang itu.

"Apakah tidak mencurigakan?", tanya Arya.

"Lebih aman bagimu," jawab orang Pamingit itu.

"Dan bagimu juga," Arya meneruskan sambil tertawa.
Tiba tiba terdengar dari gardu penjagaan yang sudah tidak jauh lagi sebuah teriakan,"He, kemana arah angin?".

Arya tahu bahwa kata-kata itu adalah pertanyaan sandi. Ketika orang Pamingit itu belum menjawab, Arya meneruskan ujung tombaknya sambil berbisik," terserah kepadamu."

Orang itu semakin marah, tetapi mulutnya berteriak juga untuk keselamatannya, "Kelaut!".

"Dimana letak bintang Waluku?" terdengar suara dari Gardu.

"Tenggara", jawab orang Pamingit itu.

"He!," kembali orang di gardu berteriak, "Siapa kau?"

Dari gardu pertama mengantar orang Banyubiru yang meninjau medan," jawab orang yang berkuda bersama Arya itu berteriak.

"Kenapa lewat jalan sempit itu?," bertanya suara itu pula.

"Ia akan singgah kerumahnya sebentar. Makan dan mengambil kambingnya yang tertinggal ketika keluarganya mengungsi," jawabnya.

Orang di gardu itu diam. Mereka membiarkan rombongan itu lewat meskipun didalam hati bertanya tanya, "kenapa demikian banyak?," Tetapi karena mereka dapat menjawab kata kata sandi itu, maka merekapun menjadi tidak bercuriga. Bahkan kemudian terdengar salah seorang berteriak," Bawa kambing kemari, kita panggang disini."

"Baik," jawab orang Pamingit itu.

Dengan demikian, mereka selamat melampau penjagaan itu. Mereka menyususup jalan sempit kemudian lewat beberapa halaman, mereka sampai ke jalan kecil yang lain.

"Terimakasih," bisik Arya, "Kau adalah penunjuk jalan yang baik. Tetapi dimanakah pemusatan laskar Pamingit?"

"Sudah lampau. Diseberang gardu penjagaan tadi," jawabnya.

Arya percaya. Ita tertawa dalam hatinya. Beginilah nilai kesetiaan orang Pamingit. Mereka tidak lebih daripada laskar bayaran yang tak kenal pengabdian.

Ketika mereka sudah mencapai jalan kecil itu, segera Arya mengenalnya, kemana ia harus pergi.

Tetapi meskipun demikian ia masih belum melepaskan orang pamingit itu.

Suara telapak kuda terdengar gemeretak diatas tanah yang berbatu padas. Didalam malam yang sepi terdengar seperti suara prajurit yang berpuluh jumlahnya maju ke medan perang.

Tiba tiba ketika mereka masih asik berangan angan tentang diri masing masing, terdengarlah dari arahgardu pertama, suara kentongan yang berbunyi dua kali tiga ganda, sehingga orang dalam rombongan berkuda itu menjadi terkejut karenanya.

Orang Pamingit itu menjadi gelisah. Siapakah yang telah memberikan tanda. Bahkan kemudian tanda itu disaut oleh gardu kedua.

"Tanda bahaya?" desis orang Pamingit itu.

"Bahaya apa?," desak Arya.

"Mereka bersiap siap," jawabnya.

"Bohong," potong Arya Salaka, "mereka memberi tanda bahwa ada musuh masuk kedalam pertahanan mereka."

Orang Pamingit itu diam. Keringat dinginnya mengalir membasahi punggungnya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak buahnya akan membunyikan tanda itu, yang baginya adalah tanda bahwa maut telah menerkamnya. Tiba tiba terasa tengkuknya meremang seperti dirayapi oleh berjuta-juta semut. Apalagi ketika ujung tombak Arya semakin lekat di lambungnya.

"Kau masih menduga bahwa tombak orang Banyubiru tidak setajam tombak orang Pamingit?, tanya Arya.

Orang Pamingit yang semula marah itu kemudian kehilangan kemarahannya, bahkan dengan menggigil ia menjawab: "Tidak, tidak. itu samasekali bukan salahku. Aku melarang mereka untuk berbuat hal yang tidak kalian kehendaki."

"Bohong!," bentak Arya, "kau pasti memberikan tanda tanda rahasia kepada mereka."

"Tidak, tidak," orang itu benar benar menggtigil. Ia masih senang untuk tetap hidup. Apalagi upahnya bulan ini masih belum diterimanya sama sekali. Alangkah mengerikannya kalau malam ini ia terpaksa mati. Lalu bagaimana dengan anak isterinya?.

"Bukan, bukan salahku. Aku masih ingin hidup. Bukankah aku telah membawa kalian melampaui gardu kedua?"

Arya harus cepat mengambil keputusan. Suara kentongan itu menjadi semakin merata. Untunglah bahwa ia sudah mengenal jalan jalan di Banyubiru itu dengan baik. Karena itu, segera ia mengambil keputusan untuk secepat cepatnya sampai kerumah pamannya. Mudah mudahan pamannya dapat mengerti alasan kedatangannya dan dapat menerimanya untuk beberapa saat saja, untuk berbakti kepada kakeknya dan apabila mungkin membawa ibunya keluar dari sarang sarang orang orang licik itu. Sebab tidak mustahil kalau ibunya akan dijadikan kambing hitam kemarahan pamannya, atau malahan dijadikan tanggungannya.

"Kita harus sampai secepatnya," katanya kepada Wanamerta.

Orang Pamingit itu menjadi semakin gemetar......

ORANG Pamingit itu menjadi semakin gemetar. Seolah-olah ujung tombak Arya itu telah masuk sejari ke dalam perutnya.

”Bagaimana dengan kau?” bentak Arya kepada orang Pamingit itu.

”Bukan salahku. Aku masih ingin hidup,” pintanya dengan suara menggigil ketakutan.
Arya menjadi kasihan juga melihat orang itu.

”Anakku lima orang,” sambungnya, ”Yang terkecil baru berumur 3 bulan. Hidupilah aku. Aku akan tunduk segala perintahmu.”

Kata-kata itu meluncur saja tanpa terkendali. Meskipun hatinya sendiri merasa ragu. Sebab kalau ia menghadapi keadaan seperti itu, pasti orang itu akan dibunuhnya. Karena itu ia mencoba meyakinkan, ”Anak-anakku akan kelaparan kalau aku mati. Aku tidak punya sawah dan istriku bukan juragan. Karena itu aku harus bekerja menjadi laskar Ki Ageng Lembu Sora, meskipun itu bertentangan dengan jiwaku sendiri. Sebenarnya aku....”

Orang itu tidak sempat menyelesaikan kata-kata ketika tiba-tiba ia merasa tangan Arya mendorongnya. Ia merasa terlempar dari punggung kuda itu dan sekali terguling. Kemudian ia hanya dapat menyaksikan kuda-kuda itu berlari semakin kencang dan meninggalkan kepulan debu yang putih. Untuk beberapa saat ia masih duduk di tanah. Nafasnya bergelora tak teratur. Namun ketika ia meraba lambungnya, dan tidak terdapat luka sama sekali, ia menarik nafas dalam-dalam. Rupa-rupanya ia masih tetap hidup.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata kepada diri sendiri, ”Agaknya anak itu benar-benar tidak mau membunuh aku. Aneh.”

Suara derap kuda itupun menjadi semakin lambat dan akhirnya menghilang di kejauhan. Orang Pamingit itu berdiri perlahan-lahan. Punggungnya terasa sakit. Agaknya ia benar-benar jatuh terbanting. Namun ia masih tetap hidup. Tiba-tiba ia menjadi sangat terharu. Ia masih mempunyai harapan untuk bertemu dengan anak istrinya. Mudah-mudahan kalau besok benar-benar terjadi pertempuran, ia dapat hidup pula. ”Tuhan Maha Pengasih,” desisnya.

Ia terkejut sendiri mendengar kata-katanya. Sudah berapa tahun ia tidak pernah menyebut nama Tuhan. Dan tiba-tiba ia berjanji pada diri sendiri, kalau ia masih dikaruniai umur panjang, ia akan rajin mengunjungi masjid. Bahkan ia berjanji untuk memperbaiki masjid di desanya yang selama ini tak terpelihara.

Ketika ia sedang mengusap air matanya yang tiba-tiba saja membasahi pipinya, tiba-tiba terdengarlah hiruk pikuk. Ia mendengar langkah orang berlari-lari. Dari tikungan muncullah beberapa orang bersenjata dan langsung datang kepadanya.

”Siapa kau?” bentak salah seorang.

”Srengga,” jawab orang Pamingit itu.

”Apa kerjamu di sini?” tanya orang itu pula. Orang Pamingit itu menjadi bingung. Lalu ia menjawab saja sekenanya, ”Aku terjatuh di sini, lihat ini luka di kakiku.”

”Terjatuh dari mana?” tanya orang itu. Srengga semakin bingung ketika tiba-tiba seseorang bertanya, ”Kau yang melampaui gardu kedua bersama-sama dengan orang-orang Banyubiru?”

”Ya,” jawabnya kosong.

Akhirnya ia sadar bahwa ia harus menyelamatkan diri pula. ”Aku ditipunya.”

”Bohong,” bentak orang itu.
”Anak buahmu datang kepada kami dan menceriterakan apa yang sudah terjadi.”

Dada orang itu berdesir. Namun ia masih mencoba untuk mengurangi kesalahannya.

Katanya, ”Nah, kalau kau sudah tahu kenapa kalian bertanya. Coba katakan kepadaku kalau salah seorang dari kalian mengalami keadaan seperti yang aku alami. Apa yang akan kalian lakukan? Membunuh diri dan membiarkan orang itu lari sesudah mengetahui keadaan medan? Apakah kalian dengan kaki-kaki kalian dapat mengejar derap lari kuda mereka?”

”Pengecut,” bentak salah seorang.

”Berapakah jumlah mereka? Dan berapakah jumlah kalian di gardu pertama?”

”Jumlah kami ada 15 orang,” jawab Srengga.

”Limabelas orang dengan orang-orang seperti Ira, Prana, Wreditama yang hanya bisa jual tampang, Sungsang yang bermata merah tetapi takut melihat darah.”

”Dipimpin oleh Srengga, yang lebih senang memeluk daging panggang daripada senjatanya,” potong seseorang.

”Jangan banyak bicara,” Srengga mulai marah.

”Kau belum tahu siapa mereka. Coba katakan berapa orang di gardu kedua? Berapa?”

”Juga 15 orang. Tetapi 15 orang di gardu kedua tidak takut melawan limabelas orang berkuda. Jangankan empat,” jawab yang ditanya.

”Omong kosong,” bentak Srengga.

”Dengar. Dengan apa yang telah aku lakukan, aku telah menyelamatkan kalian. Kau tahu siapa yang berkuda tadi?”

Orang-orang dari gardu kedua itu tertawa terbahak-bahak. Salah seorang berkata mengejek, ”Menyelamatkan kami? Apakah yang empat orang itu terdiri dari jin? Atau setan, hantu... atau tetekan?” ”Lebih dari itu,” potong Srengga.

”Mereka adalah Arya Salaka.”

”He...?” semuanya terkejut mendengar nama itu. ”Kalau benar kau benar-benar gila. Duapuluh lima bahu dijanjikan untuk menangkapnya, hidup atau mati. Dan duapuluh lima bahu itu kau sia-siakan?” ”Aku belum selesai,” sahut Srengga, ”Yang lain adalah Kiai Wanamerta, yang mempunyai takaran tiga empat orang darimu.”

”Masih cukup banyak?” sela seseorang.

”Yang lain lagi...,” Srengga meneruskan, ”Orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar.” ”Mahesa Jenar...?” Mereka berbareng mengulang.

”Ya,” jawab Srengga.

”Dan yang seorang lagi adalah orang yang melindungi Bantaran di tanah lapang beberapa minggu yang lalu.”

ORANG dari gardu kedua itu tiba-tiba terdiam.

”Nah...” Srengga meneruskan, ”Hitunglah berapa orang harus disiapkan untuk melawan mereka. Paling-paling kalian hanya berani melawan orang-orang yang membawa obor itu. Mahesa Jenar dan yang seorang lagi, ditambah dengan Arya Salaka agaknya akan dapat membunuh kami tigapuluh orang tanpa kesukaran sebelum kami sempat memukul tanda bahaya.”

Mereka masih tetap diam. Srengga merasa bahwa orang-orang itu membenarkan sikapnya.
Katanya meneruskan, ”Nah, aku bekerja dengan otakku. Aku tidak melawan mereka. Aku antarkan mereka masuk lebih dalam ke daerah Banyubiru. Maksudku aku akan membawanya ke alun-alun. Di sana laskar kita akan berpesta. Bukankah Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti, dan kalau perlu Ki Ageng Sora Dipayana ada?”

Orang dari gardu itu mengangguk-angguk.

Salah seorang dari mereka berkata, ”Agaknya kau pandai bersiasat, Srengga.”

”Itulah,” jawab Srengga, ”Karena ketololan kalian dengan membunyikan tanda-tanda itu, mereka melarikan diri. Aku dilemparkan dari punggung kuda tanpa dapat berbuat sesuatu.”

”Ke mana mereka?” tanya orang-orang dari gardu kedua.

”Kau akan mengejar mereka?” tanya Srengga pula.

Orang-orang di gardu kedua itu diam.

”Kembalilah ke gardu kalian.” Tiba-tiba Srengga memerintah. ”Aku akan kembali ke garduku. Lupakan mimpi burukmu. Tanah duapuluhlima bahu itu. Sebab kalau kepalamu telah terpisah dari lehermu, kau tidak akan dapat menikmatinya.”

Srengga tidak menunggu jawaban. Ia langsung kembali ke gardunya. Di sepanjang jalan sempit itu tiba-tiba ia teringat pada kata-katanya sendiri. Kalau Arya Salaka pergi ke alun-alun, ia benar-benar dapat dikeroyok oleh laskar Pamingit, bahkan mungkin dengan Lembu Sora dan Sawung Sariti.

Tanpa sadar, merayaplah suatu perasaan yang belum pernah dirasakan Srengga sebelumnya. Ia tiba-tiba merasa cemas terhadap keselamatan lawannya. Baru kali ini hal itu terjadi. Namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali tanpa sadar pula ia berdoa di dalam hatinya, semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi Arya Salaka dan kawan-kawannya.

Dalam pada itu, laskar Banyubiru yang sedang beristirathat tidak jauh dari perbatasan kota, mendengar pula tanda-tanda yang dibunyikan oleh orang-orang Pamingit di Banyubiru. Demikian mereka mendengar bunyi itu, demikian mereka menjadi gelisah. Sebelum pemimpin-pemimpin mereka memberikan perintah apapun, mereka telah menyiapkan diri. Semua orang di dalam pasukan itu, apalagi orang-orang yang telah dipilih oleh Sendang Papat untuk menjadi pelopor laskarnya, telah bersiap diri. Mereka berdiri tegak dengan tekad yang teguh memandangi lambung bukit di hadapannya. Di leher mereka melingkar kain putih memplak bergambar gajah berwarna kuning emas sebagai pertanda kesediaan mereka untuk mati bagi tanah mereka.

Yang paling depan dari mereka itu adalah Sendang Papat sendiri. Tangannya yang gemetar telah melekat di tangkai pedangnya. Tetapi ia belum melihat tanda apapun. Ia belum mendengar bunyi sendaren atau melihat panah api naik ke udara. Namun karena itulah ia menjadi semakin gelisah, jangan-jangan Arya Salaka tidak sempat memberikan tanda-tanda itu.

”Mustahil,” gumamnya. Di sayap kiri, Bantaran pun menjadi gelisah. Meskipun Ki Dalang Mantingan tampaknya tenang-tenang saja, namun di dalam dadanya pun bergolak perasaan cemasnya, dan di tangannya tergenggam erat-erat trisulanya.

Di sayap kanan, Penjawi berjalan hilir mudik di hadapan anak buahnya yang telah memegang senjata masing-masing. Wirasaba duduk di atas sebuah batu, dan meletakkan dagunya pada tangkai kapaknya. Sesekali dua kali ia menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menekan hatinya yang gelisah. Namun merekapun belum melihat tanda apapun yang melontar ke udara.

Sedang pada saat itu kuda Arya Salaka beserta rombongan meluncur lewat jalan-jalan sempit di dalam kota. Mereka menjadi semakin dekat dengan alun-alun Banyubiru, tempat Arya bermain pada masa kanak-kanaknya. Suara kaki-kaki kuda itu berderak-derak memukul jalan-jalan berbatu memecah sepinya malam.

Beberapa orang yang masih tinggal di rumah masing-masing menjadi semakin ngeri. Seolah-olah mereka mendegar gemuruhnya gunung yang meledak di hadapan mereka. ”Adakah laskar Arya Salaka telah datang...” bisik mereka.

Seorang ibu sambil memeluk anaknya di pembaringan bergumam, ”Apakah kira-kira yang akan terjadi...?”

Suaminya, lelaki tua yang duduk di sisinya menjawab lirih, ”Pertempuran akan berkobar di perbatasan. Mudah-mudahan mereka tidak akan menginjak halaman rumah kita.”

LELAKI tua itu berdiri dan berjalan ke amben di sebelah. Ia melihat selosin anak-anaknya yang lain sedang tidur nyenyak. Ia menarik nafas panjang. Kalau rumahnya itu terpaksa dibakar orang, entah orang Pamingit entah orang Banyubiru, dan dirinya sendiri terpaksa diseret di sepanjang jalan, entah oleh orang Pamingit entah oleh oleh orang Banyubiru, lalu apakah yang akan terjadi dengan anak-anak itu.

Peperangan adalah sesuatu yang terkutuk. lebih-lebih bagi anak-anak. Anak-anak yang ingin menikmati kebesaran alam, yang diperuntukkan bagi mereka oleh Maha Penciptanya. Dalam bentrokan-bentrokan yang demikian itu segala sesuatu dapat terjadi. Orang yang tangannya telah dibasahi darah, kadang-kadang menjadi kehilangan kesadaran. Orang-orang yang dalam hidupnya sehari-hari tidak sampai hati membunuh seekor tikus pun, dalam peperangan kadang-kadang akan dapat melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Membunuh, menyiksa dan bahkan terhadap anak-anak.

Di rumah sebelah, lelaki tua itu mendengar tangis bayi melengking-lengking. Tanpa sesadarnya ia menoleh kepada anak kecilnya yang tidur di pelukan ibunya.

”Jangan menangis,” desisnya kepada anak yang tidur itu. Anak itu memang tidak menangis. Tetapi hati lelaki itulah yang menangis.

Istrinya tahu bahwa suaminya sedang berpikir tentang bayi yang menangis itu, katanya, ”Mengungsi di rumah sebelah.”
Suaminya tidak menjawab. Perlahan-lahan ia duduk di amben beserta empat anak-anaknya tidur berjajar. Wajah anak-anak itu tampak bersih bening; sebening udara pagi hari. Tetapi mereka besok akan menggigil ketakutan; seandainya perang benar-benar berkobar di perbatasan.

Suara kaki-kaki kuda Arya masih menggemuruh, seperti suara guruh yang menjalar sepanjang jalan, menuju ke alun-alun. Dalam kegelapan malam, Arya tidak sempat melihat apakah di alun-alun itu banyak berjaga-jaga laskar Lembu Sora. Yang dilakukan adalah menerobos alun-alun itu tepat di tengah-tengah. Di antaranya sepasang beringin, yang tumbuh di tengah-tengah alun-alun itu. Agaknya alun-alun itu memang sepi. Laskar Lembu Sora hampir seluruhnya telah dikerahkan di pemusatan-pemusatan laskar di garis pertempuran.

Namun di muka rumahnya, Arya masih melihat segerombolan orang yang agaknya bertugas menjaga rumah itu. Mereka telah berada dalam kesiagaan penuh, ketika mereka mendengar tanda kentongan yang mengumandang di garis perbatasan. Ketika mereka mendengar derap kuda mendekati, merekapun segera memencar. Dari ujung alun-alun itupun muncul pula segerombolan laskar cadangan.

Tetapi demikian mereka siap, demikian Arya telah berada di hadapan hidung mereka. Ketika ujung-ujung senjata mengarah kepadanya, Arya menghentikan kudanya. Demikian juga orang-orang lain dalam rombongan itu.

Dengan tangan kirinya, Arya memegang tombak kebesarannya, sedang tangan kanannya diangkatnya tinggi-tinggi, sebagai suatu pertanda bahwa ia datang untuk tujuan tanpa kekerasan. Sebelum mendengar sebuah pertanyaan pun, para penjaga agaknya telah mengenal beberapa orang diantara rombongan itu.

Wanamerta dan Mahesa Jenar. Karena itu mereka menjadi sangat berhati-hati. Salah seorang dari mereka kemudian melangkah maju. Ia berhenti beberapa langkah di hadapan kuda Arya. Dengan seksama ia mencoba memperhatikan anak muda itu. Tetapi malam cukup gelap dan cahaya obor di kejauhan hanya samar-samar sampai.

Sedang Arya Salaka telah lenyap beberapa tahun semasa ia masih terlalu kecil untuk datang dengan tombak di tangan. Sekarang, di punggung kuda itu duduk seorang anak muda yang perkasa. Karena itu orang itu tidak segera dapat mengenal, bahwa anak muda yang memegang tombak itu adalah Arya Salaka.

Kemudian terdengarlah suara orang itu dengan garangnya, ”Siapakah kau yang datang bersama-sama dengan Kiai Wanamerta dan Mahesa Jenar?”

Arya Salaka tersenyum. Ia kenal orang itu. Ketika masa kecilnya ia sering datang ke Pamingit, dan pernah dikenalnya pengawal pribadi pamannya itu.

Jawab Arya, ”Selamat malam Paman Wulungan. Apakah Paman lupa kepadaku?”

Wulungan mengerutkan keningnya.

Sekali lagi ia mengamat-amati anak muda itu.

Namun sampai beberapa lama ia masih belum dapat mengenalnya kembali.

Tetapi akhirnya ia tidak perlu mengingat-ingatnya. Ia dapat bertanya kepadanya. Tidakkah mustahil bahwa di Banyubiru dan Pamingit ini semua orang mengenalnya sebagai seorang yang dipercaya untuk menjadi pemimpin pengawal pribadi Lembu Sora beserta keluarganya? Karena itu sekali lagi ia berkata garang, ”Jawab pertanyaanku. Siapakah kau?”

Arya masih tersenyum.

Namun ia menjawab, ”Arya Salaka.”

”He...?” Orang itu terkejut, ”Jadi kaukah Angger Arya Salaka?”

”Ya,” jawab Arya.

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya.

Untuk beberapa saat ia terbenam dalam ingatannya beberapa tahun yang lalu. Ia selalu baik dan hormat terhadap anak ini, sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora.

Tiba-tiba kali inipun ia bersikap hormat pula.

Sambil mengangguk ia berkata, ”Aku benar-benar pelupa. Tetapi Angger telah tumbuh demikian cepatnya.”

Tiba-tiba ia ingat akan tugasnya. Ia ingat tentang apa yang dikatakan Lembu Sora kepadanya, bagaimanakah ia harus bersikap terhadap keturunan Gajah Sora atau pengikut-pengikutnya.

Karena itu dengan tiba-tiba pula ia mengubah sikapnya. Ia mencoba untuk berkata dengan garang seperti semula, meskipun kewibawaan

Arya mempengaruhinya.

”Jadi kau yang menamakan diri Arya Salaka?”

Arya sudah tidak tersenyum lagi.

Ia melihat perubahan sikap itu.

Dengan tenang ia menjawab, ”Ya. Akulah Arya Salaka.”

”Apa perlumu datang kemari?” Wulungan bertanya.

”Aku ingin mengunjungi Kakek Sora Dipayana,” jawab Arya.

”Kau datang dengan laskarmu?” tanya orang itu pula.

Kembali Arya tersenyum, jawabnya, ”Sebagaimana Paman Wulungan lihat. Aku datang hanya berenam.”

Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya